Disorot Publik Akibat Sepi Penumpang, LRT Jakarta Justru Cetak Rekor Pengunjung Tertinggi

0
Pengunjung memadati Stasiun Velodrome LRT Jakarta. Foto: Kabar Penumpang/Alpin Hardiyansah

Sejak fase uji coba berakhir pada akhir tahun lalu, PT. Light Rail Transit (LRT) Jakarta rute Stasiun Velodrome – Kelapa Gading saat ini memang tengah mendapat soroton tajam. Proyek yang menelan biaya hingga Rp 6,8 triliun tersebut justru malah sepi peminat.

Baca juga: Dirut: LRT Jakarta Tidak Cuma 5,8 tapi Sudah 420 kilometer!

Seperti berbalas pantun, keraguan banyak pihak terkait keberadaan LRT Jakarta yang hanya sejauh 5,8 km pun perlahan mulai tersingkirkan. Selain nilai investasi yang masih dinilai minim jika dibanding dengan proyek serupa di negara lain, belum lama ini, moda transportasi yang hanya mempunyai lima stasiun tersebut justru malah mencetak rekor pengunjung tertinggi selama fase komersial mulai diberlakukan.

“Jadi di posisi tanggal 8 Februari kemarin kita memecahkan rekor juga selama ini dari kita komersial itu diangka 7.400. sementara kita angka tertinggi kita itu ada di bulan Januari itu diangka 5.400,” kata General Manager of Corporate Secretary, Arnold Kindangen, kepada KabarPenumpang.com di sela-sela acara bertajuk “Berbagi Kebahagiaan di Stasiun LRT Jakarta”, Jumat, (14/2).

Meski demikian, ia memang tak menampik bahwa sejak tarif mulai diberlakukan, sekalipun hanya sebesar Rp 5.000, di awal-awal, LRT Jakarta memang banyak ditinggal penumpangnya. Rata-rata penumpang juga rendah, hanya menyentuh angka 4.000 dari rata-rata target 7.000 pengunjung.

“Tapi memang perlu disampaikan juga, kita masih rata-rata diangka 4.000. Kalau target kita itu 7.000 dari panjang trek kita yang hanya 5,8 ya,” tambahnya.

Seiring berjalannya waktu, LRT Jakarta kini mulai kembali diminati masyarakat. Terlebih, setelah moda transportasi yang tiba di stasiun setiap 10 menit tersebut terintegrasi dengan Transjakarta. Walaupun tarif naik menjadi Rp 8.500, namun secara benefit, justru semakin besar, mengingat jangkauan pengunjung jadi lebih luas, mencapai lebih 430 km, sebagaimana panjang jalur Tranjakarta.

“LRT ini tidak cuma 5,8 (kilometer) sudah 420 kilo karena nyambung dengan Transjakarta karena mereka (masyarakat) belum mencoba aja. Pasti enak kok. Murah. 8.500 sampe pelosok Jakarta. Yakin,” Direktur utama (Dirut) PT. LRT Jakarta, Wijanarko.

Selain itu, berbagai pengembangan yang telah dilakukan juga membuat prospek bisnis perusahaan yang masih tergolong sebagai cucu Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) tersebut menjadi lebih cerah. Wijanarko berujar, bahwa dalam waktu dekat, tak jauh dari lokasi Stasiun Pulomas, nantinya akan dibuat apartemen serta pusat bisnis yang akan terhubung langsung dengan LRT.

Baca juga: Nantinya, Kereta Cepat Jakarta-Bandung Akan Terintegrasi LRT Bandung Raya

Lebih daripada itu, secara keseluruhan, Stasiun Pulomas dan kawasan sekitarnya memang diproyeksikan akan menjadi kawasan terintegrasi baru, layaknya beberapa kawasan lainnya di DKI Jakarta, seperti Dukuh Atas dan Blok M.

“Stasiun Pulomas stasiun yang paling besar. Ini titik next integrasi, sebelah juga akan dibangun apartement dan pusat bisnis yang nantinya juga akan terintergrasi sehingga Stasiun Pulomas dari apartemen bisa langsung ke sini,” pungkasnya.

Leave a Reply