Gunakan Aplikasi KAI Access, Kini Tak Perlu Antre Cetak Boarding Pass di Stasiun

Pelanggan pengguna aplikasi KAI Access milik PT Kereta Api Indonesia (Persero) patut berbangga. Pasalnya, kini perlu lagi mengantre untuk mencetak boarding pass sebagai tanda bukti bahwa Anda adalah penumpang kereta saat di stasiun. Pasalnya jika Anda membeli tiket kereta dari KAI Access maka, E-boarding pass atau boarding pass elektronik akan langsung diterbitkan melalui KAI Access versi terbaru.

Baca juga: Update Terbaru Aplikasi KAI Access, Tawarkan Fitur Check In Online dan Pesan Meals

“Penumpang tidak perlu antre check in dan cetak boarding pass di mesin cetak. Penumpang cukup melakukan scan barcode boarding pass pada aplikasi KAI Access di smartphone penumpang saat pemeriksaan boarding gate dengan tetap menunjukkan kartu identitas yang sesuai dengan data pada tiket,” ujar Edi Sukmoro, Direktur Utama PT KAI.

Boarding pass elektronik ini sudah resmi rilis sejak 2 Oktober 2017 lalu dan membuat proses pelayanan penumpang di stasiun keberangkatan menjadi semakin praktis. Sayangnya, boarding pass elektronik ini hanya bisa diterbitkan khusus pemesan tiket dengan melalui aplikasi KAI Access versi terbaru dan bisa di unduh dua jam sebelum keberangkatan kereta api.

Jika sudah menerbitkan e-boarding pass melalui aplikasi KAI Access, secara otomatis penumpang tidak dapat mencetak boarding pass di mesin check in di stasiun, atau sebaliknya. Sedangkan untuk pengguna aplikasi lain yang juga menjual tiket kereta api, penumpang tetap harus mencetak boarding pass di mesin cetak dan di lokasi stasiun tempat keberangkatan.

“Untuk penumpang yang membeli melalui aplikasi lain, tetap seperti biasa mencetak boarding pass di mesin,” ujar Humas PT KAI Agus Komaruddin yang dihubungi KabarPenumpang.com, Rabu (10/1/2018). Agus menambahkan, untuk fitur lainnya yang ada di aplikasi seperti E-Moda dan E-Porter saat ini masih dalam proses untuk bisa di gunakan. Dia mengatakan, kedua fitur ini akan dirilis secepat mungkin.

Baca juga: Akhirnya! Kereta Wisata Priority Keluar Juga Dari Depo KAI

“Kita untuk E-Meals sudah bisa digunakan seperti E-Boarding, sedangkan E-Moda dan E-porter karena bekerja sama dengan pihak luar, maka masih nunggu. Bisa pertengahan tahun, akhir tahun ini atau bisa juga besok. Tergantung nantinya,” jelas Agus.

Banyak Masinis Sakit dan Efek Gelombang Panas, Kereta Komuter Sydney Menghadapi Masalah

Pembatalan pemberangkatan moda transportasi memang bisa menimpa kapan saja, di mana saja, dan dengan beragam alasan yang melatarbelakanginya. Untuk sebagian alasan seperti human error, tentu saja hal tersebut akan mengundang respon negatif dari para penggunanya yang merasa sudah dirugikan dari segi waktu. Hal ini pula yang terjadi di Sydney, Australia beberapa waktu yang lalu, dimana sistem kereta komuter di sana mengalami masalah yang berdampak pada penundaan hingga pembatalan sejumlah armadanya.

Baca juga: Sydney Central, Eksotisme Stasiun Tua Diantara Deru Penumpang Metropolitan

Sebagaimana yang dihimpun KabarPenumpang.com dari laman news.com.au (10/1/2018), Menteri NSW (New South Wales) Transport, Andrew Constance sampai-sampai mengutarakan permohonan maafnya secara langsung kepada para penumpang yang menjadi korban penundaan dan pembatalan sejumlah armada komuter di Sydney pada Selasa (9/1/2018) kemarin. Andrew mengatakan bahwa insiden ini dilatarbelakangi oleh kerusakan sejumlah elemen akibat gelombang panas hingga kinerja masinis yang kurang baik. Namun pihaknya enggan untuk melakukan refund kepada para penumpang.

Sebagaimana diketahui, wilayah Sydney dalam beberapa hari belakangan tengah mengalami gelombang panas ekstrem, suhu di kota terbesar di Australia tersebut mencapai di atas 40 derajat celcius. Dalam beberapa kasus kondisi tersebut kerap menimbulkan kebakaran hutan.

Antrian Penumpang di Central Station. Sumber: news.com.au

Tidak berhenti sampai di situ, penundaan dan pembatalan keberangkatan sejumlah kereta ini terjadi pada pagi hari (peak hours), dimana penumpang sedang berada di puncak kepadatan. Diantara semua jalur yang terkena dampak penundaan dan pembatalan keberangkatan ini, North Shore Line merupakan yang terparah karena terdapat lima layanan sekaligus yang dibatalkan. Walhasil, ribuan calon penumpang terdampar tanpa kejelasan nasib.

