Libur Nataru di Semarang, Museum Lawang Sewu Jadi Sasaran Wisatawan

Berwisata ke Semarang tak sekadar mampir ke kawasan kota tua maupun icip-icip kuliner khas beraneka ragam. Perjalanan kereta api ke luar kota saat libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2025/2026 sudah menjadi tradisi untuk menghabiskan akhir tahun. Dengan suasana yang berbeda, masyarakat ingin merasakan liburan bersama kerabat maupun keluarga di kota yang terkenal dengan wingko babatnya ini. Sejumlah kereta api reguler maupun tambahan sudah tersedia sejak 18 Desember kemarin untuk tujuan maupun yang melewati Kota Semarang. Tiket kereta api yang dipesan pun hampir ludes terjual terutama menjelang akhir tahun 2025. Mulai dari ekonomi sampai dengan eksekutif dan kereta wisata turut menjadi sasaran masyarakat menuju Semarang. Nah, menurut kabar dari berbagai sumber mengatakan tak hanya wisata kota tua di kawasan Semarang yang menjadi vibes dan ikonik, namun wisata di lokasi ini cukup menarik minat wisatawan bahkan dalam dan luar negeri. Ya, siapa yang tak kenal dengan Museum Lawang Sewu. Menurut data sepanjang 2025, PT Kereta Api Indonesia Persero (KAI) melalui anak usahanya KAI Wisata mencatat sebanyak 568.075 pengunjung datang ke ikon Kota Semarang tersebut.
Museum Lawang Sewu saat malam hari yang terkesan sangat menawan. (Foto: Dok. Istimewa)
Dibangun pada 1904 sebagai kantor pusat Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij (NISM), Lawang Sewu menjadi saksi awal berkembangnya jaringan perkeretaapian di Indonesia yang menghubungkan Semarang dengan wilayah pedalaman Jawa. Nilai sejarah tersebut terus dihadirkan dalam format yang relevan dengan generasi masa kini. Hal ini menjadikan Lawang Sewu ruang belajar sekaligus ruang rekreasi yang inklusif. Dilansir dari berbagai sumber, KAI Wisata berkolaborasi dengan Jakarta Clothing dalam gelaran festival akhir tahun di Museum Lawang Sewu yang berlangsung pada Selasa (30/12/2025) hingga Minggu (4/1/2026). Festival itu memadukan budaya, kuliner, produk kreatif, dan hiburan musik, sehingga memperkaya pilihan aktivitas wisata bagi masyarakat yang berlibur ke Semarang. Panggung hiburan festival akan dimeriahkan oleh sejumlah musisi nasional, seperti Padi Reborn, Barasuara, dan Dendi Nata, serta penampilan special Glenn Fredly Live by Bakuucakar feat Ryan Ekky Pradipta bersama musisi internasional Hall of the Elder. Tiket festival dapat dipesan secara daring melalui loket.com. Penguatan destinasi wisata di Semarang ini berjalan seiring dengan meningkatnya mobilitas masyarakat pada masa angkutan Nataru. Diketahui bahwa Semarang tercatat sebagai salah satu tujuan favorit selama periode Nataru dengan Stasiun Semarang Tawang berada di 10 besar stasiun tujuan terpadat hingga Minggu (21/12/2025). Posisi itu menegaskan peran Semarang sebagai simpul wisata sejarah, budaya, dan aktivitas masyarakat di Pulau Jawa, dengan Museum Lawang Sewu menjadi salah satu magnet utamanya.
Liburan ke Semarang? Yuk, Wisata Edukasi KA ke Lawang Sewu dan Museum Ambarawa

