Pelabuhan Benoa Berbeda dengan Tanjung Benoa di Bali

Pelabuhan Benoa yang terletak d kota Denpasar, Bali merupakan pintu masuk ke Ibu Kota Provinsi Bali melalui jalur laut. Pelabuhan ini sudah mulai diusahakan sejak tahun 1924 silam, seiring keberadaan bangsa Belanda saat itu di Denpasar. Awalnya, batas daerah kerja dan kepentingan pelabuhan Benoa didasarkan pada gambar peta pelabuhan zaman Belanda yang ditetapkan dalam Staadblad nomor 16 pada 8 Januari 1926 lalu. Baca juga: 28 Agustus 2017, Jadwal Ground Breaking Bandara Internasional Bali Utara Kemudian, pada 14 Februari 1990, batas-batas lingkungan kerja pelabuhan dan kepentigan pelabuhan Benoa ditetapkan dengan Surat Keputusan Bersama (SKB) Menteri Dalam Negeri dan Menteri Perhubungan nomor 15 tahun 1990/KM 18 Tahun 1990. Rencananya pada tahun 2017 ini, pelabuhan Benoa akan diperbesar melalui rekomendasi draft Rencana Induk Pelabuhan (RIP) dari pemerintah kota Denpasar. Nantinya pelabuhan Benoa akan melayani pengiriman logistik, kapal pesiar dan kapal penumpang biasa. Dikutip KabarPenumpang.com dari detikfinance.com (11/5/2017), Gubernur Bali Made Mangku Pastia mengatakan pembangunan ini sedang dalam proses dan pembicaraan dengan Wali Kota Denpasar. “Bila jadi terlaksana, pelabuhan Benoa akan menjadi pelabuhan terbesar di Bali.” Pengembangan pelabuhan Benoa ini, juga dikarenakan, kunjungan wisatawan ke Bali dengan kapal pesiar kecil hingga menengah semakin banyak dan padat. Sehingga, pelabuhan Benoa ini harus diperluas untuk memudahkan kapal-kapal pesiar bersandar. Baca juga: Ratakan Persebaran Wisatawan di Bali, Pemerintah Tawarkan Jalur Kereta ke Investor Cina Selain akan menjadi pelabuhan terbesar di Bali, di sekitaran pelabuhan Benoa ini pun banyak sekali objek wisata yang bisa didatangi. Apalagi Bali terkenal dengan pantai, ombak dan segala atraksi yang selalu berhubungan dengan laut. Tempat wisata yang bisa dikunjungi di dekat pelabuhan Benoa yakni Bali Water Park, tempat untuk bermain ski air dan biasanya ini lebih cocok untuk pemula. Tak hanya itu Aneecha Sailing Catamaran, dimana para pengujung bisa menyewa kapal dengan layar dan menikmati laut Bali dengan semilir angin, serta pelayanan bintang lima. Anda juga bisa ke konservasi penyelamatan penyu, disini Anda bersama keluarga bisa melihat penyu-penyu kecil yang baru menetas dari telurnya. Tak hanya itu, spot diving atau menyelam pun sangat strategis dari pelabuhan Benoa ini. Upside Down World, seperti yang ada di kota lainnya pun bisa Anda nikmati dengan jarak hanya 1,5 km dari pelabuhan Benoa, disini Anda akan seperti berada dalam sebuah ruangan terbalik, yang suka foto-foto tempat ini cocok untuk berfoto. Baca juga: Ternyata 40% Turis Australia ke Bali Terbang Dengan JetStar Diketahui, tahun 2010 lalu, pelabuhan Benoa mendapat penghargaan dari Majalah Dream Worlf Cruise Destination sebagai Best Port Welcome. Untuk diketahui, pelabuhan Benoa berbeda dengan Tanjung Benoa. Pelabuhan Benoa berada di Denpasar sedangkan Tanjung Benoa berada di Kuta Selatan, Badung dan di Tanjung Benoa kaya akan spot untuk aktivitas air.

