Ternyata, Ini Yang Harus Dilakukan Pilot Saat Terjadi Malfungsi Rem!
Pernahkah terlintas di benak Anda seberapa kuat daya cengkram dari sebuah rem pesawat? Tentunya kombinasi rem roda dan air brake yang terpasang di bagian sayap pesawat berperan penting ketika pesawat baru saja menyentuh permukaan landasan. Tentu saja, sebelum pesawat-pesawat ini lepas landas untuk memulai pengoperasiannya, kru darat harus secara detail memeriksa kelaikan dari fungsi rem tersebut.
Baca Juga: Inilah Penyebab Ketika Pilot Benar-Benar Kelelahan!
Pengecekan tersebut ditujukan agar kasus Lion Air yang tergelincir di Bandara Djalaluddin, Gorontalo pada Minggu (29/4/2018) silam dapat diminimalisir. Beruntungnya, insiden pesawat Boeing 737-800 tersebut tidak menelan korban jiwa sama sekali. Atau kasus yang sama menimpa anak perusahaan dari maskapai berlogo singa tersebut, Batik Air, dimana Pesawat tipe Airbus 320 CEO dengan registrasi PK–LAJ tergelincir di Bandar Udara Rendani, Manokwari pertengahan April silam ketika hendak lepas landas.
Dari dua contoh kasus di atas, terbesit satu pertanyaan mendasar, “Apa yang kira-kira dilakukan pilot ketika mengetahui pesawat yang mereka kemudikan tergelincir akibat sistem pengereman yang tidak berfungsi dengan baik?” Pertanyaan tersebut semakin menguat manakala sang pilot tidak bisa menguji apakah rem di pesawatnya bekerja ketika tengah mengudara.
Dilansir KabarPenumpang.com dari laman indy100.com, seorang pilot, penulis, dan pemilik maskapai, Joe Shelton mengatakan ada satu hal wajib yang dilakukan pilot ketika tahu sistem pengeremannya tidak berfungsi dengan baik. Biasanya, sistem pengereman bisa terdeteksi berada dalam kondisi yang tidak prima bahkan sebelum mengudara (take off).
“Terutama, mengingat bahwa pilot menemukan masalah sebelum mendarat, pilihan logis adalah mendarat di bandara dengan kemungkinan landasan terpanjang,” tutur Joe Shelton. “Anda harus terus berkomunikasi dengan menara pemantau (ATC Tower) agar mengetahui apakah landas pacu yang dimaksud dalam kondisi siap digunakan untuk pendaratan darurat atau tidak,” tandasnya.
Baca Juga: Peran Kopilot, Tak Sekedar Memperingan Kerja Pilot
Ia menambahkan bahwa semisal Anda tidak menemukan ‘gejala’ rem rusak, dan baru mengetahuinya ketika pesawat sudah berada di darat, “Maka yang harus Anda lakukan adalah tetap mengendalikan pesawat sebaik mungkin. Biasanya pilot lebih memilih untuk melaju lurus hingga ujung landas pacu,” terangnya.
“Mungkin dengan mengemudikan pesawat secara zig-zag merupakan cara terbaik selanjutnya, dimana kecepatan pesawat dapat berkurang dengan cara itu.” tutupnya.
Riyadh Metro, Inilah Serba-Serbi LRT Pertama di Arab Saudi
Apa Anda tahu persamaan antara Riyadh dan Jakarta? Selain dua kota ini merupakan Ibukota dari negara masing-masing dan didaulat sebagai salah satu kota terpadat di negaranya, ada kesamaan lain yang terpancar dari kedua kota ini.
Ya, antara Jakarta dan Riyadh sama-sama tengah menggembleng proyek Light Rapid Transit (LRT) yang dicanangkan rampung dalam waktu dekat ini. Mari tinggalkan proyek LRT Jakarta sejenak dan menaruh fokus di Riyadh Metro, calon tulang punggung transportasi di Jazirah Arab.
