Flex Seat Smart Cabin, Bukti Kolaborasi Cerdas Airbus dan Recaro

Smart Cabin Reconfiguration merupakan hasil penelitian dan kolaborasi antara Airbus, Recaro dan THK. Dan hasil kolaborasi dari tiga nama besar tersebut memunculkan adapa yang disebut sebagai Flex Seat dan dibuat untuk kebutuhan Smart Cabin Airbus A320 yang diluncurkan tahun 2017 lalu pada Aircraft Interior Expo di Hamburg. Baca juga: JetBlue Upgrade Desain Kabin Airbus A320, Tapi Penumpang Justru Merana KabarPenumpang.com melansir dari laman apex.aero, Flex Seat sendiri menawarkan fleksibilitas dalam tata letak tempat duduk, sehingga maskapai bisa memaksimalkan pemesanan dan memberi penumpang ruang kaki ekstra jika penerbangan tidak terisi penuh. Cara kerjanya pun cukup mudah, awak kabin hanya menyesuaikan tempat dengan mengangkat jok kursi, melepaskan mekanisme penguncian lantai dan mendorong kursi depan terpisah di sepanjang sistem rel. Mekanisme sederhana ini hampir tidak memerlukan komponen tambahan dan dapat dioperasikan sepenuhnya tanpa alat dan yang penting dapat dilakukan awak kabin dengan sedikit usaha. Jochen Lohrmann, kepala Manajemen Inovasi di Recaro, mengatakan bahwa Flex Seat tidak akan mempengaruhi waktu perputaran di antara penerbangan. “Salah satu tujuan utama kami adalah memberikan solusi sederhana agar tata letak kabin bisa diubah dalam hitungan menit. Tapi maskapai harus tahu bagaimana mengelola ini, di dalam sistem pemesanan mereka, misalnya,” katanya. Flex Seat adalah bagian dari paket “bintang lima baru” yang ditawarkan Recaro dan ini jelas menunjukkan bagaimana gagasan sederhana dapat berkembang menjadi inovasi dalam wujud produk nyata. Oleh karena itu, awak kabin dapat secara fleksibel mengatur konfigurasi tempat duduk di antara penerbangan tergantung pada volume penumpang yang sebenarnya dan memastikan lebih banyak ruang untuk berselonjor kaki. Tak hanya itu, Recaro juga menampilkan teknologi iSeat yang mampu menginformasikan awak kabin tentang posisi kursi melalui aplikasi. Sensor yang ada di sandaran tangan dan meja lipat juga bisa mendeteksi posisi duduk penumpang yang tepat untuk lepas landas dan mendarat, sebab bisa meningkatkan efisiensi awak kabin.
(apex.aero)
Aplikasi ini juga mencatat berapa kali bagian tubuh telah bergera yang memungkinkan perawatan prediktif. Tak hanya itu, aplikasi ini juga dipajang di AIX yang merupakan rak tablet Recaro dengan pemegang cup terpadu. Recaro Aircraft Seating mengembangkan ide kreatif dan solusi yang disesuaikan untuk kabin pesawat dan gagasan ini menawarkan wawasan yang jelas tentang apa yang akan terjadi di masa depan. Layanan Pelanggan, Kursi Flex, Kesejahteraan, Solusi antibakteri dan iSeat adalah lima bintang baru dari Recaro yang memenuhi keinginan maskapai penerbangan untuk menyesuaikan sekaligus mencerminkan secara sempurna evolusi dinamis dari sektor penerbangan. Baca juga: Gunakan Teknologi Mobile-Encoding, Netflix Siap Manjakan Penumpang Pesawat Marisa Garcia, mantan direktur perusahaan di Hoover Industries, telah bekerja dengan tim teknik untuk sertifikasi pelapisan dan membuktikan kesulitan prosesnya, “Begitu Anda menambahkan lapisan kimia ke permukaan, ia harus melewati tes burn baru. Mendapatkan hak campuran pada lapisan apapun sangat halus. Bahan kimia memiliki volatilitas yang sangat tinggi, Anda harus melakukan pengujian berulang dengan mudah bisa memakan waktu setahun. “