Elon Musk Hadirkan Solusi Transportasi Canggih Berbasis Travelator

Siapa yang tidak kenal dengan Elon Musk? Dewasa ini namanya kerap kali menghiasi sejumlah media dengan salah satu idenya dalam pengadaan moda transportasi masa depan bernama Hyperloop. Tidak hanya itu, CEO SpaceX ini juga tengah berkutat dengan proyek lainnya yang masih berkaitan dengan dunia transportasi, yaitu pengadaan sebuah jaringan transportasi di bawah kota Los Angeles. Baru-baru ini, Elon mengunggah video di akun Instagram miliknya yang menunjukkan sebuah mobil otonom, Tesla yang masuk ke dalam sebuah lubang menggunakan mesin elevator. Baca Juga: Bertha, Mesin Bor Raksasa Yang Pernah Terperangkap di Bawah Tanah Seattle Sebagaimana informasi yang diperoleh KabarPenumpang.com dari laman dailymail.co.uk (26/7/2017), nantinya mobil tersebut akan memasuki sebuah terowongan dan mengarungi bawah tanah Los Angeles menggunakan travelator yang dapat melaju dengan kecepatan 130mph atau setara dengan 209 km per jam. Adapun terowongan ini merupakan cara yang Elon tempuh untuk mengentaskan masalah kemacetan yang kian hari kian meradang di Los Angeles.
Sebelum Elon mengunggah video tersebut ke akun Instagram pribadinya, ia terlebih dulu mengantongi ijin dari pemerintah setempat untuk “melubangi” perut bumi yang nantinya akan menghubungkan New York dan Washington DC hanya dalam waktu 29 menit saja. Jika tidak menemukan kendala dalam pengerjaannya, terowongan ini akan menjadi terowongan terpanjang di dunia. Ini akan mengalahkan rekor yang saat ini dipegang oleh Gotthard Base Tunnel, sebuah jalur kereta api yang membentang sepanjang Pegunungan Alpen di Swiss dengan panjang kurang lebih 35,5 mil (setara 57 km). Baca Juga: Elon Musk, CEO SpaceX Ini Paparkan Ide Entaskan Masalah Kemacetan Beberapa minggu ke belakang, Elon mengatakan bahwa kerangka travelator di terowongan tersebut sudah terpasang. “Seharusnya minggu depan sudah bisa dioperasikan,” ungkap Elon. Pria yang dikenal aktif di media sosial ini juga mengunggah foto lokasi dari terowongan tersebut di akun Twitter pribadinya. Pembangunan terowongan ini sendiri baru selesai pada awal bulan Juli kemarin, dan dalam cuitan terpisah, Elon mengatakan bahwa alat tersebut tidak akan mengecewakan para penggunanya. Pengadaan terowongan ini merupakan bentuk jawaban Elon terhadap cibiran para ahli yang menyebutkan bahwa terowongan ini tidaklah praktis dan tidak mungkin diterapkan. Dalam keterangan terpisah, Elon menyebutkan bahwa terowongan ini weatherproof, tidak terlihat, dan tidak akan membentur kepala Anda seraya menyindir perusahaan lain yang menghadirkan teknologi drone atau taksi udara.

