Sering Lihat Simbol dan Deret Angka Ini di Stasiun? Inilah Arti Sebenarnya!

Dunia perkeretaapian memang selalu punya sisi yang menarik untuk dibahas. Khususnya di dalam negeri, pembahasan menarik tidak melulu berkutat pada perubahan signifikan yang terjadi pada layanan yang digawangi oleh PT KAI saja, melainkan faktor penunjang pengoperasiannya pun memiliki nilai estetika sendiri untuk diperbincangkan. Mari tinggalkan si ular besi untuk sementara waktu dan beralih pada infrastruktur pelengkap yang ada di dalamnya. Baca Juga: Sering Terlupakan, Tactile Paving Penting Sebagai “Pemandu” Kaum Difabel Jika diperhatikan, setiap stasiun memiliki sebuah plang yang bertuliskan nama stasiun, lengkap dengan susunan angka yang tertulis pada media yang sama. Mungkin sebagian dari Anda bertanya-tanya, “Apa sih makna dari angka-angka tersebut?”. Tidak menutup kemungkinan, beberapa dari Anda akan menerka bahwa angka-angka tersebut merupakan luas bangunan si stasiun, atau akumulasi lebar rel yang ada di stasiun tersebut. Sayangnya, semua tebakan di atas tidak sesuai dengan makna sesungguhnya dari angka-angka tersebut. Sebagaimana yang dihimpun KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber, makna tersirat dari penomoran tersebut adalah menunjukkan ketinggian stasiun dari permukaan laut. Ambil contoh Stasiun Bandung  ±709, itu menandakan bahwa stasiun yang berlokasi di pusat kota tersebut berada di ketinggian kurang lebih 709 meter di atas permukaan laut (mdpl). Contoh lain adalah Stasiun Surabaya Gubeng +5M yang menandakan bahwa stasiun tersebut berada di ketinggian 5 mdpl, dan seterusnya. Simbol yang berada di depan angka juga beragam, ada (+) yang menandakan di atas permukaan laut, (-) yang menandakan di bawah permukaan laut, ada juga (±) yang menandakan kisaran atau kurang lebih. Baca Juga: Apa Arti Nomor di Ujung Landas Pacu, Cari Tahu di Sini! Hadirnya angka-angka tersebut tidak hanya menandakan ketinggian stasiun, melainkan juga untuk menginformasikan masinis, apakah jalur yang ia lewati tersebut cenderung menanjak atau menurun. Salah satu laman sumber, TribunSolo.com, menyebutkan bahwa rambu tersebut juga bisa membantu masinis untuk menentukan penggunaan lokomotif yang sesuai dan juga muatan yang tepat. Apabila ketinggian hanya berkisar angka minim, maka lokomotif yang digunakan bukanlah lokomotif bertransmisi elektrik, dikarenakan loko jenis ini mudah mengalami korsleting. Sedangkan jika angka penanda tersebut cukup tinggi, maka lokomotif yang digunakan juga harus disesuaikan kapasitasnya yaitu yang kuat di tanjakan. Biasanya, alat yang digunakan untuk mengukur ketinggian sebuah stasiun adalah teodolit atau sekstan.

Mulai 29 Januari 2018, Garuda Indonesia Layani Rute Denpasar – Zhengzhou dan Denpasar – Xi’an