Baca Juga: Sedang dalam Pengiriman, Ini Dia Spesifikasi LRT Jakarta
Dilansir KabarPenumpang.com dari sejumlah laman sumber, proyek yang ditunggangi oleh High Commission for the Development of Arriyadh (ADA) ini diperkirakan akan melakukan soft opening pada 2019 mendatang, dan membuka layanan penuhnya dua tahun berselang. Nantinya, jalur sepanjang 176 km ini akan dipecah menjadi enam jalur, dengan 85 stasiun pendukung. Adapun karakter dari proyek ini menggabungkan jalur atas (elevated) dan bawah tanah (underground).
Enam jalur tersebut ditandai dengan warna – Blue, Red, Orange, Yellow, Green, dan Purple Line.
Blue Line (line code: 1)
Jalur kedua terpanjang di proyek ini mencakup 22 stasiun dengan panjang 38 km. Dilengkapi dengan empat stasiun interchange, jalur ini nantinya siap mengantarkan penumpang dari King Salman Bin Abdul Aziz Street yang berada di Utara menuju ke daerah Selatan.
Red Line (line code: 2)
Jalur yang memiliki 13 stasiun ini membentang sejauh 25,3 km dari sebelah Barat Riyadh menuju Timur di sepanjang King Abdullah Road. Didominasi oleh jalur elevated, jalur ini sendiri rencananya memiliki tiga stasiun interchange.
Orange Line (line code: 3)
Jalur terpanjang di jaringan Riyadh Metro ini (40.7 km) memiliki 20 stasiun di dalamnya, dengan dua stasiun interchange. Kereta ini sendiri akan mengular dari dekat Jeddah Expressway dan berakhir di dekat kamp Garda Nasional Khashm El Aan.
Yellow Line (line code: 4)
Membentang sejauh 29,6 km, jalur ini dilengkapi dengan delapan stasiun, dimana tiga diantaranya berdampingan dengan Purple Line. Kereta ini sendiri akan mengular dari Bandara Internasional King Khaled menuju the all new King Abdullah Financial District (KAFD).
Green Line (line code: 5)
Kereta yang mengular di dalam terowongan di sepanjang King Abdulaziz Street ini merupakan yang terpendek dari semuanya – hanya 12,9 km. Dengan dilengkapi oleh 10 stasiun dan dua stasiun interchange, kereta yang mengular di jalur ini siap mengantar Anda dari King Abdul Aziz Historical Centre dan Riyadh Airbase, sebelum terhubung dengan King Abdullah Road.
Purple Line (line code: 6)
Jalur terakhir ini memiliki panjang 29,9 km yang dilengkapi dengan delapan stasiun. Kereta yang mengular di jalur ini akan berangkat dari King Abdullah Financial District (KAFD) dan layanan berakhir di Prince Saad Ibn Abdulrahman Al Awal Road.
Untuk Blue dan Red Line, operator mempercayai Siemens Inspiro sebagai fleet yang akan mengangkut penumpang. Dibekali 45 rangkaian kereta empat gerbong pada Blue Line, dan 29 rangkaian kereta dua gerbong. Dirancang dan dibangun oleh konsorsium BACS, proyek yang dipimpin oleh Bechtel dan termasuk Almabani General Contractors, Consolidated Contractors Company, dan Siemens ini berkutat di bawah kontrak senilai US$9,45 miliar.
Sedangkan untuk Orange Line, sebanyak 47 rangkaian kereta dua gerbong bermerk Bombardier Innovia Metro-lah yang akan melayani penumpang. ArRiyadh New Mobility lah yang mendesain dan membangun jalur dengan kontrak kerja senilai US$5,21 miliar.
