Angkasa Pura I Gandeng KNKT dan Undip Kembangkan Aplikasi Monitoring Ketinggian Air di Runway

PT Angkasa Pura I (Persero) pengelola 13 bandara di Indonesia Tengah dan Timur meluncurkan inovasi baru berbasis teknologi informasi melalui pengembangan aplikasi alat pengukur ketinggian air di permukaan landasan pacu atau runway. Dalam pengembangan aplikasi tersebut, AP I bekerja sama dengan Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) dan Universitas Diponegoro (Undip). Baca juga: Usai Kembangkan 9 Bandara, Angkasa Pura I Canangkan Benahi Infrastruktur di El Tari dan Frans Kaisiepo Direktur Utama AP I, Danang S Baskoro mengatakan, aplikasi ini dibuat sebagai upaya untuk memberikan informasi akurat, cepat, otomatis dan real time terkait kondisi landasan pacu khususnya pada saat hujan ke bagian air traffic control (ATC) dan pilot. “Kita perlu suatu sistem peralatan monitoring yang dapat memantau kondisi tingkat ketinggian genangan air di permukaan runway secara real time dan dapat memberikan sinyal keamanan untuk lepas landas maupun mendarat,” jelas Danang yang dikutip KabarPenumpang.com dari siaran pers (3/11/2017). Danang S. Baskoro mengatakan, Angkasa Pura I bersama KNKT dan Undip berkomitmen untuk merancang dan membuat sistem peralatan monitoring ketinggian genangan air pada runway di Bandara Ahmad Yani Semarang sebagai upaya peningkatan keselamatan dan keamanan penerbangan. Pengembangan aplikasi monitoring ini terkait dengan aktivitas pemeriksaan keberadaan air di runway, termasuk pada saat hujan, sebagai bagian dari kegiatan pemeliharaan. Lebih spesifik, pemeriksaan keberadaan air ini bertujuan untuk mendapatkan informasi yang akurat dalam melakukan perencanaan dan pelaksanaan kegiatan pemeliharaan yang diperlukan ke depannya. Sementara itu, kegiatan pemeliharaan atau program pemeliharaan fasilitas sisi udara (runway, taxiway, dan apron) merupakan kewajiban operator bandar udara yang diatur dalam Peraturan Dirjen Perhubungan Udara Nomor KP 94 Tahun 2015. Sebagai informasi, kegiatan pemeliharaan tersebut meliputi inspeksi rutin, pengujian kinerja perkerasan, perbaikan kerusakan, rehabilitasi, dan pembuatan laporan ke regulator. Sementara inspeksi bertujuan untuk memeriksa kondisi permukaan perkerasan terutama pada area pergerakan (movement area) agar layak dan aman digunakan bagi operasional penerbangan. Baca juga: Bebaskan Landing Fee Bagi Maskapai Baru, Angkasa Pura I Dukung Sektor Wisata NTT Kegiatan inspeksi meliputi pemeriksaan material asing berbahaya atau foreign object debris (FOD), pemeriksaan kerusakan struktur perkerasan, termasuk di dalamnya pemeriksaan keberadaan air di runway. Pemeriksaan keberadaan air di runway merupakan salah satu hal penting yang perlu dilakukan untuk menjaga keselamatan dan kemanan penerbangan. Runway yang tergenang air pada saat hujan memiiki efek hydroplaning, yaitu kondisi di mana pada saat pendaratan, roda pesawat mengambang di permukaan air yang mengakibatkan rem pesawat tidak bekerja secara efektif dan tidak mampu mengurangi kecepatan pesawat serta kemudian dapat mengakibatkan pesawat kehilangan kendali sehingga dapat mengakibatkan pesawat keluar dari badan runway.

Peneliti – Bus Rapid Transit Dapat Bersaing Dengan Transportasi Berbasis Massal Lainnya