Libur Nataru, KAI Siap Melayani Penumpang dengan Penuh Semangat

Semakin dekat dengan perjalanan liburan yang sangat dinanti masyarakat membuat transportasi umum khususnya kereta api jadi yang paling diminati. Terlihat dari stasiun-stasiun kereta api jarak jauh di Jakarta seperti Stasiun Gambir, Pasar Senen maupun Bekasi sudah terlihat keramaian penumpang yang bepergian ke luar kota. Berbagai bantuan di stasiun pun sudah sial membantu para penumpang sambut libur yang spesial ini. Bantuan yang dikerahkan oleh tim dari PT Kereta Api Indonesia Persero (KAI) tersebar di titik-titik penempatan di area stasiun. Terutama di lokasi dekat dengan area boarding pass maupun di tempat cetak tiket mandiri dan jadwal perjalanan kereta api. Periode Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2025-2026 memang menjadi momentum krusial bagi sistem transportasi berbasis rel ini. Tingginya arus mobilitas masyarakat membawa harapan besar terhadap kualitas layanan dan keselamatan perjalanan kereta api. Sebab, bila terjadi gangguan sedikit saja, dapat berdampak luas pada rangkaian perjalanan dan kepercayaan masyarakat. Berdasarkan survei Badan Kebijakan Transportasi Kementerian Perhubungan yang dilansir dari lama Detik, sekitar 3,94 juta orang diprediksi menggunakan kereta api jarak jauh pada periode Natal 2025 dan Tahun Baru 2026. Dalam menghadapi arus besar tersebut, dibutuhkan komitmen dan kesiapan tinggi PT Kereta Api Indonesia (KAI) sebagai operator layanan, dalam menjamin kelancaran, keselamatan, dan kualitas pengalaman perjalanan jutaan warga. Selain penumpang kereta api yang menjadi prioritas utama, kesiapan KAI tidak melulu pada aspek penambahan jumlah rangkaian perjalanan dan kualitas sarana prasarana. Namun, kemampuan KAI turut menjaga kepercayaan publik. Kepercayaan masyarakat bahwa perjalanan mereka aman, nyaman, tepat waktu, dan menyenangkan. Ini perlu menjadi pemahaman dasar dan prinsip yang harus diteguhkan bersama. Hal tersebut menjadi kerangka nilai dalam upaya meningkatkan kualitas layanan transportasi publik yang semakin melayani, terutama pada momentum arus perlajanan Nataru. Dalam kinerjanya, KAI dapat meningkatkan berbagai layanan dengan menjamin kebersihan, kenyamanan, ketepatan waktu, kesiapan fasilitas, kerapian petugas, perhatian pada pada kelompok rentan (lansia, anak, difabel), kemampuan mendengar keluhan, serta kecepatan memberi solusi saat terjadi gangguan. Dengan beban perjalanan yang meningkat, ruang toleransi terhadap kelalaian harus ditekan hingga titik zero tolerance. Momentum Nataru pun harus dijalankan dengan pola pikir pencegahan, yakni cepat membaca risiko, cepat merespons, dan konsisten meningkatkan layanan dan kepuasan pelanggan. Dengan demikian, perjalanan kereta api menuntut pada kolaborasi nyata, sebab keselamatan dan kelancaran perjalanan tidak pernah lahir dari satu pihak saja.
Mengenal Kereta Api Lokal yang Super Murah dan Wajib Kalian Tahu

Kelalaian Fatal di Udara: Air India Terbangkan Airbus A320 Delapan Kali Tanpa Izin Layak Terbang

Dunia penerbangan India kembali diguncang oleh skandal keselamatan yang melibatkan maskapai bendera nasionalnya, Air India. Baru-baru ini, maskapai milik grup Tata tersebut mengakui sebuah kelalaian serius di mana salah satu pesawat Airbus A320 miliknya tetap beroperasi secara komersial sebanyak delapan kali penerbangan, padahal masa berlaku lisensi kelayakan terbangnya (Airworthiness Review Certificate) telah habis. Insiden ini terungkap setelah pesawat dengan nomor registrasi VT-TQN tersebut menyelesaikan rangkaian penerbangannya pada tanggal 24 dan 25 November 2025. Ironisnya, pelanggaran ini tidak terdeteksi oleh sistem otomatis atau audit eksternal, melainkan baru disadari oleh seorang insinyur maskapai saat melakukan inspeksi rutin saat pesawat sedang beristirahat di malam hari. Penemuan ini segera memicu alarm bahaya di internal manajemen dan otoritas penerbangan sipil India, DGCA (Directorate General of Civil Aviation). Akar masalah ini bermula saat pesawat tersebut menjalani proses pergantian mesin. Selama masa perawatan di darat itu, masa berlaku sertifikat kelayakan terbangnya habis. Namun, karena koordinasi yang buruk di bagian operasional, pesawat justru dinyatakan siap terbang (released to service) setelah pergantian mesin selesai, tanpa ada yang menyadari bahwa dokumen legalitas keselamatannya sudah kedaluwarsa. Akibatnya, lebih dari 160 penumpang di setiap penerbangan tersebut dibawa terbang di atas pesawat yang secara hukum tidak memiliki sertifikasi keamanan yang sah. Menanggapi insiden yang mereka sebut sebagai peristiwa yang “sangat disesalkan” ini, manajemen Air India bertindak cepat dengan menonaktifkan seluruh personel yang terlibat dalam keputusan penerjunan pesawat tersebut. Maskapai juga melaporkan sendiri temuan ini kepada DGCA sebagai bentuk transparansi, meskipun mereka kini harus menghadapi ancaman denda yang sangat besar serta investigasi menyeluruh atas budaya keselamatan perusahaan. Otoritas penerbangan DGCA pun tidak tinggal diam. Mereka mengategorikan insiden ini sebagai pelanggaran “Level 1”, yang berarti sebuah kegagalan kritis yang secara langsung membahayakan keselamatan nyawa. Selain menginstruksikan pengandangan (grounding) pesawat secara permanen hingga investigasi selesai, DGCA juga mulai menyisir sistem manajemen pemeliharaan Air India untuk memastikan tidak ada celah serupa yang bisa membahayakan publik di masa depan. Kisah ini menjadi pengingat keras bagi industri penerbangan bahwa kecanggihan mesin jet sekalipun tidak ada artinya jika tidak dibarengi dengan ketelitian administrasi dan integritas operasional. Di dunia di mana keselamatan adalah harga mati, terbang tanpa lisensi bukan sekadar pelanggaran dokumen, melainkan sebuah pertaruhan nyawa yang tidak bisa ditoleransi.
Darurat Keselamatan Penerbangan: 38 Airbus A320 di Indonesia Wajib Grounding Akibat Isu Radiasi Matahari