Baca Juga: Lahore Metro, LRT Pertama di Pakistan Siap Mengular Desember 2017
Sedangkan untuk Yellow, Green, dan Purple Line, operator kereta mempercayai Alstom Metropolis dari Perancis sebagai moda pengangkutnya. Ketiga jalur ini masing-masing menggunakan 69 rangkaian kereta dua gerbong. Konsorsium FAST yang bekerja sama dengan Samsung C & T, Alstom, Strukton, Freyssinet Arab Saudi, Typsa, dan Setec ini saling bahu membahu dalam proyek senilai US$7,82 miliar.
Kabar terbaru menyebutkan, serangkaian uji coba telah dilakukan guna mempersiapkan pembukaan jaringan LRT ini, sebut saja armada Alstom Metropolis yang diuji coba pada tanggal 4 April 2018 kemarin.
Ketika LRT Mogok, Penumpang Harus ‘Siap’ Berjalan Kaki di Elevated Track
Bicara tentang LRT (Light Rapid Transit) di Asia Tenggara, Singapura adalah kiblatnya. Maklum sejak 18 tahun silam, wahana angkutan massal ringan ini sudah hadir dengan tiga rute utama. Tapi toh, tak ada teknologi yang benar-benar sempurna, seperti pada Sabtu (19/5/2018) lalu, salah satu rangkaian LRT di Negeri Singa tersebut mengalami mogok di lintasan rel layang (elevated track).
Saat kejadian kereta mogok, pendingin udara pun ikut mati, ketimbang kepanasan maka penumpang memilih menyusuri walkway pada rel layang untuk tiba di stasiun berikutnya.
Baca juga: Mogok Dua Kali Saat Uji Coba, Inilah Sekilas Spesifikasi Kereta Bandara Soetta
KabarPenumpang.com melansir dari laman channelnewsasia.com (19/5/2018), dalam insiden tersebut beberapa penumpang ada juga yang membawa anak kecil bersama mereka, dan harus menyusuri rel di ketinggian.
Para penumpang tersebut mau tak mau harus berjalan di rel kereta karena setelah kesalahan kereta api di Bukit Panjang LRT yang menyebabkan layanan terhenti. Diketahui ada sekitar 90 orang penumpang dari dua kereta tersebut yang kemudian diarahkan menuju stasiun terdekat.
Para petugas penyelamat baru datang sekitar pukul 14.00 waktu setempat dan penumpang berhasil di evakuasi tiga menit setelahnya. Karena masalah ini, bus gratis disediakan selama layanan terganggu.
Wakil presiden SMRT Margaret Teo mengatakan dua kereta LRT mengalami gangguan sekitar pukul 13.45 waktu setempat dan layanan sementara dihentikan. Sementara itu para teknisi mengakses ke rel dimana kereta tersebut bermasalah untuk dilakukan perbaikan.
“Kami minta maaf telah mempengaruhi Sabtu sore Anda. Rencana sedang dilakukan untuk meningkatkan Bukit Panjang LRT untuk meminimalkan terjadinya kesalahan,” ujar Teo.
Dalam sebuah cuitan di Twitter sekitar pukul 14.20 waktu setempat, SMRT mengatakan tidak ada layanan kereta api di Bukut Panjang LRT karena masalah antara Phoenix dan stasiun Bukit Panjang. Cuitan lainnya sekitar pukul 14.50 dimana SMRT mengatakan bahwa kereta A telah dilanjutkan dan teknisi bekerja memulihkan layanan kereta B.
“Kami terjebak selama 20 menit sebelum teknisi datang saat kami terjebak antara Phoenix dan stasiun Bukit Panjang,” ujar salah seorang penumpang yang terkena dampak.
Baca juga: Ingin Majukan Suatu Negara, Ubah Sistem Perkeretaapiannya!
Di Indonesia pernah ada kejadian serupa, tepatnya pada 17 September 2017. Kereta layang atau skytrain di Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, mogok selama satu jam pada pagi hari. Akibatnya, 30 penumpang langsung dievakuasi melalui jalur walkway di jalur skytrain. Gangguan saat itu diketahui akibat adanya masalah pada sistem kelistrikan.