Hadirnya beberapa moda transportasi baru yang dapat memudahkan masyarakat dalam berkendara merupakan bentuk nyata kepedulian pemerintah akan warganya. Di dalam negeri sendiri, Commuter Line Jabodetabek (KRL) merupakan sebuah bukti efisiensi masyarakat dalam berkendara menggunakan transportasi umum, ditambah lagi dengan sistem Mass Rapid Transit Jakarta (MRTJ) yang hingga kini masih dalam tahap pembangunan. Baca Juga: SAPTCO Percayakan Armada Mercedes Benz Untuk Operasikan BRT Tidak hanya KRL, Jakarta sendiri memiliki ‘sistem semi’ Bus Rapid Transit (BRT), yaitu TransJakarta. Dibilang ‘semi’ karena jalur khusus untuk TransJakarta ini terkontaminasi oleh pengguna jalan lain, sehingga jalur yang seharusnya bersih dari pengguna jalan lain, malah ikut-ikutan macet karena penumpukkan kendaraan pribadi di jalur khusus tersebut. Jika ditarik kesimpulan, KRL bisa dibilang lebih efisien ketimbang sistem ‘semi’ BRT yang ada di Ibukota, ditinjau dari segi penghematan waktu perjalanan, kenaikan permintaan dari pengendara, dan perubahan pembangunan perkotaan. Lalu, jika digunakan pendekatan yang sama, apakah melulu sistem transportasi massal berbasis kereta akan terus merajai sistem transportasi umum? Sebagaimana yang dihimpun KabarPenumpang.com dari laman thecityfix.com (23/10/2017), peneliti Transport Review Jesper Ingvardson dan Otto Nielsen dari Technical University of Denmark menyebutkan bahwa kehadiran BRT kerap kali dikaitkan dengan ‘sepupu’ mereka yang lambat, bus lokal. Namun dalam beberapa kasus, BRT dianggap jauh lebih ekonomis dan mengungguli sistem rel. Studi pun dilakukan oleh Jesper dan Otto dengan melihat apakah BRT dapat mengurangi waktu perjalanan dan memberikan keuntungan (frekuensi bus, kualitas stasiun, jenis kendaraan dan sistem informasi pengguna) terhadap para penggunanya sendiri. Ada variasi besar di sistem BRT mengenai waktu tempuh, sehingga sulit untuk menarik kesimpulan yang luas, namun secara keseluruhan, Jesper dan Otto melihat adanya penurunan dari dua objek studi tersebut. Jesper dan Otto mengatakan bahwa Metrobüs di Istanbul,Bus-VAO di Madrid, dan South Miami-Dade Busway di Florida sebagai contoh BRT yang tidak mengalami penurunan waktu tempuh. Metrobüs di Istanbul menujukkan penghematan waktu perjalanan sebesar 65 persen, jalur Bus-VAO di Madrid menghasilkan penghematan 33 persen dan South Miami-Dade Busway hanya 10 persen. Keuntungan pengguna sistem BRT di ketiga tempat pun bervariasi: 150 persen di Istanbul, 85 persen di Madrid dan 50 persen di Miami. Poin menarik dari studi ini adalah pengaruh kehadiran BRT terhadap pengemudi. Di 13 kota di mana Jesper dan Otto mempelajari BRT, jumlah pengendara yang bergeser dari perjalanan mobil berkisar antara 5 persen (Stockholm) sampai 40 persen (Adelaide), dengan rata-rata sebesar 17 persen. Baca Juga: Deutsche Bahn Luncurkan Bus Otonom di 2018 Berdasarkan studi yang dilakukan oleh Jesper dan Otto, mereka berkesimpulan bahwa sistem BRT dapat bersaing dengan kompetitornya, yaitu LRT dan sistem Metro, karena mereka berpendapat bahwa perbandingan diantara seluruh objeknya tidakah terlalu  signifikan. Mungkin akan beda cerita jika Jesper dan Otto mengamati kondisi transportasi di Jakarta, mungkin penilaiannya akan berbeda.

Meriahkan Ulang Tahun ke-14, Sriwijaya Air Group Berikan Diskon Tiket 14 Persen

Sriwijaya Air Group akan merayakan ulang tahun ke-14 nya pada 10 November 2017 mendatang. Dalam rangka menyambut hari ulang tahunnya ini, Sriwijaya Air Group (Sriwijaya Air dan NAM Air) memberikan diskon 14 persen dari harga awal untuk setiap pembelian tiket Sriwijaya Air dan Nam Air baik itu sekali jalan ataupun pulang pergi. Baca juga: Sriwijaya Air Group ‘Sapa’ Tiga Kota di Kalimantan Barat KabarPenumpang.com merangkum dari berbagai sumber bahwa diskon ini berlaku untuk semua rute penerbangan kecuali rute dari Alor, Ende, Bajawa, larantuka, Ruteng, Roweleba. Senior Corporate Communications Manager Sriwijaya Air Group Agus Soedjono mengatakan, selain itu rute Kupang-Maumere-Kupan dan Kupang-Waingapu-Kupang serta Batam-Natuna-Batam juga tidak ada diskon. “Program ini diberikan kepada pelanggan untuk ikut serta merasakan kegembiraan dalam rangka HUT ke-14 Sriwijaya Air Group pada 10 November 2017. Kami menyebutnya program spesial Ultahku Diskonmu,” jelasnya dalam siaran pers yang dikutip KabarPenumpang.com dari lampung.tribunnews.com (2/11/2017). Agus mengatakan, diskon ini berlaku untuk pembelian tiket dari tanggal 25 Oktober sampai 10 November 2017 dengan periode terbang 9-11 November 2017. Dengan adanya program diskon ini, Sriwijaya mau mengajak konsumen sering terbang dengan biaya murah untuk keperluan wisata, bisnis, pendidikan, family trip dan lainnya. Program ini juga kedepannya diharapkan ikut menggerakkan roda perekonomian di kota tujuan Sriwijaya Air Group. Diskon ini bisa didapatkan saat melakukan pembelian di agen Sriwijaya Air Group, baik itu agen online, website dan kantor perwakilan group. Program ini berlaku untuk semua tiket baik dewasa atau anak-anak dan tidak berlaku pada tiket bayi (infant). Baca juga: Horee! Sriwijaya Air Akhirnya Buka Rute Menuju Raja Ampat Tak hanya diskon, beberapa waktu lalu juga Sriwijaya Air Group membuka penerbangan dari Jakarta menuju Ketapang di Kalimantan Barat via Pontianak PP mulai 26 Oktober 2017. Penerbangan rute ini ada setiap hari dengan perpaduan pesawat antara Sriwijaya Air atau Nam Air. Rute baru juga dibuka untuk penerbangan dari Jakarta ke kota Putussibau dan Sintang yang keduanya masih dalam Provinsi Kalimantan Barat. Penerbangan ke tiga kota ini pun bisa di lakukan dari kota besar di Jawa seperti Semarang, Yogyakarta dan Surabaya serta kota besar lainya di Indonesia.