Sesuai pernyataan yang disampaikan Direktur Utama Garuda Indonesia, Pahala N Mansury pada penutupan akhir tahun 2017 lalu, maskapai plat merah ini telah mencanangkan untuk membuka 30 rute penerbangan baru di tahun 2018, yang sepertiganya adalah rute baru untuk penerbangan internasional. Dan tak lama setelah pergantian tahun, Garuda Indonesia Sabtu kemarin (6/1/2018) resmi mengumumkan pembukaan dua rute baru tujuan Denpasar – Cina yang akan mulai dilayani pada akhir Januari 2018, yakni Denpasar – Zhengzhou dan Denpasar – Xi’an. Baca juga: Di 2018, Garuda Indonesia Canangkan Buka 30 Rute Penerbangan Baru Dibukanya rute penerbangan ke Cina tersebut merupakan bagian dari strategi perusahaan dalam memperluas jaringan penerbangan dan meningkatkan pangsa pasar dari Cina sejalan dengan peningkatan trafik kunjungan wisman Cina ke Indonesia. Direktur Kargo Garuda Indonesia Sigit Muhartono yang membawahi pengembangan rute internasional Garuda Indonesia mengungkapkan, ”Membuka tahun 2018 ini kami akan mengoperasikan dua rute internasional ke Cina tujuan Xi’an dan Zhengzhou dari Denpasar. Dibukanya layanan penerbangan tersebut merupakan bagian dari upaya berkelanjutkan perusahaan dalam memaksimalkan potensi pasar Cina yang semakin menjanjikan”. Pasar Cina semakin berperan penting dalam market internasional Garuda Indonesia. Dengan tingkat kunjungan wisatawan internasional dari Cina yang mencapai 120 juta per tahunnya di seluruh dunia, kami sangat optimis dapat memaksimalkan potensi pasar tersebut khususnya melalui pembukaan rute Denpasar – Xi’an dan Denpasar – Zhengzhou ini. “Pembukaan dua rute internasional pada awal tahun ini sekaligus menggambarkan optimisme perusahaan dalam meningkatkan pertumbuhan market sharenya. Saat ini market share Garuda Indonesia pada rute Indonesia Cina berada pada dikisaran 35 persen”, Ungkap Sigit “Momentum beroperasinya rute baru penerbangan ke Cina ini sekaligus menjadi bagian dari dukungan Garuda Indonesia terhadap upaya peningkatan trafik pariwisata Bali yang sebelumnya sempat terdampak aktivitas erupsi Gunung Agung. Kami optimistis dengan kondisi pariwisata Bali yang sudah kondusif, pembukaan rute ini dapat menjadi momen penting peningkatan kunjungan wisata internasional ke Bali”. Tambah Sigit. Lebih lanjut Sigit mengungkapkan, “Cina saat ini merupakan pasar utama pariwisata Indonesia. Pemerintah sendiri telah menargetkan tingkat kunjungan wisatawan Tiongkok ke Indonesia dapat menyentuh angka 10 juta wisatawan pada tahun 2019. Komitmen tersebut tentunya menjadi potensi market yang akan terus kami kembangkan”, Tutup Sigit. Layanan penerbangan Denpasar – Xi’an direncanakan akan mulai beroperasi pada tanggal 29 Januari 2018 sebanyak 2 kali per minggu yang dilayani menggunakan armada Airbus A330 berkapasitas 360 penumpang. Layanan penerbangan tersebut berangkat setiap hari Senin dan Jumat dari Denpasar pukul 16.55 local time dan tiba di Xian pada pukul 00.25 local time. Sementara penerbangan Denpasar – Zhengzhou akan mulai beroperasi pada tanggal 30 Januari 2018 sebanyak 3 kali seminggu yang juga dilayani dengan armada Airbus A330-300. Layanan penerbangan tersebut berangkat setiap hari Selasa, Kamis, dan Minggu dari Denpasar pada pukul 11.35 local time dan tiba di Zengzhou pada pukul 18.25 local time. Baca juga: Garuda Indonesia Sabet Posisi Empat di Best Economy Class Airlines Saat ini Garuda Indonesia telah melayani sedikitnya 63 penerbangan setiap minggunya yang terdiri dari penerbangan langsung ke kota – kota di Cina seperti Denpasar – Chengdu vv, Denpasar – Beijing vv, Denpasar – Guangzhou vv, Denpasar – Shanghai vv, Jakarta – Guangzhou vv, Jakarta – Beijing vv, dan Jakarta – Shanghai vv.

