Kampanye “Wonderful Indonesia” Meriahkan Transportasi di Paris

Ada rasa bangga saat melihat ada banyak atribut pariwisata Indonesia di luar negeri. Terlebih atribut promosi wisata ini tak sembarang hadir, bus-bus wisata berupa sight seeing bus yang terkenal di Paris terlihat hilir mudik di tengah kota, mencitrakan panorama dan obyek wisata andalan Indonesia lewat kampanye “Wonderful Indonesia.”

“Desain livery pada bus tingkat (wisata) di Paris ini sangat bagus untuk memperkenalkan obyek wisata di Indonesia. Dimana-mana terlihat kampanye Wonderful Indonesia, sangat menyenangkan untuk dilihat,” ujar Mahisa Murti, seorang videographer asal Jakarta yang tengah berada di Paris.

Baca juga: Gandeng Merek-Merek Ternama, Wonderful Indonesia Lebarkan Sayap

Persisnya ada 16 unit bus ‘Open Tours’ yang mewarnai jalan-jalan di kota yang terkenal dengan Menara Eiffelnya mulai 12 September hingga tanggal 9 Oktober 2017 mendatang. Bus ini di branding dengan Wonderful Indonesia seperti piala Eropa empat tahun lalu.

Gambar-gambar yang di tampilkan 16 bus ini memberikan pemandangan indah Indonesia yakni Candi Borobudur yang megah, Danau Toba di Sumatera Utara, penari bali yang cantik, Raja Ampat yang memesona dengan lautnya, Komodo binatang asli Indonesia hingga senyuman khas orang Indonesia yang penuh pesona. Di setiap livery pada dilengkapi dengan image QR code, sehingga seseorang yang tertarik dengan ikon wisata yang ditampilkan dapat langsung melakukan scan browsing dari smartphone.

Menteri Pariwisata Arief Yahya menyadari dengan biaya promosi untuk Wonderful Indonesia ini sangatlah terbatas, sehingga harus menggunakan banyak cara branding yang sudah ada di 47 negara tidak merosot. Apalagi untuk menjaga brand ini cukup berat dimana harus menaikkan valuenya dengan promosi.

“Tentu kita perlu budget dan harus tetap kreatif mencari momentum yang pas dan lokasi yang tepat,” ujar Arief yang dikutip KabarPenumpang.com dari kompas.com (14/9/2017). Untuk menyiasati budget ini, Arief melakukan co-branding dengan menggunakan momentum dan memilih media promosi yang pas. Dengan menggunakan bus, trem, kereta, taksi dan transportasi umum bergerak lainnya lebih efektif dan bisa cepat viral ke media sosial.

Arief mengatakan, bahwa tidak boleh berhenti promosi walaupun jumlah wisatawan asing ke Indonesia terus meningkat. Inilah yang membuat akhirnya Perancis dilirik, dan membuat bus yang dipenuhi Wonderful Indonesia kembali wara-wiri di Perancis.

Menurutnya, dengan branding ini akan memberi umpan yang baik bagi warga Paris dan wisatawan negara lain yang sedang berada di kota tersebut, dan sesuai sasaran postingan di mesia sosial dengan hastag #wonderfulindonesia memang cukup ramai, diantaranya postingan tentang foto-foto bus wisata di Paris yang kini sedang menjajakan promo Indonesia.

“Sangat efektif. Wonderful Indonesia jadi makin dibicarakan publik di dunia nyata dan dunia maya. Yang hobi narsis, malah bisa dijadikan ‘senjata’ untuk posting dan menjadi viral di digital,” katanya.

Tahun 2016 kunjungan wisatawan Perancis ke Indonesia meningkat 19,8 persen dibandingkan 2015 lalu. Dari 209.466 orang naik menjadi 250,921 orang dan angka ini sudah melebihi target Kemenpar yang membidik 250 ribu orang tahun 2016 lalu. Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran Pariwisata Mancanegara Kemenpar I Gde Pitana mengatakan, bus bertingkat yang berkeliling kota Paris menjadi sarana mempromosikan Wonderful Indonesia kepada masyarakat Perancis dan juga wisatawan yang berkunjung ke Paris.

Baca juga: Tourist Information Center, Mudahkan Wisman saat tiba di Bandara Soetta

“Promosi ini akan menunjukkan dan memperlihatkan keindahaan alam Indonesia dan kebudayaan ramah tamah bangsa Indonesia, kita harus terus tampil elegan dan di tempat-tempat yang vital,” ujar Pitana.

Sementara itu, Visit Indonesia Tourism Officer (VITO) Perancis yang dipimpin Eka Moncarre mengatakan, bulan September akan penuh dengan aktivitas untuk mempromosikan Wonderful Indonesia dalam skala pemasaran penuh B to B dan B to C dalam rangka menjaring target wisatawan yang berkunjung ke Indonesia.

Eka menjelaskan, Perancis merupakan pasar berpotensial untuk Indonesia. Dengan penduduk 66 juta orang, Indonesia merupakan salah satu negara favourit bagi orang Perancis.

“Tahun ini Indonesia menjadi negara TOP 5 pilihan orang Perancis. Apalagi sekarang, tidak diperlukan visa untuk berkunjung ke Indonesia selama 30 hari maksimum, minat mereka berwisata meningkat luar biasa,” kata Eka. Tak hanya Paris, Korea Selatan yang diwakili Seoul dan Busan juga menjadi bagian promosi Wonderful Indonesia. Apalagi pengunjung Korea Selatan lebih banyak ke Bali dan Yogyakarta.

