Tidak Antar Penumpang, Moda Otonom Ini Ditugaskan Untuk Kirim Barang!

Siapa bilang moda otonom hanya diperuntukkan bagi penumpang yang hendak bepergian dari satu titik ke titik lainnya? Ternyata tidak semua lho! Ada beberapa moda otonom yang tersebar di seluruh belahan dunia yang ternyata ditugaskan untuk berperan sebagai kurir, baik itu moda darat maupun moda udara (drone). Baca Juga: Swiss Manfaatkan Drone Untuk Antar Sampel Laboratorium Untuk drone, sebuah perusahaan yangbergerak di bidang logistik, Swiss Post berencana untuk menghadirkan drone yang akan ditugaskan untuk mengantarkan sampel laboratorium dari satu rumah sakit ke rumah sakit lainnya. Kota Lugano dipilih sebagai lokasi uji coba teknologi masa depan ini. Matternet ditunjuk Swiss Post untuk menyediakan drone jenis quadcopter (drone dengan empat baling-baling) yang mampu menampung beban hingga 2kg, dengan kecepatan tempuh 36 km/jam. Tidak Swiss Post, salah satu raksasa dunia aviasi global, Airbus pun baru-baru ini menerbangkan sebuah Unmanned Aerial Vehicle (UAV) untuk pertama kalinya, dimana drone tersebut ditujukan untuk mengantar barang. Adalah Skyways, drone yang pertama kali diuji coba di National University of Singapore pada 8 Februari 2018 ini menuai respon positif dari para pengunjung yang datang di acara tersebut. Beralih ke moda darat, dimana dua orang insinyur yang pernah mengabdi kepada Waymo (anak perusahaan dari Google) mengembangkan  R1, moda darat yang ditujukan untuk mengantar pesanan online hingga dry cleaning. Dengan menganut sistem pengaplikasian yang sama dengan moda berbasis online, para pengguna nantinya cukup menentukan titik penjemputan dan destinasi pengantaran, dan R1 akan datang menjemput barang tersebut. Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman techradar.com (31/1/2018), moda otonom bertenaga listrik ini mampu menangkut beban hingga 20 kantong belanja dan bermanuver layaknya moda otonom terkemuka lainnya. Dengan bentuknya yang menyerupai kantong belanja berroda, menjadikan kendaraan ini mudah untuk dikenali. Baca Juga: YAPE, Robot Pengirim Barang Dengan Teknologi Pemindai Wajah Walaupun kehadirannya di pasar moda otonom terbilang cukup terlambat, namun misi yang diemban oleh Nuro dengan R1-nya ini memberikan warna baru di ranah tersebut. Jika tidak ada halangan, R1 akan mulai mengambil jatah di jalanan Amerika pada akhir tahun 2018 ini. Jika dibandingkan, nampaknya UAV yang berperan sebagai kurir akan lebih mudah diterima oleh pasar, mengingat rute yang dilalui bebas hambatan. Tidak seperti di jalur darat yang memaksa moda otonom untuk bersinggungan secara langsung dengan pengguna jalan lainnya, seperti kendaraan konvensional, pejalan kaki, hingga pesepeda. Belum lagi traffic light yang kerap kali menjadi sumber kemacetan di beberapa titik. Tapi kita tunggu saja perkembangan selanjutnya dari R1!

