Para pelancong yang datang ke Greenwich bagian utara pada bulan April kemarin mungkin dibuat sedikit kebingungan oleh pod kecil berwana hijau dan putih, lengkap dengan penumpang, namun tanpa sopir. Pod-pod ini berkeliaran di sepanjang jalan Thames. Pod ini bertenaga listrik dan dirancang khusus untuk melihat respons masyarakat terhadap gagasan mengenai kendaraan otonom. Jika responnya baik, kendaraan otonom ini akan digunakan dalam layanan antar-jemput antara pusat transportasi dan hotel atau pusat perbelanjaan.
Baca Juga: Kerumunan Pods Modular Siap Gantikan Peran Kendaraan Pribadi di 2020
The Greenwich Pod, yang merupakan bagian dari proyek Greenwich Gateway, adalah salah satu dari sejumlah inovasi yang ditampilkan di The City is Ours, sebuah pameran yang dihelat di Museum London. Pameran ini menampilkan bagaimana perubahan kota yang cukup signifikan, dan menyoroti inovasi yang meningkatkan kualitas kehidupan di kota tersebut. Diperkirakan, jumlah penduduk London akan meningkat drastik di tahun 2025 kelak, dan sektor transportasi tidak luput dari perhatian para pengamat.
“Ini tentang kualitas udara, tentang bersepeda dan berjalan kaki, tentang transportasi yang menggunakan sumber energi alternatif dan mengelilingi penghijauan kota,” tutur Foteini Aravani selaku kurator pameran tersebut, seperti yang diwartakan KabarPenumpang.com dari laman theguardian.com (14/7/2017). Sebagai informasi tambahan, pada bulan Juni kemarin, Walikota London menerbitkan sebuah strategi dalam mengurangi tingkat polusi di sana, yaitu menargetkan London sebagai kota bebas karbon pada tahun 2050 mendatang.
Baca Juga: Semakin Sulit Bawa Sepeda di Kereta, Inilah Curhat Pesepeda di London
Terget tersebut seolah menjadi jawaban atas pola pikir masyarakat luas yang menganggap London tidak bisa meniru Kopenhagen, dimana tingkat pengguna sepeda jauh lebih banyak dibandingkan dengan pengguna mobil, dalam skala perbandingan 5:1. Masyarakat menilai infrastuktur bawah tanah London sudah terlalu tua untuk digunakan, dan jalanan yang terlalu padat.
Di sisi lain, pemimpin proyek Greenwich Gateway, Simon Tong mengatakan reaksi publik terhadap pod otonom tersebut sangatlah positif, bahkan tidak sedikit dari mereka yang menanyakan kapan moda tersebut bisa mulai beroperasi secara konvensional. Tidak hanya pod otonom, teknologi modern lainnya yang akan hadir di Greenwich adalah pengaplikasian smart parking, dimana teknologi yang menggunakan sensor tersebut akan mengalokasikan tempat parkir yang lebih efisien.
Baca Juga: Ford Hadirkan Layanan Bike Sharing, Kok Bisa?
Namun, dalam mencapai sistem transportasi hijau dan efektif, akan melibatkan teknologi yang lebih sederhana, dan strategi walikota adalah menjanjikan investasi yang signifikan, khususnya dalam penyediaan sepeda. Tidak hanya itu, German Dector-Vega selaku pengurus dari organisasi London secara tidak langsung menyetujui ide dari penggunaan moda beremisi rendah sebagai solusi dalam masalah transportasi yang semakin meradang. Ia juga mengatakan pembangunan jalan-jalan besar hanya akan memperkeruh suasana. “Kami sudah tahu sejak tahun 1990an, bahwa jika Anda membangun lebih banyak jalanan, lebih banyak mobil akan datang dan masalah tidak akan terpeccahkan.” Ungkapnya.
Padatnya pengguna layanan komuter merupakan masalah yang telah lama melanda industri ini, dan masalah tersebut masih belum terpecahkan. Ini pula yang akhirnya membawa penderitaan tersendiri bagi para penumpang, khususnya bagi mereka yang bepergian antarkota di Inggris. Dalam menanggapi kasus ini, sekretaris dari Departemen Transportasi Inggris, Chris Grayling mengatakan bahwa pihaknya tengah mengupayakan untuk mengentaskan masalah ini.
Baca Juga: Inggris Ambil Ancang-Ancang Untuk Redam Lonjakan Penumpang Kereta
Seperti yang disarikan KabarPenumpang.com dari railway-technology.com (25/7/2017), Chris kini tengah berkomitmen untuk menghapuskan layanan gerbong kelas satu pada jalur tertentu, namun ia masih melihat respon penumpang terkait isu ini. Senada dengan Chris, Lianna Etikind, selaku juru kampanye program Campaign for Better Transport, mengatakan penghapusan gerbong kelas satu akan membawa pengaruh besar terhadap tingginya minat penumpang terhadap layanan Metro.
