Prototipe Podbike Akan Diluncurkan Pada April 2018

Podbike merupakan sebuah kendaraan yang dikemudikan dengan cara mengayuh seperti halnya sebuah sepeda. Bedanya dengan sepeda biasa, Podbike memiliki empat roda dimana dua roda bagian depan dan dua lainnya di bagian belakang. Baca juga: Prototipe Taksi Drone Ehang 184, Sukses Uji Coba Dalam 1000 Kali Terbang Podbike ini sendiri merukapakan velomobile beroda ganda yang dikembangkan oleh perusahaan Norwagia Elpedal. Saat itu, tepatnya pada November 2017 kemarin nama Podbike baru tersiar dan casis Podbike baru ada secara virtual atau hanya sebatas gambaran kendaraan yang lengkap dan terpampang di dalam layar komputer. Namun, hal itu semua menjadi nyata baru-baru ini, dimana sebuah prototipe lengkap pertama di presentasikan pada sebuah acara di Sandnes di Norwegia. KabarPenumpang.com  melansir dari laman newatlas.com (8/2/2018), Podbike yang merupakan kendaraan roda empat untuk manusia ini bertenaga pedal atau mengayuh untuk menjalankannya dan terhubung langsung ke generator.
(newatlas.com)
Dimana nantinya pedal yang dikayuh tersebut menghasilkan tenaga secara elektrik dengan menghubungkan ke beberapa motor penggerak di masing-masing roda belakang. Selain itu, Podbike ini juga di tambah dengan paket baterai yang bisa dilepas dan fungsinya untuk menjadi daya tambahan. Jika ditambah dengan baterai, kecepatan maksimum Podbike bisa mencapai 25 km per jam atau sekitar 16 mph dan bisa dibatasi secara elektronik. Jangkauan dengan penggunaan baterai sendiri bisa mencapai jarak 60 km atau sekitar 37 mil bahkan bisa lebih jauh sedikit jika baterai ekstra ditambahkan secara paralel. Dalam bentuk komersialnya, kendaraan ini harus memiliki berat sekitar 40 sampai 50 kg dengan tambahan satu baterai. Prototipe ini sendiri dikenal sebagai T0 yang diresmikan pada 26 Januari kemarin menjadi yang pertama dalam batch 12 kendaraan uji dan juga disebut seri 0 dan akan dibangun dalam tiga hingga empat bulan kedepan. Nantinya, sepuluh dari Podbike seri 0 ini akan di uji coba di jalan Norwegia dan dievaluasi oleh pembalap uji. Kemudian hasil uji coba tersebut akan dilaporkan pada pengembang. Peluncuran seri 0 sendiri secara resmi di Eropa akan berlangsung pada 28 April 2018 mendatang pada pameran sepeda khas Spezi di Jerman. Baca juga: Toyota Lansir JPN Taxi, Prototipe Taksi dengan Bahan Bakar Hybrid Podbike sendiri akan tersedia di Norwegia pada awal 2019 dan di tempat lain di Eropa tahun 2020 mendatang. Penafsiran harga per Podbike sekitar US$6372 atau Rp87 di Norwegia. Harga tersebut sudah termasuk dengan PPN dan penjualan lokal atau sekitar €4500 atau sekitar US$5515 atau Rp75 juta dan ditambah pajak dan pengiriman ke pasar Eropa lainnya. Untuk pasar Amerika Utara sendiri saat ini belum ada rencana untuk ke sana. Sebab Undang-undang Amerika membatasi e-bike dengan lebih dari tiga roda.

