Tentu masih hangat dalam ingatan peristiwa terbakarnya kapal MV Zahro Express di Kepulauan Seribu pada Minggu (1/1/2017). Peristiwa yang terjadi sesaat setelah malam pergantian tahun baru tersebut sangat memilukan, 23 penumpang tewas dengan luka bakar mencapai 100 persen. Zahro Express terbakar saat membawa ratusan penumpang dari Muara Angke menuju Pulau Tidung, Kepulauan Seribu. Kapal tersebut terbakar di tengah laut.
Baca juga: Soal Keselamatan Penumpang, Moda Laut Seperti Dianaktirikan
Penyebab tewasnya puluhan penumpang sudah diketahui dari kobaran api, namun yang jadi pertanyaan, dari mana asal sumber api tersebut? Dan selang tujuh bulan kemudian, tepatnya hari ini (14/7/2017), KNKT (Komite Nasional Keselamatan Transportasi) menggelar acara Media Release KM. Zahro Express dan FGD – “Mengungkap Penyebab Kecelakaan KM. Zahro Express” di Terminal Pelabuhan Kali Adem, Jakarta Utara.
Dari paparan penyidik KNKT, ditemukan penyebab kebakaran berawal dari generator yang selanjutnya menyambar konstruksi kayu. Berdasarkan penelitian dan pengujian terhadap generator yang mengalami masalah, didapatkan adanya tanda tanda goresan yang menunjukkan adanya gesekan antara stator dan rotor yang menimbulkan adanya lompatan bunga api (electric spark).
Zahro Express.
“Tanda-tanda gesekan dari keduanya, ditemukan tanda goresan pada stator maupun rotor dan tanda tanda electric spark pada permukaan keduanya. Gesekan antara stator dan rotor diakibatkan adanya kerusakan bearing penopang rotor, dimana jarak diantara keduanya sangat kecil, sehingga dengan adanya kerusakan pada bearing titik putar poros jadi bergeser,” ujar Soerjanto Tjahjono, Ketua KNKT kepada KabarPenumpang.comBaca juga: Kapal Pelni KM Express Bahari Resmi Layani Rute Ke Kepulauan Seribu
Kebakaran dipercepat dengan adanya kandungan bahan bakar solar yang menempel pada konstruksi serta terbakarnya material FRP sebagai pelapis geladak. Hasil simulasi evakuasi menunjukkan bahwa minimnya akses pada saat proses evakuasi yang kurang lancar berkontribusi terhadap timbulnya korban meninggal. Ditambah lagi dengan kurang efektifnya penanganan kebakaran serta tidak adanya prosedur darurat di kapal berkontribusi terhadap kebakaran yang lebih besar serta adanya korban jiwa.
Proses evakuasi yang tidak baik menyebabkan sebagian penumpang terjebak dalam waktu yang cukup lama sehingga mengalami masalah pernapasan. Tidak standarnya pintu darurat yang ada serta minimnya jumlah akses darurat menyebabkan terjadinya penumpukan penumpang di satu titik.
Siapa yang tak kenal dengan jalan Anyer – Panarukan? Jalan ini adalah buatan pada zaman penjajahan Belanda tepatnya pada masa pemerintahan Gubernur Herman Willem Daendels dengan panjang kurang lebih 1000 km yang terbentang sepanjang utara pulau Jawa. Pada pemerintahannya yang hanya tiga tahun yakni dari 1808 hingga 1811, membuat Daendels dengan tangan besinya membangun beberapa bidang yang luar biasa salah satunya jalan Anyer – Panarukan yang mampu di buka hanya dalam waktu tiga tahun.
Baca juga: Stasiun Merak, Pilihan Integrasi Lintas Moda Penumpang Kapal Ferry
Dirangkum KabarPenumpang.com, jalan Anyer – Panarukan ini disebut jalan Raya Pos karena di setiap 4,5 km didirikan pos sebagai tempat perhentian dan penghubung untuk pengiriman surat-surat. Sebenarnya tujuan awal pembangunan jalan Raya Pos adalah untuk memperlancar komunikasi antara daerah yang di kuasai Daendels di sepanjang pulau Jawa dan sebagai benteng pertahanan di pantai utara pulau Jawa.
Titik Nol Anyer
Namun, tahukan Anda banyak korban dalam pembuatan jalur di utara pulau Jawa ini? Sebab saat pemerintahan Daendels sendiri, pengerjaan jalur ini yang membentang dari Pantai Anyer hingga ke Panarukan mewajibkan setiap penguasa pribumi untuk memobilisasi rakyat dengan target pembuatan jalan sekian kilometer dan yang gagal akan dibunuh termasuk para pekerjanya. Tak hanya itu, kepala-kepala korbannya pun di gantung di pucuk-pucuk pepohonan di kiri dan kanan ruas jalan. Dalm pembuatan jalan ini diperkirakan memakan korban hingga 12.000 orang.
