Melakukan pekerjaan dalam kurun waktu puluhan tahun, dan dijalani sepenuh hati dengan melayani banyak orang, pastinya akan membawa pengaruh besar dalam perjalanan hidup seseorang. Seperti yang dilakoni Max Powell, kakek yang kini berusia 80 tahun ini selama 52 tahun menjalankan profesi sebagai pengemudi bus sekolah di Fayette County School di Negara Bagian Georgia, Amerika Serikat. Dan karena alasan kesehatan, Powell yang memulai mengantar jemput anak sejak tahun 1958 harus mengundurkan diri dari mengemudi bus kuning.
KabarPenumpang melansir berita ini dari newsexaminer.com (13/9/2017), yang menyebutkan Max Powell sebelum pensiun dari dunia mengemudi terakhir mengendarai bus 12-01 pada Jumat (8/9/2017) kemarin dan ikut mengantar anak-anak sekolah untuk mengenalkan pada pengemudi baru. Powell diketahui sudah menjadi pengemudi bus sekolah lokal dan membawa murid-murid dari dan ke sekolah Fayette County menggantikan sang ayah yang mengemudi ke sekolah tersebut selama 45 tahun.
Baca juga: Google Pasang WiFi di Bus Sekolah Untuk Kemudahan Siswa di Pedesaan
Bila dijumlahkan dengan dengan waktu mengemudi sang ayah, Powell dan Sang Ayah, Floyd W Powell telah mengemudi ke sekolah tersebut selama 97 tahun. Di tahun 2016 lalu, Powell bahkan menyetir setiap hari di umur 80 tahun tanpa ada istirahat. Sebenarnya, pensiunnya yang kali ini adalah kedua kalinya dari korps mengemudi untuk sekolah. Tahun 1994 Powell pensiun setelah 36 tahun mengemudi karena mengambil pekerjaan mengemudi truk untuk Roots. Selama enam tahun dia melakukan pekerjaan tersebut hingga akhirnya kembali mengemudikan bus.
Max Powell (www.newsexaminer.com)
Saat dirinya menyatakan pensiun karena kondisi kesehatannya, anak-anak sekolah yang selama ini diantar memeluk Powell dengan haru, terutama siswa kelas satu, dua dan tiga. “Saya mulai mengendarai bus sejak tahun 1958, saat itu usia saya 21 tahun. Waktu itu tidak diperlukan pelatihan mengendarai bus, lisensinya pun disebut Public Pasenger Licence tetapi sekarang menjadi Surat Izin Mengemudi Komersial,” kenangnya.
Lebih lanjut Powell bercerita, pertama mengemudikan bus dirinya mendapat bayaran US$3 per hari karena rute yang dilaluinya cukup singkat. Kemudian melakukan dua perjalanan pagi dan sore yang berasal dari Fayette Central Elementary School sampai Gorton Estates, Dun Grazin, Irish Acres, Harrisburg dan di antaranya. Dia kemudian membawa siswa dari Sekolah Menengah Connersville ke Fayette Central dimana beberapa siswa naik bus lain dan dia mengambil siswa dari sekolah menengah untuk dibawa pulang.
Keamanan Pada Bus Sekolah
Dikutip dari sumber yang sama, Powell memberika wejangan tentang keselamatan pada bus sekolah. Powell mengatakan, keselamatan menjadi perhatian utama saat ini. Bus diesel lebih aman karena jika ada kebakaran, tidak akan separah bensin.
Ibarat monitoring pada pilot, dua kali dalam setahun, pengemudi bus sekolah di AS harus memiliki latihan evakuasi dengan para siswa untuk memastikan mereka tahu dimana letak pintu keluar dan apa yang harus dilakukan dalam keadaan darurat. “Dalam latihan evakuasi itu, saya selalu mengingatkan mereka bahwa keselamatan mereka adalah hal yang paling penting dan kita sebagai pembalap membutuhkan kerja sama mereka untuk menjaga keselamatan. Saat saya di Pramuka, motto itu ‘Bersiaplah,’ jadi penting disiapkan untuk keadaan darurat apa pun,” kata Powell.
Baca juga: Teknologi yang Terpasang di Bus ini Mampu Lacak Keberadaan Siswa, Lho!
“Ketika saya masih sekolah, tidak ada impian untuk suatu hari akan mengemudikan bus. Itu sepeeti kebetulan terjadi dan Saya menikmati masa berkendara tersebut, itulah sebabnya saya masih mengemudi di usia 80 tahun. Jika Anda ingin menjadi pengemudi bis sekolah, resepnya Anda harus mencintai siswa atau Anda tidak dapat menjalankan pekerjaan ini secara maksimal,” kata Powell.
Ketika raga letih dan tak kuat lagi melawan kantuk, maka tidur pun mau tak mau harus dijalani. Terkhusus bagi penumpang di bandara yang terdampak penundaan penerbangan, faktanya belum tentu bisa dengan mudah mendapati tempat yang cocok untuk merembahkan diri. Jangan kan merembahkan diri, pun untuk tidur sembari duduk kerap juga sulit dilakukan. Berangkat dari kenyataan tersebut, mendorong peluang hadirnya sebuah layanan baru.
