Bukan Lagi Makanan dan Minuman, Video Game Kini Jadi Jualan Utama Airport Lounge Modern

Selama beberapa dekade, konsep ruang tunggu bandara (airport lounge) relatif tidak banyak berubah. Fasilitas ini identik dengan sofa kulit yang tenang, deretan surat kabar, serta bar yang menyediakan makanan ringan dan minuman gratis bagi pelancong bisnis atau penumpang kelas premium. Namun, preferensi generasi baru pelancong kini mulai mengubah lanskap tersebut secara radikal. Alih-alih mencari segelas koktail atau kopi, semakin banyak penumpang pesawat yang kini berburu ruang tunggu bandara yang menawarkan stasiun video game berspesifikasi tinggi. Tren gaming di bandara ini semakin menguat seiring dengan pergeseran demografi penumpang yang kini didominasi oleh generasi milenial dan Gen Z. Mengisi waktu transit yang membosankan dengan bermain game kompetitif atau kasual dinilai jauh lebih menarik daripada sekadar duduk diam. Fenomena ini memicu lahirnya berbagai konsep ruang tunggu baru di sejumlah bandara internasional utama dunia yang menempatkan perangkat gaming sebagai menu utamanya. Salah satu gebrakan paling anyar diperlihatkan oleh dibukanya Portal Lounge di Minneapolis-St. Paul International Airport (MSP) Terminal 1. Diinisiasi oleh Gameway, jaringan yang dikenal sebagai pelopor ruang tunggu gaming di Amerika Serikat, fasilitas seluas 3.800 kaki persegi ini dirancang layaknya perpaduan antara gerai futuristik Apple Store dengan arena eSports profesional. Alih-alih menciptakan suasana sunyi, lounge ini menyajikan pencahayaan sinematik dan musik terkurasi untuk membangun energi yang hidup. Di dalam Portal Lounge, penumpang tidak lagi disuguhi pemandangan meja makan konvensional, melainkan 17 stasiun gaming mutakhir yang dilengkapi dengan konsol PlayStation 5, Xbox Series X, Nintendo Switch, hingga PC gaming rakitan khusus (custom-built). Penumpang dapat memainkan lebih dari 30 judul game populer—mulai dari memacu adrenalin di lintasan Mario Kart hingga berpetualang membangun dunia di Minecraft—sebelum waktu penerbangan mereka tiba. Menariknya lagi, urusan logistik minuman di tempat ini pun diserahkan kepada teknologi modern berupa bartender robotik. Fenomena serupa juga terjadi di Seattle-Tacoma International Airport (SEA) melalui kehadiran Sky Gamerz di North Satellite terminal. Sedikit berbeda dengan konsep futuristik, Sky Gamerz memilih pendekatan nostalgia dengan mendekorasi ruangannya bergaya kamar game retro tahun 1970-an dan 1980-an lengkap dengan lampu neon berwarna merah muda dan hijau. Di sini, para pelancong lintas generasi—termasuk anak-anak—bisa bernostalgia memainkan game legendaris seperti Donkey Kong, Frogger, Ms. Pac-Man, hingga simulasi golf secara gratis. Perubahan tren ini direspons sangat positif oleh para pengelola program loyalitas bandara. Priority Pass, salah satu jaringan akses ruang tunggu independen terbesar di dunia, kini terus memperluas kemitraannya dengan operator gaming bandara seperti Gameway untuk mencakup lebih banyak lokasi seperti di bandara Los Angeles (LAX), Detroit (DTW), Houston (HOU), hingga John F. Kennedy (JFK) di New York. Pemegang kartu akses kini memiliki opsi untuk menukarkan kuota kunjungan mereka dengan durasi bermain game gratis plus paket makanan ringan. Bagi industri penerbangan dan pengelola bandara, kehadiran gaming lounge menjadi solusi cerdas untuk mengurai kejenuhan penumpang akibat keterlambatan jadwal terbang (delay) atau durasi transit yang panjang. Melalui integrasi antara makanan, minuman, dan hiburan interaktif berkualitas, ruang tunggu bandara kini tidak lagi sekadar menjadi tempat persinggahan yang transaksional, melainkan telah berevolusi menjadi destinasi hiburan tersendiri yang dinanti-nanti oleh para penumpang modern sebelum mereka lepas landas.
Lounge Bandara Ini Super Eksotis, Dilengkapi Kolam Renang Yang Menghadap Ke Apron

Jalur Kereta Api Kayu Tanam–Bukittinggi hingga Solok–Muarakalaban Siap Kembali Terhubung, Ini Tantangan Terberatnya