Bangun Apartemen di Kawasan Stasiun Bogor, Proyek TOD Masih Terganjal Izin

Antara PT Kereta Api Indonesia (KAI) dan PT Waskita Karya Realty untuk membangun dan mengembangkan hunian berbasis transit oriented development atau TOD di stasiun kereta api Bogor, Jawa Barat. Bahkan peletakan batu pertama (groundbreaking) proyek tersebut sedianya dilakukan Presiden Jokowi pada 5 Oktober lalu. Namun acara tersebut dibatalkan, selain karena berbenturan dengan peringatan HUT TNI, rupanya masih ada persoalan yang harus diselesaikan dari proyek TOD. Baca juga: Rute KA Bogor – Sukabumi – Cianjur, Masih Eksis Meski Terlupakan “Pengembangan ini merupakan bisnis baru bagi Waskita terutama dalam hal utilitasi dan pemanfaatan tanah PT KAI,” ujar Direktur Utama Waskita karya, M Choliq yang dikutip KabarPenumpang.com dari lama thejakartapost.com (11/11/2017). Menurutnya model ini bisa membuat lahan KAI memiliki nilai komersial sekaligus mengembangkan wilayah yang lebih modern. Jika berhasil, maka bisa berlanjut ke proyek-proyek selanjutnya. Selain itu, konsep TOD diharapkan bisa menyelesaikan backlog perumahan serta kemacetan lalu lintas di ibu kota dan sekelilingnya. Apalagi saat ini harga tanah di ibu kota bisa dikatakan semakin tidak terjangkau bagi masyarakat Jakarta sendiri. Sehingga banyak warga Jakata yang akhirnya mulai mencari rumah di pinggiran kota Jakarta hingga keluar kota seperti Bogor. Menurut data dari Badan Pusat Statistik (BPS) yang dikeluarkan pada tahun 2016 kemarin, mengungkapkan bahwa lebih dari satu juta keluarga yang ada di Jakarta kehilangan tempat tinggal. Hal ini membuat mereka terpaksa harus hidup dalam perjanjian sewa atau rumah kontrak. Diketahui dari semua provinsi di Indonesia, Jakarta sendiri telah mencatat tingkat kepemilikian rumah terendah yakni 51,09 persen dari data yang ada. Adapun nantinya proyek ini akan di bangun di atas lahan seluas 6,5 hektar dengan total bangunan sebanyak delapan gedung apartemen yang memiliki tinggi 18 lantai setiap gedungnya. Nantinya sebanyak 30 persen dari 1500 unit tersedia akan dialokasikan bagi masyarakat berpenghasilan rendah atau MBR. Sayangnya rencana ini justru menimbulkan banyak kontroversi terkait masalah kemacetan dan membuat kawasan Bogor semakin padat. “Di Stasiun Bogor memang akan dibangun kawasan berkonsep transit oriented development ( TOD), tapi kalau di dalam kawasan tersebut dibangun apartemen kurang tepat, bisa jadi lebih padat lagi nantinya,” ujar Pengamat Tata Ruang Kota dari Institut Pertanian Bogor (IPB), Ernan Rustiadi. Baca juga: TransPakuan, Solusi Kemacetan Bogor yang Kurang Perhatian Menurutnya dalam Perda kota Bogor No. 8/2011 tentang RTRW wilayah kota Bogor 2011-2031 secara umum filosofinya memetakan pusat keramaian kota ke daerah pinggiran. Jika dibangun apartemen justru kota Bogor akan menjadi pusat pemukiman, seharusnya yang benar adalah kepadatan yang berpusat di seputaran Kebun Raya Bogor harus diurai. Padahal sebenarnya Bogor sangat membutuhkan kawasan berkonsep TOD ini di Stasiun Bogor agar tidak terlalu padat. Sementara menurut Kepala Dinas Pelayanan Perizinan Terpadu dan Penanaman Modal Kota Bogor Denny Mulyadi, perizinan TOD Stasiun Bogor masih dalam proses analisis dampak lingkungan (Amdal) dan lalu lintas.