Kombinasi Teknologi dan Pemanfaatan SDM Jadi Kunci Turunnya Antrean di Bandara

Ada beberapa hal yang sangat membosankan ketika kita hendak bepergian menggunakan pesawat ke luar negeri, salah satunya mengantri di bagian imigrasi. Memang, penempatan pos pemeriksaan, counter check-in, bagian imigrasi, hingga ruang tunggu keberangkatan di setiap bandara berbeda antara satu dengan yang lainnya. Namun bagian imigrasi yang di kebanyakan bandara berada setelah counter check-in ini tak jarang menimbulkan masalah tersendiri, terutama terkait soal antrean. Baca Juga: TripIt, Aplikasi Pemantau Panjang Antrean di Konter Keamanan Bandara Jika kebetulan counter check-in dan bagian imigrasi sedang lengang, maka hal tesebut tidak jadi masalah. Namun bagaimana jika kedua pos ini tengah ramai sehingga memaksa Anda untuk mengantre, di sinilah letak masalah sesungguhnya. Waktu mengantre yang Anda buang begitu saja sebenarnya dapat dipergunakan untuk hal lain yang lebih bermanfaat, seperti mengisi ulang daya gadget, dan lain-lain. Tapi seiring berjalanannya waktu, masalah seperti ini perlahan bisa dientaskan. Hadirnya solusi berupa pemanfaatan smartphone pelancong untuk menangangi masalah ini tidak lepas dari perkembangan teknologi yang belakangan ini melesat pesat dan mengambil peranan penting di dunia aviasi global. Seperti yang sudah diberitakan sebelumnya, bahwa ada banyak perkembangan di sektor teknologi yang mengambil peranan penting dalam evolusi layanan penumpang di bandara, sebut saja seperti teknologi face recognizing yang dapat mengambil data pelacong cukup hanya dengan memindai wajahnya saja. Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman independent.co.uk, menyebutkan bahwa beberapa bandara di Inggris seperti bandara Birmingham, Bristol, Manchester, dan Edinburgh dapat melacak keberadaan pengunjung yang ada di dalam bandara dengan mendeteksi koneksi Bluetooth dan WiFi yang tersambung. Pelacakan ini dilakukan tanpa sepengetahuan si pemilik gadget dan tidak menginterupsi aktifitas dunia maya yang tengah dilakukan olehnya. Tanpa ‘mencomot’ identitas sang pemilik gadget, teknologi ini dinilai ampuh untuk memangkas estimasi antrean yang selama ini menjadi momok tersendiri bagi para penumpang. Nantinya, petugas bandara akan menghampiri penumpang yang dijadwalkan untuk mengurus imigrasi dan membuka jalur khusus bagi mereka. “Dengan meningkatnya jumlah penumpang di bandara, ditambah dengan keterbatasan kapasitas, kebutuhan akan wawasan tentang aspek operasi untuk mengoptimalkan dan membuat keputusan yang tepat, semakin dibutuhkan sekarang,” tulis BLIP, perusahaan penyedia teknologi pelacakan penumpang di bandara, dalam laman resminya. Baca Juga: Ada Guratan “Abu-Abu” Pada Sistem Pemindai Wajah di Bandara “Dengan BlipTrack yang memberikan visibilitas pada keefektifan sumber daya, bandara sekarang dapat memanfaatkan apa saja yang tersedia, seperti mengoptimalkan efisiensi pemrosesan, meningkatkan pendapatan dan meningkatkan pengalaman penumpang,” tambahnya. Sederhananya, kombinasi ketersediaan teknologi dan mengoptimalkan sumber daya yang ada merupakan kunci dari upaya untuk memangkas antrean di bandara ini.