“Ini akan memberikan lebih banyak space dan dapat mengurai kepadatan. Sementara pengoperasian gerbong kelas satu akan lebih masuk akal jika dipasang di layanan jarak jauh. Sejujurnya, mengkategorikan penumpang di layanan Metro sangatlah tidak masuk akal,” ungkap Lianna. “Pemerintah dan industri kereta api harus merundingkan bagaimana caranya untuk mengurai kepadatan yang selama ini terjadi di layanan Metro. Tidak hanya merundingkan, tapi juga menindaklanjutinya,” tambahnya.
Baca Juga: Serba-Serbi Channel Tunnel, Terowongan Rel Terpanjang Kedua di Dunia
Lianna juga membeberkan beberapa opsi yang bisa ditempuh oleh pemerintah dalam menyiasati masalah kepadatan ini. “Jika memungkinkan, pihak yang berwenang bisa memperbanyak layanan, atau menambah jumlah gerbong dalam satu rangkaian,” terang Lianna. Walaupun tidak ada data set resmi yang merekam statistik penggunaan tipe gerbong ini, namun sebuah penelitian pada tahun 2013 silam menunjukkan bahwa hanya sekitar 50 persen kursi yang terisi di kelas satu.
Penelitian tersebut mengambil objek kereta antarkota yang tiba di stasiun Paddington, Waterloo, Livepool Street, dan Kings Cross antara pukul 8 hingga 9 pagi waktu setempat pada tiga hari kerja berturut-turut. Menurut data Office of Rail and Road (ORR), penghapusan gerbong kelas satu dari layanan Metro tidak berdampak buruk pada pendapatan, jika ditengok dari kacamata ekonomi.
Baca Juga: Contactless Payment Paling Cocok Untuk Mass Transportation
Pada tahun 2014, kontrak baru untuk layanan kereta api di West Coast Main Line mengubah 21 gerbong kelas satu menjadi kelas standar, yang menghasilkan 5.500 kursi tambahan untuk layanan harian di seluruh jaringan. Setahun berselang, First Great Western juga turut menginvestasikan £ 13 juta untuk menghadirkan 3.000 kursi kelas standar untuk layanan hariannya, serta penambahan hampir 16 persen lebih kursi kelas standar untuk layanan menuju London di peak hours.
Setelah minggu lalu Hyperloop One menampilkan sebuah prototipe moda yang akan digunakan untuk menunjang pelayanan bagi para penumpangnya, perkembangan terbaru dari sarana transportasi futuristik ini adalah mereka baru saja berhasil melakukan tes fase pertama dengan menjalankan moda tersebut di lintasannya hingga menyentuh kecepatan 300km per jam. Seperti yang diketahui sebelumnya, Hyperloop One merupakan salah satu kontingen startup yang mengembangkan konsep transportasi berbasis tabung.
Baca Juga: Demam Pengadaan Hyperloop Mulai Merambah Ke Negeri Ginseng
Dalam uji coba tahap 1 yang dilakukan bulan lalu, tim lapangan menguji semua komponen sistem yang menunjang kelancaran moda tersebut, seperti suspensi kendaraan, teknologi levitasi magnetik, dan sistem pemompaan vakum. Bisa dibilang, dibanding kompetitornya, yaitu Hyperloop Transportation Technologies dan Arrivo, Hyperloop One lah yang menunjukkan perkembangan yang paling maju dan signifikan. Untuk moda dari Hyperloop One sendiri, masing-masing pod memiliki panjang 8,7 meter, lebar 2,7 meter, dan tinggi 2,4 meter. Moda tersebut juga dilengkapi dengan lapisan luar yang terbuat dari panel serat karbon.
Sasisnya terbuat dari alumunium struktural dan berisi sistem propulsi serta magnet untuk levitasi. Sebagaimana dilansir KabarPenumpang.com dari newatas.com (2/8/2017), pihak Hyperloop One mengatakan moda ini dirancang seperti mobil Formula One. “Walaupun ringan, namun kuat,” terangnya.
Sumber: newatlas.com
Dalam uji coba tahap 2, para peneliti melihat sendiri bagaimana XP-1 (nama dari pod Hyperloop One) melaju di dalam sebuah tabung khusus sejauh 1.600 kaki atau setara dengan 500 meter, bertempat di Gurun Nevada. Uji coba ini berkaitan dengan depressurizing dalam tabung hingga setara dengan udara pada ketinggian 200.000 kaki (60km) di atas permukaan laut. Dimana dengan depressurizing di dalam tabung tersebut memungkinkan pod untuk menggunakan sistem levitasi magnetic agar bisa melayang di dalam lintasan dan melaju menggunakan sistem propulsi elektrik pada jarak 1.000 kaki atau setara dengan 300 meter.
