Jika Anda pernah duduk di samping jendela selama berada di dalam pesawat, tentu pemandangan yang menyita perhatian selain hamparan awan adalah sayap pesawat. Baik Anda duduk di barisan depan atau di paling belakang sekali pun, sayap pesawat akan selalu hadir menghiasi pemandangan Anda selama mengudara.
Baca Juga: Kebanjiran Pesanan, Boeing 737 MAX Toreh Sejarah Penjualan Pesawat Tercepat di Dunia
Nah, jika diperhatikan, ada dua jenis sayap pesawat yang biasanya Anda temui dewasa ini. Ada yang memiliki winglet, apa pula yang tidak. Winglet sendiri merupakan salah satu bagian terujung dari sayap pesawat yang berdiri tegak. Kebanyakan, pesawat-pesawat jaman sekarang sudah menggunakan teknologi winglet yang teruji dapat menekan angka pengeluaran bahan bakar selama mengudara.
Semakin melambungnya harga minyak dunia dalam beberapa tahun ke belakang membuat orang-orang di manufaktur produksi pesawat seperti Boeing dan Airbus memutar otak untuk menciptakan inovasi yang dapat menunjang efisiensi bahan bakar. Dilansir KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber, Boeing hadir dengan teknologi Scimitar Winglet, varian pada sayap pesawat yang dinilai mampu meningkatkan efisiensi bahan bakar.
Dari tampilan fisik, pengaplikasian teknologi ini dapat dilihat dari ujung sayapnya yang bercabang. Tujuan dari pemasangan Scimitar Winglet ini adalah untuk mereduksi vortex airflow yang biasanya menjadi hambatan udara pada saat pesawat melaju di kecepatan tinggi. Hambatan udara inilah yang akhirnya menjadikan pesawat lebih boros bahan bakar karena harus mengeluarkan tenaga yang lebih besar.
Sebelum inovasi Winglet ini diproduksi secara massal pada seri B737 MAX, perusahaan yang berbasis di Chicago, Illinois, Amerika Serikat ini telah terlebih dahulu menginstalasinya di beberapa armada B737 Next Generation (NG) milik United Airlines dan Ryanair dalam rangka uji coba komersial.
Scimitar Winglet. Sumber: trbimg.com
Dilansir dari sumber terpisah, pemasangan Scimitar Winglet yang mendorong inkarsi aerodinamis ini dapat mengurangi biaya bahan bakar hingga 2 persen, dengan kata lain, pihak maskapai dapat menghemat kocek perusahaan mereka hingga $200 juta. Pihak Boeing sendiri mengaku bahwa pemasangan Scimitar Winglet pada seri B737 MAX dan B737 NG memberikan keseimbangan sempurna yang memaksimalkan efisiensi keseluruhan kinerja pada bagian sayap.
“Dengan pengaplikasian Natural Laminar Flow pada Winglet B737 MAX, memungkinkan aliran udara laminar menjadi lebih halus pada bagian sayap. Hal ini akan mengurangi drag (daya hambat) dan meningkatkan efisiensi bahan bakar,” terang pihak Boeing, dikutip dari laman boeing.com.
Baca Juga: Intip Kecanggihan dan Ruang Kabin Boeing 737 MAX 8 Garuda Indonesia
Dari dalam negeri sendiri, diketahui beberapa maskapai telah menggunakan varian B737 MAX untuk menunjang pengoperasian sehari-harinya, seperti Lion Air dan Garuda Indonesia. Hingga akhir tahun 2015 lalu, Boeing mengklaim telah menerima 3.000 pesanan 737 MAX dari berbagai konsumennya di seluruh dunia. Garuda Indonesia sendiri memesan B737 Max 8 sebanyak 50 unit dengan harga senilai $4,9 miliar pada kala itu.
Pihak maskapai berplat merah ini baru mengoperasikan B737 Max 8 pada 1 Januari 2018 kemarin, karena pesawat yang menjanjikan efisiensi bahan bakar ini baru tiba di Indonesia pada 26 Desember 2017 kemarin.
Ketika menggunakan bus untuk perjalanan jauh selain macet apa yang Anda pikirkan? Biasanya yang terpikir adalah badan lelah karena duduk selama perjalanan dan hanya bisa menggerakan badan jika bus berhenti di tempat makan atau tempat peristirahatan.
Untuk kali ini Anda pasti sudah mengenal dengan sleeper bus atau bus dimana penumpang bisa tidur dengan nyaman baik itu dalam bentuk tempat tidur atau bangku dengan reclining seat yang bisa dijadikan tempat tidur. KabarPenumpang.com mendapatkan dari berbagai laman, ada berbagai jenis sleeper bus, dan salah satu yang akan di bahas kali ini adalah fasilitas bus milik PO Harapan Jaya.
