Resmi Berlaku! EU Entry/Exit System (EES) Mengubah Perjalanan ke Schengen: Siapa yang Terkena Dampak?

Uni Eropa telah meluncurkan Sistem Masuk/Keluar (Entry/Exit System – EES), sebuah sistem perbatasan digital baru yang akan secara fundamental mengubah cara warga negara non-UE bepergian ke Wilayah Schengen. EES adalah sistem TI otomatis yang dirancang untuk mendaftarkan warga negara non-UE, baik yang bebas visa maupun yang memerlukan visa jangka pendek, setiap kali mereka melintasi perbatasan eksternal dari 29 negara yang berpartisipasi di Eropa. Tujuan Utama EES adalah menggantikan cap paspor manual. EES secara bertahap akan menggantikan sistem lama pencap paspor manual. Dengan ESS dapat meningkatkan keamanan membantu mengidentifikasi pemalsuan dokumen dan pencurian identitas. ESS juga dapat melacak kepatuhan visa. Secara otomatis menghitung dan memantau masa tinggal 90 hari dalam periode 180 hari, sehingga lebih mudah mendeteksi orang yang overstay (melebihi batas waktu tinggal).
Perancis Mungkin Ubah Aturan Visa Schengen, Ini Dampaknya Bagi Pelancong!
Dalam jangka panjang, EES diharapkan dapat memperlancar dan mempercepat proses kontrol perbatasan. EES mulai diperkenalkan secara bertahap (phased implementation) sejak 12 Oktober 2025. Sementara implementasi penuh sistem ini dijadwalkan akan beroperasi penuh di semua titik perbatasan eksternal negara-negara partisipan pada 10 April 2026. EES berlaku untuk semua warga negara non-UE yang mengunjungi Wilayah Schengen untuk tinggal jangka pendek (maksimal 90 hari dalam periode 180 hari). Ini termasuk pelancong dari negara-negara yang dibebaskan visa (seperti Amerika Serikat, Inggris, Australia, Singapura, dll., dan juga Indonesia jika bepergian dengan visa Schengen). Pihak yang Dikecualikan adalahnwarga negara UE dan wilayah EEA (Islandia, Liechtenstein, Norwegia), kemudian [pemegang izin tinggal jangka panjang atau kartu penduduk yang dikeluarkan oleh negara UE/Schengen. Proses EES akan menggabungkan otomatisasi (kios layanan mandiri) dengan interaksi petugas perbatasan, terutama pada kunjungan pertama. Pada kunjungan pertama Anda ke Wilayah Schengen setelah EES berlaku.
Sebaiknya Anda Tahu, Tujuh Negara ini Dikenal Paling Sulit Mengeluarkan Visa untuk Pelancong