Baca Juga: Uji Coba Perdana, Hyperloop One Sukses Meluncur 112 Km Per Jam
Salah satu pendiri Hyperloop One, Shervin Pishevar mengaku senang karena hasil jerih payahnya selama ini hampir terealisasikan sepenuhnya. “Kami juga sangat senang ketika melihat XP-1 dapat masuk ke dalam tabung (lintasan Hyperloop) dan dapat melaju hingga kecepatan 310km per jam,” jelas Shervin. “Ketika Anda mendengar suara Hyperloop, Anda seolah mendengar suara dari masa depan,” tambahnya kegirangan.
Dalam laporan terpisah, semua komponen sistem yang nantinya akan menyertai moda pun tidak luput dari perhatian para peneliti selama uji coba tahap 2 kemarin, seperti sistem motor listrik, kontrol, sistem levitasi dan panduan magnetis khusus, suspensi pod, dan sistem vakum. Walaupun kecepatannya masih jauh dari yang selama ini direncanakan, namun pihak Hyperloop One mengatakan bahwa mereka telah membuat sebuah perkembangan hebat dalam kurun waktu yang relatif singkat.
Baca Juga: Dubai, Amerika Serikat, dan Slowakia Saling Mengantri Realisasi Hyperloop
“Kami telah membuktikan bahwa teknologi ini siap dipasarkan, dan sekarang kami siap untuk berdiskusi dengan mitra, pelanggan serta pemerintah di seluruh dunia tentang komersialisasi penuh dari teknologi Hyperloop kami,” ungkap CEO Hyperloop One, Rob Lloyd. “Kami gembira dengan prospek dan respon positif yang kami terima dari pemerintah di seluruh dunia dalam misi untuk mengatasi masalah transportasi dan infrastruktur massal mereka.” Tutupnya.
Sebagai seorang pelancong, pastinya Anda sering menikmati keindahan tempat-tempat yang dikunjungi. Apalagi bila bisa bepergian sendirian alias solo traveler dimana mengunjungi suatu tempat sendirian tanpa teman. Bagi Anda pelancong perempuan yang biasa bepergian ke suatu tempat sendiri, ada baiknya selalu mawas diri. Sebab Anda belum tentu mengenal tempat tersebut dengan baik apalagi bila baru pertama kali mengunjungi daerah tersebut.
Baca juga: Travel Advice, Jangan Samakan dengan Travel WarningKabarPenumpang.com merangkum dari forbes.com (28/7/2017) yang merujuk kepada informasi dari Departemen Luar Negeri Amerika Serikat, ada beberapa negara yang baiknya tidak dikunjungi sendiri oleh pelancong perempuan. Berikut ini ada lima diantara sepuluh negara yang tidak baik dikunjungi pelancong perempuan sendirian demi keamanan, kenyamanan dan keselamatan diri.
1. Mesir
Negara ini berada di puncak daftar paling berbahaya di Trip.com dan Departemen Luar Negeri AS telah mengeluarkan peringatan keras kepada para pelancong tentang bepergian ke Mesir. Negara ini dianggap berbahaya karena sejumlah teroris termasuk ISIS telah melakukan banyak serangan yang menargetkan pejabat pemerintah, pasukan keamanan, tempat umum dan lokasi wisata serta tempat lainnya.
Spinx (Trip.com)
Sebagai seorang pelancong perempuan dan sendirian, baiknya hindari pasar sendirian. Bila memang harus ke pasar, gunakan pakaian yang sopan untuk menghormati norma yang ada di negara ini. Pakai pakaian yang menutupi bahu dan lutut atau gunakan yang longgar. Jangan lakukan kontak mata langsung karena bisa dianggap menggoda, baiknya gunakan kacamata hitam.
Bila menggunakan kendaraan umum seperti metro naik di gerbong wanita. Jika Anda berada di Kairo carilah lingkungan baik seperti Zamalek dan pertimbangkan Uber untuk memilih taksi.
2. Maroko
Negara di Afrika Utara ini sangat eksotis namun negar ini menurut Departemen Luar Negeri AS memiliki potensi tinggi untuk melakukan kekerasan terhadap warga Amerika Serikat. Kejahatan yang dilakukan adalah pencurian, perampokan terutama di kota-kota besar dan kawasan wisata.
