Tingkatkan Akselerasi Perusahaan, Angkasa Pura Airports Tambah Direksi Baru

Guna meningkatkan kinerja perusahaan dan merespon peluang usaha yang kian meningkat, PT Angkasa Pura I atau yang dikenal sebagai Angkasa Pura Airports mendapat perkuatan baru pada jajaran direksi. Lewat Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) ada penambahan jabatan baru pada susunan direksi dengan diangkatnya Jhonny Tjitrokusumo sebagai Direktur Hubungan Internasional dan Pengembangan Usaha di Angkasa Pura Airports. Baca juga: Tiga Bandara Angkasa Pura Airports Masuk Peringkat 10 Besar Dunia Dikutip KabarPenumpang.com dari siaran pers (11/8/2017), penambahan Direksi diputuskan dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) melalui surat Nomor: SK-155/MBU/08/2017 tentang Perubahan Nomenklatur Jabatan dan Pengangkatan Anggota Direksi Angkasa Pura Airports. Dalam surat tersebut Menteri BUMN Rini Soemarno mengangkat secara resmi Sardjono Jhonny Tjitrokusumo sebagai Direktur Hubungan Internasional dan Pengembangan Usaha. “Bergabungnya Sardjono Jhonny Tjitrokusumo sebagai anggota Direksi di Angkasa Pura Airports tentu akan berdampak positif dimana saat ini perusahaan sedang fokus pada percepatan pembangunan terminal baru Bandara Ahmad Yani Semarang, Bandara Syamsudin Noor Banjarmasin dan proyek pembangunan Bandara Internasional Yogyakarta di Kulon Progo. Selain itu ada juga 9 bandara yang akan dikembangkan guna mengatasi cepatnya pertumbuhan penumpang di bandara yang dikelola oleh Angkasa Pura Airports,”ujar Corporate Secretary Angkasa Pura Airports , Israwadi. Sardjono Jhonny Tjitrokusumo lahir di Jakarta, 5 Agustus 1971 telah malang melintang di dunia penerbangan di Tanah Air. Ia mengawali karirnya sebagai Pilot di Merpati Airlines pada tahun 1991 hingga 2004. Pada tahun 2006 hingga 2007 ia menjadi Pilot pada maskapai internasional Qatar Airways. Sejak tahun 2008 ia menjadi Pilot Senior pada maskapai Internasional Etihad Airways sebelum akhirnya ditetapkan sebagai Direktur Utama PT Merpati Nusantara Airlines pada 27 Mei 2010 hingga 13 Mei 2012. “Kami dari jajaran manajemen Angkasa Pura Airports berharap penambahan Direksi ini dapat menambah akselerasi perusahaan khususnya untuk pembangunan dan pengembangan bandara yang telah ditargetkan,” tambah Israwadi. Baca juga: Inilah Alasan PT Angkasa Pura I Berganti Jadi “Angkasa Pura Airports” Adapun susunan Direksi PT Angkasa Pura I (Persero) adalah sebagai berikut: Direktur Utama, Danang S. Baskoro, Direktur Keuangan & Teknologi Informasi, Novrihandri, Direktur Operasi, Wendo Asrul Rose, Direktur Teknik, Polana B. Pramesti, Direktur Pemasaran & Pelayanan, Moch. Asrori, Direktur Personalia & Umum, Adi Nugroho dan Direktur Hubungan Internasional & Pengembangan Usaha, Sardjono Jhonny Tjitrokusumo.

