Terowongan MRT di Singapura Kebanjiran? Ini Dia Penyebabnya!

Meski jauh berada di bawah tanah, jalur perlintasan kereta bawah tanah atau akrab dikenal sebagai Mass Rapid Transit (MRT) sudah dirancang sedemikian rupa agar tahan terhadap ancama banjir. Selain dilengkapi sistem saluran air yang maju, jalur lintasan sampai stasiun dilengkapi seal khusus. Jika pun sampai air sampai masuk, sistem pompa telah disapkan untuk kondisi darurat. Namun pada dasarnya risiko banjir sudah bisa di eliminasi sedari awal. Tapi belum lama ini ada kabar yang mengejutkan datang dari Singapura, bahwa salah satu terowongan MRT di Negeri Pulau tersebut tepatnya di daerah stasiun Bishan, yang merupakan stasiun interchange, mengalami kebanjiran. Kok bisa? Bukankah segala sesuatunya di Singapura serba modern, tertib, teratur dan aman. Bahkan Singapore MRT (SMRT) telah dijadikan salah satu benchmark oleh PT MRT Jakarta. Banjir ini setelah diselidiki disebabkan karena pemeliharaan sistem pompa yang tidak dilakukan dengan benar sejak Desember tahun 2016 lalu. Baca juga: Stasiun MRT Singapura Siap Uji Coba Gerbang Tiket “Handsfree” KabarPenumpang.com melansir dari laman channelnewsasia.com (31/10/2017), bahwa pemeliharaan tiga bulan sekali yang dilakukan tidak sebagaimana mestinya yang ditentukan dalam aturan manual SMRT. Hal ini didapat dari pernyataan yang disebarkan SMRT melalui sebuah siaran pers. Ternyata catatan pemeliharaan terkait stasiun SMRT ini sudah ditandatangani dan diserahkan kepada pihak SMRT oleh pemelihara. Namun nyatanya dalam penyelidikan yang dilakukan pihak SMRT menujukkan tidak adanya persetujuan akses jalur yang dikeluarkan untuk pemeliharaan dan perawatan pompa di Bishan. Diketahui juga ternyata pompa tidak diaktifkan, dimana hal tersebut sudah merupakan bagian dari prosedur perawatan. Manager dan staf yang bertanggung jawab atas pemeliharaan sistem pompa Bishan diberhentikan sementara dan diperbantukan untuk penyelidikan. “Kami akan bekerjasama dengan regulator untuk memastikan proses yang harus diikuti. Integritas dan tanggung jawab oleh manager dan supervisor kami adalah kunci dan merupakan bagian dari nilai inti. Kami bertekad untuk memperbaiki hal ini dengan cepat dan tegas serta menerapkan serangkaian tindakan untuk melakukannya,” ujar juru bicara SMRT. Baca juga: Sejarah MRT Singapura, Dibangun di Atas Keterbatasan Lahan Adanya masalah ini membuat operator kereta melakukan perubahan pada tim management dan perawatan serta membentuk tim inspeksi tentang kesiapan bersama. Nantinya tim inspeksi ini akan melengkapi laporan ke sistem audit SMRT sendiri dan melaporkan secara independen ke audit dewan SMRT serta komite risiko. “Ini akan memastikan bahwa pembaruan pemeliharaan dan aset diaudit diaudit dan dipantau secara sistematis,” kata SMRT. SMRT nantinya juga akan melibatkan para ahli untuk membantu meningkatkan pengawasan pengendalian mutu dari semua kegiatan preventif dan melakukan pemeriksaan sistem secara menyeluruh terhadap sistem kritis untuk memasktikan bahwa pekerjaan pemeliharaan dilakukan sesuai dengan standar yang diterapkan/ “SMRT tidak memiliki toleransi terhadap kegagalan dalam pengawasan dan ketekunan atas tugas pemeliharaan. Kami tidak memaafkan tindakan ketidakjujuran dan kelalaian tanggung jawab, baik oleh manajemen atau staf. Semua orang yang bertanggung jawab akan ditindak secara tegas, terlepas dari pangkat dan posisi, oleh karena itu, rantai komando manajemen yang relevan di SMRT harus dimintai pertanggungjawabannya,” ujar Chairman SMRT Seah Moon Ming. Land Transport Authority (LTA) atau Otoritas Transportasi Darat mengatakan dalam sebuah surat pernyataan bahwa pihaknya sangat prihatin dengan investigasi SMRT terkait ditemukannya perawatan yang tidak dilakukan pada pompa induk di Bishan. LTA juga akan melakukan evaluasi hasil investigasi SMRT mengenai dugaan pemalsuan catatan pemeliharaan sebelum kejadian banjir terowongan secara independen. “Sebagai regulator, Otoritas Angkutan Darat melihat adanya pelanggaran terhadap semua lisensi pengoperasian kereta api secara serius, termasuk yang berkaitan dengan pemeliharaan aset operasi kereta api,” kata otoritas tersebut. Setelah hujan deras pada hari 7 Juli 2017, bagian dari Jalur Utara-Selatan antara stasiun Braddell dan Bishan MRT mengalami banjiri. Layanan kereta api terganggu selama lebih dari 20 jam, yang mempengaruhi lebih dari seperempat juta penumpang. SMRT telah mengumumkan sebelumnya bahwa lebih banyak tindakan pencegahan banjir akan dilakukan untuk mencegah kejadian serupa terulang di masa depan.

