Hari Ini, 33 Tahun Lalu, Penerbangan Perdana Airbus A320, Sang Penantang Boeing 737

0
Kemeriahan penerbangan perdana Airbus A320. Foto: AFP

Tepat hari ini, 22 Februari 1987, Airbus A320 berhasil memulai era baru pesawat komersial narrowbody atau lorong tunggal bersama Air France. Setelah memasuki era millenium pun, pesawat penumpang pertama dengan sebuah sistem kendali fly-by-wire, di mana pilot mengendalikan penerbangan melalui penggunaan sinyal elektronik dan bukan secara mekanik dengan handel dan sistem hidrolik tersebut pun akhirnya resmi menggeser dua generasi Boeing sekaligus, yakni 727 dan 737.

Baca juga: Ternyata Penerbangan (Rute) Terpendek Airbus A320 Ada di Indonesia

Dihimpun KabarPenumpang.com dari berbagai sumber, keberhasilan A320 dalam melampaui dua generasi Boeing sekaligus mungkin adalah sebuah keniscayaan. Dalam head to head melawan Boeing 727, sekalipun saat itu tengah merajai pasar, Airbus A320 jauh lebih unggul dari sisi teknologi yang sudah menggunakan sistem kontrol berbasis digital, dibanding Boeing 727 yang masih menggunakan sistem analog.

Kemudian, saat head to head dengan 737, dilihat dari segi jarak tempuh yang mampu dilakoni oleh masing-masing pesawat, Airbus A320 bisa dibilang mengungguli Boeing – mungkin ini adalah salah satu strategi Airbus untuk menggeser posisi Boeing. Sementara jika dilihat dari load capacities keduanya, Airbus pun juga mengungguli Boeing, dimana rata-rata penumpang yang dapat diangkut oleh Boeing 737 hanya berkisar 160 penumpang, sedangkan Airbus dengan A320-nya unggul dengan angka rata-rata 185 penumpang.

Bila dilihat dari segi lahirnya kedua pesawat, Boeing memang jauh lebih dahulu ada (first flight pada 9 April 1967) dibanding Airbus A320 (first flight pada 19 April 1988), selisih hampir 20 tahun. Tak heran jika Airbus memang diproyeksikan untuk menggoyang pasar narrowbody global, yang sebelum kelahirannya (Airbus A320) dikuasai sepenuhnya oleh Boeing 727 dan 737 (seri 300, 400, dan 500).

Menurut pengamat penerbangan, Gerry Soejatman, sebetulnya kelahiran dan kedigdayaan A320 tak lepas dari berakhirnya masa kejayaan Boeing 757, yang menyandang predikat sebagai pesawat narrowbody tertangguh di dunia. Kala itu (saat berakhirnya masa kejayaan Boeing 757 pada 2003 silam), maskapai-maskapai di seluruh dunia khawatir dan mencoba mencari ‘pelarian’ ke pesawat dengan spesifikasi sejenis, bahkan lebih modern. Dengan berbagai keunggulannya, dari sisi teknologi, efisiensi bahan bakar, dan load capacities, A320 akhirnya dipilih menjadi primadona baru di pasar narrowbody global.

Terbukti, tak lama setelah Boeing menghentikan produksi 757, Airbus A320 berhasil mencatatkan namanya sebagai pesawat penumpang jet komersial yang paling cepat terjual berdasarkan catatan tahun 2005 hingga 2007 serta menjadi penjualan terbaik pesawat generasi (lorong) tunggal.

Baca juga: Hari Ini, 38 Tahun Lalu, Boeing 757 Terbang Perdana Saat Berkecamuk Krisis Minyak Global

Meski demikian, sejarah hadirnya A320 yang diproyeksikan untuk menggeser dominasi Boeing di pasar narrowbody, baik 737 generasi klasik (seri 300, 400, dan 500) maupun generasi modern (600, 700, 800, dan 900) bukanlah tanpa rintangan. Sama seperti Boeing 757 kompetitor tak resminya, Airbus A320 dikembangkan saat dunia tengah memasuki krisis minyak global, dimana harga minyak dunia saat itu menjadi mahal.

Akan tetapi, rupanya hal tersebut justru menjadi berkah buat kelahiran A320. Betapa tidak, dengan harga minyak global melambung tinggi, A320, yang merupakan serangkaian evolusi dari studi Joint European Transport (JET), pada akhirnya berhasil membuat A320 mengkonsumsi bahan bakar 50% lebih sedikit daripada 727, membuatnya jadi lebih menarik, melengkapi inovasi teknologi lainnya yang tertanam di A320.

Leave a Reply