Inilah 10 Kecelakaan Kereta Terburuk di Dunia

Kecelakaan kereta mungkin seringkali terjadi dan menjadi yang terburuk dalam sejarah awal abad 20 dan 21. Penyebab kecelakaan ini sebagian besar dikarenakan kegagalan dalam pengereman, kebakaran bahkan hal-hal yang tidak disengaja. Baca juga: Inilah 10 Kereta Tercepat di Dunia KabarPenumpang.com merangkum dari laman railway-technology.com ternyata ada sepuluh kasus kecelakaan kereta terburuk di dunia. 1. Queen of The Sea, Sri Lanka Kecelakaan kereta The Queen of The Sea di Sri Lanka, disebabkan oleh Tsunami Samudera Hindia yang melanda pada Desember 2004, dianggap sebagai bencana kereta api terburuk dalam sejarah kereta api setelah menyebabkan kematian lebih dari 1.700 orang. Tragedi tersebut terjadi ketika kereta mendekati tujuan akhir dari Kolombo ke selatan Galle. Kereta tenggelam dan hancur oleh dua gelombang yang menyebabkan kematian penumpang di delapan gerbongnya. 2. Bihar derailment, India Kecelakaan kereta api di negara bagian Bihar, India, yang mengakibatkan kematian sekitar 800 orang, terjadi pada Juni 1981 ketika sebuah kereta penumpang melintasi jembatan di atas sungai Bagmati dekat kota Mansi terkena topan. Kereta keluar dari jalur dan kemudian jatuh ke sungai menyebabkan kematian ratusan orang dan diketahui membawa sekitar seribu penumpang dalam perjalanan tersebut. 3. Saint-Michel-de-Maurienne, Prancis Gangguan Saint-Michel-de-Maurienne di Prancis menyebabkan kematian lebih dari 700 orang dan tetap menjadi bencana kereta terbesar dalam sejarah Prancis. Kecelakaan terjadi Desember 1917 dimana kereta tergelincir setelah mengalami kegagalan rem tepat sebelum stasiun Saint-Michel-de-Maurienne. Kereta terbakar saat menurun ke lembah setelah berangkat dari stasiun Modane. 4. Stasiun Ciurea, Rumania Bencana kereta api Ciurea di Rumania menyebabkan korban tewas lebih dari 600 orang pada Januari 1917 di stasiun Ciurea. Kegagalan rem menyebabkan tergelincir dan kebakaran setelah beralih ke loop untuk mencegah tabrakan dengan kereta lain di stasiun Ciurea. Kereta itu menuruni sebuah jalur curam dengan kecepatan tinggi di dekat stasiun. Diketahui saat itu membawa 26 gerbong yang berisi sekitar seribu orang yakni pengungsi dan tentara yang terluka dari serangan Jerman di jalur dari Iasi ke Bârlad. 5. Kecelakaan Guadalajara, Meksiko Kecelakaan kereta Guadalajara di Meksiko menyebabkan kematian lebih dari 600 orang pada Januari 1915 karena kegagalan rem saat berjalan di jalan curam. Kereta keluar dari jalur dan jatuh ke ngarai dekat Guadalajara menyebabkan kematian banyak orang karena terlempar dari kereta saat bergerak dengan kecepatan tinggi. Sekitar 300 orang selamat dari kecelakaan itu. Diketahui saat itu membawa penumpang dari Colima ke Guadalajara di pantai Pasifik. Kereta, dengan 20 gerbong, secara khusus dialokasikan untuk keluarga pasukan Venustiano Carranza di tengah-tengah Revolusi Meksiko. 6. Bencana kereta Ufa, Rusia Bencana kereta Ufa, yang terjadi pada Juni 1989 di dekat kota Ufa di Uni Soviet, mengakibatkan korban jiwa 575 orang dan lebih dari 800 orang luka serta tetap menjadi bencana kereta api paling mematikan dalam sejarah Rusia dan Soviet. Bencana terjadi karena uap yang sangat mudah terbakar yang diciptakan oleh tumpahan gas cair dari pipa meledak dekat jalur kereta api, di mana dua kereta penumpang saling berpapasan antara Ufa dan Asha. Kereta-kereta itu membawa total sekitar 1.300 penumpang di rute Adler-Novosibirsk. Kekuatan ledakan besar, yang diperkirakan setara 10kt TNT, sepenuhnya membakar tujuh gerbong dan menghancurkan 37 gerbong kereta serta dua lokomotif. 7. Balvano, Italia Kecelakaan dekat Balvano di Italia selatan pada Maret 1944 menyebabkan kematian 520 orang menjadikannya bencana kereta api terburuk di negara itu. Hal ini juga dianggap sebagai salah satu kecelakaan kereta api yang tidak biasa abad ini. Bencana terjadi karena gas karbon monoksida dari mesin uap lokomotif No 8017 ketika macet dengan semua gerbong pada gradien curam di dalam terowongan Armi. Batubara berkualitas rendah menciptakan karbon monoksida beracun yang menyebabkan korban jiwa. Para penumpang dan awak kereta gagal memperhatikan bahaya karena asap dan asap menyebar perlahan. Beberapa orang di beberapa gerbong terakhir selamat karena mereka melarikan diri sebelum gas beracun mencapai gerbong. 8. Torre del Bierzo, Spanyol Kecelakaan kereta api Torre del Bierzo pada Januari 1944 dekat desa Torre del Bierzo di Spanyol menyebabkan kematian lebih dari 500 orang. Bencana terjadi karena kebakaran yang disebabkan oleh tabrakan tiga kereta termasuk surat ekspres Galicia, kereta mesin shunting dengan tiga gerbong dan kereta batubara di dalam terowongan. Kereta surat yang terdiri dari 12 gerbong mengalami kegagalan rem dan ditabrak oleh mesin shunting. Kereta api terbakar, yang menghancurkan kabel sinyal. Kereta api batubara dengan 27 gerobak yang dimuat dari arah berlawanan kemudian menabrak kereta mesin shunting menyebabkan banyak korban jiwa. 9. Awash derailment, Ethiopia Kecelakaan kereta api Awash menyebabkan sekitar 400 kematian dan tetap menjadi bencana kereta terburuk yang pernah ada di Afrika. Kecelakaan itu terjadi pada bulan Januari 1985 di dekat kota Awash di Ethiopia karena tergelincirnya kereta api ekspres. Kereta berhenti dan jatuh di tikungan saat melintasi jembatan antara stasiun kereta api Arba dan Awash di jalur Kereta Api Addis Ababa-Djibouti. Empat gerbong kereta itu jatuh ke jurang di Sungai Awash. Diketahui dalam kecelakaan tersebut membawa seribu orang dalam lima gerbong dan bergerak dengan kecepatan tinggi. Baca juga: Inilah 10 Kereta Bawah Tanah Paling Keren di Dunia! 10.Al Ayyat melatih musibah, Mesir Bencana kereta api terjadi di dekat Al Ayyat, 46 mil jauhnya dari Kairo, Mesir, pada Februari 2002 yang menyebabkan kematian 383 orang. Kereta tersebut melakukan perjalanan dari Kairo ke Luxor dan kelebihan penumpang di 11 gerbongnya. Ledakan tabung gas memasak di gerbong kelima menciptakan api yang menyebar ke tujuh gerbong. Kereta api yang terbakar itu menempuh perjalanan sejauh empat mil karena kurangnya komunikasi antara pengemudi dan gerbong belakang sehingga akhirnya berhenti di dekat Al-Ayyat. Banyak penumpang yang melompat dari kereta tidak selamat.