Jalur kereta api Sumatra menyimpan banyak kisah menarik, mulai dari sejarah hingga perjalanan yang unik saat menikmatinya. Berbagai macam peninggalan dan jejak yang masih dikenang pun hingga kini seakan kembali nostalgia. Apalagi banyak area kereta api yang masih terlihat hingga kini walaupun sudah tidak kembali beroperasi dan dijadikan sebagai monumen bersejarah yang dilestarikan sebagai cagar budaya oleh PT Kereta Api Indonesia Persero (KAI). Nah, salah satu jejak sejarah yang masih kental di dunia perkeretaapian Indonesia adalah pada jalur Sumatra Barat. Ada beberapa jalur yang sudah tidak digunakan bahkan kini menjadi ikonik tersendiri karena menyimpan kenangan yang tak terlupakan. Bahkan berharap jalur tersebut bisa kembali aktif dan di lewati berbagai kereta api agar masyarakat setempat bisa merasakan dan bernostalgia pada jalur yang dibangun sejak jaman Kolonial Belanda. Sebagai salah satu wilayah prioritas dalam program reaktivasi jalur kereta api pada periode 2026 – 2030 adalah jalur di Divisi Regional (Divre) 2 Sumatra Barat. Memiliki total panjang yang direncanakan untuk diaktifkan kembali di provinsi tersebut mencapai sekitar 248,5 kilometer. Diketahui bahwa sejumlah jalur kereta api di provinsi tersebut yang masuk kategori perencanaan kembali diaktifkan adalah jalur Naras – Sungai Limau sepanjang 6,5 kilometer di Kabupaten Padang Pariaman. Tak hanya itu, KAI juga mencantumkan jalur Kayu Tanam – Padang Panjang – Bukittinggi – Limbanang dengan panjang sekitar 162 kilometer. Jalur ini dinilai strategis karena menghubungkan sejumlah pusat aktivitas ekonomi, pariwisata, dan permukiman di kawasan tengah Sumatra Barat. Kemudian jalur kereta api lainnya yang masuk dalam rencana reaktivasi adalah jalur Solok – Muarakalaban sepanjang 24 kilometer. Jalur tersebut sebelumnya menjadi bagian dari jaringan kereta api yamg melayani wilayah selatan Sumatra Barat. Reaktivasi jalur kereta api di Sumatra Barat dinilai tidak sekadar menghadirkan kembali moda transportasi lama, tetapi juga menjadi langkah strategis untuk memperkuat konektivitas daerah yang selama ini rentan terganggu akibat bencana alam. Menurut praktisi Sistem Informasi Geografis (GIS) Sumatra Barat, Timtim Deby Purnasebta mengatakan, ketergantungan masyarakat terhadap satu koridor transportasi utama menjadi tantangan besar. Apalagi saat banjir bandang, longsor, maupun galodo melanda kawasan Lembah Anai dan sekitarnya. Ketika jalur utama terputus, konektivitas antarwilayah terganggu, distribusi logistik melambat, sektor pariwisata terdampak, dan aktivitas ekonomi ikut terhambat. Kemajuan suatu daerah saat ini tidak lagi hanya diukur dari pembangunan jalan raya, tetapi juga dari kemampuan mengintegrasikan berbagai moda transportasi dalam satu sistem yang efektif. Meskipun begitu, kereta api dinilai memiliki potensi menjadi tulang punggung transportasi yang menghubungkan kawasan pesisir, perkotaan, pusat pertumbuhan ekonomi, kawasan pendidikan, destinasi wisata, hingga bandara dalam satu jaringan yang terintegrasi. Apabila dirancang terintegrasi dengan pengembangan destinasi wisata, jalur tersebut berpotensi menjadi salah satu rute wisata kereta api paling menarik di Indonesia. Salah satu tantangan utama berada pada jalur Kayu Tanam – Padang Panjang yang melintasi kawasan pegunungan dengan tingkat kemiringan lereng yang relatif ekstrem. Kemudian Kawasan Lembah Anai juga menjadi perhatian khusus karena memiliki karakteristik kebencanaan yang unik. Secara geospasial, wilayah ini dipengaruhi daerah tangkapan air yang berasal dari Gunung Marapi, Gunung Singgalang, dan Gunung Tandikek. Saat hujan ekstrem terjadi di wilayah hulu, akumulasi aliran permukaan dapat meningkat dan memicu banjir bandang maupun galodo. Untuk itu, aspek keselamatan transportasi juga perlu menjadi perhatian serius. Perlintasan sebidang yang berpotensi menimbulkan kecelakaan harus dipetakan sejak awal melalui analisis tingkat risiko serta perencanaan sistem pengamanan yang memadai. Seluruh risiko harus jadi bagian pertimbangan utama sejak tahap perencanaan agar reaktivasi kereta api dapat memberikan manfaat maksimal. Diketahui bahwa program jalur kereta api di Sumatra Barat ini menjadi bagian dari rencana besar pengembangan perkeretaapian di Pulau Sumatra. Namun, KAI belum mengumumkan jadwal pasti pelaksanaan rekativasi jalur-jalur di Sumatra Barat. Saat ini perusahaan masih menyusun tahapan pengembangan sesuai prioritas dan kebutuhan konektivitas nasional.
Usianya Genap 140 Tahun, Stasiun Medan Kini Makin Eksis dan Modern