Tidak hanya di North Shore Line, penumpukkan penumpang juga terlihat di Central Station Sydney. Tidak adanya kejelasan tentang penundaan dan pembatalan layanan tersebut tak pelak membuat para calon penumpang geram. Menurut laman sumber, salah satu penumpang yang terjebak dalam situasi ‘shambolic’ tersebut mengatakan bahwa dirinya tengah mengejar penerbangan menuju bandara. “Padahal saya sudah meluangkan waktu dua jam lebih awal dari jadwal penerbangan. Namun kini saya masih terjebak di sini dan saya mulai panik,” tutur seorang penumpang bernama Jess Floyd.

Lain cerita dengan yang dirasakan oleh Nerina Shroff Dari Hornsby. On Time Performance (OTP) yang selalu didahulukan oleh perkeretaapian Australia kini seolah berbanding terbalik sehingga pemandangan ‘langka’ seperti ini pun terjadi di banyak stasiun. “Saya tidak pernah melihat penumpukkan penumpang se-gila ini sebelumnya di Central Station,” papar Nerina.

Baca Juga: AutoHaul, Kereta Diesel Otonom di Australia Barat

Sebagai langkah antisipasi, pihak Sydney Train dan NSW TrainLink menghimbau kepada para calon penumpang melalui jejaring sosial Twitter untuk menggunakan layanan bus untuk sementara waktu, hingga sistem perkeretaapian di sana sudah benar-benar pulih dan siap beroperasi.

Sementara itu, Kepala Eksekutif Kereta Api Sydney, Howard Collins mengatakan pembatalan sejumlah layanan tersebut dikarenakan kekurangan masinsis. “Sekitar 65 hingga 75 masinis yang sedang sakit. Disinyalir karena mereka bekerja terlalu keras selama periode Natal kemarin,” ungkap Howard membela diri. “Kami akan merekrut lebih banyak masinis agar kejadian seperti ini tidak terulang kembali di masa yang akan datang,” imbuhnya.

Sepanjang 2017, Bandara Soetta dan Halim Perdanakusuma Layani 70 Juta Penumpang

PT Angkasa Pura II punya berkah tersendiri, pasalnya BUMN ini mengelola bandara terbesar di Indonesia, yakni Bandara Internasional Soekarno-Haatta (Soetta). Dan beragam hal yang terkait Bandara Soetta, akan berujung pada volume dan kapasitas yang besar pula. Seperti halnya untuk pelayanan penumpang, yang di sepanjang tahun 2017 lalu Bandara Soetta telah melayani 63 juta pergerakan penumpang.

Baca juga: Citilink Indonesia Buka Rute Bandara Halim Perdanakusuma – Silangit

Masih dari kawasan Ibukota, Bandara Halim Perdanakusuma yang juga dikeloka PT Angkasa Pura II juga menunjukan pertumbuhan penumpang yang positif, dimana di sepanjanh 2017, bandara yang juga berstatus pangkalan militer (lanud) ini telah melayani 7 juta penumpang.

President Director Angkasa Pura II Muhammad Awaluddin dalam siaran pers (9/1/2017) mengungkapkan bahwa pencapaian Bandara Internasional Soekarno-Hatta yang melayani 63 juta penumpang tersebut merupakan pencapaian yang luar biasa. “Karena dari total kurang lebih 50 juta penduduk Jabodetabek, dapat kami layani tidak hanya di bandara utama kami Soekarno-Hatta, tetapi juga di bandara Halim Perdanakusuma yang mencapai 7 juta penumpang,” terang Awaluddin. Adapun dari jumlah tersebut, terdiri dari 14,718 juta penumpang rute internasional dan 48,295 juta penumpang rute domestik.

Adanya pencapaian tersebut, lanjut Awaluddin tidak terlepas dari kerja keras insan Angkasa Pura II yang berkomitmen untuk terus melakukan peningkatan pelayanan di bandara-bandara AP II dimana para pengunjung dan pengguna jasa bandara menduduki posisi tertinggi untuk mendapatkan pelayanan terbaik. “Hal ini mendorong kami untuk terus berinovasi serta meningkatkan fasilitas yang ada di bandara kami. Seperti adanya kereta layang di Bandara Soekarno-Hatta untuk melayani perpindahan penumpang antar terminal,” ungkap Awaluddin.

Sementara itu, penyelenggaraan Angkutan Natal dan Tahun Baru yang berlangsung sejak 22 Desember 2017 hingga 8 Januari 2018 di bandara-bandara yang dikelola Angkasa Pura II berjalan lancar. Tercatat jumlah penumpang pesawat yang ada di 13 bandara Angkasa Pura II mengalami peningkatan 9 persen yakni dari 6,7 juta penumpang menjadi 7,3 Juta penumpang. Sedangkan pergerakan pesawat mengalami peningkatan sebesar 8 persen atau dari 47.700 pergerakan menjadi 51.600 pergerakan pesawat.