Kisruh Pemesanan Kursi, Swiss Airlines Hadapi Gugatan dari Penumpang

Swiss Airlines baru-baru ini dilaporkan telah membuat penumpangnya kecewa atas pelayanan yang diberikan. Hal ini tersebut diungkapkan Shelley Benjamin, salah seorang penumpang dari San Francisco tujuan Zürich, Swiss bersama anak dan suaminya. Seperti diwartakan beberapa media, saat itu Shelley membayar US$99 untuk perjalanan suaminya agar bisa duduk dekat dengannya dan anaknya yang masih balita (3 bulan). Dia melakukan pembayaran tersebut agar bisa mendapatkan tempat duduk, agar bisa sedikit privasi untuk menyusui dan mengganti popok bayinya. Baca juga: Sedang Gendong Anak, Penumpang Ini Malah Mendapat Bogem dari Petugas Bandara Setidaknya dengan biaya tambahan tersebut, Shelley beserta keluarga tidak harus repot melewati orang lain saat mau mengganti popok bayi. Sayangnya, bukan pelayanan yang didapat Shelley, justru bagian pelayanan pelanggan menolak dengan hal tersebut. Pihak layanan pelanggan justru mengatakan bahwa dalam pesawat hanya memiliki dua kursi tengah karena keranjang hanya terpasang di kursi tengah. Namun kesialan kembali dirasakan Shelley dan keluarganya yang menemukan fakta saat berada di pesawat keranjang bayi hanya bisa diletakkan pada kursi paling akhir. Selain itu, dia pun mengaku, harus meletakkan keranjang bayinya tidak bersama dirinya melainkan di bangku depan bersama orang asing. “Saya membayar dua tempat duduk, membayar untuk suami saya agar bisa duduk disebelah saya, tapi saya tidak benar-benar bisa memilih tempat duduk saya sendiri,” ujar Shelley yang dilansir KabarPenumpang.com dari chicagotribune.com (31/7/2017). Baca juga: Ingin Bawa Anak Naik Pesawat? Perhatikan Beberapa Poin Penting Ini Terkait masalah tersebut, Shelley menginginkan uang sebesar US$99 dikembalikan karena merasa dibohongi. Advokat konsumen Christopher Elliott, menanggapi permasalahan yang dihadapi keluarga Shelley dengan mengatakan bahwa Swiss Airlines seharusnya tidak mengenakan biaya apapun untuk tempat duduk tersebut. Dia mengatakan, bila sudah setuju untuk membayar biaya tersebut, harusnya Shelley bersama keluarga menempati tempat duduk di lorong yang sudah dibayarkan tersebut. Namun, permasalah utamanya adalah tidak adanya catatan tertulis dari perwakilan Swiss Airlines yang memberi informasi tentang keranjang bayi tersebut. Sehingga bila dikaitkan masalah ini seperti tak jelas. Baca juga: Tanggalkan Pakaian Sebelum Mengudara, Pria Ini Tunda Keberangkatan Pesawat Elliott menjelaskan bahwa maskapai ini sebenarnya mempertahankan biaya tempat duduk tersebut dan mencatat untuk menawarkan kepada semua pelanggan, agar para pelanggan diberi kesempatan untuk memilih tempat duduk yang mereka sukai dalam penerbangan. Dulu, Swiss Airlines tidak memberikan kesempatan ini pada semua kalangan tetapi hanya untuk pelanggan tertentu yang membuat reservasi. Tahun 2014, dengan membayar biaya, pelanggan yang melakukan pemesanan penerbangan kemudian dapat menentukan tempat duduk 11 bulan sebelum keberangkatan.

Buntut Penangkapan Teroris di Sydney, Seluruh Bandara di Australia Alami Penumpukan Penumpang

Bagi Anda yang sedang bersiap pergi atau datang ke Australia dalam waktu dekat, maka bersiaplah untuk menghadapi pemeriksaan panjang di bandara-bandara di Negeri Kangguru. Pemeriksaan yang ketat dari Kepolisian Federal dilakukan setelah pada hari Sabtu lalu (29/7/2017) dilakukan penangkapan pada empat orang terduga teroris. Empat warga Australia keturunan Lebanon dipercaya sedang mempersiapkan teror pada pesawat rute Jakarta – Sydney. Baca juga: Koneksi Data Bermasalah, Ribuan Penumpang di Australia Lakukan Cek Paspor Manual Dilansir KabarPenumpang.com dari kidderminstershuttle.co.uk (31/7/2017), keempatnya merupakan dua pasang ayah dan anak di dua daerah berbeda, yakni di Lakemba, Surry Hills, Wiley Park, dan Punchbowl. Kesemuanya masuk bagian kota Sydney. Keempatnya diduga terinspirasi oleh gerakan ISIS. Sebelum melakukan penangkapan pada keempat terduga teroris, polisi Australia menggerebek lima rumah pada hari yang sama. Dalam penggerebekan tersebut selain mengamankan empat orang tersebut, diduga komplotan tersebut melibatkan penyelundupan perangkat dalam penerbangan dari Sydney ke Timur Tengah. Selain itu bom yang sudah dibuat juga ditemukan di rumah salah satu pelaku yakni di Surry Hills. Dengan diperketatnya keamanan di seluruh bandara, Peter Dutton, Menteri Perlindungan Perbatasan Australia, memberikan himbauan bagi para wisatawan yang akan bepergian menggunakan pesawat di seluruh bandara Australia, harus sampai dua jam sebelum penerbangan domestik dan tiga jam sebelum penerbangan internasional untuk pengecekan barang bawaan penumpang. Menurutnya, saat ini bagasi harus dipantau semaksimal mungkin dan wisatawan bisa memasuki bagian terminal yang aman bukan terisolir. Dengan merebaknya berita rencana teror, Perdana Menteri Australia Malcolm Turnbull tidak akan memberi komentar mengenai laporan beberapa surat kabar yang menyebut ekstrimis Islam berencana membunuh penghuni sebuah pesawat dengan gas beracun dan sebuah bom buatan tengah dipersiapkan di perumahan. Atas kejadian ini, Komisioner Polisi Federal Australia Andrew Colvin mengatakan, penenangkapan keempatnya atas dasar undang-undang kontra terorisme. “Kami percaya bahwa kami telah menggagalkan upaya yang dapat menyerang sebuah pesawat,” ujar Colvin.
Pengaman empat orang terduga teroris di Australia
Baca juga: Yuk! Intip Tempat Istirahat Awak Kabin Virgin Australia Turnbull menambahkan, bahwa warga Australia bisa lebih tenang karena memiliki dinas intelijen yang baik dalam melakukan pengamanan dan bergerak sangat cepat dengan hasil yang tepat sasaran. Diketahui, komplotan ini membuat sebuah alat peledak yang bisa mengeluarkan gas beracun berbasis belerang untuk membunuh ataupun melumpuhkan semua orang di dalam pesawat. Baca juga: Ternyata 40% Turis Australia ke Bali Terbang Dengan JetStar “Akan ada banyak spekulasi nantinya. Fokus kami sekarang adalah benar-benar memastikan orang-orang yang merencanakan teroris digagalkan,” ujarnya. Adanya pengecekan bagasi bawaan penumpang membuat bandara-bandara di Australia terlihat penumpukan penumpang dan antrean yang terlihat mengular.