Tragedi Akhir Tahun di Assam: Kereta Penumpang Tabrak Kawanan Gajah, 7 Ekor Tewas dan Gerbong Rusak Parah

Sebuah insiden memilukan terjadi di Negara Bagian Assam, India timur laut, pada Sabtu, 20 Desember 2025. Sebanyak tujuh ekor gajah dilaporkan tewas setelah sebuah kereta penumpang yang melaju kencang menghantam kawanan satwa dilindungi tersebut saat mereka sedang menyeberangi jalur rel. Peristiwa tragis ini terjadi di Distrik Jorhat, sebuah wilayah yang memang dikenal sebagai koridor migrasi gajah Asia. Menurut keterangan dari pejabat otoritas kehutanan dan perkeretaapian setempat, insiden berlangsung pada malam hari ketika jarak pandang terbatas. Kereta api penumpang yang sedang dalam perjalanan menuju stasiun tujuan tidak sempat melakukan pengereman darurat saat kawanan gajah tersebut muncul di lintasan. Kerasnya benturan mengakibatkan tujuh gajah tewas seketika di lokasi kejadian. Efek tabrakan tersebut juga berdampak fatal pada rangkaian kereta; bagian depan lokomotif mengalami kerusakan struktur yang serius, dan beberapa gerbong penumpang dilaporkan mengalami kerusakan teknis akibat guncangan hebat. Beruntung, tidak ada laporan korban jiwa dari pihak penumpang manusia, meskipun perjalanan kereta api di jalur utama tersebut terpaksa dihentikan total selama lebih dari 10 jam guna proses evakuasi yang sulit. Saksi mata di lokasi menggambarkan pemandangan yang menyedihkan, di mana sisa-sisa kawanan gajah yang selamat tampak tetap berada di sekitar lokasi selama beberapa saat sebelum akhirnya dihalau oleh petugas hutan. Kejadian ini memicu gelombang protes dari para aktivis lingkungan di India. Mereka mempertanyakan efektivitas sistem peringatan dini dan protokol batas kecepatan di zona sensitif satwa liar, terutama karena insiden ini terjadi di tengah klaim pemerintah mengenai peningkatan teknologi deteksi gajah berbasis AI. Pihak Perkeretaapian Frontier Timur Laut (NFR) menyatakan telah meluncurkan investigasi tingkat tinggi untuk menentukan apakah masinis melanggar aturan kecepatan yang ditetapkan untuk kawasan tersebut. Pemerintah negara bagian Assam juga berjanji akan melakukan audit menyeluruh terhadap titik-titik rawan di sepanjang rel yang melintasi hutan guna mencegah terulangnya tragedi serupa yang terus menghantui populasi gajah.
Cegah Gajah Tertabrak Kereta, India Hadirkan Sensor Pengaktif Lampu di Sepanjang Rel

Kilas Balik Kisah Drew: Bocah 12 Tahun asal Sydney yang ‘Bobol’ Kartu Kredit Ibu demi Liburan Mewah di Bali