Maroco (Trip.com)
Saat berada di tempat wisata, terus bergerak dan jangan menggubris orang-orang yang sengaja menyentuh Anda. Bila merasa terancam carilah petugas keamanan yakni polisi dan laporkan kejadian yang Anda rasakan. Gunakan pakaian yang tidak menarik, sebab semakin menarik Anda, semakin banyak orang yang akan mengincar Anda. Jangan lupa sebagai seorang pelancong perempuan, bertanyalah sesama perempuan.
3. Jamaika
Negara asal Bob Marley dan lagu Reggae ini memiliki tempat yang berbahaya dan kejahatan seperti kekerasan banyak terjadi di sini terutama di Kingston dan Montego Bay. Bila menginap disebuah resort, Anda juga tetap garus berhati-hati.
Menurut Departemen Luar Negeri, “Kedutaan Besar AS menerima lebih dari selusin laporan tentang serangan seksual terhadap pengunjung Amerika ke Jamaika dalam periode 12 bulan. Sebagian besar dari ini mengambil Tempat di semua resor inklusif, sebagian besar diduga dilakukan oleh staf resor.”
Jamaica (Trip.com)4. India
Sebagai salah satu tujuan wisata, India adalah tempat yang palling kompleks untuk seorang pelancong perempuan. Setiap tempat dan daerah di India baik jam sibuk atau tidak, baiknya sebagai pelancong perempuan sendiri baiknya tetap berhati-hati.
Baca juga: Desa Pelangi, Ubah Wilayah Padat dan Kumuh Jadi Tujuan Wisata
Penyerangan seksual bisa saja terjadi baik itu saat Anda sediri maupun bersama dengan pendamping, kenakan pakaian yang menutupi tubuh Anda dari atas hingga kebawah. Hindari jalan-jalan sendirian pada malam hari, jika naik kereta pesan tiket dengan kelas paling mahal dan gunakan transportasi khusus wanita yang ada seperti di Delhi.
5. Peru
Di negara ini banyak terjadi perampokan, penculikan hingga pembajakan mobil. Pencurian hingga kecurangan kartu kredit menjadi salah satu masalah yang meembuat pelancong tidak nyaman. Negara di Amerika Selatan ini, sebenarnya memiliki banyak sekali tempat yang bisa dikunjungi salah satunya adalah Machu Picchu dan Inca Trail.
Peru (Trip.com)
Saat Anda menggunakan kendaraan seperti taksi letakkan barang-barang di bagasi dan jangan letakkan dompet Anda diluar. Jangan gunakan perhiasan yang mencolok. Jangan lupa simpan nomor darurat yang berguna seperi 105 untuk polisi dan 117 untuk ambulans.
Baca juga: Mau Perjalanan Murah dan Menyenangkan? Ini Dia Cara Cerdasnya
Kini, satu lagi moda transportasi berbasis aplikasi online yang siap memberikan pelayanan maksimal kepada para penggunanya. Sebenarnya ini merupakan koalisi dari dua buah perusahaan yang sudah malang melintang di dunia transportasi. Lyft, yang dikenal sebagai penyedia jasa layanan transportasi berbasis aplikasi diketahui baru saja menggaet Amtrak, penyedia layanan kereta api di AS. Kerja sama yang mereka jalin memungkinkan para penumpang untuk melakukan perjalanan door-to-door, cukup dengan memesannya menggunakan aplikasi.
Baca Juga: Serba-Serbi Amtrak, Kereta Jarak Jauh Yang Sering Mejeng di Film Hollywood
Sebagaimana yang dihimpun KabarPenumpang.com dari laman newatlas.com (1/8/2017), Lyft memberikan semacam promo kepada para penumpangnya yang memesan tiket perjalanan menggunakan aplikasi terbarunya ini, yaitu potongan harga sebesar $5 untuk empat perjalanan pertamanya. Promo ini berlaku cukup dengan memasukkan kode AMTRAKLYFT di aplikasi yang tersedia.
Tidak hanya itu, Lyft juga melakukan kerja sama dengan Disney, dimana setiap pengunjung yang memesan tiket melalui aplikasi tersebut, dapat menikmati hidangan dari salah satu restoran terkenal di sana, Taco Bell. Kerja sama yang dilakukan oleh Lyft dan Amtrak merupakan wujud persaingan antara dua perusahaan raksasa yang melayani jasa transportasi berbasis aplikasi, yaitu Lyft dan Uber. Lyft tidak mau kalah dengan kompetitornya yang mencuri perhatian publik dengan menawarkan sistem transaksi non-tunai untuk moda andalannya, taksi.
