Michio Suzuki – Bermula dari Mesin Tenun Hingga Digdaya di Pasar Otomotif Dunia

Lahir di Hamamatsu sebuah kota kecil yang terletak sekitar 200 km dari Tokyo, Jepang pada 10 Februari 1887, tidak ada yang menyangka bahwa kelak Michio Suzuki akan menjadi founder dari salah manufaktur transportasi multinasional, Suzuki. Michio, anak dari petani kapas ini sadar bahwa keluarganya berada jauh dari kata mapan, dan ia pun tumbuh menjadi seorang pekerja keras. Pada tahun 1909, tepat di usianya yang menginjak 22 tahun, Michio merancang sebuah alat tenun berbahan dasar kayu yang dioperasikan menggunakan pedal, dan mulai menjualnya.

Baca Juga: Iwasaki Yataro – Titisan Keluarga Samurai Yang Sukses Mendirikan Mitsubishi

Itulah yang menjadi cikal bakal berdirinya Suzuki Loom Works. Walaupun bisnis tersebut berjalan dengan lancar, namun Michio tidak lekas puas dan tetap mengembangkan mesin hasil temuannya tersebut untuk industri sutera. Pada 1920, Michio memutuskan untuk memperkenalkan bisnisnya itu di bursa efek. Tuntutan pasar yang semakin meningkat tiap harinya memaksa Michio memutar otak untuk mencari dana segar. Pendirian Suzuki Loom Manufacturing Company (Suzuki Jidosha Kogyo) pada bulan Maret 1920 dianggap sebagai cikal bakal Suzuki Motor Company.

Kucuran dana pun ia peroleh dan tidak menyia-nyiakan momentum tersebut, alhasil perusahaan tersebut berkembang pesat. Dua tahun berselang setelah pendiriannya, Suzuki Loom Manufacturing Company menjadi produsen alat tenun terbesar di Jepang dengan garmen dan pakaian jadi sebagai komoditas ekspor terbesarnya. Di tahun 1926 perusahaan tersebut mulai mengekspor alat tenunnya ke Asia Tenggara dan India, namun ketahanan alat tenun buatan Michio ini membuat permintaan terhadap alat tenun baru mulai menyusut. Dari situ, Michio kembali memutar otaknya untuk memperpanjang umur perusahaannya.

Bisa dibilang, sangat sedikit produsen sepeda motor atau mobil dari Jepang sebelum Perang Dunia II pecah, sebut saja Soichiro Honda yang membuat sepeda motor pada tahun 1947. Padahal berpuluh tahun sebelum itu, di Eropa sudah mulai memproduksi sepeda motor atau kendaraan lainnya secara massal. Walaupun pada awalnya Jepang lebih banyak meniru model yang sudah ada di Eropa, namun pada kenyataannya Jepang kini mendominasi pasar motor dunia. Jepang mengimpor 20.000 kendaraan setiap tahunnya, namun belum mampu memenuhi permintaan pasar terhadap kendaraan ringan yang murah. Di sini, Michio melihat titik terang untuk perusahaannya dan mulai terjun ke bidang otomotif.

Mesin tenun buatan Suzuki. Seumber: istimewa

Pada tahun 1938, Michio membuat prototipe mobil pertamanya, yang ia pelajari dan tiru dari Austin Seven. Tim peneliti dari Suzuki Loom Manufacturing Company membeli Austin Seven dari Inggris, lalu dipreteli dan dipelajari. Beberapa bulan berselang, mereka mampu membuat replika mobil Austin Seven versi Suzuki. Pada saat itu Jepang menjadikan pabrikan otomotif di Eropa sebagai mentor mereka, karena minimnya pengetahuan tentang bagaimana memproduksi mobil dan sepeda motor yang bagus.

Namun sayang, peperangan menghalangi Suzuki Loom Manufacturing Company untuk memproduksi Austin Seven versinya secara massal. Proyek tersebut pun terbengkalai. Kondisi pasca perang yang diharapkan dapat membangkitkan kembali perusahaan tersebut ternyata tidak sesuai dengan harapan. Struktur finansial yang berantakan pasca perang pada awal tahun 1950an hampir menghancurkan Suzuki Loom Manufacturing Company.

Salah satu produk Suzuki ketika awal menapaki karir sebagai manufaktur sepeda motor. Sumber: istimewa

Sebuah literatur mengatakan bahwa Shunzo, anak laki-laki Michio, memiliki ide untuk memasangkan mesin pada sepedanya ketika dia pulang dari perjalanan memancing pada suatu hari di musim gugur. Tanpa suatu tujuan khusus, dia berkutat dengan meja gambar di rumahnya dan mulai merancang sepeda bermotornya sendiri. Tidak pernah diketahui apakah cerita ini nyata atau tidak, tetapi yang pasti ide si anak menciptakan sepeda motor ini yang akan menyelamatkan perusahaan tersebut dari kehancuran.

Singkat cerita, Suzuki Loom Manufacturing Company berkembang menjadi sebuah perusahaan yang berhasil mengembangkan sepeda motornya. Kesuksesan tersebut ditandai dengan bergantinya nama perusahaan menjadi Suzuki Motor Co. Ltd pada Juni 1954. Salah satu tonggak kesuksesan Suzuki di dunia sepeda motor adalah T500 yang mereka ekspor ke Amerika dan Inggris dengan nama Titan untuk USA dan Cobra untuk Inggris pada tahun 1976. Kehadiran T500 dinilai cukup sukses dan terus dikembangkan menjadi GT500 yang terus diproduksi hingga tahun 1977.