Garuda Indonesia Canangkan 50 Unit Armada Baru Hingga Tahun 2024

Dalam upayanya untuk meningkatkan pelayanan, maskapai flag carrier Garuda Indonesia telah menargetkan untuk mendatangkan sekitar 50 armada baru hingga tahun 2024 mendatang. Ini merupakan salah satu langkah yang ditempuh pihak Garuda dalam upaya merevitalisasi armada dan memperbaiki kinerja perusahaannya. Baca Juga: Di 2018, Garuda Indonesia Canangkan Buka 30 Rute Penerbangan Baru Sebagaimana yang sudah diketahui besama, salah satu pesawat dari 50 armada baru tersebut sudah datang pada 26 Desember 2017 kemarin dan langsung beroperasi pada 1 Januari 2018. Ya, B737 MAX 8 menjadi yang armada pertama dalam list belanja Garuda yang sudah mencicipi terbang di atas Nusantara. Dilansir KabarPenumpang.com dari laman indonesia-investments.com, Presiden Direktur Garuda Indonesia, Pahala N. Mansury mengatakan bahwa maskapai plat merah tersebut telah melakukan pemesanan sejak tahun 2014 silam. Ia melanjutkan bahwa antara tahun 2020 hingga 2024, pesawat lainnya akan menyusul dengan perkiraan 5 – 10 pesawat per tahunnya. “Jadi kan mereka itu punya jadwal delivery, makanya jadi antre. Ya seperti ada masa indennya. Fasilitas produksinya juga terbatas, lalu juga ada proses desain, testing, dan proses yang panjang,” ungkap Pahala dikutip dari sumber terpisah. Dalam kesempatan lain, Pahala menyebutkan  bahwa kehadiran B737 MAX 8 ini nantinya akan menggantikan B737-800 Next Generation (NG) yang kontrak sewanya akan segera berakhir. Di sini, Garuda Indonesia akan menjadi maskapai kedua di Indonesia yang mengoperasikan B737 MAX 8 setelah Lion Air. Optimalisasi armada merupakan bagian dari program revitalisasi maskapai penerbangan dan harus mengarah pada peningkatan kinerja perusahaan. Seperti yang sudah pernah diberitakan sebelumnya, B737 MAX 8 perdana Garuda Indonesia diterbangkan ke Indonesia melalui rute Seattle-Tacoma, Washington-Honolulu, Hawai-Kepulauan Marshall, Majuro-Bandara Frans Kaisiepo, Biak. B737 Max 8 kemudian melanjutkan penerbangan ke Bandara Juanda di Surabaya untuk menjalani sertifikasi PBN. Dalam keterangannya, Pahala juga menegaskan bahwa pihaknya tidak akan mendatangkan pesawat baru selama periode 2018. Dengan kata lain, kehadiran B737 MAX 8 menjadi armada teranyar Garuda Indonesia. Selain ramai diperbincangkan karena kehadirannya melengkapi armada Garuda, B737 MAX 8 juga dinilai sebagai pesawat yang memiliki efisiensi bahan bakar lebih baik dari seri Boeing lainnya. Ini dikarenakan oleh pengaplikasian Scimitar Winglet, dimana dalam pengaplikasiannya, winglet tambahan yang menjulur ke bawah ini berguna untuk memecah turbulensi udara yang terjadi di ujung sayap, saat pesawat berjalan dalam kecepatan tinggi. Secara otomatis, hambatan laju pesawat akan berkurang dan konsumsi bahan bakar menjadi lebih irit. Baca Juga: Intip Kecanggihan dan Ruang Kabin Boeing 737 MAX 8 Garuda Indonesia Selain membahas soal armada terbaru lengkap dengan kelebihannya, pihak Garuda juga mengutarakan niatnya untuk membuka sejumlah rute baru. Dalam jumpa pers di Terminal 3 Ultimate Bandara Soekarno-Hatta, Senin sore (18/12/2017), Pahala menyebut akan membuka 30 rute penerbangan baru di sepanjang 2018. “Sepertiga adalah rute baru untuk penerbangan internasional, dan dua pertiga adalah rute baru untuk penerbangan domestik.” Meski sudah disebutkan jumlah rute baru, Ia menolak untuk memaparkan tentang jalur rute baru yang akan dibuka. “Mohon maaf detailnya belum bisa kami sampaikan, karena sifatnya rahasia, nanti kurang baik bila diketahui oleh kompetitor,” ujar Pahala. Untuk pasar internasional, Pahala menyebut akan memberi porsi lebih kepada jalur baru di Cina. Seperti yang diketahui bersama, Cina menjadi pasar kedua terbesar Garuda Indonesia untuk penerbangan internasional setelah Australia.

Tuai Pro dan Kontra, Thailand Setujui Proyek Pembangunan Kereta Cepat dengan Cina