Adapun arus puncak libur nataru terjadi pada tanggal 22 Desember 2017 dengan jumlah pergerakan penumpang 371.400 dan puncak arus balik libur nataru pada tanggal 2 Januari 2018 dengan jumlah pergerakan 334.525. Top 5 Destination dalam Angkutan Natal dan Tahun Baru 2017 untuk domestik adalah Denpasar, Surabaya, Kualanamu, Makasar, dan Yogyakarta, dan untuk destinasi internasional adalah Singapura, Kuala Lumpur, Jeddah, Hongkong dan juga Bangkok. Untuk 3 Bandara yang mempunyai pertumbuhan terbesar dalam Angkutan Natal dan Tahun Baru 2017 ini adalah Bandara Silangit sebesar 50 persen, Tanjung Pinang sebesar 45 persen dan juga Bandara Pontianak sebesar 25 persen.

Awaluddin mengungkapkan rasa terima kasihnya kepada seluruh pihak yang telah membantu pelaksanaan angkutan Nataru 2017/2018 sehingga dapat berjalan lancar di seluruh bandara AP II. “Kami berharap, di musim liburan Natal dan Tahun Baru berikutnya kami dapat terus memberikan pelayanan terbaik kepada seluruh masyarakat,” ucap Awaluddin.

Selama angkutan Natal 2017 dan Tahun Baru 2018, jumlah penumpang terbanyak terdapat di Bandara Internasional Soekarno-Hatta mencapai 4,26 juta penumpang, kemudian Bandara Internasional Kualanamu, Deli Serdang, sebanyak 740.500 penumpang, lalu Bandara Internasional Halim Perdanakusuma sebanyak 482.500 penumpang.

Di Pergantian Tahun 2017/2018, Angkasa Pura I Sukses Layani 6 Juta Penumpang

PT Angkasa Pura I yang mengelola 13 bandara di wilayah Indonesia Tengah dan Timur, selama Natal dan Tahun Baru 2018 telah melayani 6.012.106 penumpang atau mengalami pertumbuhan sebesar 6,37 persen jika dibandingkan pada periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai 5.652.054 penumpang. Jumlah penumpang domestic mencapai 5.196.702 penumpang atau meningkat 7,13 persen dibandingkan pada tahun sebelumnya yang mencapai 4.850.878 penumpang. Sedangkan total penumpang internasional mencapai 815.404 penumpang atau meningkat 1,78 persen jika dibandingkan pada tahun sebelumnya yang mencapai 801.176 penumpang.

Baca juga: Usai Kembangkan 9 Bandara, Angkasa Pura I Canangkan Benahi Infrastruktur di El Tari dan Frans Kaisiepo

“Pergerakan penumpang baik domestic & internasional tertinggi terjadi di Bandara Internasional Juanda Surabaya yang melayani 1.406.640 penumpang atau meningkat 11,55 persen dibanding tahun sebelumnya sebesar 1.135.490 penumpang. Bandara Internasional Frans Kaisiepo, Biak mengalami pertumbuhan penumpang paling tinggi selama Natal dan Tahun Baru 2017 yang mencapai 22,99 persen atau 30.083 penumpang jika dibandingkan pada periode yang sama pada tahun sebelumnya yang mencapai 24.459 penumpang,” ujar Direktur Utama Angkasa Pura I, Faik Fahmi.

Pertumbuhan jumlah penumpang juga diikuti oleh pertumbuhan pergerakan pesawat selama Natal dan Tahun Baru 2018. Tercatat 47.578 pergerakan pesawat baik domestic dan internasional di 13 bandara yang dikelola Angkasa Pura I atau meningkat 9,07 persen jika dibandingkan pada periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai 43.621 pergerakan pesawat. Pergerakan pesawat tertinggi terjadi di Bandara Internasional Juanda yang mencapai 9.958 pergerakan pesawat atau meningkat 16,06% jika dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai 8.580 pergerakan pesawat. Sementara Bandara Frans Kaisiepo mengalami pertumbuhan tertinggi pergerakan pesawat sebesar 27,03 persen atau 437 pergerakan pesawat jika dibandingkan pada periode yang sama pada tahun sebelumnya yang mencapai 344 pergerakan pesawat.

“Secara keseluruhan Pelaksanaan Posko Angkutan Udara Natal dan Tahun Baru 2018 di 13 bandara yang dikelola oleh Angkasa Pura I berjalan aman, baik dan lancar. Kami ucapkan terima kasih kepada pihak-pihak yang telah mendukung situasi yang kondusif selama pelaksanaan Posko seperti Otoritas Bandara, TNI, Polri, Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP), Basarnas, BMKG, Airnav Indonesia, pihak maskapai serta masyarakat,” tambah Faik.

Manjakan Penumpang, Maskapai Mulai Hadirkan Dudukan Gadget Yang Pas dan Ergonomis

Selain fasilitas In Flight Entertainment (IFE), hal lain yang dibutuhkan penumpang selama penerbangan adalah dudukan yang pas untuk menempatkan perangkat elektronik di depan kursi. Sekilas nampak sepele, namun pada kenyataan banyak penumpang yang merasa bingung untuk meletakan gadget, ketika pilihannya adalah menaruh smartphone/tablet di kantung majalah, sudah pasti itu bukan ide yang baik, mengingat Anda tak mudah menggapai gadget bila suatu waktu dibutuhkan.