Gagalkan Penyelundupan Sabu-Sabu, Petugas Avsec Adi Sutjipto Diganjar Hadiah dan Penghargaan

0
Hari Kamis 20 Oktober lalu, ada peristiwa yang membuat geger Bandara Adi Sutjipto Yogyakarta. Pangkal musababnya petugas aviaton security (avsec) pada pukul 13.06 WIB berhasil menggagalkan penyelundupan sabu-sabu, tidak tanggung-tanggung, temuan barang haram ini jika di total mencapai berat 3 kg dengan taksiran nilai mencapai Rp4,5 miliar. Baca juga: Usai Kembangkan 9 Bandara, Angkasa Pura I Canangkan Benahi Infrastruktur di El Tari dan Frans Kaisiepo Seperti diwartakan, penggagalan penyelundupan sabu-sabu bermula ketika petugas avsec mendapati tiga orang yang dianggap mencurigakan saat memasuki Screening Check Point (SCP) 2 Terminal B. Petugas kemudian melakukan body screening, dan ternyata ditemukan empat bungkus sabu-sabu, masing-masing seberat 750 gram. Ketiga penumpang tersebut sedianya akan terbang dengan terbang menggunakan pesawat Sriwijaya Air SJ230 rute Pekanbaru-Yogyakarta-Balikpapan. Selanjutnya petugas mengamankan ketiga orang tersebut. Pihak Angkasa Pura I lantas mengkoordinasikan temuan ini ke Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dan POM AU. Sejumlah barang bukti juga diserahkan ke BNNP DIY. Karena dianggap merupakan sebuah prestasi besar, manajemen PT Angkasa Pura I (Persero) selaku pengelola Bandara Adi Sutjipto memberikan sertifikat penghargaan langsung oleh Direktur Utama, hadiah uang sebesar lima kali gaji, dan beberapa hadiah lainnya. Pemberian apresiasi dilakukan di kantor pusat PT Angkasa Pura I (Persero), Jakarta. Baca juga: Tangkal Aksi Teror di Bandara, Angkasa Pura Airports Gandeng TSA “Kami mengapresiasi keberhasilan tim avsec Angkasa Pura I yang dengan sigap berhasil menggagalkan upaya penyelundupan sabu-sabu tersebut. Manajemen berharap tim avsec tetap mempertahankan kinerja yang baik dalam upaya melakukan pencegahan penyelundupan barang ilegal melalui pesawat udara, selain membantu menjaga keselamatan dan keamanan penerbangan udara,” ungkap Direktur Utama PT Angkasa Pura I Danang S. Baskoro, dikutip dari siaran pers (30/10/2017).

Gunakan Rel Virtual, Autonomous Rail Rapid Transit Siap Mengular di Zhuzhou

Pada bulan Juni 2017 sistem Autonomous Rail Rapid Transit (ART) resmi dikembangkan oleh Cina dan digunakan pada kereta tanpa kabel listrik dan rel. Sistem transportasi futuristik ini menggunakan jalur rel virtual dan sudah melakukan uji cobanya di jalan raya daerah Zhuzhou di Provinsi Hunan. Baca juga: AS Ikuti Cina Gunakan Teknologi Rel Virtual dalam Autonomous Rail Transit KabarPenumpang.com melansir dari laman channelnewsasia.com (30/10/2017), kereta yang berjalan di rel virtual ini memiliki kecepatan maksimum 70 km per jam dan mampu menampung 300 penumpang di tiga gerbongnya. Adanya ART nantinya akan mempercepat transportasi umum di Zhuzhou sebelum dikembangkan di kota lainnya di Cina. Utuk pembuatan ART ini biaya yang dikeluarkan jauh lebih murah dibandingkan dengan kereta bawah tanah biasanya dan hanya menghabiskan biaya sekitar 400 juta Yuan sampai 700 juta Yuan per kilometernya di Cina atau sekitar US$82 juta. Ini memang sedikit lebih mahal dari trem listrik yang menghabiskan 150 juta sampai 200 juta Yuan per kilometernya. ART sendiri hanya sekitar seperlima dari investasi kereta api di Cina dan akan mulai resmi diluncurkan pada tahun 2018. Sistem ini juga diadopsi oleh Amerika Serikat tepatnya di Milwaukee County. DI AS, ART dibangun untuk menghubungkan perkantoran, sekolah dan tempat hiburan sepajang 14 km yang melalui pusat kota Wilwaukee, Near West Side dan Wauwatos. Dalam pembangunannya kereta ini akan berjalan di atas ban bukan di atas rel logam. Ini dikarenakan ada kemunginanan aspek bus tanpa awak dianggap tidak praktis. Kemungkinan, ART yang ada di Cina dan Amerika Serikat akan berjalan bersamaan tahun 2018 mendatang, sebab keduanya menggunakan sistem yang dikembangkan oleh Chіnа Railway Rоlling Stоck Cоrp (CRRC). Baca juga: Cina Luncurkan ART, Kereta Otonom Tanpa Rel Untuk Kota Kecil ART bergerak menggunakan sensor hi-tech untuk mengumpulkan informasi perjalanan dan mengidentifikasi trotoar yang ada di jalanan. ART diklaim akan menggunakan tenaga baterai yang bebas dari polusi. Kereta tersebut diketahui mampu menempuh jarak sekitar 25,7 km setelah baterai terisi selama 10 menit. ART memiliki lebar 3,75 meter dan akan berjalan di jalur garis putus-putus. Opersional ART disebut-sebut mampu beroperasi hingga 25 tahun. Sistem ART yang menggunakan rel virtual terlihat banyak menghemat dalam hal investasi infrastruktur, namun beberpa pengamat transportasi menyebut sistem rel virtual agak rentan dalam hal keamanan, yaitu rel virtual yang tak ubahnya adalah jalanan aspal biasa tak memberikan jalur eksklusif untuk moda angkut massa ini. Artinya jalur ART sangat rentan diserobot oleh kendaraan lain. Jika sudah begitu, rasanya ART kurang ideal diterapkan di Jakarta. Bagaimana menurut Anda?