Dunia sempat digemparkan oleh aksi nekat seorang bocah laki-laki berusia 12 tahun asal Sydney, Australia, yang hanya dikenal dengan nama samaran “Drew”. Bukan sekadar kabur dari rumah, pada bulan April 2018, Drew melakukan pelarian lintas negara yang terorganisir dengan sangat rapi—sebuah aksi yang lebih mirip adegan film Home Alone daripada kenyataan. Segalanya bermula dari sebuah pertengkaran keluarga. Setelah permintaannya untuk berlibur ke Bali ditolak mentah-mentah oleh sang ibu, Emma, Drew tidak lantas menyerah. Bagi Drew, kata “tidak” hanyalah tantangan. Ia pun mulai menyusun rencana pelarian paling ambisius yang pernah dilakukan seorang anak seusianya. Drew melakukan riset mendalam di internet untuk mencari celah dalam aturan penerbangan. Ia menemukan bahwa beberapa maskapai mengizinkan anak berusia 12 tahun ke atas untuk terbang tanpa pendamping orang tua, cukup dengan paspor dan kartu pelajar. Setelah mencuri kartu kredit ibunya dan mengelabui neneknya untuk menyerahkan paspornya, “Operasi Bali” resmi dimulai. Pagi itu, Drew berpamitan seperti biasa untuk pergi ke sekolah. Namun, alih-alih menuju halte bus sekolah, ia justru memacu skuternya ke stasiun kereta menuju Bandara Sydney. Di sana, ia menggunakan mesin self-check-in untuk menghindari tatapan penuh tanya dari petugas manusia. Drew berhasil terbang dari Sydney menuju Perth, lalu melanjutkan penerbangan internasional ke Denpasar. Hebatnya, sepanjang perjalanan, ia hampir tidak menemui hambatan. Petugas di Perth hanya menanyakan kartu pelajarnya untuk memastikan ia benar-benar duduk di bangku SMP. Sesampainya di Bali, ia dengan percaya diri melewati imigrasi dan mengklaim bahwa orang tuanya sudah menunggunya di luar bandara. Selama empat hari di Pulau Dewata, Drew menjalani hidup layaknya turis elit. Ia melakukan check-in di All Seasons Hotel dengan memberi tahu staf bahwa kakak perempuannya akan menyusul nanti. Selama di sana, ia menghabiskan uang sekitar 8.000 Dolar Australia (sekitar Rp84 juta) untuk menginap di hotel bintang empat, menyewa sepeda motor untuk berkeliling (meski ia belum cukup umur untuk memiliki SIM),mMakan di restoran-restoran enak. Bahkan, menurut laporan, ia sempat memesan bir hanya untuk sekadar mencicipi petualangan “orang dewasa”. Sementara Drew menikmati kolam renang, di Sydney, sang ibu sedang mengalami mimpi buruk. Polisi dikerahkan dan laporan anak hilang disebar. Namun, keberadaan Drew justru terbongkar lewat kecerobohannya sendiri. Ia mengunggah video dirinya yang sedang bersantai di Bali dengan fitur geotag lokasi yang aktif. Teman-temannya yang melihat video tersebut segera memberi tahu keluarga. Emma pun langsung terbang ke Bali untuk menjemput putranya. Saat akhirnya bertemu, Drew dengan santai mengatakan kepada media, “It was great because I wanted to go on an adventure.” Meski berakhir dengan keselamatan, kasus ini menjadi tamparan keras bagi otoritas bandara dan maskapai di Australia dan Indonesia. Banyak yang mempertanyakan bagaimana bisa seorang anak berusia 12 tahun menembus pengamanan internasional tanpa pengawasan orang tua. Sejak saat itu, banyak maskapai memperketat aturan mengenai Unaccompanied Minor (penumpang anak tanpa pendamping), memastikan bahwa petualangan nekat seperti yang dilakukan Drew tidak akan pernah semudah itu untuk terulang kembali.
Emirates Hadirkan Lounge Khusus Anak, Manjakan Si Kecil dalam Penerbangan Tanpa Pendamping

Hari Ini, 49 Tahun Lalu, DNA Pesawat Andalan Putin Ilyushin ‘Aerobus’ Il-86 Terbang Perdana

Pada hari ini, 49 tahun yang lalu, bertepatan dengan 22 Desember 1976 pesawat Ilyushin Il-86 terbang perdana. Sebagaimana pesawat buatan Rusia lainnya, itu tidak laku di pasaran dan hanya dipakai operator dalam negeri saja. Meski begitu, pesawat widebody pertama Rusia (Uni Soviet) itu menjadi cikal bakal dari pesawat andalan Presiden Putin, Ilyushin Il-96.

Baca juga: Hari Ini, 34 Tahun Lalu, Pesawat Ilyushin Il-96 Andalan Putin Terbang Perdana

Dihimpung dari airliners.net dan key.aero, ide awal pengembangan Ilyushin Il-86 muncul dari maskapai penerbangan nasional Uni Soviet, Aeroflot. Luasnya wilayah Uni Soviet dan gencarnya ekspansi maskapai di pasar domestik pada dekade 60-an, membuat armada Aeroflot tak lagi efektif untuk mendukung operasi.