Tahukah Kamu, Ada 391 Unit Kereta Stainless Steel New Generation yang Beroperasi

Hal utama yang jadi kebanggaan PT Kereta Api Indonesia Persero (KAI) adalah mampu melayani sepenuh hati dengan fasilitas yang di berikan kepada penumpangnya. Ya, KAI mencatat yakni berbagai fasilitas yang terbilang modern ini sudah dioperasikan sebanyak 391 unit kereta terbaru yang memiliki pelayanan dan kenyamanan pada jenis Stainless Stell New Generation. Hasil produksi dalam negeri yang dilakukan PT Industri Kereta Api (INKA) telah mendapat respons yang luar biasa dari masyarakat sebagai pelanggan setia kereta api. Tentunya dengan fasilitas modern yang dapat memanjakan penumpang di sepanjang perjalanan. Berbagai rute sudah dioperasikan khususnya di jalur Pulau Jawa ke berbagai kota tujuan yang merupakan destinasi favorit masyarakat, seperti Yogyakarta, Semarang, Malang, dan Surabaya. Diketahui bahwa sejak tahun 2023, PT KAI telah menjalankan program pengadaan 612 unit kereta Stainless Steel New Generation hasil produksi PT INKA. Program tersebut merupakan bagian dari modernisasi sarana penumpang yang direncanakan berlangsung hingga tahun 2027 dengan nilai kontrak mencapai Rp5,505 triliun. Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba mengatakan bahwa program pengadaan New Generation menjadi langkah strategis perusahaan dalam meningkatkan kualitas layanan dan pengalaman perjalanan penumpang. Kini, sudah ada 39 trainset yang beroperasi di selurih jaringan jalur kereta api di Pulau Jawa. Setiap trainset yang beroperasi menghadirkan standar kenyamanan yang lebih baik dan menjadi bagian dari pengembangan layanan yang terus kami lakukan. Rangkaian Stainless Steel New Generation hadir dengan berbagai fasilitas yang mendukung kenyamanan pelanggan, mulai dari kursi ergonomis, reclining seat hingga 135 derajat, revolving seat yang dapat disesuaikan dengan arah perjalanan, legroom yang lebih luas, foot rest, meja lipat, USB port dan stop kontak di setiap kursi, hingga pintu geser otomatis. Pada sejumlah layanan, penumpang juga dapat menikmati fasilitas tambahan seperti Passenger Information Display System (PIDS), kabin yang lebih senyap, toilet dengan foot washer, musala, baby care desk atau meja ganti popok bayi, serta selimut untuk perjalanan malam dengan waktu tempuh tertentu. Modernisasi sarana tersebut kini telah menjangkau berbagai segmen layanan, mulai dari kelas eksekutif, kelas campuran eksekutif dan ekonomi, hingga layanan ekonomi. Dengan semakin luasnya cakupan relasi yang menggunakan rangkaian New Generation, semakin banyak pelanggan dapat menikmati standar kenyamanan yang lebih tinggi selama perjalanan. Berikut ini layanan untuk kereta kelas eksekutif Stainless Steel Newe Generation: • KA Argo Dwipangga relasi Gambir–Solo Balapan (PP) • KA Argo Lawu relasi Gambir–Solo Balapan (PP) • KA Argo Anggrek relasi Gambir–Surabaya Pasarturi (PP) • KA Argo Sindoro relasi Gambir–Semarang Tawang (PP) • KA Argo Wilis relasi Bandung–Surabaya Gubeng (PP) • KA Argo Semeru relasi Gambir–Surabaya Gubeng (PP) • KA Bima relasi Gambir–Surabaya Gubeng (PP) • KA Taksaka relasi Gambir–Yogyakarta (PP) • KA Argo Muria relasi Gambir–Semarang Tawang (PP) • KA Turangga relasi Surabaya Gubeng–Bandung (PP) • KA Parahyangan relasi Bandung–Gambir (PP) • KA Gajayana relasi Malang–Gambir (PP) Selanjutnya layanan untuk kereta campuran kelas eksekutif dan ekonomi adalah sebagai berikut: • KA Lodaya relasi Bandung–Solo Balapan (PP) • KA Mataram relasi Pasarsenen–Solo Balapan (PP) • KA Bogowonto relasi Pasarsenen–Lempuyangan (PP) • KA Batavia relasi Gambir–Solo Balapan (PP) • KA Gumarang relasi Pasarsenen–Surabaya Pasarturi (PP) • KA Jayabaya relasi Pasarsenen–Malang (PP) • KA Gaya Baru Malam Selatan relasi Pasarsenen–Surabaya Gubeng (PP) • KA Fajar Utama Solo relasi Pasarsenen–Solo Balapan • KA Senja Utama Solo relasi Solo Balapan–Pasarsenen • KA Tegal Bahari relasi Pasarsenen–Tegal (PP) • KA Ranggajati relasi Cirebon–Jember (PP) • KA Cirebon Fakultatif relasi Cirebon–Gambir (PP) • KA Bangunkarta relasi Jombang–Pasarsenen (PP) • KA Singasari relasi Blitar–Pasarsenen (PP) Kemudian untuk layanan kelas ekonomi Stainless Steel Newe Gemeration, sebagai beeikut: • KA Jaka Tingkir relasi Pasarsenen–Solo Balapan (PP) • KA Progo relasi Pasarsenen–Lempuyangan (PP) • KA Majapahit relasi Pasarsenen–Malang (PP) Hingga kabar ini diturunkan, program pengadaan selesai pada 2027, jumlah trainset New Generation yang beroperasi akan terus bertambah sehingga semakin banyak pelanggan yang dapat merasakan peningkatan kualitas layanan KAI. Oleh sebab itu, KAI terus melakukan pengembangan sarana secara berkelanjutan. Seiring bertambahnya jumlah trainset yang diterima dan dioperasikan hingga seluruh program selesai, semakin banyak masyarakat yang dapat menikmati perjalanan dengan standar kenyamanan New Generation.
Kabar Gembira! Ini Daftar PSO (Subsidi) Kereta Api Ekonomi dan Perintis Tahun 2022

Nikmati Sensasi Naik KA Mataram Melintasi Destinasi Kota-kota Favorit Wisatawan

Perjalanan kereta api dengan rute Jakarta hingga Solo maupun sebaliknya memang banyak pilihan. Mulai dari kelas ekonomi bahkan hingga kelas termewah sekali pun. Menggunakan kereta api pada rute tersebut lebih terasa saat menjelang akhir pekan. Banyak masyarakat berakhir pekan dengan menjelajah di beberapa kota yang dilewati baik dari Jakarta maupun Solo, karena ada beberapa kota besar yang menjadi tujuan destinasi wisata yang tentunya terkenal di media sosial. Berbagai kereta api pilihan masyarakat tentunya dilihat dari kenyamanan serta pelayanan yang sangat baik. Walaupun berbeda kelas, namun dirasakan penumpang justru merupakan nilai lebih saat menggunakan kereta api tersebut. Salah satu yang kini dinikmati masyarakat menggunakan kereta api baik dari Jakarta maupun Solo adalah Kereta Api (KA) Mataram. Ya, kereta api ini memiliki 2 kelas pada satu rangkaian, yaitu ekonomi premium dan eksekhtif. KA Mataram melayani perjalanan dari Stasiun Pasar Senen menuju Solo Balapan ini melewati sejumlah kota penting di Pulau Jawa, seperti Bekasi, Cirebon Prujakan, Purwokerto, Kroya, Kebumen, Kutoarjo, Wates, Yogyakarta, hingga Klaten. Tak hanya itu, kenyamanan yang dirasakan saat menggunakan KA Mataram lebih nyaman, karena sudah menggunakan jenis Stainless Steel New Generation (SSNG). Perjalanan KA Mataram jika diawali keberangkatan dari Stasiun Pasar Senen menuju Cirebon, penumpang bisa merasakan kota yang dikenal dengan kekayaan sejarah dan budayanya. Di kota ini, wisatawan dapat mengunjungi Keraton Kasepuhan, Keraton Kanoman, sentra Batik Trusmi, hingga menikmati berbagai kuliner khas pesisir utara Jawa. Selanjutnya memasuki wilayah Banyumas, KA Mataram akan melintasi Purwokerto yang menjadi gerbang menuju kawasan wisata Baturraden di kaki Gunung Slamet. Destinasi ini populer karena menawarkan udara sejuk dan pemandangan alam yang memikat. Cukup banyak penumpang dari KA Mataram singgah di stasiun ini sebagai jarak menengah baik dari Solo maupun Jakarta. Apalagi kota ini menyuguhkan keberagaman khas baik wisata maupun kulinernya. Kemudian, KA Mataram melewati Kroya, Kebumen, dan Kutoarjo. Kawasan ini memiliki beragam destinasi unggulan. Mulai dari Geopark Kebumen, Pantai Menganti yang terkenal dengan panorama lautnya, hingga perbukitan Menoreh yang membentang di perbatasan Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta. Nah, saat memasuki Yogyakarta, tentunya penumpang disuguhi berbagai ikon wisata nasional seperti Malioboro, Keraton Yogyakarta, Taman Sari, dan Candi Prambanan. Kota pelajar ini juga terkenal dengan kekayaan seni, budaya, serta kuliner yang selalu menarik minat wisatawan. Sebagian besar memang penumpang turun di Yogyakarta dan merasakan sensasi suasana khas kota tersebut dengan penuh suka cita. Melanjutkan perjalanan hingga tiba di Stasiun Klaten yang merupakan salah satu stasiun cagar budaya di wilayah Daerah Operasi (Daop) 6 Yogykarta. Diketahui, Klaten juga dikenal sebagai kawasan wisata air dengan sejumlah umbul terkenal, seperti Umbul Ponggok dan Umbul Manten. Penumpang KA Mataram juga tak luput dengan kunjungan wisata disini ataupun sekadar pulang kampung. Diakhir perjalanan, KA Mataram tiba di Stasiun Solo Balapan, pintu masuk utama menuju Kota Solo. Hingga kini, Solo terus menunjukkan perkembangan sebagai salah satu destinasi wisata favorit di Indonesia. Kota budaya ini menawarkan perpaduan wisata sejarah, seni pertunjukan, kuliner tradisional, serta berbagai ruang publik yang nyaman untuk dikunjungi. Sesampainya di Solo, wisatawan dapat mengunjungi berbagai destinasi unggulan seperti Pura Mangkunegaran, Keraton Kasunanan Surakarta, Kampung Batik Laweyan, Kampung Batik Kauman, Taman Balekambang, Pasar Gede, hingga De Tjolomadoe. Kehadiran rangkaian KA Mataram menggunakan Stainless Steel New Generation semakin melengkapi kenyamanan pelanggan yang ingin menikmati perjalanan akhir pekan. Menurut Vice President Corporate Communication PT Kereta Api Indonesia Persero (KAI), Anne Purba, mengatakan perjalanan menggunakan kereta api memberikan pengalaman berbeda karena pelanggan dapat menikmati karakter dan keunikan setiap daerah yang dilalui. Melalui KA Mataram, KAI menghadirkan perjalanan yang aman, nyaman, dan menyenangkan menuju berbagai pengalaman tersebut. Dengan rute yang melintasi sejumlah kota wisata serta fasilitas kereta yang semakin modern, KA Mataram menjadi pilihan menarik bagi masyarakat yang ingin menikmati perjalanan sekaligus berwisata menuju Solo dan berbagai destinasi di sepanjang jalurnya.
Terkenal Karena Didi Kempot, Inilah Jejak Sejarah Stasiun Solo Balapan