Akhirnya! Kereta Wisata Priority Keluar Juga Dari Depo KAI

Setelah menanti sekian lama, PT KAI melalui anak perusahaannya, PT Kereta Api Wisata membuka layanan terbarunya, yaitu Kereta Priority. Pada awalnya, kereta wisata ini hanya diperuntukkan untuk rombongan atau hanya bisa dipesan satu gerbong. Kini bisa dinikmati secara personal. Tentu saja, dengan fasilitas yang sudah dipersonalisasi terlebih dahulu. Baca Juga: India Hadirkan Kereta Kubah Kaca Untuk Tarik Wisatawan Dilansir KabarPenumpang.com dari laman Kompas.com, Kereta Priority ini hanya beroperasi ketika akhir pekan saja. Hingga saat ini, baru ada dua tujuan dari kereta wisata ini, yaitu Jakarta (Gambir) menuju Yogyakarta, dan Jakarta (Gambir) menuju Solo. Untuk jadwalnya sendiri, PT KAI mengatakan kereta akan berangkat setiap hari Jumat malam, baik untuk tujuan Yogyakarta maupun Solo. Untuk tujuan Yogyakarta, kereta akan berangkat setiap pukul 20.45 WIB dan pulang pada hari Minggu pukul 20.00 WIB. Sedangkan untuk tujuan Solo, kereta akan berangkat pada pukul 20.15 dan pulang pada hari Minggu pukul 20.00 WIB. Untuk masalah pemesanan tiket, tidak ada bedanya dengan pemesanan tiket perjalanan pada umumnya. Para penumpang bisa membeli langsung di loket hingga di channel-channel pembayaran tiket kereta, diantara lain via KAI Access, KAI 121, loket kereta api, konter KA Wisata, situs KAI, dan para partner online lainnya. Baca Juga: Enam Kereta dengan Perjalanan Paling Romantis Bersama Pasangan Jika Anda memesan tiket dari aplikasi KAI Access, kategori Prority akan muncul jika Anda memilih kereta Taksaka, Argo Lawu, dan Dwi Pangga di akhir pekan. Untuk masalah harga, PT KAI masih memberlakukan harga promo untuk periode Agustus hingga Oktober 2017 mendatang. Anda diwajibkan untuk merogoh kocek Rp750.000 untuk bisa menikmati layanan anyar tersebut. Harga itu sudah termasuk beragam penawaran gratis, seperti layanan restorasi dan penggunaan fasilitas yang tersedia. Sedikit berbeda dengan layanan kereta lainnya, salah satu kebijakan yang diterapkan pihak KAI untuk KA Wisata Priority ini tidak berlaku reduksi atau pemotongan harga bagi karyawan, TNI, Polri dan siapapun. Jadi semua masyarakat sama rata untuk menggunakannya. Diketahui, layanan ini baru dibuka pada Jumat (4/8/2017) kemarin. Presiden Direktur PT KA Pariwisata, Totok Suryono mengatakan ini merupakan perjalanan perdana Kereta Wisata Priority. “Ke depannya, kita akan menyediakan pilihan pada pengguna yang ingin menggunakan layanan lebih, seperti kelas Luxury, jadi kita namakan kelas priority,” jelas Totok.
Sumber: Kompas.com
Adapun fasilitas lain yang bisa dinikmati oleh para penumpang secara personal adalah Audio Video On Demand (AVOD) yang berfungsi layaknya karaoke perseorangan. AVOD ini tersedia di setiap bangku penumpang. Untuk layanan restorasi pun sudah tidak lagi menyajikan layanan prasmanan melainkan ala carte. Baca Juga: Ratakan Persebaran Wisatawan di Bali, Pemerintah Tawarkan Jalur Kereta ke Investor Cina Dari segi desain kereta pun memiliki perbedaan yang mencolok dengan kereta wisata sebelumnya. Dominasi warna coklat dan emas menunjukkan sisi eksklusif dan elegan. Direktur Operasi dan Administrasi PT KA Wisata, Sunarjo mengatakan, pelayanan yang diberikan di atas eksekutif, bahkan sekelas VVIP tamu kepresidenan. “Kita betul-betul menyajikan sesuatu yang berbeda, pengalaman yang benar-benar menarik selama perjalanan, dan harapannya memberikan kesan tersendiri bagi konsumen.” ungkap Sunarjo dilansir dari sumber yang sama.