Pada pengerjaan selama tiga tahun ini, sejauh 1000 km, membuat seorang sastrawan Pramoedya Ananta Toer mengatakan pembuatan jalan ini sama dengan pembuatan jalan Amsterdam – Paris yang saat itu hanya setahun pengerjaan tepatnya tahun 1808 hingga 1809. Tetapi justru pembuatan jalan ini justru menjadi infrastruktur penting dan untuk selamanya alias hingga saat ini masih digunakan.
Baca juga: Yang Sebaiknya Diketahui dari Tol Cipali dan Brexit
Ada beberapa hal yang bisa diketahui selain menelan banyak korban dalam pembuatan jalan Raya Pos ini yakni titik nol berada di sekitar Mercusuar Anyer yang terletak di Desa Tambang Ayam, Kecamatan Anyer Serang, Banten. Disini terdapat tapal yang memandai titik awal pembangunan Jalan Anyer – Panarukan. Padahal awalnya Daendels hanya membutauhkan jalan dari Anyer menuju Batavia, tetapi diteruskan hingga ke Panarukan sebab, saat awal Agustus 1808 Daendels berkunjung ke Surabaya dan melihat perlu diperpanjang ke arah timur.
Tujuannya karena wilayah Ujung Timur (Oosthoek) merupakan daerah yang potensial bagi produk tanaman tropis selain kopi, seperti gula dan nila. Di samping itu ada kemungkinan perairan di sekitar selat Madura memberikan peluang bagi pendaratan pasukan Inggris. Untuk itu, dia memerintahkan F Rothenbuhler, pemegang kuasa (gesaghebber) Ujung Timur sebagai penanggungjawab pembangunan jalan Surabaya sampai Ujung Timur yang dimulai pada September 1808.
Peta Jalan Raya Pos (Anyer-Panarukan)
Titik akhir jalan di Ujung Timur terletak di Panarukan, dan tidak dibangun hingga Banyuwangi. Pertimbangannya Banyuwangi dianggap tidak memiliki potensi sebagai pelabuhan ekspor. Sedangkan Panarukan dipilih karena dekat daerah lumbung gula di Besuki dan dengan tanah-tanah partikelir yang menghasilkan produk-produk tropis penting.
Baca juga: Optimalkan Keselamatan di Jalan Raya, Uji KIR Wajib Bagi Kendaraan Umum
Setelah jalan Raya Pos dari Anyer ke Panarukan ini selesai, Daendels selaku Gubernur mengeluarkan tiga peraturan terkait pengaturan pengelolaann jalan raya ini. Peraturan pertama dikeluarkan pada 12 Desember 1809 berisi aturan umum pemanfaatan jalan raya, pengaturan pos surat dan pengelolaannya, penginapan dan segala sesuatu yang berhubungan dengan kereta pos, komisaris pos, dinas pos dan jalan. Peraturan kedua keluar pada 16 Mei 1810 tentang penyempurnaan jalan pos dan pengaturan tenaga pengangkut pos beserta gerobaknya. Peraturan ketiga tanggal 21 November 1810 tentang penggunaan pedati atau kereta kerbau, baik untuk pengangkutan barang milik pemerintah maupun swasta dari Jakarta, Priangan, Cirebon, sampai Surabaya.
Maraknya penjual laser mainan berwarna hijau belakangan ini membuat sebagian kalangan ketar-ketir karena bisa mengganggu aktifitas mereka, seperti para pilot. Dalam sebagian kasus yang terjadi dewasa ini, para pilot ini mengeluhkan ‘tembakan’ sinar laser yang mengganggu visual saat mereka terbang rendah, terutama jika hendak landing. Seperti yang baru-baru ini terjadi di Makassar dimana General Manager Makassar Air Trafic Service Center (MATC) Perum Lembaga Navigasi Penerbangan Indonesia, Novy Pantaryanto mengungkapkan ada kurang lebih sekitar 50 serangan laser yang terjadi sejak tahun 2017, 15 kasus diantaranya terjadi pada minggu lalu.
Baca Juga: Balon Udara, Teror Si Bulat Warna-Warni Untuk Dunia Aviasi
“Selasa lalu, ada tujuh laporan yang kami terima. Kemudian besoknya ada tiga laporan, kemudian Jumat malam tadi ada lima laporan serangan laser. Total ada 15 serangan,” ungkap Novy.
Serangan laser ini terjadi pada Selasa, (4/7/2017), dimana tujuh pilot diteror oleh penyalahgunaan sinar laser, yang sengaja diarahkan ke badan pesawat saat hendak mendarat. Berdasarkan data yang diperoleh MATSC, tujuh pesawat itu yakni maskapai Sriwijaya 726 dari Bali, Lion Air 640 dari Yogyakarta, Batik Air 6231 dari Palu, Batik Air 6183 dari Papua, Garuda 620 dari Jakarta, Lion Air 740 dan Citilink 612 masing-masing dari Surabaya.