Ternyata, Flap Boeing 747 Garuda Indonesia Pernah Lepas di Udara

Pergerakan sirip atau flap pada sayap selalu menarik untuk diperhatikan dari jendela kabin. Tengok saja saat pesawat akan melakukan pendaratan, maka bisa dipastikan flap di sayap akan mengembang, dan memperlihatkan ruang kosong di bagian dalam sayap. Flap digunakan pada pengaturan tertentu dengan memperhitungkan kondisi beban muatan pesawat, penumpang, runway dan hal lainnya. KabarPenumpang.com merangkum dari beberapa sumber, flap juga memiliki fungsi untuk mengendalikan laju udara yang mengalir melalui sayap pesawat. Flap sendiri adalah permukaan yang berengsel pada tepi belakang sayap pesawat terbang biasa dan juga sering disebut sirip pesawat. Fungsi flap digunakan untuk menambah daya angkat dan setiap posisi. Baca juga: 23 Tahun Mengangkasa, Boeing 747-400 Garuda Indonesia Akhiri Masa Tugas Pada 8 April 1995, ada kejadian yang tak pernah terlupakan, dimana flap pada sayap pesawat Boeing 747-200 Garuda Indonesia jatuh dari ketinggian 500 kaki (setara 152 meter) di sebuah lapangan Newgate Surrey satu menit sebelum mendarat di bandara Gatwick, London di Inggris. Untungnya, pilot mampu mengendalikan pesawat hingga mendarat dengan mulus di Gatwick dan 390 penumpangnya selamat tanpa mengalami cidera. Insiden yang terjadi pada pesawat registrasi PK-GSE ini bukanlah hal yang pertama pada waktu itu, melainkan kejadian yang ketiga kalinya di dunia yang dialamai pesawat sejenis. Sedangkan pada Garuda Indonesia, ini adalah kali pertamanya terjadi pada penerbangan GA-976. Sayangnya, kejadian ini tidak terinci terkait copotnya flap pada Boeing 747-200 tersebut. Dugaan saat itu adalah ausnya baut pemegang flap menjadi salah satu kemungkinan komponen terlepas dari kedudukannya di sayap kiri. Dengan kondisi ini, sebenarnya pesawat masih bisa lepas landas dan mendarat, tetapi membutuhkan jarak yang lebih jauh atau panjang untuk meluncur di landasan. Nah, Anda harus tahu, bahwa untuk membetulkan sebuah flap yang terlepas dari sayap pesawat membutuhkan waktu sekitar satu minggu. Selain itu, ternyata salah satu ujian untuk mendapat lisensi pilot, seorang calon pilot harus bisa lepas landas dan mendaratkan pesawat tanpa flap. Baca juga: Boeing 747 Dilelang Online, Inikah Akhir Cerita dari The Queen of The Skies? Diketahui, pesawat Boeing 747-200 PK-GSE milik Garuda Indonesia ini buatan tahun 1982 dan menjadi salah satu dari dua jumbo Garuda Indonesia yang di jual pada pihak luar dan kembali disewa oleh Garuda Indonesia. Tahun 1994, sebelun Boeing 747-200 tersebut di jual, Garuda Indonesia memiliki enam Boeing 747-200 dan dua jumbo teranyar yakni 747-400.

Efisiensi Biaya Operasional Jadi Alasan Utama Anjloknya Permintaan Terhadap Airbus A380