Perkeretaapian India Siap Tinjau Kebijakan ‘Pay and Use’ Pada Toilet Stasiun

Hadirnya toilet di sarana dan pra-sarana transportasi memang dapat meningkatkan kualitas dan pelayanan kepada para penggunanya. Khusus untuk kehadiran toilet di pra-sarana transportasi seperti stasiun kereta api, dapat menunjang kesejahteraan warga yang tinggal di sekitarnya. Ambil contoh di India, dimana setiap rumah tercatat belum memiliki bilik sanitasi yang sesuai standar, bahkan beberapa di antaranya belum ada yang memiliki bilik sanitasi ini. Baca Juga: Kementerian Kereta Api India Janji Sulap Gerbong Lama Jadi Lebih Modern Terkait dengan hal ini, Dewan Perkeretaapian India merancang sebuah proposal dimana para pengguna toilet di stasiun dalam waktu dekat ini bisa menikmati bilik sanitasi dengan harga yang lebih murah atau bahkan gratis di stasiun kecil. Dilansir KabarPenumpang.com dari laman indiatimes.com (12/2/2018), kebijakan ‘pay and use’ yang hingga saat ini masih berlaku memungkinkan para kontraktor yang membangun fasilitas toilet untuk membenahinya dengan dana yang mereka peroleh, walaupun pembenahan tersebut menggunakan harga yang ada di pasar. Dengan adanya kebijakan baru tersebut, Divisional Railway Managers (DRM) telah diberi wewenang untuk memutuskan apakah mereka ingin toiletnya dibayar atau publik dapat menggunakannya secara bebas tanpa biaya. “DRM diberdayakan untuk membuat penilaian spesifik lokasi untuk memutuskan apakah konstruksi, operasi, pemeliharaan gaji dan penggunaan toilet harus diambil sebagai ‘kontrak produktif’ atau kontrak layanan,” tulis DRM dalam sebuah keterangan tertulis. Kontrak layanan yang dimaksud di sini adalah toilet akan bebas biaya penggunaan. Di sisi lain, seorang pejabat senior perkeretaapian India mengatakan bahwa para kontraktor harus mempertimbangkan pemberlakuan kebijakan ‘pay and use’. Pasalnya, sebagian toilet yang berada di daerah pedesaan berada dalam kondisi yang tidak layak pakai. Baca Juga: Sulap Bus Reyot, Ecotact Hadirkan Bus Toilet Berfasilitas Lengkap! “Di banyak daerah, khususnya di stasiun-stasiun kecil, orang-orang enggan untuk membayar toilet dan lebih memilih untuk buang air di luar,” petik pejabat senior perkeretaapian India tersebut. “Sekarang, DRM dapat memutuskan toilet mana saja yang akan memberlakukan sistem ‘pay and use’ dan mana yang tidak, bergantung pada kelaikan toilet itu sendiri,” imbuhnya. Tidak hanya itu, DRM juga kini dapat memutuskan berapa banyak toilet yang sekiranya harus di bangun, khususnya di stasiun-stasiun yang masih belum memiliki bilik sanitasi yang memadai. “Kebijakan ini akan ditinjau dalam waktu satu bulan ke depan,” tambah sang pejabat.

Rilis Lokomotif Listrik Baru, Bombardier Langsung Teken Kontrak Bersama Mercitalia Rail

Perusahaan kedirgantaraan dan transportasi multinasional yang berbasis di Montreal, Quebec, Kanada, Bombardier baru saja merilis salah satu mahakaryanya yaitu sebuah lokomotif listrik bernama Bombardier Traxx DC3. Lokomotif anyar dengan segala fitur modern yang tersemat ini ternyata langsung menarik hati beberapa perusahaan, dan salah satu yang paling menunjukkan keseriusannya untuk menimang Traxx DC3 ini adalah operator angkutan barang nomor wahid di Italia, Mercitalia Rail. Baca Juga: Whoosh! Inilah Lima Kereta Tercepat di Dunia, Proyek di Indonesia Ada di Peringkat Berapa Ya? Dikutip KabarPenumpang.com dari laman globenewswire.com (21/12/2018), keseriusan Mercitalia Rail untuk memiliki lokomotif listrik terbaru dari Bombardier ini ditunjukkan dengan cara menandatangani kontrak pembelian 40 unit Bombardier Traxx DC3. Tidak berhenti sampai di situ, Mercitalia Rail juga menjalin kerja sama dengan Bombardier untuk pemeliharaan armada selama 16 tahun yang akan dilakukan oleh divisi Bombardier Transportation Italy’s Services. Jika ditelisik, nominal keseluruhan kerja sama yang dilakukan oleh kedua belah pihak mencapai angka US$249 juta atau yang setara dengan Rp 3,4 triliun kurs sekarang. Harga tersebut mencakup opsi 20 lokomotif tambahan dan layanan pemeliharaan, serta pilihan untuk perawatan delapan tahun tambahan di seluruh armada. Dijadwalkan, pengiriman lokomotif akan dimulai pada kuartal ke VI 2018. “Kami bangga bahwa Mercitalia Rail, pemimpin pasar di sektor angkutan barang di Italia, telah memilih lokomotif TRAXX DC3 untuk memodernisasi armadanya, dan akan menjadi pelanggan pertama yang mendapatkan keuntungan dari produk inovatif ini,” ucap Luigi Corradi selaku Chief Country Representative Italy Bombardier Transportation. Baca Juga: Joseph Armand Bombardier – Ketika Minat, Bakat, dan Kegigihan Membuahkan Hasil Manis “TRAXX DC3 merupakan lokomotif DC paling mutakhir di Eropa. Kontrak kerja sama 16 tahun bersama Mercitalia Rail, yang dikelola oleh divisi layanan kami di Italia akan memastikan ketersediaan armada operasional yang superior,” lanjutnya. Guna menjamin kelancaran dari TRAXX DC3 yang dipesan oleh Mercitalia Rail, pihak Bombardier lalu melakukan uji coba terhadap lokomotif listrik tersebut pada Senin (12/2/2018) kemarin. Sejumlah lokomotif baru ini digiring keluar dari pabrik perusahaan yang berada di Vado Ligure, dekat Genoa menuju pusat uji coba Osmannoro Trenitalia di dekat Florence. Dikutip dari sumber  lain, adapun lokomotif ini akan melewati uji statis dan dinamis.