Lalu pada Jumat (7/7/2017), sebanyak empat pilot melaporkan adanya serangan laser. Empat pesawat yang mendapatkan teror serangan laser yakni Lion Air 777, Sriwijaya Air 726, Batik Air 6183, Citylink 612 dan Lion Air 640.
Baca Juga: Berakibat Fatal, Pintu Pesawat Terbuka (Lepas) Saat Mengudara
Tentu saja, tembakan sinar laser mainan ke langit seolah menjadi teror baru bagi dunia aviasi. Bayangkan jika tembakan sinar laser tersebut tepat jatuh di mata pilot yang tengah dalam kondisi krusial, tidak menutup kemungkinan akan menimbulkan kecelakaan. Sehubungan dengan bahaya yang mungkin ditimbulkan, Novy melayangkan surat ke sejumlah pemerintah daerah yang berisikan langkah-langkah untuk menindaklanjuti masalah ini.
“Semua daerah, kabupaten/kota yang berbatasan langsung dengan Bandara Sultan Hasanuddin, kita surati untuk meminta bantuan terkait sosialisasi surat edaran Mendagri nomor 553/2443/SJ dan nomor 553/2444/SJ tanggal 29 Mei 2017 tentang Pengelolaan Kawasan di Sekitar Bandara dalam Rangka Menjamin Keselamatan Penerbangan,” ujarnya, dilansir KabarPenumpang.com dari laman viva.co.id (8/7/2017).
Dalam surat tersebut, berisikan tiga poin yang dapat meminimalisir serangan dari sinar laser. Pertama adalah membantu penertiban penjualan laser. Kedua adalah membantu melakukan sosialisasi di tingkat sekolah tentang bahaya penyalahgunaan laser. Dan yang Ketiga adalah usulan pembuatan Peraturan Daerah. Perda itu, kata dia, supaya ada regulasi, mengenai syarat khusus sebelum laser dapat diperjualbelikan secara bebas di masyarakat.
Baca Juga: Lima Penyebab Umum Terjadinya Kecelakaan Pesawat
Setelah ditelusuri lebih dalam, ternyata pointer berwarna hijau ini berjenis green laser pointer 303 yang dijual bebas di pasaran. Pointer tersebut dapat menembakkan cahaya dari jarak yang beragam, namun tercatat yang paling jauh hingga lima kilometer. Cukup dengan merogoh kocek paling mahal sekitar Rp200.000, maka Anda bisa membawa pulang mainan yang tengah hits ini.
Beberapa testimoni pemakai mengatakan alat tersebut bisa dipakai untuk pendukung konser, menunjuk sebuah fenomena di langit, atau penunjuk arah saat di kegelapan, terutama di pegunungan. Namun ada saja oknum yang menyalahgunakan alat ini untuk menyoroti pertandingan sepak bola, hingga mengganggu laju kendaraan. Adanya himbauan untuk tidak menembakkan alat ini ke moda transportasi seolah tidak diindahkan oleh para pembelinya. Maka, lebih bijaksanalah dalam menggunakan suatu barang, tidak menutup kemungkinan dengan sinar laser yang Anda tembakkan ke udara akan jatuh di mata seorang pilot lalu menimbulkan sebuah kecelakaan fatal.
Garuda Indonesia menjadi salah satu maskapai dengan layanan penuh (full service) di setiap penerbangannya. Dengan layanan penuhnya ini, Garuda Indonesia memberikan Garuda Frequent Flyer (GFF) yang merupakan loyalty program dari Garuda Indonesia yang diberikan pada pengguna setianya.
Baca juga: Lakukan Go Around, Pilot Garuda Indonesia GA425 Selamatkan Penerbangan dari Petaka
Dari GFF miles setiap terbang dengan Garuda Indonesia dan partner terbangnya, akan ada akumulasi miles yang bisa ditukarkan dengan berbagai macam award seperti tiket destinasi favorit, upgrade kelas terbang dari ekonomi ke bisnis. Kedua award ini bisa menjadi hadiah unuk keluarga, teman ataupun orang-orang terdekat penumpang setia Garuda Indonesia.
Tiket Sam Huang (nextshark.com)
Selain itu, anggota GFF juga bisa menikmati banyak keuntungan dan keistimewaan yang eksklusif seperti konter check ini khusus di airport, kuota bagasi tambahan, prioritas baggage handling, prioritas wait list untuk reservasi tiket, akses lounge Garuda Indonesia hingga penawaran menarik dari partener Garuda Indonesia di seluruh dunia. Sebagai anggota GFF, wajib memiliki kartu yang memiliki empat macam jenis yakni, GFF Blue, Silver, Gold dan Platinum yang memiliki keunggulan masing-masing.
Baca juga: DC-9 Garuda Indonesia, Andalan Penerbangan Jet Domestik Era 80-an
Dilansir KabarPenumpang.com dari nextshark.com (10/7/2017), baru-baru ini seorang pria bernama Sam Huang menjadi orang paling beruntung terbang di First Class Garuda Indonesia dari Jakarta menuju Jepang hanya dengan membayar US$76 atau sekitar Rp1 jutaan. Padahal harga asli tiket untuk First Class Garuda Indonesia US$7.000 atau sekitar Rp93 juta.