Maskapai itu akhirnya meminta ke pemerintah dan diteruskan ke Ilyushin, Sukhoi, dan Tupolev, untuk mendukung rencana Aeroflot.

Ketika itu, Aeroflot meminta agar dibuatkan pesawat baru dengan kapasitas 250-300 penumpang, jangkauan terbang 3.600 km, berat maksimum lepas landas (MTOW) 40 ton, dan dapat beroperasi di landasan pacu (runway) tidak lebih dari 2.600 meter atau dengan kata lain bisa beroperasi di seluruh bandara yang ada di Uni Soviet.

Bak gayung bersambut, Ilyushin dengan cepat menangkap kebutuhan Eroflot dengan menawarkan program pengembangan pesawat widebody jarak jauh, Ilyushin Il-62. Aeroflot tentu saja menolak tetapi Ilyushin meyakinkan bahwa pesawat itu bisa sesuai dengan yang mereka inginkan.

Awalnya desain Il-62 hanya 250 penumpang tetapi Biro Desain Ilyushin menyebut bahwa pesawat akan diubah menjadi konsep double-deck atau konsep dual fuselage. Dua konsep itu diveto pemerintah dan memerintahkan langsung Ilyushin agar merancang desain pesawat baru berkapasitas 350 penumpang.

Pada 1971, Ilyushin mengusulkan program Il-86. Sebagian kecil rancangannya masih terinspirasi dari Il-62 dengan banyak pengembangan di dimensi, sayap, tailfin, dan lainnya.

Proyek Il-86 secara resmi diumumkan Dewan Menteri Uni Soviet pada tahun 1972. Saat itu, Il-86 disebut sebagai aerobus atau bus udara yang diklaim dapat beroperasi di bandara manapun di negara itu.

Sebagaimana namanya, aerobus Ilyushin Il-86 terinspirasi dari moda transportasi bus. Penumpang Il-86 nantinya tidak menggunakan garbarata untuk masuk ke kabin, melainkan melalui tangga internal pesawat, masuk ke kompartemen kargo dan meletakkan bagasi, lanjut naik melalui tangga internal pesawat ke kabin penumpang.

Setelah beberapa tahun, prototipe pertama Ilyushin Il-86, dengan registrasi CCCP-86000, sukses terbang perdana pada 22 Desember 1976 di lapangan udara Khodynka, Moskow, dengan dipimpin kepala pilot uji Eduard Kuznetsov. Tempat itu dahulu merupakan kantor pusat Ilyushin dan menjadi pabrik pembuatan pesawat eksperimental. Pesawat itu terus mengudara selama 40 menit sebelum mendarat di Zhukovsky, selatan Moskow.

Prototipe kedua, CCCP-86001 terbang pada 24 Oktober 1977. Pesawat itu akhirnya sukses dikirim ke Aeroflot pada 24 September 1979 dan melakukan penerbangan komersial perdana pada 26 Desember 1980 dari Moskow ke Tashkent.

Baca juga: Ilyushin Il-18 Coot. Pesawat Pertama Aeroflot yang Melayani Penerbangan Moskow – Jakarta

Seperti pesawat buatan Rusia lainnya, Il-86 tak laku di pasaran kecuali pasar domestik saja karena mesin boros dan bising serta sederet kekurangan lainnya. Sejak dekade 70an sampai 90an, hanya 106 unit yang diproduksi. 103 unit di antaranya digunakan di Uni Soviet dan tiga lainnya diekspor. Sampai tahun 2012 silam, masih ada empat Il-86 yang beroperasi bersama Angkatan Udara Rusia.

Meski gagal, Il-86 dijadikan dasar dari pengembangan pesawat Il-96 yang saat ini merupakan pesawat kepresidenan Rusia dan sering dipakai Presiden Putin.

Spesifikasi Il-86

Rentang sayap 157 kaki 7 inci (48,06 m)

Panjang 196 kaki 8 inci (59,94 m)

Tinggi 51 kaki 10 inci (15,81 m)

Diameter badan pesawat 19 kaki 11 inci (6,08 m)

Bobot kerja, kosong 258.970lb (117.500kg)

Pengambilan berat maksimum 473.860lb (215.000kg)

Kecepatan jelajah 486kt (900km/jam)

Jangkauan dengan muatan maksimal 1.944 nm (3.600 km)

Kapasitas penumpang maksimal 350 orang

Mesin turbojet Kuznetsov NK-86.