Mau Ke Banyuwangi Naik Kereta? Berikut Tipsnya

Ketika membahas tentang Banyuwangi, yang terlintas di awal adalah kawah Ijen. Ya, salah satu destinasi favorit pelancong di Banyuwangi karena memiliki blue fire atau api biru di kawahnya dan hanya ada dua di dunia. Untuk sampai ke kota ini sebenarnya mudah saja, apalagi penerbangan langsung dari Jakarta menuju bandara Blimbingsari Banyuwangi sudah dibuka. Baca juga: “Banyuwangi Baru,” Stasiun di Paling Ujung Timur Pulau Jawa Tapi bagaimana dengan pelancong yang memiliki budget minimal dan ingin menikmati kota Banyuwangi melalui darat selain menggunakan bus? Nah, untuk sampai ke kota ini juga bisa menggunakan kereta api. Tetapi sayangnya tidak ada kereta api yang langsung menuju stasiun yang ada di Banyuwangi. Dari sepuluh stasiun aktif, beberapa di antaranya pelancong bisa turun sesuai destinasi yang akan dikunjungi. KabarPenumpang.com mendapatkan sepuluh stasiun tersebut yakni Kalibaru, Glenmore, Sumberwadung, Kalisetail, Temuguruh, Songjuruh, Rogojampi, Karangasem, Argopuro dan Banyuwangi Baru. Stasiun yang paling dekat dengan kota Banyuwangi adalah Karangasem dan pelancong yang akan melanjutkan ke Bali dengan kapal ferry bisa turun di Banyuwangi Baru. Untuk sampai ke kota ini, pelancong yang berangkat dari Jakarta ada dua jalur yakni melalui jalur utara atau selatan. Jika melalui jalur utara bisa naik kereta Argo Bromo Anggrek (Rp345 ribu-Rp500 ribu), Sembrani 48 (Rp325 ribu-Rp490 ribu), Bangunkarta 56 (Rp335 ribu-Rp490 ribu), dan Bima 44 (Rp380 ribu-Rp530 ribu) dengan tujuan Jakarta Gambir–Surabaya Pasar Turi atau Jakarta Gambir–Surabaya Gubeng. Bila pelancong ingin menggunakan kelas ekonomi maupun bisnis dari stasiun Pasar Senen bisa naik kereta Jayabaya (Rp220 ribu-Rp260 ribu) maupun Gumarang (Rp230 ribu-Rp465 ribu) dengan tujuan Surabaya Pasar Turi atau Surabaya Gubeng. Sampai di Surabaya pelanconng yang turun di Pasar Turi, mau tak mau harus berpindah ke stasiun Gubeng dan naik kereta menuju Banyuwangi. Ada empat kereta dengan berbagai kelas yakni Probowangi 213 (Ekonomi) dengan tarif Rp56 ribu, Mutiara Timur Siang (eksekutif-bisnis-ekonomi) Rp140 ribu-Rp200 ribu, Sir Tanjung (ekonomi) tarif yang dikenakan Rp94 ribu, hingga Mutiara Timur Malam 89 (eksekutif-bisnis) dengan tarif Rp100 ribu-Rp200 ribu. Waktu tempuhnya sekitar 16-17 jam jika pelancong menggunakan jalur utara. Lain lagi bila pelancong menggunakan jalur selatan dimana pelancong menggunakan kereta tujuan Yogyakarta dari Pasar Senen. Kereta yang bisa digunakan adalah Gajahwong (Rp170 ribu-Rp230 ribu), Jaka Tingkir (Rp170 ribu-Rp215 ribu), Singasari (Rp235 ribu-Rp245 ribu), Bengawan (Rp84 ribu) hingga Bogowonto (Rp170 ribu- Rp230 ribu). Gaya Baru Malam Selatan (Ekonomi) tarif Rp104 ribu sampai ke Surabaya Gubeng. Melalui jalur selatan ini penumpang bisa menggunakan kereta Sri Tanjung yang berangkat dari Lempuyangan berhenti di Surabaya Gubeng dan menuju stasiun akhir Banyuwangi Baru. Total perjalanannya dari Jalur selatan sekitar 22 jam. Baca juga: Gubeng, Angkut Hasil Bumi Hingga Serdadu Belanda, Inilah Stasiun Kebanggaan Arek Suroboyo! Pelancong yang ingin menuju Banyuwangi berangkat dari kota Malang bisa menggunakan kereta Tawang Alun dengan tarif Rp62 ribu dan keberangkatan pukul 15.50 tiba di Banyuwangi 23.50. Berikut ini jadwal kereta dari Surabaya menuju Banyuwangi Baru, Probowangi (04.25-11.40), Mutiara Timur Siang (09.00-15.20), Sri Tanjung (14.00-20.50) dan Mutiara Timur malam (22.00-04.15).

