Masalah Teknis, Hampir 18 Jam Penumpang Singapore Airlines Terlambat Berangkat

Maskapai super kondang, Singapore Airlines mengalami keterlambatan yang cukup lama, yakni hingga 17 jam. Keterlambatan ini terjadi pada 7 November lalu yang diakibatkan karena kesalahan teknis di pesawat Airbus A330 milik Singapore Ailines.

Baca juga: Lebih Mewah dan Super Mahal, Singapore Airlines Sulap Suite Kelas Satu di Airbus A380

KabarPenumpang.com melansir dari laman thehindu.com (13/11/2017), diketahui pesawat Airbus A330 dengan nomor penerbangan SQ528/529 ini beroperasi dengan rute Singapura – Chennai – Singapura dan mendarat di Chennai tujuh menit lebih lama melewati waktu kedatangan yang dijadwalkan pukul 22.00 waktu setempat. Kemudian pesawat dengan nomor penerbangan SQ529 itu ketika akan kembali berangkat ke Singapura,  mengalami masalah teknis sesaat sebelum pesawat lepas landas ke Singapura dengan  pada pukul 11.15 siang waktu Chennai.

Hal ini dikatakan oleh kru kabin yang menyampaikannya kepada para penumpang melalui pengumuman saat masih berada dalam kabin. Sebelum di tarik ke bagian muatan pesawat, penumpang kembali ke gate untuk tindakan selanjutnya dari pihak Singapore Airlines.

Karena masalah ini, pesawat dengan muatan 285 penumpang tersebut kemudian ditarik ke area muatan bandara sekitar pukul 03.00 pagi pada tanggal 8 November 2017 kemarin. Juru bicara Singapore Airlines yang menanggapi kejadian tersebut mengatakan bahwa penerbangan SQ529 tertunda karena ada kesalahan teknis.

“Teknisi memperbaiki masalah ini dan pesawat kemudian berangkat pukul 17.14 waktu India pada 8 November. Karena kesalahan teknis ini mengakibatkan penundaan sekitar 17 jam 59 menit dari waktu keberangkatan semula yang dijadwalkan,” ujar juru bicara tersebut.

Baca juga: Singapore Airlines Borong 39 Unit Boeing ‘Wide Body’ Senilai US$13,8 Miliar

Juru bicara Singapore Airlines juga mengatakan, atas keterlambatan ini, penumpang yang terdamppak diberikan akomodasi penginapan. Dia menambahkan, kesalahan yang terjadi terkait dengan sistem kontrol mesin dan sebanyak 158 penumpang serta 12 awak kabin yang harus mengalami penundaan tersebut.

“Kami kembali mengoperasikan pesawat Airbus A330 tersebut dari Chennai pada 8 November sesuai jadwalnya,” tutur juru bicara Singapore Airlines.

AirAsia Hadirkan WiFi dalam Penerbangan Domestik dan Internasional

Maskapai berbiaya rendah atau low cost carrier (LCC) AirAsia Indonesia baru saja meluncurkan WiFi yang akan menjadi layanan barunya dalam penerbangan. Peluncuran WiFi ini menjadi yang pertama bagi maskapai biaya rendah lainnya yang ada di Indonesia.

Baca juga: AirAsia X Genap Berusia 10 Tahun, Mantapkan Identitas Sebagai LCC Jarak Jauh

KabarPenumpang.com melansir dari laman thejakartapost.com (14/11/2017), maskapai swasta yang berpusat di Malaysia ini memberi nama layanan WiFi tersebut ROKKI yang merupakan sebuah kolaborasi dengan penyedia layanan internet Indosat Ooredoo Business. Layanan WiFi ini akan ada di layanan penerbangan AirAsia baik domestik maupun internasional yang terpilih dengan kode QZ.

“Kami sangat bangga menjadi maskapai low cost pertama di Indonesia yang meluncurkan layanan semacam itu. Layanan ROKKI bisa diakses langsung di perangkat penumpang, sehingga bisa tetap terhubung kapanpun dan dimana saja,” kata CEO AirAsia Group di Indonesia Dendy Kurniawan dalam siaran persnya.