Biar Awet dan Hemat: Mengapa Pesawat Jarang Lepas Landas dengan Tenaga Mesin Penuh?

Bagi Anda yang sering bepergian menggunakan pesawat terbang, momen lepas landas (takeoff) mungkin menjadi salah satu bagian yang paling mendebarkan sekaligus menakjubkan. Raungan suara mesin jet yang membahana ditambah dengan dorongan gravitasi yang menghempaskan tubuh ke sandaran kursi seolah menandakan bahwa monster besi tersebut sedang mengerahkan seluruh tenaga yang dimilikinya untuk menembus langit. Namun, sebuah fakta menarik di balik kokpit menunjukkan kondisi yang sebaliknya, di mana sebagian besar pesawat komersial modern sebenarnya jarang sekali menggunakan kekuatan mesin penuh (full power) saat lepas landas. Teknik yang dikenal luas di dunia aviasi sebagai Reduced Thrust Takeoff atau Flex Temp Takeoff ini telah menjadi standar operasi global bagi maskapai penerbangan, karena pada kenyataannya, menyemburkan tenaga maksimal dari mesin turbofan canggih sebagian besar waktu dinilai tidak terlalu diperlukan. Alasan utama di balik penerapan teknik pengurangan daya dorong ini bermuara pada dua faktor krusial bagi sebuah maskapai, yakni keselamatan jangka panjang dan efisiensi biaya perawatan mesin. Mesin pesawat modern, seperti seri CFM LEAP atau Rolls-Royce Trent, dirancang dengan kapasitas daya dorong yang sangat masif agar pesawat mampu lepas landas dengan aman dalam kondisi paling ekstrem sekalipun, seperti saat membawa beban maksimal di landasan pendek atau saat cuaca sangat panas.
Pasca Lepas Landas Kecepatan Pesawat Justru Melambat, Ini Penjelasannya
Ketika pesawat beroperasi dalam kondisi normal dengan landasan pacu yang panjang dan cuaca yang mendukung, komputer pesawat atau Flight Management Computer (FMC) akan mengalkulasi ulang kebutuhan daya yang optimal. Dengan menurunkan daya dorong sekitar 10 hingga 25 persen dari kapasitas maksimalnya, suhu internal mesin jet dapat dijaga agar tidak menyentuh batas kritis, yang secara otomatis memperpanjang usia pakai komponen sensitif di dalam mesin, mengurangi risiko kegagalan mekanis saat lepas landas, serta menekan biaya perawatan mesin (engine overhaul) yang terkenal sangat mahal. Selain menjaga keawetan mesin, teknik Reduced Thrust Takeoff ini juga memegang peranan penting dalam strategi efisiensi bahan bakar dan pelestarian lingkungan. Meskipun pengurangan konsumsi bahan bakar saat fase lepas landas yang singkat ini terlihat tidak terlalu signifikan, akumulasi penghematan dari ribuan penerbangan yang dilakukan sebuah maskapai setiap harinya mampu memangkas biaya operasional dalam jumlah yang sangat fantastis. Tidak hanya itu, penggunaan daya mesin yang disesuaikan ini juga berdampak langsung pada penurunan emisi karbon yang dilepaskan ke atmosfer bumi. Keuntungan lingkungan ini juga dirasakan langsung oleh masyarakat yang tinggal di sekitar bandara, karena pesawat yang lepas landas dengan daya yang dikurangi akan menghasilkan tingkat polusi suara (noise pollution) yang jauh lebih rendah, sehingga penerbangan terasa lebih ramah bagi lingkungan sekitarnya. Kendati demikian, keputusan untuk tidak menggunakan tenaga penuh ini bukanlah sebuah tindakan spekulatif yang mengorbankan keselamatan penerbangan demi mengejar keuntungan finansial semata. Sebelum pesawat bergerak menuju landasan pacu, pilot dan sistem komputer akan menghitung variabel yang sangat kompleks, mulai dari berat total pesawat, panjang landasan yang tersedia, kecepatan angin, hingga suhu udara di bandara saat itu. Jika semua parameter tersebut menunjukkan bahwa pesawat dapat mengudara dengan aman sebelum menyentuh ujung landasan, barulah teknik pengurangan daya ini diaplikasikan. Sebaliknya, penggunaan tenaga mesin penuh 100 persen tetap bersifat wajib dan mutlak dilakukan apabila pesawat menghadapi situasi darurat tertentu, seperti lepas landas dari bandara dataran tinggi dengan udara tipis, cuaca buruk dengan potensi windshear, kondisi landasan yang basah atau licin, hingga kegagalan fungsi pada salah satu mesin di mana mesin yang tersisa harus langsung digenjot ke performa maksimal demi menyelamatkan pesawat.
Tahukah Anda, Pesawat Take-off dengan Kecepatan Rendah Bisa Berujung Petaka