Dalam pandangan mainstream, tidur di bandara identik dengan keberadaan hotel atau penginapanan lain yang ada di sekitaran bandara. Tak salah memang, tapi dalam kondisi tertentu, tak mudah untuk menuju ke hotel yang dimaksud, belum lagi tarif hotel di sekitaran bandara yang terbilang ‘mahal’ untuk kelas penumpang yang sekedar ingin transit atau menunggu delay.
Baca juga: Hadirkan The Sleep ‘n Fly Lounge, Bandara Dubai Penuhi Kebutuhan Tidur PelancongKabarPenumpang.com merangkum dari skift.com (13/9/2017), belakang ini bermunculan tempat untuk tidur dan beristirahat selama di bandara baik untuk transit atau tidur seharian di terminal. Generasi baru tempat beristirahat ini bisa disebut tempat tidur kapsul, kabin dan pods.
Salah satu yang memanfaatkan fasilitas di terminal bandara untuk menghadirkan tempat tidur sementara yakni Minute Suites LCC, saat ini menyediakan layanan di bandara Atlanta, Dallas Fort Worth dan Philadelphia yang akan dibuka Desember mendatang. Selain itu bandara Washington Dulles juga akan dikonsep oleh Minute Suites LSS yang akan hadir tahun depan.
IzZzleepp, perusahaan lainnya membuka kapsul-kapsul tidurnya di bandara Mexico City pada musim panas tahun ini dengan harga mulai dar US$8 per jamnya hingga US$34 untuk per malamnya. Operator hotel mini, Yotel juga mengoperasikaan YotelAirnya di empat bandara Eropa dan bandara Changi dalam proses pembuatan tahun 2019 mendatang. Yotel juga berharap bisa memperluas daerah operasionalnya hingga ke Amerika Serikat seperti halnya NapCity Americas yang punya hak paten NapCabs, sebuah perusahaan pod tidur yang berbasis di Jerman.
Dengan adanya pods, kapsul atau kabin tidur ini, memudahkan penumpang yang menjadi korban dari penundaan dan pembatalan penerbagan karena cuaca buruk dan lainnya. Namum perlu dicatat, modus ‘penginapan’ praktis ini juga bisa menimbulkan persaingan bagi industri hotel atau penginapan konvensional di sekitaran bandara.
Secara faktanya bandara memiliki hubungan dengan penginapan terdekat yang bisa digunakan saat penumpang membutuhkannya. Tetapi tetap saja para pemilik operator pods ini menginginkan adanya komitmen sewa jangka panjang di bandara.
Baca juga: Terpaksa Menginap di Bandara? Siapa Takut!
Wakil Presiden Yotel, Jo Berrington mengatakan, waktu menginap rata-rata di YotelAir sekitar tujuh jam dan harga selama empat jam sekitar 35 Euro atau setara dengan US$42. Menurutnya, di bandara internasional umumnya bisa menampung 60-150 kabin.
Saat ini, YotelAir berada di urutan teratas untuk penyediaan layanan di bandara Amsterdam, Paris dan dua bandara besar lainnya di London. “Kami sudah melakukan diskusi dengan bandara Amerika Utara tetapi belum ada kesepakatan,” ujar Berrington.
Minute Suites mengatakan bisnisnya konsisten, namun menggunakan penetapan harga dinamis untuk menyesuaikan periode permintaan rendah dan tinggi. Perusahaan ini mengevaluasi bandara dengan tujuan penerbangan internasional dan lalu lintas penghubung yang padat. Harga mulai sekitar UA$32 per jam, sedangkan untuk menginap semalam di dua lokasi Bandara Fort Worth International Airport (Dallas), Minute Suites menawarkan harga sekitar US$140 atau lebih murah kira-kira US$100 kurang dari sebuah kamar di Hyatt Regency di bandara dekat Terminal C.
“Model bisnis kami bukan hanya hanya menyasar calon penumpang pesawat yang mengalami penundaan dan pembatalan. Faktanya para awak kabin dan pilot juga senang menggunakan jasa kami untuk sekedar tidur siang,” kata Christopher Glass, wakil presiden Minute Suites
Namun, apa yang ada dipikiran Anda tentang desain tempat tidur kapsul ini? Sebenarnya, tentang tempat tidur yang sempit dan digunakan hanya sebentar bukanlah hal baru, sebab Jepang telah menjadi pelopor bagi masalah ini di darah kota yang padat dengan tempat hiburan yang banyak. Di Asia sendiri, banyak versi kapsul tidur untuk hotel-hotelnya.
Glass mengatakan, pihaknya memiliki model yang sangat Amerikanisasi tentang apa yang tersedia di luar negeri. Apalagi YotelAir berencana menabah lokasi pada akhir tahun depan dan belum dipastikan dengan jelas bandara mana lagi yang akan menghadirkan YotelAir ini.
Kejahatan cyber dewasa ini memang tengah marak diperbincangkan di banyak negara. Tindak peretasan data pribadi menjadi salah satu permasalahan yang kerap kali muncul ke permukaan. Tentu saja, orang-orang yang diretas data pribadinya – biasanya melalui akun-akun yang terhubung langsung ke smartphone – merasa dirugikan dan menuntut keadilan.
Baca Juga: Ben Gurion, Bandara Paling Aman dengan Standar Keamanan Tertinggi di Dunia
Lalu, bagaimana jika suatu saat Anda hendak bepergian ke luar negeri namun ingin data pribadi Anda tetap aman? Sebagai langkah awal, Anda bisa memasang password di smartphone untuk mencegah hacker mengenkripsi data pribadi Anda. Untuk langkah selanjutnya, berikut KabarPenumpang.com lansir beberapa fakta dan tips untuk melindungi data pribadi Anda versi laman choice.com.au (6/9/2017).