Penumpang yang akan menggunakan layanan ROKKI tersebut harus mengaktifkan fitur WiFi di ponsel pintar atau tablet mereka. Kemudian, penumpang harus menghubungkan perangkat mereka ke WiFi AirAsia-ROKKI dan mengaskses situs www.rokki.com untuk menikmati berbagai hiburan seperti film, musik, katalog belanja dan lainnya.

Sayangnya layanan WiFi ini tidaklah gratis dan penumpang diberi dua paket pilihan jika ingin menggunakan layanan ini yakni paket chat 3 Mb dengan harga US$2,22 atau sekitar Rp30 ribu dan paket internet yang menawarkan kapasitas 10 Mb seharga Rp60 ribu. Diketahui, layanan WiFi saat ini tersedia di pesawat PK-AXV AirAsia Indonesia yang melayani rute domestik dan internasional termasuk Bali, Yogyakarta, Surabaya, Kuala Lumpur, Bangkok, Singapura dan Makau.

Baca juga: Tingkatkan Pelayanan, AirAsia Gaet Inmarsat Untuk Pengadaan On Board Broadband

Layanan ROKKI ini pertama kali diperkenalkan di Malaysia tiga tahun silam tepatnya tahun 2014 dengan kode penerbangan AK. Nantinya penumpang akan dapat mengidentifikasi apakah penerbangan mereka dilengkapi dengan layanan ini oleh stiker yang ditempatkan di tempat duduk mereka serta pengumuman dari awak kabin.

AirAsia Indonesia, menargetkan bisa menawarkan layanan WiFi ini pada 10 pesawatnya hingga tahun 2018 mendatang.

Ceroboh, Pramugari Ini Jatuh ke Tarmak dan Alami Patah Tulang

Kelalaian dalam bertugas dapat berakibat fatal bagi siapa saja yang mengalaminya, seperti seorang pramugari yang terjatuh dari Boeing 737 ketika pesawat tersebut tengah berada di sebuah bandara di Cina, Sabtu (11/11/2017) kemarin. Kejadian yang terekam kamera CCTV ini diunggah ke sosial media Weibo dan sontak ramai diperbincangkan netizen dari berbagai penjuru dunia. Diketahui, praugari tersebut mengalami luka yang cukup serius.

Baca Juga: Berakibat Fatal, Pintu Pesawat Terbuka (Lepas) Saat Mengudara

Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari berbagai sumber, pramugari dari maskapai Xiamen Air ketika maskapai tersebut tengah transit di bandara Zhengzhou di provinsi Henan. Diketahui, pramugari tersebut tengah menyiapkan makanan dan hendak membawanya ke dalam pesawat sebelum ia kehilangan pijakan dan jatuh melalui pintu kabin yang masih terhubung dengan garbarata. Dalam rekaman CCTV tersebut juga tampak gerobak makanan yang ikut terjatuh.

Pramugari yang tidak disebutkan namanya tersebut mengalami patah tulang dada. Ia langsung dibawa ke rumah sakit terdekat untuk mendapatkan tindakan medis. Dokter yang menangani pramugari tersebut menyebutkan tidak ada luka yang cukup serius, namun sang pasien harus tetap masuk ke ruang operasi untuk dipasangkan pin pada bagian tulang yang patah. Sementara itu, pihak maskapai Xiamen Air mengaku tengah menyelidiki insiden yang mereka sebut sebagai sebuah kecelakaan ini.

Hadirnya pemberitaan ini di media tentu mengingatkan kita pada kejadian yang hampir serupa yang terjadi pada akhir Oktober lalu. Seorang pramugari dari maskapai China Eastern Airlines menderita luka pada beberapa bagian tubuhnya dan patah tulang setelah ia jatuh dari ketinggian 9 kaki atau setara dengan 2,7 meter.