MRT Jakarta Gandeng GoJek Kembangkan Bisnis dan Mobile Payment via Aplikasi
Mass Rapid Transit (MRT) Jakarta yang akan mulai mengular di rel pada Maret 2019 mendatang, Selasa, 22 Mei 2018 mengadakan kerja sama dengan GoJek Indonesia. Kerjasama ini, untuk menciptakan pegembangan bisnis diluar tiket dan mobile payment untuk stasiun dan depo MRT Jakarta.
Baca juga: Tahap Awal Operasional MRT Jakarta, PLN Siapkan Pasokan Listrik 60 MVA
Direktur Utama PT MRT Jakarta, William Sabandar mengatakan, sebelum adanya kerja sama ini, pihaknya sudah berbicara dengan CEO GoJek Indonesia, Nadiem Makarim untuk memudahkan penumpang dalam menggunakan transportasi umum dengan aplikasi digital. Dia menjelaskan, dengan kerja sama ini kan menghadirkan dan memudahkan mobilitas penumpang serta meningkatkan kualitas hidup masyarakat khususnya kota Jakarta.
“Kita punya jalur panjangnya 16 km dari Lebak Bulus sampai ke Bundaran HI. Nah dengan GoJek ini, kita interkoneksi dengan stasiun-stasiun MRT baik itu dari tempat keberangkatan atau di akhir tujuan,” ujar William yang ditemui KabarPenumpang.com di Kantor MRT Jakarta, Selasa (22/5/2018).
Dia menambahkan, bersama dengan GoJek juga pihaknya berharap agar penumpang tidak membuka banyak aplikasi untuk mengetahui kedatangan MRT dan untuk tahu ada transportasi lain atau tidak seperti GoJek. Sebab menurutnya ini hanya akan membuat masyarakat memiliki banyak aplikasi.
“Kita kan mau buat transportasi publik yang efisien dan buat masyarakat Jakarta bahagia. Makanya kita sedang membuat mobile app yang kerja sama dengan Gojek. Kita juga ingin penataan stasiun lebih rapi makanya kita lakukan kerja sama salah satunya dengan Gojek ini,” jelasnya.
Dengan keberadaan aplikasi yang tengah dibuat MRT sendiri, William mengatakan, pihaknya akan menggunakan dua sistem pembayaran MRT Jakarta yakni dengan berbasis tiket (kartu sseperti emoney) dan aplikasi. Tetapi pihaknya juga akan melihat sejauh mana kemudahan ini dan bagaimana pengembangan selanjutnya dengan GoJek.
“Kerja sama aplikasi ini kita bicarakan dalam waktu dekat. Kami akan berbicara tentang solusi transportasi yang berintegrasi dimana menyambungkan penumpang dari rumah atau kantor menuju stasiun MRT,” ujar Presiden GoJek Indonesia, Andre Soelistyo.
Dia menambahkan, pihaknya juga akan mensupport MRT yang memiliki dua sistem pembayaran. Selain itu juga dengan top up dari bank yang mengeluarkan kartu pembayaran.
Baca juga: Bingung Bedakan Bagian Muka dan Ekor MRT Jakarta? Ini Dia Caranya!
“Solusi awal dengan GoPay dan mencari lagi yang lebih mudah. Kalau makin banyak kartu dan berbeda justru akan membuat pengguna rugi karena tidak efisien,” ujar Andre.
Sedangkan untuk eksekusi aplikasi ini sendiri, William mengatakan, jarak Mei 2018 hingga Maret 2019 cukup panjang. Sehingga cukup banyak waktu bagi keduanya untuk menyiapkan sistem digital dan penunjang lainnya.
Atasi Jetlag, LumosTech Hadirkan Masker Tidur Pintar
Beragam cara telah diupayakan untuk meminilasir dampak jetlag, mulai dari serangkaian tips sampai perangkat untuk mengatasi jetlag telah dirilis. Tapi toh tidak semua orang dapat mengatasi jetlag dengan mudah. Jetlag salah satu gangguan yang biasa terjadi dalam sebuah penerbangan dan kepada siapapun. Bahkan efeknya bisa terjadi hingga dua hari bahkan lebih saat mengunjungi suatu negara yang berbeda waktu dengan negara asal.
