Inggris Ambil Ancang-Ancang Untuk Redam Lonjakan Penumpang Kereta

0
ilustrasi kereta otomatis. Sumber: railway-technology.com

Banyak spekulasi yang berdatangan ketika ditanya soal masa depan kereta api. Mungkinkah di masa yang akan datang kereta api akan berjalan tanpa masinis alias otomatis? Bagaimana itu semua dapat terintegrasi? Dan bagaimana dengan nasib para masinis yang secara otomatis pula kehilangan pekerjaannya?

Tidak dapat dipungkiri kalau sekarang kita hidup di jaman yang serba modern. Ini semua merupakan dampak yang ditimbulkan dari keberadaan teknologi yang terus berinovasi setiap harinya. Namun, tidak semua dampak yang ditimbulkan itu positif, dan tidak menutup kemungkinan juga dampak positif yang dibawa oleh perkembangan teknologi akan membawa dampak negatif. Begitu juga dengan dunia transportasi, dengan adanya wacana tentang pengadaan kereta otomatis, maka ada banyak aspek yang wajib dibenahi sebelum akhirnya kereta ini mulai beroperasi.

Pada 16 Februari 2017 lalu, perwakilan dari European Union Agency for Railways, Network Rail’s (NR) Digital Railway Programme, Alstom, DB Cargo, dan beberapa diantaranya berkumpul di Institution of Mechanical Engineers untuk mendiskusikan perihal Automatic Train Operation (ATO). Rencananya, ATO ini menghiasi jalur-jalur utama kereta di Inggris sebagai solusi untuk mengatasi masalah lonjakan penumpang.

Diskusi ini membicarakan tentang beberapa poin, diantaranya masinis yang tetap lebih dominan memegang kendali kereta;  GoA2 atau pengoperasian kereta Semi-Otomatis dimana pengaturan kereta untuk melaju dan berhenti secara otomatis, namun masinis tetap memegang peranan untuk membuka atau menutup pintu, dan mulai mengambil alih kendali apabila ada suatu hal yang berjalan tidak sesuai dengan rencana; Serta GoA 3 dan GoA4 dimana rangkaian kereta akan bergerak secara otomatis tanpa adanya masinis.

Sebenarnya, baik Metro di Paris dan Underground di Inggris sudah menggunakan sistem semi-otomatis sejak lama, namun langkah tersebut masih tertinggal dengan The Docklands Light Railway yang sudah menerapkan sistem ATO dengan menghilangkan masinis dari kemudi dan lebih membantu petugas kereta lainnya.

Satu pertanyaan timbul dikala banyak organisasi mulai membicarakan tentang kereta otomatis, mengapa Inggris memerlukan kereta otomatis di jalur-jalur utamanya? Adalah Andrew Simmons, seorang kepala sistem teknisi Digital Railway yang membuat empiris sederhana. Menurutnya, sejak tahun 1996, penumpang kereta api meningkat 2 kali lipat, dan membutuhkan kapasitas yang lebih besar. Empiris tersebut sempat terbantahkan dengan argument yang menyebutkan untuk memangkas waktu keterlambatan dan meningkatkan lebih frekuensi perjalanan. Hal serupa pernah terjadi sebelumnya saat IMechE, tapi roda modernisasi harus tetap berputar dan mulai untuk merubah sistem utamanya.

Thameslink akan memperbarui  programnya dan mulai menyertakan ATO mulai 2018 nanti, guna memenuhi persyaratan 24 kereta per harinya melalui rute utama, dan kereta di jalur Crossrail juga akan dioperasikan secara otomatis.

Untuk mencegah hal-hal yang tidak terduga dalam pengoperasian kereta otomatis, pihak Digital Railway akan menjadikan kereta semi-otomatis sebagai acuannya. Tetap saja, dibalik kesuksesan suatu program, harus disertai dengan rencana dan persiapan yang matang.

Seperti yang sudah dijabarkan di atas, perubahan seperti ini akan membawa suatu permasalahan baru yang mesti segera diatasi. Ialah Aslef, salah satu perwakilan dari masinis jelas menolak dengan adanya pembaruan ini. Menanggapi hal tersebut, Chief Executive Railway Delivery Group, Paul Plummer mengatakan kereta api harus tetap memberikan pelayanan maksimal kepada para penumpangnya. “Kami harus mampu memanfaatkan teknologi dan lebih piawai untuk menyaring ide dan masukan agar dapat memajukan pelayanan demi kepentingan negara,” katanya seperti yang dikutip dari laman railway-technology.com.

Leave a Reply