Setelah sebelumnya sempat menemui hambatan dan tertunda pembangunannya selama dua tahun, akhirnya Pemerintah Thailand memberikan lampu hijau berkenaan dengan pembangunan jalur kereta berkecepatan tinggi senilai $5,2 miliar ke pihak Cina. Baca Juga: Thailand Setujui Mega Proyek Kereta Peluru dengan Cina Adapun penundaan pembangunan ini dilatarbelakangi oleh masalah hukum, teknis, dan kesalahpahaman antara kedua belah pihak. Dengan adanya titik terang ini, diharapkan upaya Cina untuk menghubungkan negara-negara di Asia Tenggara menjadi terbuka lebar. Sebagaimana yang diwartakan KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber, keputusan Pemerintah Thailand pada bulan Juli untuk menyetujui jalur kereta api berkecepatan tinggi ke Cina ini disambut dengan gembira oleh pihak Beijing. Dengan dana sebesar $5,2 miliar atau yang setara dengan Rp74,2 triliun, proyek ini pada akhirnya diharapkan akan menghubungkan Kunming di sebelah selatan provinsi Yunan hingga ke Singapura, melalui Laos, Thailand dan Malaysia. Tidak hanya berkenaan dengan urusan transportasi saja, hadirnya kereta cepat ini juga dapat dimanfaatkan untuk memperbaiki hubungan multilateral Thailand dengan berbagai negara. “Saya pikir cukup banyak kepentingan awal dari tim Thailand dalam memperkuat hubungan strategis dengan Beijing, terutama pada saat Junta Thailand dikucilkan oleh banyak negara demokrasi Barat,” ungkap Joshua Kurlantzick, seorang rekan senior untuk Asia Tenggara di Dewan Hubungan Luar Negeri. “Junta Thailand mungkin menggunakan kesepakatan tersebut untuk mengendurkan otot geopolitiknya,” tandasnya. Sebelumnya, Junta Thailand yang dikepalai oleh Perdana Menteri Prayuth Chan-ocha, dilaporkan telah menjanjikan penggelontoran dana sebesar $5,3 miliar untuk rencana pembangunan jalur sepanjang 850 km dalam jangka waktu empat tahun dari Bangkok hingga Nong Khai di perbatasan Laos. Namun rencana pembangunan jalur kereta ini juga tidak sedikit menuai kontra, seperti yang dilontarkan oleh salah seorang dari Associate Policy Fellow di European Council on Foreign Relations, Agatha Kratz. Terlepas dari dampak positif yang mungkin dihadirkan pasca pembangunannya, ia malah mempertanyakan soal target pasar dari kereta tersebut. “Masih belum jelas apa sebenarnya tujuan dari proyek ini. Sebut saja rasio kereta penumpang dan barang yang belum ditentukan oleh kedua belah pihak,” ungkap Agatha. “Perhatikan, di sini proyeknya tidak berkecepatan tinggi, tapi direncanakan memiliki kecepatan medium, yaitu sekitar 160 km per am,” imbuhnya. Baca Juga: Terbebas dari Status Skors, Kereta Peluru Cina Siap Mengular Kembali Agatha menilai, akan lebih menguntungkan bagi Thailand jika dana proyek tersebut digunakan untuk berinvestasi dalam memperbaiki infrastruktur kereta api dan jalan di dalam teritorialnya sendiri. Ia juga menambahkan berbagai faktor sosio dan geopolitik juga perlu diperhitungkan di sini. Sejak merebut kekuasaan pada tahun 2014, Junta Thailand tidak malu menyelaraskan diri dengan Beijing, yang dengan pasti telah menghabiskan jutaan uang untuk pengadaan senjata dari Cina sebagai imbalan investasi dalam proyek-proyek lokal. Menurut Anda, apakah proyek pembangunan ini akan terus berjalan walaupun ada banyak pro dan kontra yang menyertai perjalanannya?

Long Haul Low Cost Carriers, Solusi Terbang Jarak Jauh Tanpa Harus Kuras Dompet!

Secara umum, dunia penerbangan global terbagi ke dalam dua kategori, yaitu Full Services dan Low Cost Carriers (LCC). Sesuai dengan namanya, layanan Full Services sudah mencakup keseluruhan tetek bengek selama perjalanan, mulai dari apron tax, asuransi, hingga penganan selama penerbangan. Pun dengan rute yang disanggupi oleh layanan ini juga didominasi oleh penerbangan jarak jauh. Berbanding terbalik dengan layanan LCC yang semuanya serba terbatas dan rute penerbangannya yang mayoritas hanyalah penerbangan jarak pendek. Baca Juga: Dilema Seat Pitch, Maskapai Tambah Untung Penumpang Merana Namun, belakangan ini santer tersiar kabar mengenai keberadaan Long Haul Low Cost Carriers (LHLCC), layanan berbiaya rendah yang menyanggupi perjalanan jarak jauh yang memakan waktu perjalanan berjam-jam, nah lho! Memang, di satu sisi penumpang tidak perlu merogoh kocek terlalu dalam untuk mengudara dari satu negara ke negara lainnya, tapi di sisi lainnya banyak hal yang mesti dikorbankan  oleh para penumpangnya, salah satunya adalah kenyamanan selama mengudara. Tidak bisa dipungkiri, layanan LCC erat kaitannya dengan jumlah kursi yang dipadatkan di dalam kabin sehingga berpengaruh terhadap sempitnya ruang antara kaki penumpang dengan kursi yang berada di depannya (Seat Pitch sempit). Pun dengan hiburan yang harus disiapkan sendiri oleh penumpang, karena di hampir semua layanan LCC tidak menyediakan media entertainment bagi para penumpangnya, berbeda dengan layanan Full Services. Banyaknya poin minus di layanan LCC ternyata tidak menyurutkan pihak maskapai untuk menyediakan layanan penerbangan jarak jauh. Sebut saja AirAsia X, Eurowings, Jetstar, LEVEL, Norwegian, Scoot, WOW Air merupakan beberapa nama maskapai yang menyediakan layanan LHLCC. Dilansir KabarPenumpang.com dari laman runwaygirlnetwork.com (30/12/2017), tahun 2018 diprediksi sebagai tahun yang gemilang untuk layanan LHLCC ini. Bagaimana tidak, pihak maskapai bisa meraup untung besar karena penumpang akan lebih tertarik untuk menggunakan layanan LHLCC ini  ketimbang layanan Full Service yang harganya terkenal melangit. Hadirnya layanan LHLCC ini juga merupakan bukti nyata dari ketatnya persaingan di dunia aviasi global. LHLCC juga memungkinkan sejumlah kelompok maskapai induk untuk bereksperimen dengan berbagai cara, tanpa merugikan merek penerbangan Full Services yang ada di dalam keluarganya (Seperti Garuda Indonesia yang merupakan induk perusahaan dari Citilink). Dalam kebanyakan kasus, LHLCC memberi kesempatan kepada kelompok maskapai penerbangan untuk memperluas jangkauan dasarnya dengan biaya operasional yang lebih rendah. Melambungnya harga layanan Full Services yang diterapkan oleh suatu maskapai penerbangan dan sepinya permintaan dari penumpang membuat para pegiatnya memikirkan cara bagaimana bisa menjaring penumpang yang hendak bepergian jarak jauh tanpa mereka harus merogoh kocek yang dalam. Seperti halnya menyajikan layanan kelas dua di kategori Full Services, akhirnya menelurkan satu ide untuk menghadirkan layanan LHLCC. Walaupun pihak maskapai harus mengorbankan kenyamanan penumpangnya dengan memadatkan kursi di dalam kabin, namun taktik ini dinilai ampuh untuk menjaring lebih banyak penumpang yang hendak terbang jauh dengan budget yang terbatas. Baca Juga: IATA: LCC Berkibar, ASEAN Bakal Jadi Kawasan Pertumbuhan Penerbangan Tercepat Ditinjau dari segi armada, ambil contoh Jetstar yang menggunakan Airbus A330-200 untuk mengudara dari Sydney menuju Honolulu. Konfigurasi kursi yang digunakan oleh anak  perusahaan dari Qantas ini adalah 2 – 4 – 2, dengan kursi yang memiliki pitch 31 inci (79 sentimeter) dan lebar 17 inci (43cm). Dilansir dari sumber terpisah, penerbangan bertarif rendah ini dapat ‘disulap’ menjadi lebih nyaman dengan biaya tambahan senilai $10 (Rp135.000) yang mencakup neck pillow, sikat dan pasta gigi, erarplugs, kaos kaki, lip balm, hingga peminjaman selimut selama perjalanan. Tapi Comfort Pack yag ditawarkan oleh pihak maskapai ini harus terlebih dahulu dipesan, tidak bisa Anda menambah layanan ini secara mendadak. Selain Comfort Pack tadi, pihak Jetstar juga melayangkan penawaran untuk penyewaan iPad selama perjalanan. Harga yang ditawarkan berkisar antara $15 hingga $18 (Rp 200.000 hingga Rp240.000) dalam sekali penerbangan. Sebuah harga yang bisa dibilang pantas daripada Anda harus bengong selama mengudara.