Baca Juga: Tanggalkan Pakaian Sebelum Mengudara, Pria Ini Tunda Keberangkatan Pesawat

Disinyalir, pramugari tersebut jatuh ketika pesawat hendak lepas landas dari Bandara Internasional Shenzhen Bao’an, Cina. Beberapa sumber menyebutkan bahwa si pramugari berada dalam kondisi yang tidak siap untuk lepas landas, sehingga ia terpental menuju pintu kabin yang belum tertutup secara sempurna tersebut.

Ia langsung dilarikan ke rumah sakit terdekat untuk mendapatkan penanganan medis lebih lanjut. Akibatnya, maskapai  China Eastern Airlines tersebut mengalami keterlambatan pemberangkatan hingga dua jam lamanya.

Beragam Alasan Hidangan di Kabin Pesawat Tak Senikmat di Darat

Berada di ketinggian 10 ribu meter membuat selera makan mungkin tak seenak di daratan. Apalagi makanan yang dimakan memiliki cita rasa sedikit unik dibandingkan dengan makanan yang ada di darat.

Bahkan ada yang mengatakan alasan makan pada ketinggian 10 ribu meter karena tidak ada pilihan kecuali kelaparan. Hingga beberapa maskapai merekrut koki terkenal demi menyiapkan menu dalam penerbangan. KabarPenumpang.com merangkum dari news.com.au, ada banyak faktor yang berperan dalam hal ini mulai dari desain pesawat, keselamatan dan sains.

Baca juga: Sajian Makanan di Pesawat Wajib Ekstra Bumbu, Inilah Alasannya!

1. Taste tidak terlalu baik
Indera perasa dan penciuman dalam kabin bertekanan akan berkurang secara signifikan. Hal ini mempengaruhi kepekaan Anda terhadap rasa manis dan asin yang berkurang hingga 30 persen selama penerbangan. Koki yang pandai, tahu akan masalah ini dan mengatakan memberi bumbu berlebih.

Alfred Portale dari Gotham Bar and Grill Michelin yang membuat masakan untuk Singapore Airlines mengatakan, garam dan merica paling sering digunakan dan untuk mendongkrak rasa bisa ditambah dengan banyak rempah atau menambahkan unsur-unsur rempah dipiring untuk membuat Anda lebih merasakan makanan. Untuk makanan pesawat lebih cocok seperti makanan kari yang memiliki rempah berlimpah dalam masakannya.

2. Tak bisa merencanakan makanan
Tidak mungkin memasak dalam pesawat, jadi makanan yang Anda pesan biasanya sudah dimasak dari awal sebelum masuk ke kabin. Karena makanan ini hanya akan dipanaskan di microwave atau oven yang ada di dapur kabin. Dengan rendahnya tekanan udara di kabin juga bisa memperlambat proses memasak.

“Sebenarnya sangat sulit memasak di kabin. Mereka umumnya melakukan pemanasan ulang (memanaskan masakan),” ujar Johhn Hansman dari Pusat Transportasi Udara Internasional di Massachusetts Institute of Technology.

3. Tak perlu pisau untuk memotong steak
Tak perlu berimajinasi untuk tidak mengarahkan pisau steak saat makan daging. Sebab banyak makanan pesawat yang di masak dengan kematangan berlebih, baik saat direbus ataupun di kukus sehingga makanan bisa dipotong dengan mudah.

“Maskapai telah menemukan bahwa, jika Anda juga bisa memakan daging dengan mudah, Anda praktis tidak memerlukan pisau karena daging terlalu matang sehingga mudah untuk dipotong dengan garpu,” kata Guillaume de Syon dari Pennsylvania’s Albright College.

4. Pelayanan makanan sudah berubah
Penumpang pesawat beberapa dekade lalu manifest penumpang lebih kecil dan terkadang hanya sebanyak 50 orang. Ini memungkinkan awak kabin untuk menawarkaan layanan makanan yang lebih personal pada setiap penumpang pesawat.

