KA Priangan Ekspres – Hanya Mengular Empat Bulan dan Tanpa Pengganti

Priangan Ekspres

Banyak layanan kereta api (KA) yang kini tinggal kenangan alias tak lagi beroperasi. Selain itu juga ada yang berganti nama dan relasi perjalanannya. Hal ini bisa terjadi karena beberapa faktor seperti kurangnya minat penumpang atau okupansi penumpang di relasi kereta tersebut.

Baca juga: KA “Simandra,” Kereta Api Ekonomi Lokal Tanpa Sensasi Mandra

KabarPenumpang.com merangkum dari berbagai laman sumber, salah satu kereta yang tak lagi beroperasi adalah Priangan Ekspres. Kereta ini merupakan campuran yang terdiri atas empat kereta kelas bisnis dan dua kereta kelas eksekutif serta satu kereta makan.
Tapi tahukah Anda berapa lama kereta ini beroperasi? Faktanya kereta ini hanya beroperasi sekitar empat bulan dengan mulai diresmikan 12 Agustus 2009 dan ditutup secara resmi 1 Desember 2009. Sangat singkat bukan? Sebab beberapa kereta yang dihentikan operasionalnya biasanya lebih dari setahun dan ini hanya hitungan bulan dalam tahun yang sama.

Jadi sebenarnya kenapa relasi ini di buka dan akhirnya ditutup? Beberapa laman sumber mengatakan, relasi kereta Priangan Ekspres dibuka karena menyambut respon PT KAI Daop 2 Bandung atas permintaan masyarakat dan sejumlah pemerintah daerah yang menghendaki adanya kereta dari Banjar, Ciamis dan Tasikmalaya yang langsung ke Bandung ataupun Jakarta.

Selain itu KA Priangan Ekspres ini juga diharapkan menjadi andalan para pengusaha bordir yang membutuhkan angkutan dari wilayah Banjar dan Tasikmalaya ke Tanah Abang di Jakarta. Sebenarnya sebelum ada KA Priangan Ekspres, tersedia KA Serayu yang menghubungkan Banjar dengan Bandung dan Jakarta.

Tetapi karena kondisi kelas ekonomi kala itu dan pemberhentian KA Serayu di Pasar Senen bisa dibilang tidak memenuhi kebutuhan pengusaha bordir. Sehingga setelah dibukanya relasi KA Priangan Ekspres para pengusaha bordir tampak diuntungkan dengan adanya moda transportasi yang lebih nyaman dan cepat waktu tempuhnya dibanding melewati jalan raya lintas selatan.

Bahkan tiketnya pun cukup terjangkau dimana kelas eksekutif dari Banjar-Bandung Rp45 ribu, Banjar-Jakarta tak lebih dari Rp85 ribu. Sedangkan kelas bisnis sekitar Rp65 ribu dari Banjar-Jakarta. Bisa dikatakan tiket ini lebih murah dibandingkan dengan menumpang KA Parahyangan yang kala itu dipatok harga Rp40 ribu dari Bandung-Jakarta di kelas ekonomi.

Selain tarif yang terjangkau, kereta ini pun berhenti di banyak tempat tidak seperti kereta eksekutif-bisnis lainnya. Stasiun-stasiun perhentian kereta ini adalah Stasiun Banjar, Stasiun Tasikmalaya, Stasiun Cibatu, Stasiun Leles, Stasiun Bandung, Stasiun Padalarang, Stasiun Purwakarta, Stasiun Bekasi, Stasiun Jatinegara, Stasiun Manggarai dan Stasiun Pasar Senen.

Berjalannya waktu, nasib berkata lain pada relasi Banjar-Jakarta KA Priangan Ekspres ini. Pasalnya target okupansi minimal 60 persen tidaklah pernah tercapai sejak meluncur di rel 12 Agustus 2009. Hal ini membuat PT KAI merugi karena biaya operasional tidak menutup pendapatan yang diperoleh. Adapula faktor lainnya yakni jadwal perjalanan yang tidak pas dimana KA Priangan Ekspres berangkat dari Banjar pukul 05.30 tiba di Pasar Senen 13.30 dan berangkat kembali dari Pasar Senen 14.10 tiba di Banjar 22.20 dan juga ternyata ada kaitan dengan harga yang dipatok PT KAI.

Baca juga: “Si Gombar” yang Tak Lagi Menghembuskan Uapnya

Sebelum menutup relasi KA Priangan Ekspres, PT KAI memiliki sempat solusi bertahan atau menutupnya. Hingga akhirnya 30 November 2009 PT KAI mengambil opsi kedua dimana menutup relasi ini. Hingga saat ini pun kenyataannya posisi KA Priangan Ekspres yang menghubungkan Banjar-Jakarta tak pernah digantikan oleh kereta api lain dan membuat KA Serayu sebagai satu-satunya alternatif KA yang melintas Banjar-Jakarta atau sebaliknya.