Akibat “Teror” Kotoran Manusia, Penerbangan United Airlines Terpaksa Dialihkan

Lama tak tersiar kabar dari salah satu maskapai wahid Negeri Paman Sam, United Airlines. Baru-baru ini, maskapai yang bermarkas di Chicago, Illinois, Amerika Serikat ini kembali menghebohkan dunia pemberitaan global setelah salah satu armadanya mendapat teror dari salah satu penumpangnya. Alhasil, penerbangan tersebut dialihkan ke luar jalur yang semestinya dan penumpang sempat terlantar selama masa pengalihan tersebut. Baca Juga: Pelayanan Buruk Malah Dongkrak Laba United Airlines, Kok Bisa? Seperti yang dilansir KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber, armada United yang tengah melakukan perjalanan jarak jauh dari Chicago menuju Hong Kong tersebut terpaksa dialihkan ke Ted Stevens Anchorage International Airport di Alaska pada Kamis (4/1/2018) kemarin. Pesawat yang tengah mengangkut lebih dari 200 penumpang tersebut terpaksa dialihkan menuju Alaska setelah toilet di dalam penerbangan itu diteror dengan menggunakan kotoran manusia. “Kami menerima laporan bahwasanya seorang penumpang telah mengotori tembok toilet pesawat dengan kotorannya sendiri,” tutur juru bicara Polisi Bandara Ted Stevens Anchorage International Airport, Letnan Joe Gamache. Ketika diinterogasi oleh polisi bandara, pria yang disinyalir sebagai warga Amerika yang berdomisili di Vietnam ini bersikap kooperatif dan tidak melakukan ancaman apapun. Setelah diyakini tidak akan melakukan ancaman apapun terhadap awak kabin dan penumpang, akhirnya pria berusia 22 tahun tersebut digelandang menuju pos pemeriksaan, lengkap dengan borgol dan pengawalan dari pihak kepolisian bandara guna pemeriksaan lebih lanjut. Sama seperti pemeriksaan awal selama berada di dalam pesawat, pria yang namanya enggan dibongkar tersebut menunjukkan sikap kooperatif dan mengaku tidak mengetahui apa yang melatarbelakangi tindakan berbau teror ini. “Tidak ada biaya yang sesuai untuk kejahatan apapun,” imbuh Lt Joe. Setelah melewati serangkaian pemeriksaan yang didampingi oleh penerjemah, pria tersebut lalu dibawa ke rumah sakit untuk mendapatkan pemeriksaan mental dan hasilnya akan digunakan untuk pertimbangan langkah hukum apa yang selanjutnya akan ditempuh. Dalam sebuah pernyataan resmi, pihak United mengatakan bahwa armada Boeing dengan nomor penerbangan UA895 tersebut terpaksa dialihkan karena penumpang yang dinilai mengganggu. Sementara itu, bagi penumpang yang berada di dalam penerbangan tersebut akan disiapkan akomodasi hotel hingga pesawat siap untuk melanjutkan perjalanan kembali. Baca Juga: Minta Maaf Dua Kali, United Airlines Berdamai Dengan David Dao Sebelumnya, kasus yang ‘mengharumkan’ nama United adalah tindak kekerasan yang dilakukan oleh kru maskapai terhadap seorang penumpang bernama Dr. David Dao. Pria yang berprofesi sebagai dokter tersebut diseret secara tidak manusiawi keluar dari pesawat hingga mengalami luka yang cukup parah pada bagian kepalanya. Seolah belum kapok dengan aksi yang mengundang respon negatif dari seluruh penjuru dunia ini, nama United kembali menjadi perbincangan sarat emosi setelah permintaan maaf yang dilontarkan langsung oleh Oscar Munoz selaku CEO maskapai tersebut dinilai tidak sungguh-sungguh dan terkesan mengandung unsur penghinaan. Ada-ada saja, ya!