Seorang Desainer Industri Rancang Halte Bus yang Dilengkapi Pengisian Daya EV Nirkabel!

Merambaknya pengadaan bus listrik belakangan ini membuat sejumlah kalangan berusaha untuk menyajikan beragam inovasi yang dapat menunjang pengoperasiannya di kehidupan sehari-hari. Ya, kendaraan berbasis tenaga listrik memang tengah naik daun, pasalnya moda ini digalang-galang dapat meminimalisir polusi udara. Walaupun menggunakan tenaga listrik untuk mengoperasikannya, namun kinerja kendaraan yang akrab disebut Electric Vehicle (EV) ini nyatanya mampu bersaing dengan kendaraan konvensional. Baca Juga: Pertama di Dunia! Cina Perkenalkan Halte Bus Cetak 3D dari Bahan Daur Ulang Nah, layaknya kendaraan konvensional yang membutuhkan kehadiran pom bensin untuk mengisi ulang bahan bakar mereka, moda berbasis tenaga listik pun membutuhkan stasiun pengisian daya sendiri. Beberapa di antara stasiun pengisian daya ini masih menggunakan metode kabel dimana bus akan berhenti di bawah titik pengisian dan kabel tersebut akan mengalirkan sejumlah daya. Namun apa jadinya jika stasiun pengisian daya tersebut menggunakan sistem nirkabel untuk mengisi ulang daya? Seperti yang diwartakan KabarPenumpang.com dari sejumlah laman sumber, seorang perancang industri bernama Gavin Harvey merancang sebuah tempat perberhentian bus (halte) yang dilengkapi dengan teknologi pengisian daya listrik nirkabel untuk bus. Hal tesebut tentu saja memancing beragam komentar positif dari berbagai penjuru dunia yang mengetahui rencana pengadaan halte futuristik ini. Walaupun ini masih sebatas rencana, namun pengadaan stasiun pengisian daya nirkabel ini dipercaya sebagai tolak ukur kemajuan teknologi di era modern seperti sekarang ini. Tidak hanya mampu mengisi ulang daya saja, stasiun ini juga dapat digunakan oleh para penumpang untuk menunggu bus. Di dalamnya, Anda dapat melakukan pengisian ulang daya gadget dan laptop Anda. Baca Juga: North Carolina Canangkan Halte Bus dengan Tenaga Surya Gavin menilai stasiun pengisian daya ini merupakan penyederhanaan kinerja logistik infrastuktur sarana transportasi umum di masa yang akan datang. Adapun stasiun pengisian daya yang diadaptasi oleh Gavin ini merupakan pengembangan teknologi wireless dari WiCity Technology. Belum ada rincian spesifik mengenai rencana lebih lanjut tentang pembangunan stasiun pengisian daya EV ini, namun kehadirannya di masa yang akan datang diprediksi mampu mengefisiensikan waktu pemberhentian  yang dilakukan oleh bus ketika ‘menjaring’ penumpang di halte.

