Fakta di Balik Tragedi 9/11, Orang ‘Indonesia’ Turut Jadi Korban

0
Peristiwa 11 September 2001 menargetkan Menara Selatan dan Utara Gedung World Trade Center. Foto: KOKH

Hari ini tepat 20 tahun lalu, tragedi 11 September 2001 atau 9/11 menewaskan nyaris 3 ribu orang dan lebih dari 6.000 orang lainnya luka-luka. Dari total ribuan korban tewas dalam peristiwa 11 September 2001 ini, ternyata terselip orang keturunan Indonesia, Eric Samadikun Hartono alias Eric Hartono.

Baca juga: Pasca Insiden 9/11, Temperatur Udara di Amerika Serikat Sempat Naik Dua Derajat

Dilansir CNN Internasional, Eric Hartono tercatat jadi salah satu korban peristiwa 11 September 2001. Eric, yang memilih menjadi warga negara AS, menjadi salah satu penumpang pesawat Boeing 767-222 United Airlines Flight 175.

Putra dari bos Bank Modern Samadikun Hartono ini diketahui sedang menempuh pendidikan sarjana jurusan komputer di California State University sejak tahun 2000. Saat itu, Eric Hartono berusia 20 tahun dan tinggal di Boston, Negara Bagian Massachusetts, AS.

Sebagaimana korban tragedi menara kembar World Trade Center New York lainnya, jasad Eric Hartono juga tak ditemukan.

Namun, tak lama setelah kejadian, pihak keluarga yang sudah mendapat kepastian Eric Samadikun Hartono menjadi salah korban dalam tragedi 11 September 2001 langsung melaksanakan kebaktian untuk mendoakan almarhum.

Dilihat dari kronologi kejadian sampai pesawat ditabrakkan ke Menara WTC, sukar diterima jasad Eric dan 64 orang lainnya di penerbangan United Airlines Flight 175 akan ditemukan. Terlebih, tak lama dua pesawat ditabrakkan, menara kembar itu runtuh.

Meski begitu, ajaibnya, salah satu korban di pesawat lain yang juga dibajak teroris Al Qaeda dalam tragedi 11 September 2001, ternyata berhasil ditemukan. Tetapi, bukan jasadnya, melainkan cincin yang dikenakannya.

Dikutip dari fox2now.com, cincin pramugari American Airlines Flight 11 yang pesawatnya ditabrakkan ke Menara Utara World Trade Center oleh teroris Al Qaeda, berhasil ditemukan. Sejak ditemukan, cincin tersebut langsung diberikan ke keluarga dan disimpan apik sampai saat ini.

September memang menjadi bulan yang kelabu bagi masyarakat dunia, khususnya publik Amerika Serikat (AS). Di bulan ini, setidaknya nyaris 3.000 orang tewas dan lebih dari 6.000 orang lainnya menderita luka-luka setelah pembajakan empat pesawat terjadi pada 11 September 2001 (9/11).

Ketika itu, teroris dari kelompok Al Qaeda, mengarahkan pesawat Boeing 767-223ER American Airlines Flight 11 ke Menara Utara World Trade Center dan menabrakkannya dengan sengaja pada pukul 08.46 waktu setempat.

Lalu pada pukul 09.03 waktu setempat, pesawat Boeing 767-222 yang dioperasikan oleh maskapai menabrak United Airlines Flight 175 Menara Selatan World Trade Center. Keseluruhan penumpang, awak kabin, dan teroris yang melakukan aksi sadis ini tewas seketika.

Tidak berhenti sampai di situ, masih ada dua pesawat lagi; Boeing 757-223 yang dioperasikan oleh maskapai American Airlines flight 77 menabrak ke Pentagon dan menewaskan 64 orang yang ada di dalam pesawat (termasuk awak pesawat, penumpang, dan teroris) serta 125 karyawan di Pentagon.

Baca juga: Lolos dari Maut dalam Peristiwa 9/11, Pramugara ini Dorong Troli Setara Jarak Jakarta-Pekalongan

Sisanya yaitu Boeing 757-222 United Airlines Flight 93 dikabarkan akan menabrakkan diri ke U.S. Capitol Building. Namun, karena kegigihan penumpang dalam mencegah terorisme, pembajakan pesawat dalam peristiwa 11 September 2001 ini gagal menghancurkan target.

Meski begitu, pesawat Boeing 757 United Airlines Flight 93 jatuh di dekat Diamond T. Mine, sebuah tambang batu bara yang terletak di Stonycreek Township, Somerset County, Pennsylvania dan menewaskan keseluruhan 44 orang yang berada di dalam penerbangan nahas tersebut.