Intip Keseruan di Airbus A330 Bekas Thai Airways yang Disulap Jadi Kedai Kopi Perang

0
Bekas pesawat Airbus A330 Thai Airways disulap jadi Kedai Kopi Perang. Foto: Getty Images

Thai Airways belakangan banyak dibicarakan karena tengah berjuang menghindari kebangkrutan melalui prosedur ‘anti bangkrut’ di Pengadilan Kepailitan Pusat Thailand. Meski begitu, perusahaan tetap berjalan dengan menerbangkan penerbangan flight to nowhere, membuka restoran, jasa penyewaan flight simulator, sampai pelatihan menjadi pramugari.

Baca juga: Usai Bangkrut, Thai Airways Kini Bisnis Restoran Khas Hidangan Pesawat! Pelayannya ‘Pramugari’

Akan tetapi, di luar itu, Thai Airways rupanya juga banyak dibicarakan oleh publik Thailand setelah kemunculan Coffee War atau Kedai Kopi Perang. Alih-alih membuka ruko seperti pada umumnya, 331 Station Coffee War ini menjadi perbincangan hangat di masyarakat karena berada di dalam pesawat Airbus A330 bekas Thai Airways.

Selain kursi, jendela, dan kompartemen bagasi, pengelola Kedai Kopi Perang tidak mempertahankan keaslian pesawat, seperti mesin, sayap, landing gear, dan kokpit. Foto: Getty Images

Dilansir Simple Flying, kedai kopi yang terletak sekitar 160 kilometer tenggara pusat kota Bangkok, Thailand, ini bahkan pernah ditutup. Bukan karena tidak laku, tetapi karena diserbu masyarakat dan menciptakan kerumunan di masa pandemi Covid-19 setelah viral di media sosial.

Kedai kopi milik Damri Sangtang, mantan perwira Angkatan Laut Kerajaan Thailand, ini memang cukup unik karena berada di dalam pesawat Airbus A330 bekas Thai Airways. Meski bekas, pesawat ini tergolong masih cukup bagus sekalipun dibeli dengan harga sangat murah, yaitu US$333.000 atau sekitar Rp4,6 miliar (kurs 14.088). Padahal, harga pesawat baru A330-300 berada dikisaran US$240 juta atau sekitar Rp3,3 triliun (kurs 14.088). Cukup jauh bukan?

Tak disebutkan dengan jelas kapan pembelian itu terjadi. Demikian juga dengan 331 Station Coffee War itu sendiri, tak jelas kapan pertama kali dibuka.

Kedai Kopi Perang ini diketahui, saking begitu happeningnya, bisa melayani sampai ribuan pengunjung dalam sehari. Selain karena daya tarik konsep kedai kopi di pesawatnya yang bikin masyarakat penasaran, harganya juga tergolong murah, mulai dari sekitar 60 baht atau sekitar Rp25 ribuan.

Kursi bekas first class dan kelas bisnis jadi favorit pengunjung Kedai Kopi Perang. Foto: Getty Images

Dengan harga segitu, pengunjung kedai kopi perang ini bisa bebas memilih tempat duduk dimanapun. Pengunjung yang datang lebih dahulu tentu akan sangat beruntung mengingat mereka bisa memilih tempat duduk, entah itu di kursi kelas ekonomi dengan konfigurasi 3×3 dekat jendela, kursi kelas bisnis di pinggir untuk pasangan dan di tengah untuk empat orang, kursi kayu untuk pasangan, serta kursi custom untuk keluarga.

Tentu, kebanyakan dari mereka tentu lebih memilih duduk di bekas kursi kelas bisnis. Dengan harga yang sama, namun sensasi yang didapat berbeda.

Spot ini menjadi salah satu spot favorit pengunjung Coffee War. Foto: Getty Images

Normalnya, pesawat A330 mampu menampung 250-290 penumpang. Namun, di kedai kopi ini, karena pengelola tidak memaksimalkan kapasitas melainkan kenyamanan, hanya bisa menampung sebanyak 60 orang.

Baca juga: Dear ‘FA Wannabe,’ Thai Airways Bantu Wujudkan Mimpi Jadi Pramugari dengan Mahar Rp1,3 Jutaan

Selain furniture asli pesawat, pengelola Kedai Kopi Perang juga menghadirkan furniture lain. Foto: Getty Images

Menariknya, saking membludaknya jumlah pengunjung, masing-masing dibatasi hanya selama 40 menit. Waktu tersebut sudah termasuk berfoto-foto. Jadi, jika tidak sedang memesan meja di dalam kedai kopi ini, pengunjung tidak boleh berfoto di dalam ataupun di area tangga.

Karena masih di masa pandemi Covid-19, pengunjung tetap diwajibkan menggunakan masker ketika sedang tidak menyantap hidangan makanan dan minuman, mencuci tangan, dan dicek suhu. Selain itu, pengelola juga rutin mendisinfeksi Kedai Kopi Perang di pesawat A330 bekas Thai Airways ini.

Leave a Reply