Michio Suzuki – Bermula dari Mesin Tenun Hingga Digdaya di Pasar Otomotif Dunia

Lahir di Hamamatsu sebuah kota kecil yang terletak sekitar 200 km dari Tokyo, Jepang pada 10 Februari 1887, tidak ada yang menyangka bahwa kelak Michio Suzuki akan menjadi founder dari salah manufaktur transportasi multinasional, Suzuki. Michio, anak dari petani kapas ini sadar bahwa keluarganya berada jauh dari kata mapan, dan ia pun tumbuh menjadi seorang pekerja keras. Pada tahun 1909, tepat di usianya yang menginjak 22 tahun, Michio merancang sebuah alat tenun berbahan dasar kayu yang dioperasikan menggunakan pedal, dan mulai menjualnya. Baca Juga: Iwasaki Yataro – Titisan Keluarga Samurai Yang Sukses Mendirikan Mitsubishi Itulah yang menjadi cikal bakal berdirinya Suzuki Loom Works. Walaupun bisnis tersebut berjalan dengan lancar, namun Michio tidak lekas puas dan tetap mengembangkan mesin hasil temuannya tersebut untuk industri sutera. Pada 1920, Michio memutuskan untuk memperkenalkan bisnisnya itu di bursa efek. Tuntutan pasar yang semakin meningkat tiap harinya memaksa Michio memutar otak untuk mencari dana segar. Pendirian Suzuki Loom Manufacturing Company (Suzuki Jidosha Kogyo) pada bulan Maret 1920 dianggap sebagai cikal bakal Suzuki Motor Company. Kucuran dana pun ia peroleh dan tidak menyia-nyiakan momentum tersebut, alhasil perusahaan tersebut berkembang pesat. Dua tahun berselang setelah pendiriannya, Suzuki Loom Manufacturing Company menjadi produsen alat tenun terbesar di Jepang dengan garmen dan pakaian jadi sebagai komoditas ekspor terbesarnya. Di tahun 1926 perusahaan tersebut mulai mengekspor alat tenunnya ke Asia Tenggara dan India, namun ketahanan alat tenun buatan Michio ini membuat permintaan terhadap alat tenun baru mulai menyusut. Dari situ, Michio kembali memutar otaknya untuk memperpanjang umur perusahaannya. Bisa dibilang, sangat sedikit produsen sepeda motor atau mobil dari Jepang sebelum Perang Dunia II pecah, sebut saja Soichiro Honda yang membuat sepeda motor pada tahun 1947. Padahal berpuluh tahun sebelum itu, di Eropa sudah mulai memproduksi sepeda motor atau kendaraan lainnya secara massal. Walaupun pada awalnya Jepang lebih banyak meniru model yang sudah ada di Eropa, namun pada kenyataannya Jepang kini mendominasi pasar motor dunia. Jepang mengimpor 20.000 kendaraan setiap tahunnya, namun belum mampu memenuhi permintaan pasar terhadap kendaraan ringan yang murah. Di sini, Michio melihat titik terang untuk perusahaannya dan mulai terjun ke bidang otomotif.
Mesin tenun buatan Suzuki. Seumber: istimewa
Pada tahun 1938, Michio membuat prototipe mobil pertamanya, yang ia pelajari dan tiru dari Austin Seven. Tim peneliti dari Suzuki Loom Manufacturing Company membeli Austin Seven dari Inggris, lalu dipreteli dan dipelajari. Beberapa bulan berselang, mereka mampu membuat replika mobil Austin Seven versi Suzuki. Pada saat itu Jepang menjadikan pabrikan otomotif di Eropa sebagai mentor mereka, karena minimnya pengetahuan tentang bagaimana memproduksi mobil dan sepeda motor yang bagus. Namun sayang, peperangan menghalangi Suzuki Loom Manufacturing Company untuk memproduksi Austin Seven versinya secara massal. Proyek tersebut pun terbengkalai. Kondisi pasca perang yang diharapkan dapat membangkitkan kembali perusahaan tersebut ternyata tidak sesuai dengan harapan. Struktur finansial yang berantakan pasca perang pada awal tahun 1950an hampir menghancurkan Suzuki Loom Manufacturing Company.
Salah satu produk Suzuki ketika awal menapaki karir sebagai manufaktur sepeda motor. Sumber: istimewa
Sebuah literatur mengatakan bahwa Shunzo, anak laki-laki Michio, memiliki ide untuk memasangkan mesin pada sepedanya ketika dia pulang dari perjalanan memancing pada suatu hari di musim gugur. Tanpa suatu tujuan khusus, dia berkutat dengan meja gambar di rumahnya dan mulai merancang sepeda bermotornya sendiri. Tidak pernah diketahui apakah cerita ini nyata atau tidak, tetapi yang pasti ide si anak menciptakan sepeda motor ini yang akan menyelamatkan perusahaan tersebut dari kehancuran. Singkat cerita, Suzuki Loom Manufacturing Company berkembang menjadi sebuah perusahaan yang berhasil mengembangkan sepeda motornya. Kesuksesan tersebut ditandai dengan bergantinya nama perusahaan menjadi Suzuki Motor Co. Ltd pada Juni 1954. Salah satu tonggak kesuksesan Suzuki di dunia sepeda motor adalah T500 yang mereka ekspor ke Amerika dan Inggris dengan nama Titan untuk USA dan Cobra untuk Inggris pada tahun 1976. Kehadiran T500 dinilai cukup sukses dan terus dikembangkan menjadi GT500 yang terus diproduksi hingga tahun 1977. Baca Juga: Gottlieb Wilhelm Daimler – Serap Ribuan Ilmu Jadi Kunci Kesuksesan Bapak Otomotif Asal Jerman Ini Sayangnya, usia Michio yang sudah sangat tua memaksanya beristirahat dengan tenang untuk selama-lamanya pada 27 Oktober 1982. Perannya di dunia otomotif tentu tidak bisa dipandang sebelah mata, andaikan Michio tidak bekerja keras kala itu, maka tidak akan ada merk Suzuki di jalanan dewasa ini.