Baca juga: Simba, Sleeper Bus Ultra Mewah Yang Siap Meluncur di 2018
Sleeper bus milik PO Harapan Jaya ada lima macam, kali ini KabarPenumpang.com akan membahas fasilitas yang berada di Luxury Class. Dalam bus ini fasilitas yang diberikan sangat lengkap dibanding bus lainnya. Tak hanya itu, Luxury Class PO Harapan Jaya menggunakan bus terbaru Avante di atas chassis Scania K360IB yang nyaman.
Fasilitas dalam bus Luxury Class (PO Harapan Jaya)
Nah, Anda penasaran apa saja fasilitas yangada di dalam bus ini? Selain full AC, toilet dan audio, bus Luxury Class juga memberikan penumpang kelengkapan bantal dan selimut untuk tidur selama perjalanan. Penumpang juga bisa menikmati WiFi gratis, sehingga bisa berselancar di media sosial dengan mudah dan tenang.
Ada yang unik dari bus ini, bukan hanya dibekali WiFi saja, tetapi bus ini dilengkapi dengan layanan telepon gratis yang bisa digunakan penumpang untuk menghubungi kerabat baik yang akan dikunjungi atau orang rumah. Untuk menggunakan telepon ini, penumpang hanya harus menuju bagian depan bus kemudian ke dashboard tepat samping kemudi.
Fasilitas yang diberikan Luxury Class PO Harapan Jaya (Youtube)
Kursi yang nyaman tempat Anda duduk dalam bus dilengkapi dengan sandaran kaki, meja lipat yang letaknya tersembunyi dibawah sandaran tangan. Sehingga penumpang tidak perlu repot dengan meja besar yang mengganggu karena jika tidak digunakan Anda bisa menyimpannya kembali kedalam sandaran tangan. Meja tersebut selain untuk meletakkan makanan juga bisa digunakan untuk laptop.
Pernah terpikirkah oleh Anda dalam sebuah bus terdapat kursi pijat dan mini bar? Mungkin untuk sleeper bus dengan tempat tidur mini bar ada, tapi di Luxury Class ini ada sebuah mini bar yang dilengkapi dengan dispenser untuk minum kopi, teh atau menyeduh mie instan cup. Sedangkan kursi pijat bisa Anda temukan jika ke bagian belakang bus dekat dengan ruang merokok.
Selama perjalanan Anda dimanjakan dengan berbagai fasilitas lengkap dan tak lupa pihak bus memberikan service makan untuk penumpang sebanyak dua kali tergantung tempat perhentian bus. Kursi dalam tipe Luxury Class ini sebanyak 22 dengan posisi seat 2-1.
Fasilitas yang diberikan Luxury Class PO Harapan Jaya (Youtube)
Bukan hanya fasilitasnya saja yang canggih, bus ini juga dikemudikan tanpa tuas transmisi untuk berpindah gigi. Sistem yang digunakan juga sudah komputerisasi, sehingga jika bus tersebut rusak bisa dipantau secara online dari pool bus.
Baca juga: Cabin Tawarkan Layanan Sleeper Bus Full Service
Luxury Class ini berangkat pada siang dan sore hari serta beroperasi sepanjang malam di perjalanan dengan dua pengemudi yang bergantian. Luxury Class milik PO Harapan Jaya tersebut melayani perjalanan Blitar-Cikarang-Jabodetabek-Merak-Lampung baik melalui jalur utara maupun selatan.
Harga sekali naik bus ini cukup murah Rp320 ribu untuk perjalanan dari Jakarta menuju Solo. Jadi, sudah yakin naik bus untuk menikmati kenyamanannya?
Setelah lama dinanti, akhirnya ada kepastian bahwa tahun 2018 ini PT KAI bakal menyakikan layanan WiFi di gerbong kereta. Meski bukan teknologi baru, harus diakui sejak lama wacana layanan WiFi sudah dicanangkan pihak PT KAI, namun karena masih ada sejumlah kendala teknis, implementasi WiFi on train berjalan lambat.
Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia (Persero) Edi Sukmoro menjanjikan peningkatan pelayanan di 2018. “Saat ini mengenai fasilitas WiFi di kereta ini terus kita bicarakan, dan harapannya tahun ini sudah kita implementasikan. Namun bertahap, tidak langsung semua kereta ada WiFi,” ucap dia di Gedung Jakarta Railway Centre (JRC), Jakarta, Selasa (9/1/2018).