Bandara Blimbingsari, Andalkan Konsep Green Airport dan Kearifan Lokal

Bandara Blimbingsari yang berada di Banyuwangi, Jawa Timur kondang disebut sebagai green Airport atau bandara berkonsep Hijau pertama di Indonesia. Green airport menekankan pada optimalisasi lahan pertanian yang ada di area bandara, serta keberpihakan pada masyarakat sekitar bandara. Konsep ini juga menggunakan desain interior dari produksi masyarakat setempat. Baca juga: 28 Agustus 2017, Jadwal Ground Breaking Bandara Internasional Bali Utara Dirangkum KabarPenumpang.com dari berbagi sumber, pada konsep green airport tanah yang digunakan tidak dihabiskan untuk bandara tetapi untuk pembentukan landscape pertanian. Tak hanya itu, dalam konsep green airport ini, bandara sangat meminimalkan penggunaan air conditioner (AC). Terminal baru ini akan memanfaatkan sirkulasi udara yang diatur dengan kisi-kisi sebagai pendingin udara yang dibantu aliran air untuk menyejukkan udara disekeliling terminal. Adapun atap terminal akan terhampar luas rerumputan hijau dan energi alamani dimanfaatkan mengatur pencahayaan matahari sebgai penerang ruangan di siang hari. Desain yang dibuat mengadopsi kearifan lokal dengan gaya arsitektur khas suku Osing yakni masyarakat asli Banyuwangi.
(Kabar Bisnis)
Atap terminal mengadopsi penutup kepala khas masyarakat suku Osing, Udeng. Terminal baru Bandara Blimbigsari ini juga banyak menggunakan ornamen kayu dan dibangun menggunakan dana APBD Banyuwangi sebesar Rp40 miliar. Konsep green airport ini hadir pada terminal baru Bandara Blimbingsari yang mulai beroperasi April 2017 lalu. Direktur Bandar Udara Direktorat Perhubungan Udara, Kementerian Perhubungan, Yudisari mengatakan, green airport Blimbingsari akan menjadi perwakilan desain bandara Indonesian Style. Baca juga: Tahun 2018, Bandara Internasional Kertajati di Majalengka Mulai Beroperasi Selain itu, Bandara Blimbingsari juga akan menjadi percontohan pembangunan bandara yang khas Indonesia. “Satu-satunya bandara dengan konsep Indonesian Style yang pernah dibangun. Terminal ini luar biasa, bagus sekali, sangat terasa Indonesianya. Terminal baru yang bagus ini akan menjadi percontohan nasional,” ujarya yang dikutip KabarPenumpang.com dari banyuwangikab.go.id (20/1/2017). Bandara Blimbingsari merupakan salah satu aset Pemerintah Daerah Kabupaten Banyuwangi yang dikelola oleh Satuan Kerja Bandara Udara dibawah naungan Direktorat Jenderal Perhubungan Udara, Kementerian Perhubungan. Tahun 2003, Menhub mengeluarkan KM 49 Tahun 2003 tentang penetapan Bandara Udara di Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur. Awal penggunaan bandara ini pada tahun 2009 yakni untuk take off dan landing pesawat jenis Cassa dan pada April di tahun yang sama para Flight Instructor (instruktur terbang) Bali International Flight Academy (BIFA) menggunakan Bandara Blimbingsari sebagai latihan take off dan landing untuk siswa-siswanya.
Peragaan busana di Bandara Blimbingsari Banyuwangi (Kompas)
Satu tahun kemudian, tepatnya 26 Desember 2010, bandara ini dilakukan uji kelayakan terbang dengan menggunakan pesawat C208 Grand Caravan miilik PT Sky Aviation oleh Direktorat Kelaikan Udara dan Pengoperasian Pesawat Udara sebagai salah satu syarat untuk penerbangan komersial untuk maskapai tersebut. Empat hari setelahnya, penerbangan komersial perdana dilakukan oleh PT Sky Aviation dan sekaligus peresmian Bandara Blimbingsari sebagai bandara komersial domestik. Kemudian akhir tahun 2016 kemarin, maskapai Sriwijaya Air membuka rute Jakarta-Banyuwangi dan izin dari Kemenhub turun pada April 2017 setelah beroperasinya terminal baru Bandara Blimbingsari dan maskapai lainnya pun menyusul seperti Garuda Indonesia, Nam Air dan lainnya. Baca juga: Saatnya Menikmati Musim Peragaan Busana di Bandara Bandara dengan konsep green airport ini memiliki panjang landasan pacu 2.250 meter dan mampu menampung 250 ribu penumpang. Tak hanya itu, ternyata bandara ini juga menjadi yang pertama kali menampilkan gelaran busana kebaya pada 21 dan 22 April 2017 lalu dengan melibatkan 100 desainer.

Barisan Menteri Ajak Warga Dukung PT Angkasa Pura II Untuk Penghargaan Internasional

