Inilah “Link and Fly,” Kereta Terbang Besutan Perancis! Penumpang Bakal Dijemput Kabin Berjalan

0
Konsep kereta terbang Link and Fly. Foto: Akka Technologies

Mobil terbang, motor terbang, hingga perahu terbang (flying boat) mungkin sudah biasa didengar. Namun, bagaimana dengan kereta terbang? Terdengar aneh memang, namun, tidak demikian bagi perusahaan asal Perancis, Akka Technologies.

Baca juga: Hughes H-4 Hercules Flying Boat, Pesawat Amfibi (Gagal) dengan Rentang Sayap Terbesar

Dilansir Daily Mail, konsep kereta terbang bernama Link and Fly ini dinilai menjadi salah satu pilihan moda transportasi di masa depan. Selain itu, Link and Fly diklaim mampu mencapai kecepatan 600 mil per jam di ketinggian maksimum 39.800 kaki sejauh 2.200 km, ditambah extended range sejauh 800 km.

Konsep kendaraan masa depan dengan panjang 33,8 meter, tinggi 8,2 meter, dan bentang sayap 48,8 meter ini mampu mengangkut beban sebesar 23 ton lebih, terdiri dari 162 penumpang dan 14 kontainer; didukung berat lepas landas maksimum (MTOW) sebesar 70-80 ribu. Manuver saat lepas landas juga tergolong mumpuni dengan take-off angel sebesar 13 derajat.

Meskipun menyerupai pesawat (pada dasarnya ini memang disebut pesawat dengan modular pod), namun, kereta terbang ini tak dilengkapi beberapa fitur yang ada di pesawat, seperti flap dan APU (auxiliary powr unit). Selain itu, layaknya pesawat dengan desain blended wing body, kereta terbang ini juga tak dilengkapi dengan vertical stabilizer, rudder, elevator, dan horizontal stabilizer. Selebihnya, seperti slat, winglet, spoiler tetap ada untuk mendukung aerodinamika pesawat.

Di antara hal spesial yang terdapat di kereta terbang ini, modular pod jadi yang paling menarik. Sebab, fitur tersebut memungkinkan penumpang untuk masuk ke dalam kabin tanpa perlu berjalan cukup jauh menuju sky bridge di bagian apron bandara.

Singkatnya, kabin utama pesawat atau kereta terbang ini akan menjemput penumpang di sebuah meeting point untuk kemudian meluncur ke apron bandara melalui line yang terlah tersedia. Bila perlu, meeting point tersebut bisa saja dibuat di tengah terminal bandara, sehingga lebih mudah diakses penumpang tanpa perlu berjalan jauh.

Dengan sistem automatic alignment, modular pod atau kabin penumpang tadi kemudian menyatu dengan bagian lain untuk menjadi sebuah kesatuan utuh berbentuk pesawat. Skema tersebut diklaim mampu mereduksi waktu tunggu dan proses bongkar muat barang dan orang sekitar setengah jam untuk setiap pesawat.

Baca juga: Mobil Terbang SkyDrive SD-03, Uji First Flight dengan Pilot

“Kereta terbang harus menjadi lebih efisien, sedikit polusi dan tidak bising,” ujar CEO Akka Technologies Maurice Ricci. “Peran kami adalah mengarahkan pelanggan ke teknologi masa depan,” lanjutnya.

Link and Fly mungkin tidak membuahkan hasil secara keseluruhan, tapi beberapa ide dapat digunakan untuk meningkatkan perjalanan udara. Kereta terbang itu juga memiliki mode pengiriman, bahkan bisa dioperasikan sebagai kendaraan nirawak. Dari simulasi Link and Fly dalam video Akka Technologies dianugerahi penghargaan sebagai kategori Product Marketing di Aerospace Festival Etoiles beberapa waktu lalu.

Leave a Reply