Sebelum Dibangun Trans Kalimantan, Ternyata di Kalsel Dulu Punya Jejak Sejarah Kereta Api yang Hampir Terlupakan

Indonesia memiliki beragam transportasi berbasis rel yang dahulu sejak jaman Kolonial Belanda. Maka tak heran jejak-jejak bangunan maupun jalur kereta api yang dulunya ramai digunakan, kini sudah teronggok tak berfungsi bahkan hampir terlupakan. Meskipun begitu jalur kereta api yang digunakan dan masih berfungsi aktif masih dijumpai khususnya di Pulau Jawa dan Sumatera. Bahkan masyarakat di Sulawesi Selatan sudah bisa menikmati kereta api, karena sebelumnya di wilayah tersebut belum ada pembangunan jalur kereta api. Nah, bicara soal pembangunan jalur kereta api lainnya tengah menjadi sorotan media. Kini berada di Kalimantan yang menjadi perbincangan pemerintah agar masyarakat bisa merasakan transportasi berbasis rel di wilayah tersebut yang tentunya praktis dan mudah. Pemerintah mempercepat pengembangan jaringan kereta api di Sumatra, Kalimantan, dan Sulawesi sebagai bagian dari strategi memperkuat konektivitas nasional. Langkah tersebut diarahkan untuk meningkatkan konektivitas antardaerah, menekan biaya logistik, dan menciptakan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru di luar Pulau Jawa. Menurut pemerintah, penguatan jaringan rel menjadi salah satu instrumen penting untuk mendorong pemerataan pembangunan dan memperluas akses ekonomi masyarakat di berbagai wilayah. Namun dari perencanaan pembangunan tersebut, ternyata jaringan kereta api di Kalimantan sudah ada sejak dulu dan memiliki sejarah panjang. Ya, aktivitas kereta api pernah beroperasi di Kalimantan Selatan (KalSel) pada masa Hindia Belanda, meski bukan untuk angkutan penumpang, melainkan mendukung aktivitas pertambangan batu bara yang berkembang pesat sejak akhir abad ke-19.
Kereta Uap Kalimantan, Pelancong Diajak Jelajah Hutan Borneo Tanpa Pendingin Udara
Keberadaan rel dan kereta tambang di Kalimantan Selatan menjadi bagian penting sejarah industri pertambangan kolonial yang digunakan untuk mempercepat pengangkutan hasil bumi menuju pelabuhan ekspor. Pemerintah kolonial Belanda membangun jaringan perkeretaapian di berbagai wilayah Indonesia untuk menunjang eksploitasi sumber daya alam. Mengutip buku Onze Koloniale Mijnbouw De Steenkolenindustrie karya R.J. Van Lier, disebutkan bahwa kereta api di Kalimantan memang pernah ada, namun berfungsi sebagai kereta tambang. Kereta tambang paling awal di Kalimantan Selatan diketahui beroperasi di tambang batu bara Oranje-Nassau. Di lokasi tersebut, gerobak kecil berjalan di atas rel sederhana untuk mengangkut batu bara dari area tambang menuju Sungai Riam Kiwa. Masa kejayaan tambang batu bara di Kalimantan berlangsung sekitar 1888 hingga 1954. Salah satu pusat aktivitasnya berada di Pulau Laut, Kabupaten Kotabaru, yang dikelola perusahaan Borneo Maatschappij dengan lebar rel 600 milimeter dan sebagian 1.067 milimeter. Untuk mendukung operasional tambang, Pemerintah Hindia Belanda bersama perusahaan tambang De Steenkolen-Maatschappij Poeloe Laoet membangun jalur angkut sepanjang sekitar 5 kilometer dari wilayah Semblimbingan menuju Pelabuhan Stagen sejak 1903. Peta jalur spoorweg Semblimbingan-Stagen menunjukkan rel kereta melintasi kawasan permukiman, jalur sungai, dan sejumlah ruas jalan darat sebelum mencapai pelabuhan. Keberadaan kereta api tambang di Kalimantan Selatan juga diperkuat oleh berbagai dokumentasi sejarah yang tersimpan di sejumlah lembaga internasional. Selain itu, terdapat dokumentasi dari koleksi Ellerman Series Vereeniging Koloniaal Instituut Amsterdam tahun 1915 serta Hydrographich Bericht Zeemans Gids voor den Oost-Indischen Archipel tahun 1904. Temuan arsip, foto, lori tambang, dan jejak infrastruktur tersebut menjadi bukti bahwa sistem transportasi berbasis rel pernah hadir di Kalimantan Selatan jauh sebelum rencana pembangunan jaringan kereta api modern kembali diwacanakan.
Jalur Kereta Api Makassar – Parepare Dibangun, Kira – kira Apa Manfaatnya, ya?