Barisan para menteri meminta agar semua orang Indonesia bantu memilih Angkasa Pura II dalam penghargaan internasional. Para menteri ini yakni Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi dan Menteri Pariwisata Arief Yahya. Baca juga: PT Angkasa Pura II Bangun Command Center AMC di Terminal 3 Kedua Menteri ini, berharap agar PT Angkasa Pura II dipilih di Bandara Internasional Riview 2017. “Mari dukung AP II untuk memenangkan International Airport Review Award 2017 dimana ada tiga nominasi untuk tiga kategori diikuti,” kata Budi, yang juga mantan direktur utama PT Angkasa Pura II yang dikutip KabarPenumpang.com dari TheJakartaPost (7/8/2017). Pengharagaan ini total terdiri dari sembilan kategori dan AP II sendiri masuk dalam kategori nominasi pengalaman penumpang, arus udara dan lalu lintas udarat (ATC)/ pergerakan lalu lintas udara (ATM). Budi menambahkan, pihaknya mendukung pengembangan pariwisata untuk mencapai target kedatangan tamu.
Cara memilih untuk penghargaan AP II melalui aplikasi Internasional Airports (KabarPenumpang.com)
Arief Yahya mengatakan, penghargaan tersebut bisa menjadi batu loncatan untuk mencapai tujuan yang lebih tinggi. “Saya percaya bahwa jika kita bersatu untuk Merah Putih [bendera nasional Indonesia], tidak ada yang tidak bisa kita lakukan,” kata Arief. Proses pemungutan suara untuk penghargaan ini akan berlangsung dari 16 Juni kemaring hingga 31 Agustus 2017. Masyarakat bisa membantu memberikan suaranya melalui http://www.internationalairportreview.com. Baca juga: Angkasa Pura II Beri Insentif Maskapai Untuk Extra Flight Domestik Pada pemilihan ini, setiap satu alamat email dan satu IP hanya diperbolehkan memilih satu kali. Dalam memudahkan pemilihan ini, AP II sudah mengintegrasikan fitur pemungutan suara ke dalam aplikasi seluler Bandara Indonesia atau milik AP II yakni Indonesia Airports. Pada pemilihan ini, AP II bersaing dengan institusi lain yakni NATS, Brazil Civil Aviation Secretary (GOV),Imtradex, Leidos, Zurich Airport, Swiss Internasional Airlines, Bandara Zurich dan Airport Advisors.
Tampilan web untuk memilih AP II dalam penghargaan internasional (KabarPenumpang.com)
AP II Sebelumnya sudah mendapatkan penghargaan bandara 2017 yang paling baik dari Skytrax World Airport Survey dan empat penghargaan lain di ajang Stevie Awards Asia Pasifik 2017 pada Juli 2017 kemarin. “Penghargaan yang telah kami menangkan akan memperbaiki posisi kami di kancah internasional. Jika kita memenangkan ini, Indonesia, sebuah negara dengan 250 juta orang, akan diingat dalam skala global. Keyakinan dunia terhadap warga kita akan semakin kuat,” kata direktur utama PT Angkasa Pura II Muhammad Awaluddin. Baca juga: PT Angkasa Pura II, Buat Transparasi Penanganan Bagasi Pemenang akan diumumkan pada 1 November 2017 secara online dan pada ulang tahun ke 20 International Airport Review.

Bali Utara Kembangkan Pelabuhan Baru

Bulan September 2017, pelabuhan Benoa di Bali akan dikembangkan dengan penambahan dermaga untuk kapal pesiar. Nantinya di pelabuhan Benoa, fasilitas baru ini mampu menampung kapal dengan isi 5000 penumpang dengan kedalaman dermaga 11 meter. Baca juga: Pelabuhan Benoa Berbeda dengan Tanjung Benoa di Bali Dilansir KabarPenumpang.com dari seatrade-cruise.com (8/8/2017), selain pelabuhan Benoa, pemerintah Indonesia juga berencana mengembangkan fasilitas kapal pesiar di pelabuhan Celukan Bawang di Bali Utara. Dermaga pelayaran baru ini mampu menangani 2500 pengunjung sekaligus. Proyek pengembangan ini akan ditangani oleh perusahaan pelabuhan milik negara yakni PT Pelindo III dan akan selesai pada akhir tahun 2018 mendatang. Untuk pengembangan di pelabuhan Celukan Bawang akan dimulai Desember 2017 dan selesai Maret 2018. Nantinya akan menyediakan fasilitas dermaga yang bisa menangani tujuh kapal dengan masing-masing mengangkut 1000 penumpang per kapalnya. Menteri Pariwisata, Arief Yahya mengatakan, bahwa 200 ribu penumpang kapal pesiar mengunjungi Indonesia tahun lalu dan berharap ada perkembangan signifikan dengan pelabuhan baru ini. Arief menargetkan, 500 ribu pengunjung dengan kapal pesiar yang bisa dicapai pada akhir tahun 2019 mendatang. Baca juga: Garap Wisata Bahari, Pelni Canangkan Layanan Kapal Pesiar Selain itu Arief menambahkan pemerintah juga berencana mengembangkan fasilitas pelayaran di pelabuhan Belawan (Sumatera Utara), Tanjung Priok (Jakarta), Tanjung Perak (Jawa Timur) dan Soekarno-Hatta (Sulawesi). Dalam pembangunnan ini juga, pemerintah mengusulkan untuk mengurangi biaya pelabuhan sebesar 50 persen untuk kapal pesiar yang menggunakan dermaga pelabuhan Benoa yang baru di Bali. Sebenarnya, pada Pelabuhan Benoa tak hanya dermaga untuk kapal pesiar yang ditambah melainkan untuk pengiriman logistik dan penumpang kapal biasa. Pengembangan pelabuhan Benoa ini juga dikarenakan, kunjungan wisatawan ke Bali dengan kapal pesiar kecil semakin banyak dan padat. Baca juga: Pelabuhan Batam Center, Pintu Masuk Utama Pebisnis dan Wisatawan Asing Pengembangan pelabuhan untuk kapal pesiar di Bali juga dikarenakan, banyaknya tempat wisata yang semakin lama semakin berkembang di pulau Bali sendiri. Selain itu, Pulau Bali dekat dengan beberapa kota wisata seperti Lombok dengan Gili nya yang terkenal dan Jawa Timur yang terkendal dengan pulau Menjangan baik menjangan besar atau kecil. Sehingga pengembangan ini dirasa perlu agar para wisatawan bisa menikmati Indonesia yang dimulai dari Pulau Bali.