Baca Juga: Gottlieb Wilhelm Daimler – Serap Ribuan Ilmu Jadi Kunci Kesuksesan Bapak Otomotif Asal Jerman Ini

Sayangnya, usia Michio yang sudah sangat tua memaksanya beristirahat dengan tenang untuk selama-lamanya pada 27 Oktober 1982. Perannya di dunia otomotif tentu tidak bisa dipandang sebelah mata, andaikan Michio tidak bekerja keras kala itu, maka tidak akan ada merk Suzuki di jalanan dewasa ini.

Etihad ESCO Retrofit Bandara Dubai dengan Energi Tenaga Surya

Sebagai hub transit dari banyak maskapai internasional, bandara Internasional Dubai (DXB) di Uni Emirat Arab memang serba unggul dalam beragam fasilitas. Kabar terbaru malah menyebut Bandara Dubai akan dilengkapi sistem tenaga surya sebagai energi terbarukan yang ramah lingkungan. Pembaharuan atau retrofit energi ini akan dilakukan pihak bandara dengan mitra perusahaan layanan energi Etihad (Etihad ESCO) yang menggunakan basis panel PV (Photovoltaics).

Baca juga: Akuarium Virtual Pemindai Wajah Sapa Calon Penumpang di Bandara Dubai

KabarPenumpang.com melansir dari laman pv-tech.org (26/10/2017), berdasarkan kesepakatan keduanya baik antar Bandara Dubai dan Etihad ESCO yang dimiliki oleh Dubai Electricity and Water Authority (DEWA), maka solusi tenaga surya ini akan dipasang pada Terminal 1, 2 dan 3 Bandara Dubai. Tak hanya bandara, hotel milik bandara Dubai yang berada di Concourse B juga akan menggunakan teknologi PV solutions.

Pada praktik dan pengerjaannya, Etihad ESCO akan menawarkan dalam bentuk penghematan listrik dan air sekaligus solusi PV. Hal tersebut diharapkan kedepannya bisa membantu Bandara Dubai untuk menghemat konsumsi energi hingga 20 persen setiap tahun.

Wakil Ketua Dewan Energi dan Direktur Eksekutif Dubai dan CEO DEWA, HE Saeed Mohammed Al Tayer mengatakan, kesepakatan tersebut mendukung strategi pengelolaan side Dubai 2030 untuk mengurangi kebutuhan listrik dan air sebesar 30 persen di 2030 mendatang. Ini dilakukan dengan program seperti peraturan bangunan hijau.

Dimana segala sesuatu yang ada dan dihasilkan bandara seperti pendinginan distrik, air limbah yang diolah kembali, penghematan energi dan hal lainnya. Tak hanya itu, di bandara Dubai juga akan dipasang panel Photovoltaics di atap bandara untuk menghasilkan listrik dari tenaga surya.

“Kami senang bekerja sama dengan bandara Internasional Dubai dalam proyek strategis ini. Karena sejalan dengan tujuan kami untuk mengurangi emisi karbon,” ujar Al Tayer.

Etihad ESCO saat ini melakukan perkuatan lebih dari 30 ribu bangunan di Emirat di tahap pertama proyek pengelolaan energi dan efisiensi. Bandara Dubai sendiri telah memasang panel PV di Dubai International dan Dubai World Central.

Baca juga: Implementasi Modular Data Center Complex, Huawei Sokong Dubai Jadi “Smart Airport”

DEWA baru-baru ini juga meluncurkan sebuah perusahaan investasi baru yang berbasis di Silicon Valley, California, yang akan mengadakan litbang dan inovasi dalam keberlanjutan dan energi terbarukan di antara fokus teknologi energinya. Kementerian Perubahan Iklim dan Lingkungan Hidup dan DEWA telah menandatangani nota kesepahaman (MoU) untuk memasang kafilah surya di gedung Kementerian di Dubai.

“Ini mendukung Visi UEA 2021 untuk menciptakan lingkungan yang berkelanjutan dalam hal kualitas udara, mengurangi jejak karbon, dan meningkatkan ketergantungan pada energi bersih,” kata Al Tayer.

Terlalu Sering Alami Delay, Bandara Beijing Raih Predikat Kelima Terburuk di Asia

Tidak melulu sebuah penghargaan atau predikat yang melekat dapat dibanggakan, sebut saja Bandara Beijing di Cina yang mendapat predikat sebagai bandara dengan pelayanan terburuk kelima di sektor Asia. Penganugerahan predikat ini tidak lepas dari volume kepadatan penumpang dan tingkat penundaan penerbangan yang sangat tinggi dari bandara ini, terlepas dari masalah teknis atau non-teknis yang melatarbelakanginya. Biasanya, penumpang enggan menerima alasan tersebut dan hanya berpatokan pada “penerbangan yang delay”.