Soal Kompensasi Akibat Delay, Garuda Indonesia dan David Tobing Sepakat Berdamai

Penerbangan Garuda Indonesia GA 152 pada 27 Maret 2018 kemarin mengalami keterlambatan keberangkatan dari Jakarta menuju Batam. Ini membuat David Tobing seorang penumpang menuntut Garuda Indonesia karena tidak memberikan snack saat keterlambatan tersebut selama 60 menit atau satu jam. Baca juga: RUPST 2018, Garuda Indonesia Canangkan Akselerasi Bisnis dan Pertumbuhan Penumpang 10 Persen Namun, diketahui keterlambatan satu jam tersebut terhitung setelah pintu pesawat sudah ditutup namun belum melakukan block off. Vice President Corporate Secretary Garuda Indonesia Hengki Heriandono mengatakan, pihak Garuda telah meminta maaf kepada pihak David tobing terkait delay yang terjadi baik itu melalui telepon atau bertemu langsung saat ini. “Terjadi delay saat itu ada kendala teknik EV (entertaiment visual). Kami lakukan perbaikan agar tidak menganggu kenyamanan penumpang saat perjalanan ke Batam. Perbaikan itu di hanggar,” ujar Hengky yang ditemui KabarPenumpang.com saat konferensi pers di Kebon Sirih, Jumat, (20/4/2018). Hengky mengatakan, lewat dari 30 menit pihak Garuda menyediakan minuman di depan gate keberangkatan. Kemudian tak lama ada panggilan boarding untuk masuk ke dalam pesawat sebelum 60 menit. “Setelah penumpang masuk, tidak bisa langsung jalan karena menunggu instruksi dari ATC sehingga keberangkatan menjadi 10.20 pagi. Mungkin saat itu Pak David ada keperluan mendesak di Batam. Tapi yang jelas keluhan pelanggan kita dengarkan dan kita lakukan damai secara mediasi atau kekeluargaan,” jelas Hengky. Tak hanya itu, dan konferensi pers kesepakatan perdamaian tersebut, David Tobing selaku penuntut dan penumpang memberikan apresiasi kepada Garuda Indonesia. Menurutnya, tidak ada penyangkalan dari Garuda terkait masalah yang dialaminya saat melakukan penerbangan tersebut. “Saya apresiasi Garuda. Saat itu saya gugat Garuda Indonesia ke pengadilan karena masalah ini, tetapi ada itikad baik Garuda untuk komitmen kedepannya dan sepakat mengabulkan permintaan makanan ringan yang saya minta ini dikabulkan. Kami juga akan cabut gugatan tersebut kepengadilan,” ujar David. Dia menambahkan, sebagai pelanggan Garuda Indonesia, David berharap kedepannya tidak ada lagi delay dan meningkatkan pelayanan kedepannya. VP Ground Service Garuda Indonesia Uun Setiawan mengungkapkan bahwa pihaknya sangat mengapresiasi perihal masukan yang telah disampaikan oleh David Tobing. “Hal ini menandakan beliau memiliki concern tinggi terhadap komitmen peningkatan layanan Garuda Indonesia sebagai National Flag Carrier. Pada kesempatan ini dapat kami pastikan bahwa kebijakan service recovery dalam implementasi delay management policy sudah sesuai dan mengacu terhadap Peraturan Menteri Perhubungan Nomor PM 89 Tahun 2015 terkait Penanganan Keterlambatan Penerbangan (Delay Management) Para Badan Usaha Angkutan Udara Niaga Berjadwal Di Indonesia”, jelas Uun Setiawan. Uun Setiawan juga menyampaikan apresiasi kepada David Tobing atas loyalitasnya untuk selalu terbang dengan Garuda Indonesia dan memberikan masukan kepada Garuda Indonesia untuk peningkatan layanan kedepannya. “Garuda Indonesia juga berterima kasih telah diterima oleh David Tobing dalam kesempatan ini untuk menyampaikan apresiasi ini secara langsung. Kami akan terus memberikan layanan penerbangan yang terbaik sesuai standar layanan bintang lima di perusahaan dan tentunya kami akan selalu terbuka untuk menerima masukan dan kritikan langsung dari penumpang loyal kami seperti hari ini” tutup Uun Setiawan. Baca juga: Perjalanan Kasus Koosmariam Djatikusumo Hingga Gugatan ke Garuda Indonesia Sejalan dengan komitmen Garuda Indonesia untuk mengedepankan factor safety, keamanan dan kenyamanan penerbangan, maka Garuda Indonesia senantiasa mematuhi segala peraturan dan kebijakan penerbangan yang berlaku baik kebijakan pemerintah Indonesia maupun internasional.

HTT Siap Operasikan Hyperloop Pada 2020, Akankah Dubai Operasikan Dua Teknologi Maglev?