Penasaran bagaimana bisa pria dengan kedua orangtuanya berkewarganegaraan Taiwan ini bisa mendapatkan harga fantastis itu? Ternyata Sam adalah pelanggan setia dari Garuda Indonesia dan sudah mengumpulkan 13.500 Garuda miles. Belum lama Sam mengikuti promo 90 persen Desember 2016 lalu, saat itu Sam hanya perlu menukarkan poin dari Garuda mile miliknya da menambah 1000 poin lagi atau senilai dengan US$76 (Rp1 jutaan) dan bisa mendapatkan satu tiket kelas utama dengan segala fasilitasnya.
Diketahui, dengan membayar kelas utama Garuda Indonesia yang seharga US$7000, siapapun akan dijemput dengan Mercedes di rumah atau tempat Anda mengipap dan diantar ke bandara. Saat sampai di bandara pun, Anda akan dilayani dan disambut, tak lupa passport dan tas juga sudah dibawakan. Seperti seorang raja, saat check in pun ditemani dan sepanjang jalan, para staf menuju ruang tunggu akan menyapa dan menundukkan kepala.
Baca juga: Seragam Pramugari Garuda, Beda Warna, Beda Pula Arti dan Jabatannya
Saat itu Sam bisa masuk ke lounge khusus penumpang First Class untuk menunggu boarding dengan sangat mewah, dimana meja maka lengkap dengan hidangan ala hotel bintang lima yang bisa di santap. Tak hanya itu, jika Anda lelah terdapat sofa bed yang bisa digunakan untuk beristirahat. Dalam lounge ini juga mdisediakan ruang keluarga, kamar mandi mewah hingga spa.
Tak hanya di lounge, keberadaan Anda di dalam pesawat juga seperti menjadi seorang raja yang disambut saat terbang, kabin dengan isi bangku pribadi yang bisa di tutup. Hidangan langsung disajikan koki profesional, bahkan awak kabin juga melepas sepatu Anda dan menggantinya dengan sendal agar istirahat Anda menjadi lebih nyaman.
Setelah Jawa dan Sumatera, Kalimantan akan menjadi pulau ketiga di Tanah Air yang akan merasakan moda transportasi kereta. Tentu belum menjadi program di sepanjang pulau, namun di fokuskan di provinsi Kalimantan Timur dengan panjang sistem kereta api 575 km. Untuk pembangunan ini sendiri, dana yang akan diinvestasikan oleh perusahaan kereta Api PT kereta Api Borneo, anak perusahaan Kereta Api Rusia mencapai US$2 miliar.
Baca juga: Mengenal Polsuska, Penegak Peraturan di Kereta Api
Nantinya jaringan kereta api ini akan melewati empat kabupaten di seluruh provinsi Kalimantan Timur. Diketahui nantinya pembangunan kereta ini akan dibagi menjadi dua jalur yakni jalur utara dan selatan.
Baca juga: Satu Layanan Bisa Beda Tarif, Kenali Sub Class di Kereta Api
“Mereka akan dibagi menjadi dua jalur, yaitu Jalur Utara yang akan membentang sekitar 305 km dan Jalur Selatan yang akan berada di sekitar 270 km,” kata Presiden Direktur Kereta Api Borneo Sergey Kuznetsov di Balikpapan, yang dikutip KabarPenumpang.com dari The Jakarta Post (12/7/2017).
Sergey menjelaskan bahwa nantinya jalur utara akan menghubungkan Tabang yang merupakan sebuah kabupaten terpencil di Kabupaten Kutai Kertanegara menuju Maloy daerah pesisir Kutai Timur. Sedangkan jalur selatan akan dimulai dar Melak di Kutai Barat dan berakhir di Buluminung, Penajam Paser Utara. Pembangunan kedua jalur ini diperkirakan selesai tahun 2022 mendatang.
Baca juga: Saatnya Maksimalkan Tenaga Surya untuk Energi Terbarukan di Kereta Api
“Saat ini, kami telah menyelesaikan sejumlah penelitian, seperti geofisika dan hidrologi. Kami juga telah mengambil dan menguji 2.000 sampel tanah dari daerah di mana jalur akan dibangun, “kata kepala konstruksi dan pengembangan bisnis Vladimir Volkov.
Kedua jalur kereta api tersebut akan digunakan untuk mengangkut barang, khususnya sumber daya alam seperti batubara dan minyak sawit mentah. Kereta api akan digunakan untuk mengangkut penumpang setidaknya lima tahun setelah mulai beroperasi pada 2022.
Baca juga: Meski Antre Panjang di Gerbong Restorasi, Sahur di Kereta Itu Unik!
“Mengoperasikan kereta penumpang membutuhkan izin yang jauh lebih rumit dan kerjasama yang komprehensif dengan perusahaan kereta api milik negara PT Kereta Api Indonesia (PT KAI),” kata Gubernur Kaltim Awang Faroek Ishak.