Edi mengaku sudah mengalokasikan anggaran untuk pemasangan fasilitas internet on train tersebut. Hanya saja berapa investasinya, Edi masih belum bisa mengungkapkan mengingat masih dalam pembicaraan akhir. Menurutnya, saat ini fasilitas internet tersebut sudah menjadi keharusan mengingat perkembangan teknologi yang terus terjadi. Para pengguna kereta api saat ini sebagian besar sudah memiliki telepon genggam. “Dengan adanya WiFi, maka penumpang yang juga pebisnis bisa sambil kerja di dalam kereta,” tegasnya.
Beberapa kendala yang selama ini dihadapi PT KAI dalam implementasi WiFi adalah rangkaian set kereta (train set) masih putus sambung, artinya antar gerbong kerap dipindah atau ditukar-tukar. Semisal saat perbaikan, hanya satu gerbong yang dilepas. Pola ini menjadi menyulitkan dalam implementasi free WiFi.
Penempatan modul antena biasa disematkan di satu gerbong (kereta restorasi), dan saat antar gerbong dilepas atau diganti maka pengaturan kabel antar gerbong biasanya jadi bermasalah. Sebagai langkah perbaikan, beberapa KA kini sudah digelar dalam train set, artinya jika ada perbaikan (maintenance) maka ya harus dibawa satu train set tersebut, tidak lagi dilepas-lepas. Model train set sudah lumrah diadopsi di beberapa negara maju, seperti di kawasan Eropa.
Pelanggan pengguna aplikasi KAI Access milik PT Kereta Api Indonesia (Persero) patut berbangga. Pasalnya, kini perlu lagi mengantre untuk mencetak boarding pass sebagai tanda bukti bahwa Anda adalah penumpang kereta saat di stasiun. Pasalnya jika Anda membeli tiket kereta dari KAI Access maka, E-boarding pass atau boarding pass elektronik akan langsung diterbitkan melalui KAI Access versi terbaru.
Baca juga: Update Terbaru Aplikasi KAI Access, Tawarkan Fitur Check In Online dan Pesan Meals
“Penumpang tidak perlu antre check in dan cetak boarding pass di mesin cetak. Penumpang cukup melakukan scan barcode boarding pass pada aplikasi KAI Access di smartphone penumpang saat pemeriksaan boarding gate dengan tetap menunjukkan kartu identitas yang sesuai dengan data pada tiket,” ujar Edi Sukmoro, Direktur Utama PT KAI.
Boarding pass elektronik ini sudah resmi rilis sejak 2 Oktober 2017 lalu dan membuat proses pelayanan penumpang di stasiun keberangkatan menjadi semakin praktis. Sayangnya, boarding pass elektronik ini hanya bisa diterbitkan khusus pemesan tiket dengan melalui aplikasi KAI Access versi terbaru dan bisa di unduh dua jam sebelum keberangkatan kereta api.
Jika sudah menerbitkan e-boarding pass melalui aplikasi KAI Access, secara otomatis penumpang tidak dapat mencetak boarding pass di mesin check in di stasiun, atau sebaliknya. Sedangkan untuk pengguna aplikasi lain yang juga menjual tiket kereta api, penumpang tetap harus mencetak boarding pass di mesin cetak dan di lokasi stasiun tempat keberangkatan.
“Untuk penumpang yang membeli melalui aplikasi lain, tetap seperti biasa mencetak boarding pass di mesin,” ujar Humas PT KAI Agus Komaruddin yang dihubungi KabarPenumpang.com, Rabu (10/1/2018). Agus menambahkan, untuk fitur lainnya yang ada di aplikasi seperti E-Moda dan E-Porter saat ini masih dalam proses untuk bisa di gunakan. Dia mengatakan, kedua fitur ini akan dirilis secepat mungkin.
Baca juga: Akhirnya! Kereta Wisata Priority Keluar Juga Dari Depo KAI
“Kita untuk E-Meals sudah bisa digunakan seperti E-Boarding, sedangkan E-Moda dan E-porter karena bekerja sama dengan pihak luar, maka masih nunggu. Bisa pertengahan tahun, akhir tahun ini atau bisa juga besok. Tergantung nantinya,” jelas Agus.
Pembatalan pemberangkatan moda transportasi memang bisa menimpa kapan saja, di mana saja, dan dengan beragam alasan yang melatarbelakanginya. Untuk sebagian alasan seperti human error, tentu saja hal tersebut akan mengundang respon negatif dari para penggunanya yang merasa sudah dirugikan dari segi waktu. Hal ini pula yang terjadi di Sydney, Australia beberapa waktu yang lalu, dimana sistem kereta komuter di sana mengalami masalah yang berdampak pada penundaan hingga pembatalan sejumlah armadanya.