PT Angkasa Pura 2 Tawarkan Paket Investasi Rp11 Triliun di Bandara Kualanamu

Salah satu jurus ekspansi bisnis adalah dengan menawarkan paket investasi kepada pemodal. Terlebih bagi investasi di bandara yang padat modal, maka kehadiran investor swasta bisa menjadi solusi untuk mempercepat rencana pengembangan bandara. Seperti dua paket investasi Bandara Internasional Kualanamu di Sumatera Utara telah ditawarkan senilai Rp11 triliun oleh PT Angkasa Pura II (Persero). Kedua paket ini ditawarkan ke sektor swasta pada ajang The 4th Asia- Europe Meeting Transport – Transport Minister Meeting (ASEM – TMM) di Bali pada 26-28 September 2017 kemarin.

Baca juga: Bird Strike Paksa AirAsia QZ104 ‘Return to Base’ di Bandara Kualanamu

Kedua paket investasi ini juga ditawarkan dalam seminar Investasi di Infrastruktur: Peranan BUMN dan Investasi Asing yang berlangsung di Jakarta 28 Setember 2017. Paket investasi I ditawarkan senilai Rp7 triliun dan paket II senilai Rp4 triliun.

Investasi paket I mencakup pengembangan runway sehingga dapat melayani penerbangan pesawat berbadan lebar Airbus A380-800, lalu perluasan area kargo menjadi 24.715 m2 dari saat ini 13.450 m2, kemudian terminal penumpang dari menjadi 224.256 m2 atau saat ini berkapasitas 9 juta penumpang per tahun menjadi 17 juta penumpang per tahun.

Paket I merupakan bagian dari tahapan pengembangan bandara dari keseluruhan tiga tahap yang direncanakan. Targetnya, pengembangan paket I dapat di mulai tahun 2018 mendatang.

“Melalui Paket investasi ini investor dapat memiliki saham maksimal 49 persen di perusaahan yang akan berperan sebagai pengelola Bandara Internasional Kualanamu. Sisa saham, atau pemegang saham terbesar di perusahaan tersebut masih dimiliki oleh AP II,” ujar Direktur Utama AP II, Muhammad Awalludin yang dikutip KabarPenumpang.com dari siaran pers (30/9/20117).

Untuk paket II dengan nilai Rp4 triliun untuk pengelolaan lahan sekitar 200 hektar guna pengembangan area komersial yang berada di luar terminal penumpang. Areal komersial dibangun berkonsep airport city yang akan terdapat hotel bintang 3, 4 dan 5. Kemudian di bangun supermarket, gedung perkantoran, theme park, golf course, food arcade, convention center, rumah sakit, bioskop dan lainnya.

“Tujuan AP II menawarkan investasi tidak lain agar mendapat sumber pendanaan secara cepat guna melakukan ekspansi sehingga pelayanan di Bandara Internasional Kualanamu dapat semakin meningkat di samping tentunya membuat bandara ini mampu berperan signifikan dalam mendorong perekonomian nasional. Kami juga menggunakan prinsip kehati-hatian atau secara prudent dalam memilih investor dalam kerjasama dalam artian salah satu syarat adalah rekanan tersebut harus memiliki keahlian kelas dunia dalam hal pengelolaan bandara,”kata Awaluddin.

Adapun pada ASEM – TMM, AP II mengikuti dua bilateral meeting untuk lebih detail menawarkan kedua paket investasi tersebut, di mana bilateral meeting dilakukan dengan perwakilan dari Korea Selatan dan Tiongkok.

“Pada ASEM – TMM ini AP II juga membuka booth dengan tema Transportation Infrastructure and Logistic Exhibition sebagai media one on one business meeting dengan investor potensial,” jelas Awaluddin.

Baca juga: Sumatera Utara Ternyata Punya 10 Bandara

Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi mengatakan bahwa pengembangan Bandara Internasional Kualanamu termasuk bagian dari upaya pemerintah dalam meningkatkan sektor logistik dan konektivitas transportasi di Indonesia.

Sementara itu, pada seminar Investasi di Infrastruktur: Peran BUMN dan Investasi Asing, Menteri BUMN Rini M Soemarno menuturkan, “Kami memberi ruang besar kepada sektor swasta melalui berbagai kesempatan, karena pemerintah dan BUMN tidak dapat membangun dan membiayai setiap proyek infrastruktur sendiri. Kami memiliki keterbatasan, termasuk dalam pendanaan.”

Bandara Internasional Kualanamu merupakan bandara terbesar kedua yang dikelola AP II, setelah Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Pergerakan penumpang di bandara ini meningkat setiap tahunnya hingga kini sekitar 9 juta penumpang per tahun atau mencapai kapasitas bandara.

AP II memikiki rencana pengembangan hingga terminal penumpang berkapasitas 42 juta penumpang pada 2027. Dari sisi keuangan, Bandara Internasional Kualanamu mampu membukukan kinerja cukup baik pada 2016 untuk pendapatan bisnis aeronautika, nonaeronautika dan juga kargo.

Atasi Masalah Crosswind, Konsep Endless Runway Bisa Jadi Solusi Jitu

Penundaan keberangkatan sebuah pesawat dapat disebabkan oleh banyak aspek, sebut saja masalah pada mesin hingga kondisi cuaca yang kurang bersahabat. Salah satu masalah yang kerap kali muncul di landas pacu adalah terkait crosswind, alias terjangan angin samping yang dapat membahayakan keselamatan penerbangan. Kini, masalah yang berkaitan dengan kelancaran pengoperasian di dunia aviasi tersebut nampaknya sudah menemukan sebuah titik terang yang dapat diaplikasikan di masa yang akan datang.

Baca Juga: Crosswind, Terjangan Angin dari Samping, Juga Jadi Ancaman di Moda Darat

Pada tahun 2015 lalu, Henk Hesselink, seorang insinyur senior R&D untuk Netherlands Aerospace Center (NLR) ditugaskan oleh European Commission (EC) untuk menemukan solusi terhadap masalah yang berulang ini. Tidak hanya itu, Henk juga ditugaskan untuk meningkatkan kapasitas bandara yang diperkirakan akan meningkat di tahun-tahun mendatang.