Etihad ESCO Retrofit Bandara Dubai dengan Energi Tenaga Surya

Sebagai hub transit dari banyak maskapai internasional, bandara Internasional Dubai (DXB) di Uni Emirat Arab memang serba unggul dalam beragam fasilitas. Kabar terbaru malah menyebut Bandara Dubai akan dilengkapi sistem tenaga surya sebagai energi terbarukan yang ramah lingkungan. Pembaharuan atau retrofit energi ini akan dilakukan pihak bandara dengan mitra perusahaan layanan energi Etihad (Etihad ESCO) yang menggunakan basis panel PV (Photovoltaics). Baca juga: Akuarium Virtual Pemindai Wajah Sapa Calon Penumpang di Bandara Dubai KabarPenumpang.com melansir dari laman pv-tech.org (26/10/2017), berdasarkan kesepakatan keduanya baik antar Bandara Dubai dan Etihad ESCO yang dimiliki oleh Dubai Electricity and Water Authority (DEWA), maka solusi tenaga surya ini akan dipasang pada Terminal 1, 2 dan 3 Bandara Dubai. Tak hanya bandara, hotel milik bandara Dubai yang berada di Concourse B juga akan menggunakan teknologi PV solutions. Pada praktik dan pengerjaannya, Etihad ESCO akan menawarkan dalam bentuk penghematan listrik dan air sekaligus solusi PV. Hal tersebut diharapkan kedepannya bisa membantu Bandara Dubai untuk menghemat konsumsi energi hingga 20 persen setiap tahun. Wakil Ketua Dewan Energi dan Direktur Eksekutif Dubai dan CEO DEWA, HE Saeed Mohammed Al Tayer mengatakan, kesepakatan tersebut mendukung strategi pengelolaan side Dubai 2030 untuk mengurangi kebutuhan listrik dan air sebesar 30 persen di 2030 mendatang. Ini dilakukan dengan program seperti peraturan bangunan hijau. Dimana segala sesuatu yang ada dan dihasilkan bandara seperti pendinginan distrik, air limbah yang diolah kembali, penghematan energi dan hal lainnya. Tak hanya itu, di bandara Dubai juga akan dipasang panel Photovoltaics di atap bandara untuk menghasilkan listrik dari tenaga surya. “Kami senang bekerja sama dengan bandara Internasional Dubai dalam proyek strategis ini. Karena sejalan dengan tujuan kami untuk mengurangi emisi karbon,” ujar Al Tayer. Etihad ESCO saat ini melakukan perkuatan lebih dari 30 ribu bangunan di Emirat di tahap pertama proyek pengelolaan energi dan efisiensi. Bandara Dubai sendiri telah memasang panel PV di Dubai International dan Dubai World Central. Baca juga: Implementasi Modular Data Center Complex, Huawei Sokong Dubai Jadi “Smart Airport” DEWA baru-baru ini juga meluncurkan sebuah perusahaan investasi baru yang berbasis di Silicon Valley, California, yang akan mengadakan litbang dan inovasi dalam keberlanjutan dan energi terbarukan di antara fokus teknologi energinya. Kementerian Perubahan Iklim dan Lingkungan Hidup dan DEWA telah menandatangani nota kesepahaman (MoU) untuk memasang kafilah surya di gedung Kementerian di Dubai. “Ini mendukung Visi UEA 2021 untuk menciptakan lingkungan yang berkelanjutan dalam hal kualitas udara, mengurangi jejak karbon, dan meningkatkan ketergantungan pada energi bersih,” kata Al Tayer.