Pengguna KRL Jalur Rangkasbitung Makin Padat, KAI Bocorkan Solusinya

Peningkatan pengguna Kereta Rel Listrik (KRL) sudah terasa hingga saat ini. Berbagai stasiun di jalur yang dilewati KRL Jabodetabek seakan tak kenal waktu. Baik aktivitas hari biasa (weekday) maupun akhir pekan (weekend) KRL sering dipadati penumpang secara beragam. Terlihat di lintas Jabodetabek tiap waktu banyak pengguna melakukan aktivitas ke daerah tujuan, salah satu diantaranya adalah jalur Ramgkasbitung (green line). Ya, akhir-akhir ini perjalanan KRL di green line terlihat peningkatan terhadap penumpang yang beraktivitas. Hal ini didasarkan pada data jumlah volume penumpang yang di sampaikan PT Kereta Api Indonesia Persero (KAI). Layaknya di jalur Bogor (red line), perjalanan KRL di green line pun sudah banyak pemukiman yang memiliki jarak dekat dengan stasiun-stasiun KRL. Oleh karena itu, KAI pun tengah mempercepat modernisasi sistem persinyalan guna mendukung penambahan kapasitas operasional KRL Green Line. Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia (Persero) Bobby Rasyidin mengatakan, upaya ini dilakukan sebagai jawaban atas tingginya mobilitas di lintas Tanah Abang – Rangkasbitung. Bobby mengatakan, lintas ini menjadi salah satu jalur utama yang menghubungkan kawasan permukiman di wilayah barat Jabodetabek dengan pusat kegiatan ekonomi, pendidikan, pemerintahan, dan layanan publik di Jakarta serta sekitarnya. Berdasarkan data KAI, volume pengguna KRL pada lintas Rangkasbitung terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Pada 2022, jumlah pelanggan mencapai 43,3 juta orang. Angka tersebut meningkat menjadi 62 juta pelanggan pada 2023, kemudian mencapai 69,9 juta pelanggan pada 2024, dan kembali naik menjadi 77,5 juta pelanggan pada 2025. Memasuki periode Januari hingga Mei 2026, jumlah pelanggan telah mencapai 33,3 juta orang. Pertumbuhan tersebut menunjukkan semakin besarnya peran Commuter Line Rangkasbitung dalam mendukung aktivitas masyarakat sehari-hari. Saat ini, okupansi puncak Rangkasbitung Line mencapai sekitar 161 persen, tertinggi di antara lintas Commuter Line lainnya. Setiap harinya, layanan ini dimanfaatkan oleh pekerja, pelajar, mahasiswa, pelaku usaha, hingga masyarakat yang melakukan perjalanan untuk mengakses berbagai layanan di kawasan Jabodetabek. Tak heran, seiring meningkatnya jumlah pelanggan, tingkat okupansi pada jam sibuk juga terus bertambah. Pada jalur Tanah Abang – Rangkasbitung, kapasitas angkut masih bertumpu pada rangkaian 8 dan 10 kereta. Untuk mendukung peningkatan kapasitas layanan, KAI akan menambah 11 gardu traksi di lintas tersebut. Penguatan pasokan daya ini menjadi fondasi penting untuk mendukung operasional rangkaian 12 kereta. Dengan kapasitas yang lebih besar, jumlah pelanggan yang dapat dilayani dalam setiap perjalanan akan meningkat sehingga ruang gerak pelanggan saat jam sibuk menjadi lebih baik. Peningkatan kapasitas tersebut dilaksanakan melalui koordinasi dan sinergi antara KAI dan DJKA Kementerian Perhubungan sebagai regulator perkeretaapian nasional. Kolaborasi ini mencakup perencanaan penguatan sistem kelistrikan, pengembangan kapasitas lintas, hingga modernisasi sistem operasi yang diperlukan untuk menjawab pertumbuhan kebutuhan mobilitas masyarakat di koridor Tanah Abang – Rangkasbitung. Selain itu, sistem persinyalan di lintas Rangkasbitung masih menggunakan pola blok tertutup yang membatasi jumlah perjalanan kereta dalam satu lintas operasi. Kondisi tersebut berdampak pada headway perjalanan yang saat ini berada pada kisaran 10 menit. Melalui modernisasi persinyalan, kapasitas lintas akan meningkat sehingga frekuensi perjalanan kereta dapat ditambah dan waktu tunggu pelanggan menjadi lebih singkat. Peningkatan frekuensi perjalanan akan memberikan fleksibilitas yang lebih besar bagi masyarakat dalam menentukan waktu keberangkatan maupun kepulangan. KAI menilai peningkatan kapasitas Rangkasbitung Line sebagai investasi jangka panjang untuk mendukung mobilitas masyarakat dan pertumbuhan kawasan. Seiring berkembangnya pusat permukiman, kegiatan ekonomi, dan aktivitas sosial di sepanjang lintas tersebut, kebutuhan terhadap transportasi massal yang aman, andal, dan berkapasitas besar akan terus meningkat.
Okupansi Minim dan Terlalu Dekat dengan Stasiun Manggarai, Stasiun Mampang Nonaktif Secara Permanen

Penggabungan Stasiun Karet – BNI City Ditargetkan Beroperasi Akhir Tahun Ini, Ini Penjelasan Bos KAI

Jumlah penumpang pengguna transportasi Kereta Rel Listrik (KRL) kian meningkat. Terlihat pada masa padatnya angkutan tersebut tak hanya jam-jam aktivitas di hari biasa, namun terlibat juga pada akhir pekan. Salah satunya jalur yang dilintasi KRL berada pada lintas Manggarai – Sudirman – Tanah Abang. Ya, kawasan tersebut memang padat dengan masyarakat yang beraktivitas, karena berlokasi di kawasan perkantoran dan pusat perbelanjaan. Seperti halnya dengan stasiun yang kerap kali disambangi para penumpang KRL, karena aksesnya yang cukup mudah dan praktis yaitu Stasiun Sudirman, Stasiun Sudirman Baru (BNI City), dan Stasiun Karet. Mobilitas penumpang tak hanya sebagai masyarakat yang tiap harinya beraktivitas di kawasan tersebut, tetapi ada pulang penumpang yang bisa mengakses perjalanan KRL menuju maupun dari arah bandara. Ya, ramai di media sosial mengenai perencanaan stasiun tersebut untuk digabungkan sebagai akses naik dan turun penumpang KRL yakni Stasiun BNI City dengan Stasiun Karet. Terlihat bahwa kedua stasiun tersebut lebih dekat jaraknya bahkan berjalan kaki pun tak memakan waktu lama. PT Kereta Api Indonesia Persero (KAI) menyoroti hal tersebut yang nantinya akan dilakukan perubahan pada kedua stasiun ini. KAI menargetkan integrasi Stasiun BNI City dan Stasiun Karet akan resmi beroperasi pada akhir tahun ini. Direktur Utama PT KAI Bobby Rasyidin menjelaskan bahwa saat ini pihaknya tengah menyiapkan sejumlah sarana dan prasarana pendukung guna memastikan kenyamanan para penumpang KRL. sejumlah sarana dan prasarana yang tengah ditambahkan yakni pemasangan travelator. Hal itu dilakukan guna meningkatkan mobilitas para pejalan kaki. Bobby membocorkan target dioperasikan antara November – Desember. Diketahui sebelumnya, pembukaan integrasi Stasiun Karet dan Stasiun BNI City direncanakan beroperasi pada Desember 2025. Akan tetapi batal dijalankan karena mendapat sejumlah masukan dari para penumpang. Sementara KAI mengungkap pengintegrasian Stasiun Karet dan Stasiun BNI City dilakukan dalam rangka peningkatan efektivitas. Pasalnya, jarak antara Stasiun Karet dengan Stasiun BNI City dinilai terlalu dekat. KAI mengungkap, jarak antara Stasiun Karet dengan Stasiun BNI City yakni sekitar 2,9 kilometer sehingga bagi penumpang KRL yang ingin ke Karet dapat ditempuh dengan berjalan kaki. Integrasi Stasiun Karet dan BNI City menjadi salah satu kebutuhan yang dinantikan pengguna transportasi publik karena letak kedua stasiun yang berdekatan. Saat ini fasilitas fisik penghubung telah rampung, termasuk kanopi dan sistem ticketing. Namun, pembukaan fasilitas belum dilakukan karena pemerintah masih memastikan seluruh komponen siap dioperasikan. Penggabungan kedua stasiun ini dilakukan untuk mewujudkan kawasan berorientasi transit atau transit oriented development (TOD) Dukuh Atas yang akan mengintegrasikan empat moda transportasi berbasis rel.
Okupansi Minim dan Terlalu Dekat dengan Stasiun Manggarai, Stasiun Mampang Nonaktif Secara Permanen

