Pertama Kali Gelar Travel Fair, PT KAI Berhasil Jual 640 Ribu Tiket Eksekutif

Pameran perjalanan (KAI Travel Fair) yang digelar PT Kereta Api Indonesia (KAI) pada 29 dan 30 Juli 2017 kemarin, bukan hanya mendapat sambutan antusias, tetapi memberikan warna dan fenomena baru untuk promo penjualan tiket kereta api. Hal ini terlihat dari antrean pengunjung di pintu gerbang untuk masuk ke Jakarta Conventional Center yang mengular. Pada pameran yang pertama kali dibuat oleh PT KAI ini, harga yang ditawarkan cukup menarik dan, penjualan yang dilakukan hanya pada kereta eksekutif saja. Seperti tiket tujuan Bandung dari stasiun Gambir hanya dikenakan Rp30 ribu untuk sekali jalan, padahal harga tiket regulernya mencapai Rp125 ribu. Baca juga: Jepang Terancam Tersingkir (Lagi) dari Persaingan Peremajaan Kereta di Indonesia Tak hanya itu, beberapa tiket murah kelas eksekutif lainnya juga tersedia tujuan Cirebon, Kutoharjo, Semarang, Yogyakarta dan Surabaya. Hingga kabar terakhir yang KabarPenumpang.com rangkum, ada sekitar lebih dari 640 ribu lembar tiket kereta api eksekutif yang terjual dengan berbagai tujuan dan harga yang beragam pula dari Rp30 ribu hingga Rp150 ribu. Pameran yang dilakukan pertama kali oleh PT KAI ini, juga sekaligus untuk penjualan tiket pada waktu-waktu sepi liburan. Tiket yang dijual adalah pemberangkatan per Agustus hingga Oktober 2017 dan tidak menutup kemungkinan di hari biasa, untuk akhir pekan pun bisa.
Antrian mengular di pintu gerbang sebelum masuk ke JCC untuk pamerean tiket kereta api (istimewa)
Sayangnya, dengan pameran perjalanan yang dibuat KAI ini, mengundang kontroversi yang kurang sedab. Pasalnya KAI menyebut akan menjual tiket promo hanya di pameran, ternyata disaat yang sama, salah satu aplikasi pembelian tiket online teranyar pun memberikan harga yang sama dengan penjualan saat pameran. Baca juga: Bon Bon, Mengenal Legenda Lokomotif Listrik Indonesia Memang, walaupun terbatas tiket yang dijual melalui online, tetapi tetap beberapa pengunjung kecewa karena harus antre dari pagi, sedangkan banyak yang mudah alias hanya duduk di rumah dan membuka aplikasi serta membayar tiket dengan mudah. Dengan adanya masalah ini, pihak PT KAI meminta maaf kepada masyarakat atas kejadian tersebut. “Kami baru pertama kali mengadakan pameran perjalanan ini. Banyak sekali kekurangan, kami akan evaluasi dan perbaiki,” ujar Kepala Humas PT KAI Agus Komaruddin yang dikutip KabarPenumpang.com dari Harian Kompas (31/7/2017). Banyak kekecewaan yang dirasakan pengunjung, namun bisa dikatakan pameran perjalanan ini cukup berhasil dan membuat banyak pihak puas dengan adanya promo tiket pada kelas eksekutif.

Frekuensi Melonjak, ATC Bandara Soekarno-Hatta Peringatkan Risiko Keselamatan Penerbangan