Terlalu Sering Alami Delay, Bandara Beijing Raih Predikat Kelima Terburuk di Asia

Tidak melulu sebuah penghargaan atau predikat yang melekat dapat dibanggakan, sebut saja Bandara Beijing di Cina yang mendapat predikat sebagai bandara dengan pelayanan terburuk kelima di sektor Asia. Penganugerahan predikat ini tidak lepas dari volume kepadatan penumpang dan tingkat penundaan penerbangan yang sangat tinggi dari bandara ini, terlepas dari masalah teknis atau non-teknis yang melatarbelakanginya. Biasanya, penumpang enggan menerima alasan tersebut dan hanya berpatokan pada “penerbangan yang delay”. Baca Juga: Tujuh Bandara Ini Jadi Yang Terbaik Untuk Fasilitas Nursery Room Dilansir KabarPenumpang.com dari laman thebeijinger.com (19/10/2017), predikat sebagai bandara dengan pelayanan terburuk kelima di Asia ini didapatkan dari survei yang dilakukan oleh Sleeping in Airports, sebuah laman jejaring yang ditujuan untuk menentukan kualitas suatu bandara dengan menjadikan pelayanan dan fasilitas istirahat yang disajikan sebagai poin utama penilaiannya. Survei yang dilakukan oleh situs tersebut juga menyebutkan bahwa Bandara Beijing merupakan bandara terburuk untuk disinggahi kedelapan di dunia. Penilaian tersebut diindikasikan dari kurangnya zona istirahat gratis, kabin tidur, dan tempat tidur bayi di bandara yang dioperasikan oleh Beijing Capital International Airport Company Limited ini. Walaupun di bandara tersebut menyediakan kamar yang dapat disewa oleh publik, namun harga yang ditawarkan tidaklah murah, yaitu sebesar 80 Renminbi atau yang setara dengan Rp164.000 untuk durasi 1 jam di kamar dengan single bed; 300 Renminbi atau setara dengan Rp613.000 untuk durasi satu malam. Tentunya harga tersebut akan membuat si calon penyewa kamar geleng-geleng, sangat mahal untuk ukuran kamar dengan single bed. Tapi, ‘pencapaian’ yang berhasil di raih Bandara Beijing masih berada di bawah Bandara Internasional Guangzhou Baiyun. Bandara yang terletak di Provinsi Guangdong ini menduduki peringkat ketiga kategori bandara terburuk di Asia tahun 2017, peringkat keempat kategori bandara terburuk untuk disinggahi, dan bandara terburuk ke-17 di dunia (dilihati dari segala aspek). Sebenarnya, volume penumpang di Bandara Beijing ini meningkat drastis tatkala akses menuju bandara yang terletak di sebelah selatan pusat kota Beijing ini rampung dan menjadikannya sebagai bandara tersibuk kedua di dunia pada tahun 2010 silam. Senada dengan Sleeping in Airports, situs informasi perjalanan udara milik Amerika, flightStats.com juga menempatkan Bandara Beijing sebagai bandara yang paling sering terlambat menerbangkan penumpang pada tahun 2013 silam, dimana hanya 18,3 persen penerbangannya yang berangkat tepat waktu. Baca Juga: Berada di Atas Awan, Daocheng Yading Jadi Bandara Tertinggi di Dunia! Tapi, tidak melulu soal pemberitaan buruk mengenai keterlambatan dan buruknya pelayanan yang menyelimuti bandara ini. Sebuah majalah yang mengulas tentang science and technology, Popular Mechanics pernah menempatkan Bandara Beijing sebagai salah satu dari 20 bandara paling mengesankan di dunia. Anda akan sependapat dengan Popular Mechanics manakala memasuki Terminal 3, hall sepanjang dua mil di bandara ini menampilkan perpaduan warna kontekstual khas kebudayaan Cina. Dan konsep tersebut merupakan simbolisasi dari seekor naga, hewan mitologi khas Negeri Tirai Bambu.