Guna meratakan persebaran wisatawan lokal maupun mancanegara di Pulau Dewata, Bali, Pemerintah Indonesia mengambil langkah untuk menawarkan proyek pembangunan jalan kereta api ke sejumlah inverstor Cina. Jalur kereta yang selama ini hanya berpusat di Pulau Jawa dan Sumatera, kini coba dikembangkan oleh pemerintah ke daerah lainnya seperti Bali dan Kalimantan. Dilansir KabarPenumpang.com dari kantor berita Antara, Kamis (15/6/2017), Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman, Luhut Binsar Pandjaitan mengatakan tidak hanya menawarkan proyek kereta di Bali kepada para calon investor.
Baca Juga: Target Pengoperasian Kereta Bandara Soekarno-Hatta Molor dari Jadwal
“Ada beberapa proyek yang kita tawarkan (ke investor Cina), di antaranya jalan kereta api di Bali,” tutur Luhut. Lebih lanjut, Pria kelahiran Sumatera Utara, 28 September 1947 ini menyebutkan jalur kereta tersebut dirancang khusus untuk melewati beberapa daerah di Pulau Seribu Dewa yang selama ini kerap menjadi konsentrasi wisatawan, baik lokal maupun mancanegara. Sebagai langkah awal, rencananya pembangunan jalur kereta tersebut akan dibangun dari Denpasar menuju Ubud yang berada di Kabupaten Gianyar, dan Singaraja yang berada di Kabupaten Buleleng.
Dengan adanya jalur kereta tersebut, mantan Kepala Staf Kepresidenan Republik Indonesia periode 2014-2015 ini berharap persebaran wisatawan bisa lebih merata dan tidak hanya terfokus di satu destinasi saja. “Selama ini wisatawan hanya terkonsentrasi di Nusa Dua, di Kabupaten Badung atau di sekitar Denpasar saja. Nanti, dengan adanya jalur kereta api, penyebarannya akan sampai ke Bali Utara, sekitar Kabupaten Buleleng,” tutur Luhut melengkapi pernyataannya sebelumya.
Baca Juga: Ternyata, Bordes Merupakan Nama Seorang Meneer Belanda Lho!
Hingga berita ini diturunkan, Luhut belum bisa memastikan kapan proyek pembangunan infrastruktur baru di Pulau Dewata itu bisa dimulai, namun ia berharap dalam waktu dekat akan ada kepastian mengenai proyek tersebut. “Tapi mudah-mudahan tahun depan sudah bisa dimulai karena sudah ada studi kelayakannya yang dilakukan oleh World Bank dan Universitas Udayana,” ujarnya.
Tidak hanya pembangunan jalur kereta anyar di Bali Utara dalam rangka pemerataan pembangunan, tapi ada juga beberapa proyek guna mendukung program tersebut, seperti pembangunan bandara internasional Buleleng, dan pembangunan pelabuhan Tanah Ampo di Kabupaten Karangasem. Nantinya, Pemprov Bali akan mengambil jatah sebesar 51 persen dalam pengelolaan jalur kereta tersebut, sisanya akan dikelola oleh pihak swasta.
Baca Juga: Hanya Cerita yang Tersisa dari Terowongan KA Wilhelmina di Pangandaran
Kunjungan kerja Luhut ke Negeri Tirai Bambu pada 15 hingga 17 Juni 2017 kemarin merupakan tindak lajut dari pertemuan bilateral Presiden Joko Widodo dengan Presiden Cina, Xi Jinping yang dilakukan pada bulan Mei 2017. Dalam kunjungannya, Luhut didampingi pula oleh Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional, Bambang Brodjonegoro dan Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal, Thomas Lembong, sejumlah direktur BUMN, dan beberapa pengusaha Indonesia. Menurut Agenda, sejumlah pejabat tersebut akan melakukan pertemuan dengan sejumlah pejabat dan pengusaha Cina.
Kembali, kelakar mengenai bom menerpa dunia aviasi. Kali ini salah seorang penumpang yang hendak terbang dari Timika, Papua menuju Denpasar, Bali terpaksa diturunkan dari maskapai plat merah, Garuda Indonesia pada Senin (10/7/2017) kemarin. Akibatnya, pria dengan inisial WH ini bersama dengan salah seorang penumpang lainnya terpaksa digelandang ke pos pengamanan guna diperiksa lebih lanjut.
Baca Juga: Teror Bom di Kantung Mabuk udara, Penumpang Virgin Airways Terpaksa Melopat dari Kabin
Seperti yang dilansir Kabarpenumpang.com dari laman straitstimes.com (11/7/2017), kejadiaan ini bermula ketika seorang penumpang yang bernama Parlindungan Tambunan menanyakan isi tas dari WH yang tampak besar. Dengan maksud bercanda, WH lalu mengatakan bahwa isi tasnya adalah sebuah bom. Mendengar jawaban dari WH yang terkesan nyeleneh, Parlindungan lantas tidak kaget sama sekali karena ia mengetahui itu hanyalah sebuah sebuah lelucon. Sialnya, salah satu awak kabin mendengar percakapan ringan mereka dan lalu berbegas utuk memanggil ground staff.