Lebih lanjut, pihak Lyft mengatakan, hingga saat ini, sudah hampir 97 persen pengguna Amtrak di Negeri Paman Sam yang menggunakan promo AMTRAKLYFT tersebut. Jika ditelusuri lebih lanjut, kemitraan yang dijalin antara Amtrak dan Lyft bisa dianggap sebagai pembuka jalan bagi perusahaan lain dalam mengembangkan kerja sama serupa. Banyak perusahaan teknologi yang bisa menjalin simbiosis mutualisme dengan penyedia jasa layanan transportasi lain.
Baca Juga: Aplikasi Uber di Amerika Serikat Bakal Dilengkapi Fitur Tip
Adapun bentuk kerja sama ini merupakan salah satu cara untuk mengurangi padatnya pengguna kendaraan pribadi di jalanan, khususnya dikala peak hours. Kemacetan yang sekarang sudah tidak bisa ditoleransi lagi memaksa banyak pengguna kendaraan pribadi membuang-buang waktu berharganya. Kehadiran moda transportasi umum dinilai kurang untuk mengentaskan kemacetan yang ada. Maka dari itu, belakangan ini mulai santer terdengar kabar akan adanya moda udara otonom, seperti drone yang diharapkan kehadirannya dapat sedikit mengurangi volume kendaraan pribadi di jalan.
Kembali ke masalah kerja sama yang djalin oleh Lyft dan Amtrak, isu adanya program serupa juga sempat terdengar manakala PT KAI berencana untuk mengadakan layanan door-to-door yang dimana program tersebut akan memberikan kenyamanan kepada para penumpangnya. Sama-sama menggunakan aplikasi, nantinya penumpang cukup memesan dari smartphone mereka dan PT KAI siap melayani segala kebutuhan pelanggannya tersebut. Namun, program ini baru sebatas rencana dan akan berlaku untuk perjalanan jarak jauh saja.
Jika selama ini kita hanya bisa melihat salah satu superhero andalan Marvel, Iron-Man di layar kaca, dengan segala peralatan canggihnya, namun itu semua berubah ketika Richard Browning mendemonstrasikan pakaian terbangnya di hadapan orang banyak. Richard, yang dijuluki Iron-Man di kehidupan nyata ini terbang di depan tugu Stamford Raffles, Singapura pada Selasa (1/8/2017) dan mengundang decak kagum dari semua orang yang melihatnya.
Baca juga: The Robird Drone, Robot Penangkal Bird Strike di Bandara Edmonton
Sebagaimana dilansir KabarPenumpang.com dari laman channelnewsasia.com, Richard yang merupakan seorang penemu berkebangsaan Inggris tersebut mengaku tidak ada hal yang melatarbelakanginya dalam menciptakan pakaian terbang ini selain untuk bersenang-senang. “Saya hanya bersenang-senangdalam melakukan sesuatu yang dianggap tidak mungkin oleh banyak orang,” ujarnya. Lebih lanjut, pria berusia 38 tahun ini mengatakan ide menciptakan pakaian terbang ini berawal pada tahun lalu, dengan menggabungkan pikiran manusia, tubuh manusia, serta beberapa teknologi yang elegan.
Berkat penemuannya tersebut, Richard mendapatkan banyak tawaran dari berbagai pihak yang tertarik dengan pakaian terbang miliknya, seperti agen penyelamat, pihak militer, serta produsen film Hollywood. Prototip awal dari pakaian terbang tersebut sudah dijual ke salah satu orang kaya dengan mahar setengah juta Dollar. “Secara teori, Anda bisa terbang beberapa mil dari tanah dan menghindari halangan yang biasanya Anda temui di jalanan,” terang Richard.
Sumber: channelnewsasia.com
Pakaian terbang ini sendiri terdiri dari enam buah mesin yang beratnya mencapai 45kg. Penggunaan enam mesin tersebut memungkinkan Anda untuk terbang setinggi mungkin dan secepat mungkin. Dua dari enam mesin tersebut mampu menghasilkan kecepatan hingga 1.000 horsepower. “Ini memungkinkan Anda untuk melaju lebih cepat daripada kecepatan suara,” tambahnya. Dalam laporan sebelumnya, Richard mengatakan bahwa pakaian terbang tersebut bisa menerbangkan seseorang hingga ketinggian ribuan kaki di atas permukaan tanah dan melaju hingga kecepatan 450km/jam.
Namun, dalam demonstrasi yang diadakan kemarin, Richard hanya terbang beberapa meter saja dari tanah, dengan alasan faktor keselamatan. Untuk mulai mengudara, Richard juga melengkapi kedua tangannya dengan mesin yang bisa memberikan dorongan vertikal. Ia juga menggunakan kedua tangannya untuk bermanuver. “Anda bisa mengendalikannya kemanapun Anda mau, jadi bisa dibilang ini merupakan perangkat untuk mengudara yang elegan,” pungkasnya.