Fiks! Tahun 2027, KRL Akan Beroperasi di Bandung, Begini Rutenya

Kereta Rel Listrik atau dikenal sebagai KRL saat ini terus wara wiri melayani penumpang di Jabodetabek yang dikelola oleh PT Kereta Commuter Indonesia (KCI). Wilayah Jabodetabek ini melayani 5 rute KRL yang setiap harinya beroperasi, yaitu rute Bogor, Rangkasbitung, Tangerang, Tanjung Priok, dan Cikarang. Masyarakat pun dibuat mudah dalam menggunakan transportasi yang ramah lingkungan, praktis, dan efisien. Berbagai informasi mengenai transportasi KRL yang sangat terjangkau tersebut, ternyata ada pula yang beredar kabar soal elektrifikasi di wilayah lainnya. Tak lain dan tak bukan, pemerintah benar-benar serius akan membangun KRL di wilayah Bandung. Ya, wilayah yang termasuk Daerah Operasi (Daop) 2 Bandung, memang sudah melayani transportasi lokal yaitu Commuter Line Bandung Raya dengan rute Padalarang – Bandung – Cicalengka pp. Perjalanan kereta lokal tersebut melayani setiap harinya mulai dari pagi hari hingga tengah malam. Namun untuk rangkaian kereta ini masih membutuhkan sarana penarik rangkaian kereta yakni lokomotif. Seperti diketahui, tak hanya untuk sarana angkutan perkotaan saja, Commuter Line Bandung membutuhkan lokomotif. Tapi tak menutup kemungkinan, untuk perjalanan Kereta Api Jarak Jauh (KAJJ) pun tetap dibutuhkan, apalagi saat momen libur panjang. Nah, dari situlah pemerintah memfokuskan sarana KRL harus beroperasi di Daop 2 Bandung tersebut. Menurut Menteri Perhubungan, Dudy Purwagandhi, untuk proyek elektrifikasi perkotaan Bandung Raya itu, pihaknya membutuhkan waktu dua tahun untuk merealisasikannya. Saat ini, jalur eksisting-nya baru dilayani KA Commuter Line Bandung Raya dengan sarana peruntukan kereta jarak jauh. Dengan elektrifikasi, KRL (Kereta Rel Listrik) Bandung Raya siap beroperasi. Dan Kemenhub sepakat akan melakukan elektrifikasi jalur Padalarang-Cicalengka tersebut. Proyek elektrifikasi sepanjang 42 Km itu ditargetkan rampung pada 2027. Harapannya nanti masyarakat Jabar, khususnya di Bandung, yang semula jarak tempuh 40 Km ditempuh 2 jam, bisa hanya 1 jam. Stasiun-stasiun yang nantinya dilewati oleh KRL pada rute Bandung Raya ini adalah sebagai berikut:
Stasiun Bandung.
– Stasiun Padalarang – Stasiun Gadobangkong – Stasiun Cimahi – Stasiun Cimindi – Stasiun Andir – Stasiun Ciroyom – Stasiun Bandung – Stasiun Cikudapateuh – Stasiun Kiaracondong – Stasiun Gedebage – Stasiun Cimekar – Stasiun Rancaekek – Stasiun Haurpugur – Stasiun Cicalengka Selain itu, Pemprov Jabar memiliki komitmen mempercepat pembangunan infrastruktur, khususnya mereaktivasi kereta api. Yang sudah disepakati tadi oleh Kemenhub dan PT KAI jalur dari Padalarang ke Cicalengka. Proyek KRL Bandung Raya sebenarnya juga sudah masuk dalam Rencana Induk Perkeretaapian Nasional (RIPNAS), Direktorat Jenderal Perkeretaapian (DJKA) Kemenhub yang dirancang untuk direalisasikan hingga tahun 2030. Dalam dokumen RIPNAS tersebut, DJKA Kemenhub merancang proyek jalur ganda (double track), sekaligus elektrifikasi jalur kereta api pada lintas Padalarang (Kabupaten Bandung Barat)–Bandung (Kota Bandung)–Cicalengka (Kabupaten Bandung).
Enggak Mau Desak-desakan? Yuk, Ikuti Tips Naik KRL di Jam Paling Sibuk Agar Tetap ‘Survive’

Hari Ini, 53 Tahun Lalu, Tragedi Miracle of the Andes dan Aksi Kanibalisme 16 Penumpang Selamat Terjadi

Pada hari ini, 53 tahun lalu, bertepatan dengan 13 Oktober 1972, kecelakaan pesawat Fairchild Uruguayan Air Force flight 571, terjadi. Pesawat yang disewa tim rugby ini kecelakaan usai menabrak Pegunungan Andes sebelum jatuh di lembah terpencil dan menewaskan 29 dari 45 penumpang. 

Baca juga: Dikira Tewas Kecelakaan Pesawat, Pilot Brasil Selamat Usai 38 Hari Terjebak di Hutan Amazon


Ajaibnya, penumpang yang selamat berhasil bertahan hidup selama dua bulan sebelum diselamatkan petugas pada 22 Desember, sekalipun dengan cara memakan mayat korban tewas.

Dilansir Britannica, tragedi, yang juga disebut Miracle of the Andes atau El Milagro de los Andes dalam bahasa Spanyol, bermula saat tim rugby Old Christians Club menyewa pesawat untuk penerbangan dari Montevideo, Uruguay, ke Santiago, Chili.

Pada 12 Oktober, pesawat turboprop Fairchild bermesin ganda meninggalkan Bandara Internasional Carrasco, dengan membawa 40 penumpang, terdiri dari pemain, staf, keluarga, serta guide, dan lima kru. Total ada 45 orang.

Berhubung cuaca buruk terjadi saat mendekati Pegunungan Andes, pesawat mendarat di Mendoza, Argentina. Melihat peta, sebetulnya jarak antara Mendoza dengan Santiago sangat dekat. Hanya saja, keduanya dipisahkan Pegunungan Andes.

Karena pesawat yang digunakan tak didesain terbang melebihi ketinggian pengunungan itu sendiri di angka 6.900 meter, pilot pun memillih jalar memutar lewat selatan ke Pass of Planchón, melewati celah tebing Pegunungan Andes dan memutar balik dengan aman menuju Santiago.

Sekitar pukul 3 waktu setempat di hari berikutnya atau pada 13 Oktober, pilot melapor ke ATC bahwa mereka sudah mencapai Curicó, Chili, 178 km di selatan Santiago. Pilot menyebut mereka sudah berhasil melewati tebing dan berada segaris lurus dengan Santiago di utara. Dengan laporan itu, ATC pun mengizinkan kru menurunkan ketinggian untuk persiapan approach. Sayangnya itu keliru.