Perusahaan Bus di California Hadirkan Peta Audio dan Tactile Untuk Kaum Difabel

Serangkaian upaya telah dilakukan otoritas penyelenggara transportasi untuk memudahkan aksesbilitas penyandang tunanetra. Salah satu yang lumrah kita lihat adalah pemasangan tactile paving (ubin dengan ornamen timbul) yang fungsinya memudahkan navigasi kaum difabel. Sayangnya selain tactile paving, belum banyak pra sarana pendukung transportasi yang dihadirkan untuk penyandang tunanetra. Baca juga: Sering Terlupakan, Tactile Paving Penting Sebagai “Pemandu” Kaum Difabel Namun lain halnya dengan San Joaquin Regional Transit District (RTD), perusahaan pengelola bus regional di kota Stockton, California, Amerika Serikat. Operator bus ini meluncurkan layanan baru untuk penumpang tunanetra. Layanan baru tersebut adalah peta audio dan taktil (tactile) “Talk to Me“. KabarPenumpang.com merangkum dari laman cal.streetsblog.org (18/12/2017), peta audio ini digunakan untuk membantu para tunanetra menuju titik A ke titik B, dimana tersedia jalur halte dan terminal bus. Peta RTD taktil terikat spiral dalam sebuah buku besar. Setiap halaman memiliki gambaran tentang terminal transit, dengan deskripsi terminal dan petunjuk dimana naik bus dan dimana toilet dan loket loket berada. Peta ini tersedia di empat terminal RTD, yakni Downtown Stockton, Manteca, Lodi, dan Tracy. Peta audio ini dibuat oleh Media and Accessible Design Lab team yang berbasis di San Francisco. Mereka memiliki desain tactile yang tidak berantakan dan dicetak dengan warna kontras. Ini memudahkan penyandang tunanetra menjalankan jari mereka karena ada label, kunci dan instruksi dalam huruf braille. Peta ini juga dipasangkan dengan pena Livescribe yang bisa mengeluarkan suara dan memberikan informasi audio bagi penumpang tunanetra. Peta ini bekerja dengan menanggapi pola microdot yang tercetak di peta, menggunakan teknologi pengambilan data digital yang dikembangkan oleh Anoto. Petanya cukup sederhana bagi orang yang dapat melihat, dan memberikan banyak informasi kepada tunanetra. Joni Bauer, seorang spesialis orientasi dan mobilitas di Pusat Komunitas Kaum Difabel yang berbasis di Stockton, bekerja dengan klien yang berkisar dari orang-orang buta sejak kelahiran hingga yang berangsur-angsur kehilangan penglihatan mereka. Dia mengatakan bahwa tidak semua dari mereka membaca huruf braille, dan fitur pembicaraan peta berguna bagi orang yang belajar menavigasi sistem transit. Will Butler, direktur komunikasi Lighthouse for the Blind, mengatakan bahwa salah satu masalah besar yang dihadapi orang-orang dengan gangguan penglihatan atau kebutaan hilang pada gambaran umum lokasi tertentu. Garis embossed pada peta adalah upaya untuk membantu menciptakan gambaran umum tersebut. Peta taktil dan audio LightHouse sudah digunakan oleh BART dan sistem Muni di Bay Area, namun San Joaquin RTD adalah agen transit pertama di Central Valley untuk memanfaatkan sumber ini. Organisasi ini juga menciptakan peta taktil untuk taman dan museum negara bagian, dan sedang mengerjakan perangkat lunak yang memungkinkan seseorang mencetak peta sentuhan di rumah, dengan peralatan yang tepat. “Semua yang kita lakukan untuk komunitas buta kembali ke mobilitas. Karena kebanyakan sistem wayfinding dirancang secara visual. Lighthouse menghabiskan banyak waktu membuat mobilitas lebih adaptif,” kata Butler. Seperti semua agen angkutan umum, RTD harus mematuhi Undang-Undang Penyandang Cacat Amerika dengan menghilangkan hambatan untuk mengakses orang-orang yang tunanetra. Agensi ini diharuskan menyediakan menu sumber daya seperti paratransit, bus berlutut, signage braille dan bantuan audio pada mesin yang mengeluarkan tarif. Baca juga: moBiel, Vending Machine Yang Akrab Bagi Penyandang Disabilitas Proyek peta audio dan tactile tersebut bernilai $15 ribu, dan memerlukan banyak kolaborasi antar agensi untuk memastikan peta mudah digunakan dan informasi tentang informasi tersebut benar. Mulai bulan Januari 2018, RTD akan mengubah beberapa rute dan pemberhentiannya dan akan menambahkan stasiun baru, namun yang harus dilakukan oleh agen hanya menelepon LightHouse dan meminta mereka membuat halaman peta baru.