Tak berselang lama, beberapa ground staff naik ke atas maskapai dan langsung menurunkan dua orang tersebut. Walaupun sudah mencoba untuk menjelaskan bahwa itu hanyalah sekedar lelucan dan berulang kali meminta maaf, namun ia bersama Parlindungan tetap diturunkan dari pesawat guna pemeriksaan lebih lanjut. Kejadian ini terjadi pada pukul 12.30 waktu setempat, sesaat sebelum pesawat tersebut mengudara dari Bandara Timika.
Baca Juga: Muncul Hotspot Berbau Teror, Penumpang Thomson Airways Terpaksa Dipulangkan
Setelah menjalani sejumlah pemeriksaan, kepolisian setempat tidak menemukan benda-benda yang mencurigakan. Akibat insiden tersebut, penerbangan mengalami keterlambatan pemberangkatan. Juru bicara kepolisian Papua, AM Kamal mengatakan ada baiknya penumpang untuk tidak sembarangan berbicara, apalagi menyangkut hal-hal yang berbau teror. “Kami berharap penumpang pesawat menahan diri untuk tidak mengatakan hal-hal yang dapat mengganggu penerbangan,” ungkapnya.
Hal-hal seperti ini kerap kali menghiasi pemberitaan media dewasa ini, seperti kasus serupa yang terjadi di Bandara Kuala Namu, Deli Serdang, Sumatera Utara pada Jumat (17/3/2017). Hal ini tentu perlu ditindaklanjuti oleh pihak yang berwenang. Sebagaimana yang dikatakan oleh Menteri Perhubungan, Budi Karya Sumadi yang mengimbau masyarakat untuk tidak iseng karena ada sanksi yang akan dijatuhkan. “Ada ancaman bom yang sifatnya lelucon, tapi itu bukan lelucon. Peraturan mengatakan itu ada sanksinya,” imbuh Budi.
Baca Juga: Yang Tabu Saat Anda Berada di Bandara
Hal serupa juga diutarakan oleh Dirjen Perhubungan Udara, Agus Santoso. Ia mengatakan akan ada denda yang dijatuhkan kepada setiap pelaku. “Mungkin ratusan miliar akan dikenakan kepada orang yang bercanda. Candaan bom bisa menjadikan yang bersangkutan bangkrut,” tegas Agus. Meskipun sanksi tersebut masih memerlukan kajian lebih dalam, Agus menganggap sanksi tersebut dinilai ampuh untuk memberikan efek jera kepada pelaku, termasuk meneror balik calon pelaku dengan biaya denda yang sangat besar.
Seorang berkebangsaan Italia bernama Tommaso Gecchelin memiliki angan-angan mengenai sistem transportasi masa depan yang menggabungkan beberapa keunggulan dari sistem transportasi yang sudah ada sekarang. Next Future Transportation, begitulah nama dari transportasi masa depan ini, dirancang sedemikian rupa sehingga dapat menjadi moda yang efisien dengan jaringan yang saling terkoordinasi dengan angkutan penumpang lainnya yang melayani perjalanan door-to-door.
Baca Juga: Ketika Dunia Transportasi “Teracuni” Perkembangan Jaman
Walaupun ini masih berupa konsep awal, namun rancangan dan sistem dari Next Future Transportation sudahlah terbentuk. Sarana transportasi ini terdiri dari sejumlah pods listrik modular tanpa awak yang akan mengantarkan penumpang sesuai keinginan mereka. Tidak hanya itu, seperti yang sudah dijabarkan di atas, pods listrik modular tanpa awak ini juga dapat mengantarkan penumpang menuju sarana transportasi lainnya, seperti bus dan kereta.
Tommaso yang berperan juga sebagai pendiri dari Next Future Transportation Inc. mengatakan satu set pods modular tanpa awak ini akan beroperasi di jalan raya, bersanding dengan moda transportasi lainnya. KabarPenumpang.com melansir dari laman newatlas.com (22/10/2015), Tommaso menambahkan moda transportasi ini berbeda dengan sistem transportasi lain, tidak memiliki rute yang tetap, serta pengguna cukup memesannya melalui aplikasi di smartphone.
Tommason pun sudah merencanakan interior dari pods ini. Satu pods mampu untuk menampung 10 orang, dengan enam kursi yang tersedia dan empat lainnya berdiri di ruang yang tersisa. Pods ini memiliki ketinggian sekitar 2,7 meter, sehingga penumpang akan merasa seperti tengah menaiki sebuah lift. Karena Next Future Transportation akan menggunakan jalan yang ada, maka tidak dibutuhkan adanya jalur khusus untuk kawanan pods ini.