Baca Juga: Tujuh Bandara Ini Jadi Yang Terbaik Untuk Fasilitas Nursery Room

Dilansir KabarPenumpang.com dari laman thebeijinger.com (19/10/2017), predikat sebagai bandara dengan pelayanan terburuk kelima di Asia ini didapatkan dari survei yang dilakukan oleh Sleeping in Airports, sebuah laman jejaring yang ditujuan untuk menentukan kualitas suatu bandara dengan menjadikan pelayanan dan fasilitas istirahat yang disajikan sebagai poin utama penilaiannya.

Survei yang dilakukan oleh situs tersebut juga menyebutkan bahwa Bandara Beijing merupakan bandara terburuk untuk disinggahi kedelapan di dunia. Penilaian tersebut diindikasikan dari kurangnya zona istirahat gratis, kabin tidur, dan tempat tidur bayi di bandara yang dioperasikan oleh Beijing Capital International Airport Company Limited ini.

Walaupun di bandara tersebut menyediakan kamar yang dapat disewa oleh publik, namun harga yang ditawarkan tidaklah murah, yaitu sebesar 80 Renminbi atau yang setara dengan Rp164.000 untuk durasi 1 jam di kamar dengan single bed; 300 Renminbi atau setara dengan Rp613.000 untuk durasi satu malam. Tentunya harga tersebut akan membuat si calon penyewa kamar geleng-geleng, sangat mahal untuk ukuran kamar dengan single bed.

Tapi, ‘pencapaian’ yang berhasil di raih Bandara Beijing masih berada di bawah Bandara Internasional Guangzhou Baiyun. Bandara yang terletak di Provinsi Guangdong ini menduduki peringkat ketiga kategori bandara terburuk di Asia tahun 2017, peringkat keempat kategori bandara terburuk untuk disinggahi, dan bandara terburuk ke-17 di dunia (dilihati dari segala aspek).

Sebenarnya, volume penumpang di Bandara Beijing ini meningkat drastis tatkala akses menuju bandara yang terletak di sebelah selatan pusat kota Beijing ini rampung dan menjadikannya sebagai bandara tersibuk kedua di dunia pada tahun 2010 silam. Senada dengan Sleeping in Airports, situs informasi perjalanan udara milik Amerika, flightStats.com juga menempatkan Bandara Beijing sebagai bandara yang paling sering terlambat menerbangkan penumpang pada tahun 2013 silam, dimana hanya 18,3 persen penerbangannya yang berangkat tepat waktu.

Baca Juga: Berada di Atas Awan, Daocheng Yading Jadi Bandara Tertinggi di Dunia!

Tapi, tidak melulu soal pemberitaan buruk mengenai keterlambatan dan buruknya pelayanan yang menyelimuti bandara ini. Sebuah majalah yang mengulas tentang science and technology, Popular Mechanics pernah menempatkan Bandara Beijing sebagai salah satu dari 20 bandara paling mengesankan di dunia. Anda akan sependapat dengan Popular Mechanics manakala memasuki Terminal 3, hall sepanjang dua mil di bandara ini menampilkan perpaduan warna kontekstual khas kebudayaan Cina. Dan konsep tersebut merupakan simbolisasi dari seekor naga, hewan mitologi khas Negeri Tirai Bambu.

Bukan Sekedar Wacana, Elon Musk Unggah Foto Terowongan Transportasi LA ke Jejaring Sosial

Beberapa waktu yang lalu, CEO dari The Boring Company, Elon Musk menyatakan idenya untuk membangun sebuah terowongan di bawah tanah Los Angeles yang diyakini dapat menjadi salah satu solusi untuk masalah kemacetan di kota tersebut. Tidak membutuhkan waktu lama untuk Elon menjawab semua keraguan warga LA. Setelah pada bulan Juli kemarin ia sudah mengantongi ijin dari walikota LA, kini The Boring Company mulai ‘melubangi’ bawah tanah LA yang menandakan bahwa ide Elon ini bukan hanya sekedar isapan jempol semata.

Baca Juga: Elon Musk Hadirkan Solusi Transportasi Canggih Berbasis Travelator

Dilansir KabarPenumpang.com dari laman newatlas.com (30/10/2017), Elon menunggah beberapa foto di media sosial yang menunjukkan perkembangan dari terowongan bawah tanah tersebut. Di foto itu sudah tampak bentuk kasar dari terowongan yang rencananya akan digunakan oleh mobil, sepeda, dan pejalan kaki, lengkap dengan juntaian kabel yang mungkin akan digunakan untuk memasok energi listrik di dalamnya.

Elon mengatakan bahwa hingga saat ini, terowongan tersebut panjangnya baru 500 kaki atau setara dengan 152,4 meter, namun dalam waktu tiga atau empat bulan mendatang, panjangnya harus sudah mencapai 2 mil atau setara dengan 3,2 km. Elon berharap, tahun depan terowongan ini sudah mencakup keseluruhan jalan raya Interstate 405, yang membentang dari LAX ke The 101.

Dalam kesempatan yang berbeda, CEO dari SpaceX ini mengatakan bahwa akan ada jalan keluar di setiap mil dari terowongan ini. Jika digambarkan, mungkin terowongan ini meniru konsep jalan bebas hambatan, namun berada di bawah tanah.