Diketahui, kini ia tengah mengembangkan sayap-sayap yang berfungsi sebagai alat keselamatan jika suatu saat mesin-mesin tersebut mengalami kegagalan pengoperasian. Richard sadar, bahwa teknologi yang ia kembangkan ini bisa saja dijadikan salah satu alternatif transportasi di masa yang akan datang, namun ia mengaku demonstrasi ini merupakan tahap awal dari era perkembangan transportasi. “Masih banyak yang harus dibenahi. Jadi, Anda belum bisa menggunakannya dalam waktu dekat ini,” jelas Richard.
Baca Juga: Kiwano 01, Moda Beroda Tunggal yang Dilengkapi Teknologi Self-Balancing
Lagi pula, Richard sendiri mengaku bahwa pakaian terbang ini tidak efisien dalam penggunaan bahan bakar. “Ditambah lagi dengan suaranya yang bising dan akan menimbulkan banyak debu ketika mulai mengudara, karena mesinnya yang langsung menembak ke tanah.” Tutupnya.
Satu lagi, perkembangan teknologi yang dijamin akan mempermudah aktifitas Anda sehari-hari. Setelah kurang lebih dua tahun merancangnya, akhirnya Google yang bekerja sama dengan Levi’s merilis sebuah jaket pintar yang dapat mengendalikan sebuah smartphone. Melalui divisi Advanced Technology and Projects (ATAP), Google sempat memberikan bocoran mengenai produk jaket pintar ini dalam perhelatan I/O pada tahun 2016 silam.
Baca Juga: Google Pasang WiFi di Bus Sekolah Untuk Kemudahan Siswa di Pedesaan
Sebagaimana yang dilansir oleh KabarPenumpang.com dari laman krollontrack.co.uk (21/7/2017), jaket ini didesain khusus untuk para pesepeda. Layaknya perangkat wearable lainnya seperti headset, jaket ini juga bisa melakukan hal serupa, seperti mengontrol music, menjawab panggilan masuk, hingga mengakses fitur navigasi. Untuk menggunakan fitur-fitur tersebut, Anda cukup menyentuh panel yang terletak di bagian lengan jaket. Panel tersebut bertenagakan sebuah baterai yang mampu bertahan selama dua hari dalam sekali pengisian.
Menurut pimpinan Project Jacquard di Google, Ivan Poupyrev, pemilik jaket ini diwajibkan untuk mengunduh sebuah aplikasi smartphone agar bisa menghubungkan panel tersebut ke smartphone, sekaligus memanfaatkan berbagai fitur yang tersedia, seperti mengatur bahwa dua ketukan di panel sentuh berarti perintah untuk menyalakan aplikasi musik, dan lain sebagainya.
Sumber: zetizen.com
Dilansir dari sumber terpisah, pihak Google mengatakan mereka tengah berupaya untuk mengembangkan jaket pintar ini lebih jauh. Dengan harapan, mereka bisa memasang berbagai aplikasi lainnya ke platform jaket pintar sehingga pengguna mengakses fitur yang lebih banyak. Lebih lanjut, pihak Google mengatakan jaket bernama Commuter Trucker ini akan dipasarkan pada Musim Gugur 2017 kelak.
Hingga saat ini, para pengguna iPhone nampaknya harus gigit jari, karena platform yang ada di Commuter Trucker ini baru bisa diakses lancar oleh para pengguna smartphone Android. Kehadiran jaket ini tentu membawa angin segar, bukan hanya di bidang teknologi saja, melainkan dari sektor transportasinya juga. Dewasa ini, ada banyak sekali kecelakaan yang diakibatkan oleh pengendara yang memainkan ponselnya. Himbauan demi himbauan sudah dilayangkan oleh pihak yang berwajib mengenai bahayanya memainkan ponsel sembari berkendara, namun para pengemudi bandel ini seolah tidak mengindahkan nasihat tersebut.
Baca Juga: Ford Hadirkan Layanan Bike Sharing, Kok Bisa?
Diharapkan, hadirnya jaket pintar ini bisa menekan angka kecelakaan akibat keteledoran pengemudi. Jaket berbahan jeans ini tersedia untuk pria dan wanita dalam berbagai ukuran. Untuk membawanya pulang, Anda harus merogoh kocek yang lumayan mahal, yaitu US$350 atau setara dengan Rp4,6 juta. Apakah Anda berniat untuk memilikinya?
Lama tak membuat kabar menghebohkan, kali ini kembali United Airlines memberikan kabar terkait seorang remaja putri 16 tahun yang tubuhnya diraba-raba seorang pria di bagian pahanya. Saat itu remaja perempuan tersebut sedang tidur dan duduk di kursi dekat jendela keberangkatan menuju Newark dari Seattle.