Baca juga: Sambut Rute Perth – London, Qantas Bantu Penumpang Atasi Jetlag dengan Coklat, Cabai dan Teh Herbal
KabarPenumpang.com merangkum dari laman apex.aero (8/5/2018), bahwa salah satu startup menawarkan suatu alat yang bisa menghilangkan efek jetlag. Perusahaan startup di California yakni LumosTech menghadirkan masker tidur buatan mereka.
Rencananya masker tidur pintar ini akan hadir pada pertengahan tahun ini dan cukup banyak maskapai penerbangan yang berminat dengan kehadirannya. Co Founder dan CEO LumosTech Vanessa Burns mengatakan, kehadiran masker tidur pintar ini menerapkan ilmu sains yang berlisensi dan sudah dipatenkan oleh Universitas Standford.
Masker tidur pintar ini saat digunakan akan menghadirkan cahaya redup yang bisa mereset tubuh agar menikmati tidurnya.
“Siklus tidur akan dikendalikan oleh cahaya. Kami telah mengetahui hal ini cukup lama. Dengan tampilan cahaya singkat kita bisa mengontrol waktu melatonin, yakni hormon yang mengontrol ketika Anda merasa lelah dan ketika merasa terjaga,” ujar Burns.
Burns megatakan, jumlah waktu yang dibutuhkan seorang penumpang untuk menggunakan masker sebelum keberangkatan tergantung kemana tujuan mereka.
“Untuk jetlag, kita benar-benar dapat menggeser siklus tidur tiga atau empat jam dalam satu malam,” ujar salah seorang alumni Stanford.
Contohnya seperti perjalanan dari San Francisco ke New York City ternyata sama dengan satu malam dengan masker tidur. Sedangkan ke London membutuhkan dua malam saat menggunakan masker tersebut.
Namun, meski memiliki fungsi dengan teknologi tinggi, masker ini terlihat dan terasa seperti teknologi versi rendah lainnya di pasaran. Dalam contoh dari San Francisc-New York City, berarti memaksa diri untuk tidur dan hanya terasa seperti jam 8 malam padahal sebenarnya penumpang akan merasa lelah pada jam 11 malam waktu New York.
Baca juga: Atasi Jetlag, Qatar Airways Hadirkan Kabin dengan Fitur Khusus di Airbus A350-1000
Meski sudah banyak maskapai yang memesan masker tidur ini, tetapi Burns tidak mau menyebutkan siapa saja mereka. Namun, salah satu maskapaai yakni Lufthansa asal Jerman telah menghadirkan masker tidur mirip seperti ini buatan Neuroon dari Polandia.
Penumpang akan menggunakan terapi cahaya untuk meminimalkan efek jetlag pada penerbangannya. Ketika maskapai penerbangan lain mengikuti, masker tidur ini akan menjadi manfaat tambahan bagi pelancong baik yang akan wisata atau bisnis untuk tertarik menyewa masker tersebut agar menjadi bagian dari kebutuhan selama pejalanan.
LTA Singapura Tambah 17 Rangkaian Metro MRT Untuk North East Line dan Circle Line
Demi meningkatkan pelayanan kepada para pengguna setianya, Otoritas Transportasi Darat atau Land Transport Authority (LTA) Singapura baru saja menandatangani perjanjian senilai €150 juta atau yang setara dengan Rp2,5 triliun. Perjanjian yang diteken dengan sebuah perusahaan multinasional Perancis yang beroperasi di seluruh dunia di pasar transportasi kereta api, Alstom ini akan berbuah pada pengiriman 17 kereta Metropolis tambahan yang akan medukung operasi pada jaringan MRT North East Line (NEL) dan Circle Line (CCL).