Setelah menggebrak dunia maya dengan kemajuan terbarunya, yaitu merancang lintasan uji coba di Toulouse, Perancis, kini Hyperloop Transportation Technology (HTT) kembali membuat warganet riuh. Pasalnya, perusahaan yang berbasis di Culver City, California ini mengatakan bahwa dirinya siap memfasilitasi warga Dubai dengan moda transportasi futuristik berbasis tenaga magnetik levitasi (maglev), Hyperloop. Baca Juga: Akhirnya! Hyperloop Transportation Technologies Canangkan Uji Coba Skala Penuh Seperti yang dihimpun KabarPenumpang.com dari sejumlah laman sumber, HTT rencananya akan memulai masa konstruksi pada tahun 2019 dan mulai beroperasi setahun berselang. Demi melancarkan rencananya untuk membangun jaringan Hyperloop, perusahaan yang berdiri para November 2013 ini telah menandatangani nota kesepakatan dengan Aldar Properties PJSC, pengembang yang berdiri di belakang sirkuit balap Yas Island’s Formula 1. “Kesepakatan ini akan menjadi tonggak dasar untuk sistem Hyperloop komersial pertama di dunia, di sini, di Emirat, yang menghubungkan Abu Dhabi ke Al Ain, Dubai, dan Riyadh, Arab Saudi,” ungkap chairman HTT, Bibop Gresta. Nantinya, salah satu ujung tabung Hyperloop ini akan berada di dekat Bandara Internasional Al Maktoum dan salah satu pameran Universal yang diselenggarakan oleh Dubai, Expo 2020. “Dengan dukungan regulasi, kami berharap dapat mulai beroperasi bertepatan dengan Expo 2020,” tandasnya. Dilansir dari sumber terpisah, CEO HTT, Dirk Ahlborn pernah mengatakan bahwa Timur Tengah merupakan lokasi lintasan perdana HTT yang paling potensial. Dengan pernyataan dari Bibop tersebut, seolah semakin mempertegas keseriusan HTT dalam menjadikan Dubai sebagai tanah pertama yang menopang tabung Hyperloop. Baca Juga: Semakin Dekat Realisasi, Virgin Hyperloop One Mulai Pamerkan Pod Futuristiknya Tapi ingatkah Anda tentang rival HTT, Virgin Hyperloop One yang juga menandatangani kontrak kerja sama dengan beberapa pihak terkait pengadaan Hyperloop yang menghubungkan Dubai dan Abu Dhabi. Tidak hanya itu, Virgin Hyperloop One juga memaparkan gambaran jaringan yang menghubungkan kota-kota di hampir seluruh wilayah Timur Tengah, termasuk Kuwait City di Kuwait, Jeddah di Arab Saudi dan Muscat di Oman. “Membangun jaringan Hyperloop yang membentang dari Jeddah ke Riyadh, ke Abu Dhabi, dan ke Dubai merupakan sebuah kesempatan yang menakjubkan. Hal ini berpotensi mengubah skema pengiriman barang, mobilitas warga, dan kami melihat di depannya akan ada banyak perubahan drastis pada perkembangan dan pertumbuhan ekonomi yang terus berlanjut di kawasan ini,” ungkap CEO Virgin Hyperloop One, Rob Lloyd. Jadi, akankah Dubai di masa yang akan datang difasilitasi oleh dua merk penyedia jasa Hyperloop?

165 Tahun Kereta Api Mengular di Rel India

Sebagai salah satu negara besar di dunia, India punya beragam hal unik dan menarik, termasuk berbicara tentang sejarah perkeretaapiannya. Di Negeri Anak Benua yang bekas koloni Inggris ini, tak terasa kereta perjalanan kereta pertama di India sudah berusia 165 tahun. Perjalanan pertama dimulai pada 16 April 1853 yang di jalankan oleh Great India Peninsular Railway dari Mumbai ke Thane. KabarPenumpang.com melansir dari laman devdiscourse.com (16/4/2018), ada 14 gerbong kereta dengan tiga lokomotif uap yang memiliki nama Sahib, Sindh, dan Sultan. Kapasitas penumpang yang mampu di angkut masa itu sekitar 400 orang dan mampu melaju hingga 34 km. Baca juga: Tergerus Zaman, Tradisi Bawa Bekal dan Berbagi Makanan di Kereta India Mulai Hilang Kereta ini setiap berhenti di Sion selama 15 menit untuk menyiram mesin dan meminyaki roda kereta. Tarifnya pun saat itu 2 rupee dan 10 annas untuk kelas satu, satu rupee dan satu annas untuk kelas dua. Untuk kelas tiga tarif lima annas dan tiga pice. Kemudian jalur ini diperpanjang ke Kalyan tahun 1854 dengan membangun jembatan kereta api di India yang pertama yakni jembatan Dapoorie diatas sungai Ulhas. Kemudian diperluas lagi tahun 1855 ke Khopoli. Pembuatan jalur untuk Indian Railways ini dibuat di Madras tahun 1832 silam. Jaringan kereta api pertama India Red Hill Railway dibangun oleh Arthur Cotton untuk mengangkut granit pada pembangunan jalan yang kemudian merambah ke Bukit Merah dan Jembatan Chintadripet di Madras tahun 1837. Diketahui hingga kini, Indian Railways yang sudah berusia 165 tahun merupakan jaringan kereta api terbesar keempat di dunia dengan panjang mencapai 121.407 km dengan 7.216 stasiun di sepanjangnya setelah Amerika Serikat, Rusia dan Cina. Tak hanya itu, kini juga sebanyak 23 juta penumpang setiap harinya dari dua rute baik itu pinggiran kota ataupun kereta jarak jauh. Baca juga: Tindaklanjuti Masalah Malfungsi Roda Kereta, Indian Railways Siap Pasang Sensor Canggih! Pada tahun 2016 sendiri kereta api India 8,10 miliar penumpang dan lebih dari 1,1 miliar ton kargo per tahun. Indian Railways sendiri merupakan perusahaan terbesar kedelapan di dunia yang memiliki pekerja mencapai 1,3 juta orang pada Maret 2017 lalu. Untuk merayakan kesempatan ini, kereta api telah menyelenggarakan perayaan Pekan Kereta Api di seluruh zona untuk memperingati peristiwa penting dari perjalanan pertama. Selain itu replika mesin uap pertama yang berjalan di India akan segera menjadi pusat atraksi si stasiun Thane.