Baca juga: Sydney Central, Eksotisme Stasiun Tua Diantara Deru Penumpang Metropolitan
Sebagaimana yang dihimpun KabarPenumpang.com dari laman news.com.au (10/1/2018), Menteri NSW (New South Wales) Transport, Andrew Constance sampai-sampai mengutarakan permohonan maafnya secara langsung kepada para penumpang yang menjadi korban penundaan dan pembatalan sejumlah armada komuter di Sydney pada Selasa (9/1/2018) kemarin. Andrew mengatakan bahwa insiden ini dilatarbelakangi oleh kerusakan sejumlah elemen akibat gelombang panas hingga kinerja masinis yang kurang baik. Namun pihaknya enggan untuk melakukan refund kepada para penumpang.
Sebagaimana diketahui, wilayah Sydney dalam beberapa hari belakangan tengah mengalami gelombang panas ekstrem, suhu di kota terbesar di Australia tersebut mencapai di atas 40 derajat celcius. Dalam beberapa kasus kondisi tersebut kerap menimbulkan kebakaran hutan.
Antrian Penumpang di Central Station. Sumber: news.com.au
Tidak berhenti sampai di situ, penundaan dan pembatalan keberangkatan sejumlah kereta ini terjadi pada pagi hari (peak hours), dimana penumpang sedang berada di puncak kepadatan. Diantara semua jalur yang terkena dampak penundaan dan pembatalan keberangkatan ini, North Shore Line merupakan yang terparah karena terdapat lima layanan sekaligus yang dibatalkan. Walhasil, ribuan calon penumpang terdampar tanpa kejelasan nasib.
Tidak hanya di North Shore Line, penumpukkan penumpang juga terlihat di Central Station Sydney. Tidak adanya kejelasan tentang penundaan dan pembatalan layanan tersebut tak pelak membuat para calon penumpang geram. Menurut laman sumber, salah satu penumpang yang terjebak dalam situasi ‘shambolic’ tersebut mengatakan bahwa dirinya tengah mengejar penerbangan menuju bandara. “Padahal saya sudah meluangkan waktu dua jam lebih awal dari jadwal penerbangan. Namun kini saya masih terjebak di sini dan saya mulai panik,” tutur seorang penumpang bernama Jess Floyd.
Lain cerita dengan yang dirasakan oleh Nerina Shroff Dari Hornsby. On Time Performance (OTP) yang selalu didahulukan oleh perkeretaapian Australia kini seolah berbanding terbalik sehingga pemandangan ‘langka’ seperti ini pun terjadi di banyak stasiun. “Saya tidak pernah melihat penumpukkan penumpang se-gila ini sebelumnya di Central Station,” papar Nerina.
Baca Juga: AutoHaul, Kereta Diesel Otonom di Australia Barat
Sebagai langkah antisipasi, pihak Sydney Train dan NSW TrainLink menghimbau kepada para calon penumpang melalui jejaring sosial Twitter untuk menggunakan layanan bus untuk sementara waktu, hingga sistem perkeretaapian di sana sudah benar-benar pulih dan siap beroperasi.
Sementara itu, Kepala Eksekutif Kereta Api Sydney, Howard Collins mengatakan pembatalan sejumlah layanan tersebut dikarenakan kekurangan masinsis. “Sekitar 65 hingga 75 masinis yang sedang sakit. Disinyalir karena mereka bekerja terlalu keras selama periode Natal kemarin,” ungkap Howard membela diri. “Kami akan merekrut lebih banyak masinis agar kejadian seperti ini tidak terulang kembali di masa yang akan datang,” imbuhnya.
PT Angkasa Pura II punya berkah tersendiri, pasalnya BUMN ini mengelola bandara terbesar di Indonesia, yakni Bandara Internasional Soekarno-Haatta (Soetta). Dan beragam hal yang terkait Bandara Soetta, akan berujung pada volume dan kapasitas yang besar pula. Seperti halnya untuk pelayanan penumpang, yang di sepanjang tahun 2017 lalu Bandara Soetta telah melayani 63 juta pergerakan penumpang.
Baca juga: Citilink Indonesia Buka Rute Bandara Halim Perdanakusuma – Silangit
Masih dari kawasan Ibukota, Bandara Halim Perdanakusuma yang juga dikeloka PT Angkasa Pura II juga menunjukan pertumbuhan penumpang yang positif, dimana di sepanjanh 2017, bandara yang juga berstatus pangkalan militer (lanud) ini telah melayani 7 juta penumpang.