Toyota Kembangkan Robot Untuk Tunjang Operasional Rumah Sakit

Penggunaan robotika pada proses produksi kendaraan bermotor sudah lumrah kita dengar, tapi bila ada pabrikan kendaraan bermotor yang menggunakan robot untuk fungsi lain, itu yang dirasa menarik perhatian. Seperti Toyota yang belum lama ini merilis robot untuk menunjang operasional di rumah sakit. Baca Juga: Siapa Pembawa Obor Olimpiade Musim Dingin 2018? Tentu Saja Robot! Perusahaan yang berbasis di Toyota, Aichi, Jepang ini diketahui tengah mengembangkan robot yang nantinya akan ditempatkan di sebuah rumah sakit di Jepang. Tidak hanya satu, melainkan ada beberapa robot yang kelak akan membantu operasional di rumah sakit terkait. Seperti yang diwartakan KabarPenumpang.com dari laman irishnews.com (3/1/2018), perusahaan yang didirikan oleh Kiichiro Toyoda ini akan mengirimkan sejumlah robot yang akan bersanding dengan manusia, dengan tujuan untuk meringankan beban pekerjaan para suster yang bekerja di shift malam. Mayoritas, robot-robot ini akan bekerja pada malam hari. Sebagian robot akan ditugaskan untuk mengirim sample kepada para suster, sedangkan sisanya akan bertindak sebagai pengantar obat kepada para pasien. Menurut laman sumber, empat robot akan ditempatkan di Nagoya University Hospital antara pukul 17.00 hingga pukul 08.00, dimana pada jam tersebut tenaga medis yang bertugas tidak sebanyak di siang hari. Robot-robot ini akan dilengkapi dengan kamera dan radar untuk memudahkan navigasi mereka selama bertugas, dan mereka juga akan diprogram untuk mengetahui denah rumah sakit secara keseluruhan, sebelum akhirnya mereka kembali ke ‘markas’ untuk di charge. Tidak cukup sampai di situ, budaya Jepang yang terkenal ramah juga turut diterapkan pada robot-robot ini. Sebuah personalisasi khusus yang terpasang di robot ini akan memungkinkan mereka untuk menyapa setiap orang yang berpapasan dengannya. Ditinjau dari segi efektifitasnya, robot-robot tersebut akan mampu untuk mengangkut beban hingga 30kg dengan kecepatan di bawah empat kilometer per jam. Dalam pengoperasiannya, para tenaga medis akan menggunakan media tablet untuk memanggil dan memerintah para robot. Secara otomatis, salah satu penanda kemajuan jaman ini akan mendatangi si pemberi titah dan menjalankannya sesuai dengan apa yang sudah diperintahkan sebelumnya. Rencananya, Nagoya University Hospital akan menempatkan robot-robot ini di instalasi bedah intensif, apotek, dan laboratorium klinis dengan masa uji coba selama satu tahun. Untuk mengapresiasi perusahaan penyedia robot tersebut, Nagoya University Hospital berjanji akan mempromosikan kinerja robot kepada rumah sakit lain jika uji coba yang dilakukan tidak mengalami kendala. Dengan kata lain, langkah yang dijanjikan Nagoya University Hospital tersebut akan membuka peluang Toyota untuk menjalin kerja sama dengan rumah sakit lainnya. Baca Juga: Sambut Olimpiade Musim Dingin, LG Hadirkan Dua Robot Canggih di Bandara Incheon Memang, belakangan ini kita sudah sering sekali mendengar penggunaan robot di berbagai fasilitas publik. Tidak perlu jauh-jauh membandingkan dengan penggunaan robot di Negeri Paman Sam, dalam rangka mempersiapkan Olimpiade Musim Panas 2020 yang diadakan di Tokyo mendatang, Jepang juga diketahui tengah mengembangkan beberapa buah robot untuk melancarkan perhelatan olahraga internasional tersebut. Bergeser sedikit ke negara penghasil musik K-Pop, Korea Selatan juga disinyalir menggunakan tenaga robot untuk membantu pengoperasian di Bandara Internasional Incheon.

Sama-Sama Kereta Bandara, Inilah Yang Beda Antara di Soekarno-Hatta dan Kualanamu