Gandeng Google, KLM Hadirkan ‘Asisten Pribadi’ Bagi Calon Penumpang

Dalam upayanya untuk meningkatkan pelayanannya kepada para penumpang, maskapai kebanggaan Negeri Kincir Angin, KLM baru-baru ini meluncurkan sebuah teknologi interactive voice-driven pack assistant di Beranda Google. Peluncuran inovasi ini dipercaya dapat membantu penumpang untuk menganjurkan barang yang hendak dibawa sesuai dengan destinasi yang mereka tuju. Baca Juga: Qatar Airways, KLM dan Bandara Heathrow Sabet Penghargaan di Future Travel Experience Awards Tidak hanya menganjurkan barang apa saja yang harus dibawa, inovasi ini juga dapat menginformasikan durasi perjalanan, cuaca di destinasi, dan menawarkan alternatif bagi penumpang tentang apa saja yang bisa mereka lakukan di destinasi tujuan. “KLM terkenal dengan pendekatan pribadinya terhadap penumpang. Layanan baru KLM di Google Home dengan Blue Bot (BB) adalah langkah lanjutan dalam strategi digital inovatif dan langkah pertama dalam hal suara, menawarkan layanan pribadi melalui Google Home dengan bantuan kecerdasan buatan,” tutur Wakil Presiden Senior Digital Air France-KLM, Pieter Groeneveld, dikutip KabarPenumpang.com dari laman runwaygirlnetwork.com (13/12/2017). “Blue Bot sendiri merupakan bot service KLM yang mendukung  penumpang dengan teknologi smart interactive voice-driven. Layanan ini juga tersedia di perangkat yang dilengkapi dengan aplikasi Google Assistant,” imbuh Pieter. Lebih lanjut, ia juga mengatakan ada fitur lain yang dapat diakses oleh penumpang melalui kerja sama yang KLM jalin dengan pihak Google. “Dalam waktu dekat, para calon penumpang juga dapat mengirim daftar pengingat melalui Beranda Google ke saluran media sosial yang mereka pilih. Alih-alih mereka tidak dapat mengemas barang tertentu secara instan, termasuk kemungkinan visa yang perlu diatur,” tandasnya. Untuk memudahkan pengenalan BB ini, KLM mengunggah video berdurasi satu menit ke jejaring sosial Youtube. Dalam video tersebut, terlihat benda menyerupai pengeras suara yang dapat diajak interaksi. Pengeras suara berwarna putih tersebut dapat secara rinci menyarankan barang-barang apa saja yang sekiranya mesti dibawa oleh calon penumpang, seperti visa hingga pakaian dalam yang cukup selama durasi mereka bervakansi. Anda tidak perlu mengeluarkan mengeluarkan kocek lagi untuk membeli gadget yang menyerupai pengeras suara tersebut, cukup menggunakan fitur yang tersedia di Google Assistant saja. Baca Juga: Qantas Airways – The “Flying Kangaroo” Rajai Maskapai Teraman di Dunia Diketahui, BB mulai beroperasi sejak bulan September 2017 sebagai bagian dari perpindahan KLM ke Facebook Messenger dan sekarang berkembang ke dunia otomasi berbasis suara. Sejak tahun 2009 silam, KLM telah mendapatkan reputasi sebagai pelopor dalam bidang layanan media sosial dan kampanye. Melalui sejumlah platform media sosial seperti WhatsApp, Facebook, Messenger, Twitter, WeChat dan KakaoTalk, KLM seolah menjelma menjadi maskapai yang sangat mengerti kebutuhan para pelanggan setianya. Terhitung sejak tahun 2016, KLM mulai memperkenalkan sistem Digital Genius artificial intelligence (AI) yang akan menjawab semua pertanyaan yang masuk ke dalam jejaring sosial mereka. Wajar saja jika upaya mendekatkan diri kepada pelanggan ini menuai banyak respon positif dari berbagai kalangan yang merasa kebutuhannya dibantu secara langsung oleh pihak KLM.