Berbagi Pasar dengan Dunia Penerbangan, Eurostar Rilis Layanan Kereta Cepat London-Amsterdam

Masih ingatkah Anda dengan janji yang pernah diutarakan oleh Eurostar pada bulan April 2017 silam? Ya, operator layanan kereta cepat yang menghubungkan London dengan kota-kota lain di luar Tanah Britania ini baru saja memenuhi janjinya pada waktu itu, yaitu membuka rute London – Amsterdam. Baca Juga: Pengalaman Penumpang Jadi Penentu Pertumbuhan Layanan Kereta Cepat Ibukota Belanda ini sendiri digalang-galang sebagai salah satu destinasi tercantik di Eropa yang memiliki berbagai atraksi wisata menarik dengan museum-museum terbaik. Tidak hanya itu, deretan kanal cantik hingga gemerlap kehidupan malamnya yang disebut-sebut mampu menyaingi indahnya kehidupan malam di Berlin. Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari sejumlah laman sumber, kereta yang akan menghubungkan London dan Amsterdam ini membutuhkan waktu tiga  jam 41 menit untuk menghubungkan dua Ibukota beda negara ini. “Peluncuran layanan kami ke Belanda merupakan kemajuan yang cukup signifikan dalam perjalanan lintas Channel dan menandai era baru di tingkat internasional,” tutur Chief Executive Eurostar, Nicolas Petrovic, dikutip dari laman independent.co.uk (9/2/2018). “Dengan layanan langsung dari Inggris ke Belanda, Prancis dan Belgia, kami mengubah hubungan antara Inggris dan tiga negara perdagangan utama Eropa,” imbuhnya. Di sisi lain, Nicolas menambahkan  bahwa  hadirnya layanan kereta London – Amsterdam ini merupakan upaya yang dilakukan oleh operator moda darat untuk ‘membagi’ pasar yang sebelumnya didominasi oleh jalur udara. “Kami akan mengambil sedikit pangsa pasar dari perusahaan penerbangan, tapi kami akan menumbuhkan pasar tersebut,” jelasnya. Tidak bisa dipungkiri, rute penerbangan London – Amsterdam merupakan salah satu rute paling ‘gemuk’ di Zona Eropa. “Sekitar 17 penerbangan yang menghubungkan dua kota ini setiap harinya,” tutur salah satu juru bicara dari British Airways. “Kami mengangkut sekitar 1,98 juta penumpang per tahun, dengan tarif yang cukup terjangkau, mulai dari £29,99 untuk sekali perjalanan,” timbal seorang juru bicara dari pihak maskapai EasyJet. Baca Juga: Serba-Serbi Channel Tunnel, Terowongan Rel Terpanjang Kedua di Dunia Di lain pihak, operator layanan Channel Tunnel mengatakan bahwa terhubungnya London dan Amsterdam akan mengubah sistem perjalanan dan meningkatkan ekspansi pasar di antara dua kota tersebut. Bagi Anda yang penasaran  dengan layanan baru ini, tiket mulai diperjualbelikan terhitung per tanggal 20 Februari 2018 untuk perjalanan di hari yang sama dengan kereta khusus promo. Tertarik untuk menjajal layanan baru ini?