Baca juga: Rancang Ruang Bagasi Unik, Kelompok Mahasiswa Hong Kong Raih Penghargaan dari Airbus

KabarPenumpng.com melansir dari laman runwaygirlnetwork.com beberapa perusahaan penerbangan kini menunjukkan pilihan PED (Personal Electronic Device) berteknologi rendah yang dirilis untuk disematkan pada meja/kursi penumpang. Seperti Zodiac Aerospace yang memperkenalkan tempat duduk Z400 barunya di Boeing 777X, inovasi ini digadang bisa digunakan untuk meletakkan kabel dan dudukan telepon serta pegangan meja.

PED berada dibalik meja, sehingga untuk menggunakannya meja harus tetap terbuka. Tak hanya Zodiac, beberapa perusahaan penerbangan lain juga membuat hal serupa dimana Pitch memiliki soket USB yang berada di balik meja. Pitch menjadi salah satu pengguna PED paling inovatif dan sederhana untuk tablet. Desain Pitch sendiri sangat pintar dengan meja ultra slim yang bisa diangkat dari sisi lutut penumpang, ini bisa menciptakan lebih banyak ruang bagi penumpang.

(runwaygirlnetwork.com)

Sementara itu, perusahaan teknik material Boltaron, menunjukkan permukaan nonslip yang dapat merevolusi desain pemegang PED. Boltaron menunjukkan permukaan lengket dengan segelas air, namun produknya bisa dimodifikasi untuk mengakomodasi PED, yang cenderung meluncur.

Dibandingkan dengan titik atau strip karet tradisional, permukaan Motaron tidak bersih, tapi juga tidak dikenai atau dipenggal dengan penggunaan. Memang, desain Boltaron mengingatkan pada kabin koordinat Embraer E-Jet E2 yang dikoordinasikan Priestmangoode, yang harus dirancang ulang oleh perancang udara setelah memenangkan Crystal Cabin Award, di mana permukaan lengket pada pemegang PED yang hampir vertikal.

Adapun solusi lainnya datang dari kabin HAECO yang memiliki sentuhan unik untuk kursi malas di pasar premium, meja koktail gabungan dan pemegang PED. Meski tidak biasa, ini agak rumit dengan banyak komponen yang bergerak dan sepertinya hanya cocok untuk perangkat berukuran smartphone jika kedua penumpang menggunakan receiver yang terpasang di tengahnya.

Seatmaker HAECO menunjukkan fitur flip-down tambahan dengan kedua pemegang PED berputar maju ke belakang dan potongan cupholders. Sehingga membuat dudukan pemegang PED pada poros ini tentu terasa sangat alami, namun satu masalahnya adalah bobot dan ukuran perangkat yang bervariasi secara signifikan.

Baca juga: Smartsealz, Headset Berteknologi Augmented Reality, Sanggup Bantu Tugas Pilot!

Memastikan bahwa mekanisme ini cukup kuat untuk mendukung iPad Pro 12,9 inchi dan SE SEWA empat inci, sementara masih mudah diubah tanpa menggunakan perangkat sebagai pengungkit, sangat kompleks. Di sini, seperti di tempat lain dalam kategori fitur permukaan ekstra lipat, pemegang cuplikan yang rendah hati akan kembali mungkin karena semakin banyak maskapai penerbangan kembali ke model minuman gratis atau berusaha meningkatkan permintaan untuk penjualan minuman tambahan mereka dan di sana adalah lingkup untuk desain dual tujuan.

Tidak Puas, LG Kembali Luncurkan Tiga Robot Anyar di Las Vegas Pekan Depan

Setelah berhasil mengembangkan robot di Tanah Airnya sendiri, Korea dimana robot-robot tersebut akan ditugaskan untuk membantu petugas Bandara Internasional Incheon selama Olimpiade Musim Dingin yang jatuh pada 9 hingga 25 Februari 2018, kini raksana elektronik LG Electronics mulai beralih menuju pengembangan robot lainnya.

Melihat dunia robotika sebagai ladang bisnis yang cukup menjanjikan dan diprediksi akan diminati oleh banyak pihak dalam beberapa tahun mendatang, maka tidak heran jika LG memfokuskan diri pada pengembangan teknologi penanda perkembangan jaman ini.

Baca Juga: Sambut Olimpiade Musim Dingin, LG Hadirkan Dua Robot Canggih di Bandara Incheon

Sebagaimana yang dihimpun KabarPenumpang.com dari laman newatlas.com (5/1/2018), pihak LG Electonics akan kembali ‘menggemparkan dunia’ dengan sejumlah robot yang akan diluncurkan pada pertengahan bulan Januari 2018 ini. Rencananya, perhelatan Consumer Electronic Show (CES) Las Vegas 218 akan menjadi saksi dari peluncuran empat robot yang sudah dikembangkan oleh pihak LG sebelumnya.

Berbeda dengan peluncuran robot pada pagelaran CES 2017 kemarin, dimana LG merilis Airport Guide Robot, Airport Cleaning Robot, Lawn Mowing Robot, dan Hub Robot, kali ini LG akan meluncurkan tiga robot yang dibangun untuk melakukan interaksi dengan pelanggan di supermarket berkelas premium. CLOi (dilafalkan KLOH-ee), begitulah robot pembantu pelanggan supermarket ini disebut, memiliki perawakan setinggi orang yang sedang jongkok, ditambah dengan bagian atas yang menyerupai muka seseorang.