Berkiblat ke Jerman, Cina Hadirkan Skytrain Generasi Terbaru

Cina baru saja dinobatkan sebagai negara ketiga di dunia yang menggunakan teknologi Skytrain setelah beberapa waktu yang lalu, Negeri Tirai Bambu tersebut baru saja menyelesaikan proyek kereta gantung tersebut. Rencananya, kereta yang akan mengular di jalur suspensi tersebut akan menjalani serangkaian uji coba di Qiangdao, Provinsi Shandong, Cina Timur. Baca Juga: The Dolphin Blue dan Golden Phoenix, Kereta Peluru Terbaru Tembus 400Km Per Jam Sebagaimana yang KabarPenumpang.com sarikan dari laman vanguardngr.com (26/7/2017), salah satu alasan mengapa moda darat ini diberi nama Skytrain adalah karena kereta ini merupakan sebuah monorel dimana jalurnya sudah ditinggikan dan diketahui memecahkan rekor. Para teknisi mengatakan Skytrain ini dapat beroperasi tiga kali lebih baik daripada kereta bawah tanah biasa. Tidak hanya itu, mereka juga mengatakan kereta ini bisa menanjak hingga gradien 100 meter dengan jarak 1000 meter. Kereta ini dirancang khusus sebagai salah satu transportasi dengan biaya operasi yang rendah, ditambah dengan bobot moda yang masuk ke dalam kategori lightweight, dan kecepatan sedang diharapkan Skytrain ini bisa diadposi di daerah dengan pemandangan yang indah, seperti di daerah pegunungan atau kota-kota besar yang dihiasi oleh gedung-gedung pencakar langit. Setidaknya, potensi pasarnya akan meningkat jika diadopsi di tempat-tempat tersebut.
Kereta yang diproduksi oleh CRRC Qingdao Sifang Co. Ltd. ini terdiri dari tiga hingga lima gerbong yang mampu menampung kurang lebih 510 penumpang. Seperti yang sudah dijabarkan di atas mengenai daya laju Skytrain, kereta ini mampu menaju dengan kecepatan maksimum 70 km per jam. Liu Yuwen selaku Technical Director dalam proyek ini mengatakan kereta monorel ini dilengkapi dengan teknologi permanent magnet motor terbaru yang akan berpengaruh terhadap pengoperasian yang lebih efisien. “Ini memungkinkan kereta memiliki kekuatan yang lebih besar, volume fisik yang lebih kecil, tingkat kebisingan yang rendah, serta bobot yang lebih ringan,” tutur Liu seperti yang tertera di laman sumber. Ia menambahkan, kereta ini mampu untuk dioperasikan di daerah pegunungan yang curam dan terjal sekalipun. “Skytrain akan memberi tumpangan yang aman dan nyaman,” tambahnya. Baca Juga: Tanggula, Stasiun Terbengkalai di Atas Awan Liu mengaku, penggunaan rel di atas permukaan tanah juga dinilai lebih hemat serta lebih mudah untuk dikelola. Hingga saat ini, baru tiga negara yang mengembangkan teknologi serupa, yaitu Jerman, Jepang, dan juga Cina. Dalam hal ini, Cina menjadikan Jerman sebagai kiblat pengadaan Skytrain, karena pada tahun 1901 silam, pembangunan sistem transportasi serupa diadakan di Negeri Bavaria dan menjadi pionir. Pengadaan kereta dengan jalur di atas permukaan tanah tersebut awalnya dibangun di kota Wuppertal dan hingga kini masih beroperasi.