Teh dan Kopi Panas Tak Baik Dipesan Dalam Penerbangan? Ini Alasannya!

Suatu hari ada kawan yang membisikan, bahwa sebaiknya tidak memesan teh atau kopi panas di dalam penerbangan. Bisikan tersebut sudah barang tentu mengundang pertanyaan, apakah ada yang salah? Bukankah sajian makanan dan minuman di pesawat udara terkenal dengan kebersihan yang ‘terjamin.’ Nah, belum lama ini terjawablah bisikan dari kawan tersebut. Meski tak dapat di-generalisir, awak kabin yang bertugas pada umumnya tak pernah meminum teh atau kopi panas saat sedang bersantai di belakang atau di tempat mereka beristirahat. KabarPenumpang.com merangkum dari iflscience.com, ternyata air yang digunakan untuk membuat kopi dan teh mengandung berbagai bakteri yang membuat Anda bisa terkena diare atau disentri. Baca juga: 6 Tips Ampuh Menahan BAB Saat Perjalanan Jauh Salah seorang awak kabin mengatakan, petugas penerbangan tidak akan minum yang menggunakan air panas seperti teh dan kopi selama penerbangan. Environmental Protection Agency (EPA) menjawab terkait masalah ini dan mendapat hasil yang membuat jijik yakni menemukan banyaknya Coliform di air tersebut. Biasanya air yang digunakan untuk minuman panas pada penerbangan langsung dari keran bukan dari botol berisi air. EPA melakukan penelitiannya pada tahun 2004 dan menemukan 12,6 persen sampel yang diambil mengandung Coliform. Coliform sendiri merupakan indikator banyaknya kotoran yang ada sehingga menentukan kualitas sanitasi makanan dan air. “Baik total coliform dan E coli adalah indikator bahwa organisme penyebab penyakit lain (patogen) dapat hadir di air dan berpotensi mempengaruhi kesehatan masyarakat,” diambil dari catatan EPA. Baca juga: Berakibat Buruk Saat Penerbangan,14 Poin Ini Kerap Dianggap Sepele EPA juga menemukan dari 158 pesawat yang diuji, dua diantaranya positif E coli yang dapat menyebabkan diare dan kram perut. Tak hanya itu, satu dari delapan pesawat juga gagal memenuhi standar keamanan air yang mereka gunakan. Hal ini yang membuat para awak kabin tidak menyentuh air tersebut. Tahun 2009, EPA kemudian mengubah standar yang mereka miliki dan memaksa maskapai-maskapai penerbangan menggunakan sumber air yang mengikuti panduan Food and Drug Administration (FDA). Maskapai-maksapai tersebut juga harus mendisinfeksi dan menguji air mereka setidaknya satu tahun sekali. Sayangnya, aturan baru yang dibuat oleh EPA juga belum memberikan hasil yang diinginkan. Pada 2012 lalu, EPA melangsungkaan lebih banyak tes dan hasil yang didapat serupa dengan tahun 2004. Dimana hasilnya sekitar 12 persen hasil uji positif Coliform dan 0,5 persennya mengandung E coli. International Journal of Environmental Research and Public Health tahun 2015 menemukan bahwa ada banyak bakteri di truk yang mengantar air dibandingkan dari sumber air aslinya. Jika hingga kini Anda berpikir dengan memanaskan air bisa membunuh kuman dan bakteri, baiknya pikirkan ulang. “Mungkin bisa membunuh beberapa organisme. Tapi itu tidak akan membunuh sebagian besar dari mereka,” ujar ilmuwan lingkungan Brenda Wiles. Ia menambahkan, baiknya pesan minuman seperti jus jeruk atau yang lainnya saat melakukan perjalanan dengan pesawat terbang.