Bandara Baru Istanbul Diharapkan Menjadi Aerotropolis

Bandara baru di Istanbul, Turki akan segera terealisasi pada 2018 ini dan digadang menjadi bandara terbesar di dunia. Sebanyak 31 ribu pekerja membangun bandara Istanbul New Airport (INA) dalam waktu singkat yakni sejak tahun 2015 lalu. Baca juga: Mau Berlibur ke Istanbul? Baca Dulu Beberapa Tips Berikut Ini! Saat ini sudah 78 persen pembangunan hampir selesai dan akan diresmikan pada 29 Oktober 2018 dan diperkirakan sudah mulai pendaratan pesawat perdananya pada Februari 2019 mendatang. Bandara yang menjadi proyek infrastruktur terbesar dalam sejarah Turki ini menghabiskan dana US$11 atau sekitar Rp149 triliun. KabarPenumpang.com merangkum dari laman airport-technology.com (7/2/2018), meskipun akan diresmikan Oktober mendatang, tetapi pengerjaan konstruksi lainnya akan terus berlanjut hingga 2028. Dimana tujuan Turki adalah membangun aerotropolis kelas dunia yang lengkap dengan gedung perkantoran hotel, masjid, pusat kesehatan, pusat pameran dagang dan konfrensi. Nantinya, setelah beroperasi, INA akan mengambil alih semua operasi penerbangan komersial dari bandara Ataturk. Sebab beberapa tahun terakhir sudah melebihi batas tampung penumpang dari kapasitas aslinya. “Tahap pertama konstruksi akhirnya akan segera berakhir,” kata Yusuf Akçayoğlu, CEO İGA Airports Construction. Dia mengatakan akan ada sekitar 200 kali uji coba dan simulasi sebelum bandara ini dioperasikan. Uji coba ini agar pemangku kepentingan terbiasa dengan operasi bandara INA tersebut. “Pembukaan Bandara Baru Istanbul akan menjadi transfer bandara terbesar di dunia sampai saat ini,” kata Akçayoğlu. Bandara Baru Istanbul merupakan elemen kunci dari paket proyek infrastruktur mega Presiden Recep Tayyip Erdoğan, yang juga mencakup Kanal Istanbul dan jembatan ketiga yang sekarang lengkap di atas Bosphorus. “Karena kenyataan bahwa Bandara Baru Istanbul adalah proyek infrastruktur terbesar di Turki, ini akan berdampak besar pada ekonomi Turki,” kata Akçayoğlu. Dari laporan Analisis Dampak Ekonomi, INA akan memberikan kontribusi 4,89 persen terhadap pendapatan nasional per kapita dan juga menyediakan 1000 ribu pekerjaan langsung dan 150 ribu pekerjaan tidaak angsung. Sedangkan untuk sektor pariwisata mencapai US$7 miliar atau Rp948 miliar. Menurut iGA, lokasi bandara baru ini bukanlah lahan yang dibuka sengaja melainkan lahan yang sudah rusak sejak tahun 1980an atau sekitar 65 persen wilayah hutan yang hilang dan rusak. “Lokasinya adalah daerah yang tidak efisien yang ditutupi kotoran dan lumpur. Kami mengubah bidang yang tidak efisien ini ke pusat penerbangan baru di dunia,” kata Akçayoğlu. Tak hanya menjadi pusat aerotropolis, bandara ini akan terhubung dengan kereta api, metro, bus dan mobil berkecepatan tinggi atau bisa dikatakan bandara akan terintegrasi dengan transportasi di Istanbul. Sejauh ini, lebih dari 1,5 juta meter persegi bumi telah dipindahkan melalui kegiatan penggalian dan penyamarataan. Apa yang akan naik di tempat ini dipastikan menjadi bandara menakjubkan yang terdiri dari tiga terminal (salah satunya adalah yang terbesar di dunia), enam landasan pacu paralel dan kapasitas untuk menyambut 90 juta penumpang per tahun pada tahap pertama. Kemudian pekerjaan perluasan akan mengangkat ini menjadi 200 juta penumpang setelah sepenuhnya selesai. Dalam persiapannya, Turkish Airlines mengumumkan akan menambah 40 pesawat berbadan lebar ke armada. “Selama merencanakan dan membangun alat teknologi yang berbeda, kami selalu memikirkan penumpang kami. INA akan menjadi bandara yang akan terdiri dari teknologi dan standar terbaru. Sekitar 3.000 monitor akan menginformasikan penumpang kami di berbagai zona. Selain itu, teknologi iBeacon akan menyediakan petunjuk dalam ruangan, waktu berjalan kaki ke pintu gerbang, akses lounge dan tanda boarding,” kata Akçayoğlu. Sistem bagasi saja akan mencapai panjang 42 km, sama dengan jarak antara Taksim dan Tuzla, dan sistemnya akan mampu menangani lebih dari 30 ribu koper per jam. Dalam hal desain, İGA menjanjikan bahwa terminal akan mencerminkan kekayaan dan keindahan struktur historis Istanbul. Setelah INA dibuka, kapal ini akan menjadi rumah bagi sekitar 150 maskapai penerbangan dan menawarkan penerbangan ke 350 tujuan, sementara Ataturk akan diubah menjadi campuran ruang pameran dan tempat tujuan untuk charter, jet pribadi dan pesawat terbang pelatihan. Baca juga: Berdasarkan Luas Lahan,10 Bandara Ini Jadi Yang Terbesar di Dunia “Melaksanakan semua pekerjaan sekaligus merupakan tantangan terbesar bagi kami. Sementara kami meletakkan fondasi konstruksi, kami membuat tanah bergerak, merancang, membuat dan mobilisasi pada saat bersamaan. Setiap proses harus dilakukan dengan sangat cepat dan paralel. Tantangan lain di awal proyek adalah membuat seluruh tim bersama dalam waktu tiga bulan. Pada akhirnya saya pikir kita berhasil melewati semua tantangan ini,” Akçayoğlu mengakui. Diketahui konstruksi saat ini sedang dipercepat untuk memungkinkan pesawat pertama mendarat pada 26 Februari, pada hari ulang tahun Presiden Erdoğan yang ke 64.