Pada 2 Januari 2018, Presiden Joko Widodo telah meresmikan kereta Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Peresmian ini, menjadikan Indonesia memiliki dua bandara yang memiliki kereta sebagai moda transportasi pendukung dan alternatif lain, setelah sebelumnya PT Railink, joint venture antara PT Angkasa Pura II dan PT KAI meluncurkan kereta bandara Kualanamu pada 23 Juli 2013. Baca juga: Lebih Dekat dengan Kereta Bandara Kualanamu Kereta yang ada di Bandara Kualanamu dan Soekarno-Hatta (Soetta) memiliki perbedaan baik dari rangkaian keretanya hingga urusan tarif. KabarPenumpang.com mengabarkan ada beberapa perbedaan dari dua kereta tersebut. 1. Jenis kereta Untuk kereta yang digunakan bandara Kualanamu adalah Kereta Rel Diesel (KRD). Kereta ini adalah pabrikan Korea Selatan, Woojin. Sedangkan kereta bandara Soetta menggunakan Kereta Rel Listrik (KRL). Ignatius Jonan saat masih menjabat sebagai Direktur Utama PT KAI pernah mengatakan jika KRL bandara dinilai lebih hemat 60 persen daripada KRD. Kereta bandara Soetta sendiri adalah buatan PT INKA, dengan mengadopsi mesin dari Swedia dan interior dari Cina. 2. Jarak dan waktu tempuh Kereta bandara Kualanamu menuju medan memiliki jarak 28 km dan ditempuh dengan waktu sekitar 30 menit. Dalam sehari, kereta bandara Kualanamu mampu mengangkut 3000-4000 penumpang atau 1-1,3 juta penumpang per tahunnya. Rute kereta ini yakni bandara Kualanamu menuju Medan dan sebaliknya. Sedangkan kereta bandara Soetta jaraknya menuju stasiun Manggarai 36,7 km yang ditempuh dalam waktu sekitar 55 menit sampai satu jam. Untuk rutenya yakni Stasiun Manggarai – Sudirman Baru – Duri – Batu Ceper – Bandara Soekarno Hatta. Namun saat ini hanya sampai Sudirman Baru karena Manggarai masih dalam proses penyelesaian. 3. Kapasitas penumpang Kereta bandara Soetta memiliki kapasitas penumpang lebih banyak karena memiliki enam gerbong dalam satu rangkaian kereta dan mampu mengangkut 272 penumpang. Sedangkan kereta bandara Kualanamu memiliki empat set kereta dengan jumlah total kapasitas 172 penumpang. Baca juga: Beroperasi Q1 2018, Kereta Bandara Minangkabau Adopsi Kereta Rel Diesel Listrik 4. Tarif Tarif kereta bandara Kualanamu Medan mulai 2015 hingga saat ini Rp100 ribu dan sebelumnya Rp80 ribu. Sedangkan kereta bandara Soetta saat uji coba Rp30 ribu dan sekarang ini Rp70ribu. Tetapi Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi masih mencari solusi untuk menetapkan tarif kereta bandara Soetta.

Fenomena Take Off di Tahun 2018 dan Landing di Tahun 2017. Time Traveler?

Euforia tahun baru 2018 masih melekat erat di benak sebagian orang. Tidak melulu soal menyaksikan pesta kembang api bersama orang-orang tercinta atau perayaan lainnya, tapi terselip satu kisah unik di balik malam pergantian tahun ini. Maskapai Hawaiian Airlines yang dikabarkan berangkat pada tahun 2018, mendarat pada tahun 2017. Loh, kok bisa? Apa pesawat tersebut merupakan sebuah alat untuk menjelajah waktu? Baca Juga: Mulai Alergi Kacang Hingga Abu Jenazah, Inilah Deretan Peraturan Unik di Maskapai Sebenarnya pesawat Hawaiian Airlines dengan nomor penerbangan HAL446 hanyalah pesawat biasa yang tidak memiliki teknologi khusus untuk menjelajah waktu atau segala hal yang berkaitan dengannya. Penjelasan untuk kasus di atas sangatlah sederhana, karena pembagian zona waktu. Sebagaiman ayang dihimpun KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber, pesawat tersebut dijadwalkan bertolak dari Auckland, Selandia Baru pada 31 Desember 2017 pukul 23.55 waktu Auckland dan tiba Honolulu, Hawaii pada 31 Desember 2017 pukul 09.45 waktu Honolulu. Perbedaan waktu tersebutlah yang akhirnya menyebabkan maskapai Hawaiian Airlines seolah berjalan kontra arah jarum jam. Diketahui, antara Auckland dan Honolulu terpaut selisih waktu sekitar 23 jam. Jika pesawat tersebut berangkat tepat waktu, maka hal ini terlihat biasa saja dan tidak unik. Sayangnya, pesawat Hawaiian Airlines HAL446 terkendala delay yang memaksanya menelantarkan penumpang selama 10 menit. Alhasil, pesawat Hawaiian Airlines HAL446 baru berangkat pada 1 Januari 2018 pukul 00.05 waktu Auckland dan dijadwalkan mendarat pada 31 Desember 2017 pukul 10.16 waktu Honolulu. “Karena penundaan yang tak terduga, penerbangan Hawaiian Airlines 446 lepas landas pada tahun 2018 dan akan mendarat pada tahun 2017 #TimeTravel” begitulah cuitan yang dilontarkan oleh @SweeneyABC dalam laman jejaring sosial Twitter-nya.
Sumber: twitter
Tidak hanya itu, Sam Sweeney sebagai pemilik akun tersebut juga mencantumkan screenshot dari aplikasi flightradar24 yang akhirnya membuat penerbangan tersebut menjadi pusat perhatian banyak kalangan. Jika momen ini tidak terjadi di malam pergantian tahun, maka pemberitaannya tidak akan seramai dan se-viral ini. Ternyata, kejadian seperti ini tidak hanya menimpa Hawaiian Airlines HAL446, tetapi menurut aplikasi flightradar24, terdapat 6 pesawat lain yang berangkat dari Taipei pada 2018 dan mendarat di Kanada dan AS pada 2017. Tiga pesawat merupakan bagian dari maskapai Eva Air, sedangkan tiga lainnya dari maskapai China Airlines. Baca Juga: Kartu Kredit Bantu Prediksi Ukuran Tubuh Penumpang Pesawat, Kok Bisa? Satu lagi, maskapai lain dari Selandia Baru, Air New Zealand dengan nomor penerbangan NZ40 berangkat dari Auckland pada 1 Januari 2018 pukul 10.25 waktu setempat, baru mendarat di Papeete, French Polynesia pada 31 Desember 2017 pukul 16.25 waktu setempat. Unik ya!