Di India, Ratusan Gajah Mati Ditabrak Kereta Api

Pada tanggal 16 April 2018 kemarin, pemberitaan di India menyebutkan bahwa telah terjadi kecelakaan kereta api yang mengakibatkan empat gajah tewas di distrik Jharsuguda, Odisha. Hal ini tentu saja mengundang pertanyaan warganet, “Mengapa bisa sebuah ular besi menewaskan empat gajah sekaligus?”. Baca Juga: Human Error Duduki Peringkat Teratas Penyebab Kecelakaan Kereta Sebelumnya, sudah banyak pula kejadian serupa, dengan pelaku dan korban yang sama. Tak pelak, berbagai kalangan masyarakat pun menyoroti jalur perkeretaapian di India yang seolah menjelma menjadi perangkap bagi mamalia darat terbesar di dunia ini. Bahkan, menurut ahli satwa liar, India memiliki jumlah kecelakaan kereta tertinggi di dunia yang melibatkan gajah. KabarPenumpang.com melansir dari laman dailyo.in (17/4/2018), data yang dimiliki oleh otoritas berwajib India menyebutkan bahwa pada tahun 2017 saja, sebanyak 12 gajah tewas dalam beberapa kecelakaan kereta api. Setahun sebelumnya lebih parah, dimana si ular besi telah menewaskan sekitar 16 gajah. Jika diakumulasi dari tahun 2009 hingga 2017, periode ini merupakan yang terparah, dimana si ular besi telah menghilangkan nyawa dari 120 gajah. Lalu, mengapa angka kecelakaan kereta yang melibatkan gajah begitu besar di India? Ada beberapa hipotesa yang bisa dijadikan bahan pertimbangan: populasi manusia yang terus mengalami peningkatan, perusakan habitat, peningkatan frekuensi perjalanan kereta, dan pihak perkeretaapian India yang mungkin mengabaikan peraturan yang telah ditetapkan sebelumnya. Khusus untuk kasus kecelakaan yang melibatkan satwa liar seperti gajah, ada baiknya para pejabat kehutanan pun melakukan koordinasi dengan pihak perkeretaapian, seperti menginformasikan tentang pergerakan sekawanan gajah liar. Sudah menjadi hukum alam dimana setiap hewan liar akan melakukan migrasi dalam kurun waktu tertentu – untuk kasus ini, gajah melakukan migrasi setiap satu tahun sekali. Peningkatan populasi manusia sendiri mengindikasikan adanya penyempitan ruang gerak satwa-satwa liar. Maka tidak heran jika satwa-satwa liar terus melakukan pergerakan guna menghindari eksplorasi dan eksploitasi lahan yang dilakukan oleh manusia. Baca Juga: 85% Kecelakaan Lalu Lintas di Kenya Karena Human Error Sebelumnya, insiden serupa pun pernah terjadi pada kawanan gajah di Assam, India. Tepatnya pada bulan Februari 2018 silam, seekor bayi gajah yang tengah melintasi rel kereta tidak bisa menghindari laju dari si ular besi. Alhasil, gajah-gajah dewasa lainnya pun secara reflek mengepung si bayi gajah guna memberikan perlindungan terhadap hantaman kereta. Alhasil, lima gajah mati dalam insiden tersebut.

RUPST 2018, Garuda Indonesia Canangkan Akselerasi Bisnis dan Pertumbuhan Penumpang 10 Persen

Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) yang diselenggarakan PT Garuda Indonesia pada Kamis (19/4/2018) kemarin di hadiri oleh keseluruhan pemegang saham Garuda. RUPS tahun 2018 ini merupakan yang ketujuh kalinya sejak melaksanakan IPO pada Februari 2011 lalu. Baca juga: Perjalanan Kasus Koosmariam Djatikusumo Hingga Gugatan ke Garuda Indonesia Direktur Utama PT Garuda Indonesia Pahala Nugraha Mansyuri mengatakan, sejalan dengan dinamika industri penerbangan pada tahun-tahun mendatang yang semakin kompetitif, akselerasi bisnis perusahaan juga harus ikut dikembangkan. Dia mengatakan, melalui manajemen baru itu diharapkan dapat mendukung upaya perseroan dalam mengakselerasi kinerja bisnis yang di jalankan. “Kami berterima kasih kepada seluruh jajaran manajemen serta jajaran pemegang saham  yang terus mendukung upaya perusahaan menghasilkan output bisnis yang sustainable”, papar Pahala yang dikutip KabarPenumpang.com dari siaran pers Kamis (19/4/2018). Pada tahun 2018 ini, industri penerbangan semakin penuh tantangan dan perusahaan menargetkan pertumbuhan kapasitas penumpang mencapai 9-10 persen. Pahala mengatakan, pencapaian tersebut tentunya menjadi tantangan tersendiri bagi perusahaan khususnya melihat proyeksi nilai tukar mata uang asing dan harga bahan bakar pesawat yang masih flukuatif. Dengan adanya RUPS ini, juga dilakukan pemberhentian degan hormat Direktur Produksi Garuda Indonesia Puji Nur Handayani serta penyesuaian struktur direksi baru yang akan bertugas mendamping Direktur Utama. Dengan demikian, maka susunan Direksi Garuda Indonesia sesuai hasil RUPST adalah sebagai berikut: Direktur Utama : Pahala N. Mansury Direktur Operasi : Triyanto Moeharsono Direktur Teknik : I Wayan Susena Direktur Umum dan SDM : Linggarsari Suharso Direktur Niaga Domestik : Nina Sulistyowati Direktur Kargo & Niaga Internasional : Sigit Muhartono Direktur Layanan: Nicodemus P. Lampe Direktur Keuangan & Manajemen Resiko : Helmi Imam Satriyono Sementara itu, sesuai dengan agenda RUPS 2018tersebut susunan Dewan Komisaris Garuda Indonesia juga mengalami perubahan dengan masuknya sejumlah nama baru menggantikan komposisi dewan komisari sebelumnya sebagai berikut : Komisaris Utama & Independen: Jusman Syafii Djamal Komisaris Independen : Hasan M. Soedjono Komisaris Independen : Herbert Timbo Parluhutan Siahaan Komisaris : Luky Alfirman Komisaris : Chairal Tanjung Komisaris : Dony Oskaria Komisaris : Muzaffar Ismail RUPST Garuda yang dilaksanakan juga menyetujui beberapa hal sebagai berikut yakni, Persetujuan Laporan Tahunan Perseroan Tahun Buku 2017, Pengesahan Laporan Keuangan Konsolidasian Perseroan dan Laporan Keuangan Program Kemitraan dan Bina Lingkungan Perseroan serta Laporan Tugas Pengawasan Dewan Komisaris yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2017, sekaligus pemberian pelunasan tanggung jawab sepenuhnya (acquit et de charge) kepada Direksi dan Dewan Komisaris Perseroan atas tindakan pengurusan dan pengawasan selama Tahun Buku 2017. Penetapan Remunerasi (Gaji/Honorarium, Fasilitas dan Tunjangan) Tahun Buku 2018, Penunjukan Kantor Akuntan Publik Untuk Mengaudit Laporan Keuangan Perseroan serta Laporan Keuangan Pelaksnaan Program Kemitraan dan Bina Lingkungan Perseroan Tahun Buku 2018, Laporan Penggunaan Dana Penawaran Umum Saham Perdana dan Laporan Hasil PelaksanaanManagement and Employee Stock Options Program (MESOP). Perubahan Anggaran Dasar Perseroan, Pengukuhan Pemberlakuan Peraturan Menteri BUMN No. PER-02/MBU/07/2017 tentang Perubahan kedua atas Peraturan Menteri BUMN No. PER-09/MBU/07/2015 tentang Program Kemitraan dan Program Bina Lingkungan Badan Usaha Milik Negara. Pengukuhan Pemberlakuan Peraturan Menteri BUMN Nomor PER-03/MBU/08/2017 tentang Pedoman Kerja Sama Badan Usaha Milik Negara. Peraturan Menteri BUMN Nomor PER-04/MBU/09/2017 tentang Perubahan Atas Peraturan Menteri BUMN Nomor PER-03/MBU/07/2015 tentang Program Kemitraan dan Program Bina Lingkungan Badan Usaha Milik Negara. Perubahan Pengurus Perseroan, adapun melalui agenda Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB), pemegang saham juga menyetujui transaksi material penerbitan Global Bonds dengan jumlah maksimum sebesar US$750 juta. Baca juga: Lebaran 2018: Garuda Indonesia Tingkatkan Kapasitas Penerbangan Hingga 8 Persen Dalam rangka memperkuat kinerja keuangan dan operasional perusahaan secara berkelanjutan, Garuda Indonesia bersama jajaran anak perusahaan diawal tahun 2018 mencanangkan strategi bisnis jangka panjang bertajuk  “Sky Beyond 3.5” yang akan menjadi value-driven Garuda Indonesia aviation group dengan target valuation Garuda Group sebesar US$3,5 milyar pada tahun 2020. Selain itu, Garuda Indonesia Group melalui “Sky Beyond 3.5″di tahun 2020 turut menargetkan profit perusahaan yang diestimasikan mencapai US$170 juta dengan jumlah penumpang mencapai 45 juta orang serta turut memperkuat capaian tingkat ketepatan waktu hingga 92 persen dengan standarisasi layanan bintang lima.