Walaupun masih ‘seumur jagung’ di dunia kedirgantaraan, namun nampaknya Airbus harus bersiap untuk menerima kenyataan pahit terhadap masa depan dari salah satu pesawat superjumbo double-deck nya, Airbus A380. Ada banyak hal yang melatarbelakangi gentarnya pihak Airbus untuk menghadapi seleksi alam di dunia kedirgantaraan global, salah satunya adalah masalah efisiensi pengoperasian pesawat yang mampu menampung 500 penumpang ini. Baca Juga: Tak Lagi Gunakan Airbus A380, Qatar Airways Ganti Armada Tujuan Atlanta Dari namanya saja, pesawat ini sudah pasti bisa menampung jumlah penumpang yang lebih banyak daripada pesawat kelas jumbojet, sebut saja Boeing 747. Tidak melulu soal kapasitas penumpang yang sanggup mereka angkut dalam sekali penerbangan, Airbus A380 juga diketahui merupakan salah satu pesawat yang bisa menempuh jarak sejauh 15.200 km. Maka tidak heran jika pesawat ini kerap kali dijadikan armada yang melayani rute penerbangan langsung jarak jauh. Namun dibalik semua keunggulannya tersebut, para penyedia jasa layanan penerbangan melihat kalau pesawat dengan empat mesin ini bisa dibilang tidak terlalu efisien. Perkembangan jaman yang tidak pernah berhenti ini akhirnya membuat para produsen pesawat mulai mengembangkan pesawat kecil yang mampu menempuh jarak terbang seperti yang dilakukan oleh Airbus A380. Dari sinilah titik kehancuran Airbus A380 mulai muncul, manakala para penyedia jasa layanan ini lebih memilih pesawat narrow-body yang sudah berevolusi tersebut ketimbang Airbus A380, dimana pesawat-pesawat yang memiliki ukuran yang lebih kecil tersebut tentu saja lebih hemat bahan bakar (karena hanya menggunakan dua buah mesin) dan meningkatkan frekuensi penerbangan dari penyedia jasa layanan penerbangan. “Mengingat situasi pemesanan terhadap A380 saat ini, pengiriman pada tahun 2019 mendatang hanya akan disesuaikan ke delapan pesawat saja,” ungkap salah satu juru bicara Airbus, seperti yang dikutip KabarPenumpang.com dari laman dailypost.co.uk (27/7/2017). Pernyataan tersebut diluncurkan setelah Airbus menyatakan bahwa total pemesanan terhadap A380-nya terus mengalami penurunan. “15 pesawat pada tahun ini, 12 pesawat pada 2018, dan hanya delapan pada 2019,” tutur pihak Airbus. Tapi, di sini Airbus bisa sedikit bernafas lega manakala Cina berencana untuk membeli A380 dalam partai besar. “Maskapai penerbangan Cina berpotensi membutuhkan antara 60 dan 100 pesawat A380 selama lima tahun ke depan, seiring dengan meningkatnya lalu lintas penumpang,” tukas kepala Airbus China, Eric Chen, dikutip dari laman arabnews.com (20/9/2017). Tentunya dengan jumlah pesanan tersebut akan mengimbangi perlambatan pesanan Airbus A380 oleh pelanggan terbesarnya, Emirates. Baca Juga: Singapore Airlines Pamerkan Desain Interior Mewah di Airbus A380 Terbaru “Ketika saya melihat arus pasar, kenaikan jumlah penumpang, ketersediaan rute, dan faktor ekonomi, saya sepenuhnya yakin bahwa operator Cina memerlukan minimal 60 Airbus A380 selama lima hingga tujuh tahun ke depan,” tambah Eric. Kita tunggu saja perkembangan dari pesawat superjumbo double-deck ini.