Petugas Perbatasan Tidak Punya Waktu untuk Menelusuri Data Anda
Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung. Mungkin peribahasa ini tepat untuk menggambarkan situasi petugas perbatasan yang berada di seluruh dunia, mereka memiliki caranya masing-masing untuk memeriksa siapa saja yang hendak masuk ke suatu negara. Ambil contoh di Amerika Serikat, dimana petugas Customs and Border Protection berhak memeriksa seluruh perangkat digital yang Anda bawa, termasuk laptop dan smartphone.
Anda bisa saja menolak untuk diperiksa, namun pastikan diri Anda kuat untuk menghadapi fase interogasi, sebagaimana yang dikatakan oleh Daniel Victor dari The New York Times. “Mereka bisa saja meminta Anda untuk mematuhi peraturan yang berlaku secara sukarela, namun sebagai wisatawan, janganlah Anda menolak pemeriksaan tersebut karena akan memberikan pengalaman yang kurang nyaman bagi Anda,” tuturnya.
Dalam sebuah artikel yang ditulis Victor baru-baru ini, tercatat seorang wisatawan yang harus diinterogasi dan ditahan berjam-jam karena ia menolak untuk memberikan akses kepada petugas perbatasan untuk memeriksa perangkatnya. “Saya tidak mengetahui apakah perangkat tersebut disita atau dilarang masuk ke Amerika Serikat,” imbuhnya.
Sementara itu, Chris Christensen dari laman Amateur Traveller mengatakan, “Jika Anda berpikir para petugas perbatasan memiliki waktu untuk menelusuri perangkat Anda, mungkin Anda belum pernah mengantri lama di jalur imigrasi,” ungkap Chris yang diketahui sudah menyuarakan pernyataannya ini sejak tahun 2005 silam. “Walaupun pemberitaan ini sudah tersebar luas, namun saya dapat menyangkalnya. Karena petugas perbatasan berusaha untuk menyisir semua penumpang yang datang ke Amerika, bukan hanya Anda saja,” terangnya.
Pengalaman lain mencantumkan bahwa petugas perbatasan hanya memeriksa apakah perangkat yang kita bawa bukanlah berupa ancaman seperti bom yang didesain seperti laptop, dan para petugas tersebut tidak memiliki waktu untuk mencari tahu data penting yang Anda bawa.
Hapus Data Sensitif saat Melintasi Perbatasan
Laman Wired, The Verge, hingga New York Times telah memberikan panduan untuk mengamankan data saat Anda melintasi daerah perbatasan. Isinya sangatlah sederhana dan semuanya hampir menyuarakan pendapat yang sama, “Menggunakan enkripsi merupakan tindakan pengamanan yang bagus, namun menghapus data sensitif merupakan tindakan yang lebih baik.”
Salah seorang pakar keamanan, Patrick Gray mengatakan, “Jangan membawa data penting ketika hendak melintasi perbatasan internasional jika Anda tidak ingin pemerintah negara yang bersangkutan mengetahui data tersebut.”
Lebih lanjut, jurnalis teknologi, Tom Merritt mengatakan janganlah menyimpan data penting terlalu “dalam”. “Tindakan tersebut bisa saja menimbulkan kecurigaan bagi petugas perbatasan,” tambah Tom. “Saran tersebut saya tujukan bagi siapa saja yang ingin data pribadinya tetap aman, namun kebanyakan orang tidak pernah khawatir jika hendak melintasi petugas perbatasan.” tutupnya.
Baca Juga: Antisipasi Terorisme, Bandara-Bandara di Australia Dihimbau Perketat KeamananVPN dan USB
Harap berhati-hati jika Anda hendak menyambungkan koneksi ke jaringan WiFi gratis yang tersedia di tempat-tempat umum, seperti bandara dan hotel, karena bisa saja ada hacker yang mencoba meretas data penting Anda melalui jaringan Virtual Private Network (VPN) yang sama. Usahakan untuk tidak menggunakan layanan Free WiFi jika tidak ingin data privasi Anda diretas. Penting juga untuk tidak sembarang menggunakan stasiun pengisian daya publik (charging station), karena dikhawatirkan hacker dapat meretas dan menyuntikkan virus yang dapat merusak perangkat lunak Anda.
Gunakan Cloud
Maksimalkan layanan yang tersedia, seperti Cloud, dimana Anda bisa menyimpan data sensitif Anda. Selain itu, Cloud juga dapat mencegah data Anda hilang atau diretas oleh oknum yang tidak bertanggung jawab. Tidak disarankan juga untuk menyimpan cadangan data Anda di USB atau SD card karena bentuknya yang kecil, dan sangat rentan hilang dan rusak.
Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak, rasanya pas untuk menggambarkan nasib perempuan cantik yang terjepit di jendela toilet setelah mengambil tinjanya sendiri dari lubang kloset untuk dibuang keluar. Ini terjadi di saat sang gadis usai berkencan bersama Liam Smith di sebuah restoran Nando’s.