Baca Juga: Elon Musk, CEO SpaceX Ini Paparkan Ide Entaskan Masalah Kemacetan

Seperti yang sudah diberitakan sebelumnya, di dalam terowongan ini nantinya mobil tidak akan berjalan seperti biasa, namun akan diangkut ke atas mesin yang berbentuk seperti papan seluncur dan akan mengantarkan mobil tersebut mengarungi terowongan dengan kecepatan 150 mph atau setara dengan 241 km per jam.

Sebelumnya, Elon mengatakan bahwa terowongan ini akan menghubungkan New York dan Washington DC hanya dalam waktu 29 menit saja. Jika tidak menemukan kendala dalam pengerjaannya, terowongan ini akan menjadi yang terpanjang di dunia, mengalahkan rekor yang saat ini dipegang oleh Gotthard Base Tunnel, sebuah jalur kereta api yang membentang sepanjang Pegunungan Alpen di Swiss dengan panjang kurang lebih 35,5 mil atau setara dengan 57 km.

AirAsia X Genap Berusia 10 Tahun, Mantapkan Identitas Sebagai LCC Jarak Jauh

AirAsia X maskapai penerbangan jarak jauh dengan biaya rendah (LCC) atau long-haul budget airline baru saja merayakan ulang tahun yang ke sepuluh di Surfers Paradise yang teletak di Gold Cost, Queensland, Australia. Awalnya maskapai ini memulai penerbangan dengan tiga rute pulang pergi dari Kuala Lumpur ke Gold Coast pada tahun 2007. kini setelah sepuluh tahun tak terasa sudah ada sebelas penerbangan pulang pergi dari Kuala Lumpur ke Gold Coast. Selain itu juga ada rute lainnya yang menghubungkan Gold Coast dan Auckland sebanyak tujuh penerbangan.

Baca juga: Mulai 7 November 2017, AirAsia Pindah Ke Terminal 4 Bandara Changi

KabarPenumpang.com melansir dari laman goldcoastbulletin.com.au (27/10/2017), Ketua Pariwisata Gold Coast Paul Donovan mengatakan bahwa Gold Coast dan AirAsia punya hubungan yang sangat baik, dimana Gold Cost adalah tujuan pertama AirAsia X. Sementara dari pihak Negara Bagian Queensland, AirAsia X juga punya arti penting, pasalnya maskapai dengan logo silang merah ini adalah pembuka penerbangan rute jarak jauh nonstop pertama dari Gold Coast.

Saat itu, Paul memimpin sebuah delegasi ke Kuala Lumpur, termasuk dalam rombongan CEO Pariwisata dan Peristiwa Queensland Leeanne Coddington dan Menteri Pariwisata Negara Margaret Keech untuk memperkenalkan Gold Coast sebagai tujuan wisata. Setelah bertemu dengan pendiri AirAsia X Tony Fernandes, ketiganya akhirnya membuat kesepakatan untuk tiga kali penerbangan pulang pergi dalam seminggu.

Livery AisAsia X 10 tahun (Gold Coast Bulletin)

Sejak itu, AirAsia X dan pesawat berwarna merah putihnya yang khas kini telah menerbangkan total 2,4 juta penumpang antara Gold Coast dan Kuala Lumpur. Bahkan, AirAsia X juga telah menerbangkan 400.000 penumpang antara Auckland di Selandia Baru dan Gold Coast dalam 20 bulan terakhir.

Baca juga: Tingkatkan Pelayanan, AirAsia Gaet Inmarsat Untuk Pengadaan On Board Broadband

CEO AirAsia X Malaysia Benyamin Ismail mengatakan bahwa perusahaan penerbangan tersebut akan menata ulang jadwal penerbangan dengan rute Gold Coast setelah Commonwealth Games pada bulan April tahun depan. Commonwealth Games adalah ajang olimpiade untuk negara-negara persemakmuran Inggris yang diikuti oleh 55 negara.

“Commonwealth Games akan menjadi hal yang besar untuk kita. Saya pikir Gold Coast sebenarnya masih sangat menarik untuk orang-orang di dunia yang tahu tentang hal itu dan apa yang ditawarkannya, dan ini menjadi tugas kami untuk memasarkannya,” kata Ismail, Ia menambahkan bahwa maskapai penerbangan selalu berusaha meningkatkan konektivitas.

Dia mengatakan, satu hal yang penting adalah mencoba dan meningkatkan jumlah penerbangan yang AirAsia miliki dengan alasan dan memperluas koneksi ke semua rute. CEO Gold Coast Tourism Martin Winter mengatakan bahwa kedatangan wisawatan dari AirAsia X menunjukkan ketahanan ketika Krisis Keuangan Global saat AirAsia X hadir 10 bulan setelah penerbangan perdana ke Gold Cost.

Saat ini AirAsia X melayani 22 rute penerbangan jarak jauh, armada AirAsia X terdiri dari 22 unit Airbus A330-300, dan sedang dalam proses pemesanan untuk Airbus A330-900Neo dan Airbus A350-900. Dalam penerbangan menuju ke Australia, AirAsia X menjadikan Bandara Ngurah Rai sebagai titik transit.