Baca Juga: Catalyst E2, Bus Otonom Mampu Berjalan 966 Km Dalam Sekali Charge
Sebaliknya, direncanakan infrastruktur dari moda ini murni virtual, terdiri dari sistem cloud yang canggih yang tidak hanya menggerakkan pods otonom sesuai permintaan penumpang, tapi juga mengkoordinasikan semua pods di sistemnya masing-masing, dan tentu saja akan Tommason memastikan moda impiannya ini paling hemat energi.
Sistem modular yang diterapkan di moda ini memungkinkan pods memisahkan diri dari “kawanannya”, layaknya gerbong di kereta api. Tidak hanya itu, impian gila Tommason berlanjut ketika ia membayangkan penumpang memesan layanan pods tambahan, seperti kamar mandi, restoran, hingga toko yang kemudian digabungkan dengan pods penumpang lainnya, tentunya moda ini akan tampak seperti kereta yang sangat modern.
Baca Juga: Lihat Dampak Pada Kota, iCity-CATT Akan Tinjau Teknologi Pada Mobil Otonom
Dalam hal pemesanan, Anda dapat melakukannya melalui aplikasi di smartphone. Layaknya layanan transportasi berbasis online lainnya, Anda dapat dengan mudah memesan salah satu pods ini dari genggaman Anda. Jika destinasi yang Anda tuju berada dalam jarak yang tidak terlalu jauh, maka sistem yang ada akan mengirimkan sinyal pada pods lain supaya dapat membawa Anda dan menurunkannya di destinasi tujuan.
Walaupun terdengar luar biasa, tapi netizen dimohon untuk bersabar terlebih dahulu mengingat statemen yang dikeluarkan oleh Tommason yang akan baru memulai membangun prototipe-nya pada tahun 2020 mendatang. Tentu saja pembangunan prototipe tersebut dibarengi dengan harapan untuk meluncurkan sebuah sistem transportasi yang layak uji dan layak pakai. Sebagaimana perusahaan lain yang saling mengadu teknologi moda masa depannya, Tommason dengan Next Future Transportation-nya juga memiliki harapan agar penggunaan kendaraan pribadi dapat berkurang dan beralih ke moda transportasi umum.
Sedikit bercerita ke belakang, tepatnya pada 13 Februari 2017 silam, sebanyak 2.515 penumpang terdampar di atas kapal pesiar Royal Carribean’s Emperor of the Seas. Insiden ini terjadi akibat kurang jelinya para awak kapal tersebut dalam melakukan final checking sebelum kapal tersebut melaut. Dalam pernyataan resmi yang dirilis oleh pihak Royal Caribbean, mereka mengatakan masalah teknis yang dihadapi berhubungan dengan keselamatan penumpang, termasuk jaket keselamatan (life jacket) yang sudah tidak layak pakai karena termakan usia.
Baca Juga: Mengenal Inflatable Liferaft, Sosok Tabung Berwarna Putih di Geladak Kapal
Dilansir KabarPenumpang.com dari telegraph.co.uk (15/2/2017), Coast Petty Officer 3rd Class, Ryan Dickinson mengatakan bahwa pihaknya telah melakukan inspeksi terkait keselamatan penumpang dan menemukan masalah tersebut. “Kapal tersebut tidak lolos uji keselamatan penumpang,” terangnya sebagimana yang ia ungkapkan pula kepada situs berita lokal, Florida Today. Lebih lanjut, Ryan mengatakan kapal tersebut tidak memiliki masalah lain pada bagian mesin, lambung kapal, dan bagian teknis lainnya.
“Untuk kelas kapal pesiar, jarang sekali ditemukan ada kapal yang tidak lolos uji keselamatan yang diakibatkan oleh alat keselamatan penumpang yang tidak mumpuni, karena setiap moda transportasi bertanggung jawab atas semua keselamatan para penumpangnya,” tambah Ryan dilansir dari sumber yang sama. Akibat insiden keterlambatan pemberangkatan tersebut, tidak sedikit penumpang yang memilih untuk mengambil sisi positif dari sekian banyaknya respon negatif yang pihak Royal Caribbean terima. Sebagai rasa tanggung jawab, pihak pelayaran Royal Caribbean menawarkan pengembalian dana sebesar 25 persen dari tarif kapal, ditambah dengan potongan 25 persen untuk perjalanan berikutnya.
Tentu kejadian seperti ini membuat iri para pengguna kapal penyeberangan di Indonesia yang masih mendapatkan perlakuan ala kadarnya dalam keselamatan di perjalanan. Layaknya moda transportasi lain, ada banyak bahaya yang mengancam selama Anda bepergian, dari mulai faktor cuaca hingga human error. Ketersediaan alat keselamatan seperti life jacket di kapal penyebrangan tentu saja menjadi satu poin penting yang menunjukkan penyebrangan tersebut memenuhi standar pelayaran atau tidak.