Jejak 139 Tahun Kereta Api Taiwan: Merayakan Budaya, Pengabdian Sosial, hingga Strategi Bisnis “Lima Mutiara”

Perusahaan kereta api negara Taiwan, Taiwan Railway Corporation, resmi memperingati tonggak sejarah luar biasa dalam linimasa transportasi mereka dengan merayakan 139 tahun sejarah perkeretaapian di pulau tersebut pada Selasa, 9 Juni. Perayaan sakral yang dikemas dalam upacara Hari Kereta Api (Railway Day) ini digelar terpusat di ibu kota Taipei, serta dihadiri langsung oleh jajaran petinggi negara termasuk Perdana Menteri (Premier) Cho Jung-tai dan Menteri Transportasi Chen Shih-kai. Peringatan ke-139 tahun ini merujuk kembali pada titik awal peletakan batu pertama pembangunan jalur kereta api pertama di Taiwan yang diinisiasi pada tahun 1887 silam. Kini, dalam lanskap modernisasi modern, perkeretaapian Taiwan tidak lagi sekadar dipandang sebagai alat mobilisasi massa, melainkan telah berevolusi menjadi bagian tidak terpisahkan dari identitas budaya dan memori kolektif masyarakat setempat. Dalam pidato emosionalnya di acara perayaan tersebut, Perdana Menteri Cho Jung-tai membagikan kisah personalnya di mana ayah dan kakeknya merupakan pekerja setia di industri perkeretaapian, serta bagaimana jalur ikonik Tamsui Line dulunya berada tepat di depan pintu rumah masa kecilnya. Menurutnya, kereta api adalah sebuah layanan transportasi sekaligus sebuah simbol kebudayaan, yang dicontohkan secara nyata melalui popularitas hidangan kotak makan siang khas kereta Taiwan (Taiwan Railway boxed meals) yang melekat erat dalam kehidupan sehari-hari lintas generasi. Lebih dari sekadar urusan budaya dan logistik harian, PM Cho juga memberikan penghormatan tinggi atas dedikasi luar biasa para pekerja kereta api saat membantu penanganan bencana banjir danau bendungan Matai-an di Hualien County tahun lalu. Kala itu, ketika lebih dari 500.000 relawan berhamburan ke wilayah bencana, Taiwan Railway dengan sigap menambah jadwal perjalanan kereta ekstra guna mempercepat proses pembersihan, sebuah aksi heroik yang disebut Premier sebagai kontribusi terbesar bagi negara di masa kritis.
Taiwan High Speed Rail Corp Perkenalkan Rangkaian Kereta ‘Platypus’ Terbaru untuk Masa Depan Konektivitas
Menatap tantangan masa depan, Ketua Taiwan Railway Corporation, James Jeng, menegaskan bahwa cetak biru pengembangan jangka panjang perusahaan akan sangat bergantung pada keberhasilan mereka dalam mengaitkan faktor keselamatan operasional utama dengan strategi bisnis yang ia sebut sebagai “Lima Mutiara”. Formula lima mutiara tersebut mencakup optimalisasi pendapatan dari sektor transportasi penumpang, pengembangan aset properti di sekitar stasiun, ekspansi bisnis kuliner kotak makan siang, retail barang-barang merchandise resmi, serta penyediaan layanan pariwisata berbasis kereta api yang ramah pelancong. Transformasi komersial ini dibidik agar perusahaan negara tersebut dapat terus mandiri secara finansial tanpa harus mengorbankan standar keselamatan penumpang yang menjadi fondasi paling sakral dalam industri makro perkeretaapian global. Puncak upacara Hari Kereta Api ini juga diwarnai dengan penyerahan penghargaan prestisius kepada para pendukung setia, relawan lapangan, serta karyawan yang telah menunjukkan loyalitas luar biasa sepanjang tahun pelayanan. Tidak hanya berfokus di Taipei, kemeriahan pesta ulang tahun perkeretaapian ini turut dirayakan secara serentak di berbagai stasiun di seantero Taiwan. Berbagai aktivitas menarik digelar untuk memanjakan para pencinta kereta api (railfans) dan penumpang umum, mulai dari pagelaran pertunjukan musik lokal di area lobi stasiun hingga pameran miniatur serta model kereta api legendaris. Gelaran ini membuktikan bahwa setelah hampir satu setengah abad beroperasi sejak akhir abad ke-19, detak nadi kereta api Taiwan tetap melaju kencang menyongsong masa depan, menghubungkan kota, serta menyatukan hati masyarakatnya di sepanjang rel kehidupan.
Taiwan High Speed ​​Rail Terapkan Aturan ‘Tanpa Ampun’ Bagi Penumpang, Lebih Ketat dari Jepang!