 

Setarakan Kaum Minoritas, Formulir Tiket Kereta di India Akan Tambah Kolom T Untuk Transgender

Dewan Kereta Api India tengah berusaha untuk memodifikasi formulir reservasi yang mereka gunakan, bukan merubah desain atau format pengisian, melainkan merubah satu kolom baru di bagian jenis kelamin. Nantinya, formulir reservasi tersebut akan memiliki 3 opsi jenis kelamin, M (Male) untuk laki-laki, F (Female) untuk perempuan, dan T untuk Transgender. Dengan begitu, kaum Transgender sekarang akan memiliki pilihan untuk mengidentifikasi diri mereka sebagai gender ketiga.

Baca Juga: Kementerian Kereta Api India Janji Sulap Gerbong Lama Jadi Lebih Modern

Dalam sebuah surat yang dilayangkan oleh Dewan Perkeretaapian, formulir pemesanan tiket dan pembatalan akan diubah dari pilihan Transgender (Male/Female) yang diterapkan dulu, menjadi simbol T saja, tanpa menyebutkan jenis kelaminnya sekarang. Menurut surat tersebut, Kementerian Sosial dan Pemberdayaan saat ini tengah menangani berbagai isu transgender dan sebuah undang-undang yang diusulkan mengenai RUU Transgender pada tahun 2016 tengah ditinjau oleh komite parlemen.

“Masalahnya tengah ditinjau dan ini nantinya akan diselesaikan oleh Kementerian Sosial. Nantinya sistem akan menangkap jenis kelamin transgender dengan kode T saja, bukan T (M/F) seperti yang disarankan sebelumnya,” tulis surat tersebut pada 17 Oktober silam, sebagaimana dikutip KabarPenumpang.com dari laman thehindu.com (30/10/2017).

Dalam kasus ini, Mahkamah Agung di India secara mengejutkan mengeluarkan status gender ketiga yang dieruntukkan bagi kaum transgender pada tahun 2014 silam. Sebelumnya, mereka harus mengisi jenis kelamin mereka kolom pria atau wanita, tanpa ada opsi untuk transgender. Mengikuti putusan tersebut, banyak dokumen pemerintah seperti paspor, kartu ransum, formulir bank dan kartu identitas pemilih telah mencantumkan ‘TG’ (gender ketiga), ‘Lain-lain’ atau ‘T’ (transgender) untuk melengkapi pilihan yang ada sebelumnya.

Khusus untuk kereta api sendiri, kolom gender mencantumkan opsi T (M/F) yang mulai eksis pada tahun 2016 silam. Melihat ada kejanggalan di dalamnya, sejumlah aktifis mulai protes karena masih terkesan memaksa kaum transgender untuk memilih jenis kelamin biner, pria atau wanita.

Baca Juga: Kereta Ekonomi India Sekarang, Gambaran Kereta Ekonomi Indonesia Era 80-an

Kasus ini berkaitan erat dengan kasus yang diajukan oleh Atri Kar, seorang transgender pertama dari Benggala Barat yang hadir untuk ujian pegawai negeri sipil. Dari situ, Atri meminta intervensi pengadilan untuk menegakkan haknya untuk berpartisipasi dalam proses seleksi SBI sebagai seorang transgender.

Ya, memang kasus seperti ini tidak bisa disebut sebagai hal yang sepele, mengingat kaum transgender juga memiliki hak yang sama di mata hukum. Mungkin, Indonesia akan sulit menerima perbedaan semacam ini, di mana setiap individu memiliki pandangan masing-masing terhadap kaum transgender, dan tidak menutup kemungkinan juga kaum ini malah akan dikucilkan, padahal derajat mereka sama.

Satu Dekade Lebih ‘Terlantar,’ The Last Concorde Akhirnya Huni Rumah Barunya

Walaupun sudah kurang lebih 14 tahun tidak beroperasi, namun masih banyak orang yang cinta dan berharap Concorde kembali mengudara. Untuk mengatasi kerinduan para penggemarnya terhadap pesawat supersonik bersayap delta tersebut, seorang mantan chief engineer pesawat terbang di Inggris, John Britton mendirikan sebuah museum yang di dalamnya memamerkan pesawat Concorde yang terakhir mengudara pada tahun 2003 silam.

Baca Juga: Suksesor Concorde ini Tetap Dihantui Bayangan Kelam Pendahulunya

Seperti yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman theguardian.com (16/10/2017), museum yang dibuka pada pertengahan bulan November ini akan memuaskan kerinduan para pecinta Concorde. Tidak hanya itu, John juga mengatakan bahwa pengunjung museum dapat naik dan menikmati kemegahan dari G-BOAF, pesawat Concorde yang terakhir mengudara. Sebelumnya, pesawat yang juga dikenal dengan Alpha Foxtrot ini terlantar begitu saja di landas pacu yang tidak terpakai di dekat Bristol, Inggris.

Aerospace Bristol, nama dari museum ini, terletak di Filton Airfield, dimana lokasi tersebut merupakan tempat yang bersejarah bagi Concorde sendiri. Tidak hanya G-BOAF, museum tersebut juga diketahui merawat beberapa pesawat dan komponen lainnya yang sudah pensiun dari dunia kedirgantaraan, seperti pesawat terbang, helikopter, rudal, satelit dan banyak lainnya.