Baca juga: Lima Maskapai Ini Kondang dengan Sajian Makanan Yang Buruk

Namun kini, pesawat sudah berkembang dan membawa lebih dari 300 orang yang pastinya butuh makan. Dalam hal ini awak kabin harus memberi layanan makanan dengan segera. Apalagi saat ini banyak perusahaan penerbangan yang menambahkan kursi lebih banyak dalam kabin dan fokus penumpang terkadang kurang.

“Karena ketertarikan untuk mengurangi biaya, banyak maskapai mencoba menempatkan lebih banyak kursi di pesawat terbang. Itu adalah bagian dari alasan Anda melihat beberapa maskapai penerbangan tidak memiliki layanan makanan panas, karena mengurangi ukuran dapur dan memberi ruang untuk tempat duduk,”ujar John Hansman.

Dirut Angkasa Pura I, Danang S. Baskoro Meninggal Dunia

Kabar duka datang dari jajaran manajemen PT Angkasa Pura I (Persero). Direktur Utama PT Angkasa Pura I (Persero) Danang S. Baskoro meninggal dunia pada Sabtu (18/11) pukul 12.30 di RS Pondok Gede, Jakarta. Almarhum disemayamkan di rumah duka di Sunter, Jakarta Utara.

Baca Juga: Gagalkan Penyelundupan Sabu-Sabu, Petugas Avsec Adi Sutjipto Diganjar Hadiah dan Penghargaan

Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari siaran pers, Corporate Secretary PT Angkasa Pura I (Persero), Israwadi mengumumkan ‘kepulangan’ dari Danang. “Mewakili Direksi dan Komisaris PT Angkasa Pura I (Persero), kami mengucapkan turut berduka cita atas meningalnya Direktur Utama PT Angkasa Pura I (Persero), Bapak Danang S. Baskoro. Semoga amal ibadah beliau diterima oleh Tuhan Yang Maha Esa,” ujar Israwadi. Hingga saat ini masih belum diketahui penyebab meninggalnya almarhum Bapak Danang S. Baskoro.

Sumber: KabarPenumpang.com

Pria kelahiran Semarang 5 Oktober 1961 ini menjabat posisi Direktur Utama PT Angkasa Pura I (Persero) sejak Oktober 2016 berdasarkan SK Menteri Negara BUMN Nomor: SK-240/MBU/10/2016 tanggal 17 Oktober 2016.

Sebelumnya almarhum menjabat sebagai Direktur Utama PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) periode 2011 – 2016. Selain itu beliau pernah menjabat sebagai Komisaris PT Aerowisata (2001-2004), Asisten Deputi Bidang Logistik & Pariwisata Kementerian BUMN (2004-2005), Komisaris PT Jakarta International Container Terminal (JICT) (2005-2008), Komisaris PT Merpati Nusantara Airlines (2008-2011).

Selamat jalan, Pak Danang!

Meski Anda Kendala Administrasi, Garuda Tetap Siap Buka Rute Kupang-Dili

Sebagai salah satu upaya untuk melebarkan sayap bisnisnya, Garuda Indonesia mengaku siap untuk membuka rute penerbangan baru yang menghubungkan dua kota beda negara namun dalam satu pulau, yaitu dari Kupang, Nusa Tenggara Timur menuju Dili, Timor Leste. Namun, rencana penerbangan perdana yang dijadwalkan pada tanggal 15 November kemarin terpaksa diundur karena satu dua hal.

Baca Juga: Usai Kembangkan 9 Bandara, Angkasa Pura I Canangkan Benahi Infrastruktur di El Tari dan Frans Kaisiepo

Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari beberapa laman sumber, pihak maskapai plat merah kebanggaan Indonesia ini akan tetap membuka rute tersebut dalam waktu dekat, setidaknya ketika masalah yang tengah dihadapinya sudah menemukan titik terang. Kokoh Ritonga selaku General Manager PT Garuda Indonesia Tbk Kupang mengatakan bahwa pihaknya masih membutuhkan waktu untuk menyelesaikan sejumlah proses administrasi yang akhirnya menunda penerbangan perdana rute baru ini.