Serving Robot. Sumber: newatlas.com

“The Serving Robot memiliki pangsa pasar hotel dan bandara,” tutur pihak LG, dikutip dari laman sumber. Berlandaskan alasan ekonomi dan keamanan, The Serving Robot ini nantinya akan menggantikan tugas manusia di restoran, dimana setiap pengunjung bisa melakukan pemesanan melalui sistem touchscreen yang diterapkan. Makanan pun akan diantar oleh robot ini, dengan  mengandalkan fitur baki built-in, sehingga diperkirakan dapat meminimalisir terjadinya human error seperti makanan yang jatuh dari baki, dan lain-lain.

Porter Robot. Sumber: newatlas.com

Varian lainnya adalah The Porter Robot. Sesuai dengan namanya, wilayah operasi dari robot ini adalah seputaran hotel, dimana robot ini akan membantu setiap pengunjung untuk membawa barang bawaannya menuju kamar yang sudah dipesan. Selain itu, The Porter Robot juga bisa menangani proses check-in dan check-out secara cepat, hingga membantu proses pembayaran.

Shopping Cart Robot. Sumber: newatlas.com

Terakhir adalah Shopping Cart Robot, dimana teknologi ini akan mengambil wilayah operasi di sekitaran supermarket berkelas premium. Tugasnya adalah untuk membantu pengunjung untuk berbelanja, termasuk memindai barcode harga dan menampilkan informasi tentang barang tersebut, hingga menampilkan daftar belanjaan yang dibeli. Dikombinasikan dengan aplikasi di smartphone, pengunjung juga bisa memerintahkan si robot untuk membantu mencari barang yang hendak dibeli.

Baca Juga: Ini Dia Troika! Robot Canggih di Bandara Incheon, Korea Selatan

“Sebagai salah satu tonggak penting dari pertumbuhan perusahaan kami, LG berkomitmen untuk memperluas portofolio di dunia robotika, dimana kehadirannya dapat memberikan kenyamanan dan inovasi nyata dalam kehidupan para pelanggan kami,” tutur Ryu Hye-Jung, kepala divisi bisnis solusi cerdas LG’s Home Appliance & Air Solutions Company.

“Perjalanan kami tidak akan berhenti sampai di sini. Kami akan terus mengembangkan berbagai macam produk yang berkaitan dengan dunia robotika, sembari mencari peluang baru untuk berkontribusi pada kemajuan industri robotika,” timbalnya.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada kejelasan mengenai kapan deretan robot CLOi ini ditawarkan kepada publik.

Flex Seat Smart Cabin, Bukti Kolaborasi Cerdas Airbus dan Recaro

Smart Cabin Reconfiguration merupakan hasil penelitian dan kolaborasi antara Airbus, Recaro dan THK. Dan hasil kolaborasi dari tiga nama besar tersebut memunculkan adapa yang disebut sebagai Flex Seat dan dibuat untuk kebutuhan Smart Cabin Airbus A320 yang diluncurkan tahun 2017 lalu pada Aircraft Interior Expo di Hamburg.

Baca juga: JetBlue Upgrade Desain Kabin Airbus A320, Tapi Penumpang Justru Merana

KabarPenumpang.com melansir dari laman apex.aero, Flex Seat sendiri menawarkan fleksibilitas dalam tata letak tempat duduk, sehingga maskapai bisa memaksimalkan pemesanan dan memberi penumpang ruang kaki ekstra jika penerbangan tidak terisi penuh. Cara kerjanya pun cukup mudah, awak kabin hanya menyesuaikan tempat dengan mengangkat jok kursi, melepaskan mekanisme penguncian lantai dan mendorong kursi depan terpisah di sepanjang sistem rel.

Mekanisme sederhana ini hampir tidak memerlukan komponen tambahan dan dapat dioperasikan sepenuhnya tanpa alat dan yang penting dapat dilakukan awak kabin dengan sedikit usaha. Jochen Lohrmann, kepala Manajemen Inovasi di Recaro, mengatakan bahwa Flex Seat tidak akan mempengaruhi waktu perputaran di antara penerbangan.

“Salah satu tujuan utama kami adalah memberikan solusi sederhana agar tata letak kabin bisa diubah dalam hitungan menit. Tapi maskapai harus tahu bagaimana mengelola ini, di dalam sistem pemesanan mereka, misalnya,” katanya.

Flex Seat adalah bagian dari paket “bintang lima baru” yang ditawarkan Recaro dan ini jelas menunjukkan bagaimana gagasan sederhana dapat berkembang menjadi inovasi dalam wujud produk nyata. Oleh karena itu, awak kabin dapat secara fleksibel mengatur konfigurasi tempat duduk di antara penerbangan tergantung pada volume penumpang yang sebenarnya dan memastikan lebih banyak ruang untuk berselonjor kaki.

Tak hanya itu, Recaro juga menampilkan teknologi iSeat yang mampu menginformasikan awak kabin tentang posisi kursi melalui aplikasi. Sensor yang ada di sandaran tangan dan meja lipat juga bisa mendeteksi posisi duduk penumpang yang tepat untuk lepas landas dan mendarat, sebab bisa meningkatkan efisiensi awak kabin.