Layanan First Class Emirates Undang Decak Kagum Youtuber!

Bagaimana jadinya jika sebuah kamar hotel berukuran mini, lengkap dengan segala fasilitas penunjangnya, dipindahkan ke dalam kabin pesawat? Tentu hasilnya akan luar biasa, dimana seseorang dapat melakukan perjalanan udara dengan tingkat kenyamanan yang setara dengan hotel berbintang. Hal itulah yang diwujudkan oleh salah satu maskapai adidaya asal Timur Tengah, Emirates yang meluncurkan state-of-the-art first class suites, sebuah kelas ultra premium di dalam layanannya. Baca Juga: Dubai Airshow 2017, Emirates Hadirkan Suite Kelas Satu Super Mewah di Boeing 777-300 Berdasarkan informasi yang dihimpun KabarPenumpang.com dari laman dailymail.co.uk, first class suites Emirates memiliki luas ruangan 3,7 meter persegi, yang di dalamnya dilengkapi dengan kursi multi fungsi, layar TV 32 inchi, tempat rias, tombol pengatur pencahayaan, slide door untuk menjaga privasi Anda selama mengudara, hingga santapan gourmet yang sudah termasuk ke dalam layanan ultra premium ini. Untuk mengobati rasa penasaran, seorang youtuber bernama Casey Neistat pun mencoba layanan first class seharga 7.000 euro, atau sekitar Rp113 jutaan tersebut Dalam video berdurasi 08.52 menit tersebut, terlihat Casey sangat antusias untuk ‘mencicipi’ kelas nomor wahid di Emirates tersebut. Sebuah bangku bak sofa mewah sudah menantinya di dalam, tepat berhadapan dengan sebuah layar TV LED dan kaca rias yang dapat dilipat ke dalam meja TV. Tidak hanya itu, Casey pun menemukan beberapa makanan ringan dan minuman yang sudah disediakan oleh pihak maskapai sebelumnya. Uniknya lagi, dalam video tersebut terlihat Casey mencoba sebuah fitur yang mungkin belum diaplikasikan oleh maskapai lain, yaitu video call dengan awak kabin. Ditambah dengan pemasangan kamera pada bagian bawah lambung pesawat yang memungkinkan Casey melihat pemandangan yang ada di bawahnya, mulai dari take off hingga landing. Keren bukan?
Dalam penerbangannya dari Brussels (Belgia) menuju Dubai, Casey juga tidak melewatkan layanan full service lainnya, yaitu menikmati well dine yang disajikan oleh pihak Emirates. Pada momen itu, Casey berkesempatan untuk menikmati appetizer sebelum akhirnya disuguhi main course berupa steak racikan sang juru masak Emirates. Baca Juga: Singapore Airlines Pamerkan Desain Interior Mewah di Airbus A380 Terbaru Tidak main-main, Emirates nampaknya sudah menyiapkan segala sesuatunya dengan sangat matang. Kamar mandi first class pun mengundang decak kagum Casey. Bagaimana tidak, ia menemukan sebotol parfum kelas dunia yang dapat digunakan oleh para penumpang kelas tersebut. Saking kagumnya pada layanan full service yang ia dapat di first class, Casey mengatakan bahwa semua pelayanan yang ia dapat selama mengudara hampir setara dengan apa yang ia dapat di hotel berbintang. “Ini merupakan perjalanan terbaik sepanjang masa,” tuturnya dalam video yang ia unggah melalui channel pribadinya, CaseyNeistat.