Baca juga: Tangki Toilet Kosong Saat Mendarat, Patut Diduga Pesawat Buang Kotoran di UdaraKabarPenumpang.com melansir dari telegraph.co.uk (5/9/2017), perempuan di Inggris yang tidak mau disebutkan namanya ini mengalami hal yang amat tak menyenangkan saat pulang dari restoran, di rumah sembari meneguk anggur sembari menonton film dokumenter Ia pergi ke toilet dalam kondisi mabuk, dan dirinya buang air besar.
Namun karena flush toilet tidak berfungsi, perempuan tersebut panik dan mengambil tinjanya untuk dibuang ke taman. Sayangnya saat akan membuang ke luar, dirinya terjepit di jendela sempit bagian atas tak bisa keluar. Liam Smith bercerita, perempuan tersebut saat itu mengambil kotorannya dan mengantongi untuk dibuang ke kebun. Tetapi jendela toilet rumah tersebut tidaklah mengarah ke kebun.
Perempuan terjebak di jendela kamar mandi usai buang tinja
“Saat itu saya benar-benar khawatir dan mengatakan akan pergi keluar, karena keunikan desain rumah. Apalagi jendela rumah tidak bisa terbuka ke arah kebun,” ujar Smith. Karena itu, perempuan tersebut membuka celah sempit di atas jendela yang terpisah dari jendela lainnya. Smith mengatakan, di bagian ini perempuan tersebut membuang kotorannya.
Dari gambar yang terlihat, si perempuan terjepit dengan badan menghadap ke bawah serta kaki yang menyangkut di bagian celah jendela kecil tersebut. Awalnya Smith sempat membantu tetapi tak bisa sehingga membuat si perempuan terjebak.
Diketahui, perempuan tersebut terjebak selama 15 menit dan Smith yang khawatir memanggil petugas pemadam kebakaran untuk menolong. Memang perempuan tersebut berhasil keluar, tetapi jendela tersebut harus dirusak agar perempuan tersebut lolos.
“Saya tidak mengeluh, mereka melakukan apa yang harus dilakukan, masalahnya saya harus mengeluarkan uang £300 untuk mengganti jendela yang rusak,” jelas Smith. Juru bicara pemadam kebakaran yang membantu insiden tersebut mengatakan, pihaknya menerima telepon pukul 22.41 dimana seorang perempuan terjebak diantara kaca luar dan dalam.
Baca juga: Tidak Lagi Gunakan Toilet “Bolong,” PT KAI Ganti Dengan Septic Tank
“Dua kru dikirim dari stasiun Pemadam Kebakaran Temple dan dia berhasil diselamatkan dengan menggunakan perkakas tangan,” kata juru bicara tersebut. Atas kejadian ini, Smith juga tetap bertemu dengan perempuan tersebut.
Meski pamornya sangat tersohor di dunia, debut Boeing 707 nyaris terlupakan dalam kelompok pesawat jarak jauh legendaris di Indonesia. Publik di Tanah Air umumnya lebih mahfum dengan keberadaan DC-10 30 dan Boeing 747-200 yang dioperasikan oleh Garuda Indonesia di dekade 80-an. Tapi faktanya, walau dioperasikan dalam waktu yang singkat, pesawat jet bermesin empat ini sempat digunakan oleh Garuda Indonesia, Merpati Nusantara Airlines, Bouraq Airlines, Pelita Air Service, dan TNI AU sebagai pesawat angkut VIP (Kepresidenan).
Baca juga: DC-10 30, Kenangan Pesawat Trijet Jarak Jauh di Era Keemasan Garuda Indonesia
Bila saat ini label pesawat penumpang jarak jauh identik dengan wide body (berbadan lebar), maka jangan keliru dengan Boeing 707, meski masuk dalam kelompok pesawat penumpang jarak jauh (dapat terbang sejauh 10.650 km dengan bahan bahar maksimum), pesawat yang prototipe perdananya diluncurkan perdana pada 1954 ini termasuk narrow body, atau pesawat penumpang dengan lorong tunggal, atau serupa dengan kelas pesawat penumpang jarak sedang Boeing 737 atau Airbus A320.
Dari spesifikasi, Boeing 707 yang diawaki 3 orang (pilot, kopilot dan navigator). Boeing 707 punya panjang badan 46,61 meter, panjang rentang sayap 44,42 meter dan tinggi 12,93 meter yang digerakkan oleh 4 mesin EA Pratt & Whitney JT 3D-7 yang mampu melakukan terbang non-stop selama 12,5 jam dengan kecepatan maksimum 890 km per jam.
Hingga 1979, produksi Boeing 707 telah menembus angka 1.010 unit. Meski pamornya sebagai pesawat komersial sudah surut, tapi cita rasa pesawat ini terus lestari hingga kini, tercatat platform Boeing 707 hadir pada versi VIP C-137 Stratoliner untuk USAF, versi VC-137 untuk kepresidenan AS Air Force One. Bahkan juga di wujudkan dalam varian tanker KC-135 Stratotanker dan E-3 Sentry AWACS. Berikut kutipan jejak Boeing 707 dari blog anggerabiyyu.blogspot.jp.1. Merpati Nusantara Airlines (MNA)
Awalnya dimiliki Qantas dengan registrasi VH-EBL. Merpati Nusantara Airlines menyewa B707-138B dari Boeing via Comercial Air Transport Sales dan diberi nama “Princess of Bali,” dengan registrasi N107BN pada 15 Juli 1976. MNA kemudian menggunakannya untuk charter di hari Minggu dengan rute Denpasar-Los Angeles, via Biak, Guam, Honolulu, selama 3 tahun. Pernah juga melayani charter rute Denpasar-Manila, serta penerbangan Haji. Kemudian pesawat ini dibeli pada Mei 1979 dan diberi registrasi Indonesia PK-MBA. Pesawat ini dipensiunkan Oktober 1980 dan dibeli Omega Air tahun 1986 kemudian di-scrap awal 1990-an.