Bukan Sekedar Wacana, Elon Musk Unggah Foto Terowongan Transportasi LA ke Jejaring Sosial

Beberapa waktu yang lalu, CEO dari The Boring Company, Elon Musk menyatakan idenya untuk membangun sebuah terowongan di bawah tanah Los Angeles yang diyakini dapat menjadi salah satu solusi untuk masalah kemacetan di kota tersebut. Tidak membutuhkan waktu lama untuk Elon menjawab semua keraguan warga LA. Setelah pada bulan Juli kemarin ia sudah mengantongi ijin dari walikota LA, kini The Boring Company mulai ‘melubangi’ bawah tanah LA yang menandakan bahwa ide Elon ini bukan hanya sekedar isapan jempol semata. Baca Juga: Elon Musk Hadirkan Solusi Transportasi Canggih Berbasis Travelator Dilansir KabarPenumpang.com dari laman newatlas.com (30/10/2017), Elon menunggah beberapa foto di media sosial yang menunjukkan perkembangan dari terowongan bawah tanah tersebut. Di foto itu sudah tampak bentuk kasar dari terowongan yang rencananya akan digunakan oleh mobil, sepeda, dan pejalan kaki, lengkap dengan juntaian kabel yang mungkin akan digunakan untuk memasok energi listrik di dalamnya. Elon mengatakan bahwa hingga saat ini, terowongan tersebut panjangnya baru 500 kaki atau setara dengan 152,4 meter, namun dalam waktu tiga atau empat bulan mendatang, panjangnya harus sudah mencapai 2 mil atau setara dengan 3,2 km. Elon berharap, tahun depan terowongan ini sudah mencakup keseluruhan jalan raya Interstate 405, yang membentang dari LAX ke The 101. Dalam kesempatan yang berbeda, CEO dari SpaceX ini mengatakan bahwa akan ada jalan keluar di setiap mil dari terowongan ini. Jika digambarkan, mungkin terowongan ini meniru konsep jalan bebas hambatan, namun berada di bawah tanah. Baca Juga: Elon Musk, CEO SpaceX Ini Paparkan Ide Entaskan Masalah Kemacetan Seperti yang sudah diberitakan sebelumnya, di dalam terowongan ini nantinya mobil tidak akan berjalan seperti biasa, namun akan diangkut ke atas mesin yang berbentuk seperti papan seluncur dan akan mengantarkan mobil tersebut mengarungi terowongan dengan kecepatan 150 mph atau setara dengan 241 km per jam. Sebelumnya, Elon mengatakan bahwa terowongan ini akan menghubungkan New York dan Washington DC hanya dalam waktu 29 menit saja. Jika tidak menemukan kendala dalam pengerjaannya, terowongan ini akan menjadi yang terpanjang di dunia, mengalahkan rekor yang saat ini dipegang oleh Gotthard Base Tunnel, sebuah jalur kereta api yang membentang sepanjang Pegunungan Alpen di Swiss dengan panjang kurang lebih 35,5 mil atau setara dengan 57 km.