Lumayan! Satu Lajur Kendaraan Dibuka di Area Stasiun MRT Lebak Bulus

Berita terkait pembangunan jalur MRT (Mass Rapid Transit) umumnya didominasi seputar info penutupan ruas jalan dan pengalihan arus. Alhasil banyak warga yang mengerutkan dahi, lantaran beban kemacetan yang kian parah di Jakarta. Tapi kali ini ada yang berbeda, PT MRT Jakarta selaku pengelola proyek MRT justru merilis kabar bahwa akan ada pembukaan lajur, yakni lajur di area Stasiun MRT Lebak Bulus. Baca juga: Harap Sabar, MRT Jakarta Pasang Launching Gantry di Haji Nawi, Arus Lalin Dialihkan Sementara KabarPenumpang.com mengutip sumber dari siaran pers (11/8/2017), mulai 14 Agustus 2017, satu lajur kendaraan yang sebelumya digunakan untuk area kerja konstruksi Stasiun MRT Lebak Bulus akan dibuka bagi para pengguna jalan yang melintas dari arah Pondok Indah – Lebak Bulus – Ciputat. Lajur kendaraan yang terletak di bawah konstruksi lantai concourse Stasiun MRT Lebak Bulus itu akan dapat dilewati kendaraan pada hari Senin mendatang. Berikut rincian kondisi lajur kendaraan di area Stasiun MRT Lebak Bulus. Kondisi semula (3 lajur): • 2 lajur kendaraan pribadi + 1 lajur mix lane (lajur kendaraan pribadi dan Transjakarta dapat melewati lajur tersebut) Kondisi per 14 Agustus 2017 (4 lajur): • 3 lajur kendaraan pribadi + 1 lajur mix lane (lajur kendaraan pribadi dan Transjakarta dapat melewati lajur tersebut) Dengan adanya penambahan satu lajur kendaraan ini diharapkan dapat meminimalisir kemacetan yang terjadi akibat dari pekerjaan konstruksi proyek MRT di area Stasiun MRT Lebak Bulus, Jakarta Selatan.

Waspada! Inilah Lokasi Favorit Bakteri di Dalam Kabin Pesawat

Sebagai moda transportasi umum, adalah wajar bila di kabin pesawat terdapat bakteri dan kuman. Kursi, meja lipat dan toilet menjadi area terduga banyaknya bakteri di pesawat. Tak salah memang, karena memang titik-titik tersebut menjadi yang paling banyak dijamah penumpang. Namun seberapa besar level atau kadar kuman di masing-masing titik tersebut? Apakah ada lokasi lain di kabin yang justru lebih banyak terdapat bakteri? Menjawab pertanyaan diatas sudah pasti akan sangat kasuistis, karena banyak faktor yang mempengaruhi suatu penilaian. Namun KabarPenumpang.com mencoba merangkumnya dari paparan yang diulas oleh express.co.uk (7/8/2017), disebutkan ternyata ada beberapa tempat di dalam kabin pesawat yang banyak sekali terdapat bakteri dan kuman penyakit menempel. Baca juga: Meski Terlihat Bersih, Kursi dan Meja Lipat di Kabin Pesawat Dipenuhi Bakteri Mungkin Anda tidak sadar akan hal itu, sebab biasanya bakteri dan kuman penyakit tak bisa dilihat secara kasat mata melainkan dengan alat mikrobiologi. Kebanyakan dari Anda berpikir bahwa bakteri dan kuman penyakit tersebut menempel di tombol dalam toilet dan sabuk pengaman yang digunakan adalah sarang dari kuman dan bakteri. Tapi ternyata ada tempat-tempat lain yang pastinya sering dijamah dan memuat bakteri serta kuman penyakit lebih banyak dari tempat yang Anda pikirkan tadi. Seorang ahli mikrobiologi mengumpulkan 26 sampel dari empat pesawat berbeda dan menemukan rata-rata 2155 CFU (colony-forming units) per inci persegi suatu tempat di pesawat terbang. Dari hasil yang didapat, pada tombol flush di toilet ada 256 CFU, sabuk pengaman terdapat 230 CFU dan ventilasi udara di atas 285 CFU. CFU ini merupakan unit yang digunakan untuk mengukur jumlah bakteri atau sel jamur dalam sampel. Untungnya dalam tes yang dilakukan tersebut tidak terdeteksi adanya koliform manusia termasuk E coli yang berbahaya. Bakteri-bakteri tersebut berpotensi mematikan serta menyebabkan infeksi dengan gejala dari diare hingga muntah serta perut kram dan demam. Tetapi, jangan senang dulu, kuman lainnya bisa juga membuat Anda sakit apalagi bila Anda memakan makanan yang sudah jatuh ke meja lipat di depan Anda. Baca juga: Berakibat Buruk Saat Penerbangan,14 Poin Ini Kerap Dianggap Sepele Dalam hal menjaga kebersihan, para peneliti bakteri pesawat menyatakan, selalu sediakan sanitiser, tisu basah untuk mengelap meja atau pegangan tangan, selain itu juga untuk melap tangan Anda setelah dari toilet.