Deutsche Bahn Luncurkan Bus Otonom di 2018

Perusahaan kereta milik Negeri Bavaria, Deutsche Bahn diketahui baru saja meluncurkan bus otonom yang akan membawa penumpang menuju stasiun kereta. Bus otonom ini menjadi penting karena ini merupakan yang pertama dalam sejarah perkeretaapian Jerman. Layaknya perusahaan penyedia layanan jasa lainnnya, tujuan utama dari pengadaan bus otonom ini adalah dalam rangka untuk meningkatkan pelayanan kepada para pelanggannya. Selain itu, pengalaman para penggunanya juga akan meningkat seiring kehadiran bus ini. Baca Juga: Hadirkan Bus Otonom, DeNA Terbentur Regulasi Tentang Bangku Pengemudi Seperti yang dihimpun KabarPenumpang.com dari laman thenational.ae (26/10/2017), bus ini masih belum beroperasi karena hingga saat ini masih dilakukan serangkaian uji coba untuk memantapkan moda ini kelak. Adapun lokasi uji coba moda ini adalah di Bad Birnbach, sebuah perbukitan di sebelah tenggara Jerman, tidak jauh dari perbatasan Ceko dan Austria. Salah seorang juru bicara dari Deutsche Bahn mengatakan, bahwa bus mahakarya startup asal Perancis, EasyMile ini dapat mengangkut 12 orang dan akan menghubungkan pemandian, pusat kota, dan stasiun secara cuma-cuma alias gratis. “Kami baru saja memasukkan unsur otonom ke era baru transportasi,” tutur bos Deutsche Bahn, Richard Lutz. Diketahui, operator kereta api ini juga telah meluncurkan anak perusahaannya, Ioki yang khusus dihadirkan untuk menguji moda transportasi masa depan tersebut, dengan fokus utama pada mobilitas bertenaga listrik. Rencananya, bus ini akan mulai beroperasi pada tahun 2018 mendatang di jalur uji coba di beberapa kota di Jerman, termasuk kota terbesar kedua di sana, Hamburg. Deutsche Bahn berharap, bus ini dapat beroperasi layaknya layanan transportasi umum lainnya, dimana mereka bisa menjemut penumpang di rumah sesuai dengan permintaan dan membawanya ke stasiun di masa yang akan datang. Lebih lanjut, Deutsche Bahn juga berharap layanan bus otonomnya ini bisa mengambil penumpang di sepanjang jalan yang memiliki tujuan yang sama, seperti angkutan kota yang ada di Indonesia. Sebagai informasi tambahan, Jerman bukanlah satu-satunya negara yang mengoperasikan bus otonom. Sebut saja sejumlah kota di Amerika, Asia, dan Eropa – termasuk Paris, Lyon, Las Vegas, dan Dubai sudah mulai bereksperimen dengan bus otonom semacam ini, walapun dalam skala yang kecil. Mereka semua melengkapi kendaraan di jalanan dengan moda transportasi otonom. Baca Juga: Tekan Angka Kecelakaan, London Uji Coba Sistem Rem Otonom Pada Bus Umum Lalu, ketika beberapa negara sudah mengaplikasikan moda otonom , kapan Indonesia bisa menerapkan hal serupa? Di sini bisa kita lihat, ketika Bus TransJakarta yang memiliki jalurnya sendiri untuk beroperasi dan masih sangat banyak pengguna jalan yang akhirnya lebih memilih untuk menggunakan jalur khusus tersebut. Sebuah ironi memang ketika pemerintah yang berusaha untuk mengentaskan kemacetan, namun masih saja disalahgunakan oleh banyak pihak. Padahal pelanggar inilah yang biasanya paling vokal menyuarakan bahwa Ibu Kota butuh sebuah inovasi yang bisa mengurai masalah kemacetan tersebut. Dengan kata lain, Indonesia khususnya Jakarta masih belum mampu untuk mengoperasikan moda otonom, mengingat capability para pengguna jalan sendiri yang mesti diubah.

Punya Desain Unik, MRT Jakarta Beri Warna Berbeda di Tiap Stasiun

Malaysia punya High Speed Rail (HSR) yang setiap stasiunnya akan memberikan desain yang futuristik. Nah, hal yang sama juga akan dilakukan oleh PT MRT Jakarta yang akan resmi mengoperasikan unit Mass Rapid Transit  bulan Maret 2019 mendatang. Direktur Konstruksi PT MRT Jakarta, Silvia Halim mengatakan, untuk saat ini belum ada yang menggunakan tema bagunan hanya saja ada warna yang membedakan satu lainnya. Silvia mengatakan, kemungkinan untuk fase kedua akan ada dibuat sedikit tematik dari pada fase pertama ini. “Untuk fase pertama stasiun hanya warna dan ornamen rooftopnya saja sih yang dibedakan, soalnya menandakan sesuatu pada daerah dimana stasiun tersebut,” ujar Silvia yang diwawancarai KabarPenumpang.com, Selasa (31/10/2017). Ia mengatakan, seperti stasiun di Lebak Bulus yang menjadi stasiun pertama dan berada di ujung selatan Jakarta ini. Desain dibuat dekat dengan elemen alam dengan nuansa warna yang di dominasi hijau dan gradasinya. Bentuk konstruksinya ramping sehingga mudah membaur dengan lingkungan sekitar. Baca juga: Stasiun Kereta Cepat di Malaysia Bakal Kaya dengan Arsitektur Islam dan Melayu Untuk stasiun Fatmawati yang berada di areal tersibuknya Jakarta Selatan akan di dominasi warna biru yang membuat sejuk. “Warna biru kita ambil sebagai lambang elegan. Ibu Fatmwati kan ibu negara pertama jadi kita buat warna biru menampilkan gambaran beliau,” ujar Silvia. Cipete Raya, yang menjadi stasiun ketiga di dominasi warna tanah yakni coklat yang memberikan kesan menenangkan dan membumi sebagai ciri khasnya. Stasiun Haji Nawi, akan didesain dengan secara modern yang menampilkan elemen identik budaya betawi. Dibuat seperti ini untuk mengenang Haji Nawi yang berdarah Betawi dan seorang saudagar. Blok A yang dikenal sebagai area komersial dan bisnis akan diberikan warna abu-abu muda, kuning terang dan krem. Warna ini dibuat karena merujuk pada satu unsur perdagangan tradisional masa lalu yakni pikulan kayu dan keranjang bambu. Stasiun Blok M yang dikelilingi taman yakni taman Ayodya dan Martha Tiahahu akan di dominasi warna hijau, abu-abu dan putih. “Rooftop di stasiun Blok M juga akan dihiasi dengan ornamen pohon atau batang kayu untuk menegaskan stasiun ini,” tambah Silvia. Sebagai stasiun di jalur layang terakhir, stasiun Sisingamangaraja terintegrasi dalam kompleks gedung Sekretariat ASEAN, dan gedung ini akan menjadi landmark area stasiun. Dengan mengangkat tema ASEAN yang multikulutur, persatuan dalam keberagaman, akan diberi warna cokelat alam dan gradasi abu-abu. Untuk stasiun bawah tanah pertama, stasiun Senayan akan mendominasi warna coklat dan abu-abu agar menyatu dengan area sekitar. Gelora Bung Karno yang identik dengan olahraga, maka warna yang ditampilkan adalah kuning tua, putih dan abu-abu. Berada di kawasan bisnis Sudirman, stasiun Bendungan Hilir, merupakan stasiun bawah tanah ketiga ini dikemas dengan konsep sungai dan aliran air. Bernuansa alam dan dominasi warna coklat akan mendukung. Stasiun Setia Budi dikonsep dengan elegan dan nuansa ketenangan di dominasi warna putih, keemasan dan coklat. Baca juga: PT MRT Jakarta Resmi Jadi Operator Utama Kawasan Transit Oriented Development Fase 1 Stasiun Dukuh Atas, yang menjadi hub lima moda transportasi selain MRT ini dikemas dengan nuansa alam hutan terutama pohon besar. Warna coklat mendominasi stasiun ini. Sebagai stasiun terakhir di fase satu ini, stasiun Bundaran HI akan mengusung konsep gaya hidup internasional karena terletak di area hotel internasional, pusat perbelanjaan, kantor kedutaan dan Bundaran HI sendiri yang menjadi ikonnya. Warna putih perak dan abu-abu akan cocok mendominasi gaya hidup perkantoran yang modern, internasional dan perdamaian dunia ini.