“Saya merupakan orang yang melihat langsung ketika pesawat ini terbang pertama kali dari Filton. Saya juga menyaksikan secara langsung pada saat pendaratan terakhirnya. Sangat sedih ketika mendengar G-BOAF mematikan mesin untuk terakhir kalinya,” kenang John. “Kehadirannya di museum ini sangat brilian,” imbuhnya.

Lebih lanjut, John memaparkan bahwa pengunjung dapat menapaki jejak sejarah dari pesawat berhidung pointed tersebut dan menyaksikan proyeksi dramatis tentang sejarah Concorde di dalam pesawat. “Pengunjung juga dapat merasakan sensasi terbang dengan kecepatan dua kali lebih cepat dari pesawat jet biasa,” tulis laman resmi museum tersebut, aerospacebristol.org.

“Concorde memiliki kekuatan untuk memukau dan terlihat menakjubkan di ‘rumah’ barunya; Kami merancangnya sedemikian rupa layaknya sebuah pameran kelas satu, dengan tujuan untuk menceritakan prestasi kedirgantaraan Bristol dari tahun 1910 hingga era modern seperti saat ini, dan ada juga interaksi interaktif yang menyenangkan untuk membuat semua pengunjung tertarik dan merasa terhibur,” tutur Lloyd Burnell, Executive Director di Aerospace Bristol.

Baca Juga: Boeing 747 Dilelang Online, Inikah Akhir Cerita dari The Queen of The Skies?

Kembali pada 2 Maret 1969, dimana pesawat Concorde pertama kali membelah cakrawala dan sontak mencuri perhatian seantero jagat. Bagaimana tidak, pada waktu itu, Concorde merupakan pesawat yang mampu mengudara dengan kecepatan 1.350 mil per jam atau setara dengan 2.180 km per jam. Namun amat disayangkan ketika pesawat tersebut harus mematikan mesin selamanya setelah mengalami kecelakaan tragis yang menewaskan seluruh awak dan penumpang maskapai pada 24 Oktober 2003 silam. Pesawat di bawah naungan British Airways yang sudah 27 tahun mengabdi tersebut mengakhiri catatan perjalanannya di bandara Heatrow, London.

32 Tahun Mengangkasa, Inilah Kaleidoskop Emirates

Tak terasa, sudah 32 tahun Emirates menyelami dunia penerbangan internasional. Siapa yang menyangka, dibalik nama besar Emirates sekarang, perusahaan yang berbasis di Dubai ini hanya mengeluarkan modal awal sebesar USD$10 juta. Namun kini, maskapai berjuluk restoran terbang ini sudah berkembang sangat pesat. Dewasa ini, sebuah literatur menyebutkan bahwa Emirates melayani 190 makanan per menit yang dilayani oleh 23.000 awak kabin dengan 590 penerbangan setiap harinya.

Baca Juga: Atasi Kebosanan Selama Penerbangan, Emirates Rancang Program Khusus Untuk Anak

Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman gulfnews.com (25/10/2017), berikut adalah kaleidoskop perjalanan Emirates menghiasi langit dunia.

1985
Tepatnya pada tanggal 25 Oktober, Emirates pertama kali melakukan perjalanan udaranya dari Dubai ke Karachi, Pakistan. Menggunakan Boeing 737-300 dan mengangkut 133 penumpang, penerbangan EK600 dengan konfigurasi dua kelas tersebut menjadi yang pertama menyapa angkasa luas di bawah nama Emirates kala itu. Pada awalnya, maskapai ini hanya menggunakan dua pesawat saja, yaitu Boeing 737-300 dan Airbus A300B4-200 yang  dipinjamkan oleh Pakistan International Airlines. The Royal Family’s Dubai Royal Air Wing juga diketahui menyediakan dua armada Boeing 727-200 Adv. untuk menambah daya gedor dari maskapai ini.

1989
Emirates mulai melebarkan rute penerbangannya, dengan menambahkan penerbangan menuju Bangkok, Manila dan Singapura. Walaupun pada tahun 1986, Emirates juga telah menambahkan beberapa destinasi baru, seperti Colombo, Dhaka, Amman, dan Kairo.

1991
Membuka rute penerbangan menuju Hong Kong. Selama dekade pertama pengoperasiannya, Emirates mencatat pertumbuhan yang sangat kuat, dengan rata-rata 30%.

1992
Walaupun baru seumur jagung, tapi Emirates mampu menjadi maskapai pertama yang memperkenalkan kembali layanan seat-back televisions. Hal tersebut dilatarbelakangi oleh keinginan Emirates untuk lebih memanjakan para penumpangnya.

1993
Emirates mulai menawarkan layanan round-the-world pada musim gugur. Layanan ini tersedia berkat kemitraan yang mereka jalin dengan US Airways.

1995
Di usianya yang menginjak enam tahun, Emirates menambah enam Airbus A300s dan delapan Airbus A310 ke dalam list armadanya. Tidak hanya itu, di tahun ini juga Emirates tercatat sudah menyediakan 37 destinasi penerbangan yang tersebar di 30 negara.

1998
Emirates meluncurkan Sky Cargo. Meskipun Emirates selalu menyediakan layanan kargo yang menggunakan kapasitas di dalam pesawat penumpangnya, maskapai ini sekarang diperluas dengan penyewaan pesawat terbang, awak kapal, hingga perawatan dan asuransi.