Pukul 3.30 sore waktu setempat, pesawat tak bisa dihubungi dan diyakini mengalami kecelakaan. Pencarian pun dilakukan. Dasarnya adalah lokasi terakhir yang dilaporkan pilot, di sekitar Curicó.

Ini yang menjadikan proses pencarian sangat sulit. Setelah delapan hari, pencarian dihentikan karena nihil. Tak ada jejak apapun. Ini tentu wajar mengingat lokasi pencarian keliru mengingat lokasi kecelakaan sebetulny adalah di lembah terpencil di perbatasan Argentina dan Chili. Sudah begitu, salju turun sepanjang hari dan mempersulit pencarian pesawat yang juga berwarna putih.

Saat pencarian dihentikan, sebetulnya, jumlah penumpang selamat mencapai 33 orang dan korban tewas sebanyak 12 orang. Tetapi, di tengah cuaca ekstrem di Pegunungan Andes di ketinggian 3.500 meter di atas permukaan laut dan memang sedang memasuki musim dingin mulai Oktober sampai akhir Desember, satu per satu korban selamat berguguran.

Seminggu pertama, 33 korban selamat itu bertahan hidup di sekitar lokasi kecelakaan dengan perbekalan yang ada, permen, anggur, dan lainnya. Setelah itu semua habis, barulah aksi kanibalisme oleh korban selamat terhadap korban tewas terjadi.

Pada tanggal 29 Oktober, kesaksian korban selamat menyebut, dari semula 33 orang selamat menjadi tinggal 19. Pada tanggal 12 Desember, itu berkurang menjadi 16 orang.

Sadar kondisi tak akan berubah, tiga korban selamat pun bergerak mencari bantuan. Tetapi, itu menjadi dua lantaran satu lainnya balik ke lokasi semula. Setelah melewati perjalanan sulit, mereka pun berhasil bertemu dengan tiga penggembala di desa Los Maitenes, Chili, pada 20 Desember.

Namun, orang Chili berada di seberang sungai, yang suaranya membuat sulit mendengar. Tetapi, para penggembala berjanji balik lagi keesokan harinya.

Baca juga: Viral! Usai Tewas dalam Kecelakaan Pesawat 45 Tahun Lalu, Kakek ini Pulang ke Rumah

Pagi-pagi keesokan harinya, orang-orang Chili muncul kembali, dan kedua kelompok berkomunikasi dengan menulis di atas secarik kertas yang dililitkan ke batu dan melemparkannya ke air. Salah satu bunyi catatannya ialah, “Kami datang dari pesawat yang jatuh di pegunungan.”

Pihak berwenang diberitahu dan pada 22 Desember dua helikopter dikirim ke lokasi. Enam orang yang selamat diterbangkan ke tempat yang aman, tetapi cuaca buruk menunda delapan orang lainnya untuk diselamatkan sampai hari berikutnya.

 

Stasiun Kras Kediri: Bangunan Peninggalan Belanda yang Masih Kokoh

Satu lagi stasiun yang masih kokoh dan aktif di wilayah Daerah Operasi (Daop) 7 Madiun yang satu ini. Meski memiliki bangunan kecil, namun stasiun ini tetap melayani penumpang khususnya kereta lokal seperti Commuter Line Dhoho. Ya, Stasiun Krss merupakan adalah stasiun kereta api kelas III/kecil yang terletak di Purwodadi, Kabupaten Kediri. Stasiun ini berada pada ketinggian +75 meter dan merupakan stasiun yang berada paling selatan di Kabupaten Kediri. Lokasi stasiun ini juga berada di sebelah barat Balai Desa Kras, atau berjarak sekitar 200 m dengan Jalan Raya Kediri-Tulungagung.
Stasiun Kras. (Foto: Dok. Istimewa)
Stasiun Kras hanya memiliki dua jalur aktif yang tersedia tentunya untuk persilangan kereta api. Sistem persinyalan di stssiun ini masih menggunakan mekanik dengan bangunan stasiun yang terlihat masih asli sejak era kolonial Belanda. PT Kereta Api Indonesia Persero (KAI) tentu menjaga keaslian bangunan tersebut dan merupakan cagar budaya yang harus dilestarikan. Sejarah perkeretaapian menyebutkan bahwa Stasiun Kras dibangun pada era kolonial Belanda, tepatnya bersamaan dengan pengembangan jalur kereta api Kediri – Tulungagung – Blitar oleh perusahaan Staatsspoorwegen (SS) pada tahun 1883–1884. Jalur ini diresmikan pada 16 Mei 1884 dan menjadi bagian penting dari jalur kereta api lintas timur Jawa, yang dikenal dengan proyek Oosterlijnen. Bangunan asli Stasiun Kras mencerminkan arsitektur kolonial Belanda yang sederhana namun kokoh. Walaupun kini tampil lebih modern, sebagian karakteristik peninggalan sejarah masih dapat ditemukan di beberapa bagian stasiun. Sebagai stasiun kecil, fasilitas di Stasiun Kras cukup sederhana namun memadai untuk kebutuhan perjalanan kereta api lokal, salah satunya memiliki lahan parkir yang luas. Selain itu ruang tunggu untuk penumpang pun di buat nyaman dengan standar stasiun kecil pada umumnya. Meski Stasiun Kras tergolong sebagai stasiun kelas III atau stasiun keci, namun keberadaannya masih beruntung bila dibandingkan dengan stasiun kecil lainnya. Karena di stasiun ini masih terdapat satu kereta api yang singgah melayani penumpang di stasiun ini, yaitu KA Dhoho. Sehingga, aktivitas menaikkan maupun menurunkan penumpang di stasiun ini masih menghiasi aktivitas stasiun ini dalam kesehariannya.
Stasiun Blitar, Sejarah Panjang dari Fokker Hingga Soekarno