2. Merpati Nusantara Airlines Cargo
Merpati pernah juga mengoperasikan B707 varian kargo pada 31 Agustus 1994. Pemilik pertamanya American Airlines dengan registrasi N8404 sampai tahun 1968. Sempat berganti kepemilikan sampai diambil alih oleh perusahaan leasing Bulgaria dan diberi registrasi LZ-FEB. Bisnis kargo via udara yang booming era 90-an menarik Merpati untuk terjun di bisnis ini, bahkan di badan pesawat tertulis “The International Air Freighter Of Indonesia” serta di hidung pesawat ditulis “Borobudur” serta di ekor pesawat sudah terpampang logo Merpati. Sayang, pesawat ini hanya beroperasi sebentar, bahkan mungkin batal dioperasikan. Pesawat ini diambil alih oleh Azerbajian Airlines Cargo pada 5 April 1996 dan diberi registrasi 4K-401. Pesawat ini tidak bertahan lama, karena 7 bulan kemudian crash di Baku, Azerbaijan.
3. Bouraq Indonesia Airlines
Masih berversi sama dengan Merpati, yakni B707-138B, pemilik awalnya juga Qantas. Sejak pensiun 1968, sempat berganti kepemilikan dan kemudian berakhir di perusahaan leasing Pan Ayer, dan kemudian disewa Bouraq pada November 1978 sebagai pengguna terkahir. Maksud awal Bouraq adalah untuk mendapat kontrak dalam penerbangan haji, namun gagal. Bouraq kemudian menggunakannya sebagai penerbangan charter tapi tak lama kemudian diberhentikan, dikembalikan, dan berakhir di-scrap di Aircraft Storage Marana, Arizona.
Baca juga: DC-9 Garuda Indonesia, Andalan Penerbangan Jet Domestik Era 80-an4. Pelita Air Service
Pelita Air Service membeli B707-3M1C pada 25 April 1975. Akhiran C pada versi ini artinya Convertible, yakni bisa diubah menjadi freighter. Pesawat ini sering berganti kepemilikan. Pernah disewakan kepada Sempati Air untuk penerbangan charter dengan rute Jakarta-Denpasar-Tokyo sampai 1979. Kemudian dioperasikan oleh Pelita untuk penerbangan charter.
Garuda Indonesia juga sempat menggunakannya dan kemudian diregistrasi PK-GAU pada akhir 1989. Pernah pula disewa PMI untuk mengirimkan bantuan ke Iran yang mengalami bencana gempa bumi tahun 1988. PK-PJQ kemudian dihibahkan ke TNI-AU pada Januari 1990. Sebelumnya, TNI-AU sudah mengoperasikan pesawat ini melalui cara menyewa sejak 1980-an, untuk keperluan angkut special Skadron Udara 17, serta berperan besar dalam Operasi Babut Mabur, yakni operasi klandestin pengiriman bantuan berupa senjata kepada gerilyawan Mujahidin Afghanistan.
Di era Presiden Abdulrahman Wahid (Gus Dur), Boeing 707 TNI AU sempat diperankan sebagai pesawat angkut Kepresidenan. Namun di tahun 2003 pesawat ini dinyatakan tidak operasional, dan 2005 pesawat ini dijual ke Omega Air untuk di scrap.
Dalam penerbangan, tak jarang ada kelakuan penumpang yang membuat awak kabin gerah, salah satunya mabuk selama penerbangan. Karena hal tersebut, beberapa awak kabin mengungkapkan beberapa kisah yang mengejutkan tentang kehidupan di pesawat saat menghadapi penumpang mabuk.
Baca juga: Survei: Penumpang “Pengganggu” Terbanyak dari Belakang KursiKabarPenumpang.com merangkum dari express.co.uk (14/8/2017), dari hasil penyelidikan baru-baru ini mendapatan bahwa penanganan pada penumpang yang mabuk dalam penerbangan meningkat hingga kenaikan 50 persen dalam satu tahun. Hal ini menyebabkan maskapai seperti Ryan Air menyerukan alkohol tetap bisa disajikan untuk penumpang di bandara, tapi karena keterbatasan penanganan penumpang mabuk di dalam kabin, maka alkohol tak lagi disajikan selama penerbangan.
Dalam hasil penyelidikan tersebut, awak kabin mengungkapkan beberapa cerita mengerikan terkait penumpang yang mabuk dalam penerbangan. Adapun hasil survei The BBC Panorama menyatakan lebih dari empat ribu awak kabin dalam Britain’s largest union Unite bahwa 87 persen menjawab telah menjadi saksi dari perilaku penumpang mabuk.
Satu dari lima awak kabin menjawab telah mengalami beberapa bentuk penganiayaan fisik dari penumpang hingga melampaui batas. Tak hanya itu, satu dari sepuluh orang mengalami pelecehan seksual dalam penerbangan oleh penumpang mabuk.