Terkena Gempa, Bandara Pattimura Dipastikan Beroperasi Normal

PT Angkasa Pura I Cabang Bandara Pattimura Ambon memastikan pelayanan dan kegiatan operasional Bandara Pattimura Ambon tetap berjalan normal. Keputusan manajemen untuk tetap mengoperasikan dan memberikan pelayanan seperti biasa diambil berdasarkan hasil damage assesment dan inspeksi terhadap fasilitas sisi udara (airside) dan sisi darat (landside) Bandara Pattimura Ambon yang dilakukan sejak Selasa (31/10) malam hingga Rabu (1/11) pagi.

Baca Juga: Tahan Terpaan Bencana Alam, Jepang Perkenalkan Jembatan Darurat Multifungsi

“Berdasarkan assesment yang telah dilakukan dan kepercayaan penuh terhadap analisis dan prediksi yang dikeluarkan BMKG, kegiatan operasional dan pelayanan Bandara Pattimura Ambon tetap berjalan seperti biasa,” ungkap Direktur Operasi PT Angkasa Pura I Wendo Asrul Rose. Dihimpun KabarPenumpang.com dari siaran pers, damage assesment merupakan tahap yang dilakukan setelah terjadi bencana alam, termasuk gempa, untuk menilai kelayakan fasilitas bandara untuk beroperasi. Tahap ini merupakan bagian dari prosedur Airport Disaster Management Plan (ADMP) yang dikembangkan Angkasa Pura I untuk mengantisipasi dampak bencana terhadap kegiatan pelayanan bandara dan pemulihannya.

Seperti diketahui sebelumnya, gempa terjadi dengan pusat gempa kurang lebih 38 Km sampai 50 Km barat daya pulau Ambon antara pukul 18.31 WIT hingga 19.37 WIT dengan intensitas antara 5,2 SR hingga 6,2 SR sebanyak 6 kali pada 31 Oktober 2017 dan diikuti dengan rangkaian lainnya dengan intensitas lebih kecil mulai dini hari hingga pagi 1 November 2017. Gempa ini turut dirasakan di lingkungan Bandar Udara Internasional Pattimura.

Gempa ini juga mengakibatkan kerusakan ringan di beberapa titik, baik di terminal bandara maupun kantor administrasi Bandara Pattimura. Beberapa kerusakan di area bandara yaitu sedikit genting terminal yang rontok, sedikit plafon di jalur kedatangan dan keberangkatan sisi udara yang rontok, kaca tower yang pecah, dan prasasti di Gate 3 yang pecah. Namun kerusakan ringan tersebut tidak menimbulkan gangguan yang berarti terhadap kelangsungan operasional Bandara Pattimura sehingga pelayanan bandara tetap berjalan seperti biasa.

Terkait kerusakan ringan tersebut, saat ini pengelola Bandara Pattimura Ambon masih melakukan perbaikan. “Perbaikan terhadap kerusakan ringan akibat kejadian force majeur ini masih dilakukan dan akan berlangsung selama beberapa waktu ke depan. Kami mohon maaf kepada penumpang dan calon penumpang pesawat udara atas ketidaknyamanan yang ditimbulkan akibat kegiatan perbaikan ini,” kata Wendo.