Sebagaimana yang dihimpun KabarPenumpang.com dari laman airport-technology.com (10/7/2017), Henk lalu menggagas konsep Endless Runway, dimana konsep jalur lurus landas pacu yang diterapkan di hampir semua bandara diganti dengan konsep melingkar yang tidak berujung. Nantinya, landas pacu ini memiliki panjang total 10 km jika ditarik garis lurus, dengan diameter lingkaran yang mencapai 3 km. Untuk bangunan bandara sendiri akan ditempatkan di tengah-tengah lingkaran.

Para periset beropini bahwa pesawat akan selalu bisa beroperasi dengan lancar walaupun kondisi angin sedang tidak kondusif, ini berarti bahwa pesawat bisa berangkat dengan aman ke segala arah setiap saat. “Salah satu masalah yang dihadapi di runway adalah angin,” ungkap Henk. “Dan saya berpikir: apakah hal seperti ini masih akan menjadi masalah di tahun 2050? Seharusnya masalah angin ini sudah bisa dipecahkan dalam waktu dekat, tapi bagaimana caranya? Yaitu dengan menggunakan Endless Runway,” imbuhnya.

Gagasan mengenai landas pacu melingkar tersebut hingga kini masih dalam tahap uji coba, dimana penggunaan landas pacu seperti ini akan menjanjikan beberapa keuntungan, diantaranya lintasan pesawat yang lebih baik, hingga efisiensi mobilitas penumpang dari gerbang ke gerbang.

Proyek Endless Runway tanpa henti dikembangkan di bawah pengawasan EC’s 7th Framework Programme, yang bersiap untuk terus membuat teknologi terobosan di waktu yang akan datang. Bahkan, sebuah konsorsium yang terdiri dari pusat penelitian aeronautika nasional masing-masing berada di Belanda, Prancis, Jerman, Spanyol dan Polandia bekerja sama dalam meneliti dan menguji konsep landas pacu tersebut.

Namun jangan kira ini merupakan ide baru di dunia aviasi. Model Endless Runway telah dieksplorasi oleh sebagian negara di dunia, sebut saja Perancis, dimana konsep Endless Runway pertama diadopsi pada akhir abad ke-19, diikuti oleh serangkaian artikel, laporan, dan paten atas gagasan yang diajukan untuk penggunaan di abad ke-20.

Pada tahun 1960, pilot Angkatan Laut AS, James R. Conrey mengemukakan sebuah paten untuk konsep ini, dengan keyakinan bahwa konsep tersebut akan memungkinkan pesawat untuk mendarat dalam kondisi angin yang parah sekalipun. Hal ini pula yang akhirnya mengilhami Henk untuk menghidupkan ide Endless Runway kembali.

Baca Juga: 10 Bandara Ini Punya Landasan Paling Ekstrim

Seperti yang sudah dijabarkan di atas, selain masalah angin, efektifitas akomodasi penumpang juga akan berubah dengan pengaplikasian model landas pacu seperti ini. Melihat ke 2050, European Research Establishments in Aeronautics (EREA) memprediksi jumlah penumpang udara hampir 14 miliar dalam periode satu tahun. Diharapkan konsep Endless Runway ini juga dapat mengatasi masalah penumpang ini.

Lalu, kenapa konsep landasan pacu belum rilis sampai sekarang? Menurut sebuah laporan tahun 2014 yang diterbitkan oleh EC’s Community Research and Development Information Service (CORDIS), landasan pacu tersebut sejauh ini tetap berada pada tingkat eksperimen karena biaya tinggi, kebutuhan untuk memperkenalkan prosedur, dan teknik pendaratan baru. Laporan tersebut berpendapat bahwa biaya konstruksi akan lebih tinggi daripada landasan pacu konvensional, terkait keseluruhan fisik landas pacu yang lebih besar. Selain itu, pilot juga mesti mempelajari teknik baru untuk mendarat di landas pacu ini.

moBiel, Vending Machine Yang Akrab Bagi Penyandang Disabilitas

Bagi para pengguna layanan Commuter Line di Ibu Kota tentu tidak terlalu asing dengan mesin penjual (vending machine) tiket yang tersedia di beberapa stasiun. Keberadaannya berhasil memangkas antrian yang terjadi di loket umum pembelian tiket, terutama pada peak-hours. Tidak seperti kebanyakan mesin penjual yang lain, vending machine yang tersedia di beberapa stasiun di Ibu Kota bisa memberikan kembalian jika transaksi yang dilakukan para penumpang membutuhkan uang kembali.

Baca Juga: Seabreg Tantangan Implementasi E-Ticketing Pada Transportasi Massal

Begitu juga yang vending machine baru yang ada di Bielefeld, Jerman. Secara keseluruhan, vending machine yang diluncurkan oleh penyedia layanan mobilitas, moBiel ini hampir tidak ada bedanya dengan yang ada di Jakarta, lalu apa poin istimewa dari mesin penjual ini? Ternyata, seperti yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman eurotransportmagazine.com (21/9/2017), ini merupakan vending machine yang dirancang dengan mempertimbangkan para penyandang disabilitas. Diketahui, mesin ini dilengkapi dengan sistem audio yang dapat membantu penumpang tuna netra.

Langkah yang diambil oleh Scheidt & Bachmann, perusahaan yang memproduksi sektiar 100 vending machine ini merupakan bentuk peremajaan model pendahulunya yang telah beroperasi selama lebih dari 25 tahun. Mengikuti perkembangan jaman, vending machine milik Scheidt & Bachmann ini menggunakan sistem layar sentuh yang lebih modern ketimbang sistem tombol yang terkesan kuno.