Bandara Munich Gandeng Lufthansa Hadirkan Robot Humanoid Untuk Bantu Penumpang

Berbagai bandara di dunia, menghadirkan robot untuk membantu penumpang baik itu, untuk menemukan gerbang mereka, memberitahukan lokasi penumpang hingga memverifikasi data. Baru-baru ini di bandara Munich Jerman yang juga bekerjasama dengan Lufthansa menghadirkan robot humanoid. Robot ini mulai di uji coba pada 15 Februari 2018 kemarin di Terminal 2. Baca juga: Giliran Bandara Seattle Gunakan Jasa Robot Untuk Layani Calon Penumpang KabarPenumpang.com melansir dari laman airport-technology.com (16/2/2018), bahwa robot bernama Josie Pepper ini memiliki tinggi 120 cm atau 47 inci dan akan menjawab pertanyaan penumpang terkait petunjuk arah ke gate atau gerbang mereka hingga informasi mengenai restoran serta toko-toko yang ada di bandara. Josie diprogram untuk berbicara dengan penumpang menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa yang paling sering digunakan penumpang dari berbagai negara untuk memudahkan komunikasi. Josie Pepper akan hadir di terminal 2 dalam beberapa minggu kedepan dan akan menyambut para pelancong di jalan menuju pesawat yang menghubungkan terminal utama ke gedung satelit. Uji coba ini dilakukan untuk menunjukkan dan mendapatkan respon apakah Josie Pepper diterima oleh penumpang. Robot humanoid ini dikembangkan oleh perusahaan Perancis Softbank Robotics. Josie Pepper sendiri didukung teknologi kecerdasan buatan oleh IBW Watson Internet of Things (IoT) berbasis cloud. Otak yang ditanamkan pada robot humanoid tersebut dilengkapi dengan prosesor berkinerja tinggi dengan akses internet WLAN. Teknologi inilah yang menciptakan koneksi ke layanan cloud dimana ucapan penumpang di proses, ditafsirkan dan dihubungkan ke data bandara. Uniknya tipe robot ini berbicara bukan hanya mengirim teks yang sudah ditentukan sebelumnya, atau bisa dikatakan menjawab pertanyaan melalui suara atau ucapan. Sistem ini sendiri memiliki kemampuan untuk memperbaiki seiring berjalannya waktu dengan belajar dari pertanyaan dan informasi yang relevan dalam memberikan jawab lebih tepat. Baca juga: Sambut Olimpiade Musim Dingin, LG Hadirkan Dua Robot Canggih di Bandara Incheon Robot Josie Pepper ini seharga €19900 atau US$24600 atau sekitar Rp334 juta. Diketahui, robot semacam ini, sudah ada di beberapa bandara lainnya seperti di bandara Internasional Incheon Seoul, bandara Seattle dan beberapa bandara lainnya di dunia.