Terjadi Kecelakaan, 20 Lebih Penerbangan di Bandara Heathrow London Tertunda

Kecelakaan serius terjadi di bandara Heathrow London, Rabu (14/2/2018) kemarin, di terminal lima yang melibatkan dua orang anggota staf dan satu diantaranya meninggal dunia serta lainnya patah tulang. Kejadian ini terjadi sekitar pukul 06.00 pagi waktu setempat dimana melibatkan dua kendaraan operasional. Baca juga: Qatar Airways, KLM dan Bandara Heathrow Sabet Penghargaan di Future Travel Experience Awards Adanya kecelakaan ini memuat penundaan hingga dua jam pada lebih dari 20 penerbangan termasuk British Airways. KabarPenumpang.com melansir dari laman dailymail.co.uk (14/2/2018), penumpang mengeluhkan kebingungan dan penundaan yang terjadi pada pesawat mereka di bandara Heathrow London. Karena kecelakaan ini, pihak bandara memanggil polisi dan Ambulance Service untuk menolong para korban. Dimana satu orang staf korban kecelakaan tersebut mengalami patah tulang bahu dan seorang petugas berusia 40 tahun yang dibawa kerumah sakit mengalami luka serius dan tidak tertolong.
Dua kendaraan yang bertabrakan di bandara Heathrow London (Dailymail)
“Kami memastikan setelah terjadi kecelakaan serius yang melibatkan dua kendaraan di lapangan terbang kami, satu rekan bandara meninggal dunia. Dukacita terdalam kami pergi ke keluarga dan teman-teman yang terkena dampak kecelakaan ini. Kami akan sepenuhnya bekerja sama dengan Polisi dalam penyelidikan yang akan menyusul,” ujar juru bicara bnadara Heathrow. Sedangkan juru bicara British Airway mengatakan, pihaknya sangat sedih dengan kejadian tragis ini dan menawarkan untuk pembiayaan perawatan penuh serta dukungan untuk keluarga korban. “Kami telah meminta maaf kepada pelanggan atas penundaan sejumlah kecil penerbangan kami pagi ini, menyusul sebuah insiden yang melibatkan dua kendaraan operasional di bandara tersebut. Kami melakukan semua yang kami bisa untuk memastikan mereka dapat segera berangkat sesegera mungkin,” ujar juru bicara BA. Atas insiden ini, pihak bandara mengonfirmasi kejadian tersebut di Twitter dan mengatakan mungkin ada penundaan. Adanya tweet dari pihak bandara membuat salah seorang bercuit di akun Twitternya, “Rupanya telah terjadi kecelakaan di salah satu landasan pacu di @HeathrowAirport dan banyak pesawat (termasuk yang satu ini) diparkir di landasan dengan penundaan jam yang tidak ditentukan.” Baca juga: Ceroboh, Pramugari Ini Jatuh ke Tarmak dan Alami Patah Tulang Sedangkan seorang penumpang penerbangan Zurich mengatakan, para penumpang naik dan menunggu, kemudian kapten pesawat meminta maaf dan menunda pengumuman lanjutan. “Sepertinya beberapa staf bandara atau maskapai penerbangan mungkin terluka dan polisi meminta sebuah area ditutup sehingga mencegah beberapa pesawat meninggalkan gerbang mereka,” ujar penumpang tersebut.

Dinilai Punya Kinerja Terbaik, Sejumlah Kontraktor MRT Jakarta Raih SHES Award 2018

Suksesnya pencapaian proyek MRT Jakarta fase I yang telah mencapai 91 persen, sudah barang tentu tak terlepas dari dukungan para kontraktor. Dan sebagai wujud apresiasi, hari ini (15/2/2018), PT MRT Jakarta memberikan penghargaan terkait Safety, Health, Environment, Security (SHES) Award 2018 kepada kontraktor proyek MRT Jakarta. Baca juga: Upayakan SDM dan Manajemen Kelas Dunia, PT MRT Jakarta Rangkul MTR Academy Hong Kong Ajang penghargaan SHES Award 2018 ini terbagi menjadi lima kategori penerapan SHES, yaitu Di Atas Empat Juta manhour, Tanpa Kecelakaan; Subkontraktor Terbaik; Karyawan Terbaik; Improvement SHES Terbaik, dan Kontraktor Terbaik. “Masing-masing kategori memiliki kriteriapenilaian yang didasarkan pada aspek-aspek SHES yang diterapkan di proyek ini, seperti berhasil untuk meningkatkan sistem manajemen kesehatan, lingkungan, dan keselamatan kerja atau berkontribusi aktif pada Program Identifikasi Bahaya, termasuk melakukan langkah-langkah mitigasi risiko di area kerja,” ungkap Direktur Utama PT MRT Jakarta, William Sabandar dalam siaran pers. “Perusahaan terus memutakhirkan strategi dan program-program yang terkait dengan aspek SHES setiap tahunnya, menyesuaikan perkembangan terbaru di bidang SHES yang berlaku secara internasional,” lanjutnya. Sebagai kontraktor terbaik adalah Sumitomo-Mitsui-Hutama Karya (SMCC-HK) dan SHES Imrovement terbaik adalah Tokyu-Wika Joint Operation (TWJO). Sementara kontraktor yang meraih empat juta jam kerja tanpa kecelakaan adalah Shimizu-Obayashi-Wijaya Karya-Jaya Konstruksi Joint Venture (SOWJJV) telah mencapai 4.494.320 jam kerja.