Survei ASQ, Buat Bandara Supadio dan Sultan Thaha Menjadi Percontohan

Airport Council International (ACI) selaku organisasi independen dengan beranggotakan sebanyak 592 perusahaan yang mengoperasikan 1.853 bandara di 173 negara melakukan survei untuk bandara-bandara tersebut. Survei Airport Service Quality (ASQ) adalah tolak ukur dalam industri bandara di tingkat global. Baca juga: Angkasa Pura II: Skytrain Akan Jadi Hadiah di HUT RI Ke-72 Dalam survei ini yang dinilai adalah tingkat kepuasan penumpang pada 34 area pelayanan termasuk kategori utama seperti akses, check in, kemanan, fasilitas bandara, ketersediaan tenant makan dan minuman serta yang lainnya. Hasil survei ASQ periode April sampai Mei 2017 kemarin menyatakan Bandara Supadio di Pontianak menjadi bandara terbaik atau peringkat pertama dari 80 negara yang mengikuti ASQ Kuartal II/2017 untuk kategori bandara berkapasitas dua sampai lima juta penumpang. Sedangkan bandara Sultan Thaha di Jambi menjadi yang terbaik untuk kategori bandara berkapasitas dibawah dua juta penumpang. Selain kedua bandara tersebut, bandara Raja Haji Fisabilillah di Tanjung Pinang, ikut mencatatkan pencapaian terbaik yakni peringkat kedua untuk kategori bandara berkapasitas dibawah dua juta penumpang. “Pencapaian Bandara Supadio, Sultan Thaha, dan Raja Haji Fisabilillah merupakan hasil dari kerja keras seluruh tim Angkasa Pura II untuk memberikan pelayanan terbaik bagi penumpang pesawat dan pelanggan Bandara pada umumnya. Airport Council International melalui survei ASQ ini mendorong agar Bandara-bandara di dunia dapat secara konsisten memberikan pelayanan terbaik, sehingga hal ini juga mendorong Angkasa Pura II untuk selalu memberikan pelayanan dengan standar global di seluruh Bandara-bandara di bawah pengelolaan Angkasa Pura II,” ujar Direktur Utama PT Angkasa Pura II (Persero) Muhammad Awaluddin yang dikutip KabarPenumpang.com dari siaran pers (9/8/2017). Baca juga: Angkutan Lebaran 2017, PT Angkasa Pura II Prediksi 6,9 Juta Penumpang di 13 Bandara Dia mengatakan, hasil survei ASQ menyebut Bandara Supadio dan Sultan Thaha adalah yang terbaik di seluruh dunia untuk bandara sekelasnya. Nantinya kedua bandara ini akan menjadi percontohan bagi bandara-bandara AP II lain khususnya terkait fasilitas dan pelayanan kepada penumpang pesawat. Selain penghargaan dari ACI, PT Angkasa Pura II (Persero) pada tanggal 10-14 Juli 2017 juga meraih sejumlah penghargaan pada ajang Contact Center World Awards – Asia Pacific 2017 di Kota Kinabalu, Malaysia. Penghargaan yang diraih tersebut adalah Medali Gold untuk kategori Best Incentive Scheme dan Technology Innovation, Medali Silver untuk kategori Best Use Social Media, Self Service Technology, dan Direct Response Campaign, serta Medali Bronze untuk kategori Best Contact Center Design. Direktur Pelayanan dan Fasilitas Bandara AP II Ituk Herarindri mengatakan, “Penghargaan dari Contact Center World ini merupakan apresiasi bagi layanan Contact Center 138 serta layanan customer service AP II. Kami berharap seluruh petugas pelayanan dapat selalu memberikan pelayanan terbaik bagi penumpang maupun masyarakat yang membutuhkan informasi secara cepat melalui telepon, media sosial, serta layanan tatap muka di 13 Bandara AP II.” Baca juga: Angkasa Pura II Targetkan Runway Kedua Bandara Supadio Rampung di 2020 Adapun penghargaan dari Airport CounciI International (ACI) dan Contact Center World (CCW) ini membuat AP II semakin terpacu memberikan pelayanan yang terbaik bagi masyarakat serta dapat menjadi operator bandara berkelas dunia yang dibanggakan Indonesia.