Porsi Makanan di Pesawat Tak Cukup? Jangan Khawatir, Bisa Nambah Asal Sopan

Dengan dibantu oleh para ilmuwan makanan dan koki berbakat dalam mengelola makanan, maka kualitas hidangan di dalam kabin pesawat kini semakin baik. Namun sayang, porsi makanan di pesawat terbilang ngepas bagi ukuran orang kebanyakan. Baca juga: Pasta? No, Nasi Goreng? Yes, Untuk Disantap di Kabin Pesawat Dengan porsi yang tak seusai, terkadang ada saja penumpang yang ingin memakan lebih banyak dari porsi yang lainnya. Namun, apakah penumpang boleh meminta makanan lebih, makanan yang di panaskan atau tambahan cemilan? KabarPenumpang.com merangkum dari laman stuff.co.nz, bahwa meminta tambahan makanan adalah hal yang lumrah dan beberapa maskapai penerbangan akan mengiyakan permintaan penumpang tesebut. “Jika seorang penumpang meminta tambahan makanan, baik itu kue pretzel, es krim atau apapun, kami akan selalu mencoba mengakomodasi,” kata juru bicara Virgin Atlantic. Juru bicara tersebut menambahkan, untuk makanan panas pihaknya bisa saja memberi, jika ada makanan yang baru dan sisa. “Bahkan di akhir layanan, kami selalu menawarkan kepada penumpang.” British Airways yang kini tidak lagi memberikan makanan gratis pada penerbangan jarak pendek memiliki kebijakan yang sama dengan Virgin Atlantic untuk penerbangan jarak jauhnya. “Saat penumpang kami meminta tambahan makanan ke awak kabin, sebisa mungkin kami akan mengakomodasinya jika itu masih tersedia,” ujar British Airways. Sedangkan juru bicara Aeroflot mengatakan, permintaan makanan tambahan dari penumpang tidak di tolak. Bahkan penumpang yang meminta akan diberikan satu dan itu pun tergantung ketersediaan yang ada di kabin. Stephan Segraves seorang co-host dari Podcast mengatakan saat dirinya meminta tambahan makanan ketika awak kabin selesai dengan pelayannya. “Saat saya meminta tambahan, mereka biasanya sedikit terkejut dan bahkan berkata kepada saya ‘Anda yakin ingin detik ini juga?’ Tetapi itu semua harus dan wajib mereka berikan,” jelas Segraves. Serupa dengan Segraves, Nik Loukas seorang pemilik blog InFlightFeed menambahkan, dirinya pernah meminta tambahan makanan dikarenakan cukup lapar atau porsi yang diberikan sedikit. Dia mengaku, untuk meminta makanan tambahan tersebut selalu bertanya dengan sopan pada awak kabin. “Saya belum pernah mendapat jawaban tidak dari awak kabin ketika meminta tambahan makanan. Jangan malu jika masih lapar untuk meminta lebih banyak dari porsi kalian,” ujar Nik. Hal ini sebenarnya bisa mengurangi sampah makanan pesawat dan membuat bumi lebih sehat dimana makanan tambahan di pesawat bisa memiliki manfaat pada lingkungan. Selain itu juga menghemat pengeluaran para penumpang, sebab biasanya menambah makanan tidak akan dikenakan biaya tambahan. Baca juga: Soal higienis? Makan di Kereta dan Pesawat Tak Jauh Berbeda Sebagai penumpang yang memiliki sopan santun, baiknya tidak masuk ke dapur pesawat dengan seenaknya untuk mencari makanan tamahan. Hal tersebut akan membuat awak kabin marah dan menganggu pekerjaan mereka. “Baiknya meminta makanan dengan sopan dan jangan masuk ke dapur kabin dengan seenaknya mencari makanan sendiri, karena ada makanan tambahan gratis yang bisa kami sediakan. Jika penumpang mendatangi saya dan bertanya tentang tambahan, saya akan memberi mereka apapun yang tersedia. Maka jaga sopan santun sebagai penumpang,” ujar Nuralia Mazlan seorang awak kabin.