Demi Bantu Cucu dan Nenek Ini, Operator Kereta Rusia Berlakukan Pemberhentian Khusus

Masih ingatkah Anda tentang sebuah stasiun kereta kecil di Jepang yang hanya melayani seorang penumpang saja? Ya, Stasiun Kami-Shirataki yang terletak di Engaru, Hokkaido ini memperpanjang masa operasinya hanya demi menjemput dan mengantarkan seorang gadis yang masih duduk di bangku sekolah menengah atas. Entah kebetulan atau bukan, stasiun yang berada di bawah kendali JR Hokkaido ini akhirnya resmi ditutup tidak lama setelah gadis ini menyelesaikan masa pendidikannya. Baca Juga: Stasiun Kereta Ini Khusus Layani Seorang Gadis SMA Untuk Bersekolah, Salut! Nah, ternyata hal seperti ini  tidak hanya terjadi di Jepang lho! Di Rusia, ada layanan kereta api yang hanya melayani dua orang penumpang saja. Adalah Karina Kozlova, seorang gadis berusia 14 tahun dan neneknya, Natalia Kozlova yang tinggal di wilayah terpencil bernama Poyakonda ini setiap harinya ‘dilayani’ oleh kereta api jarak jauh Saint Petersburg – Murmansk baru-baru ini. Seperti yang dilansir KabarPenumpang.com dari berbagai  laman sumber, surat kabar setempat mengabarkan bahwa operator kereta yang mengoperasikan rute ini sudah mulai memberlakukan pemberhentian di Stasiun Poyakonda hanya untuk memberikan tumpangan kepada cucu dan nenek Kuzlova ini. Kurang lebih sudah 10 tahun cucu dan nenek Kuzlova ini diantar-jemput oleh kereta lokal yang mengular di jalur utama Rusia ini. Sedikit berbeda dengan yang ada di Jepang, kereta lokal ini sebelumnya hanya berhenti di Stasiun Poyakonda dua kali sehari hanya untuk mengantar jemput para pegawai kereta api yang kebetulan tinggal di daerah sana. Mau tidak mau, Karina dan Natalia lah yang harus menyesuaikan diri dengan jadwal yang sudah berlaku sebelumnya. Mereka akan dijemput pada pukul 06.30 waktu setempat, dan akan diantarkan pulang oleh kereta yang  berangkat pada pukul 19.10 waktu setempat. “Kira-kira sampai rumah sekitar pukul 21.00,” ujar mereka. Mengingat kereta lokal ini hanya melintasi wilayah Poyakonda selama dua kali dalam sehari, maka mau tidak mau Karina dan Natalia menghabiskan lebih dari setengah hari mereka di luar rumah. Natalia yang merupakan pensiunan guru TK ini melakukan perjalanan panjang setiap harinya hanya demi mengantar jemput cucu kesayangannya dan anak-anak lain di wilayah Poyakonda. “Dulu, setiap pagi, saya menunggu anak-anak lain di kedai desa lalu berjalan sekitar 1 kilometer untuk tiba di Stasiun Poyakonda,” ujar Natalia. “Sepulang sekolah, saya bersama cucu dan anak-anak lain menempuh perjalanan jauh untuk pulang ke Poyakonda,”imbuh Natalia, dikutip dari laman bbc.com (9/2/2018). Baca Juga: Unik! Berangkat Lebih Awal, Operator Kereta di Jepang Justru Meminta Maaf Kepada Penumpang Namun, entah bagaimana cerita perjuangan Karina dan Natalia ini bisa sampai tersebar luas, sehingga operator kereta jarak jauh yang menghubungkan Saint Petersburg – Murmansk ini memutuskan untuk menambah titik pemberhentian kereta, yaitu di Stasiun Poyakonda hanya untuk melayani duo cucu dan nenek ini. Dengan diberlakukannya peraturan baru ini, Karina dan Natalia tidak perlu lagi menunggu hingga matahari terbenam untuk pulang ke rumah.

Insiden Landing Gear Boeing 737-800 SpiceJet, Drama Pendaratan Darurat Yang Dramatis!