Baca Juga: Spesifikasi KMP Port Link, Kapal Ferry Teranyar dan Terbesar
Sebagaimana yang pernah dikatakan oleh Dinas Perhubungan (Dishub) Kabupaten Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur, bahwasanya setiap penyedia jasa transportasi angkutan laut wajib untuk menyediakan peralatan keselamatan bagi pengemudi dan penumpang, jika operasionalnya tidak ingin dihentikan. Bukan lagi sekedar himbauan, namun Dishub pun nampak geram dengan penyedia jasa transportasi laut yang seolah tidak mengindahkan himbauan tersebut.
Berbicara mengenai alat keselamatan yang ada di moda penumpang, khususnya angkutan laut, tentu Anda masih ingat dengan kejadian terbakarnya KM Zahro Express yang terbakar di perairan Jakarta pada Minggu (1/1/2017). Kejadian yang terjadi beberapa jam setelah perayaan Tahun Baru tersebut mengundang banyak respon, salah satunya adalah dari Darmaningtyas, seorang pengamat transportasi dan juga merupakan anggota Masyarakat Transportasi Indonesia yang mengatakan kecelakaan kapal yang terjadi selama ini merupakan bentuk kurang perhatiannya pemerintah terhadap transportasi maritim.
Lebih lanjut, ia mengomentari kinerja awak kapal yang tidak melakukan pengecekan secara menyeluruh. “Yang sering terjadi dan yang saya kira juga terjadi di kapal Zahro ini kan jumlah pelampung itu tidak sebanding dengan jumlah penumpang. Itu bukti tidak ada kontrol. Syahbandar tidak melakukan pengecekan berapa jumlah pelampung, berfungsi tidak, bagaimana emergency exit-nya, saya kira itu tidak pernah dikontrol,” ungkap Darmaningtyas dilansir dari sumber lain.
Baca Juga: Tampomas II, Ingatkan Tragedi di Perairan Masalembo
Dari dua contoh kasus di atas, ini merupakan ironi bagi Tanah Air khususnya untuk moda laut yang seolah dianaktirikan oleh pemerintah, tidak seperti yang terjadi pada Royal Caribbean yang langsung mendapat tindakan tegas ketika moda tersebut terbukti tidak memenuhi kriteria penyebrangan yang sesuai standar. Jadi, mau sampai kapan moda laut Indonesia seperti ini?
Seiring menjamurnya moda angkutan berbasis online dan TransJakarta, secara langsung membawa perubahan signifikan dalam pola transportasi warga Ibu Kota, dimana sistem pembayaran mulai diadaptasi ke arah contactless payment, baik menggunakan aplikasi dan e-ticketing. Namun disamping nilai positif bagi pengguna jasa, ada yang jadi korban terkena “seleksi alam,” yakni profesi kondektur pada angkutan bus kota dan kelas Mikrolet/KWK.
Baca juga: Bus Berkonsep Alam di Taipei Tuai Banyak Pujian dari Netizen
Menurunnnya jumlah penumpang yang kini tersedot ke layanan taksi/ojek online, berimbas langsung ke pendapatan sehari-hari. Ditambah beban operasional yang meningkat akibat kemacetan parah, mendorong pemilik (operator) angkutan untuk mengurangi jadwal trip perjalanan dan mulai menghilangkan peran kondektur.
Tiadanya kondektur pada angkutan bus dan mikro bus menjadikan fenomena tersendiri. Pasalnya tugas Sang Sopir harus bertambah, selain mengemudi juga harus melayani transaksi pembayaran. Bisa dibayangkan, betapa repotnya kerja sopir, secara langsung ini berimbas kepada lamanya waktu tempuh dan kemacetan di jalan raya. Kenapa? Karena saat sopir melayani transaksi pembayaran dari penumpang, otomatis sopir harus menepikan kendaraan di lalu lintas yang padat.
Baca juga: TransJakarta Terintegrasi KWK dengan Kartu seharga Rp15 ribu di Jam Sibuk
Berdasarkan pengamatan KabarPenumpang.com, sejatinya kondektur masih sangat diperlukan oleh angkutan umum seperti bus kota, Metromini dan Kopaja. Sebab angkutan umum ini belum di fasilitasi dengan model sistem pembayaran berbasis elektronik. Menyadari tetap dibutuhkannya kondektur, tidak jarang juga sopir bus tetap menghadirkan kondektur, tapi yang jadi kondektur justru tidak layak. Umumnya yang dijadikan kondektur adalah istri dari sopir, atau ada kondektur yang masih anak-anak. Kesemua itu harus dilakukan sopir agar dapat membayar upah lebih murah, dibandingkan menggunakan kondektur pria dewasa.
Dalam fungsi yang berbeda, kondektur justru ada di setiap armada bus TransJakarta, namun perannya untuk memberitahukan pemberhentian-pemberhentian TransJakarta. Selain itu juga membantu para penumpang lansia atau disabilitas untuk naik dalam TransJakarta. Tapi ketika TransJakarta menawarkan rute baru yang non busway, maka peran kondektur TransJakarta bertambah, yakni membantu transaksi pembayaran lewat e-money dan cash.