Untuk sistem pembayarannya, mesin menerima uang logam dan kertas, tentu saja mesin tidak akan menerima uang kertas yang sudah terlipat, basah, dan usang. Rencananya, Scheidt & Bachmann akan mengembangkan sistem pembayaran non-cash, seperti kartu debit dan kredit. Mesin ini digalang-galang siap menyediakan tiket perjalanan penumpang masa depan yang canggih.

Baca Juga: E-Ticket, Antara Mempermudah Atau Memperkeruh

Seperti yang tertera di laman sumber, moBiel vending machine tidak hanya menyediakan mesin yang dapat memenuhi kebutuhan tiket para penumpang, melainkan juga bisa memberikan informasi seputar moda terkait kepada penumpang. Mesin ini memiliki fitur yang bisa menginformasikan penumpang tentang keberangkatan atau penundaan perjalanan secara real-time, jadwal perjalanan yang lengkap, serta beberapa informasi penting lainnya.

Jika Anda didapati tidak memiliki tiket selama perjalanan, maka Anda bisa membayar denda yang sudah ditetapkan sebelumya di mesin ini pula. Cukup canggih bukan? Di Jakarta sendiri hampir tidak mungkin jika ada penumpang yang tidak memiliki tiket berhasil naik Commuter Line, karena semua KRL Jabodetabek sudah menggunakan sistem tap-cash.

Tingkatkan Keamanan di Peron, Stasiun MRT Jakarta Akan Dilengkapi Platform Screen Doors

Salah satu mimpi terburuk bagi pengguna jasa kereta adalah terdorong dari pinggir peron hingga jatuh ke track lintasan. Itu bukan saja kerap divisualkan dalam film-film action, namun kasus orang terjatuh dari peron dan kemudian langsung tersambar kereta yang melintas memang kerap terjadi, apalagi saat peak hour dimana kumpulan orang saling berdesakan di peron menunggu kedatangan kereta.

Baca juga: Stasiun Tsutsuishi, Stasiun Bawah Tanah yang Menyerupai Sebuah Bangker

Insiden menakutkan tersebut memang telah menjadi perhatian bersama para operator jasa kereta, terutama pada jalur kereta komuter yang melayani penumpang dalam jumlah besar. Sebagai solusinya beberapa stasiun modern kini telah dilengkapi Platform screen doors (PSD). Berupa pintu dan partisi pemisah antara batas peron dan jalur track kereta. Bagi publik di Indonesia meski belum ada stasiun yang dilengkapi PSD, pada dasarnya solusi ini mirip dengan konsep automatic doors yang ada di halte TransJakarta. Meski ada pemisah, calon penumpang di peron masih dapat melihat jelas kedatangan kereta, mengingat material pemisah dibuat dari kaca tahan getaran yang bening.

Nah, PSD nantinya akan diterapkan di seluruh stasiun MRT (Mass Rapid Transit) Jakarta. Model PSD pun terbagi ke dalam dua tipe, yakni full height platform screen doors, dimana lapisan kaca dan pintu screen terutup rapat dari jalur track. Kemudian ada half-screen doors, dimana posisi bagian atas screen terbuka dengan jalur track. Umumnya full height platform screen doors digunakan pada stasiun bawah tanah (underground), sebaliknya half screen doors banya digunakan pada stasiun upperground.

Stasiun MRT Bishan di Singapura dengan full height platform screen doors.

Terjatuh dari peron faktanya tak melulu jadi faktor insiden, ada juga kasus memang orang sengaja bunuh diri dengan cara meloncat dari peron. Meski menekankan pada keselamatan calon pengguna jasa yang berada di peron, PSD punya fungsi lain yang tak kalah penting, seperti mengurangi efek hempasan angin saat kereta melintas dengan kecepatan tinggi. Harus diakui efek hempasan angin cukup mengganggu kenyamanan pada orang yang menanti di peron.

Baca juga: Intip Langsung Kungstradgarden, Stasiun Bawah Tanah Paling Keren di Dunia

Dari aspek kenyamanan, PSD membuat kondisi stasiun bawah tanah lebih nyaman, dimana pengaturan sirkulasi udara dan pengatur suhu bisa lebih optimal. Polusi suara yang diakibatkan kereta juga dapat jauh dikurangi. PSD juga dapat meningkatkan keamanan pada infrastuktur jaringan kereta, semisal tidak sembarang orang bisa masuk ke dalam terowongan. Dari sisi pengelola stasiun, PSD dapat meningkatkan efisensi, pasalnya bila sudah ada PSD maka tak perlu lagi ada petugas keamanan yang berjaga-jaga di peron.

Merujuk ke sejarahnya, PSD pertama kali diterapkan di Stasiun Saint Petersburg Metro’s Line 2 pada tahun 1961 – 1971. Saat ini stasiun MRT seperti di Singapura dan Malaysia sudah jamak wajib menggunakan PSD. Sebaliknya stasiun kereta bawah tanah di Sydney, Melbourne, Munich dan Stockholm justru belum mengadopsi PSD.

Mau Melancong? Yuk Intip Biaya Visa on Arrival Saat Tiba di Bandara Luar Negeri

Adanya fasilitas Visa On Arrival menjadi magnet tersendiri untuk menyambangi suatu negara, betapa tidak, tanpa harus ribet mengurus Visa di Kedutaan Besar, dengan Visa On Arrival pelacong bisa lebih fleksibel untuk masuk ke negara tujuan. Selain dokumen standar, mengurus Visa On Arrival lebih ditekankan pada kesiapan Anda untuk membayar tarif Visa itu sendiri.