Indonesian Air Traffic Controllers Association (IATCA) telah memperingatkan bahwa adanya risiko tabrakan pesawat dan kecelakaan lainnya mengingat beban kerja yang mereka tanggung cukup tinggi. Peringatan ini dikeluarkan sehubungan dengan Bandara Internasional Soekarno-Hatta (Soetta) yang menjadi bandara utama di negara ini tengah berjuang untuk mengatasi masalah ekspansi besar-besaran dari dunia aviasinya. Baca Juga: PT Angkasa Pura II Tingkatkan Kapasitas Listrik Bandara Soekarno-Hatta Pengendali lalu lintas udara Indonesia ini melayangkan komplain kepada pihak AirNav yang mengizinkan 84 penerbangan lepas landas dan mendarat dalam jangka waktu satu jam, sebagaimana yang terjadi selama eksodus di bulan Ramadhan kemarin. “Dengan membiarkan hal ini terjadi, kemungkinan terjadinya kecelakaan akan meningkat dan pengendali lalu lintas udaralah yang akan disalahkan,” ujar wakil ketua IATCA, Andre Budi, sebagaimana dilansir KabarPenumpang.com dari laman straitstimes.com (27/7/2017). IATCA menilai, 84 aktifitas baik penerbangan maupun pendaratan dalam waktu satu jam yang selama ini diberlakukan melebihi kapasitas bandara dan dianggap sudah melanggar Instruksi Menteri Perhubungan nomer 8/2016 yang membatasi aktifitas penerbangan di angka 74 pesawat per jam dan empat pesawat lainnya untuk keadaan darurat. Bukanlah isapan jempol semata, IATCA mengambil contoh dari aksi go around pilot Garuda Indonesia GA425 dari Denpasar yang akan mendarat di Bandara Soetta. GA425 melakukan aksi go around untuk menghindarkan terjadinya tabrakan di runway pada 18 Juni 2017 silam, tepat seminggu sebelum Hari Raya Idul Fitri. Baca juga: Lakukan Go Around, Pilot Garuda Indonesia GA425 Selamatkan Penerbangan dari Petaka Ditambah lagi dengan kejadian senggolan pesawat yang terjadi antara dua pesawat Lion Air di Bandara Soetta pada tahun lalu. Untungnya, kejadian ini tidak menelan korban jiwa. Tidak bisa dipungkiri, Bandara Soetta merupakan salah satu bandara tersibuk di Asia Tenggara yang melayani lebih dari 55 juta penumpang pada tahun 2016, dengan 1.200 penerbangan per harinya. Popularitas penerbangan di Indonesia semakin mewabah seiring bermunculannya berbagai maskapai Low Cost Carrier (LCC) yang menawarkan penerbangan dengan tarif yang relatif terjangkau. Baca Juga: Menara ATC Tintin: Cagar Budaya yang Tergerus Modernisasi Ibu Kota Dari data kecelakaan yang ada, membuat Indonesia mendapat penilaian yang buruk dalam audit keselamatan penerbangan tahun 2014 yang diadakan oleh salah satu badan pengawas penerbangan karena masalah kurangnya tenaga ahli. Andre mengatakan bahwa sebagian besar pengendali lalu lintas udara kurang mendapatkan pelatihan untuk menangani tingginya lalu lintas udara yang terpantau mulai meningkat sejak 10 hari sebelum Hari Raya. IATCA telah mengajukan keluhan kepada pihak AirNav dan Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan. “Kami ingin pihak yang berwenang kembali menggunakan pola 72 pesawat per jam untuk mencegah kecelakaan,” kata Andre. Tidak lupa, IATCA juga menyarankan agar pemerintah memberikan lebih banyak pelatihan kepada petugas lalu lintas udara dan memperbaiki infrastruktur bandara. Menanggapi hal tersebut, Sekretaris AirNav, Didiet K. S. Radityo mengatakan bahwa tidak ada yang salah dengan kenaikan angka aktifitas di landas pacu tersebut, ini berlandaskan pada instruksi Kementerian Perhubungan No. 16/2017 yang telah diperbaharui. “Kenaikan tersebut untuk mengakomodasi permintaan dari pihak maskapai seiring dengan pertumbuhan ekonomi dan dari sektor pariwisata,” tutur Didiet. “81 penerbangan per satu jam merupakan standar maksimum baru,” tambahnya. Lebih lanjut, Didiet mengatakan instruksi menteri yang baru sebenarnya telah disesuaikan untuk melayani penerbangan dengan lebih baik dan untuk menghindari ‘mangkraknya’ aktifitas di bandara, terutama pada waktu-waktu tertentu. Instruksi tersebut juga berdasarkan masukan dari Unit Koordinasi Kementerian Perhubungan untuk sektor penerbangan, pihak PT Angkasa Pura II, dan firma konsultan dari Bandara Heathrow di London. Baca Juga: Agustus 2017, Diharapkan Semua Rute Internasional Pindah ke Terminal 3 Bandara Soetta Atas dasar tersebut, Dirjen Perhubungan Udara, Agus Santoso membenarkan isu tentang peningkatan frekuensi penerbangan di Bandara Soetta. “Permintaan bertambah, maka frekuensi penerbangan pun mesti ditingkatkan,” tuturnya dalam sebuah pernyataan. Agus menambahkan bahwa sebagai pusat utama penerbangan domestik, kapasitas Bandara Soetta harus sesuai dengan pesatnya pertumbuhan dari sektor pariwisata dan ekonomi. “Di Bandara Heathrow, landasan pacu dapat menangani 100 pesawat per jam. Selama prosedur dan peraturan dipatuhi, akan aman.” tutupnya.

Saat Take Off and Landing, Penutup Jendela Pesawat Wajib Dibuka, Inilah Sebabnya!