AirAsia X Genap Berusia 10 Tahun, Mantapkan Identitas Sebagai LCC Jarak Jauh

AirAsia X maskapai penerbangan jarak jauh dengan biaya rendah (LCC) atau long-haul budget airline baru saja merayakan ulang tahun yang ke sepuluh di Surfers Paradise yang teletak di Gold Cost, Queensland, Australia. Awalnya maskapai ini memulai penerbangan dengan tiga rute pulang pergi dari Kuala Lumpur ke Gold Coast pada tahun 2007. kini setelah sepuluh tahun tak terasa sudah ada sebelas penerbangan pulang pergi dari Kuala Lumpur ke Gold Coast. Selain itu juga ada rute lainnya yang menghubungkan Gold Coast dan Auckland sebanyak tujuh penerbangan. Baca juga: Mulai 7 November 2017, AirAsia Pindah Ke Terminal 4 Bandara Changi KabarPenumpang.com melansir dari laman goldcoastbulletin.com.au (27/10/2017), Ketua Pariwisata Gold Coast Paul Donovan mengatakan bahwa Gold Coast dan AirAsia punya hubungan yang sangat baik, dimana Gold Cost adalah tujuan pertama AirAsia X. Sementara dari pihak Negara Bagian Queensland, AirAsia X juga punya arti penting, pasalnya maskapai dengan logo silang merah ini adalah pembuka penerbangan rute jarak jauh nonstop pertama dari Gold Coast. Saat itu, Paul memimpin sebuah delegasi ke Kuala Lumpur, termasuk dalam rombongan CEO Pariwisata dan Peristiwa Queensland Leeanne Coddington dan Menteri Pariwisata Negara Margaret Keech untuk memperkenalkan Gold Coast sebagai tujuan wisata. Setelah bertemu dengan pendiri AirAsia X Tony Fernandes, ketiganya akhirnya membuat kesepakatan untuk tiga kali penerbangan pulang pergi dalam seminggu.
Livery AisAsia X 10 tahun (Gold Coast Bulletin)
Sejak itu, AirAsia X dan pesawat berwarna merah putihnya yang khas kini telah menerbangkan total 2,4 juta penumpang antara Gold Coast dan Kuala Lumpur. Bahkan, AirAsia X juga telah menerbangkan 400.000 penumpang antara Auckland di Selandia Baru dan Gold Coast dalam 20 bulan terakhir. Baca juga: Tingkatkan Pelayanan, AirAsia Gaet Inmarsat Untuk Pengadaan On Board Broadband CEO AirAsia X Malaysia Benyamin Ismail mengatakan bahwa perusahaan penerbangan tersebut akan menata ulang jadwal penerbangan dengan rute Gold Coast setelah Commonwealth Games pada bulan April tahun depan. Commonwealth Games adalah ajang olimpiade untuk negara-negara persemakmuran Inggris yang diikuti oleh 55 negara. “Commonwealth Games akan menjadi hal yang besar untuk kita. Saya pikir Gold Coast sebenarnya masih sangat menarik untuk orang-orang di dunia yang tahu tentang hal itu dan apa yang ditawarkannya, dan ini menjadi tugas kami untuk memasarkannya,” kata Ismail, Ia menambahkan bahwa maskapai penerbangan selalu berusaha meningkatkan konektivitas. Dia mengatakan, satu hal yang penting adalah mencoba dan meningkatkan jumlah penerbangan yang AirAsia miliki dengan alasan dan memperluas koneksi ke semua rute. CEO Gold Coast Tourism Martin Winter mengatakan bahwa kedatangan wisawatan dari AirAsia X menunjukkan ketahanan ketika Krisis Keuangan Global saat AirAsia X hadir 10 bulan setelah penerbangan perdana ke Gold Cost. Saat ini AirAsia X melayani 22 rute penerbangan jarak jauh, armada AirAsia X terdiri dari 22 unit Airbus A330-300, dan sedang dalam proses pemesanan untuk Airbus A330-900Neo dan Airbus A350-900. Dalam penerbangan menuju ke Australia, AirAsia X menjadikan Bandara Ngurah Rai sebagai titik transit.  

Setarakan Kaum Minoritas, Formulir Tiket Kereta di India Akan Tambah Kolom T Untuk Transgender

Dewan Kereta Api India tengah berusaha untuk memodifikasi formulir reservasi yang mereka gunakan, bukan merubah desain atau format pengisian, melainkan merubah satu kolom baru di bagian jenis kelamin. Nantinya, formulir reservasi tersebut akan memiliki 3 opsi jenis kelamin, M (Male) untuk laki-laki, F (Female) untuk perempuan, dan T untuk Transgender. Dengan begitu, kaum Transgender sekarang akan memiliki pilihan untuk mengidentifikasi diri mereka sebagai gender ketiga. Baca Juga: Kementerian Kereta Api India Janji Sulap Gerbong Lama Jadi Lebih Modern Dalam sebuah surat yang dilayangkan oleh Dewan Perkeretaapian, formulir pemesanan tiket dan pembatalan akan diubah dari pilihan Transgender (Male/Female) yang diterapkan dulu, menjadi simbol T saja, tanpa menyebutkan jenis kelaminnya sekarang. Menurut surat tersebut, Kementerian Sosial dan Pemberdayaan saat ini tengah menangani berbagai isu transgender dan sebuah undang-undang yang diusulkan mengenai RUU Transgender pada tahun 2016 tengah ditinjau oleh komite parlemen. “Masalahnya tengah ditinjau dan ini nantinya akan diselesaikan oleh Kementerian Sosial. Nantinya sistem akan menangkap jenis kelamin transgender dengan kode T saja, bukan T (M/F) seperti yang disarankan sebelumnya,” tulis surat tersebut pada 17 Oktober silam, sebagaimana dikutip KabarPenumpang.com dari laman thehindu.com (30/10/2017). Dalam kasus ini, Mahkamah Agung di India secara mengejutkan mengeluarkan status gender ketiga yang dieruntukkan bagi kaum transgender pada tahun 2014 silam. Sebelumnya, mereka harus mengisi jenis kelamin mereka kolom pria atau wanita, tanpa ada opsi untuk transgender. Mengikuti putusan tersebut, banyak dokumen pemerintah seperti paspor, kartu ransum, formulir bank dan kartu identitas pemilih telah mencantumkan ‘TG’ (gender ketiga), ‘Lain-lain’ atau ‘T’ (transgender) untuk melengkapi pilihan yang ada sebelumnya. Khusus untuk kereta api sendiri, kolom gender mencantumkan opsi T (M/F) yang mulai eksis pada tahun 2016 silam. Melihat ada kejanggalan di dalamnya, sejumlah aktifis mulai protes karena masih terkesan memaksa kaum transgender untuk memilih jenis kelamin biner, pria atau wanita. Baca Juga: Kereta Ekonomi India Sekarang, Gambaran Kereta Ekonomi Indonesia Era 80-an Kasus ini berkaitan erat dengan kasus yang diajukan oleh Atri Kar, seorang transgender pertama dari Benggala Barat yang hadir untuk ujian pegawai negeri sipil. Dari situ, Atri meminta intervensi pengadilan untuk menegakkan haknya untuk berpartisipasi dalam proses seleksi SBI sebagai seorang transgender. Ya, memang kasus seperti ini tidak bisa disebut sebagai hal yang sepele, mengingat kaum transgender juga memiliki hak yang sama di mata hukum. Mungkin, Indonesia akan sulit menerima perbedaan semacam ini, di mana setiap individu memiliki pandangan masing-masing terhadap kaum transgender, dan tidak menutup kemungkinan juga kaum ini malah akan dikucilkan, padahal derajat mereka sama.