Baca juga: Visa on Arrival, Bisa Berdampak Pada Risiko Keamanan di Dalam Negeri

KabarPenumpang.com merangkum dari berbagai sumber, Indonesia menduduki peringkat ke 79 dalam kebebasan bepergian menurut data statistik Henley visa restriction index 1 Januari 2017. Dengan data ini total akses bebas visa dan visa on arrival (VOA) Indonesia hanya bisa masuk dengan mudah ke 57 negara.

Berikut ini, KabarPenumpang.com mendapat sumber beberapa negara yang mengenakan biaya pada pembuatan Visa on arrival saat tiba di bandara.

1. Nepal
Bandara Internasional Tribhuvan, Kathmandu di Nepal memberlakukan Visa on arrival. Anda sebagai pelancong bisa menggunakan mesin aplikasi visa yang berbentuk seperti ATM tak jauh dari pintu masuk bandara. Siapkan paspor dan isi eform di mesin aplikasi, jangan lupa mengisi data diri, nomor telepon serta tempat Anda menginap. Foto juga langsung dilakukan pada mesin tersebut, setelah selesai di mesin aplikasi, Anda diharuskan ke Fee Collection Counter dan siapkan uang tunai. Uang ini untuk membayar biaya bila 15 hari akan dikenakan US$25, 30 hari US$40 dan 90 hari US$100.

Pembayaran visa ini bisa menggunakan mata uang USD, AUD, Yen dan Euro. Setelah selesai baru Anda menuju imigrasi untuk pengecekan pembayaran visa dan cek stiker visa, waktu pengurusan diperkirakan sekitar satu jam.

2. Turki
Untuk masuk ke Turki, warga Indonesia mendapat dua jenis visa dan tidak perlu mengurus ke kedutaan besar Turki atau bisa dikatakan Anda langsung mendapat akses mengurus di bandara. Sampai di bandara Ataturk Istanbul, Turki carilah konter Visa on Arrival dan siapkan uang tunai US$35. Untuk paspor Indonesia, visa ini berlaku selama 30 hari.

3. India
Pelancong Indonesia yang masuk ke India, sesaat setelah tiba di bandara bisa masuk ke ruang imigrasi untuk wawancara kemudian mengisi formulir VOA dan diserahkan ke petugas bersama paspor, tiket pulang serta bukti pemesanan hotel. Setelah mendapat stempel kedatangan Anda harus membayar INR3600 per orangnya dan pembayaran wajib dengan uang Rupee. Disini, uang Anda akan diteliti dengan jelas karena banyak pemalsuan uang Rupee. Uniknya bukan stiker yang Anda terima di paspor untuk VOA di India melainkan hanya stempel dan berlaku selama 30 hari.

Tidak semua bandara internasional di India bisa melayani VOA, beberapa bandara yang siap untuk VOA seperti di Bandara Netaji Subash Chandra Bose, Kolkata, Bandara Bengaluru, Chennai, Cochin, Delhi , Goa, Hyderabad, Mumbai dan Trivandrum.

Sebelum berangkat ke India, sebagai pelancong juga bisa mengisi aplikasi melalui website sehingga nantinya mudah saat di bandara hanya perlu membawa print out saja. Untuk penbuatan TVOA online ini Anda harus membayar US$60 untuk 30 hari. Dokumen yang dipersiapkan pun tak jauh berbeda dengan saat Anda melakukan pembuatan VOA langsung di bandara. Untuk persetujuannya VOA online ini paling lama 72 jam dan akan masuk ke dalam email Anda. Lain dari itu, pihak Kedutaan Besar India di Jakarta juga melayani jalur pembuatan Visa dengan sistem konvensional.

4. Timor Leste
Sebagai negara yang pecah dari Indonesia, masuk ke Timor Leste juga memerlukan VOA dengan biaya US$30 dan berlaku selama satu bulan.

Untuk negara-negara di Asia Tenggara, pemegang paspor hijau Indonesia, tidak dikenakan visa alias bebas visa. Sehingga pelancong Indonesia tak perlu repot memikirkan biaya visa dan segala pengurusannya untuk masuk ke negara-negara Asean.

Visa on Arrival, Bisa Berdampak Pada Risiko Keamanan di Dalam Negeri

Meningkatnya arus wisatawan ke suatu negara banyak dipengaruhi oleh beragam faktor, salah satunya adalah kebijakan dalam peraturan keimigrasian yang ditetapkan negara yang bersangkutan. Dari sisi pelancong tentu mendambakan negara tujuan wisata sudah menerapkan standar bebas Visa seperti halnya untuk berkeliling sesama negara ASEAN. Namun semua kebujakan yang diambil akan berdampak pada risiko pada keamanan di dalam negeri, dan sektor pendapatan pemerintah dari non pajak, karena Visa merupakan dana yang masuk ke kas negara tuan rumah.

Faktanya hanya sebagian kecil negara yang menerapkan bebas Visa, selebihnya memberlakukan Visa untuk para pelancong dan pebisnis. Ketimbang harus mengurus Visa di Kedutaan Besar yang kadang kurang fleksibel dan merepotkan, beberapa negara sahabat dan juga Indonesia menerapkan apa yang disebut dengan Visa on Arrival.

Visa on arrival sendiri merupakan dokumen izin masuk seseorang ke suatu negara yang bisa didapatkan langsung di perbatasan antarnegara seperti di bandara atau pelabuhan. Bisa dikatakan Visa on arrival ini adalah tiket masuk ke suatu negara yang bisa di beli di negara tujuan.

Baca juga: Mau Ke Eropa dengan Visa Schengen? Jangan Lupa Pesan Tiket Kereta Secara Online

KabarPenumpang.com merangkum dari berbagai sumber, bahwa di Indonesia sendiri kebijakan untuk pembebasan kunjungan baru mulai April 2015 lalu. Dimana juga mengizinkan warga negara asing dari tambahan 30 negara untuk mengunjungi Indonesia tanpa visa.