Awalnya, pria yang duduk disebelahnya meraba dirinya di bagian paha dan selangkangan, serta dengan cepat kembali melepaskan saat si gadis remaja ini terbangun dan kemudian kembali tidur. Tak lama setelah agak terlelap, si pria tersebut kembali meraba-raba bagian tubuhnya, dan kembali gadis tersebut terbangun.
Baca juga: Pelayanan Buruk Malah Dongkrak Laba United Airlines, Kok Bisa?KabarPenumpang.com melansir washingtonpost.com (2/8/2017), gadis tersebut kemudian meminta pada awak kabin agar bisa pindah duduk dan memberitahukan alasannya. Setelah penerbangan mendarat di Newark Liberty International Airport, gadis tersebut langsung memanggil orangtuanya.
Johnny McCray, pengacara gadis tersebut mengatakan, setelah mendarat dan keluar dari pesawat, pria pelaku kejahatan seksual tersebut pergi begitu saja meninggalkan bandara seperti tanpa masalah. Insiden tersebut membuat keluarga sang gadis marah dan mempertanyakan sikap United Airlies yang membiarkan pria tersebut meninggalkan pesawat dan bandara setelah melakukan kejahatan seksual.
Baca juga: Karyawan United Airlines Dorong Penumpang di Bandara, Kenapa Lagi?
Kasus ini kemudian ditangani FBI dan menyelidiki pelaku yang melakukan kejahatan seksual tersebut. Setelah para penyelidik menemukan identitas penumpang yang duduk disebelah gadis tersebut, dari jajaran foto yang dibeberkan maka langsung tertuju pada seorang pria berusia 28 tahun bernama Vijakumar Krishnappa.
Kemudian pria tersebut ditangkap dan dikenai tuduhan melakukan pelecehan seksual dengan gadis dibawah umur. Ironisnya pelaku dibebaskan, namun dengan ikatan dan ditempatkan pada pemantauan elektronik.
Federal Aviation Admistration memiliki kebijakan mengenai bagaimana menangani insiden di pesawat terbang, termasuk serangan fisik atau ancaman serangan fisik setiap orang yang berada di dalam pesawat terbang. Namun, terserah kepada penegakan hukum untuk menentukan apa yang harus dilakukan dengan seseorang yang dituduh melakukan kejahatan.
Baca juga: Minta Maaf Dua Kali, United Airlines Berdamai Dengan David Dao
Terkait masalah ini, seorang juru bicara United Airlines menanggapinya dengan mengatakan, “Keamanan dan kenyamanan pelanggan adalah prioritas kami, kami menanggapi tuduhan ini dengan serius dan terus bekerjasama dengan pihak berwenang sebagai bagian dari tinjauan mereka.”
Konsumen telah mengulurkan tangan ke United Airlines untuk memberikan komentar tambahan atas insiden tersebut. Kami akan memperbarui posting ini jika kita mendengarnya kembali.
Skytrax kembali memberikan penghargaan pada bandara-bandara di dunia, kali ini terkait pemeriksaan keamanan pada barang-barang yang dibawa penumpang. Dikutip KabarPenumpang.com dari worldairportawards.com ada sepuluh bandara yang menerapkan prosedur kemanan paling baik dan yang berada di urutan pertama adalah Bandara Kopenhagen di Denmark.
Baca juga: 10 Bandara Ini Disebut Sebagai Yang Tersibuk
Diurutan kedua ada bandara Haneda di Tokyo, ketiga ditempati Centrair di Nagoya. Urutan keempat Zurich di Swiss, kelima Changi di Singapura, enam Kansai. Urutan ketujuh ada Bandara Hongkong, urutan delapan Bandara Narita di Tokyo, urutan sembilan Incheon di Seoul dan urutan kesepuluh yakni Bandara di Munich, Jerman.
Sebagai bandara dengan pengamanan nomor satu, Kopenhagen merupakan bandara tersibuk ketiga di Eropa Utara. Hingga kini juga menjadi bandara tersibuk untuk penerbangan internasional di Skandinavia dan juga menjadi salah satu bandara tertua di Eropa.
Bandara ini terletak di pulau Amager dengan area seluas 11,8 kilometer persegi. Kopenhagen sendiri merupakan bandara yang menangani sekitar 60 maskapai penerbangan terjadwal dan memiliki pengunjung paling banyak untuk penerbangan internasional seperti bandara di Skandinavia lainnya.