President Director Angkasa Pura II Muhammad Awaluddin dalam siaran pers (9/1/2017) mengungkapkan bahwa pencapaian Bandara Internasional Soekarno-Hatta yang melayani 63 juta penumpang tersebut merupakan pencapaian yang luar biasa. “Karena dari total kurang lebih 50 juta penduduk Jabodetabek, dapat kami layani tidak hanya di bandara utama kami Soekarno-Hatta, tetapi juga di bandara Halim Perdanakusuma yang mencapai 7 juta penumpang,” terang Awaluddin. Adapun dari jumlah tersebut, terdiri dari 14,718 juta penumpang rute internasional dan 48,295 juta penumpang rute domestik.
Adanya pencapaian tersebut, lanjut Awaluddin tidak terlepas dari kerja keras insan Angkasa Pura II yang berkomitmen untuk terus melakukan peningkatan pelayanan di bandara-bandara AP II dimana para pengunjung dan pengguna jasa bandara menduduki posisi tertinggi untuk mendapatkan pelayanan terbaik. “Hal ini mendorong kami untuk terus berinovasi serta meningkatkan fasilitas yang ada di bandara kami. Seperti adanya kereta layang di Bandara Soekarno-Hatta untuk melayani perpindahan penumpang antar terminal,” ungkap Awaluddin.
Sementara itu, penyelenggaraan Angkutan Natal dan Tahun Baru yang berlangsung sejak 22 Desember 2017 hingga 8 Januari 2018 di bandara-bandara yang dikelola Angkasa Pura II berjalan lancar. Tercatat jumlah penumpang pesawat yang ada di 13 bandara Angkasa Pura II mengalami peningkatan 9 persen yakni dari 6,7 juta penumpang menjadi 7,3 Juta penumpang. Sedangkan pergerakan pesawat mengalami peningkatan sebesar 8 persen atau dari 47.700 pergerakan menjadi 51.600 pergerakan pesawat.
Adapun arus puncak libur nataru terjadi pada tanggal 22 Desember 2017 dengan jumlah pergerakan penumpang 371.400 dan puncak arus balik libur nataru pada tanggal 2 Januari 2018 dengan jumlah pergerakan 334.525. Top 5 Destination dalam Angkutan Natal dan Tahun Baru 2017 untuk domestik adalah Denpasar, Surabaya, Kualanamu, Makasar, dan Yogyakarta, dan untuk destinasi internasional adalah Singapura, Kuala Lumpur, Jeddah, Hongkong dan juga Bangkok. Untuk 3 Bandara yang mempunyai pertumbuhan terbesar dalam Angkutan Natal dan Tahun Baru 2017 ini adalah Bandara Silangit sebesar 50 persen, Tanjung Pinang sebesar 45 persen dan juga Bandara Pontianak sebesar 25 persen.
Awaluddin mengungkapkan rasa terima kasihnya kepada seluruh pihak yang telah membantu pelaksanaan angkutan Nataru 2017/2018 sehingga dapat berjalan lancar di seluruh bandara AP II. “Kami berharap, di musim liburan Natal dan Tahun Baru berikutnya kami dapat terus memberikan pelayanan terbaik kepada seluruh masyarakat,” ucap Awaluddin.
Selama angkutan Natal 2017 dan Tahun Baru 2018, jumlah penumpang terbanyak terdapat di Bandara Internasional Soekarno-Hatta mencapai 4,26 juta penumpang, kemudian Bandara Internasional Kualanamu, Deli Serdang, sebanyak 740.500 penumpang, lalu Bandara Internasional Halim Perdanakusuma sebanyak 482.500 penumpang.
PT Angkasa Pura I yang mengelola 13 bandara di wilayah Indonesia Tengah dan Timur, selama Natal dan Tahun Baru 2018 telah melayani 6.012.106 penumpang atau mengalami pertumbuhan sebesar 6,37 persen jika dibandingkan pada periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai 5.652.054 penumpang. Jumlah penumpang domestic mencapai 5.196.702 penumpang atau meningkat 7,13 persen dibandingkan pada tahun sebelumnya yang mencapai 4.850.878 penumpang. Sedangkan total penumpang internasional mencapai 815.404 penumpang atau meningkat 1,78 persen jika dibandingkan pada tahun sebelumnya yang mencapai 801.176 penumpang.
Baca juga: Usai Kembangkan 9 Bandara, Angkasa Pura I Canangkan Benahi Infrastruktur di El Tari dan Frans Kaisiepo
“Pergerakan penumpang baik domestic & internasional tertinggi terjadi di Bandara Internasional Juanda Surabaya yang melayani 1.406.640 penumpang atau meningkat 11,55 persen dibanding tahun sebelumnya sebesar 1.135.490 penumpang. Bandara Internasional Frans Kaisiepo, Biak mengalami pertumbuhan penumpang paling tinggi selama Natal dan Tahun Baru 2017 yang mencapai 22,99 persen atau 30.083 penumpang jika dibandingkan pada periode yang sama pada tahun sebelumnya yang mencapai 24.459 penumpang,” ujar Direktur Utama Angkasa Pura I, Faik Fahmi.