Diterjang Badai Salju, Halte Bus di Cina Ambruk Tewaskan Calon Penumpang

Badai salju kini tengah melanda daratan Cina, satu orang dilaporkan tewas dan 20 lainnya luka-luka akibat lima halte bus ambruk di Hefei, ibukota Provinsi Anhui di Cina Bagian Timur, Kamis (4/1/2018). Penumpang yang meninggal diketahui seorang wanita berusia 61 tahun. Baca juga: Kenapa Kapal Pesiar Bisa Tahan Terjangan Badai? Ternyata Jawabannya Sangat Sederhana! Musibah ini berawal dari badai salju yang terjadi pada Rabu (3/1/2018) dan membuat salju menumpuk setebal 30 cm di halte-halte bus. KabarPenumpang.com mengabarkan bahwa kejadian ambruknya halte bus ini terjadi pada jam sibuk dimana para penumpang menunggu bus pada halte-halte tersebut. “Kejadian itu terjadi pada jam sibuk, Banyak penumpang menunggu di bawah atap untuk menunggu bus. Atap tiba-tiba saja hancur tanpa ada peringatan apapun,” ujar seorang saksi yang di kutip KabarPenumpang.com dari laman gbtimes.com (5/1/2018).
Halte yang runtuh di Hefei, Cina Timur (www.szdaily.com)
Diketahui kurang dari satu tahun sebanyak 15 halte di Hefei runtuh total dan semuanya berada di Jalan Wangjiang, Hefei. Akibat ambruknya halte-halte ini, masyarakat mempertanyakan kualitas dari bangunan halte tersebut dan mengkritik pekerjaan konstruksi yang di anggap buruk ini. Kemudian ada juga yang mempertanyakan siapa yang bertanggung jawab atas kejadian tersebut. Zhang Jiaxiang, kepala Biro Manajemen Proyek Utama yang menanggapi runtuhnya halte-halte ini mengatakan, tim tanggap darurat telah dibentuk dalam semalam untuk melakukan penyelidikan di tempat kejadian. Jiaxiang juga berjanji, jika tim penyelidikan telah menemukan alasan runtuhnya halte-halte tersebut, maka masyarakat akan segera diberitahu alasannya. Selain runtuhnya halte-halte bus, tiga bandara di tutup dan sembilan lainnya mengalami penundaan cukup lama karena badai salju yang lebat. Dua diantara bandara yang ditutup tersebut berada di Anhui yakni Bandara Internasional Hefei Xinqiao dan bandara Fuyang Xiguan. Adanya peringatan terkait badai salju ini sendiri sudah disampaikan oleh observatorium provinsi. Satu bandara lainnya yakni andara Jining Qufu di provinsi pesisir Shandong telah ditutup. Beberapa landasan pacu di bandara lain juga ditutup dan menyebabkan penundaan. Tak hanya itu, akibat badai salju ini aktivitas di Bandara Internasional Beijing juga ikut terkena dampak dengan penundaan pemberangkatan. Beberapa jalan raya di Henan Tengah dan Ningxia barat laut juga ditutup karena salju. Baca juga: Belanda Diterpa Cuaca Buruk, Bandara Schiphol Bakal Lebih Sepi di Akhir Tahun Salju salju di Xian, ibu kota provinsi Shaanxi, juga menyebabkan tertundanya banyak kereta berkecepatan tinggi. Pusat meteorologi mengatakan hujan lebat atau salju di kawasan pusat dan timur China selama minggu depan.

Tiga Tahun Lagi Cina Luncurkan Kereta Maglev Berkecepatan 600 Km Per Jam

Akhir 2017 lalu, Cina merilis rencana tiga tahun kedepan untuk meningkatkan daya saing ekonomi negara tersebut dengan teknologi di sembilan sektor industrinya, mulai dari robotika hingga kereta api. Inisiatif dan rencana ini menandai usaha terbaru Beijing untuk mengembangkan industri yang dianggap akan memainkan peran penting dalam pembangunan ekonomi negara tersebut di masa depan. Baca juga: Pertama di Dunia! Cina Perkenalkan Halte Bus Cetak 3D dari Bahan Daur Ulang KabarPenumpang.com melansir dari laman scmp.com (27/12/2017), rencana yang diterbitkan oleh National Development and Reform Commission (NDRC), salah satunya adalah untuk mengembangkan kereta magnetik levitasi (Maglev) yang dapat melesat hingga 600 km per jam pada tahun 2020 mendatang. Selain itu ada juga pengembangan pada konseo mobil cerdas, robotika, pembuatan kapal, peralatan maritim, mesin pertanian modern, peralatan medis serta obat-obatan, bahan baju, manufaktur cerdas dan peralatan lainnya. Tujuan dalam pengembangan teknologi ini adalah menjadikan Cina sebagai negara manufaktur yang kuat dan meningkatkan kekuatan industri nasional melalui internet, big data dan teknologi kecerdasan buatan. Untuk mencapai hal ini, NDRC telah menetapkan target spesifik untuk mengembangkan teknologi utama dan membimbing penelitian serta arus dana di masing-masing sektor. Produsen mobil terbesar di Cina di dorong untuk menggunakan chip komputer. NDRC juga meminta agar produsen mobil mengembangkan peralatan berteknologi tinggi seperti kamera dengan resolusi tinggi dan sistem elektronik yang tepat untuk mengingatkan pengemudi jika berada dalam bahaya benturan (early warning system). Selain itu pada delapan sektor lainnya juga ditetapkan rencana yang serupa. Hal ini karena industri yang dipimpin Cina mendapat sorotan lebih di antara mitra dagang lainnya di Amerika Serikat dan Eropa. Uni Eropa sendiri baru memperkenalkan aturan terbaru untuk mencegah impor yang terlalu murah dari produsen luar negeri yang diduga memperoleh keuntungan melalui praktik perdaganagn yang tidak adil. Untuk sektor perkeretaapian, Cina berencana untuk mengembangkan kereta Maglev di kelas 600 km per jam akan menempatkan Negeri Tirai Bambu ini dipuncak industri kereta api dunia dalam penggunaan teknologi. Saat ini diketahui kereta di Cina tepatnya di Shanghai memiliki kecepatan rata-rata sekitar 200 km per jam. “Cina bersaing dengan Amerika Serikat untuk merenovasi sektor manufakturnya. Dukungan pemerintah dalam mengembangkan teknologi generik sangat dibutuhkan, namun harus dihindari agar tidak terlalu banyak melakukan strategi dan menetapkan tujuan yang tidak realistis. Saya ragu jika ada perusahaan yang tertarik untuk memasarkan teknologi maglev train karena harganya akan sangat besar,” kata Zhao Jian seorang profesor ekonomi di Universitas Jiaotong Beijing.     Hampir satu dekade setelah krisis keuangan global, Cina berada di jalur yang kuat untuk menjadi pemimpin global dalam industri mobil listrik yang menggunakan teknologi kecerdasan buatan. Namun, keberhasilannya terutama dapat dikaitkan dengan usaha yang kuat di sektor swasta. Kebijakan industri China, dari subsidi produsen panel surya hingga pembuat mobil energi baru, belum banyak mendukung perusahaan lokal untuk sukses. Baca juga: Tembus Pegunungan Qinling, Cina Luncurkan Kereta Cepat Lintasi Wilayah Utara dan Selatan “Kebijakan industri, meski bekerja dengan baik, hanya bekerja untuk jangka pendek. Untuk jangka panjang, Cina kehilangan kredit dengan membiarkan kekuasaan administratif memainkan peran besar dalam ekonomi dan ditakdirkan untuk menghasilkan lebih banyak keluhan dari negara-negara asing,” ujar Hu Xingdou, seorang ekonom independen.