Satu Dekade Lebih ‘Terlantar,’ The Last Concorde Akhirnya Huni Rumah Barunya

Walaupun sudah kurang lebih 14 tahun tidak beroperasi, namun masih banyak orang yang cinta dan berharap Concorde kembali mengudara. Untuk mengatasi kerinduan para penggemarnya terhadap pesawat supersonik bersayap delta tersebut, seorang mantan chief engineer pesawat terbang di Inggris, John Britton mendirikan sebuah museum yang di dalamnya memamerkan pesawat Concorde yang terakhir mengudara pada tahun 2003 silam. Baca Juga: Suksesor Concorde ini Tetap Dihantui Bayangan Kelam Pendahulunya Seperti yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman theguardian.com (16/10/2017), museum yang dibuka pada pertengahan bulan November ini akan memuaskan kerinduan para pecinta Concorde. Tidak hanya itu, John juga mengatakan bahwa pengunjung museum dapat naik dan menikmati kemegahan dari G-BOAF, pesawat Concorde yang terakhir mengudara. Sebelumnya, pesawat yang juga dikenal dengan Alpha Foxtrot ini terlantar begitu saja di landas pacu yang tidak terpakai di dekat Bristol, Inggris. Aerospace Bristol, nama dari museum ini, terletak di Filton Airfield, dimana lokasi tersebut merupakan tempat yang bersejarah bagi Concorde sendiri. Tidak hanya G-BOAF, museum tersebut juga diketahui merawat beberapa pesawat dan komponen lainnya yang sudah pensiun dari dunia kedirgantaraan, seperti pesawat terbang, helikopter, rudal, satelit dan banyak lainnya. “Saya merupakan orang yang melihat langsung ketika pesawat ini terbang pertama kali dari Filton. Saya juga menyaksikan secara langsung pada saat pendaratan terakhirnya. Sangat sedih ketika mendengar G-BOAF mematikan mesin untuk terakhir kalinya,” kenang John. “Kehadirannya di museum ini sangat brilian,” imbuhnya. Lebih lanjut, John memaparkan bahwa pengunjung dapat menapaki jejak sejarah dari pesawat berhidung pointed tersebut dan menyaksikan proyeksi dramatis tentang sejarah Concorde di dalam pesawat. “Pengunjung juga dapat merasakan sensasi terbang dengan kecepatan dua kali lebih cepat dari pesawat jet biasa,” tulis laman resmi museum tersebut, aerospacebristol.org. “Concorde memiliki kekuatan untuk memukau dan terlihat menakjubkan di ‘rumah’ barunya; Kami merancangnya sedemikian rupa layaknya sebuah pameran kelas satu, dengan tujuan untuk menceritakan prestasi kedirgantaraan Bristol dari tahun 1910 hingga era modern seperti saat ini, dan ada juga interaksi interaktif yang menyenangkan untuk membuat semua pengunjung tertarik dan merasa terhibur,” tutur Lloyd Burnell, Executive Director di Aerospace Bristol. Baca Juga: Boeing 747 Dilelang Online, Inikah Akhir Cerita dari The Queen of The Skies? Kembali pada 2 Maret 1969, dimana pesawat Concorde pertama kali membelah cakrawala dan sontak mencuri perhatian seantero jagat. Bagaimana tidak, pada waktu itu, Concorde merupakan pesawat yang mampu mengudara dengan kecepatan 1.350 mil per jam atau setara dengan 2.180 km per jam. Namun amat disayangkan ketika pesawat tersebut harus mematikan mesin selamanya setelah mengalami kecelakaan tragis yang menewaskan seluruh awak dan penumpang maskapai pada 24 Oktober 2003 silam. Pesawat di bawah naungan British Airways yang sudah 27 tahun mengabdi tersebut mengakhiri catatan perjalanannya di bandara Heatrow, London.