(apex.aero)

Aplikasi ini juga mencatat berapa kali bagian tubuh telah bergera yang memungkinkan perawatan prediktif. Tak hanya itu, aplikasi ini juga dipajang di AIX yang merupakan rak tablet Recaro dengan pemegang cup terpadu.

Recaro Aircraft Seating mengembangkan ide kreatif dan solusi yang disesuaikan untuk kabin pesawat dan gagasan ini menawarkan wawasan yang jelas tentang apa yang akan terjadi di masa depan. Layanan Pelanggan, Kursi Flex, Kesejahteraan, Solusi antibakteri dan iSeat adalah lima bintang baru dari Recaro yang memenuhi keinginan maskapai penerbangan untuk menyesuaikan sekaligus mencerminkan secara sempurna evolusi dinamis dari sektor penerbangan.

Baca juga: Gunakan Teknologi Mobile-Encoding, Netflix Siap Manjakan Penumpang Pesawat

Marisa Garcia, mantan direktur perusahaan di Hoover Industries, telah bekerja dengan tim teknik untuk sertifikasi pelapisan dan membuktikan kesulitan prosesnya, “Begitu Anda menambahkan lapisan kimia ke permukaan, ia harus melewati tes burn baru. Mendapatkan hak campuran pada lapisan apapun sangat halus. Bahan kimia memiliki volatilitas yang sangat tinggi, Anda harus melakukan pengujian berulang dengan mudah bisa memakan waktu setahun. “

Garuda Indonesia Canangkan 50 Unit Armada Baru Hingga Tahun 2024

Dalam upayanya untuk meningkatkan pelayanan, maskapai flag carrier Garuda Indonesia telah menargetkan untuk mendatangkan sekitar 50 armada baru hingga tahun 2024 mendatang. Ini merupakan salah satu langkah yang ditempuh pihak Garuda dalam upaya merevitalisasi armada dan memperbaiki kinerja perusahaannya.

Baca Juga: Di 2018, Garuda Indonesia Canangkan Buka 30 Rute Penerbangan Baru

Sebagaimana yang sudah diketahui besama, salah satu pesawat dari 50 armada baru tersebut sudah datang pada 26 Desember 2017 kemarin dan langsung beroperasi pada 1 Januari 2018. Ya, B737 MAX 8 menjadi yang armada pertama dalam list belanja Garuda yang sudah mencicipi terbang di atas Nusantara.

Dilansir KabarPenumpang.com dari laman indonesia-investments.com, Presiden Direktur Garuda Indonesia, Pahala N. Mansury mengatakan bahwa maskapai plat merah tersebut telah melakukan pemesanan sejak tahun 2014 silam. Ia melanjutkan bahwa antara tahun 2020 hingga 2024, pesawat lainnya akan menyusul dengan perkiraan 5 – 10 pesawat per tahunnya.

“Jadi kan mereka itu punya jadwal delivery, makanya jadi antre. Ya seperti ada masa indennya. Fasilitas produksinya juga terbatas, lalu juga ada proses desain, testing, dan proses yang panjang,” ungkap Pahala dikutip dari sumber terpisah. Dalam kesempatan lain, Pahala menyebutkan  bahwa kehadiran B737 MAX 8 ini nantinya akan menggantikan B737-800 Next Generation (NG) yang kontrak sewanya akan segera berakhir.

Di sini, Garuda Indonesia akan menjadi maskapai kedua di Indonesia yang mengoperasikan B737 MAX 8 setelah Lion Air. Optimalisasi armada merupakan bagian dari program revitalisasi maskapai penerbangan dan harus mengarah pada peningkatan kinerja perusahaan.

Seperti yang sudah pernah diberitakan sebelumnya, B737 MAX 8 perdana Garuda Indonesia diterbangkan ke Indonesia melalui rute Seattle-Tacoma, Washington-Honolulu, Hawai-Kepulauan Marshall, Majuro-Bandara Frans Kaisiepo, Biak. B737 Max 8 kemudian melanjutkan penerbangan ke Bandara Juanda di Surabaya untuk menjalani sertifikasi PBN.

Dalam keterangannya, Pahala juga menegaskan bahwa pihaknya tidak akan mendatangkan pesawat baru selama periode 2018. Dengan kata lain, kehadiran B737 MAX 8 menjadi armada teranyar Garuda Indonesia. Selain ramai diperbincangkan karena kehadirannya melengkapi armada Garuda, B737 MAX 8 juga dinilai sebagai pesawat yang memiliki efisiensi bahan bakar lebih baik dari seri Boeing lainnya.

Ini dikarenakan oleh pengaplikasian Scimitar Winglet, dimana dalam pengaplikasiannya, winglet tambahan yang menjulur ke bawah ini berguna untuk memecah turbulensi udara yang terjadi di ujung sayap, saat pesawat berjalan dalam kecepatan tinggi. Secara otomatis, hambatan laju pesawat akan berkurang dan konsumsi bahan bakar menjadi lebih irit.