Ally Murphy seorang awak kabin Virgin sampai berhenti bekerja setelah 14 tahun menjadi seorang awak kabin dan membeberkan hal-hal yang dia ketahui tentang penumpang mabuk di kabin pesawat. “Orang-orang hanya melihat kami sebagai pelayan bar di langit. Mereka akan menyentuh payudara, pantat hingga kaki Anda. Terkadang mereka juga menarik rok,” ujar Murphy.
Sebenarnya ada kode etik untuk penumpang yang mengganggu dan sebagian besar maskapai besar sudah ikut kode etik tersebut dan bandara besar masuk pada tahun 2016. Hal ini menyatakan, bahwa penumpang harus diberi peringatan tentang tidak meminum alkohol dalam penerbangan dan penumpang juga seharusnya tidak dilayani minuman alkohol lebih banyak jika memang membuat mereka mabuk. Namun, kode etik tersebut hingga kini masih dipertanyakan, benar tidaknya diberlakukan pada penumpang terkhusus yang mabuk.
Baca juga: Dibawah Pengaruh Narkotika, Penumpang Mabuk Sukses Hadirkan Jet Tempur F-22 Raptor
Tiga belas persen awak kabin dari hasil survei percaya telah melihat pengurangan perilaku mengganggu penerbangan. Salah seorang kru mengatakan, “Kode etik tidak bekerja. Kami melihat kejadian setiap hari, mingguan hingga bulanan, dimana alkohol terutama yang bebas bea adalah masalah yang signifikan.”
Oliver Richardson, petugas transportasi sipil di Unite National memberi berkomentar, bahwa pelecehan dan perilaku mengganggu menjadi tantangan bagi awak kabin, karena mereka harus bersaing dalam melakukan pekerjaan dan memastikan keselamatan penumpang lainnya tidak mengalami gangguan. “Industri penerbangan dan Pemerintah perlu mengenali bahwa kode etik harus segera diterapkan, contohnya seperti melihat faktor tingkat konsumsi alkohol sebelum keberangkatan penerbangan, dan juga hukuman yang lebih berat bagi pelaku perilaku tersebut,” ujarnya.
Sesuai etika dan ketentuan yang berlaku, penyandang disabilitas pastinya menjadi penumpang prioritas pada moda transportasi apapun. Saat di bandara pun, penyandang disabilitas (difabel) akan dilayani dengan sepenuh hati baik dari petugas bandara maupun pihak maskapai. Hal ini terlihat bila antrian panjang, penumpang disabilitas akan didahulukan.
Baca juga: Apa Kabar Fasilitas “Khusus” Bagi Penumpang?KabarPenumpang.com melansir dari telegraph.co.uk, bahwa penumpang dengan mobilitas terbatas atau Passengers with Redue Mobility (PRM) berhak mendapat bantuan secara gratis dan diizinkan untuk memotong antrian di bandara. Bantuan ini bisa diminta penyandang disabilitas saat melakukan pemesanan tiket atau saat check in tiket di bandara.
Namun karena alasan etika, sayangnya penumpang yang bersangkutan tidak diharuskan menunjukkan bukti jelas bila diri mereka penyandang disabilitas dan ini mendorong pelumpang lain memanfaatkan situasi seperti untuk menggunakan kebijakan tersebut dan berpura-pura. Praktik seperti ini sangat sering terjadi dan staf maskapai penerbangan sampai membuat penerbangan ajaib untuk menggambarkaan bagaimana para pelancong yang memerlukan kursi roda untuk naik ke pesawat terbang tetapi tidak berangkat.
“Kami mengatakan ada keajaiban karena mereka semua membutuhkan kursi roda untuk melanjutkan perjalanan tetapi tidak turun. Kami tidak hanya melayani minuman dan memastikan kemanan tetapi sekarang kami juga menyembuhkan orang sakit,” ujar Kellly Skyles seorang awak kabin American Airlines.
Dia mengatakan, penumpang yang juga penyandang disabilitas adalah penumpang pertama naik ke pesawat terbang, tetapi menjadi yang terakhir berangkat. Sayangnya penipuan ini hanya menguntungkan saat keberangkatan bukan untuk kedatangan.
Evelyn Danquah yang memberikan bantuan PRM untuk Delta Airlines mengatakan, bahwa penumpang saat dalam antrian panjang sering meminta pertolongan. Sementara ada beberapa yang berusaha meyakinkan petugas dengan berjalan pincang. “ketika mereka melihat antrian panjang, mereka hanya meminta kursi roda,” kata Danquah.
Baca juga: Hadapi Delay di Bandara, Anda Bisa ‘Survive’ Tanpa Smartphone
Salah seorang petugas bandara Birmingham di Inggris mengatakan, dirinya sering melihat orang-orang melewati keamanan dengan kursi roda dan kemudian berkeliaran di sekitar toko-toko sebelum masuk ke gerbang keberangkatan.
Pengadilan lingkungan India, akan mulai memberikan denda pada maskapai yang mengosongkan tangki toilet mereka saat berada di udara sebesar 50.000 rupee atau £600. Langkah ini diambil setelah seorang pensiunan jenderal mengkalim bahwa maskapai penerbangan sering membuang limbah manusia di rumahnya dekat dengan Bandara Internasional Indira Gandhi Delhi.