Baca Juga: Singapura Uji Coba Sistem Blind Spot Pada 20 Bus
Dikutip KabarPenumpang.com dari laman railway-technology.com (1/5/2018), semua gerbong kereta akan diproduksi di markas dari Alstom di Barcelona, Spanyol. Dengan adanya penambahan ini, maka formasi yang terbentuk adalah 36 gerbong untuk NEL, dan 11 rangkaian yang terdiri dari 33 gerbong untuk CCL.
“Dengan menyediakan tambahan rolling stock yang andal dan hemat energi ke North East Line dan Circle Line, kami berkomitmen untuk mendukung pelanggan kami, LTA, untuk lebih meningkatkan kapasitas dan ketersediaan jalur yang ada,” ujar Direktur Pelaksana Alstom Cina & East Asia, Ling Fang. “Alstom bertujuan menjadi mitra pilihan dari LTA untuk solusi transportasi mereka di Singapura,” tandasnya.
Diketahui, Alstom telah terlebih dahulu mengirimkan lebih dari 450 gerbong Metro MRT ke Singapura, dimana gerbong-gerbong tersebut akan beroperasi di CCL dengan panjang trek 35,5 km, dan NEL dengan panjang trek 20 km. Tidak berhenti sampai situ saja, pihak Alstom pun memberikan pelatihan pemeliharaan terhadap pembeli, termasuk memasok suku cadang asli.
Baca Juga: Layanan MRT di Bandara Changi Ditutup! Apa Penyebabnya?
Tak terasa, sudah 20 tahun lebih jaringan Metro MRT di Singapura bersinergi dengan Alstom dalam mengoperasikan layanan setiap harinya. Dalam hal ini, Alstom terlibat langsung dalam penyediaan sistem metro terintegrasi, signaling, rolling stock, infrastruktur, dan layanan lain untuk jalur Singapore MRT (SMRT). Selain berkutat dengan pengadaan moda dan lain sebagainya, Alstom pun terlibat dalam perancangan sistem MRT Circle Line di bawah konsorsium dengan perusahaan lokal.
Sejak tahun 1998 silam, sekitar 25 kota di seluruh dunia telah memesan kurang lebih 5.500 kereta Metropolis, yang juga tersedia dalam mode driverless (nirawak).
Tahap Awal Operasional MRT Jakarta, PLN Siapkan Pasokan Listrik 60 MVA
Tak terasa, hanya tinggal hitungan bulan, proyek Mass Rapid Transit (MRT) Jakarta akan selesai dan kereta akan mengular di relnya pada Maret 2019 mendatang. Mengular dari Lebak Bulus hingga Bundaran HI, MRT Jakarta akan beroperasi dengan pasokan tenaga listrik yang cukup besar.
Baca juga: Koneksikan Gedung dan Stasiun, Akankah Interkoneksi MRT Jakarta ‘Secanggih’ di Singapura?
Sebagai pemasok tunggal listrik nasional, PT PLN dalam mendukung operasional MRT Jakarta sudah menyiapkan daya sebesar 60 Mega Volt Amper (MVA) untuk memenuhi kebutuhan pasokan listrik MRT Jakarta. Tak hanya itu, PT PLN juga akan menjamin pasokan listrik dalam pengoperasian MRT dan telah menyiapkan beberapa infrastruktur jaringan kelistrikan demi mendukung pasokan. Salah satunya adalah Gardu Induk (GI) untuk mendukung pengoperasian MRT Jakarta.
“Kita sudah siap di Bulungan ada gardu induk, di Pondok Indah sudah siap,” ujar Direktur Bisnis Regional Jawa Bagian Barat PLN Haryanto WS.
Dia mengatakan, saat ini pihaknya tengah menarik kabel tegangan tinggi bawah tanah dari infrastruktur distribusi kelistrikan milik PLN. Menurutnya, jika proyek MRT sudah siap beroperasi, maka PLN juga siap menyalurkan listrik tersebut.