Walaupun sejumlah staf dan infrastruktur Garuda yang akan menunjang penerbangan perdana di rute baru ini sudah berada di Dili, namun ia tetap berpegang teguh bahwa masalah administrasi ini harus terlebih dahulu diselesaikan. “Sejumlah instruktur kami (Garuda) sudah berada di Dili untuk mengadakan training dalam rangka persiapan penerbangan perdana tersebut,” ujar dia.

Akibatnya, penerbangan perdana akan dijadwal ulang pada awal Januari atau akhir Februari 2018. “Sebenarnya semuanya sudah siap kalau masalah teknik,” terang Kokoh. “Karena pagi tadi saya juga sudah koordinasi dengan pihak security bandara, kemudian pihak imigrasi soal penerbangan perdana yang direncanakan pada 15 November mendatang,” tuturnya dilansir dari laman antaranews.com, Kamis (9/11/2017) kemarin.

Kokoh mengaku, tidak bisa menyampaikan secara rinci soal administrasi yang masih belum dipenuhi, karena merupakan domain Garuda pusat dan sudah bagian dari urusan pemerintah dan pemerintah kedua negara.

Baca Juga: Lima Maskapai Ini Kondang Untuk Rute Perintis

Di lain kesempatan, Kepala Dinas Pariwisata NTT Marius Ardu Jelamu menyambut baik rencana penambahan rute penerbangan Garuda dari Kupang-Dili maupun sebaliknya. Ia mengaku hadirnya rute ini dapat memangkas waktu perjalanan turis mancanegara yang hendak berwisata ke NTT. “Kalau selama ini wisatawan dari Australia dan Timor Leste, mereka harus melalui Denpasar atau Jakarta, tapi dengan adanya penerbangan ini, maka akan memperpendek jarak tempuh wisatawan yang mau datang ke NTT,” ucap Marius. “Ini kesempatan yang baik untuk mendatangkan sebanyak mungkin wisatawan internasional ke NTT,” imbuhnya dilansir dari sumber terpisah.

Flydubai, LCC Yang Hadirkan Kenyamanan Kelas Bisnis di Boeing 737Max

Ajang pameran dirgantara Dubai Airshow 2017 baru saja berakhir, selain pihak manufaktur yang jor-joran menawarkan produk pesawat dan helikopter tercanggih, dari sisi maskapai juga tak kalah gesit untuk memperlihatkan inovasi dan layanan terbaru untuk memanjakan penumpang. Seperti Emirates yang sejak hari pertama pameran menjadi sorotan dengan suite kelas satu barunya.

Tetapi, tahukah Anda bahwa ada Flydubai, maskapai penerbangan berbiaya rendah atau LCC (Low Cost Carrier) juga meluncurkan interior kabin baru pada pesawat Boeing 737Max-nya?

Baca juga: Pamer Kekuatan di Dubai Airshow 2017, Airbus Dongkrak Saham Yang Anjlok di Bulan Lalu

Ya, Flydubai maskapai dengan biaya rendah sudah mengembangkan kabin miliknya seperti yang ditawarkan Emirates kepada beberapa penumpang ultra kayanya. KabarPenumpang.com melansir dari laman paddleyourownkanoo.com (13/11/2017), saat ini Flydubai memiliki 76 pesawat Boeing 737Max dalam pesanan.

Flydubai mengatakan, 737Max memiliki jangkauan luas dan efisiensi bahan bakar yang lebih baik. Awalnya nanti, Flydubai akan menggunakan pesawat 737Max ini ke rute-rute terjauh seperti Bangkok, Praha, Yekaterinburg dan Zanzibar.

