Gantikan Lithium Ion, Baterai Lithium-Sulfur Bikin Era Pesawat Listrik Semakin Dekat

0
Ilustrasi taxiing. Foto: Texas Aircraft Manufacturing

Belum lama ini, perusahaan Inggris spesialis baterai lithium-sulfur (Li-S), Oxis Energy, mengumumkan pengembangan baterai lithium-sulfur baru dengan tingkat kepadatan lebih tinggi untuk dipasok ke pesawat listrik regional besutan perusahaan asal Brasil, Texas Aircraft Manufacturing, eColt.

Baca juga: Retrofit Cessna Catat Sejarah Sebagai Pesawat Listrik Terbesar di Dunia

New Atlas melaporkan, baterai lithium-sulfur Oxis 90-kWh nantinya bakal membuat pesawat sport ringan berkapasitas dua orang yang terbuat dari logam itu (eColt) mampu menempuh jarak maksimal dua jam sejauh 370 km. Baterai tersebut juga diklaim lebih ringan hingga 40 persen dari baterai lithium-ion (Li-ion). Ditargetkan, baterai Li-S Oxis Energy dapat mulai diproduksi secara massal pada 2023 mendatang.

Dengan begitu, pesawat listrik eColt dapat menjadi alternatif efisien (biaya operasional lebih murah) dan ramah lingkungan bukan hanya sebagai pesawat sport, melainkan juga sebagai pesawat latih untuk para pilot baru maskapai penerbangan komersial di seluruh dunia.

Selain berbagai keuntungan di atas, secara makro, pengembangan baterai Li-S juga dinilai dapat membuat sentimen positif terhadap geliat pesawat listrik regional, all-electric and hybrid-electric powered vertical takeoff and landing (eVTOL), serta pesawat listrik bersayap tetap lainnya di masa mendatang; termasuk juga pengembangan listrik untuk moda transportasi lain.

Pada umumnya, tantangan terbesar para peneliti dalam pengembangan pesawat listrik terletak pada kemampuan baterai. Prinsipnya, bagaimana membuat baterai dengan ukuran kecil atau paling tidak seperti ukuran baterai yang ada saat ini namun dengan kapasitas yang jauh lebih besar. Tak hanya itu, pengembangan baterai juga mencakup durasi pengisian daya yang harus jauh lebih cepat dari yang sudah ada.

Dengan adanya baterai Li-S, sebagai generasi pengganti baterai Li-ion, secara tak langsung bakal membuat kemampuan pesawat listrik menjadi lebih sepadan bahkan melebihi kemampuan pesawat bertenaga konvensional. Yang paling penting, penggunaan baterai Li-S juga dapat menurunkan harga jual pesawat itu sendiri.

Meskipun belum ada perbandingan siginifikan pada pesawat, penggunaan baterai murah dan berkemampuan tinggi mungkin bisa diambil dari mobil listrik. Tesla model 3, berhasil menekan harga jual mobil listrik jauh lebih rendah dengan penggunaan baterai lithium-iron-phosphate, yang sama sekali tak menggunakan kobalt.

Baca juga: Pesawat Listrik NASA X-57 Maxwell Segera Terbang Perdana

Dilansir dari electrive.com, baterai lithium-sulfur dipilih untuk meminimalisir penggunaan kobalt pada baterai lithium ion. Sulfur menjadi material pilihan para peneliti untuk menjadi katoda pada teknologi baterai lithium ion. Sulfur (S8) dipilih karena ketersedian di alamnya yang melimpah dan harganya murah. Selain itu, sulfur dapat diperoleh dari limbah pengolahan minyak bumi.

Secara teoritis, sulfur memiliki kapasitas penyimpanan yang tinggi sebesar 1672 mAh per gram yang nilainya 10 kali lebih besar dari material katoda konvensional seperti LiCoO2 dan LiFePO4. Baterai lithium ion hanya mampu menghasilkan rapat energi 200–265 Wh/kg, sedangkan baterai lithium-sulfur buatan Oxis Energy mampu menghasilkan rapat energi sebesar 400 Wh/kg.

Leave a Reply