Masker Oksigen, “Penyambung Nyawa” Saat Kabin Kehilangan Tekanan

“Gunakan Masker Oksigen Terlebih Dahulu, Baru Bantu Orang Lain,” demikian instruksi yang senantiasa diingatkan oleh awak kabin dan display informasi sebelum berlangsungnya penerbangan. Peran masker oksigen yang berada di dalam kabin berguna tatkala tekanan dalam kabin tiba-tiba berkurang atau hilang. Bila masker oksigen sudah keluar dari langit-langit kompartemen, maka pakailah untuk diri Anda sendiri sebelum membantu orang lain, dalam hal ini termasuk anak sekalipun. Baca juga: Peragaan Alat Keselamatan Penerbangan, Masih Efektifkah? Seorang pilot yang juga penulis Cockpit Confidential, Patrick Smith mengatakan, hal pertama yang perlu diperhatikan adalah bahwa kecelakaan pesawat akibat masalah tekanan dalam kabin sangatlah jarang terjadi. Bahkan bila kabin tertusuk sesuatu pun tidak akan terjadi apapun menyangkut tekanan. “Jika tekanan kabin turun dibawah ambang batas tertentu, maka otomatis masker oksigen akan turun dari langit-langit kompartemen di atas penumpang dan terlihat seperti hutan masker. Jika Anda dihadapkan dengan masker oksigen yang tiba-tiba muncul, pakailah masker tersebut untuk Anda terlebih dahulu sebelum membatu orang lain, bawa diri Anda serileks mungkin,” ujar Smith yang dikutip KabarPenumpang.com dari travelandleisure.com (30/7/2017). Smith menambahkan, saat masker oksigen yang sudah Anda gunakan tersebut, maka pesawat akan segera berada di tempat yang aman dan oksigen tersebut cukup untuk beberapa menit kedepan. Faktanya dengan kondisi masker oksigen tiba-tiba turun dari langit-langit kompartemen dan pendaratan darurat, cukup membuat penumpang takut, tetapi pilot sudah dilatih untuk menangani situasi seperti ini. Baca juga: Pentingnya Pelampung Untuk Keselamatan Penerbangan Sebagian dari Anda mungkin bertanya-tanya seberapa lama masker oksigen mampu membantu para penumpang? Menurut io9, setiap pesawat sebenarnya membawa oksigen yang cukup membantu penumpang selama 20 menit untuk bernafas. Tetapi untuk diketahui, sebenarnya itu bukanlah oksigen asli, melainkan senyawa kimia yang menjadi oksigen setelah terbakar. Saat ini kebanyakan pesawat banyak membawa campuran barium peroksida, natrium klorat dan kalium klorat. Memang mungkin terdengar tidak ideal untuk menghirup bahan kimia, tetapi ini adalah alternatif yang baik agar penumpang tidak kehilangan kesadaran ataupun sekarat. Sayangnya bila Anda menolak menggunakan masker, kemungkinan terburuknya adalah akan menderita hipoksia atau kekurangan oksigen kurang dari 30 detik. Baca juga: Green Laser Pointer 303, Teror Baru Untuk Dunia Aviasi Menurut Airbus, penumpang memiliki waktu sekitar 18 detik untuk tetap sadar saat sebuah pesawat kehilangan tekanan pada ketinggian 37 ribu kaki (11.300 meter). Hal ini sangat penting dan seperti yang dikatakan awak kabin dalam memeragakan alat keselamatan yang salah satunya adalah masker oksigen. “Tarik kebawah masker, letakkan menutupi hidung dan mulut Anda dan baru kemudian membantu orang lain disekitar Anda.”