“Sekarang MRT tengah menarik kabel tegangan tinggi bawah tanah di Taman Sambas, Jakarta Selatan. PLN sendiri sudah siap untuk mendukung proyek MRT,” ujarnya.
Haryanto menambahkan, pihak MRT mengatakan, bahwa kebutuhan listrik pada pengoperasian tahap awal saat ini baru sebesar 60 MVA. Tetapi nantinya jika ada penambahan kapasitas dari yag ada sekarang, PLN siap untuk membangun infrastruktur kelistrikan tambahan.
“Untuk 60 MVA itu tahap satu. Untuk tahap dua dari HI ke trayek selanjutnya akan ada penambahan gardu induk yang baru,” kata Haryanto.
Baca juga: Bingung Bedakan Bagian Muka dan Ekor MRT Jakarta? Ini Dia Caranya!
Saat ini diketahui proses pengerjaan proyek MRT Jakarta telah lebih dari 90 persen. Selain itu rolling stok atau kereta MRT juga sudah tiba di Jakarta sebanyak dua rangkaian kereta, sementara 14 rolling stock lainnya akan tiba di Jakarta pada Juni 2018 mendatang hingga Oktober 2018.
Nantinya pada Maret 2019, MRT Jakarta fase 1 akan beroperasi dari pukul 05.00 hingga 24.00 WIB. Untuk rentang waktu kedatangan antar kereta di stasiun sekitar lima menit saat jam sibuk dan sepuluh menit di waktu biasa.
Nasi Goreng Parahyangan: Racikan Sederhana yang Digandrungi Penumpang ‘Gopar’
Bagi Anda penumpang setia layanan kereta api yang menghubungkan Jakarta dan Bandung, mungkin Anda semua rindu akan hadirnya penganan yang selalu dikaitkan dengan kereta Argo Parahyangan ini. Ya, Nasi Goreng Parahyangan memang sudah kadung melegenda dan memiliki penggemarnya sendiri. Melalui inovasi yang dilakukan oleh PT Reska Multi Usaha (PT RMU) dan revolusi besar-besaran di tubuh PT KAI, mereka berusaha untuk membangkitkan kembali “para legenda” yang pernah berjaya pada masanya.
Baca Juga: Tiru Kehigienisan Reska, PT ASDP Coba Peruntungan Tawarkan PopSo di Kapal Ferry
Tidak hanya Nasi Goreng Parahyangan saja yang pernah melegenda, pun dengan Nasi Rames Nusantara, Bistik, Nasi Harum Wangi, Singkong Rebus, dan Singkong Goreng Keju yang pernah memiliki fansnya masing-masing. Kita sisihkan terlebih dahulu menu lainnya dan menaruh fokus pada Nasi Goreng Parahyangan yang memiliki ciri khas pada menu pelengkapnya, yaitu satu buah ayam goreng dan telur mata sapi.
Dihimpun KabarPenumpang.com dari sejumlah laman sumber, sejak kereta yang semula beroperasi pada tahun 1971 dan masih bernama Kereta Api Parahyangan, nasi goreng yang namanya disamakan dengan bagian belakang kereta ini pun mulai mencuri perhatian para penumpang. Selama puluhan tahun, PT KAI terus mencekoki para penumpang dengan menu-menu dan penggunaan bumbu yang bisa dibilang sederhana juga.
Ternyata hal tersebut membekas di hati para penumpang dan mereka seolah kehilangan manakala mereka tidak menyantap Nasi Goreng Parahyangan selama perjalanan. Seiring kebijakan PT KAI yang mengedepankan aspek higienis dan terstandarisasi, maka mereka terpaksa merombak sistem “goreng dadakan” menjadi menggunakan Popso yang dirilis anak perusahaan PT KAI, yakni PT RMU.