“Banyuwangi Baru,” Stasiun di Paling Ujung Timur Pulau Jawa

Bila Stasiun Merak di Cilegon, Banten, berada di paling ujung barat Pulau Jawa, maka Stasiun Banyuwangi Baru di Ketapang, Banyuwangi, Jawa Timur, adalah stasiun kereta api yang secara geografis berada di paling ujung timur Pulau Jawa. Selain kedua stasiun lokasinya tak jauh dari dermaga, uniknya kedua stasiun ini terkait dengan layanan kapal ferry. Baca juga: Stasiun Merak, Pilihan Integrasi Lintas Moda Penumpang Kapal Ferry Seperti Stasiun Merak yang lokasinya berada area dalam Pelabuhan Merak, punya jalur integrasi langsung antara penumpang kereta dan kapal ferry, begitu pun sebaliknya. Sedikt beda dengan Stasiun Banyuwangi Baru, lokasi stasiun ini tidak berada di dalam area pelabuhan Ketapang, namun jaraknya sangat dekat dan dapat dicapai dengan berjalan kaki dalam waktu singkat, lantaran jaraknya hanya 200 meter. Sehingga penumpang kereta yang ingin melanjutkan perjalanan ke dermaga ferry dapat dimudahkan. Stasiun Banyuwangi Baru sendiri masuk dalam sepuluh stasiun yang ada di Kabupaten Banyuwangi. Stasiun ini merupakan stasiun paling timur di Daerah Operasional IX Jember dan juga menjadi stasiun ujung paling timur Pulau Jawa. Terletak di ketinggian +7 meter, stasiun ini berada di desa Ketapang, kecamatan Kalipuro, Banyuwangi, Jawa Timur. Stasiun ini masih aktif dan menggantikan stasiun Banyuwangi Lama yang berada di kota Banyuwangi.
Jalur kereta stasiun Banyuwangi Baru
Dilengkapi dengan sub dipo lokomotif dan dipo kereta yang terletak di sebelah utara untuk menyimpan dan merawat kereta api khususnya milik Daop IX itu sendiri. Kereta yang melintas di Banyuwangi Baru sendiri melintas kereta api kelas campuran yakni, bisnis, eksekutif dan ekonomi AC. Stasiun ini merupakan stasiun kereta api kelas besar dan mulai beroperasi tahun 1985. Beberapa waktu lalu, KabarPenumpang.com sempat menyambangi stasiun Banyuwangi Baru ini sebelum menyeberang ke Bali dengan menggunakan kapal ferry dari pelabuhan Ketapang. Saat berkunjung meski masih subuh, stasiun Banyuwangi Baru bersih dan nyaman. Terkadang stasiun ini sering disebut dengan Stasiun Ketapang karena letaknya dekat dengan pelabuhan yakni hanya 100 meter dan dekat dengan jalan besar. Sehingga untuk mencapai jalan raya dan pelabuhan, pelancong bisa berjalan kaki. Namun, jika ingin cepat sampai bisa menggunakan becak maupun ojek yang mangkal disekitar stasiun, tarifnya pun hanya Rp10-15 ribu dan diantar tepat ke depan pintu masuk pelabuhan. Ternyata, stasiun yang memiliki enam jalur dengan jalur 2 sebagai sepur lurus ini bukan hanya mengangkut penumpang. Stasiun ini juga melayani angkutan barang yakni kereta api Semen Tiga Roda yang diberangkatkan dari stasiun Nambo. Kini KA tersebut menjadi KA menempuh jarak paling jauh di Indonesia yang sebelumnya KA Krakatau dari Merak menuju Blitar. Baca juga: Gubeng, Angkut Hasil Bumi Hingga Serdadu Belanda, Inilah Stasiun Kebanggaan Arek Suroboyo! Dengan adanya Stasiun Banyuwangi Baru, bagaimana korelasinya dengan trafik perjalanan ferry di Pelabuhan Ketapang? “Harus diakui pengaruh pasti ada, namun jumlahnya sangat kecil, mengingat jadwal perjalanan kererta ke stasiun tersebut tidak banyak, sehari hanya dua kali, pagi dan sore. Mungkin pengaruh trafik ke kami akan lebih besar jika jumlah jadwal keretanya ditambah,” ujar Elvi Yoza, General Manager PT ASDP Indonesia Ferry Cabang Ketapang-Gilimanuk kepada KabarPenumpang.

Tidak Hanya Rolling Stock, Filosofi MRT Jakarta Juga Mengacu Ke Negeri Sakura

Setelah sebelumnya PT MRT Jakarta (PT MRTJ) menyatakan bahwa perusahaan yang tengah mengembangkan jaringan transportasi baru di Ibu kota ini menggunakan teknologi Communication Based Train Control (CBTC), kini PT MRTJ berencana untuk mengirimkan beberapa trainee ke Jepang guna mendapatkan pelatihan khusus terkait pengoperasian kereta ini kelak. Hal tersebut dilatabelakangi oleh prinsip keselamatan penumpang yang dijunjung tinggi oleh perusahaan yang digawangi oleh William P Sabandar cs. ini. Baca Juga: MRT Jakarta Adopsi Teknologi CBTC, MRT di Jepang Justru Belum Berdasarkan pantauan KabarPenumpang.com pada acara coffee talk yang diadakan oleh PT MRTJ, Rabu (18/4/2018) kemarin, rencana pengiriman trainee ke Negeri Sakura tidaklah hanya sebatas tentang pelatihan pengoperasian kereta saja, melainkan soal kedisiplinan pun menjadi satu poin penting yang akan didapatkan oleh para calon petugas MRTJ. “Rencananya para trainee akan dikirim ke JR East dan beberapa institusi lain untuk memenuhi beberapa kompetensi karena teknologinya belum ada di Indonesia,” ungkap Mega Tarigan selaku Kepala Divisi Pengoperasian PT MRTJ. “Nantinya rekan-rekan kami ini (trainee) pun akan mendapatkan base practice untuk masalah keselamatan, sesuai dengan standar internasional yang diberlakukan oleh PT MRTJ,” tandasnya. Lain cerita dengan para calon masinis MRT Jakarta yang nanti akan melewati masa diklat di Malaysia. “Kenapa Malaysia bukan PT KAI? Karena teknologi MRTJ hampir mirip dengan yang ada di sana dan PT KAI belum menggunakan teknologi tersebut,” jelas Mega. “Selain itu, pertimbangan lain yang tidak kalah penting juga Malaysia memiliki budaya dan bahasa yang hampir mirip dengan kita,” imbuhnya. Terselip cerita unik dibalik keseluruhan pembangunan MRT Jakarta ini. Selain menggunakan armada dari Nippon Sharyo, Jepang, PT MRTJ pun menganut filosofi yang sama dengan perkeretaapian di negara penghasil manga tersebut. “Jika filosofinya berbeda, maka hasilnya pun akan berbeda,” tutur Mega. Baca Juga: Anies: Bukan Sekedar Alat Transportasi, MRT Juga Pembentuk “Budaya” Baru di Jakarta “Ambil contoh, filosofi yang digunakan pihak Jepang adalah bagaimana cara untuk mencegah kebakaran, bukan bagaimana cara menangani kebakaran. Berbeda dengan filosofinya orang Eropa,” jelas Mega. “Jadi wajar semisal terowongan yang kita gunakan berbeda dengan terowongan yang ada di Eropa yang punya banyak evacuation route, karena itu tadi, kita mencegah kebakaran bukan mengatasi kebakaran,” paparnya. Demi menyatukan filosofi dengan pihak Jepang, PT MRTJ akhirnya lebih memilih untuk menggunakan material yang tidak mudah terbakar pada rolling stock. “Kami menggunakan material yang non-flammable.” tutupnya.