Jingle di Stasiun Kereta Jepang, Bangkitkan Semangat Penumpang

Musik jelas mampu mempengaruhi jiwa dan perasaan, seperti ketika mendengar sebuah lagu, perasaan lelah bisa dibangkitkan kembali menjadi semangat. Apalagi jika lagu atau musik yang di perdengarkan bukanlah buatan komputer melainkan permainan musik seorang komposer. Baca juga: Minimalisir Tenaga Manusia, Jepang Mulai Kembangkan Puluhan Robot di Stasiun Ya, bagaimana jika musik tersebut di dengar di sebuah stasiun kereta untuk memberitahukan sinyal keberangkatan kereta api? Jika Anda pernah ke Jepang dan naik kereta dari stasiunnya mungkin pernah mendengar sebuah jingle untuk keberangkatan kereta dengan nada yang menyenangkan. KabarPenumpang.com melansir dari laman abc.net.au (3/2/2018), jingle keberangkatan kereta ini di kenal sebagai hassha merodi atau melodi untuk keberangkatan kereta. Anehnya melodi jingle yang diputar setiap stasiun untuk keberangkatan kereta berbeda satu dengan yang lainnya.
Minoru Mukaiya dan melodi jingle kereta yang dihasilkan
Dari 50 stasiun kereta tersibuk di dunia, hampir semuanya berada di Jepang. Dengan jingle dan stasiun yang sibuk bisa membantu penumpang bergerak lebih cepat atau bisa dikatakan melodi ini menjadi trik psikologis. Hal tersebut dikatakan oleh seorang komposer bernama Minoru Mukaiya yang merupakan pembuat jingle lebih dari 100 stasiun kereta dii Jepang. “Ada sejumlah besar orang yang naik kereta api di wilayah metropolitan seperti Tokyo, Osaka dan Nagoya dan perlu untuk membuat orang terus-menerus dalam waktu singkat. Jadi ini membantu membuat antrian terorganisir saat kereta datang satu demi satu dalam waktu singkat. Saya pikir kereta di negara lain tidak sepadat kereta api di Jepang,” ujar Minoru. Adapun pembuatan jingle ini sebenarnya harus menghibur dan mudah didengarkan. Minoru mengatakan menggunakan lonceng untuk memastikan jingle mengguncang orang agar bertindak tanpa khawatir. https://youtu.be/AZekUO68_7k Kemudian sengaja dibuat untuk membiarkan orang yang menunggu dan kereta sudah datang membuatnya ingin naik dan masuk dalam kereta. Terakhir Minoru mengatakan, jingle yang baik bukanlah buatan komputer melainkan dibuat oleh tangan manusia sehingga tidak terlalu sempurna. Minoru sendiri diketahui sangat menyukai kereta, dia tidak hanya membuat jinggle tetapi mengelola Ongakukan yang merupakan sebuah perusahaan pencipta simulator kereta api realistis. Jingle sebuah stasiun kereta juga mengisahkan sebuah cerita. Seperti di stasiun Takadanobaba yang dianggap sebagai tempat kelahiran Astro Boy salah satu kartun anime Jepang pertama yang populer di Jepang. Kemudian ada Ebisu di barat Tokyo dan berada di pinggiran kota yang dinamai bir Yebisu. Baca juga: 5 Stasiun Tersibuk di Dunia, Semua Ada Di Jepang! Melodi jingle ini berasal dari tema iklannya, yakni sebuah lagu dari film noir tahun 1949 yang berjudul The Third Man. Terkadang bahkan sebuah perusahaan membeli hak atas jingle film seperti yang dilakukan Disney saat film Star Wars barunya keluar beberapa tahun lalu. Jingle di stasiun ini lebih ringan untuk sebuah negara yang menjalankan dan mengoperasikan kereta dengan sangat serius.

Siap Dikirim ke Indonesia, PT MRT Jakarta Lakukan Final Check Armada Kereta di Jepang

Direktur Utama PT MRT Jakarta, William Sabandar, dengan didampingi oleh Direktur  Konstruksi, Silvia  Halim, beserta  tim melakukan peninjauan dan menyaksikan uji coba Kereta MRT Jakarta di pabrik pembuatannya, Toyokawa Plant milik Nippon Sharyo, Jepang. Baca Juga: Upayakan SDM dan Manajemen Kelas Dunia, PT MRT Jakarta Rangkul MTR Academy Hong Kong Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari siaran pers (19/2/2018), peninjauan dan uji coba dilakukan sebagai bagian dari prosedur yang perlu dilakukan sebelum kereta dapat dikirim ke Jakarta. “Hal  penting yang  kami  periksa  adalah memastikan komponen-komponen dari kereta MRT Jakarta bekerja dengan baik sesuai dengan spesifikasi teknik yang dipersyaratkan,” jelas William Sabandar di sela-sela pengecekan kereta.
Sumber: PT MRTJ
“Kami juga mengecek dan menjajal langsung performa kereta di jalur (track)yang berada di area pabrik,” lanjut Dirut MRTJ tersebut. Dalam proses pengiriman kereta MRT Jakarta, direncanakan akan dimulai dari Pabrik Toyokawa Plant menuju Pelabuhan di Kota Toyohashi mulai Minggu depan dan selanjutnya akan diberangkatkan dengan menggunakan kapal laut pada tanggal 7 Maret 2018. Akan ada dua set rangkaian kereta yang dikirim pertama kali dan diperkirakan akan tiba di Pelabuhan  Tanjung Priok, Jakarta pada akhir Maret 2018. “Hasil tes  rangkaian  kereta  ke-1  dan  ke-2 memuaskan, seluruh fitur di dalam rangkaian kereta tersebut bekerja dengan dengan baik  sesuai  dengan  harapan dan  kami menekankan kepada Nippon Sharyo untuk tetap menjaga kualitas terbaik dalam produksi rangkaian kereta ke-3 dan selanjutnya,  karena aspek kualitas  dan safety dari kereta tersebut merupakan prioritas kami dalam  memberikan layanan kepada pelanggan MRT  Jakarta kelak pada saat beroperasi,” jelas William. Baca Juga: Kursi Penumpang MRT Jakarta Berbahan Plastik, Upps Jangan Kecewa Dulu! MRT Jakarta akan memiliki 16 set rangkaian kereta, dengan rincian satu set rangkaian kereta terdiri dari enam kereta. Kereta akan dioperasikan dengan menggunakan sistem operasi otomatis level dua (GoA 2)  dan sistem persinyalan Communication-based Train Control (CBTC) yang dikendalikan dari Operation Control Center (OCC).