Ternyata saat pesawat lepas landas dan mendarat tak hanya lampu yang dimatikan atau diredupkan, tetapi penutup jendela pun harus dibuka. Tapi tahukah apa alasan penutup jendela tersebut harus dibuka? Padahal baik di tutup atau di buka pun tak akan ada udara yang masuk dalam kabin pesawat, karena kabin pesawat seperti ruang hampa yang hanya memiliki udara dari pesawat itu sendiri. Baca juga: Ingin Bawa Anak Naik Pesawat? Perhatikan Beberapa Poin Penting Ini KabarPenumpang.com mencari alasannya dari independent.co.uk, para ahli kemudian mengungkapkan alasan terkait penutup jendela pesawat yang harus dibuka. Ternyata ini adalah hal penting yakni untuk keselamatan penumpang dan mungkin dalam pikiran Anda hal ini hanya masalah sepele. Petugas Keselamatan Penerbangan dan pengamat aviasi, Saran Udayakumar mengatakan pada pengguna Quora bahwa pada kasus darurat di pesawat awak kabin hanya memiliki waktu 90 detik untuk melakukan evakuasi. Ini juga memungkinkan awak kabin menyiapkan para penumpang dalam pesawat terbang untuk penyelamatan dan pengungsian dengan cepat. Sebab, masalah ini agar petugas darurat bisa melihat keluar dari dalam kabin untuk mengecek situasi di luar. Baca juga: Yuk! Intip Tempat Istirahat Awak Kabin Virgin Australia “Penumpang penasaran, oleh karena itu mereka adalah mata ekstra yang sempurna untuk melihat apakah ada yang tidak beres di luar sana. Biasanya penumpang langsung melaporkan jika terjadi keadaan darurat mendadak. Karena itu bila penutup jendela terbuka, kru bisa dengan mudah melihat kondisi luar untuk membantu mereka dalam merencanakan evakuasi yakni dengan pintu digunakan untuk evakuasi,” ujar Udayakumar. David Robinson, seorang Aeronautical Industry Professional memberikan penjelasan lebih lanjut. Dia mengatakan,jika Anda bisa menyesuaikan diri dengan kondisi cahaya rendah sebelum terjadi insiden yang tidak baik, ada kemungkinan Anda akan memiliki kapasitas visual 1000 kali lebih baik dibandingkan bila tiba-tiba berada dalam kegelapan dan hanya memiliki waktu untuk turun dari pesawat selama 90 detik. Baca juga: Selain Mesin, Yuk Kenali Arti Suara-Suara di Dalam Kabin Pesawat “Ada beberapa kasus di mana penumpang melihat terjadinya masalah teknis dengan melihat kondisi sayap atau mesin. Tentu saja, ini sangat jarang terjadi,” ujar salah seorang pilot, Kare Lohse. Sebenarnya tak hanya lampu yang redup dan penutup jendela di buka, tetapi meja yang berada di depan penumpang juga harus dilipat untuk memudahkan bila terjadi keadaan darurat dan lebih cepat keluar dari tempat duduk mereka. Baca juga: Adakah Yang Berbeda Antara Pramugari dan Awak Kabin? Pada bulan Januari 2009, penumpang Flight 1549 mendarat di Sungai Hudson dalam apa yang oleh Walikota disebut keajaiban di Hudson. Sebanyak 150 penumpang di atas pesawat selamat dan bekerja sama dengan kru untuk menilai situasi dan menjamin keselamatan sesama penumpang.

Tanggalkan Pakaian Sebelum Mengudara, Pria Ini Tunda Keberangkatan Pesawat

Ada-ada saja memang ulah penumpang, diberitakan baru-baru ini seorang penumpang maskapai Spirit Airlines membuat penerbangan menuju Oakland, California ini sempat tertunda beberapa waktu. Adapun penyebab keterlambatan ini dikarenakan penumpang yang identitasnya tidak disebutkan tersebut menanggalkan pakaiannya dan berjalan mendekati pramugari. Kejadian yang terjadi di Bandara Mc’Arran, Las Vegas ini terjadi pada Sabtu (29/7/2017). Baca Juga: Sedang Gendong Anak, Penumpang Ini Malah Mendapat Bogem dari Petugas Bandara Sebagaimana yang diwartakan KabarPenumpang.com dari laman dailymail.co.uk (30/7/2017), penumpang yang disinyalir mengalami gangguan kejiwaan tersebut melepaskan pakaiannya ketika hendak naik ke dalam maskapai. Kejadian yang terjadi pada pukul 11.30 waktu setempat ini sontak menggegerkan orang-orang di sekitarnya. Para penumpang lain yang melihat kejadian ini kemudian menghubungi pihak keamanan setempat guna menindaklanjuti aksi di luar batas tersebut. Petugas keamanan langsung memboyongnya dan Letnan Polisi Carlos Hank yang menangani kasus ini mengatakan penumpang tersebut akan diobservasi lebih lanjut untuk mengetahui kondisi kejiwaannya. “Penumpang tersebut menerima perawatan setelah diamankan oleh petugas,” tuturnya sebagaimana tertera di laman sumber. Baca Juga: Dua Sejoli ini Lakukan Adegan Panas di Dalam Kabin Akibat kejadian ini, pemberangkatan Spirit Airlines sempat tertunda sekitar 30 menit dan tiba 20 menit lebih lama dibandingkan waktu normal. Sementara itu, pihak Spirit Airlines sendiri masih memilih untuk bungkam ketika ditanya mengenai kejadian memalukan tersebut. Dengan adanya insiden seperti ini, tentu mengingatkan kita tentang banyaknya rentetan kejadian memalukan lainnya yang menghantui dunia aviasi. Mundur ke tanggal 26 September 2013 silam dimana seorang lelaki paruh baya melakukan hal serupa, yaitu menanggalkan pakaiannya lalu menantang kapten pesawat untuk berkelahi. Dilansir dari sumber berbeda, kejadian tersebut berawal ketika pria tersebut mulai mengumpat kepada penumpang lain dan menjadi tidak terkontrol. Kapten pesawat EasyJet yang mendengar keributan tersebut lalu meninggalkan area kokpit untuk menenangkannya. Namun, setibanya pesawat tersebut di Bandara Manchester, pria yang disinyalir tengah berada di bawah pengaruh minuman beralkohol tersebut lalu menanggalkan pakaiannya lalu menantang sang kapten yang mencoba untuk menenangkannya tadi untuk berkelahi. Baca Juga: (Lagi), Awak Pesawat Gunakan Kabel Ties Untuk Lumpuhkan Penumpang Petugas keamanan setempat terpaksa melumpuhkannya menggunakan stun gun karena pria bertato tersebut dianggap tidak bisa diajak bekerja sama dengan menyerahkan dirinya, bahkan setelah pasangan dari pria itu menamparnya berulang kali. Ternyata, menurut keterangan yang diperoleh dari juru bicara kepolisian Manchester, ia juga sempat buang air kecil di tembok. Akibat ulahnya tersebut, ia ditahan oleh kepolisian setempat dan akan dikenakan denda atas tindakannya. Ada-ada saja ya!