Oktober 2017, Stasiun ‘Modern’ Bekasi Timur Siap Beroperasi Layani Jalur KRL

Stasiun Bekasi Timur bisa juga disebut stasiun Ampera atau Bulak Kapal ini merupakan stasiun baru yang akan dilalui CommuterLine atau kereta rel listrik (KRL). Letaknya tepat berada di Jalan Ir H Juanda, Bekasi Timur. Stasiun ini dalam tahap pembangunan dan akan melayani KRL dari Jabodetabek hingga ke Cikarang. Sebenarnya banyak faktor sehingga diputuskan membangun stasiun iniu, salah satunya adalah kapasitas penumpang di stasiun Bekasi sudah jauh melebihi kapasitas. Saat ini di stasiun Bekasi sudah menampung kapasitas 190 persen penumpang saat pagi dan sore, yakni pada momen pergi pulang kerja masyarakat ke arah Jakarta. Baca juga: Pembangunan Fisik Stasiun Kereta Bandara Soekarno-Hatta Rampung di Maret 2017 Diperkirakan, stasiun Bekasi Timur akan rampung pada Agustus 2017 ini. Dikutip KabarPenumpang.com dari tempo.co (27/7/2017), Supervisor Mutsubishi-Sumitomo Join Operation (MSJO), Ferry Cristasana mengatakan saat ini tinggal tahap finishing dengan sisa penyelesaian proyek sekitar 10 persen. Adapun penyelesaian akhir fisik dari stasiun tersebut yakni bagian luar dan dalam, taman dan uji kelayakan. Biaya pembangunan Stasiun Bekasi Timur sendiri menggunakan anggaran dari Kementerian Perhubungan. Baca juga: Nagreg, Mengenal Stasiun Kereta Aktif Tertinggi Di Indonesia Stasiun yang direncanakan beroperasi pada Oktober 2017 ini bersama dengan dua stasiun lainnya yakni stasiun Cibitung dan Cikarang memiliki luas tiga hektare dengan peron sepanjang 90 meter dan klasifikasi daya tampung 12 gerbong kereta. Mengusung konsep stasiun modern, “Kami juga melengkapi stasiun ini dengan elevator dan lobi yang nyaman bagi penumpang,” kata Ferry. Stasiun Bekasi Timur sendiri akan terdiri dari dua lantai, dimana lantai dasar diperuntukkan untuk loket dan mesin pembelian tiket yang langsung terkoneksi dengan koridor tangga menuju peron bagian barat dan timur. Stasiun Bekasi Timur juga sudah dilengkapi dengan fasilitas untuk para penyandang disabilitas dari area parkir hingga peron. Baca juga:  Stasiun ini dilengkapi dengan 4 tangga dan 2 lift untuk memudahkan penyandang disabilitas dan para lansia. Ada dua jalur rel kereta yang melewati stasiun ini dan juga saat ini dalam rencana pembangunan jalur kereta ganda atau double-double track (DDT). Pada stasiun baru ini akan dipasangi kamera pengawas CCTV, alarm keamanan dan alat pemadam kebakaran sederhana yang berada tak jauh dari ruang pusat pengendalian.