Ini Alasan Mengapa KA Ciremai Makin Digemari Masyarakat, Simak Jawabannya Disini

Lintas selatan menuju utara maupun sebaliknya ternyata menjadi favorit masyarakat untuk melakukan perjalanan bersama kereta api. Selain itu, menggunakan kereta api ini cukup praktis karena memiliki 4 kali perjalanan dalam sehari. Salah satunya pada Kereta Api (KA) Ciremai yang menghubungkan antara Stasiun Bandung dengan Stasiun Semarang Tawang. Antusiasme masyarakat terlihat saat gunakan KA Ciremai ini tak hanya pada keseharian pada umumnya, melainkan pada libur akhir pekan dan libur panjang. Kereta api ini menjadi favorit perjalanan baik masyarakat Bandung maupun masyarakat Semarang dan sekitarnya yang ternyata memiliki potensi pada sektor pariwisata. Terutama pada akhir pekan yang menjadi momen paling dinantikan banyak orang untuk mengunjungi keluarga, menikmati suasana kota yang berbeda, menghadiri kegiatan pendidikan, menjalankan aktivitas usaha, atau berwisata. Kota Semarang yang tumbuh sebagai pusat pemerintahan dan perdagangan, Pekalongan dengan warisan batiknya, Tegal yang dikenal sebagai kota pesisir yang dinamis, Cirebon sebagai simpul budaya Pantura, hingga Bandung yang menjadi pusat pendidikan dan ekonomi kreatif, seluruhnya terhubung melalui layanan KA Ciremai. Data menyebutkan, sepanjang Januari hingga Mei 2026, KA Ciremai relasi Bandung – Semarang Tawang mencatat volume penumpang sebanyak 126.580 penumpang. Jumlah tersebut meningkat 9,02 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2025 yang mencapai 116.104 penumpang. Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba mengatakan bahwa pertumbuhan tersebut menunjukkan semakin kuatnya kebutuhan masyarakat terhadap layanan transportasi yang menghubungkan berbagai pusat aktivitas ekonomi, pendidikan, sosial, dan pariwisata di Pulau Jawa. KA Ciremai menunjukkan bahwa kebutuhan mobilitas antarkota terus meningkat. Layanan ini menghubungkan berbagai pusat aktivitas masyarakat di Jawa Tengah dan Jawa Barat dalam satu perjalanan yang efisien dan nyaman. Diketahui bahwa nama Ciremai diambil dari Gunung Ciremai, gunung berapi tertinggi di Jawa Barat yang berada di wilayah Kabupaten Kuningan dan Majalengka. Nama tersebut memiliki keterkaitan erat dengan Cirebon, salah satu kota penting yang disinggahi KA Ciremai dan sejak lama dikenal sebagai pusat perdagangan serta pertemuan budaya di pesisir utara Jawa. Berdasarkan publikasi Kota Semarang Dalam Angka 2025 yang diterbitkan Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah penduduk Kota Semarang mencapai sekitar 1,72 juta jiwa. Sebagai ibu kota Provinsi Jawa Tengah, Semarang berkembang sebagai pusat pemerintahan, perdagangan, jasa, industri pengolahan, logistik, dan pendidikan. Aktivitas ekonomi yang tinggi didukung oleh keberadaan Pelabuhan Tanjung Emas, kawasan industri, serta berbagai perguruan tinggi. Kota Lama Semarang, Lawang Sewu, Sam Poo Kong, dan Kampung Batik Semarang menjadi bagian dari identitas kota yang terus menarik kunjungan masyarakat dari berbagai daerah. Lalu berdasarkan Kota Pekalongan Dalam Angka 2025, jumlah penduduk Kota Pekalongan mencapai sekitar 319 ribu jiwa. Kota ini dikenal sebagai salah satu pusat industri batik terbesar di Indonesia dan telah tergabung dalam UNESCO Creative Cities Network sejak 2014. Industri kreatif berbasis batik berkembang berdampingan dengan sektor perdagangan dan jasa yang menjadi penopang utama perekonomian masyarakat. Kemudian untuk Kota Tegal Dalam Angka 2025, jumlah penduduk Kota Tegal mencapai sekitar 292 ribu jiwa. Letaknya yang strategis di jalur Pantura menjadikan kota ini berkembang sebagai pusat perdagangan, jasa, perikanan, dan aktivitas maritim. Tradisi teh poci, kuliner khas pesisir, serta kedekatannya dengan berbagai destinasi wisata di wilayah Tegal dan sekitarnya menjadikan kota ini salah satu tujuan perjalanan yang ramai sepanjang tahun. Kota Cirebon juga Dalam Angka 2025 menyebutkan jumlah penduduk Kota Cirebon mencapai sekitar 352 ribu jiwa. Kota ini menjadi pusat kawasan Ciayumajakuning yang meliputi Cirebon, Indramayu, Majalengka, dan Kuningan. Keraton Kasepuhan, Keraton Kanoman, Batik Mega Mendung, Empal Gentong, dan Nasi Jamblang merupakan bagian dari kekayaan budaya yang menjadikan Cirebon sebagai salah satu destinasi unggulan di Jawa Barat. Terlihat pula pada Kabupaten Purwakarta Dalam Angka 2025, jumlah penduduk Kabupaten Purwakarta mencapai sekitar 1,03 juta jiwa. Kabupaten ini berkembang sebagai kawasan industri manufaktur sekaligus tujuan wisata yang terus tumbuh. Taman Air Mancur Sri Baduga, Situ Buleud, serta berbagai destinasi alam di kawasan perbukitan menjadi daya tarik yang banyak dikunjungi masyarakat saat akhir pekan. Terakhir, berdasarkan Kota Bandung Dalam Angka 2025, jumlah penduduk Kota Bandung mencapai sekitar 2,58 juta jiwa. Kota ini dikenal sebagai pusat pendidikan, ekonomi kreatif, teknologi, perdagangan, dan pariwisata di Jawa Barat. Kehadiran berbagai perguruan tinggi, kawasan heritage Braga, Gedung Sate, pusat kuliner, pusat fesyen, hingga destinasi wisata Bandung Raya menjadikan kota ini sebagai salah salah satu tujuan perjalanan terbesar di Indonesia. Kehadiran KA Ciremai turut mendukung mobilitas masyarakat di kota-kota besar maupun wilayah penyangga yang berada di sepanjang lintasan. Akses transportasi yang terhubung secara rutin membantu memperlancar perjalanan pelajar, pekerja, pelaku UMKM, wisatawan, dan masyarakat yang melakukan perjalanan antardaerah untuk berbagai kebutuhan. Tentunya KAI akan terus menjaga kualitas layanan agar perjalanan penumpang berlangsung aman, nyaman, tepat waktu, serta mampu mendukung keterhubungan antardaerah yang semakin kuat. Serta konektivitas yang terbangun melalui layanan KA Ciremai, membantu memperluas akses masyarakat terhadap peluang pendidikan, usaha, pariwisata, dan berbagai aktivitas produktif lainnya.
KAI Luncurkan KA Blambangan Ekspres Rute Semarang Tawang – Ketapang, Tarif Promo Mulai Rp150.000