Asal Usul ERP Singapura: Ketika Pembangunan Jalan Tak Setara Pertumbuhan Kendaraan

Beberapa tahun ke belakang, warga Jakarta dihebohkan dengan menyeruaknya kabar tentang pengadaan sistem baru di jalanan yang diusung-usung akan menggantikan sistem three-in-one, yaitu Electronic Road Pricing (ERP). ERP sendiri merupakan skema pemungutan biaya tol secara elektronik yang diadopsi pertama kali oleh Singapura. Adapun tujuan utama dari pemberlakuan sistem ERP ini adalah untuk mengurangi volume kendaraan yang terjadi di jalan-jalan tertentu. Untuk di Singapura sendiri, pemasangan ERP ditujukan untuk mengurangi volume kendaraan di Central Business District (CBD) dan Jalan Orchard, serta jalan tol utama. Baca Juga: Jalan Ini Hubungkan Jepang dan Turki Sepanjang 20.000 Km! Tidak hanya itu, sebagaimana dilansir KabarPenumpang.com dari lta.gov.sg, tujuan lain dari pengadopsian sistem ERP adalah untuk mengoptimalkan penggunaan jaringan jalan dengan mendorong pengendara kendaraan bermotor untuk mempertimbangkan jalur alternatif lainnya yang tersedia. Selain itu, sistem ERP juga dianggap lebih wajar dalam tarif yang dikenakan kepada para penggunanya. Jadi, bagi siapa saja yang melewati jalan yang mengadopsi sistem ini, akan dikenakan biaya. Sepintas cara kerjanya sama seperti jalan tol, namun di sini para pengendara tidak mesti berhenti untuk membayarnya, karena ada alat pemindai di setiap gerbang ERP dan On Board Unit (OBU) yang terpasang di dashboard kendaraan Anda. Layaknya sistem pembayaran menggunakan kartu, OBU pun mesti diisi ulang ketika saldonya sudah mulai “menipis”. Nantinya, saldo di OBU akan otomatis terpotong jika melewati gerbang ERP. Jika Anda melewati jalan ini ketika jam non-ERP (biasanya ERP diterapkan ketika peak hours), maka Anda akan membayar lebih murah atau bahkan sama sekali tidak mesti membayar. Baca Juga: 10 Poin Utama Pada Proyek Kuala Lumpur–Singapore High Speed Rail Keuntungan lainnya adalah para pengemudi tidak lagi menemukan kesalahan yang ditimbulkan oleh manusia, karena semua sistem ERP sudah dilakukan sepenuhnya oleh sistem, tidak ada campur tangan manusia dalam pengoperasiannya sehari-hari. Di Singapura sendiri, sistem ERP ini sudah diterapkan sejak September 1998 silam, karena jalan-jalan di Singapura sudah dianggap terlalu ramai dan perlu solusi untuk mengentaskan kemacetan tersebut. Dilansir dari sumber, kemacetan lalu lintas sendiri sangat mahal bagi individu dan masyarakat. Jika dikaji lebih dalam, kemacetan yang ditimbulkan berakibat pada hilangnya jam produktif, semakin meningkatnya polusi lingkungan, bahan bakar terbuang percuma, dan mempengaruhi kondisi kesehatan yang tentu saja merugikan. Baca Juga: Sejarah MRT Singapura, Dibangun di Atas Keterbatasan Lahan Sistem rekayasa lalu lintas ini dinilai ampuh diterapkan di negara dengan tingkat kemacetan yang tinggi. Otoritas Singapura menilai pembangunan jalan bukanlah merupakan solusi untuk mengentaskan kemacetan karena tidak bisa mengimbangi “pertumbuhan” kendaraan bermotor di sana. Mungkin dengan alasan serupa, Indonesia khususnya Jakarta bisa merefleksikan apa yang diterapkan oleh Singapura 19 tahun yang lalu. Pihak otoritas Singapura sendiri mengakui untuk mengimplementasikan sistem ERP membutuhkan waktu yang cukup lama, yaitu sembilan tahun. Jadi, akankah Indonesia siap mengadopsi kembali sistem ERP yang sempat tertunda tersebut?