Jetstar Asia Buka Rute Indonesia ke Hat Yai via Singapura

Jetstar Asia, maskapai penerbangan Low Cost Carrier (LCC) atau dengan biaya rendah ini kembali membuka rute baru penerbanganya dari Indonesia menuju Hat Yai di Thailand Selatan. Tapi, perjalanan ini tak ditawarkan dalam penerbangan langsung, melainkan harus transit di Singapura terlebih dahulu. Baca juga: Qantas dan JetStar Izinkan Car Seat Dibawa ke Dalam Kabin Rute baru penerbangan ini akan mulai beroperasi pada 3 November 2017 mendatang dan akan ada empat kali penerbangan dalam seminggu dari Singapura ke Hat Yai. CEO Jetstar Asia Bara Pasupathi mengatakan, Hat Yai adalah kota ketiga di Thailand yang dikunjungi Jetstar.
Pantai Hat Yai, Thailand Selatan (Istimewa)
Waktu tempuh penerbangan dari Singapura menuju Hat Yai sekitar 1 jam 40 menit. Untuk penerbangan dari Indonesia menuju Hat Yai transit Singapura dalam sekali jalan, tiket yang dijual mulai dari harga Rp599 ribu. “Nantinya rute baru ini dari Indonesia sendiri akan ada di lima kota yakni Jakarta, Medan, Surabaya, Pekanbaru dan Palembang dan transit semuanya tetap di Singapura,” ujar Pasupathi melalui siaran pers yang diterima KabarPenumpang.com. Baca juga: Ternyata 40% Turis Australia ke Bali Terbang Dengan JetStar Diketahui, Hat Yai merupakan kota terbesar di selatan Thailand yang terkenal dengan destinasi belanja, hiburan, kuliner dan juga perawatan medis yang populer untuk turis dari Singapura, Malaysia dan Indonesia. Lokasi wisata di Hat Yai yang bisa dikunjungi yakni pantai, pasar apung Khlong Hae, air terjun Ton NGa Chang, danau Songkla, taman dan observatorium serta arena adu banteng. Hat Yai sendiri sangat menarik untuk dikunjungi baik untuk wisatawan muda maupun wisatawan yang bepergian bersama keluarga dan ingin menjelajahi Thailand lebih lanjut lagi. Dengan adanya layanan baru Indonesia menuju Hat Yai via Singapura ini Jetstar Asia sudah mengoperasikann lebih dari 51 layanan ke Thailand setiap minggunya termasuk Bangkok dan Phuket. Baca juga: Alami Kendala Teknis, Maskapai JetStar “Panggang” Penumpangnya Berikut waktu operasi penerbangan dari Singapura menuju Hat Yai dengan nomor penerbangan sebagai berikut: 3K571 Singapore – Hat Yai Senin dan Minggu 20.05/20.35 3K572 Hat Yai – Singapore Senin dan Minggu 21.45/00.25 3K571 Singapore – Hat Yai Rabu 19.30/19.55 3Kib572 Hat Yai – Singapore Rabu 20.35/23.15 3K571 Singapore – Hat Yai Jumat 18.15/18.45 3K572 Hat Yai – Singapore Jumat 19.35/22.05

Gandeng BMKG, UnDip dan Lion Group, KNKT Kembangkan Sistem Informasi/Peringatan Dini di Bandara

Faktor perubahan cuaca di bandara kerap menjadi salah satu penyebab terjadinya kecelakaan, khususnya pada aktivitas lepas landas dan mendarat yang krusial untuk diperhatikan. Contoh kasus yang kerap terjadi belakangan adalah tergelincirnya pesawat di landas pacu, terutama terjadi di wilayah Papua. Guna merespon fenomena tersebut Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) menggandeng Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Universitas Diponegoro dan Lion Group dalam proyek penelitian dan pengembangan Sistem Informasi/Peringatan Dini Cuaca di Bandara untuk Operasi Keselamatan Penerbangan. Baca juga: Layani Penerbangan Malam, ILS Wajib Terpasang di Runway Bandara Dikutip KabarPenumpang.com dari siaran pers Humas KNKT hari ini, kerjasama dengan tiga instansi tersebut telah ditandatangani dengan nota kesepahaman Nomor KNKT/033/VII/MOU/2017 pada 18 Juli lalu. Adapun yang melatarbelakangi dari nota kesepahaman ini adalah banyaknya kecelakaan penerbangan di bandara yang disebabkan oleh faktor cuaca seperti perubahan arah dan kecepatan angin yang terjadi di bandara. ”Beberapa kecelakaan penerbangan di bandara disebabkan oleh faktor cuaca “ terang Ketua KNKT Dr. Ir. Soerjanto Tjahjono. Pada kesempatan yang sama pula Ketua KNKT menyatakan bahwa manusia tidak boleh menyerah terhadap faktor alam seperti seperti perubahan cuaca sebagai penyebab kecelakaan tersebut. “Manusia diberikan kelebihan untuk memikirkan cara untuk mengatasinya” tegas Ketua KNKT. Salah satu solusi yang diinisiasi KNKT melalui pengembangan sistem informasi peringatan dini cuaca Low Level Windshear di Bandara. Akhir dari sambutannya, Ketua KNKT berharap tidak lanjut dari Nota Kesepahaman ini dapat mengurangi kecelakaan penerbangan di Bandara. Baca juga: Frekuensi Melonjak, ATC Bandara Soekarno-Hatta Peringatkan Risiko Keselamatan Penerbangan Adapun para pihak yang menandatangani nota kesepahaman ini adalah DR. Soerjanto Tjahjono selaku Ketua KNKT, Prof, DR. Yos Johan Utama, SH, M.Hum selaku Rektor Universitas Diponegoro, DR. Andi Eka Sakya, M.Eng selaku Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika dan Edward Sirait selaku Vice President Lion Group. Ketua KNKT menggarisbawahi terkait maksud dari nota kesepahaman ini adalah sebagai pedoman untuk melaksanakan penelitian dan pengembangan sistem Informasi/peringatan dini cuaca di bandara untuk keselamatan penerbangan, sedangkan tujuannya adalah untuk melakukan penelitian dan pengembangan sistem informasi penringatan dini cuaca di bandara untuk keselamatan penerbangan. Ruang lingkup nota kesepahaman ini meliputi tukar-menukar data dan/atau informasi terkait kegiatan penelitian dan pengembangan, pemanfaatan sarana dan prasarana serta peningkatan kompetensi Sumber Daya Manusia. Nota kesepahaman ini berlaku untuk jangka waktu lima tahun.