 

2x Seminggu, Scoot Buka Penerbangan Langsung Singapura – Labuan Bajo

Rute penerbangan langsung yang menghubungkan Singapura dan Labuan Bajo (LBJ) di Nusa Tenggara Timur (NTT) resmi dibuka dan mulai beroperasi melalui penerbangan perdana maskapai penerbangan Scoot pada Minggu, 21 Desember 2025. Pembukaan rute internasional ini menjadi langkah strategis dalam memperkuat konektivitas Labuan Bajo sebagai Destinasi Pariwisata Prioritas Nasional di kancah global. Selanjutnya, penerbangan rute Singapura–Labuan Bajo ini akan beroperasi dengan frekuensi dua kali seminggu menggunakan pesawat Embraer E190-E2. Sebagai satuan kerja di bawah Kementerian Pariwisata Republik Indonesia, Badan Pelaksana Otorita Labuan Bajo Flores (BPOLBF) memandang pembukaan rute ini sebagai momentum penting untuk mendorong peningkatan kunjungan wisatawan mancanegara, khususnya dari Singapura dan pasar global lainnya yang terhubung melalui hub Singapura. Bandara Changi Singapura sendiri dikenal luas sebagai salah satu hub penerbangan global utama dan gerbang penting kawasan Asia-Pasifik. Dengan konektivitas yang luas, Bandara Changi menjadi titik transit strategis bagi jutaan wisatawan internasional yang menuju berbagai destinasi dunia. Hadirnya penerbangan langsung Singapura–Labuan Bajo membuka akses ke pasar yang lebih luas sekaligus meningkatkan potensi Labuan Bajo untuk menjangkau wisatawan global secara lebih efisien.
Pelabuhan Labuan Bajo Masuk Proyek Kawasan Strategis Pariwisata Nasional

Siap-siap Jalur Cikarang Bakal Dilintasi KRL Baru, Begini Penjelasannya

Beroperasinya Kereta Rel Listrik (KRL) yang dibuat oleh anak bangsa yakni PT Industri Kereta Api (INKA) Madiun menambah daftar perjalanan di lintas Jabodetabek. Ya, KRL CLI 225 saat ini sudah beroperasi di lintas Jakarta – Bogor pp. Sebanyak 2 trainset yang masing-masing 12 kereta ini melintasi rute tersebut pagi hingga malam. Meski sudah mulai melayani penumpang limtas Bogor – Jakarta pp., namun KRL dari INKA ini masih terus diuji coba untuk trainset yang selanjutnya. Mengingat banyaknya masyarakat yang menggunakan KRL sebagai sarana transportasi yang terjangkau dan murah meriah. Apalagi menjelang Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2025/2026 antusiasme masyarakat menggunakan KRL semakin meningkat. Nah, beredar kabar dan informasi mengenai KRL dari INKA nantinya akan beroperasi di jalur Cikarang. Setelah dilakukan uji coba dan mendapatkan sertifikasi dari Direktorat Jenderal Perkeretaapian (DJKA) tentu KRL INKA ini akan beroperasi di jalur Cikarang tersebut. Sejauh ini KRL baru dari negeri tirai bambu ini sudah wara wiri ke jalur KRL khususnya Bogor dan Cikarang. Dalam hal ini Kereta Commuter Indonesia (KCI) bakal menargetkan dua trainset yang masih dalam proses sertifikasi akan beroperasi sebelum akhir 2025. Dengan begitu pengoperasian rangkaian baru ini dapat turut membantu pelayanan selama periode libur Natal dan Tahun Baru 2025/2026. Sementara itu terkait pengadaan 30 rangkaian kereta baru untuk memperkuat layanan KRL Commuter Line Jabodetabek yang dapat suntikan dana Rp5 triliun dari Presiden Prabowo Subianto, Karina masih belum bisa memberikan informasi apapun. Sebab saat ini rencana pengadaan sarana KRL baru itu masih dalam tahap kajian oleh PT KAI (Persero) selaku induk usaha. Presiden Prabowo sebelumnya telah menyetujui permintaan PT KAI untuk menambah 30 rangkaian kereta baru dengan anggaran Rp5 triliun. Prabowo menargetkan pengadaan KRL baru ini dapat terealisasi maksimal dalam waktu 1 tahun. Diketahui, PT Kereta Api Indonesia Persero (KAI) telah memesan 12 trainset dari INKA dan telah datang sebanyak empat trainset. Dua trainset di antaranya telah beroperasi, dan dua trainset sisanya masih dalam proses sertifikasi. Dalam waktu dekat rencananya KCI akan menambah operasional dua trainset baru lagi untuk melayani penumpang KRL.
Usianya Lebih dari Satu Abad, Stasiun Karawang Masih Terlihat Megah dan Makin Eksis