Akankah Jakarta Mampu Terapkan ERP Seperti Singapura?

Jika Anda melewati seputaran patung Pemuda Membangun yang ada di ujung Jalan Jenderal Sudirman, atau di Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, Anda pasti pernah melihat sebuah tiang besi yang membentuk sebuah gawang, ya, itu adalah gerbang Electronic Road Pricing (ERP). Ini merupakan salah satu solusi yang pernah ditawarkan oleh pemerintah guna mengentaskan kemacetan yang seolah sudah mendarah daging di Ibu Kota. Baca Juga: Ternyata, Trem Listrik di Jakarta Lebih Dulu Ketimbang di Belanda Tahun lalu, Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahja Purnama atau yang kerap disapa Ahok ini berencana akan memberlakukan sistem jalan berbayar ini setelah dihapuskannya sistem three-in-one karena Ahok melihat adanya penyelewengan dalam sistem ini. Namun, tampaknya Ahok terlalu terburu-buru sehingga sistem ERP yang sudah mulai dibicarakan sejak 11 tahun yang lalu ini tidak kunjung beroperasi hingga kini. Mulai dari tidak adanya payung hukum serta beberapa masalah lain menjadi pokok perbincangan para pengamat hingga pihak-pihak berwenang. Adapun lokasi-lokasi yang akan ditetapkan sebagai jalur ERP adalah sepanjang Jalan Jendral Sudirman hingga Thamrin atau yang dikenal sebagai jalur kepala naga, dimana gedung-gedung atau landmark perkantoran dan pusat perbelanjaan kelas atas berdiri. Tidak heran jika jalur ini akan mengalami kemacetan yang sangat parah di kala peak hours. Adapun Indonesia mengadopsi sistem ERP dari negara tetangga, Singapura, karena negara tersebut sukses mengentaskan kemacetannya dengan menggunakan sistem ini. Baca Juga: Harap Sabar, MRT Jakarta Pasang Launching Gantry di Haji Nawi, Arus Lalin Dialihkan Sementara Untuk sistem pembayarannya sendiri, teknologi canggih akan terpasang di gerbang ERP yang akan memindai On-Board Unit (OBU) yang akan dipasang disetiap kendaraan yang melintasinya. OBU itu sendiri memiliki cara kerja yang hampir serupa dengan kartu TransJakarta atau KRL, dimana setiap penggunanya harus terlebih dahulu melakukan top-up di gerai-gerai yang ada. Saldo yang ada di OBU itu akan otomatis terpotong jika Anda melintasi jalur ERP. Namun tampaknya pemerintah belum terlalu siap dengan kecanggihan sistem ERP ini, sehingga pada 22 Juli lalu, pemprov DKI membuka lelang pengadaan jalur berbayar tersebut. Dilansir KabarPenumpang.com dari laman koran-jakarta.com (24/7/2017), Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta, Andri Yansyah, mengatakan pihaknya sudah menerima sekitar 19 lamaran dari perusahaan yang siap menimang sistem ini. “Baru dibuka 3 hari, sudah 19 perusahaan yang mendaftar,” tutur Andri. Sementara dihimpun dari sumber lainnya, data statistik yang dilansir Dinas Perhubungan DKI Jakarta menyatakan, persentase pengguna kendaraan pribadi diperkirakan sebesar 74,7 persen. Jumlah ini hampir 3 kali lipatnya dari jumlah angkutan umum yang tersedia. Melihat total jalan yang hanya 6.954 km, dengan rasio jalan sebesar 6,3 persen dan pertumbuhannya pun hanya 0,01 persen per tahun, tentu kemacetan akan sulit terurai. Jika kondisinya sudah seperti ini, kira-kira kapan warga Ibu Kota bisa merasakan kemajuan dari bidang infrastruktur transportasinya ya?