Baca Juga: Intip Kecanggihan dan Ruang Kabin Boeing 737 MAX 8 Garuda Indonesia

Selain membahas soal armada terbaru lengkap dengan kelebihannya, pihak Garuda juga mengutarakan niatnya untuk membuka sejumlah rute baru. Dalam jumpa pers di Terminal 3 Ultimate Bandara Soekarno-Hatta, Senin sore (18/12/2017), Pahala menyebut akan membuka 30 rute penerbangan baru di sepanjang 2018. “Sepertiga adalah rute baru untuk penerbangan internasional, dan dua pertiga adalah rute baru untuk penerbangan domestik.”

Meski sudah disebutkan jumlah rute baru, Ia menolak untuk memaparkan tentang jalur rute baru yang akan dibuka. “Mohon maaf detailnya belum bisa kami sampaikan, karena sifatnya rahasia, nanti kurang baik bila diketahui oleh kompetitor,” ujar Pahala.

Untuk pasar internasional, Pahala menyebut akan memberi porsi lebih kepada jalur baru di Cina. Seperti yang diketahui bersama, Cina menjadi pasar kedua terbesar Garuda Indonesia untuk penerbangan internasional setelah Australia.

Tuai Pro dan Kontra, Thailand Setujui Proyek Pembangunan Kereta Cepat dengan Cina

Setelah sebelumnya sempat menemui hambatan dan tertunda pembangunannya selama dua tahun, akhirnya Pemerintah Thailand memberikan lampu hijau berkenaan dengan pembangunan jalur kereta berkecepatan tinggi senilai $5,2 miliar ke pihak Cina.

Baca Juga: Thailand Setujui Mega Proyek Kereta Peluru dengan Cina

Adapun penundaan pembangunan ini dilatarbelakangi oleh masalah hukum, teknis, dan kesalahpahaman antara kedua belah pihak. Dengan adanya titik terang ini, diharapkan upaya Cina untuk menghubungkan negara-negara di Asia Tenggara menjadi terbuka lebar.

Sebagaimana yang diwartakan KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber, keputusan Pemerintah Thailand pada bulan Juli untuk menyetujui jalur kereta api berkecepatan tinggi ke Cina ini disambut dengan gembira oleh pihak Beijing. Dengan dana sebesar $5,2 miliar atau yang setara dengan Rp74,2 triliun, proyek ini pada akhirnya diharapkan akan menghubungkan Kunming di sebelah selatan provinsi Yunan hingga ke Singapura, melalui Laos, Thailand dan Malaysia.

Tidak hanya berkenaan dengan urusan transportasi saja, hadirnya kereta cepat ini juga dapat dimanfaatkan untuk memperbaiki hubungan multilateral Thailand dengan berbagai negara. “Saya pikir cukup banyak kepentingan awal dari tim Thailand dalam memperkuat hubungan strategis dengan Beijing, terutama pada saat Junta Thailand dikucilkan oleh banyak negara demokrasi Barat,” ungkap Joshua Kurlantzick, seorang rekan senior untuk Asia Tenggara di Dewan Hubungan Luar Negeri. “Junta Thailand mungkin menggunakan kesepakatan tersebut untuk mengendurkan otot geopolitiknya,” tandasnya.

Sebelumnya, Junta Thailand yang dikepalai oleh Perdana Menteri Prayuth Chan-ocha, dilaporkan telah menjanjikan penggelontoran dana sebesar $5,3 miliar untuk rencana pembangunan jalur sepanjang 850 km dalam jangka waktu empat tahun dari Bangkok hingga Nong Khai di perbatasan Laos.

Namun rencana pembangunan jalur kereta ini juga tidak sedikit menuai kontra, seperti yang dilontarkan oleh salah seorang dari Associate Policy Fellow di European Council on Foreign Relations, Agatha Kratz. Terlepas dari dampak positif yang mungkin dihadirkan pasca pembangunannya, ia malah mempertanyakan soal target pasar dari kereta tersebut. “Masih belum jelas apa sebenarnya tujuan dari proyek ini. Sebut saja rasio kereta penumpang dan barang yang belum ditentukan oleh kedua belah pihak,” ungkap Agatha. “Perhatikan, di sini proyeknya tidak berkecepatan tinggi, tapi direncanakan memiliki kecepatan medium, yaitu sekitar 160 km per am,” imbuhnya.

Baca Juga: Terbebas dari Status Skors, Kereta Peluru Cina Siap Mengular Kembali

Agatha menilai, akan lebih menguntungkan bagi Thailand jika dana proyek tersebut digunakan untuk berinvestasi dalam memperbaiki infrastruktur kereta api dan jalan di dalam teritorialnya sendiri. Ia juga menambahkan berbagai faktor sosio dan geopolitik juga perlu diperhitungkan di sini. Sejak merebut kekuasaan pada tahun 2014, Junta Thailand tidak malu menyelaraskan diri dengan Beijing, yang dengan pasti telah menghabiskan jutaan uang untuk pengadaan senjata dari Cina sebagai imbalan investasi dalam proyek-proyek lokal.

Menurut Anda, apakah proyek pembangunan ini akan terus berjalan walaupun ada banyak pro dan kontra yang menyertai perjalanannya?

Long Haul Low Cost Carriers, Solusi Terbang Jarak Jauh Tanpa Harus Kuras Dompet!