Sering Lihat Simbol dan Deret Angka Ini di Stasiun? Inilah Arti Sebenarnya!

Dunia perkeretaapian memang selalu punya sisi yang menarik untuk dibahas. Khususnya di dalam negeri, pembahasan menarik tidak melulu berkutat pada perubahan signifikan yang terjadi pada layanan yang digawangi oleh PT KAI saja, melainkan faktor penunjang pengoperasiannya pun memiliki nilai estetika sendiri untuk diperbincangkan. Mari tinggalkan si ular besi untuk sementara waktu dan beralih pada infrastruktur pelengkap yang ada di dalamnya. Baca Juga: Sering Terlupakan, Tactile Paving Penting Sebagai “Pemandu” Kaum Difabel Jika diperhatikan, setiap stasiun memiliki sebuah plang yang bertuliskan nama stasiun, lengkap dengan susunan angka yang tertulis pada media yang sama. Mungkin sebagian dari Anda bertanya-tanya, “Apa sih makna dari angka-angka tersebut?”. Tidak menutup kemungkinan, beberapa dari Anda akan menerka bahwa angka-angka tersebut merupakan luas bangunan si stasiun, atau akumulasi lebar rel yang ada di stasiun tersebut. Sayangnya, semua tebakan di atas tidak sesuai dengan makna sesungguhnya dari angka-angka tersebut. Sebagaimana yang dihimpun KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber, makna tersirat dari penomoran tersebut adalah menunjukkan ketinggian stasiun dari permukaan laut. Ambil contoh Stasiun Bandung  ±709, itu menandakan bahwa stasiun yang berlokasi di pusat kota tersebut berada di ketinggian kurang lebih 709 meter di atas permukaan laut (mdpl). Contoh lain adalah Stasiun Surabaya Gubeng +5M yang menandakan bahwa stasiun tersebut berada di ketinggian 5 mdpl, dan seterusnya. Simbol yang berada di depan angka juga beragam, ada (+) yang menandakan di atas permukaan laut, (-) yang menandakan di bawah permukaan laut, ada juga (±) yang menandakan kisaran atau kurang lebih. Baca Juga: Apa Arti Nomor di Ujung Landas Pacu, Cari Tahu di Sini! Hadirnya angka-angka tersebut tidak hanya menandakan ketinggian stasiun, melainkan juga untuk menginformasikan masinis, apakah jalur yang ia lewati tersebut cenderung menanjak atau menurun. Salah satu laman sumber, TribunSolo.com, menyebutkan bahwa rambu tersebut juga bisa membantu masinis untuk menentukan penggunaan lokomotif yang sesuai dan juga muatan yang tepat. Apabila ketinggian hanya berkisar angka minim, maka lokomotif yang digunakan bukanlah lokomotif bertransmisi elektrik, dikarenakan loko jenis ini mudah mengalami korsleting. Sedangkan jika angka penanda tersebut cukup tinggi, maka lokomotif yang digunakan juga harus disesuaikan kapasitasnya yaitu yang kuat di tanjakan. Biasanya, alat yang digunakan untuk mengukur ketinggian sebuah stasiun adalah teodolit atau sekstan.