Pertumbuhan jumlah penumpang juga diikuti oleh pertumbuhan pergerakan pesawat selama Natal dan Tahun Baru 2018. Tercatat 47.578 pergerakan pesawat baik domestic dan internasional di 13 bandara yang dikelola Angkasa Pura I atau meningkat 9,07 persen jika dibandingkan pada periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai 43.621 pergerakan pesawat. Pergerakan pesawat tertinggi terjadi di Bandara Internasional Juanda yang mencapai 9.958 pergerakan pesawat atau meningkat 16,06% jika dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai 8.580 pergerakan pesawat. Sementara Bandara Frans Kaisiepo mengalami pertumbuhan tertinggi pergerakan pesawat sebesar 27,03 persen atau 437 pergerakan pesawat jika dibandingkan pada periode yang sama pada tahun sebelumnya yang mencapai 344 pergerakan pesawat.
“Secara keseluruhan Pelaksanaan Posko Angkutan Udara Natal dan Tahun Baru 2018 di 13 bandara yang dikelola oleh Angkasa Pura I berjalan aman, baik dan lancar. Kami ucapkan terima kasih kepada pihak-pihak yang telah mendukung situasi yang kondusif selama pelaksanaan Posko seperti Otoritas Bandara, TNI, Polri, Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP), Basarnas, BMKG, Airnav Indonesia, pihak maskapai serta masyarakat,” tambah Faik.
Selain fasilitas In Flight Entertainment (IFE), hal lain yang dibutuhkan penumpang selama penerbangan adalah dudukan yang pas untuk menempatkan perangkat elektronik di depan kursi. Sekilas nampak sepele, namun pada kenyataan banyak penumpang yang merasa bingung untuk meletakan gadget, ketika pilihannya adalah menaruh smartphone/tablet di kantung majalah, sudah pasti itu bukan ide yang baik, mengingat Anda tak mudah menggapai gadget bila suatu waktu dibutuhkan.
Baca juga: Rancang Ruang Bagasi Unik, Kelompok Mahasiswa Hong Kong Raih Penghargaan dari AirbusKabarPenumpng.com melansir dari laman runwaygirlnetwork.com beberapa perusahaan penerbangan kini menunjukkan pilihan PED (Personal Electronic Device) berteknologi rendah yang dirilis untuk disematkan pada meja/kursi penumpang. Seperti Zodiac Aerospace yang memperkenalkan tempat duduk Z400 barunya di Boeing 777X, inovasi ini digadang bisa digunakan untuk meletakkan kabel dan dudukan telepon serta pegangan meja.
PED berada dibalik meja, sehingga untuk menggunakannya meja harus tetap terbuka. Tak hanya Zodiac, beberapa perusahaan penerbangan lain juga membuat hal serupa dimana Pitch memiliki soket USB yang berada di balik meja. Pitch menjadi salah satu pengguna PED paling inovatif dan sederhana untuk tablet. Desain Pitch sendiri sangat pintar dengan meja ultra slim yang bisa diangkat dari sisi lutut penumpang, ini bisa menciptakan lebih banyak ruang bagi penumpang.
(runwaygirlnetwork.com)
Sementara itu, perusahaan teknik material Boltaron, menunjukkan permukaan nonslip yang dapat merevolusi desain pemegang PED. Boltaron menunjukkan permukaan lengket dengan segelas air, namun produknya bisa dimodifikasi untuk mengakomodasi PED, yang cenderung meluncur.
Dibandingkan dengan titik atau strip karet tradisional, permukaan Motaron tidak bersih, tapi juga tidak dikenai atau dipenggal dengan penggunaan. Memang, desain Boltaron mengingatkan pada kabin koordinat Embraer E-Jet E2 yang dikoordinasikan Priestmangoode, yang harus dirancang ulang oleh perancang udara setelah memenangkan Crystal Cabin Award, di mana permukaan lengket pada pemegang PED yang hampir vertikal.
Adapun solusi lainnya datang dari kabin HAECO yang memiliki sentuhan unik untuk kursi malas di pasar premium, meja koktail gabungan dan pemegang PED. Meski tidak biasa, ini agak rumit dengan banyak komponen yang bergerak dan sepertinya hanya cocok untuk perangkat berukuran smartphone jika kedua penumpang menggunakan receiver yang terpasang di tengahnya.