Baca juga: Toilet di Pesawat, Fungsi Sama Aturan Sedikit Beda
Dilansir KabarPenumpang.com dari telegraph.co.uk, kementerian penerbangan India mengkonfirmasi bahwa kotoran tersebut berasal dari rumah pria itu tetapi belum dibuktikan secara jelas apakah ada juga yang berasal dari pesawat yang sedang terbang. Tetapi, pihak pengadilan kemudian memutuskan kepada pihak berwenang untuk melakukan inspeksi langsung terhadap pesawat-pesawat, apakah tangki limbah pesawat telah dikosongkan di udara.
Inspeksi yang dilakukan tersebut dengan memeriksa tangki pembuangan kotoran yang tidak kosong saat mendarat. Bila setiap pesawat yang diperiksa ternyata tangki limbah kosong, maka harus membayar denda sebesar £600. Para prosedur standar, ground crew bandara dalam unit lavatory service akan mengosongkan tangki limbah setelah pesawat mendarat. Namun, seringkali terjadi insiden kebocoran, sehingga kotoran dari tangki dibuang ke daerah pemukiman. Perihal tangki kosong atau penuh, tentu harus dilihat berapa jumlah penumpang yang dibawa dan jarak penerbangan, jadi ketentuan ini tak bisa dipukul rata.
Tak hanya laporan dri seorang jenderal yang merasa rumahnya terkena ceceran kotoran dari pesawat, seorang wanita India pun menderita luka parah pada bahunya saat terkena jatuhan sepotong es besar dari langit. Ahli penerbangan mengatakan bahwa material tersebut adalah kristal biru. Ini merupaka nama yang diberikan untuk limbah manusia yang beku dan terbentuk di toilet pesawat terbang. Nama ini juga merujuk pada istilah bahan kimia biru yang digunaakan di toilet.
Diketahui, ada sekitar 25 kasus limbah manusia yang jatuh dari pesawat di Inggris dari laporan setiap tahunnya. Sedangkan masalah es biru ini tidak terbatas pada India. Tahun lalu, dua orang pensiunan di Wiltshire mengatakan bahwa kristal kuning dan cokelat telah jatuh dan menembus atap rumah mereka.
Baca juga: Setiap Pintu Toilet di Kabin Pesawat Ternyata Punya “Kunci Rahasia”
“Tidak ada cara untuk membuang isi toilet selama penerbangan,” jelas Patrick Smith, seorang pilot dan penulis Cockpit Confidential. Smith mengatakan, krista; biru tersebut akan disedot ke dalam tangki truk saat berada di bandara dan pengemudi truk dengan sembunyi-sembunyi membuang sampah tersebut ke selokan belakang tempat parkir.
“Seorang pria di California pernah memenangkan sebuah tuntutan hukum setelah potongan-potongan es biru jatuh dari sebuah pesawat dan menabrak langit-langit perahu layarnya. Kebocoran, memanjang dari pasak eksterior toilet, menyebabkan limpasan untuk membekukan, membangun, dan kemudian jatuh seperti bom es neon.
Sebelum dekade 80-an, kotoran manusia memang akan dibuang saat pesawat sedang mengangkasa, namun sejak 1982, setelah James Kemper menemukan toilet modern dengan sistem hisap dan sedikit air, kotoran manusia tidak lagi dibuang selagi terbang, sistem ini pertama kali digunakan pada pesawat Boeing pada tahun 1982.
“Tidak mungkin membuang kotoran dari toilet saat pesawat terbang. Baru saat pesawat mendarat di bandara tujuan, cairan biru dan kotoran di dalam toilet disedot oleh truk pengangkut kotoran dan dibuang di tempatnya,” jelas Patrick Smith. Saat dipindahkan itu, semua kotoran itu sudah berwarna biru dan nyaris berbentuk cair seutuhnya. Pada beberapa kasus, suhu dingin di angkasa membuat cairan kotoran yang sudah tercampur desinfektan itu membeku sehingga disebut kristal biru.
Dalam sebuah studi yang dilakukan oleh Friends of the Earth pada tahun 2009 silam, secara mengejutkan muncul fakta yang menunjukkan bahwa perjalanan via udara merupakan penyebaran zat-zat berbahaya tercepat di dunia. Hingga saat ini, biofuel masih diujicoba untuk mengatasi permasalahan pencemaran lingkungan tersebut, namun dengan prediksi lalu lintas udara akan meningkat dua kali lipat pada tahun 2035 mendatang, tentu seluruh perusahaan terkait perlu mempertimbangkan suatu perubahan mendasar untuk membuat langkah yang signifikan.
Baca Juga: Bicara Dimensi dan Bobot, Lima Pesawat Ini Masih Juara
Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman newatlas.com, pesawat D “double bubble” diperkenalkan oleh pihak MIT (Massachusetts Institute of Technology) kepada NASA sebagai pesawat yang mampu mengurangi polusi di udara dan meningkatkan sekitar 70 persen penggunaan bahan bakar yang ramah lingkungan, penurunan tingkat kebisingan, tingkat emisi nitrogen oksida (NOx) yang lebih rendah, hingga penggunaan landas pacu yang lebih pendek.