Baca juga:10 Bandara Ini Punya Landasan Paling Ekstrim
Dulunya bandar Kopenhagen disebut bandara Kastrup karena terletak di kota kecil Kastrup. Sebenarnya disebut bandara Kastrup karena untuk membedakan dari bandara Roskilde yang memiliki nama asli bandara Kopenhagen, Roskilde.
Bandara Kopenhagen sendiri resmi digunakan pada 20 April 1925 dan menjadi salah satu bandara sipil pertama di dunia. Tahun 1932-1939 jumlah penumpang yang tadinya 6.000 menjadi 50 ribu dan meningkat hingga 72 ribu penumpang tahun 1936-1939.
Terminal di dalam bandara ini di rancang oleh Vilhem Luritzen. Pada Perang Dunia II, bandara Kopenhagen sempat ditutup untuk operasional sipil kecuali penerbangan ke destinasi di Jerman, Swedia dan Austria.
Baca juga: Duuh! Ini Dia 10 Bandara Terburuk di Dunia
Tahun 2006 merupakan sejarah pertama kalinya bandara Kopenhagen memiliki lebih dari 20 juta penumpang. Tahun berikutnya yakni Oktober 2007, stasiun metro dibuka yang menghubungkan antara Bandara ke Kopenhagen Metro. Tahun 2008, menara kontrol baru dibuka oleh Naviair sebagai bagian renovasi besar-besaran sistem ATC.
Bandara yang ada di Skandinavia ini pada tahun 2015 kemarin, menjadi yang pertama menjadwalkan penerbangan Airbus A380 setelah Emirates mulai mengoperasikan pesawat tersebut untuk rute Kopenhagen.
Terjadi sebuah kecelakaan pesawat di Lisbon, Portugal pada Rabu (2/8/2017) lalu dan menewaskan dua orang yang sedang berjemur. Diketahui korban seorang pria berusia 56 tahun dan seorang anak perempuan berusia 8 tahun. Sebuah pesawat ringan tiba-tiba mendarat secara darurat di pantai yang populer di jadikan tempat berjemur yakni Caparica.
Baca juga: 10 Bandara Ini Punya Landasan Paling Ekstrim
Dilansir KabarPenumpang.com dari globalnews.ca (2/8/2017), saat itu ratusan orang sedang berjemur dan saksi mata mengatakan, beberapa orang yang berjemur berlarian menuju ke laut untuk menghindari pesawat yang tiba-tiba mendarat. Otoritas Maritim Nasional mengatakan, dari kecelakaan ini seorang pria dan gadis meninggal di pantai itu. Waktu kejadian yakni sekitar pukul 04.50 sore waktu Lisbon.
“Kelekaan tersebut terjadi sangat cepat, sehingga tidak banyak waktu untuk mempersiapkan diri dan berlari,” ujar juru bicara Otoritas Maritim Nasional. Kedua korban saat itu sedang berjemur di atas handuk mereka sebelum tiba-tiba pesawat tersebut mendarat secara darurat dan melindas keduanya. Selain korban meninggal, belum diketahui apakah ada korban luka lainnya.
Baca juga: Lima Penyebab Umum Terjadinya Kecelakaan Pesawat
Dilaporkan, pesawat tersebut adalah jenis Cessna bermesin tunggal yang membawa dua orang dan tengah mengalami kesulitan navigasi, pesawat tak terkendali serta meluncur rendah sehingga menyebabkan kepanikan di pantai. Terlihat pula sayap kiri pesawat kecil tersebut rusak dan menggantung lebih rendah dari sayap kanan. Kedua penumpang pesawat tersebut selamat dan atas kejadian ini, keduanya kemudian diinterogasi oleh pihak kepolisian.
Dalam kejadian ini, mengingatkan ada beberapa bandara yang memiliki landasan terekstrim seperti bandara Barra di Skotlandia yang memiliki landasan pacu di pantai. Tak hanya itu, Princess Juliana Airport di Saint Maarten, Belanda juga memiliki landasan pacu yang berdekatan dengan pantai tempat para wisatawan berjemur. Untungnya, walaupun dekat dengan pantai, maskapai yang mendarat di bandara ini belum pernah mengalami kegagaan baik saat lepas landas maupun mendarat, sehingga wisatawan yang berjemur bisa dengan tenang dan menikmati pemandangan.
Baca juga: Banyak Kecelakaan Tapi Bandara Ini Mendapat Award Bergengsi
Tetapi ada satu tempat yakni jalur landasan pacu 10 di Princess Juliana Airport yang biasa digunakan oleh pesawat jet untuk lepas landas. Bila berada di sini, baiknya Anda berpindah karena buangan gas mesin jet pesawat terbang dapat mengakibatkan cedera serius bahkan hingga membuat tewas seseorang.