Tak Disangka! Snack Kacang Nyaris Mengundang Maut di Penerbangan Ini

Baru-baru ini, dunia aviasi kembali menjadi sorotan publik setelah orang tua dari balita di Melbourne mendesak semua pihak maskapai penerbangan untuk memberhentikan layanan kacang gratis selama perjalanan. Tuntutan ini dilayangkan setelah anak mereka mengalami reaksi alergi yang berpotensi fatal ketika mereka tengah mengudara. Baca Juga: Mulai Alergi Kacang Hingga Abu Jenazah, Inilah Deretan Peraturan Unik di Maskapai Chris dan Hong Daley tengah melakukan perjalanan pulang dari Thailand pada 12 Juli lalu meminta pihak maskapai Singapore Airlines untuk tidak menyajikan kacang kepada si buah hati, Marcus, karena ia mengidap anaphylaxis. Anaphylaxis adalah reaksi alergi yang menyerang lebih dari satu fungsi organ tubuh yang bisa menyebabkan kematian. Layanan kacangpun diganti dengan makanan lain, namun keluarga kecil tersebut tidak menyangka bahwa penumpang lain tetap mendapatkan kacang sebagai camilan mereka. Secara mengejutkan, ratusan bungkus kacang seolah dibuka secara bersamaan dan mengakibatkan ruangan kabin dipenuhi oleh bau kacang. Chris, yang ternyata merupakan seorang dokter spesialis pernapasan kemudian mengatakan anaknya mulai merasakan sesuatu yang tidak beres tak lama berselang setelah ratusan bungkus kacang tersebut dibuka. “Dia lalu mulai muntah, matanya mulai bengkak, dan ia tidak bisa berbicara dengan jelas,” kenangnya seperti yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman abc.net.au (17/7/2017). Untungnya, keluagra tersebut sudah membawa obat anti alergi dan empat buah pens of adrenaline yang mampu mengurangi efek dari alergi tersebut. Ini adalah kali pertama Marcus diberi obat semacam itu dengan cara menyuntikkannya di bagian kaki untuk mengobati alerginya tersebut. Baca Juga: Kenali Jenis Makanan Khusus dalam Penerbangan Melihat kejadian itu, orang-orang yang berada di dekat keluarga Daley mulai merasakan ketakutan yang sama mana kala Marcus mengalami kejang-kejang. “Bahkan keluarga di belakang kami tidak hentinya meminta maaf karena ia merasa bersalah sehingga alergi Marcus kambuh,” terang Hong. Kejadian tersebut berlangsung ketika pesawat baru mengudara sekitar satu jam, yang artinya masih menyisakan enam jam perjalanan lagi untuk tiba di Melbourne. Namun, Chris mengatakan situasi sudah mulai terkendali dan menganggap perjalanan tersebut sudah aman untuk anaknya. Chris juga mengkhawatirkan kejadian ini menimpa penumpang lain di penerbangan lainnya, karena kondisi tersebut bisa saja berubah menjadi lebih buruk ketika tidak mendapatkan penanganan yang tepat. Kejadian hampir serupa juga pernah dialami oleh rekan sesama dokter Chris, dimana ia mengalami reaksi alergi terhadap kacang. Ia mengeluhkan kejadian tersebut di laman jejaring sosial Facebook Singapore Airlines untuk memberhentikan layanan kacang gratis tersebut. Memang, pihak maskapai bisa menghentikan layanan tersebut, namun mereka mengaku tidak bisa mengendalikan apa yang penumpang bawa. Baca Juga: Sajian Makanan di Pesawat Wajib Ekstra Bumbu, Inilah Alasannya! Kembali ke kasus keluarga Daley, Hong lalu melayangkan gugatan resmi kepada pihak maskapai untuk memberhentikan layanan kacang gratis tersebut. “Yang harus mereka lakukan hanya menyudahi melayani kacang. Masih banyak makanan ringan lainnya yang bisa disajikan,” ungkap Hong. Menanggapi gugatan tersebut, pihak maskapai mengaku akan menindaklanjutinya. “Untuk memastikan tidak ada insiden lebih lanjut, kru kami akan menangguhkan pelayanan kacang di kabin kelas ekonomi untuk sisa penerbangan,” ujar juru bicara Singapore Airlines.