1999
Emirates menerima pengiriman Boeing 777-200 pertamanya dan menjadi maskapai pertama yang menunjukkan rekaman live take-off dan landing.

2000
Emirates menjadi maskapai pertama di dunia yang melakukan pemesanan terhadap Airbus A380, dan setahun berselang, Emirates dinobatkan sebagai operator Airbus A330 terbesar di dunia.

2004
Maskapai ini melakukan penerbangan non-stop pertamanya, dari Dubai ke New York. Penerbangan 14 jam tanpa henti ini menjadikan Emirates sebagai layanan penerbangan non-stop pertama di Timur Tengah.

2008
Emirates kembali menjadi yang maskapai pertama di dunia yang memungkinkan penumpang menggunakan ponsel selama masa penerbangannya menuju Maroko kala itu.

2009
Maskapai yang mempekerjakan sebanyak 64,768 pada periode 2016-2017 ini kembali menyabet penghargaan sebagai operator Boeing 777 terbesar di dunia.

Baca Juga: Penumpang Emirates Kini Bisa Mandi Shower Selama Penerbangan, Khusus Kelas Satu Lho!

2014
Catatan yang menyebutkan bahwa Emirates Flight Catering sudah menyediakan sekitar 38 juta makanan per tahun membuat publik tercengang. Dengan catatan tersebut, Emirates menjadi maskapai yang mampu mengoperasikan layanan dapur terbesar di dunia.

2015
Emirates pernah menerima empat pesawat baru sekaligus dalam satu hari. Terhitung sejak tahun 2000 hingga 2015, maskapai ini mencatat pertumbuhan armada sebesar 636 persen.

2017
Pada bulan Juli, Emirates dan Flydubai menjalin sebuah kemitraan yang akan meningkatkan jumlah destinasi yang mereka layani, semula dari 157 destinasi menjadi 216 destinasi.

Tiket Online Ferry ASDP: Animo Menurun Pasca Lebaran, Optimis Meningkat di Liburan Akhir Tahun

Tidak ada yang memungkiri, sektor pelayaran penumpang di Indonesia erat kaitannya dengan musim mudik Lebaran. Ratusan ribu orang berbondong-bondong menuju pelabuhan untuk bisa menyebrang dan melanjutkan perjalanan menuju kampung halamannya. Dalam mengatasi lonjakan penumpang yang terjadi beberapa hari sebelum Hari Raya Idul Fitri 2017 kemarin, PT ASDP Indonesia Ferry membuat sebuah inovasi yaitu berupa sistem pembelian tiket online, dengan tujuan untuk meningkatkan pelayanan kepada para penumpangnya. Lalu, apakah tren tiket online tersebut masih menguat hingga hari ini?

Baca Juga: Sambut HUT RI Ke-72, PT ASDP Buka Layanan Tiket Online di Tujuh Lintasan

“Secara garis besar, animo masyarakat memang belum sebesar ketika Hari Raya Idul Fitri kemarin,” ungkap Rizki Dwianda, VP Pelayanan PT ASDP ketika dihubungi KabarPenumpang.com, Senin (30/10/2017). Rizki menambahkan bahwa peluncuran perdana sistem online di PT ASDP ini sendiri sudah memenuhi target. “Kami menargetkan penjualan 20 persen tiket online dari dua cabang kami pada Lebaran kemarin, dan target tersebut terpenuhi,” imbuhnya.

Kurangnya animo masyarakat terhadap sistem tiket online tidak lantas membuat PT ASDP menyudahi inovasinya dalam penjualan tiket tersebut, karena PT ASDP beranggapan bahwa pembelian tiket di sektor mereka berbeda dengan moda transportasi lain. “Bisa dibilang musiman, tapi sebagai persiapan menjelang Natal dan Tahun Baru 2018, kami berharap penjualan tiket online tersebut merangkak naik ke angka 30 persen,” ujarnya.

Menurut Rizki, rute perlintasan Merak – Bakauheni masih menjadi primadona di sektor penyebrangan hingga saat ini. “Dari total 29 rute yang ada, rute Ketapang – Gilimanuk juga sudah mulai meningkat dan siap disusul oleh rute  Lembar – Surabaya,” papar Rizki. “Tahun 2018 kami menargetkan semua cabang kami sudah mulai menerapkan sistem penjualan tiket online. Rute selanjutnya yang akan menerapkan sistem penjualan tiket online adalah Jepara – Karimun Jawa, rencananya dibuka pada bulan Desember mendatang,” tambahnya.

Namun, Rizki menyadari bahwa mengembangkan sistem penjualan tiket secara online tidaklah mudah dan diperlukan beberapa tahapan proses. “Secara umum, tantangannya berasal dari kesiapan sistem dan lain-lain, tapi masalah terbesar lain yang dihadapi oleh BUMN ini adalah bagaimana cara kami untuk mengedukasi para pengguna jasa, mengingat pangsa pasar kami sedikit berbeda dengan moda lain,” terangnya.

Untuk mengatasi masalah tersebut, PT ASDP menggandeng beberapa perusahaan lain seperti PT Pos Indonesia untuk bisa menunjang sistem penjualan tiket online yang tengah mereka kembangkan. “Kami sadar bahwa pangsa pasar kami tidak semuanya bisa mengakses pembelian tiket online melalui gadget yang mereka miliki, maka dari itu kami bekerja sama dengan PT Pos Indonesia dan menjadikannya sebagai salah satu channel kami untuk bisa lebih ‘merangkul’ para penumpang,” jelas Rizki.