Jelang Olimpiade Musim Dingin 2018, Bandara Incheon Buka Terminal 2

Tak lama lagi Olimpiade Musim Dingin 2018 di Pyeongchang, Korea Selatan, akan digelar, tepatnya antara 9 hingga 25 Februari mendatang. Hajatan olahraga besar yang diikuti kontingen dari 90 negara tersebut jelas membutuhkan persiapan matang, termasuk dalam hal pra sarana transportasi. Seperti Bandara Incheon di Seoul akan membuka layanan penerbangan di Terminal 2. Baca juga: Sambut Olimpiade Musim Dingin, LG Hadirkan Dua Robot Canggih di Bandara Incheon Persisnya Terminal 2 di Incheon akan dibuka pada tanggal 18 Januari 2018. KabarPenumpang.com mengabarkan dari laman airport-technology.com (23/1/2018), terminal penumpang kedua di Incheon ini memiliki lima lantai dengan luas 384.336 meter persegi dan mampu menangani sekitar 18 juta penumpang per tahunnya. Dengan dibukanya terminal kedua ini, setiap tahunnya bandara Incheon mampu menangani 72 juta penumpang dan lima juta ton kargo. Di Terminal 2, fasilitas yang tersedia sama dengan yang ada di Terminal 1 seperti meja self check in, pemindai full body, bea cukai, imigrasi dan lainnya. Selain itu Terminal dua memiliki pusat transportasi all inclusive dengan kereta api yang beroperasi ke Seoul, bus luar kota dan parkir jangka pendek untuk tempat menjemput penumpang.
Terminal 2 Bandara Internasional Incheon Korea Selatan (Airport Technology)
Uniknya, atap Terminal 2 bandara Incheon bukanlah atap biasa, melainkan dilengkapi dengan panel surya fotovoltaik untuk mengurangi konsumsi energi. Pihak Bandara Internasional Incheon juga telah menghadirkan standar keamanan tertinggi untuk keselamatan semua wisatawan. Tak hanya memberi pengalaman unik, bandara Incheon juga dilengkapi dengan sleeping box, fasilitas olahraga, area games untuk penumpang transit, ruang terbuka yang luas di Great Hall yang membentang dari lantai B1 ke lantai tiga, dan area taman yang indah di luar terminal. Terminal 2 bandara ini dilengkapi dengan sistem boarding otomatis serta sistem informasi tampilan penerbangan atau departures flight information display system (FIDS) untuk kedatangan dan keberangkatan. Saat ini, fase keempat ekspansi ke bandara sedang berlangsung. Ini termasuk landasan keempat dan upgrade ke komunikasi yang akan selesai pada tahun 2023. Baca juga: Ini Dia Troika! Robot Canggih di Bandara Incheon, Korea Selatan Otoritas Bandara Internasional Incheon berharap dapat berkembang setelah proyek selesai untuk memasukkan terminal ketiga dan landasan pacu kelima. Terminal baru ini akan mendukung Korean Air, KLM, Air France dan Delta.

PT KCI Hadirkan Mesin Penyelaras Tarif dan Penetapan Saldo Minimun Baru untuk Kartu Multi Trip