Terminal 2 Bandara Soetta Diperluas, Mulai Juni 2018 Semua Penerbangan Rute Internasional Pindah ke Terminal 3

Sebagai hub internasional terbesar di Indonesia, sudah barang tentu banyak dinamika di seputaran Bandara Soekarno-Hatta (Soetta). Kabar terbaru dari bandara ini adalah rencana pemindahan semua penerbangan rute internasional ke Terminal 3 pada Juni 2018 mendatang. Baca juga: Tak Ada Pembagian Daerah, Angkasa Pura II Kini Kelola Bandara Banyuwangi Sampai saat ini Terminal 3 Bandara Soetta digunakan untuk melayani penerbangan domestik dan internasional dari Garuda Indonesia, sementara maskapai asing yang sudah menggunakan Termimal 3 adalah China Southern Airlines, Saudi Arabia Airlines, Vietnam Airlines, Korean Airlines, Xiamen Airlines dan China Airlines. Sementara masih ada beberapa maskapai asing yang kini masih beroperasi di Terminal 2 D, Terminal 2E dan Terminal 2F. “Semua penerbangan internasional yang kami miliki akan pindah ke Terminal 3 pada bulan Juni mendatang,” ujar Kepala Humas PT Angkasa Pura II Yado Yarismano. Yado menambahkan saat ini, setelah semua pengerjaan perluasan terminal selesai, maka terminal tersebut perlu di nilai oleh direktorat jenderal umum penerbangan sipil apakah sudah bisa melayani semua penerbangan internasional atau tidak. Tak hanya itu, nantinya Terminal 1 dan Terminal 2 akan dilakukan perubahan dengan memperluas agar mampu menampung 36 juta penumpang pertahunnya atau lebih banyak dua kali lipat dibanding sebelumnya. Proyek perluasan Terminal 1 dan Terminal 2 akan menelan biaya Rp3,2 triliun dan pengerjaannya akan di tawarkan ke para kontraktor. “Penawaran untuk Terminal 1 akan dimulai pada bulan Maret, sedangkan untuk Terminal 2 dimulai pada bulan Mei. Maka pekerjaan konstruksi pada tahap pertama akan dimulai lebih cepat,” ujar Direktur Utama AP II Muhammad Awaluddin. Awal mengatakan, perluasan dua terminal tersebut akan selesai pada 2019 mendatang. Baca juga: April 2017, PT Angkasa Pura II Mulai Groundbreaking Pembangunan Runway Ketiga Bandara Soekarno Hatta “Perombakan yang akan terjadi pada dua terminal ini tidak akan mengganggu operasi kami, karena akan dilakukan di beberapa bagian, sehingga terminal tetap melayani penumpang. Kami juga tidak akan mengubah arsitekturnya tetapi kami akan menambahkan lebih banyak ruang,” tambah Awaluddin. Diketahui, kini pihak AP II juga tengah bersiap untuk membangun Terminal 4 yang memiliki ukuran kapasitas seperti Terminal 3, bila tak ada aral melintang ground breeaking Terminal 4 akan dilakukan pada 2019 mendatang. .