Sedang Gendong Anak, Penumpang Ini Malah Mendapat Bogem dari Petugas Bandara

EasyJet, salah satu maskapai dengan biaya penerbangan murah atau Low Cost Carrier (LCC) asal Inggris, pada Sabtu (29/7/2017) lalu mengggerkan dunia aviasi. Pasalnya salah satu staf lapangannya diketahui melakukan pemukulan kepada seorang penumpang yang saat itu sedang menggendong bayi. Pemukulan ini terjadi di bandara Nice di Prancis. Baca juga: Penumpang Pukul Petugas Avsec Bandara Sam Ratulangi, Video Viral Kemana-mana Dilansir KabarPenumpang.com dari cnn.com (30/7/2017), pemukulan ini awalnya terjadi saat seorang penumpang pria yang tengah menggendong anak mengeluhkan penunundaan penerbangan yang terjadi pada EasyJet flight 2122 dari Nice ke bandara Luton di Inggris. Dan tanpa alasan dan sebab yang jelas, penumpang pria tersebut tiba-tiba ditinju oleh seorang staff Samsic. “Itu sangat mengerikan, saya tidak percaya petugas tersebut berperilaku seperti itu,” ujar salah seorang rekan penumpang bernama Arabella Arkwright yang juga mengabadikan foto pertengkaran tersebut. Dia mengatakan, saat terjadi pemukulan, suaminya masih bisa menahan serangan hingga menunggu polisi tiba. Pria tersebut lalu dibawa pergi untuk diamakan. Arkwright mengaku, dari pukulan petugas Samsic tersebut dirinya mendapat luka memar di wajahnya. Baca juga: Duh! Dokter ini Diseret di Lorong Kabin Pesawat, Kenapa ya? “Kami memiliki masalah serius dengan seorang dari staff kami di subkontraktor Samsic,” ujar salah seorang direktur di bandara Nice, Jean François Guitard. Dia mengatakan, saat itu penumpang tersebut sebenarnya hanya mengeluhkan penundaan EasyJet kepada staff Samsic, alih-alih tak menjawab pertanyaan, karyawan tersebut tiba-tiba memukul si penumpang. Guitard menambahkan, setelah aksi pemukulan tersebut, staff Samsic itu kemudian mendapatkan skorsing. “Jelas ini adalah situasi yang salah, kami mohon maaf atas situasi yang dirasakan penumpang. Sebenarnya tidak ada alasan bagi seorang petugas memukul penumpang,” kata Guitard. Baca juga: Ini Alasan Kenapa Pesawat Dihimbau Tak Mengudara Saat Turun Kabut Dalam sebuah pernyataan resmi, EasyJet mengatakan, sangat prihatin saat melihat adanya foto terkait pemukulan tersebut dan mengatakan staff yang memukul bukanlah karyawan dari EasyJet dan juga tidak bekerja untuk agen penanganan EasyJet di bandara Nice. Sementara terkait penundaaan pesawat yang dikeluhkan, pihak EasyJet mengatakan bahwa mereka menyesalkan penundaan penerbangan tersebut, yang menurutnya disebabkan oleh masalah teknis. Baca juga: Unik, Penumpang Masukkan Sebuah Bir Kaleng Ke Bagasi Pesawat dan Diberi ‘Tag’ “Pesawat lain harus diterbangkan dari London. Penumpang diberi update dan voucher penyegaran selama waktu ini dan penerbangan mendarat di London Luton tadi malam,” kata maskapai tersebut. Setelah ditelusuri, ternyata sebelum terjadinya pemukulan, penerbangan tersebut ternyata tertunda selama 11 jam dan membuat semua penumpang saat itu sangat lelah akibat terjadinya penundaaan pemberangkatan.