PT Kereta Commuter Indoenesia (KCI) melakukan penetapan saldo minimum penggunaan Kartu Multi Trip (KMT) dari yang sebelumnya Rp13 ribu menjadi Rp5 ribu. Pemberlakuan saldo minimum ini akan diterapkan bersamaan dengan salah satu inovasi terbaru yakni operasional mesin penyelaras tarif atau fare adjustment. Baca juga: Mau Jadi Masinis PT KAI, Baca Dulu Beberapa Persyaratannya! KabarPenumpang.com melansir dari laman krl.co.id (4/1/2018), bahwa vending machine fare adjustment ini akan hadir pada Senin depan 8 Januari 2018. Fare adjustment merupakan mekanisme dalam sistem elektronik yang bekerja dengan prinsip selaras. Dimana tarif yang dikenakan pada pengguna sesuai dengan jarak tempuh penumpang. Selama ini sebelum hadirnya mesin penyelaras tarif, pengguna KRL dengan Tiket Harian Berlangganan (THB) yang turun selain di sasiun tujuannya akan dikenakan penalti atau denda sebesar Rp10 ribu yang diambil dari biaya jaminan kartu. Nantinya mekanisme ini tidak akan berlaku lagi bersamaan dengan berlakunaya penyelarasan tarif. Sehingga jika pengguna THB yang turun di stasiun lebih jauh dari tarif kereta, maka hanya akan membayar selisih antara tarif yang dibayarkan pada transaksi awal dengan tarif yang seharusnya. Proses penyesuain tak hanya dilakukan pada mesin penyelaras, tetapi juga bisa melalui loket yang ada di dekat gate elektronik. Mesin penyelaras tarif tersebut saat ini sudah ada 26 dan berada di 25 stasiun dan stasiun yang belum terdapat mesin bisa melalui loket untuk menyelaraskan tiket perjalanan penumpang. Cara kerja mesin penyelaras tarif adalah menghitung selisih tarif THB dengan tarif sesuai jarak tempuh yang telah dilalui. Adapun dalam membayar selisih tarif tersebut, tidak disediakan uang kembalian. Pemberlakuan kebijakan penyesuaian tarif melalui hadirnya mesin penyelaras tarif merupakan bentuk peningkatan pelayanan dari KCI terkait sistem transaksi tiket. Penyelarasan tarif juga merupakan mekanisme normal yang ada di sejumlah negara yang kereta komuternya telah menerapkan sistem tiket elektonik. Diharapkan dengan hadirnya layanan ini para pengguna jasa dapat memanfaatkannya secara optimal, terutama dengan beralih dari menggunakan THB ke KMT. Diketahui, sebenarnya KCI hadir menjadi kelanjutan pendahulunya PT KAI Commuter Jabodetabek (KCJ). Perubahan ini bukan hanya sekedar pergantian nama, PT KCJ saat itu dipersiapkan untuk mendapat penugasan yang lebih luas lagi dari perusahaan induk PT KAI. Penugasan tersebut adalah perluasan wilayah operasional antara lain ke Rangkas Bitung di arah barat Jakarta dan Cikarang di arah timur Jakarta. Perluasan ini tentu membuat terminologi Jabodetabek dalam nama PT KCJ tidak lagi dapat mengakomodir cakupan wilayah operasinya. Baca juga: Hindari Berebut Masuk KRL, PT KCJ Buat Garis Batas Antrean di Stasiun Keputusan perubahan nama ini tertuang dalam risalah Rapat Umum Pemegang Saham pada tanggal 7 September 2017. Selanjutnya perubahan tersebut dilaporkan ke pemerintah dan resmi dicatat dalam Surat Keputusan Menteri Hukum dan HAM Republik Indonesia nomor AHU-0019228.AH.01.02 tanggal 19 September 2017.

Begini Cara Beli Tiket Kereta Bandara Soekarno-Hatta

Kereta bandara Soekarno-Hatta yang resmi beroperasi menuju stasiun Sudirman Baru (BNI City) membuat banyak masyarakat antusias menggunakannya. Namun cara pembelian tiketnya dipandang beberapa orang membuat bingung. Apalagi untuk pembelian tiket kereta ini tidak lagi menggunakan uang tunai melainkan kartu debit, kredit bahkan uang elektronik. Baca juga: Beroperasi Q1 2018, Kereta Bandara Minangkabau Adopsi Kereta Rel Diesel Listrik Sebenarnya ada beberapa cara untuk membeli tiket kereta bandara yakni bisa membeli melalui vending machine di stasiun atau bandara, aplikasi maupun situs resmi milik PT Railink. Untuk aplikasi Railink sendiri, penumpang bisa mengunduhnya di Google Play atau di Apple App Store. Cara untuk menggunakan vending machine penumpang memilih menu booking tiket, kemudian pilih stasiun tujuan, jika berangkat dari stasiun Sudirman Baru, tujuan yang ada hanya menuju Batu Ceper dan bandara Soetta. Sebaliknya pun begitu jika berangkat dari bandara Soetta, sebab stasiun Duri dan Manggarai masih dalam proses pengerjaan. Kemudian, penumpang bisa memilih jam keberangkatan dan ketersedian tiketnya. Masukkan nomor telepon seluler Anda dan pilih metode pembayaran menggunakan debit, kredit atau uang elektronik. Nantinya setelah pembayaran dinyatakan sukses, tiket akan keluar lengkap dengan nomor dan barcode. Jika pemesanan yang Anda lakukan melalui aplikasi dan situs Railink bisa membayar melalui mobile atau internet banking atau Doku Wallet. Untuk proses pemesanan tiket ini, setiap penumpang membutuhkan waktu satu sampai dengan dua menit. Sementara vending machine untuk pembelian tiket kereta bandara masih di jaga petugas, yang nantinya akan membantu penumpang. Namun, kedepannya mesin tiket ini tidak lagi dijaga oleh petugas dan penumpang harus melakukan pembelian mandiri tanpa arahan petugas. Baca juga: Setelah Dikritik Presiden, Tarif Kereta Bandara Soetta Turun Jadi Rp70 Ribu Sedangkan untuk pengguna yang menggunakan aplikasi milik Railink, caranya hampir mirip dengan memesan kereta api jarak jauh melalui KAI Access dimana pengguna harus mengisi data seperti biasa dan melakukan pembayaran menggunakan mobile atau internet banking.

