Kasihan, Sukhoi Superjet 100 Tak Terima Satupun Pesanan Tahun Ini

0
Sukhoi SJ100. Sumber: Istimewa

Nasib Sukhoi Superjet 100 tengah terkatung-katung. Pesawat komersial penumpang pertama yang dibuat di Rusia setelah Uni Soviet tumbang ini dikabarkan tak memiliki satupun pesanan. Kabar tersebut tentu beririsan dengan prediksi awal saat pesawat tersebut beroperasi pertama kali pada 2011 lalu, dimana pesawat digadang-gadang bakal jadi pesaing utama Airbus, Boeing, dan Embraer.

Baca juga: Otoritas Rusia Rilis Video Kecelakaan Sukhoi SSJ100 yang Tewaskan 41 Penumpang

Reuters melaporkan, sebetulnya, Sukhoi Superjet 100 memiliki pesanan jangka panjang dari maskapai penerbangan nasional dan terbesar di Rusia, Aeroflot. Maskapai itu diketahui telah menandatangani kontrak kerjasama pada tahun 2018 lalu untuk menyewa sekitar 100 Sukhoi Superjet 100 antara tahun 2019-2026.

Selain itu, maskapai yang didirikan pada tanggal 9 Februari 1923 atau sejak era Uni Soviet, itu seharusnya akan mendapat tambahan 17 pesawat Sukhoi Superjet 100 tahun ini, melengkapi barisan armada Sukhoi Superjet 100 yang sudah terlebih dahulu bergabung sebanyak 54 pesawat.

Akan tetapi, entah apa yang terjadi, dua sumber Reuters menyebut Sukhoi Superjet 100 tak memiliki satupun pesanan pesawat selama 2020. Mirisnya, maskapai penerbangan swasta terbesar di Rusia, S7, Utair, dan Ural Airlines mengaku juga tak berminat membeli pesawat buatan Sukhoi. Rumitnya perawatan serta keterlambatan pengadaan suku cadang jadi beberapa penyebab sepinya peminat.

Tak berhenti sampai di situ, pesawat buatan Sukhoi Civil Aircraft, anak perusahaan dari Presiden Rusia Vladimir Putin, Rostec, juga banyak dikeluhkan oleh klien mereka di seluruh penjuru dunia.

Maskapai penerbangan Irlandia, CityJet menghentikan operasional tujuh Sukhoi Superjet 100 tahun lalu. Demikian juga dengan Interjet Meksiko yang berencana menjual 22 Superjet-nya.

Maskapai dalam negeri Rusia, IrAero, tak ingin ketinggalan. Maskapai yang berbasis di Timur Jauh Rusia bukan hanya mengeluh soal buruknya kinerja teknis Sukhoi Superjet 100, melainkan juga menuntut kompensasi dari Sukhoi selaku produsen.

Buruknya kinerja teknis yang dikeluhkan mungkin bukan sekedar isapan jempol. Beberapa kali, Sukhoi Superjet100 kerap terlibat kecelakaan yang menimbulkan ratusan korban jiwa. Meskipun umumnya otoritas Rusia menyebut kecelakaan itu akibat human error, namun, pengamat menduga bahwa hal itu sengaja dilakukan untuk membuktikan ketangguhan pesawat di samping meyakinkan pelanggan.

Baca juga: Lindungi Industri Dirgantara, Rusia Sebut Human Error Jadi Penyebab Tragedi Sukhoi SJ100

Itu baru dari segi kinerja teknis, dari segi kemampuan produksi Sukhoi juga seringkali lambat dan meleset dari target awal. Terbang perdana pada 19 Mei 2008 hingga 2012 atau setahun pasca memasuki tahun layanan pertama pada 2011, Sukhoi diketahui baru sanggup mengirim satu pesawat dari 200 pesanan.

Kejadian serupa kembali terulang pada 2019 lalu. Semula, Sukhoi berencana mengirim 16 pesawat Superjet 100 atau biasa juga disebut SJ100 ke beberapa pelanggan. Namun, rencana itu meleset menjadi hanya delapan pesawat, lima di antaranya disewakan ke Aeroflot. Hingga Mei 2019 lalu, tercatat sudah 162 unit Sukhoi SJ100 yang telah diproduksi untuk empat maskapai.

Leave a Reply