Atasi Masalah Polusi, Inggris Larang Mobil Diesel dan Bensin di Tahun 2040

Kehadiran kendaraan listrik belakangan ini yang dinilai sebagai kendaraan masa depan ditanggapi serius oleh beberapa pihak, salah satunya adalah otoritas di Inggris. Mereka berencana untuk melarang penjualan mobil berbahan bakar diesel dan bensin pada tahun 2040 mendatang. Hal tersebut dipertegas oleh pernyataan yang dilontarkan oleh Sekretaris Kementerian Lingkungan Hidup, Michael Gove yang menyebutkan bahwa Inggris tidak dapat melanjutkan pengoperasian mobil berbahan bakar diesel karena akan semakin merusak lingkungan akibat polusi yang ditimbulkan. Baca Juga: Ternyata! Jakarta Dijadikan Panutan Dalam Program Pengurangan Polusi di Sydney “Tidak ada opsi lain selain merangkul teknologi baru,” tuturnya, sebegaimana dilansir KabarPenumpang.com dari laman telegraph.co.uk (25/7/2017). Namun, salah satu solusi untuk mengentaskan masalah polusi tersebut dinilai terlalu terburu-buru oleh perusahaan listrik dan gas multinasional asal Inggris, National Grid. Mereka menyebutkan bahwa pengoperasian mobil listrik terlalu mahal dan dianggap kurang praktis. Dalam laporannya, National Grid mengungkapkan permintaan terhadap pasokan listrik di Inggris akan meningkat sekitar 30 gigawatt dari angka yang sekarang, yaitu 61GW. Angka tersebut akan setara dengan 10 kali lipat jumlah daya yang dikeluarkan oleh stasiun tenaga nuklir Hinckley Point C yang baru dibangun di Somerset. National Grid memprediksi pihak Inggris akan semakin bergantung pada impor listrik yang diperkirakan akan mengalami peningkatan sekitar 10 persen. Permasalahan pelik ini tidak hanya menghantui otoritas setempat, melainkan pengemudi kendaraan berbahan bakar diesel juga akan dikenakan biaya tambahan karena dianggap telah menyebarkan polusi. Tidak hanya itu, mereka juga dilarang mengemudi dikala peak hours. Beranjak dari problematika tentang pengadaan mobil listrik, para menteri telah mengidentifikasi setidaknya ada 81 jalan utama dari 17 kota yang dianggap paling besar menyumbangkan polusi, dan masalah ini memerlukan tindak cepat dari pemerintah. Adapun strategi yang coba ditawarkan kepada pihak pemerintah adalah dengan melakukan uji coba pengurangan emisi. Adapun uji coba tersebut melingkupi peremajaan kendaraan diesel yang dianggap paling banyak menyebar polusi, mengubah tata letak jalan, hingga menghilangkan gundukan penghambat laju. Terlepas dari identifikasi tersebut, sebuah riset baru menunjukkan bahwa 48 dari jalan yang paling tercemar berada di London. Sementara daerah lain yang telah diidentifikasi adalah Birmingham, Derby, Leeds, Nottingham, Southampton, Bristol, Bolton, Manchester, Bury, Coventry, Newcastle, Sheffield, Belfast, Cardiff dan Middlesborough. Oleh karenanya, sejumlah pihak mendesak agar pemerintah setempat dapat memberlakukan pembatasan terhadap kendaraan diesel secepatnya pada tahun 2020 mendatang. Setidaknya dengan diberlakukannya pembatasan ini, maka diharapkan tingkat emisi nitrogen dioksida yang sangat berbahaya bisa diredam. Baca Juga: Ford Hadirkan Layanan Bike Sharing, Kok Bisa? Sebaliknya, pemerintah akan merundingkan tentang pemberlakuan skema scrappage yang rencananya akan digelar pada musim gugur mendatang. Skema scrappage ini merupakan kebijakan pemerintah terhadap warga Inggris untuk membeli kendaraan baru dan menjual kendaraan lamanya yang berumur sudah lebih dari 12 bulan. Lebih lanjut, pemerintah menargetkan untuk menghentikan penjualan mobil diesel pada tahun 2040 mendatang. Kemudian pada tahun 2050, diharapkan Inggris sudah bebas sepenuhnya dari pengguna kendaraan berbahan bakar diesel.

Drone Penumpang Produksi Cina Siap Unjuk Gigi di Akhir 2017

Sebagai salah satu perusahaan inovatif yang bergerak di bidang penyediaan teknologi masa depan, Ehang nampaknya bersungguh-sungguh dalam mempromosikan salah satu produksinya. Setelah setahun yang lalu pihak Ehang mengungkapkan kesediannya dalam pengadaan moda transportasi otonom berupa sebuah drone, perusahaan yang berbasis di Guangzhou, Cina ini berencana untuk melakukan trial pada akhir tahun 2017 ini. Pernyataan tersebut dilontarkan oleh salah satu pendiri Ehang, Derrick Xiong pada Selasa (25/7/2017) kemarin. Baca Juga: Saingi Dubai, Singapura Akan Hadirkan Taksi Udara Sebagaimana KabarPenumpang.com sarikan dari laman flightglobal.com (26/7/2017), Derrick mengatakan telah melakukan ribuan kali percobaan penerbangan sejak tahun 2015 silam, namun masih dalam skala tertutup. “Publik belum ada yang melihat penerbangan drone octorotor ini secara real-time,” tuturnya. Ehang 814 ini sendiri dikendalikan oleh perangkat komputer, namun drone tersebut dirancang khusus untuk menampung penumpang. Untuk lokasi uji coba sendiri, Ehang memiliki dua opsi, yaitu Cina atau di Dubai, Uni Emirat Arab, alasannya kedua lokasi tersebut dianggap yang paling mendukung perkembangan produk. “Untuk sementara, kami tidak bisa menerbangkannya di Oshkosh, namun sesegera mungkin Anda akan dapat melihat moda ini mengudara di beberapa belahan dunia,” ujar Derrick penuh semangat. Walaupun Dubai AirShow rencananya akan digelar pada bulan November mendatang, namun pihak Ehang sepertinya tidak akan menjadi salah satu kandidat untuk mempertunjukkan moda transportasi masa depannya itu. Menanggapi hal tersebut, pihak Ehang mengatakan membutuhkan sebuah acara khusus untuk memperkenal produknya tersebut. “Pihak kami merencanakan tahun ini,” tambah Derrick. Baca Juga: Juli 2017, Drone Penumpang Resmi Mengudara di Dubai Demonstrasi publik merupakan bagian dari rencana jangka panjang Ehang untuk terus belajar mengenai teknologi kontrol otonom. Dari segi sertifikasi, baik pihak produsen maupun regulator masih sedikit kebingungan dengan pelegalan moda transportasi public yang dikendalikan oleh alogaritma perangkat lunak, dan bukan dikendalikan oleh manusia. Walaupun beberapa pihak sempat ragu akibat crash yang terjadi pada tahap pertama uji coba, namun Derrick mengatakan hal tersebut sudah dapat teratasi dan sistem alogaritma yang diterapkan sekarang sudah benar-benar paten. Dalam pagelaran Airventure yang digelar pada 25 Juli kemarin, Derrick yang berdiri di depan nama besar Ehang turut menampilkan sebuah video yang mampu memantapkan perspektif publik mengenai pengoperasian Ehang yang sudah mendekati kata sempurna. Baca Juga: AirMap, Platform Pengatur Lalu Lintas Drone di Udara “Hal pertama yang perlu kita lakukan adalah membuktikan pada diri kita sendiri – membuktikan bahwa produk ini sebenarnya adalah produk yang paling siap secara teknis untuk dipasarankan di era yang serba modern ini,” kata Xiong. “Kita perlu membuat semua orang percaya bahwa ini adalah produk yang cukup bagus untuk dijual.” Tutupnya.