Inilah Tingkah Laku Penumpang yang Unik Versi Awak Kabin

Salah satu resiko menggunakan sarana transportasi umum adalah beretemu dengan orang-orang baru yang notabene tidak kita ketahui latar belakangnya, sebut saja pesawat terbang. Dalam sekali penerbangan, diperkirakan Anda akan bertemu dengan ratusan orang baru yang kemungkinan belum pernah Anda kenal sebelumnya. Maka bukan tidak mungkin jika Anda akan melihat tingkah polah yang unik dari mereka. Baca Juga: Unik! Penumpang ini Sandera Awak Kabin Air China Menggunakan Pena Lain penumpang, lain juga sudut pandang seorang awak kabin yang hampir setiap hari dipertemukan dengan ratusan orang baru. Tentu saja kemungkinan untuk melihat perilaku unik penumpang menjadi lebih besar, bukan? Berikut, KabarPenumpang.com sajikan beberapa tingkah laku penumpang yang unik di dunia aviasi berdasarkan sudut pandang awak kabin, dilansir dari laman rd.com. Telanjang di Kabin Dalam sebuah penerbangan menuju Hong Kong, seorang awak kabin menginformasikan kepada pilot bahwa ada seorang penumpang berjenis kelamin laki-laki yang menanggalkan semua pakaiannya dan duduk telanjang bulat. Dan Boland, sang pilot, lalu menginstruksikan kepada si awak kabin untuk mengingatkan si penumpang agar mengenakan kembali pakaiannya jika tidak ingin ditahan oleh pihak yang berwajib. Namun si penumpang ini enggan mengenakan pakaiannya sebelum pesawat mendarat. Ada-ada saja, ya! Menerbangkan Tim Rugby Seorang kontributor dari Reddit membagikan pengalaman yang dialami oleh ayahnya yang kebetulan seroang pilot. Sang ayah pernah menerbangkan satu tim rugby menuju Australia, dimana mereka menyewa seluruh First Class. “Kendati mereka semua ramah, tapi apa jadinya jika mereka melucuti pakaiannya masing-masing hingga nyaris telanjang ketika pesawat sudah berada di ketinggian jelajah?” kenang sang pilot. Emotional Support yang Membutuhkan Emotional Support Seorang mantan pilot yang tidak ingin membongkar identitasnya mengatakan bahwa dirinya pernah menerbangkan seorang penumpang yang membawa serta anjing German Shepard ke dalam kabin sebagai Emotional Support. Uniknya, sang anjing yang dikenal dengan kegagahannya ini juga membutuhkan Emotional Support: sebuah mainan pudel berbulu. Membawa Hewan Seukuran Cangkir Teh Lagi seorang kontributor dari Reddit menceritakan bahwa sang kakek yang kebetulan mantan awak kabin pernah terbang bersama seorang penumpang yang membawa serta seekor hewan yang memiliki ukuran sangat kecil. Sang kakek menilai hewan berukuran mini tersebut tidak sah untuk berada di dalamkabin bersama majikannya. Menerbangkan Penipu Ulung Pendiri situs Holidayers, Boland menceritakan pengalamannya yang pernah menerbangkan seorang penipu. Penipu tersebut enggan menaikkan reclining seat hingga pesawat mendarat di tujuan dengan dalih sakit punggung. Ia pun meminta Boland untuk menyediakan ambulans sesampainya di tujuan dan membantunya untuk turun dari pesawat. Melihat ada yang janggal, Boland terus memperhatikan gerak-gerik si penipu hingga akhirnya petugas medis menyatakan bahwa si penipu ini tidak mengalami masalah apapun pada bagian punggungnya. Ia hanya berusaha untuk mengklaim asuransi yang ditawarkan oleh pihak maskapai. Baca Juga: Unik, Penumpang Masukkan Sebuah Bir Kaleng Ke Bagasi Pesawat dan Diberi ‘Tag’ Mengigau Dalam penerbangan dari Los Angeles menuju Hong Kong, seorang wanita dengan panik menghampiri awak kabin dan mengatakan bahwa sang suami tertinggal di bandara Los Angeles, padahal pesawat sudah mengudara sekitar dua jam lamanya. Panik bukan kepalang, semua awak kabin berusaha mencari solusi untuk suami wanita ini. Tersentak dan kaget, wanita ini lalu terbangun. Ternyata si penumpang wanita ini hanyalah mengalami tidur sambil berjalan sembari mengigau. Salah Ketuk Sebagai seseorang yang pernah duduk di balik kokpit, Dan Boland mengaku selalu dibuat tertawa ketika ada seorang penumpang yang baru pertama kali mengudara. Pasalnya, mereka biasanya belum mengetahui lokasi kamar kecil di dalam pesawat. Bahkan beberapa diantara mereka pernah mengetuk pintu kokpit karena disangka itu adalah kamar kecil.