Hapus Angkot Keluaran Karoseri, Organda DKI Gunakan Angkot Keluaran ATPM

Ada kabar gress tentang angkutan kota atau angkot di Jakarta, pasalnya akan ada peremajaan dengan unit baru menggunakan kendaraan keluaran pabrikan Agen Tunggal Pemegang Merek (ATPM) dan bukan buatan Karoseri lagi. Hal ini disampaikan oleh Organisasi Angkutan Darat atau Organda dalam upaya perbaikan kondisi angkot. Baca juga: Ketahui Makna Tersirat di Balik Plat Nomor Kendaraan Yuk! “Untuk memberikan pelayanan yang lebih baik, kita tidak akan menggunakan unit yang dibuat karoseri tapi langsung dari pabrikan ATPM (Agen Tunggal Pemegang Merek),” ujar ketua Organda DKI Jakarta Shafruhan Sinungan yang dikutip KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber (15//12/2017). Menurutnya, kendaraan yang langsung dikeluarkan oleh pabrik, secara kualitas lebih terjamin dan terpercaya dibandingkan buatan karoseri yang dimodifikasi seperti saat ini. Selain itu juga untuk menjaga kualitas kendaraan tersebut yang memiliki jaminan aftersales service, ketersediaan sparepart, bengkel dan perawatan. Sehingga jika terjadi apa-apa dengan kendaraan tersebut, Organda bisa mengklaim ke ATPM. Sementara jika dengan buatan karoseri tidak bisa mengklaimnya ke pabrik, karena ada hasil pekerjaan orang lain. Organda juga mempersilahkan kepada para agen pemegang merek otomotif untuk mengajukan produk kendaraan milik mereka. Nantinya, akan dipilih mobil mana yang cocok dan diperlukan oleh pengusaha angkutan umum. “Pengusaha angkutan mau pakai merek A silahkan, pakai merek B silahkan, karena itu berkaitan dengan nilai investasinya. Ini juga berkaitan dengan nilai kenyamanan yang bisa diberikan kepada masyarkat,” ujar Shafruhan. Dari kabar yang tersiar, posisi tempat duduk tidak lagi menghadap kesamping melainkan ke depan layakya di dalam mobil pribadi. Namun, untuk masalah ini belum ada keputusan resmi dari pihak Organda. Tetapi, sudah disampaikan ke Dinas Perhubungan dan penerapannya akan dilakukan melalui unit yang keluar langsung dari ATPM. Baca juga: Jeepney, Angkot Khas Filipina Dengan Sejuta Ornamen Pelengkapnya “Kita sudah sampaikan ke Dinas Perhubungan, mereka welcome. Kita juga bilang nantinya angkot tidak lagi mengejar kuantitas tapi kualitas, hal ini sejalan dengan program Gubernur mengenai OK Otrip karena sopir nanti akan mendapat pendapatan tetap, tidak lagi sistem setoran,” ujar Safruhan. Trayek untuk angkot baru ini ada empat rute yang akan meliputi Jelambar Jakarta Barat, Warakas Jakarta Utara, Duren Sawit Jakarta Timur, dan Lebak Bulus Jakarta Selatan.