Lama Tak Terpakai, Gerbong Tua Ini Disulap Jadi Kamar Hotel Mewah

Ketika mengingat gerbong kereta yang lama tak terpakai, teringat gerbong-gerbong yang bertumpuk di Purwakarta. Dimana stasiun kereta Purwakarta selain masih aktif melayani kereta api juga menjadi kuburan untuk gerbong-gerbong kereta tua dan tak lagi digunakan. Baca juga: Kuburan Tak Selalu Seram, Stasiun Purwakarta Saksinya Padahal, gerbong-gerbong tersebut mungkin saja masih bisa digunakan. Nah, KabarPenumpang.com mencoba merangkum dari berbagai sumber dimana gerbong-gerbong kereta api tua disulap menjadi sebuah hotel ataupun penginapan.
Ruang kamar di The Santos Express Train Lodge
Padahal biasanya sebuah hotel bertingkat, namun para pengusaha memiliki ide lain dengan merubah gerbong kereta menjadi sebuah hotel yang nyaman. The Santos Express Train Lodge, hotel ini menggunakan kereta tua yang diparkir tepat dipinggir pantai Santos, Kota Pelabuhan Mossel Bay, Southern Cape, Afrika Utara. Gerbong tua yang dijadikan hotel ini ada tujuh gerbong yang dibagi menjadi beberapa bagian. Empat gerbong pertama, dibuat menjadi kamar tidur tetapi kamar mandi ada di bagian luar kamar alias pelancong harus berbagi kamar mandi dengan tamu lainnya. Kemudian gerbong kelima dibuat menjadi tipe bangsal dengan tempat tidur tingkat atas bawah untuk pelancong dengan budget minim. Sedangkan dua gerbong terakhir dibuat menjadi suite yang dinamakan Royal Ladies.
Bangsal dan pemandangan di The Santos Express Train Lodge
Gerbong yang digunakan untuk suite Royal Ladies ini berasal dari tahun 1920 isi masing-masing gerbong tersebut ada dua suite yang luas. Karena hotel tersebut berada di pinggir pantai, maka pemandangannya pun pasir putih dan air laut berwarna biru yang cukup menenangkan. Jika pelancong bosan di kamar, bisa menikmati pantai dengan berjemur atau bermain air laut. Selain bisa menikmati pantai yang indah, restoran dalam hotel ini menyediakan menu-menu tradisional Afrika Selatan seperti boboti yang merupakan daging cincang dengan lumuran saus gurih dan minuman waterblommetjiebredie yang terbuat dari air rebusan bunga. Tarif untuk menginap di hotel ini cukup terangkau sehingga bisa menjadi tempat favorit pengunjung jika sedang berada di Souther Cape. Tak hanya di Afrika Selatan saja yang menjadikan gerbong tua sebagai hotel, sebuah stasiun tua di Allerston, North Yorkshire, Inggris menjadi tempat peristirahatan tiga gerbong tua. Stasiun ini bernama Wilton Stasion dan berganti nama menjadi Ebberston station pada tahun 1900an. Kemudian stasiun tua tersebut dikelola Mark dan Carol Benson menjadi sebuah penginapan dengan menyebutnya sebagai The Old Station.
The Old Stasion
Uniknya, The Old Stastion ini menggunakan tiga gerbong kereta tua yang ada di sana menjadi penginapan. Sebelumnya tiga gerbong tua ini saat masih beroperasi merupakan kelas satu dan masih memiliki dapur, tempat bersantai, dua hingga tiga kamar tidur, kamar mandi, pemanas, televisi dan pemilik penginapan melengkapinya dengan pemutar DVD. Baca juga: Jejak Sejarah Stasiun Medan, Sisakan Kenangan Menara Jam Antik Untuk membuat kesan tuanya, beberapa ciri dari interior gerbong kereta ini tetap asli dan di pertahankan. Sebab Carol dan Mark ingin pelancong yang menginap di kereta tersebut benar-benar merasakan suasana kereta. Penginapan yang sudah beroperasi sejak 22 tahun lalu ini menjadi salah satu tujuan wisata menarik. Tidak hanya bagi pelancong lokal melainkan mancanegara dari anak-anak hingga orang tua senang menghabiskan waktu di gerbong tua ini.

Tak Perlu Periksa Keamanan Lagi, Penumpang dari Singapura Bisa Melenggang Saat Transit di Bandara Schipol Amsterdam

Menjadi penumpang transit dalam melanjutkan penerbangan ke sebuah negara, biasanya harus melakukan pemeriksaan ulang keamanan sebelum berpindah penerbangan. Baru-baru ini, pelancong dari Singapura yang transit di bandara Schipol Amsterdam, Belanda tidak lagi harus melalui pemeriksaan keamanan saat transit. Baca juga: Demi Pembangunan Terminal 5, Bandara Changi Kutip Pajak Hingga S$15 Per Penumpang KabarPenumpang.com melansir dari laman straitstimes.com (6/2/2018), bahwa pihak Komisi Eropa mengatakan, tak hanya penumpang, barang bawaan mereka pun juga tidak diperiksa lagi sehingga memudahkan perpindahan. Hal ini bisa mengurangi stres penumpang dan kerumitan yang sering terjadi jika barang mereka kembali diperiksa. Pengaturan keamanan One-Stop dengan Singapura tersebut didasari adanya pengakuan peraturan skrining keamanan dan ini merupakan yang pertama antara Eropa dengan negara di Asia. Rencana ini secara progresif juga akan dilaksanakan pada bandara lain termasuk London dan Frankfurt yang masuk ke dalam skema tersebut. Adanya hubungan tersebut akan memperbaiki koneksi transfer yang dilakukan penumpang di bandara masing-masing. Selain itu untuk meningkatkan efisiensi operasi penerbangan dan bandara. Komisi Eropa dan Kementerian Perhubungan Singapura mengatakan dalam sebuah pernyataan bersama bahwa, hal tersebut akan memberikan keuntungan bagi pelancong udara, pelaku bisnis dan perusahaan penerbangan yang terbang dari Singapura menuju Eropa. Kemitraan ini menegaskan bahwa komitmen antara Singapura dan Eropa juga untuk memperkuat kerja sama internasional dalam meningkatkan kemanan penerbangan sipil serta fasilitas penumpang penerbangan dan bandara sesuai dengan standar internasional. Dengan kerja sama ini juga bisa menjadi satu hal yang baik untuk menjadi contoh bagaimana cara memperkuat peraturan kemanan penerbangan secara global dan berkontribusi pada keberlanjutan perjalanan udara sebagaimana disahkan oleh Organisasi Penerbangan Sipil Internasional. Kemitraan tersebut membutuhkan waktu sekitar dua tahun untuk mempererat dan mensahkannya dalam sebuah kesepakatan dan dilaksanakana di sela-sela Singapore Airshow 2018 di Changi Exhibition Center. Kesepakan tersebut ditandatangani oleh sekretaris Kementerian Perhubungan Singapura Long Ngai Seng bersama Dirjen Mobilitas dan Transportasi Komisi Eropa Henrik Hololei. Baca juga: Belanda Diterpa Cuaca Buruk, Bandara Schiphol Bakal Lebih Sepi di Akhir Tahun “Kesepakatan itu memperkuat keamanan penerbangan internasional sekaligus meningkatkan kualitas perjalanan penumpang dan mengurangi biaya untuk bandara dan maskapai penerbangan,” ujar Hololei. Selain dengan Singapura, Eropa juga sudah menyusun rencana yang sama dengan Amerika Serikat, Kanada dan Montenegro di Eropa Tenggara. Sementara dengan Israel dan Serbia, hal ini masih dalam pembicaraan kedua pihak.