Dari sisi Pemerintah Indonesia, kebijakan ini diambil karena masih rendahnya jumlah turis yang masuk ke Indonesia dibandingkan dengan negara lain yang berada di Asia Tenggara. Sebanyak 90 negara diperbolehkan datang dan menetap di Indonesia tanpa visa selama 30 hari dan warga negara asing dari beberapa negara bisa mengajukan Visa on arrival untuk menetap 30 hari dengan membayar US$35 di loket pintu masuk.

Diketahui, untuk saat ini Pemerintah melalui Peraturan Presiden Nomor 21 Tahun 2016 tentang Bebas Visa Kunjungan telah membebaskan visa bagi turis asing di 169 negara yang hendak berkunjung ke Indonesia. Berikut negara-negara yang bebas visa yakni Australia, Antigua & Barbuda, Armenia, Albania, Andora, Bahama, Banglades, Barbados, Belize, Benin, Bhutan, Bolivia, Bosnia & Herzegovina, Bostwana, Brasil, Burkina Faso, Burundi, Chad, Cile, Ekuador, El Savador, Gabon, Gambia, Georgia, Grenada, Guatemala, Guyana, Haiti, Honduras, Hongkong (SAR), Jamaika, dan Kenya.

Baca juga: Gara-Gara Salah Administrasi, Perempuan Ini Tak Bisa Masuk Inggris Selama 10 Tahun

Selanjutnya ada Kepulauan Marshall, Kepulauan Solomon, Kiribati, Komoro, Kuba, Lesotho, Makau (SAR), Madagaskar, Makedonia, Mauritius, Mauritania, Malawi, Mali, Maroko, dan Mongolia, Mozambik, Moldova, Namibia, Nepal, Nikaragua, Palestina, Palau, Pantai Gading, Paraguay, Peru, Puerto Rico, Republik Dominika, Rwanda, dan Saint Kitis dan Navis,Saint Lucia, Saint Vincent dan Grenadis, Samoa, Sao Tome dan Principe, Serbia, Sri Lanka, Swaziland, Tajikistan, Tahta Suci Vatikan, Tanjung Verde, Togo, Tonga, Trinidad dan Tobago, Turkmenistan, Tuvalu, Uganda, Ukraina, Uruguay, Uzbekiztan, Vanuatu, Zambia, dan Zimbabwe.

Kemudian, ada Afrika Selatan, Aljazair, Amerika Serikat, Angola, Argentina, Austria, Azerbaijan, Bahrain, Belanda, Belarusia, Belgia, Bulgaria, Ceko, Denmark, Dominika, Estonia, Fiji, Finlandia, Ghana, Hongaria, India, Inggris, Irlandia, Islandia, Italia, Jepang, Jerman, Kanada, Kazakhstan, Kirgistan, Kroasia, Korea Selatan, Kuwait, Latvia, Lebanon, Liechtenstein, Lituania, Luksemburg, Maladewa, Malta, Meksiko, Mesir, Monako, Norwegia, Oman, Panama, Papua Niugini, Perancis, Polandia, Portugal, Qatar, Republik Rakyat China, Romania, Rusia, San Marino, Arab Saudi, Selandia Baru, Seychelles, Siprus, Slowakia, Slovenia, Spanyol, Suriname, Swedia, Swiss, Taiwan, Tanzania, Timor Leste, Tunisia, Turki, Uni Emirat Arab, Vatikan, Venezuela, Jordania, dan Yunani.

Menggunakan Visa on arrival ini, tidak tanggung-tanggung warga negara asing bisa masuk dengan mudah ke semua bandara besar dan pelabuhan utama di berbagai kota Indonesia. Sayangnya, dengan kebijakan Visa on arrival juga memiliki resiko salah satunya terkait dengan keamanan negara.

Saat suatu negara membiarkan masukknya orang tidak dikenal tanpa adanya pengecekan kredensial mereka berupa dokumen-dokumen penting yang diperlukan, maka akan membawa risiko tersendiri. Sebaliknya pada prosedur Visa konvensional, calon pelancong yang akan masuk ke suatu negara dapat “difilter” terlebih dahulu di negara asal mereka sebelum berangkat. Apalagi saat ini isu teroris, penyelundupan narkotika dan perdagangan manusia kian meningkat. Dalam prosedur konvensional ini, pihak Kedutaan Besar akan mengecek secara detail identitas dokumen para pemohon Visa. Negara-negara yang terkenal ketat dalam urusan pemberian Visa seperti Amerika Serikat, Inggris dan Australia.

Media Kiosk, Vending Machine Mutakhir Yang Dipasang di Pra-Sarana Transportasi

Jika selama ini kita melihat mesin penjual (vending machine) menjajakan tiket, koran, dan minuman, kini satu lagi varian vending machine yang siap meramaikan dunia perbisnisan. Adalah BMC Universal Technologies, sebuah perusahaan asal Kanada yang bergerak di bidang vending machine yang menggabungkan kecepatan, kenyamanan, dan personalisasi untuk menciptakan sebuah vending machine terbaru.

Baca Juga: Geser Yang “Manual,” Selamat Datang Era Robotika di Bandara

Adalah Media Kiosk, sebuah vending machine yang menjajakan beragam jenis permen yang bisa kita pilih sesuai selera dan keluar dalam bentuk bungkusan. Seperti yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman plasticsinpackaging.com (28/9/2017), mesin ini tidak hanya bisa menjual, tapi juga mempromosikan merek, dan mengumpulkan data para penggunanya. Kelebihan inilah yang akhirnya menjadi daya tarik Media-Kiosk di sebuah pagelaran bertajuk Pack Expo di Las Vegas, yang diadakan tanggal 25 hingga 27 September kemarin. Dengan kata lain, mesin ini menggabungkan pemasaran digital dengan ritel otomatis.