Seatmaker HAECO menunjukkan fitur flip-down tambahan dengan kedua pemegang PED berputar maju ke belakang dan potongan cupholders. Sehingga membuat dudukan pemegang PED pada poros ini tentu terasa sangat alami, namun satu masalahnya adalah bobot dan ukuran perangkat yang bervariasi secara signifikan.
Baca juga: Smartsealz, Headset Berteknologi Augmented Reality, Sanggup Bantu Tugas Pilot!
Memastikan bahwa mekanisme ini cukup kuat untuk mendukung iPad Pro 12,9 inchi dan SE SEWA empat inci, sementara masih mudah diubah tanpa menggunakan perangkat sebagai pengungkit, sangat kompleks. Di sini, seperti di tempat lain dalam kategori fitur permukaan ekstra lipat, pemegang cuplikan yang rendah hati akan kembali mungkin karena semakin banyak maskapai penerbangan kembali ke model minuman gratis atau berusaha meningkatkan permintaan untuk penjualan minuman tambahan mereka dan di sana adalah lingkup untuk desain dual tujuan.
Setelah berhasil mengembangkan robot di Tanah Airnya sendiri, Korea dimana robot-robot tersebut akan ditugaskan untuk membantu petugas Bandara Internasional Incheon selama Olimpiade Musim Dingin yang jatuh pada 9 hingga 25 Februari 2018, kini raksana elektronik LG Electronics mulai beralih menuju pengembangan robot lainnya.
Melihat dunia robotika sebagai ladang bisnis yang cukup menjanjikan dan diprediksi akan diminati oleh banyak pihak dalam beberapa tahun mendatang, maka tidak heran jika LG memfokuskan diri pada pengembangan teknologi penanda perkembangan jaman ini.
Baca Juga: Sambut Olimpiade Musim Dingin, LG Hadirkan Dua Robot Canggih di Bandara Incheon
Sebagaimana yang dihimpun KabarPenumpang.com dari laman newatlas.com (5/1/2018), pihak LG Electonics akan kembali ‘menggemparkan dunia’ dengan sejumlah robot yang akan diluncurkan pada pertengahan bulan Januari 2018 ini. Rencananya, perhelatan Consumer Electronic Show (CES) Las Vegas 218 akan menjadi saksi dari peluncuran empat robot yang sudah dikembangkan oleh pihak LG sebelumnya.
Berbeda dengan peluncuran robot pada pagelaran CES 2017 kemarin, dimana LG merilis Airport Guide Robot, Airport Cleaning Robot, Lawn Mowing Robot, dan Hub Robot, kali ini LG akan meluncurkan tiga robot yang dibangun untuk melakukan interaksi dengan pelanggan di supermarket berkelas premium. CLOi (dilafalkan KLOH-ee), begitulah robot pembantu pelanggan supermarket ini disebut, memiliki perawakan setinggi orang yang sedang jongkok, ditambah dengan bagian atas yang menyerupai muka seseorang.
Serving Robot. Sumber: newatlas.com
“The Serving Robot memiliki pangsa pasar hotel dan bandara,” tutur pihak LG, dikutip dari laman sumber. Berlandaskan alasan ekonomi dan keamanan, The Serving Robot ini nantinya akan menggantikan tugas manusia di restoran, dimana setiap pengunjung bisa melakukan pemesanan melalui sistem touchscreen yang diterapkan. Makanan pun akan diantar oleh robot ini, dengan mengandalkan fitur baki built-in, sehingga diperkirakan dapat meminimalisir terjadinya human error seperti makanan yang jatuh dari baki, dan lain-lain.
Porter Robot. Sumber: newatlas.com
Varian lainnya adalah The Porter Robot. Sesuai dengan namanya, wilayah operasi dari robot ini adalah seputaran hotel, dimana robot ini akan membantu setiap pengunjung untuk membawa barang bawaannya menuju kamar yang sudah dipesan. Selain itu, The Porter Robot juga bisa menangani proses check-in dan check-out secara cepat, hingga membantu proses pembayaran.
Shopping Cart Robot. Sumber: newatlas.com
Terakhir adalah Shopping Cart Robot, dimana teknologi ini akan mengambil wilayah operasi di sekitaran supermarket berkelas premium. Tugasnya adalah untuk membantu pengunjung untuk berbelanja, termasuk memindai barcode harga dan menampilkan informasi tentang barang tersebut, hingga menampilkan daftar belanjaan yang dibeli. Dikombinasikan dengan aplikasi di smartphone, pengunjung juga bisa memerintahkan si robot untuk membantu mencari barang yang hendak dibeli.