D “double bubble” ini memiliki sayap yang panjang dan ramping, ekor yang pendek, dan sesuai dengan namanya, mengganti badan pesawat pada umumnya dengan fuselage parsial yang ditempatkan berdampingan. Untuk urusan mesin, D “double bubble” menyimpan mesin di bagian belakang fuselage, tidak seperti kebanyakan pesawat yang menyimpannya di bagian sayap. Penyimpanan mesin ini merupakan pengaplikasian dari teknik Boundary Layer Ingestion (BLI).
“Berbagai studi yang diperkuat dengan analisa mendetail telah menunjukkan bahwa propulsor yang memanfaatkan lapisan batas (boundary layer) memiliki potensi untuk meningkatkan efisiensi penggunaan bahan bakar secara signifikan,” ungkap salah seorang teknisi NASA, David Arend, dilansir dari sumber terpisah. “Jika desain dan teknologi baru ini dapat disempurnakan, maka propulsor BLI akan mengeluarkan daya dorong dengan daya masuk yang lebih sedikit,” imbuhnya.
Baca Juga: Eva Air Tampilkan Tema Hello Kitty di Boeing 777-300ER
Walau disinyalir dapat meminimalisir penggunaan bahan bakar, namun pengaplikasian BLI akan menurunkan laju pesawat hingga 10 persen dibandingkan dengan pesawa sekelas Boeing 737, yang rencananya akan digantikan oleh D “double bubble”.
Proyek yang dipimpin MIT ini merupakan hasil dari kontrak senilai US$2,1 juta yang diberikan oleh NASA pada tahun 2008 silam sebagai bagian dari program penelitian aeronautika yang bertujuan untuk mengoperasikan pesawat yang lebih ramah lingkungan pada tahun 2035 mendatang. Diketahui, Boeing, GE Aviation dan Northrop Grumman juga ikut serta dalam program ini.
Negeri Kangguru patut berbangga karena maskapai kebanggaan mereka, Qantas Airways dianugerahi predikat maskapai teraman di dunia oleh Situs pengulas penerbangan, Airlineratings.com tertanggal 5 Januari 2017. Penyematan gelar tersebut bukan tanpa alasan, pihak Airlineratings.com melihat tidak adanya catatan kecelakaan selama 96 tahun pengabdian mereka di dunia aviasi. Perlu diketahui, ini merupakan tahun ke empat maskapai berjuluk “The Flying Kangaroo” tersebut menduduki peringkat puncak maskapai teraman di dunia.
Baca Juga: Qantas dan JetStar Izinkan Car Seat Dibawa ke Dalam Kabin
Dilansir KabarPenumpang.com dari laman telegraph.co.uk (6/1/2017), predikat membanggakan ini juga telah diakui oleh pihak British Advertising Standards Association, yang menyebutkan bahwa Qantas merupakan salah satu maskapai senior yang mengedepankan aspek keamanan penumpang. Dalam mencari jawara di kategori ini, Airlineratings.com mendata sebanyak 425 maskapai, dan memberikan mereka bintang tujuh jika mereka lolos penilaian di bidang keselamatan. 148 maskapai mendapatkan nilai tinggi dalam penilaian ini, namun 50 lainnya mendapat penilaian yang kurang baik.
Diketahui dari laman sumber, Airlineratings.com mempertimbangkan beberapa faktor dalam pemberian bintang terhadap ratusan maskapai tersebut, seperti catatan kecelakaan, hingga sertifikasi dari International Air Transport Association (IATA) untuk beberapa maskapai yang terdaftar dalam penerbangan di Uni Eropa. Sementara itu, penilaian akan berkurang jika ada maskapai yang hanya mengoperasikan pesawat buatan Rusia.
Ketika penilaian tersebut sudah mengerucut ke angka 20, pihak Airlineratings.com turut membandingkan sejarah penerbangan dan keunggulan masing-masing maskapai. Selain induk perusahaan dari Jetstar Airways ini, beberapa nama lain yang juga masuk ke dalam jajaran maskapai dengan penerbangan teraman di dunia adalah Air New Zealand, Etihad, Finnair, KLM, Lufthansa, Swiss, dan United Airlines. Secara mengejutkan, nama American Airlines dan Emirates terdepak dari peringkat 20 besar maskapai teraman di dunia, padahal tahun lalu, keduanya sempat mejeng di jajaran tersebut.
Dilansir dari sumber terpisah, Qantas juga memimpin dalam hal pemantauan mesin secara real-time di seluruh armadanya dengan menggunakan komunikasi satelit. Cara tersebut memungkinkan maskapai untuk mendeteksi masalah sebelum menjadi isu keamanan pesawat membesar.
Baca Juga: April 2018, Qantas Buka Penerbangan Langsung Perth – London
“20 maskapai teraman yang kami rangkum selalu berada di garis depan inovasi keselamatan, keunggulan operasional dan peluncuran pesawat baru yang lebih maju,” ungkap Geoffrey Thomas, editor dari laman AirlineRatings.com. “Mereka selalu mengedepankan keselamatan selama penerbangan,” imbuh Geoffrey.
Sementara itu, nasib buruk dialami Afghanistan, Nepal, Suriname, dan Indonesia karena ke-empat negara ini harus rela mendapatkan hanya satu bintang dari AirlineRatings.com karena penyedia layanan penerbangannya tidak mengedepankan nilai-nilai keamanan. Itu berarti, ada banyak yang mesti dibenahi dari dunia aviasi dalam negeri agar penilaian tersebut bisa membaik dan mengembalikan kepercayaan orang-orang untuk menggunakan maskapai domestik.