Dengan menggunakan vending machine ini, konsumen bisa bebas memilih dari delapan pilihan produk yang tersedia di dalam wadah yang diberi nama “bins”. Setelah menentukan pilihan, vending machine tersebut akan membungkus permen-permen pilihan Anda dengan menggunakan mesin pemanas sehingga Anda bisa membawanya sebagai buah tangan. Waktu yang dibutuhkan dari mulai Anda memasukkan koin hingga permen-permen pilihan Anda keluar dari mesin ini diperkirakan kurang dari satu menit. Sejatinya sebuah vending machine, para pengguna bisa melihat beragam pilihan permen dari sebuah kaca display.

Seperti yang sudah disebut di atas, mesin ini juga dapat mengumpulkan data para penggunanya. Teknologi yang terpasang di vending machine ini mampu melacak jenis kelamin, tinggi badan, perkiraan usia, dan lain sebagainya. Teknologi pengumpulan data konsumen akan bersinergi dengan fungsi lain dari mesin ini yaitu memasarkan produk. Setelah data pengguna terkumpul, maka mesin akan menampilkan iklan yang sesuai data pengguna. Untuk masalah pembayaran, para pengguna bisa menggunakan kartu debit, kartu kredit, kartu pelajar, uang tunai (kertas atau koin), hingga kartu hadiah.

Baca Juga: Baidu Rambah Teknologi Pengenalan Wajah di Bandara

Robert Schwarzli, wakil presiden pengembangan produk mengatakan mesin ini dikembangkan selama enam tahun dan siap melayani para penggunanya. Selain itu, Robert juga menjelaskan bahwa mesin ini cocok bila dipasang di beragam pra-sarana transportasi seperti stasiun, bandara, halte bus, dan sarana publik lainnya, seperti bioskop dan kampus. Lebih lanjut, ia mengatakan bahwa vending machine ini bisa diisi dengan beragam ritel lainnya, seperti sereal, oabt-obatan, dan makanan ringan.

Tentu, dengan hadirnya mesin ini di pra-sarana transportasi dapat memudahkan penumpang yang hendak jajan untuk bekal perjalanan. Dengan waktu penyajian kurang dari satu menit, diperkirakan penumpang akan lebih bisa menghemat waktu pra-perjalanan.

Didera Sejumlah Masalah, Kalstar Aviation Untuk Sementara Tak Mengudara

Kabar mengejutkan kembali datang dari industri penerbangan nasional, yakni Kalstar Aviation menambah deretan maskapai yang terkena sanksi pemberhentian izin terbang sementara oleh Kementerian Perhubungan.  Berangkat dari sejumlah masalah mendera, menyebabkan maskapai yang basis layanannya berada di Kalimantan harus melakukan koreksi internal jika ingin mengudara kembali.

Baca juga: Beroperasi Singkat, Maskapai Indonesia Ini Tinggal Cerita

“Kami mendapat laporan, maskapai Kalstar Aviation saat ini mempunyai masalah teknis, operasional, dan finansial. Untuk itu, kami meminta internal maskapai melakukan koreksi dan audit. Agar proses tersebut berjalan lancar, kami akan menghentikan sementara izin operasional Kalstar,” kata Dirjen Perhubungan Udara Kemenhub Agus Santoso yang di kutip KabarPenumpang.com dari tribunnews.com (30/9/2017).

Pemberhentian izin operasional maskapai Kalstar per 30 September 2017 kemarin hingga masalah-masalah maskapai tersebut terselesaikan secara baik. Adapun yang harus dilakukan oleh maskapai ini koreksi dan audit yakni meliputi pembenahan finansial atau kinerja keuangan dengan cara menaikkan tingkat likuiditas.

Ini harus dilakukan maskapai Kalstar karena akan berpengaruh pada masalah teknis dan operasional maskapai penerbangan tersebut serta terkait dengan jumlah pesawat beroperasi, crew dan sumber daya manusia yang tersedia. Tak hanya itu Kalstar juga harus melaksanakan training mandatory serta kemampuan penyelesaian masalah teknis yang muncul dalam pengoperasian termasuk kemampuan menyelesaikan temuan hasil safety audit yang baru-baru ini dilaksanakan Ditjen Perhubungan Udara.

Diketahui, Kalstar merupakan maskapai penerbangan pemegang AOC 121, sehingga pemenuhan terhadap ketentuan CASR 121 juga harus dipenuhi. Kalstar harus menyelesaikan safety audit seperti yang diatur dalam peraturan keselamatan penerbangan sipil (PKPS) atau Civil Aviation Safety Regulation (CASR).

“Kewajiban memenuhi ketentuan peraturan keselamatan penerbangan sipil sangat berhubungan dengan kemampuan financial di suatu maskapai penerbangan. Kami mengimbau, manajemen Kalstar segera melakukan dan menyelesaikan koreksi dan audit internal tersebut sehingga bisa kembali melayani masyarakat. Bagaimanapun, sebuah maskapai penerbangan adalah aset bangsa untuk membantu meningkatkan perekonomian nasional,” ujar Agus.

Selain itu, beberapa masalah yang saat ini dialami Kalstar di antaranya, sebagian besar armada pesawat yang berhenti beroperasi sedang dalam perawatan (maintenance). Dengan demikian, Kalstar tidak bisa memenuhi peraturan mengenai persyaratan jumlah pesawat yang dioperasionalkan. Dalam UU Nomor 1 Tahun 2009 tentang Penerbangan, syarat pesawat yang harus dioperasionalkan maskapai penerbangan berjadwal adalah lima pesawat milik dan lima pesawat yang dikuasai.

