Ledakan Besar di Lebanon Bikin Bandara Lebanon Rusak Berat, Pengaruh Ke Penerbangan? Begini Kata Pengamat

0
Kerusakan di Bandara Internasional Rafic Hariri (BEY) akibat ledakan besar di pelabuhan Beirut, Lebanon. Foto: Tangkapan layar YouTube The National.

Ledakan besar setara gempa magnitudo 3,6 SR dilaporkan terasa sampai Siprus yang berada tepat di seberang pusat ledakan di kawasan pelabuhan kota Beirut. Padahal, jarak pusat ledakan ke Siprus berkisar lebih dari 230 km. Bila jarak sejauh itu saja masih terasa, bagaimana dengan objek-objek yang berada tak jauh pelabuhan, semisal Bandara Internasional Rafic Hariri (BEY)?

Baca juga: Sebelum Diterpa Ledakan Besar, Lebanon Tahun 60-an Pernah Jadi Destinasi Favorit Pramugari dan Pilot

Dilihat KabarPenumpang.com dari FlightRadar24, sejak ledakan pertama dan kedua hingga awan berwarna putih di sekitaran pelabuhan Beirut berubah dan dipenuhi dengan awan berwarna merah, seluruh aktivitas penerbangan di BEY sama sekali tak dihentikan.

Padahal, awan tersebut cukup besar dan terus bertengger di langit hingga berpotensi mengganggu penerbangan; sekalipun posisinya tak terlalu tinggi.

Melihat hal itu, pengamat penerbangan, Capt. Shadrach M Nababan ikut buka suara. Menurutnya, ledakan tersebut bisa dibilang sama sekali tak berpengaruh terhadap industri penerbangan negara itu maupun negara di sekitarnya.

“Saya melihat (akibat dari ledakan ini) tidak terlalu signifikan pengaruhnya terhadap airlines,” ujarnya saat dihubungi KabarPenumpang.com, Rabu (5/8).

Menurutnya, hal itu setidaknya didukung oleh dua hal. Pertama Air Traffic Controller (ATC) dan yang kedua adalah radar cuaca. Ketika terjadi insiden seperti halnya ledakan besar di salah satu pusat perekonomian kota Beirut itu biasanya berbagai instansi terkait menyarankan untuk dikeluarkannya Notice To Airmen atau NOTAM oleh Kementerian Perhubungan Lebanon.

Instansi yang dimaksud tentu harus kredibel, seperti Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) berkenaan dengan objek benda asing atau Foreign Object Damage (FOD) di langit -misalnya abu vulkanik akibat gunung meletus- serta ATC selaku unit pengawas lalu lintas udara, baik atas informasi sendiri maupun dari pihak terkait semisal adanya latihan perang atau lainnya.

Dalam insiden ledakan di Lebanon, Kementerian Perhubungan sejauh ini dilaporkan tak sampai mengeluarkan NOTAM. Kondisi tersebut, menurut Capt. Nababan, mungkin disebabkan tidak adanya ancaman yang berarti, baik getaran yang ditimbulkan maupun awan berwarna merah yang muncul di langit Beirut.

Terkait getaran yang ditimbulkan sebagai dari efek ledakan, sebagaimana laporan The National, Bandara Internasional Rafic Hariri (BEY) mengalami kerusakan berat. Kaca-kaca di bandara tampak pecah dan berbagai furniture lainnya rusak dan jatuh berserakan di lantai. Hal itu tentu maklum mengingat jarak bandara hanya berkisar 12 km lebih. Namun demikian, nampaknya, kerusakan hanya terjadi di ring luar area bandara saja.

Adapun area sekitara apron tempat pesawat berada, tidak mengalami kerusakan berarti, mengingat pesawat masih terus beroperasi dan tak satupun mengalami pembatalan atau keterlambatan lepas landas maupun turun landas. FlightRadar24 mencatat, ada sekitar dua pesawat mendarat dan beberapa lainnya berangkat pasca insiden ledakan.

Sedangkan untuk awan berwarna merah yang muncul, dampak terhadap penerbangan tak terlalu berarti. Sebab, ATC BEY pasti akan melaporkan kondisi di sekitaran langit tempat pusat ledakan. Dengan begitu, pilot dapat mencari rute lain -tentu dengan dibimbing ATC- agar tetap bisa selamat.

Baca juga: Tujuh Alasan Lebanon Wajib Dikunjungi, Nomor 4 Bikin Anda Tak Mau Pulang

Lagi pula, masih menurut Capt. Nababan, radar cuaca secara umum mampu mendeteksi awan di jalur pesawat berada; meskipun tak mendeteksi secara detail apakah awan tersebut merupakan awan pada umumnya atau awan lain sebagaimana awan bekas ledakan. Bila pun terpaksa melewati awan tersebut, Capt. Nababan masih memperkirakan pesawat akan baik-baik saja. Tentu dengan melihat besaran partikel debu yang dihasilkan.

Bila partikel terlampau besar, tentu akan merusak mesin. Sebaliknya, jika partikel masih tergolong kecil, maka mesin pesawat bukan malah rusak, melainkan akan nampak kinclong dibuatnya, sebagaimana pengalamannya dahulu saat masih menerbangkan pesawat.

Leave a Reply