Baca Juga: Box Girder MRT Jakarta Terakhir Sambungkan Jalur Lebak Bulus-Bundaran HI

Berkaitan dengan kemungkinan terjadi gempa susulan, PT Angkasa Pura I menghimbau kepada pengguna jasa agar tetap tenang sekaligus waspada selama berada di lingkungan bandara. “Kami menghimbau agar dalam situasi darurat selama berada di lingkungan Bandara Pattimura, pengguna jasa selalu mengikuti arahan petugas kami di lapangan dan menyempatkan diri untuk mencari tahu jalur evakuasi dan titik kumpul di sekitar lingkungan Bandara Pattimura,” kata Wendo.

Box Girder MRT Jakarta Terakhir Sambungkan Jalur Lebak Bulus-Bundaran HI

Sebagai moda transportasi baru yang akan hadir di Jakarta Maret 2019 mendatang, PT MRT Jakarta menyelesaikan pemasangan box girder terakhirnya untuk jalur layang MRT. Pemasangan ini juga menandakan tersambungnya seluruh jalur layang dan bawah tanah MRT Jakarta sejauh 16 km. Baca juga: PT MRT Jakarta Resmi Jadi Operator Utama Kawasan Transit Oriented Development Fase 1 Direktur Utama PT MRT Jakarta, William Sabandar mengatakan, jalur layang secara keseluruhan sudah tersambung setelah pemasangan box girder terakhir di seberang RS Siloam, Cilandak, Jakarta Selatan. Hal tersebut menandakan keseluruhan jalur MRT Jakarta dari Lebak Bulus hingga Bundaran HI telah terhubung. “Kami optimis MRT Jakarta akan beroperasi sesuai jadwal pada Maret 2019 mendatang dengan terhubungnya ini,” ujar Sabandar yang ditemui KabarPenumpang.com di proyek MRT Lebak Bulus (31/10/2017). Tak hanya itu, untuk pembebasan lahan yang ada di Jalan Haji Nawi sudah bisa berjalan dengan baik dan gugatan PT MRT Jakarta juga sudah putus oleh Pegadilan Jakarta Selatan. Saat ini diketahui ada 13 stasiun MRT yang dibangun, dimana tujuh berada di stasiun layang dan enam sisanya di bawah tanah.
Pemasangan box girder terakhir jalur layang MRT Jakarta (Istimewa)
Terkait pembangunan stasiun, Direktur Konstruksi PT MRT Jakarta, Silvia Halim mengatakan saat ini sedang membangun concourse commercial dan platform untuk penumpang. Silvia menambahkan, di area concourse akan menjadi area komersial baik itu bersama tenant yang akan memenuhi tempat tersebut dan penjual belian tiket untuk penumpang. “Area concourse sendiri akan di isi oleh tempat penjualan tiket, sehingga penumpang bisa dengan mudah mendapatkan tiket. Area platform kita bangun untuk tempat penumpang menunggu kereta. Disini akan di tambah dengan pintu kaca setinggi kurang lebih 1,3 meter,” ujar Silvia. Dia menambahkan, screen doors yang ada di platform nantinya akan terbuka secara bersamaan dengan terbukanya pintu kereta. Selain pemasangan dan pembuatan platform dan concourse area, Silvia menjelaskan pihak MRT Jakarta juga membuat sumpit penampungan air. Gunanya adalah untuk mencegah banjir masuk ke dalam terowongan bawah tanah MRT Jakarta. “Jadi, kalau ada air yang akan masuk keterowongan di tampung disini kemudian nanti disedot keluar. Selain itu untuk yang bawah tanah kita juga antisipasi dengan membuat pintu masuk lebih tinggi dari jalan utama.” Baca juga: Tingkatkan Keamanan di Peron, Stasiun MRT Jakarta Akan Dilengkapi Platform Screen Doors Silvia menjelaskan, pembuatan penampungan ini ada di semua stasiun bawah tanah terlebih yang rawan banjir seperti di Dukuh Atas, Bendungan Hilir dan Bundaran HI. Tak hanya sistem pencegah banjir, konstruksi bangunan MRT Jakarta juga dibuat tahan gempa. Uniknya, kereta MRT Jakarta jika ada gangguan dan mati tiba-tiba, kereta masih bisa melaju sampai di stasiun berikutnya dan penumpang bisa di evakuasi. Tetapi jika memang mati di tengah-tengah dan kereta tidak bisa meluncur ke stasiun terdekat, maka penumpang bisa di evakuasi melalui kaca depan masinis. “Kaca ini bisa di buka, jadi penumpang bisa keluar dan berjalan di rel sampai ke stasiun,” jelas Silvia.