Masalah lainnya yakni dari 22 rute yang harus dilintasi Kalstar, hingga 29 September 2017 hanya ada empat rute yang benar-benar diterbangi. Rute Kalstar hingga diberhentikan sementara yakni Surabaya menuju Pangkalan Bun, Pangkalan Bun menuju Ketapang, Ketapang menuju Pontianak dan Samarinda menuju Berau.

Merujuk ke sejarahnya, Kalstar Aviation berdiri tahun 2000 dan mulai beroperasi tahun 2008 yang didirikan oleh sebuah agen perjalanan bernama Samarinda. Pesawat yang digunakan kebanyakan berjenis pesawat baling-baling ATR-72 buatan Perancis.

Baca juga: ATR-72 600, Pesawat Tercanggih Untuk Penerbangan Perintis Nasional

Maskapai ini berkantor pusat di Serpong, Banten dan terdaftar dalam kategori 1 oleh Otoritas Penerbangan Sipil Indonesia untuk kualitas keselamatan penerbangan serta terdaftar sebagai maskapai yang dilarang di Uni Eropa. Hingga sekarang, Kalstar Aviation memiliki sepuluh pesawat ATR-72.

Sedertan indisen juga pernah dialami Kalstar, seperti pada 21 Desember 2015, pesawat ERJ195 Penerbangan 676 Tergelincir di Bandar Udara Internasional El Tari, Kupang. Kemudian di 18 Maret 2016, penerbangan Kalstar dengan nomor KD 900 tujuan Berau – Samarinda tiba-tiba mengalami mati mesin ketika berada di udara. Baling-baling pesawat sebelah kanan tidak berputar, dan pilot kemudian memutuskan untuk kembali ke bandara Kalimarau.

Tidak itu saja, pesawat Kalstar dengan penerbangan KLS 931 dari Sampit tujuan Banjarmasin dan Kotabaru mengalami ledakan mesin dengan percikan api di sisi kiri pada 15 April 2016. Akibat ledakan ini empat orang dari 34 penumpangnya luka-luka karena meloncat dari pintu darurat tanpa adanya tangga.

 

Terkait Masalah Seat Pitch, FAA Dipaksa Perbaharui Peraturan Penerbangan

Tersadar atau tidak, saat ini banyak maskapai yang mempersempit jarak antar kursi satu dengan lainnya (seat pitch). Hal ini dilakukan agar pesawat bisa menampung penumpang lebih banyak lagi, biasanya maskapai dengan biaya murah atau low cost carrier (LCC) melakukan hal tersebut.

Namun, tahukah Anda sebagai penumpang sebenarnya berhak mendapat tempat yang nyaman walupun dengan maskapai LCC. Karena adanya penyempitan jarak antar kursi ini bila terjadi insiden pada pesawat justru akan memperlambat waktu penyelamatan atau evakuasi.

Baca juga: Dilema Seat Pitch, Maskapai Tambah Untung Penumpang Merana

KabarPenumpang.com melansir dari laman cbsnews.com (13/9/2017), tahun 2016 lalu ketika American Airlines 767 mengalami insiden mesin terbakar saat lepas landas di Chicago, untuk mengevakuasi semua penumpang pesawat dibutuhkn waktu lebih dari dua menit. Padahal Federation Aviation Administration (FAA) memiliki persyaratan dimana maskapai penerbangan harus menunjukkan bahwa mereka mampu mengevakuasi sebuah pesawat terbang yang penuh penumpang dalam waktu 90 detik atau kurang, bahkan saat pintu terganjal atau susah untuk dibuka.

Tak hanya itu, Delta Airlines yang meluncur di landasan pacu bersalju di LaGuardia New York tahun 2015 mengalami kerusakan sistem komunikasi dalam pesawat dan melakukan evakuasi penumpang lebih dari 17 menit. Adanya penyempitan kursi pesawat ini juga menjadi kekhawatiran baru dimana untuk evakuasi waktu yang dibutuhkan lebih lama.

Saat ini jarak antar baris kursi yang seharusnya 35 inci menjadi 31 inci, ada juga yang mempersempit hingga 28 inci apalagi bila penumpang tersebut memiliki tubuh yang besar akan semakin sempit pastinya. Paul Hudson merupakan president of Flyers Rights yakni sebuah kelompok advokasi yang menuntut, memaksa FAA untuk mengatur jarak antar kursi dan memperbaharui standar keselamatan yang sudah berlangsung selama puluhan tahun.

“Menyusutnya kursi pasti membuat penumpang yang menggunakan moda udara kurang aman. Perhatian terbesar adalah tidak akan bisa keluar tepat waktu saat terjadi insiden dalam pesawat. Saat harus menunduk, pastinya Anda tidak akan bisa melakukannya dengan baik dan membentur kursi serta bisa membuat patah leher,” kata Hudson.

Saat musim panas, pada persidangan banding terkait keselamatan penumpang dalam pesawat, keputusan hakim berpihak pada kelompok Hudson dimana keprihatinan terkait keselamatan penumpang dan memerintahkan FAA untuk mengkaji masalah ini. Dengan putusan tersebut, FAA mengatakan pihaknya tengah mengkajinya, namun pihak maskapai penerbangan menolak untuk berbicara pada media dan mengataakan mereka memenuhi atau melampaui persyaratan keamanan federal.

Baca juga: Lima Poin Ini Jadi Kunci Keselamatan Saat Pesawat Alami Crash Landing

Boeing mengatakan bahwa pihaknya melakukan tes evakuasi untuk memastikan sebuah pesawat terbang dapat dievakuasi dalam waktu 90 detik atau kurang, namun pengujian tersebut dilakukan di hanggar, bukan di lingkungan kecelakaan dunia nyata.