Tidak ada seorang pun yang mengharapkan proses lepas landas tidak berjalan dengan mulus, begitupun dengan penumpang yang berada di dalam pesawat Boeing 737-800 maskapai SpiceJet beberapa waktu yang lalu. Sebanyak 199 penumpang yang berada di dalam Low Cost Carrier (LCC) asal India ini harus berbesar hati menyaksikan secara langsung dua drama yang sarat akan adrenalin dari dalam pesawat. Tak ayal, nuansa perjalanan yang menyenangkan pun sontak berubah menjadi mencekam. Baca Juga: Bermasalah di Mesin, Airbus A330 China Eastern Terpaksa Return to Base Berdasarkan lansiran yang dikutip KabarPenumpang.com dari sejumlah laman sumber, maskapai SpiceJet yang hendak lepas landas dari Bandara Internasional Chennai pada Kamis (8/2/2018) siang mengalami masalah pada landing gear mereka. Sayangnya, masalah pada perangkat utama pendaratan ini baru terdeteksi ketika pesawat sudah berjalan di landas pacu. Pilot maskapai ini pun baru mengetahui ada masalah pada landing gear ketika pihak Air Traffic Controller (ATC) berusaha menghubungi mereka melalui jaringan telekomunikasi. Namun tidak ada istilah ‘batal mengudara’ ketika pesawat sudah menyentuh landas pacu, terlebih ketika pesawat sudah memacu penuh tenaga pendorongnya. Alhasil, drama pertama pun dimulai ketika maskapai SpiceJet ini mengudara dengan kondisi landing gear yang rusak. Berdasarkan pantauan petugas ATC Bandara Internasional Chennai, mereka melihat kepulan api yang melahap ban belakang dari armada SpiceJet ini ketika pesawat hendak lepas landas. Beberapa saat setelah pesawat meninggalkan daratan, ban kanan belakang yang berapi-api tersebut pun meledak. Imbasnya, cairan hidrolik yang tersimpan dekat dengan ban ini membanjiri landas pacu utama bandara tersibuk ketiga di India ini. Pilot SpiceJet yang tiada henti berkomunikasi dengan pihak ATC terus berusaha untuk mendaratkan pesawat yang berada dalam kondisi tidak prima tersebut. Opsi pertama pesawat bisa mendarat di Bandara Vijayawada, namun sayangnya bandara tersebut tidak memiliki fasilitas pendaratan darurat yang memadai. Akhirnya pihak ATC Bandara Internasional Chennai memerintahkan maskapai SpiceJet yang tengah bermasalah tersebut untuk return to base ke landas pacu Chennai. Setelah mendapat lampu hijau dari petugas ATC, pilot lalu melakukan pendaratan darurat di landas pacu Bandara Chennai. Kendati maskapai SpiceJet tersebut mengalami pecah ban, namun pilot tetap bisa mendaratkan pesawat dengan selamat. Kondisi ban yang sudah tidak terlindung karet ini membuat landas pacu tersebut rusak. Walaupun sudah melewati dua drama menegangkan dalam penerbangan gagal tersebut, namun keseluruhan penumpang dan awak kabin SpiceJet selamat. Baca Juga: Bird Strike Paksa AirAsia QZ104 ‘Return to Base’ di Bandara Kualanamu Alhasil, pihak bandara harus menutup sementara proses penerbangan dan pendaratan hingga pukul 18.45 waktu setempat. Sejumlah maskapai yang dijadwalkan berangkat pada rentang waktu tersebut pun terpaksa mengalami keterlambatan penerbangan. Drama lain kembali muncul ketika pihak ATC Bandara Internasional Chennai menerima laporan dari sebuah pesawat kargo asal Ethiopia yang meminta ijin untuk melakukan pendaratan darurat dikarenakan bahan bakar mereka hampir habis. Padahal landas pacu bandara tersebut masih ditutup karena kerusakan yang terjadi akibat pendaratan darurat maskapai SpiceJet. Setelah melakukan beragam pertimbangan, akhirnya petugas ATC Chennai mengijinkan pesawat kargo tersebut untuk melakukan pendaratan darurat di landas pacu kedua mereka.