Kelas bisnis (Flydubai)

Flydubai pertama kali mendapat 737Max pertamanaya pada Agustus kemarin dan pada tahun 2023 mendatang 76 pesawat Boeing 737Max ini akan beroperasi. Pihak maskapai juga berharap agar pesawat Boeing 737Max ini bisa hadir enam unit lagi pada akhir 2017.

Chief Executive Flydubai, Ghaith Al Ghaith menjelaskan, pihaknya bersiap dan akan memberikan sentuhan akhir pesawat baru yang akan meningkatkan kinerja armada Flydubai secara keseluruhan dengan membawa lebih banyak fleksibilitas dan efisiensi ke operasi maskapai. Selajutnya Ghaith mengatakan dengan pesawat baru ini juga untuk mendukung komitmen Flydubai membuka ke tujuan baru.

“Pengalaman on board yang luar biasa bagi penumpang kami. 737Max menggambarkan perusahaan penerbangan yang hangat, ramah, cerdas dan ambisius,” kata Ghaith.

Kelas ekonomi (Flydubai)

Perubahan terbesar di pesawat ini adalah kursi kelas bisnis yang bisa dipesan terlebih dahulu dimana menawarkan kursi yang bisa diubah menjadi tempat tidur sepanjang 79 inchi dengan ditambah layar monitor untuk hiburan penumpang sebesar 16 inchi. Hingga kini, Flydubai menawarkan kelas bisnisnya bergaya kursi santai sederhana dan akan ada 10 kursi di bagian depan dan belakang kabin.

Untuk kabin ekonomi, Flydubai menawarkan tempat duduk dengan sandaran enam arah yang bisa disesuaikan. Sheikh Ahmed bin Saeed Al Maktoum, penguasa Dubai telah menggambarkan pengiriman Boeing 737Max pertama Flydubai sebagai tonggak sejarah lain dalam kisah sukses penerbangan Dubai.

Baca juga: Di Dubai Airshow 2017, Boom Technology Siap Goda Emirates dan Qatar Airways

Awal tahun ini, Flydubai dan Emirates mengumumkan adanya ikatan besar antara kedua maskapai tersebut. Meskipun bukan penggabungan, operator tersebut mengatakan bahwa mereka akan bekerja lebih erat dan telah meluncurkan serangkaian pengaturan codeshare. Operasi Flydubai pada awalnya ditakdirkan untuk pindah ke bandara Dubai World Central di selatan pusat kota, bahwa langkah tersebut sekarang telah dihentikan karena kemitraan dengan Emirates diperkuat di Bandara Internasional Dubai (DXB).

SkyDrive, Moda Otonom Yang Digadang Nyalakan Api Olimpiade 2020

Dalam persiapannya menyambut Olimpiade Tokyo tahun 2020 mendatang, Toyota mendukung proyek mobil terbang yang diharapkan dapat berkontribusi terhadap berlangsungnya perhelatan 4 tahunan tersebut. Diketahui, perusahaan manufaktur otomotif multinasional asal Jepang tersebut menginvestasikan 40 juta yen atau setara dengan Rp4,8 miliar untuk SkyDrive, mobil terbang yang menyerupai drone mahakarya Toyota.

Baca Juga: Terima Kucuran Dana Segar, Volocopter Fokus Kembangkan VTOL Andalannya

Dilansir KabarPenumpang.com dari laman newatlas.com (17/5/2017), tugas yang nantinya akan dibebankan kepada SkyDrive ini bisa dibilang cukup simpel, yaitu hanya menyalakan api olimpiade, penanda ajang Olimpiade Tokyo 2020 resmi dibuka. Adapun Cartivator, sekelompok pegawai Toyota yang menjadi penggerak proyek SkyDrive ini mengandalkan crowdfunding dan berbagai sumbangan lainnya untuk tetap berada di timeline mereka, yaitu menciptakan sebuah prototipe yang akan diterbangkan awal tahun depan.