1 April 2018, Tarif Tiket Taj Mahal Naik

Sebagai salah satu dari tujuh keajaiban dunia, Taj Mahal di India menjadi salah satu destinasi yang paling sering dikunjungi pelancong baik lokal maupun mancanegara. Kehadiran Taj Mahal memberikan warna dan arti sendiri bagi para pengunjungnya. Sebab, sebagai sebuah makam, Taj Mahal juga melambangkan simbol cinta jika merunut dari terbangunnya bangunan tersebut. Baca juga: Kabar Duka dari India, Aktor Muda Bollywood Tewas Setelah Terjatuh dari Peron KabarPenumpang.com melansir dari laman theweek.in (13/2/2018), mendapatkan kabar bahwa pada 1 April 2018 mendatang, pengunjung Taj Mahal harus mengeluarkan biaya lebih banyak untuk menikmati monumen cinta dengan lapisan marmer warna putih tersebut. Awalnya tiket masuk ke monumen cinta ini hanya Rs40 atau Rp8500 menjadi Rs50 atau Rp11 ribu. Sedangkan untuk pengunjung yang ingin masuk kedalam makam utama harus merogoh kocek tambahan Rs250 atau Rp53 ribu. Kenaikan tiket masuk Taj Mahal tersebut disampaikan oleh Menteri Kebudayaan India Mahes Sharma. “Kami ingin melestarikan Taj Mahal untuk generasi mendatang. Penelitian konservasi mengenai aspek ini sedang berlangsung di beberapa institut dan salah satu institut, NEERI (National Environmental Engineering Research Institute) telah menyarankan agar jumlah orang di dalam mausoleum utama perlu diatur. Saya mengadakan pertemuan dengan semua pemangku kepentingan dan untuk saat ini diputuskan untuk tidak membatasi jumlah orang,” kata Sharma. Tak hanya kenaikan tarif tiket, untuk waktu kunjungan para pengunjung pun tidak lagi bisa menghabiskan waktu sepanjang hari di Taj Mahal. Sharma mengatakan, para pengunjung hanya memiliki waktu maksimal tiga jam, jika melebihi waktu tersebut akan dikenakan biaya tambahan. Untuk memberikan pengalaman perjalanan yang lebih baik bagi para wisatawan, pemerintah berencana membangun koridor dari bandara ke Taj Mahal. Selain itu juga ada rencana pemerintah dimana akan membangun pusat pariwisata malam di lahan kosong seluas 20 hektar yang berdekatan dengan Yamuna di Agra. Sharma menambahkan, bahwa akan hadir sebuah museum Kumbh di Allahabad, Ram Experience Center di Ayodhya dan museum lainnya di Gorakhnath, Gorakhpur. Kementerian Kebudayaan India juga sedang mengerjakan sebuah museum untuk Subash Chandra Bose dan sebuah pusat pameran di IGNCA. “Kami percaya bahwa Subhash Chandra Bose belum menerima jenis kepentingan yang seharusnya dimiliki dan itulah mengapa kami memutuskan untuk membangun museum untuknya,” kata Sharma. Alokasi anggaran untuk Kementerian Kebudayaan India telah meningkat sekitar empat persen untuk tahun 2018-2019. Sharma menjelaskan bahwa pihaknya telah melakukan latihan besar pada 100 Monumen Adarsh, fasilitas e-ticketing di semua monumen, kemudian melakukan pemetaan budaya India, Rashtriya Sanskriti Mahotsav, Gangga Mahotsav, Olimpiade Teater ke-8, Festival India di atas kapal dan Digitisasi untuk mempopulerkan budaya India terutama di kalangan kaum muda. Alokasi anggaran ini juga digunakan untuk mengembangkan sepuluh lokasi wisata unggulan ke destinasi Iconic Tourism dengan membangun fasilitas kelas dunia. Situs ikonik tersebut yakni Taj Mahal dan Fatehpur Sikri, Agra (UP), Gua Ajanta dan Ellora, Aurangabad (Maharashtra), Benteng Merah, Makam Humayun, Qutb Minar dan Purana Qila (Delhi), kelompok kuil Khajuraho (Madhya Pradesh), Hampi kelompok monumen (Karnataka), Kuil Shore, Mahabalipuram (Tamil Nadu), Kuil Matahari, Konark (Odisha) dan Benteng Golkonda, Hyderabad (Telangana). Selain itu, pekerjaan konservasi dan perbaikan fasilitas sudah dilakukan di Lal Quila, Purana Qila dan Qutb Minar dalam kemitraan dengan pihak swasta. Interglobe, perusahaan induk di belakang maskapai Indigo, sedang bekerja di Lal Quila dan Yatra.com untuk  mengerjakan Qutb Minar. Sharma juga memberikan rincian tentang skema pemetaan budaya yang dilaksanakan dengan pengeluaran Rs490 crores selama tiga tahun ke depan di 622 Kabupaten. Baca juga: Chennai Mofussil, Terminal Bus Terbesar dengan Kapasitas 2.000 Bus Dalam hal ini, semua seniman di setiap sudut negara melakukan pendaftaran di portal pusat, dan melalui proses kompetitif mereka akan dibagi ke dalam berbagai kategori. Ini tidak hanya akan membantu memberikan bantuan kepada para seniman, namun juga akan membantu melestarikan seni dan kerajinan yang hampir menjadi naluri. Sharma menjelaskan, hampir satu crore artis seperti itu sudah terdaftar di portal tersebut.