Serap Pengguna Mobil Listrik Lebih Banyak, Queensland Gratiskan Electric Super Highway

Ada kabar gembira untuk semua pengemudi electric vehicle atau kendaraan bertenaga listrik yang berada di Australia, karena pemerintah setempat berencana untuk membebas biayakan setiap kendaraan yang melintas di sana, berkat adanya sistem Electric Super Highway yang baru, sebagaimana dilansir KabarPenumpang.com dari laman newatlas.com (27/7/2017). Ini merupakan salah satu langkah yang ditempuh pemerintah setempat dalam mewujudkan penggunaan moda transportasi yang lebih ramah lingkungan. Baca Juga: Ternyata! Jakarta Dijadikan Panutan Dalam Program Pengurangan Polusi di Sydney Dalam sebuah pernyataan, Pemerintah Queensland mengatakan Electric Super Highway ini akan menjadi yang terpanjang di dunia dalam satu negara bagian. Adapun jarak yang membentang dari ujung satu ke ujung yang lainnya adalah sekitar 1.000 mil, atau setara dengan 1.600 km. Jalanan di pesisir garis pantai Queensland ini menghubungkan Gold Coast dan Cairns juga akan dilengkapi dengan stasiun pengisian cepat. Kehadiran stasiun pengisian daya ini memungkinkan kendaraan listrik untuk dapat melakukan perjalanan dari perbatasan di bagian selatan hingga ke bagian utara tanpa keluar dari Electric Super Highway. Menteri Lingkungan Hidup yang juga merangkap sebagai Main Roads Minister, Steven Miles mengatakan proyek yang sangat ambisius ini bertujuan untuk menghadirkan prasarana transportasi untuk moda masa depan yang rendah emisi. “Kami menginginkan sebanyak mungkin orang untuk beralih dari kendaraan konvensional ke kendaraan listrik yang menghasilkan emisi rendah,” tutur Steven. Lebih lanjut, Steven mengatakan akan ada 18 kota yang akan dilintasi oleh Electric Super Highway. “Dalam waktu enam bulan ke depan, kendaraan listrik yang ada di Australia bisa menikmati fasilitas ini secara cuma-Cuma. Ini merupakan strategi kami dalam menarik minat warga untuk beralih dari kendaraan konvensional ke kendaraan bertenaga listrik,” ujarnya. Adapun energi yang tersedia di setiap stasiun pengisian daya dinilai Steven sebagai “energi hijau”, dimana energi tersebut tidak menghasilkan emisi sebesar bahan bakar seperti solar maupun bensin yang terkenal membahayakan lingkungan. Steven mengutip dari sebuah studi, ia mengungkapkan ada 50 persen warga Queensland yang akan meninggalkan kendaraan lamanya dan beralih menggunakan kendaraan bertenaga listrik, plug-in hybrid, dan regenerative braking hybrid dalam jangka waktu dua tahun ke depan. Baca Juga: Ini Dia! 8 Jalan Raya Terpanjang di Dunia Sebagian besar warga yang akan beralih menggunakan kendaraan bertenaga listrik mengaku termotivasi dengan tersedianya infrastruktur yang tersedia, seperti stasiun pengisian daya. Ada juga yang mengatakan bahwa mereka ingin berperan aktif dalam mengentaskan masalah polusi yang belakangan ini kerap kali menjadi sorotan beberapa media. “Keberadaan electric vehicle tidak hanya bisa mengurangi biaya bahan bakar warga Queensland, tapi juga merupakan opsi moda transportasi yang ramah lingkungan, terutama bisa diisi menggunakan energi terbarukan,” terang Steven. “Queensland Electric Super Highway berpotensi merevolusi cara kita melakukan perjalanan keliling Queensland di masa depan.”