Konsep SkyDrive ini sendiri mirip dengan quadcopter, moda udara yang hanya memiliki satu tempat duduk dan dilengkapi oleh baling-baling besar di setiap sudutnya. Bisa dibilang SkyDrive tidak sama dengan konsep mobil terbang lainnya, seperti AeroMobil yang pada dasarnya hanya sebuah mobil yang ditambahkan sayap pada bagian sampingnya dan terlihat seperti pesawaat berukuran mikro.

Cartivator mengatakan bahwa SkyDrive hanya memiliki panjang 9,5 kaki (2,9 meter), lebar 4,3 kaki (1,3 meter), dan tinggi 3,6 kaki (1,1 meter). Cartivator pun menggembar-gemborkan bahwa SkyDrive merupakan mobil terbang terkecil di dunia yang memiliki banyak keuntungan. Moda udara futuristik ini dapat melaju hingga kecepatan 93 mph atau setara dengan 150 km per jam.

Baca Juga: Antara Fakta dan Mitos Pada Penerapan Mobil Otonom

Adapun visi dari tim Cartivator adalah untuk menciptakan sebuah moda udara, dimana setiap orang dapat terbang dari satu titik ke titik lainnya sesuai permintaan, tanpa memerlukan bandara atau landas pacu. Visi tersebut, menurut Cartivator, rencananya akan terealisasi pada tahun 2050 mendatang, dimana mereka yakin bahwa semua moda transportasi sudah mengalami pembaruan dan beralih ke era otomatisasi.

Moda ini mengadopsi sistem Vertical Take-Off Landing (VTOL), itulah yang menyebabkan moda ini tidak membutuhkan landas pacu untuk mengudara atau landing. Menurut jadwal, Cartivator akan mulai melakukan penjualan terhadap SkyDrive pada tahun 2023 mendatang, atau 3 tahun pasca Olimpiade Tokyo.

Jatuh ke Jalur Kereta, Wanita Ini Kehilangan Lengan

Seorang wanita harus kehilangan lengan kanannya akibat terjatuh ke jalur kereta api. Insiden ini terjadi di stasiun Ayala, Filipina pada 14 November 2017 kemarin. Diketahui seorang penumpang Metro Rail Transit Line 3 (MRT3) bernama Angeline Fernando, 24 tahun asal kota Pasay yang baru saja turun dari kereta di jalur utara dan merasa kepalanya pusing.

Baca juga: Human Error Duduki Peringkat Teratas Penyebab Kecelakaan Kereta

Kemudian Angeline terjatuh di jalur kereta api pukul 14.30 waktu setempat dan terjebak diantara gerbong kereta pertama dan kedua. KabarPenumpang.com melansir dari laman newsinfo.inquirer.net (14/11/2017), saat terjatuh diketahui tangan Angeline terperangkap di coupler kereta api yang menghubungkan mobil pertama dan kedua.

Setelah kejadian tersebut, pihak stasiun membawa Ageline ke Makati Medical Center untuk mendapat perawatan lebih lanjut. Menurut seorang saksi, Angeline saat itu mencoba untuk naik kembali ke stasiun tetapi tidak ada yang meresponnya secara langsung.

“Saya terkejut melihat seorang wanita berada di jalur rel dan berusaha naik. Tapi tidak ada yang menanggapinya dengan segera kemudian seseorang berteriak untuk membantu wanita tersebut,” ujar Celia Castillo.

Dia mengatakan, yang tersisa dari lengan Angeline sekitar empat inci atau sekitar sepuluh sentimeter. Wakil Menteri Transportasi Cesar Chaves megutip kata-kata supervisor MRT3 stasiun Ayala Raffy Robles, membenarkan lengan Angeline terpotong hampir dekat ketiaknya.

“Lengannya terputus di dekat ketiaknya. Dia sadar saat di bawa ke klinik sembari menunggu ambulans,” jelas Chaves.