Secara umum, dunia penerbangan global terbagi ke dalam dua kategori, yaitu Full Services dan Low Cost Carriers (LCC). Sesuai dengan namanya, layanan Full Services sudah mencakup keseluruhan tetek bengek selama perjalanan, mulai dari apron tax, asuransi, hingga penganan selama penerbangan. Pun dengan rute yang disanggupi oleh layanan ini juga didominasi oleh penerbangan jarak jauh. Berbanding terbalik dengan layanan LCC yang semuanya serba terbatas dan rute penerbangannya yang mayoritas hanyalah penerbangan jarak pendek.

Baca Juga: Dilema Seat Pitch, Maskapai Tambah Untung Penumpang Merana

Namun, belakangan ini santer tersiar kabar mengenai keberadaan Long Haul Low Cost Carriers (LHLCC), layanan berbiaya rendah yang menyanggupi perjalanan jarak jauh yang memakan waktu perjalanan berjam-jam, nah lho! Memang, di satu sisi penumpang tidak perlu merogoh kocek terlalu dalam untuk mengudara dari satu negara ke negara lainnya, tapi di sisi lainnya banyak hal yang mesti dikorbankan  oleh para penumpangnya, salah satunya adalah kenyamanan selama mengudara.

Tidak bisa dipungkiri, layanan LCC erat kaitannya dengan jumlah kursi yang dipadatkan di dalam kabin sehingga berpengaruh terhadap sempitnya ruang antara kaki penumpang dengan kursi yang berada di depannya (Seat Pitch sempit). Pun dengan hiburan yang harus disiapkan sendiri oleh penumpang, karena di hampir semua layanan LCC tidak menyediakan media entertainment bagi para penumpangnya, berbeda dengan layanan Full Services.

Banyaknya poin minus di layanan LCC ternyata tidak menyurutkan pihak maskapai untuk menyediakan layanan penerbangan jarak jauh. Sebut saja AirAsia X, Eurowings, Jetstar, LEVEL, Norwegian, Scoot, WOW Air merupakan beberapa nama maskapai yang menyediakan layanan LHLCC. Dilansir KabarPenumpang.com dari laman runwaygirlnetwork.com (30/12/2017), tahun 2018 diprediksi sebagai tahun yang gemilang untuk layanan LHLCC ini. Bagaimana tidak, pihak maskapai bisa meraup untung besar karena penumpang akan lebih tertarik untuk menggunakan layanan LHLCC ini  ketimbang layanan Full Service yang harganya terkenal melangit.

Hadirnya layanan LHLCC ini juga merupakan bukti nyata dari ketatnya persaingan di dunia aviasi global. LHLCC juga memungkinkan sejumlah kelompok maskapai induk untuk bereksperimen dengan berbagai cara, tanpa merugikan merek penerbangan Full Services yang ada di dalam keluarganya (Seperti Garuda Indonesia yang merupakan induk perusahaan dari Citilink). Dalam kebanyakan kasus, LHLCC memberi kesempatan kepada kelompok maskapai penerbangan untuk memperluas jangkauan dasarnya dengan biaya operasional yang lebih rendah.

Melambungnya harga layanan Full Services yang diterapkan oleh suatu maskapai penerbangan dan sepinya permintaan dari penumpang membuat para pegiatnya memikirkan cara bagaimana bisa menjaring penumpang yang hendak bepergian jarak jauh tanpa mereka harus merogoh kocek yang dalam. Seperti halnya menyajikan layanan kelas dua di kategori Full Services, akhirnya menelurkan satu ide untuk menghadirkan layanan LHLCC.

Walaupun pihak maskapai harus mengorbankan kenyamanan penumpangnya dengan memadatkan kursi di dalam kabin, namun taktik ini dinilai ampuh untuk menjaring lebih banyak penumpang yang hendak terbang jauh dengan budget yang terbatas.

Baca Juga: IATA: LCC Berkibar, ASEAN Bakal Jadi Kawasan Pertumbuhan Penerbangan Tercepat

Ditinjau dari segi armada, ambil contoh Jetstar yang menggunakan Airbus A330-200 untuk mengudara dari Sydney menuju Honolulu. Konfigurasi kursi yang digunakan oleh anak  perusahaan dari Qantas ini adalah 2 – 4 – 2, dengan kursi yang memiliki pitch 31 inci (79 sentimeter) dan lebar 17 inci (43cm).

Dilansir dari sumber terpisah, penerbangan bertarif rendah ini dapat ‘disulap’ menjadi lebih nyaman dengan biaya tambahan senilai $10 (Rp135.000) yang mencakup neck pillow, sikat dan pasta gigi, erarplugs, kaos kaki, lip balm, hingga peminjaman selimut selama perjalanan. Tapi Comfort Pack yag ditawarkan oleh pihak maskapai ini harus terlebih dahulu dipesan, tidak bisa Anda menambah layanan ini secara mendadak.

Selain Comfort Pack tadi, pihak Jetstar juga melayangkan penawaran untuk penyewaan iPad selama perjalanan. Harga yang ditawarkan berkisar antara $15 hingga $18 (Rp 200.000 hingga Rp240.000) dalam sekali penerbangan. Sebuah harga yang bisa dibilang pantas daripada Anda harus bengong selama mengudara.