Seni Tingkat Tinggi Siap Hiasi Stasiun-Stasiun di Ottawa

Masyarakat Ottawa di Kanada tak lama lagi bakal mendapatkan sebuah moda transportasi baru yang akan menunjang kehidupan sehari-harinya. Sebuah Light Rapid Transit (LRT) dengan nama Confederation Line rencananya akan rampung pada tahun 2018 mendatang, namun proyek di tengah kota akan diperkirakan selesai pada tahun ini, sehubungan dengan peringatan 150 tahun konfederasi Kanada. Baca Juga: Di Jakarta Segera Beroperasi MRT dan LRT, Tahukah Artinya? Selain menantikan kehadiran LRT ini, masyarakat Ottawa juga menantikan rangkaian statiun dengan desain yang unik, seperti yang telah otoritas setempat memberikan kesempatan para warganya untuk menjadikan ruang publik ini sebagai media penyaluran ide-ide seni mereka. Seperti yang dihimpun KabarPenumpang.com dari cbc.ca (25/7/2017), pemerintah menghabiskan dana sekitar $ 7 juta untuk menghias 13 stasiun LRT ini. Berikut, beberapa konsep dari stasiun-stasiun yang nantinya akan diselimuti karya seni tingkat tinggi tersebut. Tunney’s Pasture Stasiun yang terletak di antara Scott Street dan Holland Avenue ini akan menampilkan dua buah mural mosaic di atas kaca besar dengan gradasi warna di kedua sisi platform. Karya seni ini semakin menarik perhatian dengan keberadaan sebuah skylight. Aktor dibalik karya seni yang diberi nama Gradient Space ini adalah Derek Root, seorang seniman asal Vancouver. Ia berharap karya seninya bisa memberikan “sense of movement” kepada seluruh pengguna stasiun. Baca Juga: Inilah 10 Kereta Bawah Tanah Paling Keren di Dunia! Bayview Station Stasiun yang menghubungkan Trillium Line (layanan Diesel Light Rapid Transit di Ottawa) dengan Confederation Line ini akan dihiasi oleh karya seni yang dibuat oleh seniman asal Ottawa bernama Adrian Göllner. Karya seni yang diberi nama As the Crow Flies ini terbuat dari baja tubular dan pagar. Akan ada juga sejarah wilayah Ottawa – Gatineau dalam sebuah siluet dari Gatineau Hills and Mechanicsville sepanjang 120m. Pimisi Station Budaya Anishinabe akan menjadi pusat seni di stasiun yang terletak di Booth Street Bridge ini. Pimisi – yang berarti “belut” dalam bahasa Algonquin – memiliki arti penting dalam budaya. Stasiun ini akan menampilkan karya seni indoor dan outdoor yang dibuat oleh lima seniman Algonquin (Simon Brascoupé dari Ottawa; Emily Brascoupé-Hoefler dari Ottawa; Sherry-Ann Rodgers dari Gatineau; Doreen Stevens dari Kitigan Zibi Anishinabeg, Que; dan Sylvia Tennisco dari Pikwàkanagàn, Ont . Baca Juga: Intip Langsung Kungstradgarden, Stasiun Bawah Tanah Paling Keren di Dunia Adapun karya dari seorang seniman asal Montreal, Nadia Myre nantinya akan mencantumkan sebuah seni lukis tingkat tinggi yang sarat akan makna. Akan ada juga seratus dayung yang dilukis tangan turut menghiasi stasiun ini.