Popso sendiri terkenal dengan skema makanan beku yang dihangatkan kembali menggunakan microwave sebelum dihidangkan kepada para penumpang yang memesan. Walaupun rasa yang ditawarkan tidaklah berbeda jauh dengan yang versi sebelumnya, Nasi Goreng Parahyangan versi Popso tidaklah kehilangan penggemar.
Baca Juga: Apresiasi Petani Kopi, PT KAI Bagi-Bagi Kopi Gratis!
Sebut saja beberapa penumpang yang mengaku tetap jatuh hati pada penganan versi baru ini. “Mungkin rasanya standar. Tapi enggak tahu kenapa, saya suka sekali. Rasanya enak apalagi kalau dimakan bareng sama teh manisnya. Sedap,” tutur Asep Nurahman (32 tahun), seorang penumpang Argo Parahyangan yang mengaku cukup sering memesan Nasi Goreng Parahyangan.
Tak berbeda dengan sajian makanan Popso lainnya, untuk menikmati Nasi Goreng Parahyangan Anda harus merogoh kocek Rp35 ribu. Anda bisa menunggu pramugari kereta menjajakan dengan troli, atau jika sudah keburu lapar, sebaiknya Anda bisa langsung menuju gerbong restorasi.
Refund Tiket Kereta di India, Bisa Dilacak Real Time dan Hanya Butuh Proses 5 Hari
Sering kehabisan tiket kereta saat hari besar atau libur panjang? Mungkin ini sudah biasa terjadi. Tetapi, bagaimana bila seseorang sudah mendapatkan tiket kereta di hari yang diinginkan, ternyata beberapa hari sebelum keberangkatan mendadak tidak bisa pergi pada harinya?
Baca juga: PT KAI Bentuk Tim Posko Pasca Longsor Jalur Kereta Bandara Soekarno-Hatta
KabarPenumpang.com melansir dari laman economictimes.indiatimes.com (17/5/2018), bahwa saat ini penumpang kereta api di India bisa memantau status pengembalian dana tiket mereka yang dibatalkan secara real. Caranya adalah penumpang tersebut bisa melacaknya dengan masuk ke situs web yang baru-baru ini dilucurkan Kementerian Kereta Api India.
Situs web tersebut yakni refund.indianrail.gov.in, dimana untuk melacak uang pengembalian, penumpang hanya memasukkan Passenger Name Record (PNR) atau nomor booking tiket.
“Fasilitas ini untuk mempromosikan transparansi dalam sistem dan sangat membantu bagi mereka yang menunggu pengembalian uang,” kata Director, Publicity, Railway Board Ved Prakash.
Tiket kereta api dapat dibatalkan melalui loket tiket ataupun situs web IRCTC serta melalui nomor pengaduan kereta api India 139. Saat pembatalan tiket secara online,, uang tersebut akan di debitkan ke rekening bank si penmpang dalam durasi waktu lima hari. Sedangkan untuk pembatalan melalui loket, uang tersebut akan di bayarkan dalam tujuh hari.
Baca juga: Mudahkan Penumpang Agar Tak Tertinggal Pesawat, Traveloka Hadirkan Fitur Check In Online
Dengan kemajuan di atas, sekiranya di Indonesia PT KAI bisa mengikuti jejak India dimana penumpang bisa melacak dan mendapatkan pengembalian uang mereka dengan cepat.
Selama ini PT KAI memberikan kemudahan bagi penumpangnya untuk me-refund atau mengembalikan tiket dengan potongan biaya 25 persen. Biasanya sebelum mendapatkan uang mereka kembali, tiket penumpang bisa di ajukan ke loket satu jam sebelum keberangkatan kereta dengan mengisi formulir pengembalian dana.
Namun, uang pengembalian ini bisa didapatkan penumpang yang menggunakan transfer rekening setelah 45 hari kerja, dan pengembalian 30 hari untuk yang diambil di tempat (loket tiket stasiun). Sayangnya, penumpang tidak dapat melacak proses sampai mana uang pengembalian tersebut.