Atas kejadian ini, Chaves memerintahkan manajemen MRT3 mengambil rekaman CCTV kecelakaan tersebut untuk diberikan pada pihak kepolisian dan media. Akibat kecelakaan ini pengoperasian MRT3 terganggu yakni dari stasiun Nort Esda dan Shaw hingga pukul 15.06 dan mulai beroperasi kembali pukul 15.39 waktu setempat.

Baca juga: Tuas Rem Darurat, Instrumen Keselamatan di Kereta Yang Bisa Datangkan Masalah Baru. Kok Bisa?

Saat ini diketahui, Angeline sudah lepas dari bahaya atau masa kritisnya dan biaya perawatan rumah sakitnya akan ditanggung oleh pihak MRT3. Chaves menambahkan, pada kejadian, Angeline tidak didorong oleh siapapun sebab stasiun terlihat sepi pada Selasa 14 November lalu.

Swytch Conversion Kit, Ubah Sepeda Konvensional Jadi Sepeda Listrik

Bagi sebagian orang, bersepeda merupakan aktifitas yang tidak hanya baik untuk kesehatan, tetapi juga memberikan dampak yang positif pada lingkungan karena tidak menimbulkan polusi layaknya kendaraan lain. Namun jarak tempuh yang cukup jauh menjadi alasan di balik penggunaan sepeda listrik, yang disinyalir memiliki fungsi yang serupa dengan sepeda konvensional, hanya saja ada penambahan beberapa elemen elektronik yang memungkinkan sepeda bergerak tanpa dikayuh.

Baca Juga: Supaya Tak Kehujanan Saat Bersepeda, Payung Under Cover Solusinya

Sebagaimana yang dihimpun KabarPenumpang.com dari laman newatlas.com (15/11/2017), Anda tidak perlu menjual sepeda konvensional Anda untuk mendapatkan sebuah sepeda listrik, cukup menggunakan Swytch eBike Conversion Kit. Ini merupakan inovasi yang memungkinkan para pengguna sepeda konvensional merubah modanya menjadi sebuah sepeda listrik, tanpa harus melakukan perombakan besar-besaran.

Mungkin dibutuhkan waktu yang agak lama untuk merubah ban biasa menjadi ban sepeda listrik, dan itu terkesan tidak terlalu efektif. Maka dari itu, Swytch menawarkan sebuah teknologi yang dapat memasok energi listrik berkekuatan 36V/250W ke roda depan sepeda. Jadi Anda tetap bisa mengayuh sepeda tersebut, dan menggantinya ke mode elektrik jika Anda sudah mulai lelah.

Quick-connect bracket yang terpasang di roda akan menghubungkan motor penggerak bertenaga listrik dengan sensor yang ada di power bag (bagian dari komponen Swytch eBike Conversion Kit) ini memungkinkan Anda untuk mengubah mode sepeda dengan sangat mudah dan cepat. Ketika Anda hendak memarkirkan sepeda, power bag ini juga bisa dengan mudah dilepas untuk menghindari tindak kriminal yang mungkin saja terjadi.

Pada dasarnya, Anda cukup mengganti ban depan yang sudah dilengkapi dengan motor penggerak yang berfungsi sebagai ‘reseptor’ pada bagian poros roda depan, dan memasangkan komponen pelengkap yang menggantikan fungsi dari rem depan. Setelah semua komponen teknis penunjang pengoperasian terpasang, Anda cukup menghubungkan semua komponen tersebut ke power bag yang disimpan pada bagian depan sepeda dengan menggunakan kabel, dan sepeda listrik itu siap untuk digunakan.

Baca Juga: Spektakuler! Utrecht Bangun Fasilitas Parkir Sepeda Terbesar di Dunia

Kecepatan maksimum yang dapat dihasilkan oleh sepeda listrik ini adalah 20 mph atau setara dengan 32 km per jam. Belum ditentukan kapan Swytch eBike Conversion Kit ini akan dirilis, namun dilansir dari laman sumber, harga yang dikenakan untuk seperangkat alat ini berkisar US$ 650 atau setara dengan Rp8,9 juta. Apakah Anda tertarik untuk memilikinya?