Yuk Jelajahi Stasiun di Kabupaten Kediri, Ada yang Hanya Persilangan Saja

Jalur kereta api di wilayah Daerah Operasi (Daop) 7 Madiun memang menawarkan beragam bangunan stasiun yang unik. Banyak diantaranya merupakan stasiun peninggalan jaman era kolonial. Tak heran, stasiun ini dinobatkan sebagai cagar budaya PT Kereta Api Indonesia Persero (KAI). Ya, jalur di kawasan Kediri raya ini tak sekadar bangunan kecil yang kokoh berdiri hingga saat ini. Beberapa stasiun kecil yang berada di Kediri raya juga disinggahi kereta api lokal yakni Kereta Commuter Line Dhoho/Penataran dengan rute Surabaya – Kertosono maupun sebaliknya. Namun dari beberapa stasiun tersebut tak semuanya disinggahi kereta lokal. Bahkan ada yang cuma berhenti menunggu persilangan kereta api dari arah berlawanan. Nah, kabatpenumpang akan merangkum stasiun mana saja yang masih di kawasan Kabupaten Kediri. • Stasiun Kras Stasiun kereta api kecil yang terletak di Desa Purwodadi, Kecamatan Kras, Kabupaten Kediri. Berada di ketinggian +75 meter di atas permukaan laut, Stasiun Kras termasuk dalam wilayah Daop 7 Madiun dan menjadi stasiun paling selatan di Kabupaten Kediri. Stasiun Kras terletak sekitar 200 meter dari Jalan Raya Kras, jalur utama yang menghubungkan Kediri dan Tulungagung. Lokasi strategis ini memudahkan akses warga sekitar yang ingin bepergian ke berbagai kota di Jawa Timur menggunakan layanan kereta api lokal. • Stasiun Ngadiluwih Stasiun kereta api kelas III yang terletak di Desa Ngadiluwih, Kecamatan Ngadiluwih, Kabupaten Kediri. Berada di ketinggian +78 meter di atas permukaan laut, Stasiun Ngadiluwih menjadi bagian penting dalam jalur kereta api lintas selatan Jawa Timur dan berada di bawah pengelolaan Daop 7 Madiun. Stasiun ini berjarak sekitar 230 meter dari Jalan Raya Kediri–Tulungagung, memudahkan akses kendaraan pribadi maupun angkutan umum. Lokasinya sangat strategis bagi masyarakat di wilayah selatan Kediri yang ingin bepergian ke berbagai kota besar di Jawa Timur. • Stasiun Kediri Stasiun kereta api kelas I yang terletak di Jalan Stasiun No. 1, Kelurahan Kampungdalem, Kecamatan Kota, Kota Kediri. Stasiun ini merupakan salah satu pusat transportasi penting di Jawa Timur, melayani berbagai rute kereta jarak jauh dan lokal. Stasiun ini berada di pusat kota, sangat dekat dengan Alun-Alun Kota Kediri, pusat perbelanjaan, hotel, serta fasilitas umum lainnya. Lokasinya yang strategis menjadikan Stasiun Kediri sebagai pilihan utama bagi wisatawan dan warga lokal yang bepergian dengan kereta api. • Stasiun Susuhan Susuhan adalah stasiun kereta api kecil (kelas III) terletak pada ketinggian +60 meter di atas permukaan laut ini berada di Desa Gampengrejo, Kecamatan Gampengrejo, Kabupaten Kediri. Meskipun kini sudah tidak lagi melayani naik-turun penumpang, Stasiun Susuhan tetap memainkan peran penting dalam kelancaran perjalanan kereta api lintas selatan Jawa Timur. Lokasi Stasiun Susuhan sangat strategis, hanya beberapa ratus meter dari Jalan Raya Kediri–Kertosono, serta dekat dengan fasilitas umum seperti Polsek Gampengrejo dan Kantor Pos Gampengrejo. Hal ini membuat stasiun ini tetap vital, meskipun sudah tidak lagi menjadi titik naik-turun penumpang. • Stasiun Minggiran Berada pada ketinggian +56 meter di atas permukaan laut, stasiun ini termasuk dalam wilayah Daerah Operasi VII Madiun. Meskipun saat ini tidak melayani naik-turun penumpang, Stasiun Minggiran memiliki peran penting dalam operasional kereta api di lintas selatan Jawa Timur. Lokasinya berada sekitar 75 meter ke arah tenggara dari Jalan Raya Kertosono–Kediri, menjadikannya mudah diakses dari jalan utama.
Stasiun Tulungagung, Dahulu Pernah Dilengkapi Turn Table Lokomotif

Selain Jalurnya yang Tertua, Dua Stasiun di Jalur Sukabumi – Cianjur Ini Juga Saksi Sejarah Terkenal di Era Kolonial