Antisipasi Lonjakan Penumpang Saat Imlek, Bandara Macau Operasikan Terminal Ekstensi Baru

Peningkatan jumlah permintaan terhadap perjalanan udara yang terjadi belakangan ini memaksa sejumlah elemen terkait untuk mengimbanginya. Di beberapa negara, pemerintah setempat memutuskan untuk mendirikan sebuah bandara baru untuk mengimbangi tingginya permintaan perjalanan udara tersebut. Baca Juga: Di 2019, Cina Siap Operasikan Bandara Internasional Terbesar di Dunia! Tapi tidak sedikit pula yang memutuskan untuk melakukan ekstensi terminal agar mampu menampung jumlah penumpang dalam skala yang lebih besar, seperti contohnya Macau International Airport (MIA). Seperti yang dihimpun KabarPenumpang.com dari sejumlah laman sumber, adapun perluasan yang dilakukan oleh bandara berkode MFM ini ditujukan untuk mengantisipasi lonjakan penumpang yang diperkirakan bakal terjadi pada periode puncak Tahun Baru Imlek yang jatuh pada Jumat (16/2/2018). Secara otomatis, ekstensi seluas 14.000 meter persegi ini mencakup peningkatan kapasitas terminal, dimana sekarang bandara ini mampu mengakomodir sekitar 7,8 juta penumpang. Tidak hanya itu, perluasan ini juga mencakup penambahan sejumlah fasilitas, seperti boarding bridge biasa dan empat remote boarding bridge, boarding counter, hingga sistem penanganan bagasi teranyar. Hadirnya beberapa fasilitas penunjang pengoperasian bandara ini dipercaya mampu meningkatkan efisiensi dan pengalaman para penumpang. Di luar itu semua, sejumlah perangkat lain pun turut dipasangkan pada terminal ekstensi yang rampung pada petengahan Februari  2018 ini.
Salah satu sudut North Extension. Sumber: ggrasia.com
Untuk bagian interior, desain plafon dan lantai baru pun tak luput dari perhitungan pihak bandara. Desain yang simpel namun menonjolkan sisi kemewahan ini dimaksudkan untuk menciptakan nuansa nyaman dan kesan luas bagi siapapun yang menyambanginya. Dalam sebuah pernyataan resmi, pihak Macau International Airport mengutarakan bahwa diperkirakan volume penumpang harian melonjak melebihi angka 20.000 selama periode libur Tahun Baru Imlek. Angka tersebut juga dibarengi dengan peningkatan arus lalu lintas udara sebesar lima persen dari angka normal. Baca Juga: Bandara-Bandara Tertinggi di Dunia, Sebagian Besar Berada di Cina Guna mengimbangi perkiraan tersebut, pihak bandara mengatakan akan meningkatkan jumlah dari pos pengecekan dan memasok petugas di posko pengamanan lima persen lebih banyak dari hari biasa. Operator bandara ini menambahkan bahwa pengembangan North Extension ini telah mendapat dukungan penuh dari Macau Special Administrative Region (SAR).