Baca Juga: Ini Dia Troika! Robot Canggih di Bandara Incheon, Korea Selatan
“Sebagai salah satu tonggak penting dari pertumbuhan perusahaan kami, LG berkomitmen untuk memperluas portofolio di dunia robotika, dimana kehadirannya dapat memberikan kenyamanan dan inovasi nyata dalam kehidupan para pelanggan kami,” tutur Ryu Hye-Jung, kepala divisi bisnis solusi cerdas LG’s Home Appliance & Air Solutions Company.
“Perjalanan kami tidak akan berhenti sampai di sini. Kami akan terus mengembangkan berbagai macam produk yang berkaitan dengan dunia robotika, sembari mencari peluang baru untuk berkontribusi pada kemajuan industri robotika,” timbalnya.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada kejelasan mengenai kapan deretan robot CLOi ini ditawarkan kepada publik.
Smart Cabin Reconfiguration merupakan hasil penelitian dan kolaborasi antara Airbus, Recaro dan THK. Dan hasil kolaborasi dari tiga nama besar tersebut memunculkan adapa yang disebut sebagai Flex Seat dan dibuat untuk kebutuhan Smart Cabin Airbus A320 yang diluncurkan tahun 2017 lalu pada Aircraft Interior Expo di Hamburg.
Baca juga: JetBlue Upgrade Desain Kabin Airbus A320, Tapi Penumpang Justru MeranaKabarPenumpang.com melansir dari laman apex.aero, Flex Seat sendiri menawarkan fleksibilitas dalam tata letak tempat duduk, sehingga maskapai bisa memaksimalkan pemesanan dan memberi penumpang ruang kaki ekstra jika penerbangan tidak terisi penuh. Cara kerjanya pun cukup mudah, awak kabin hanya menyesuaikan tempat dengan mengangkat jok kursi, melepaskan mekanisme penguncian lantai dan mendorong kursi depan terpisah di sepanjang sistem rel.
Mekanisme sederhana ini hampir tidak memerlukan komponen tambahan dan dapat dioperasikan sepenuhnya tanpa alat dan yang penting dapat dilakukan awak kabin dengan sedikit usaha. Jochen Lohrmann, kepala Manajemen Inovasi di Recaro, mengatakan bahwa Flex Seat tidak akan mempengaruhi waktu perputaran di antara penerbangan.
“Salah satu tujuan utama kami adalah memberikan solusi sederhana agar tata letak kabin bisa diubah dalam hitungan menit. Tapi maskapai harus tahu bagaimana mengelola ini, di dalam sistem pemesanan mereka, misalnya,” katanya.
Flex Seat adalah bagian dari paket “bintang lima baru” yang ditawarkan Recaro dan ini jelas menunjukkan bagaimana gagasan sederhana dapat berkembang menjadi inovasi dalam wujud produk nyata. Oleh karena itu, awak kabin dapat secara fleksibel mengatur konfigurasi tempat duduk di antara penerbangan tergantung pada volume penumpang yang sebenarnya dan memastikan lebih banyak ruang untuk berselonjor kaki.
Tak hanya itu, Recaro juga menampilkan teknologi iSeat yang mampu menginformasikan awak kabin tentang posisi kursi melalui aplikasi. Sensor yang ada di sandaran tangan dan meja lipat juga bisa mendeteksi posisi duduk penumpang yang tepat untuk lepas landas dan mendarat, sebab bisa meningkatkan efisiensi awak kabin.
(apex.aero)
Aplikasi ini juga mencatat berapa kali bagian tubuh telah bergera yang memungkinkan perawatan prediktif. Tak hanya itu, aplikasi ini juga dipajang di AIX yang merupakan rak tablet Recaro dengan pemegang cup terpadu.
Recaro Aircraft Seating mengembangkan ide kreatif dan solusi yang disesuaikan untuk kabin pesawat dan gagasan ini menawarkan wawasan yang jelas tentang apa yang akan terjadi di masa depan. Layanan Pelanggan, Kursi Flex, Kesejahteraan, Solusi antibakteri dan iSeat adalah lima bintang baru dari Recaro yang memenuhi keinginan maskapai penerbangan untuk menyesuaikan sekaligus mencerminkan secara sempurna evolusi dinamis dari sektor penerbangan.
Baca juga: Gunakan Teknologi Mobile-Encoding, Netflix Siap Manjakan Penumpang Pesawat
Marisa Garcia, mantan direktur perusahaan di Hoover Industries, telah bekerja dengan tim teknik untuk sertifikasi pelapisan dan membuktikan kesulitan prosesnya, “Begitu Anda menambahkan lapisan kimia ke permukaan, ia harus melewati tes burn baru. Mendapatkan hak campuran pada lapisan apapun sangat halus. Bahan kimia memiliki volatilitas yang sangat tinggi, Anda harus melakukan pengujian berulang dengan mudah bisa memakan waktu setahun. “