Bagi yang gemar healing naik kereta api dengan rute yang relatif terjangkau, rasanya memang patut dicoba jalur kereta api yang satu ini. Ya, digadang-gadang sebagai jalur tertua dengan rute Jakarta – Bandung banyak sekali bangunan di sekitarnya yang mampu menarik perhatian penumpang kereta api saat melihatnya. Misalnya bangunan stasiun yang saat ini dinobatkan sebagai cagar budaya dari PT Kereta Api Indonesia Persero (KAI) yang harus dilestarikan. Mengingat bangunan stasiun ini merupakan saksi bisu sejak era Kolonial Belanda. Proyek pembangunan jalur kereta api ini dilakukan oleh perusahaan kereta api milik negara, Staatsspoorwegen (SS), yang memulai pembangunan jalur ini secara bertahap. Pembangunan ini terbagi menjadi tiga tahap: 1. Buitenzorg – Cicurug (27 kilometer): Jalur ini dibuka pada 5 Oktober 1881. 2. Cicurug – Sukabumi (31 kilometer): Tahap kedua dibuka pada 21 Maret 1882. 3. Sukabumi – Cianjur (39 kilometer): Jalur ini resmi dibuka pada 10 Mei 1883. Pembukaan jalur Sukabumi – Cianjur bersamaan dengan diresmikannya Stasiun Cianjur yang mulai dibangun setahun sebelumnya. Jalur ini dikenal dengan medan yang menantang, karena harus melalui perbukitan dengan jalur yang berkelok-kelok. Salah satu infrastruktur yang paling terkenal dari pembangunan jalur ini adalah Terowongan Lampegan. Terowongan ini memiliki panjang 686 meter dan selesai dibangun pada tahun 1882. Terowongan ini menjadi ikon tersendiri di wilayah tersebut karena merupakan salah satu terowongan kereta api tertua di Indonesia. Nah, selain Terowongan Lampegan yang menjadi ikonik pembangunan infrastruktur sejak era Kolonial, tentunya ada stasiun yang menjadi paling terkenal di jamannya. Stasiun-stasiun ini adalah Cianjur dan Lampegan. Ternyata kedua stasiun ini dibangun pada tahun 1882 dan resmi dibuka untun umum bersamaan dengan dibukanya jalur kereta api Sukabumi – Cianjur pada tanggal 10 Mei 1883. Kedua bangunan stasiun ini menampilkan nuansa Eropa yang kental. Untuk Stasiun Cianjur terlihat lebih besar karena berada di pusat Kota Cianjur yang berjarak 500 meter dari pendopo atau pusat pemerintahan. Mengusung bangunan gaya Eropa terlihat dari tiang besi, pintu yang besar, dan berbagai bentuk arsitektur lainnya. Selain Stasiun Cianjur, ada pula Stasiun Lampegan. Stasiun ini terletak di Desa Cibokor, Kecamatan Cibeber, Kabupaten Cianjur. Stasiun ini memiliki peranan penting sebagai pusat pengiriman rempah-rempah. Selain berdekatan dengan terowongan, stasiun ini terkenal dengan wisata Situs Megalitikum Gunung Padang yang berjarak 8 kilometer dari Stasiun Lampegan.
Stasiun Lampegan tahun 1800-an. (Foto: Dok. IRPS)
Stasiun Lampegan sempat menjadi tempat pemberhentian terakhir kereta api lokal Cianjur dari arah Bandung. Kereta api tidak bisa diteruskan perjalanannya karena sempat adanya insiden longsor dibagian dalam terowongan. Sehingga Terowongan Lampegan ditutup sejak tahun 2001 hingga dilakukan renovasi besar-besaran dan bisa digunakan kembali sampai tahun 2010. Stasiun tersebut juga berperan sebagai sarana utama pengiriman rempah-rempah. Bahkan hingga tahun 70-an, terdapat jalur khusus yang menuju pabrik pengolahan rempah tersebut dari kawasan Kecamatan Cibeber dan Ciampea. Uniknya Stasiun Lampegan juga sempat memiliki turntable (pemutar lokomotif) berukuran kecil saat era lokomotif uap. Meskipun masa kejayaan stasiun ini hanya menjadi kenangan masa lalu, peran mereka sebagai bagian dari transportasi massal kereta api tetap berjalan. Tiang besi dan bagian bangunan stasiun yang telah tua namun tetap terawat akan tetap menjadi saksi bisu peran penting mereka dalam sejarah Cianjur.
Menikmati Perjalanan Kereta Api Tertua di Jawa Barat, Cuma Goceng