Baca Juga: “Waroeng ASDP,” Model Kantin Baru di Kapal Ferry Yang Hangat dan Higienis

Sebelumnya, ada beberapa isu yang melatarbelakangi PT ASDP dalam meluncurkan sistem penjualan tiket online kepada para penggunanya, salah satunya adalah isu kapasitas. “Bagi yang sudah beli tiket online, mereka tidak perlu berbondong-bondong datang ke pelabuhan untuk mengantri beli tiket, walaupun peranan cuaca juga sangat berpengaruh terhadap operasional kami. Bisa dibilang, para penumpang yang beli tiket online ini sudah memastikan seat, terlepas dari kondisi cuaca tersebut.” tutup Rizki.

Dari sisi user interface, tiket online yang disajikan PT ASDP masih terbilang konvensional, yakni belum berwujud aplikasi, pengguna jasa untuk melakukan pemesanan atau reservasi tiket masih diarahkan lewat browser ke situs indonesiaferry.co.id.

American Airlines Diskriminasi Orang Kulit Hitam, NAACP Turun Tangan

National Association for Advancement of Colored People (NAACP) mengajukan tuduhan kepada American Airlines terkait masalah diskriminasi terhadap orang Afrika-Amerika yang menaiki penerbangan maskapai tersebut. Tuduhan yang dilayangkan terkait hak asasi manusia dimana budaya korporat tentang ketidakpekaan rasial dan bias ras terhadap orang-orang Afrika-Amerika.

Baca juga: Berat Badan Dianggap Berlebih, Awak Kabin Ini Ajukan Tuntutan ke Maskapai

KabarPenumpang.com melansir dari laman paddleyourownkanoo.com (25/10/2017), bahwa NAACP memperingatkan orang Afrika-Amerika jika mereka bisa mendapatkan perlakuan tidak sopan, diskriminatif dan tidak aman saat bepergian dengan American Airlines. Hal ini membuat NAACP membuat keputusan untuk menerbitkan peringatan tersebut dengan mengikuti pola insiden yang mengganggu dan atas laporan penumpang tersebut khusus untuk American Airlines.

Ada beberapa insiden yang terjadi pada orang Afrika-Amerika saat menggunaka American Airlines yakni dimana seorang pria Afrika-Amerika menjadi korban diskriminasi oleh penumpang lain dan terpaksa menyerahkan kursinya. Selain itu ada pula penumpang kulit hitam yang duduk di kelas satu kemudian diturunkan dari kabin sedangkan temannya tetap duduk di kelas satu.

Seorang ibu dan putrinya juga dikeluarkan dari penerbangan karena meminta kereta dorong dipindah dari tempat sebelum kereta tersebut jatuh dan terguling. Beberapa insiden ini cukup menjatuhkan karena layanan pelanggan seperti membedakan warna kulit, kebangsaan, agama hingga jenis kelamin.

Namun, NAACP mengatakan insiden ini kemungkinan hanya fenomena pucak gunung es dan menganggap sebagai budaya perusahaan yang tidak dapat diterima dan mengklaim bahwa perilaku tersebut terjadi secara acak. Sebagai tanggapan masalah ini, beberapa penumpang American Airlines yang menggunakan media sosial memberikan hashtag #Happened2MeOnAA untuk menyoroti insiden lain yang diduga melakukan perilaku diskriminatif.

Tapi, dengan adanya ini American tampak bingung dengan tuduhan tersebut, Doug Parker yang merupakan CEO American Airlines menulis surat terbuka kepada staf dan mengatakan dirinya kecewa. Parker mengatakan, sebenarnya prioritas utama dari awak kabin dan staf lainnya adalah membawa orang-orang bersama mereka dalam penerbangan.

Baca juga: Diskriminasi Penumpang Israel, El Al Tolak Turunkan Dana Kompensasi

Diketahui surat tersebut berisi, “Kami terbang melintasi perbatasan, dinding dan stereotip untuk menghubungkan orang-orang dari berbagai ras, agama, kebangsaan, latar belakang ekonomi dan orientasi seksual. Kami membuat dunia menjadi tempat yang lebih kecil dan lebih inklusif. Serta kami melakukannya dengan profesional dan aman setiap hari untuk lebih dari 500 ribu pelanggan di lima benua.”

Parker menambahkan, bahwa maskapainya telah menghubungi pihak NAACP untuk secepatnya mendiskusikan masalah tersebut dan mengatakan bahwa American tidak mentolerir diskriminasi dalam bentuk apapun. Dia juga meminta serta mendesak stafnya untuk memperlakukan pelanggan dengan hormat serta bertindak secara profesional dan aman.

NAACP merupakan organisasi hak sipil tertua di Amerika Serikat, yang didirikan di Springfield, Illinois pada tahun 1909. Dengan lebih dari 500 ribu anggota di Amerika Serikat, kelompok tersebut mengatakan bahwa misinya adalah untuk memastikan masyarakat di mana setiap orang memiliki hak yang sama tanpa diskriminasi berdasarkan ras.