Selain Kenyamanan, Ini Alasan Lainnya KAI Perbanyak Kelas Ekonomi New Generation

Menggunakan Kereta Api Jarak Jauh (KAJJ) khususnya kelas ekonomi rasanya sudah sangat diperlukan dengan tingkat kenyamanan. Bagaimana tidak, masyarakat yang biasa menggunakan kereta api (KA) untuk perjalanan jauh kini sudah semakin terlihat antusiasmenya. Terlebih saat ini fasilitas kereta api pun sudah sangat diperhatikan khususnya pada kelas ekonomi. Nah, siapa yang tak mau menggunakan KAJJ untuk kelas ekonomi tapi fasilitas layaknya eksekutif? Ya, seperti halnya kelas ekonomi New Generation yang satu ini. PT Kereta Api Indonesia Persero (KAI) saat ini memiliki dua tipe kereta kelas ekonomi New Generation, yaitu versi modifikasi dari Balai Yasa Manggarai dan buatan PT Industri Kereta Api (INKA), Madiun. Keduanya memiliki kenyamanan yang sama meskipun berbeda produksinya.
Serupa Tapi Tak Sama. Inilah Perbedaan Kelas Ekonomi New Generation Buatan Balai Yasa Manggarai dan INKA
Selain itu, seluruh kursi pada interiornya kini tersusun searah dengan jalannya kereta, sehingga tidak ada lagi pengalaman duduk mundur. Inovasi tersebut diharapkan membuat perjalanan menjadi lebih nyaman bagi pelanggan kelas ekonomi. Tentunya pembaruan ini merupakan bagian dari transformasi layanan. Saat ini, sejumlah kereta telah menggunakan rangkaian Ekonomi New Generation Modifikasi di berbagai rute utama. Beberapa di antaranya ialah KA Blambangan Ekspres, Dharmawangsa Ekspres, Joglosemarkerto, dan Brantas. Selain itu, KA Pangrango, Ranggajati, Kamandaka, dan Pasundan juga telah beroperasi dengan rangkaian baru tersebut. Sementara itu, KAI juga mengoperasikan layanan Ekonomi Stainless Steel New Generation untuk meningkatkan kualitas transportasi. Jenis rangkaian ini sudah digunakan pada KA Lodaya, Gumarang, Majapahit, serta sejumlah layanan lain di jalur strategis. Langkah ini menunjukkan perluasan implementasi teknologi kenyamanan bagi perjalanan jarak menengah hingga jauh. Dari segi kenyamanan tentu ada harga tiket yang wajar. Perjalanan jarak jauh baik menggunakan ekonomi New Generation modifikasi maupun Stainless Steel memiliki harga yang tak jauh berbeda tergantung dari rute perjalanan yang ditempuh. Tentunya, sejauh ini kereta api jarak jauh selalu memberikan kenyamanan dalam pelayanannya. Pelanggan yang setia menggunakan kereta api pun menyambut positif peningkatan layanan tersebut. Mereka menilai transformasi yang dilakukan KAI memberikan pengalaman perjalanan yang lebih baik bagi penumpang ekonomi. Yang pasti, KAI terus berkomitmen menjawab kebutuhan transportasi masa kini yang nyaman, aman, dan sesuai standar modern. Kedepannya KAI akan terus perbanyak kelas ekonomi New Generation untuk kenyamanan bersama.
Bye bye Kursi Tegak! Mulai 28 September 2025 KA Matarmaja Ganti Rangkaian Jadi Ekonomi New Generation

Beda Stasiun Purwosari (Solo) dan Purwoasri (Kediri): Jangan Sampai Salah Beli Tiket Kereta!

Ada bermacam – macam keunikan nama stasiun di jalur Jawa dan Sumatera. Bahkan ada pula stasiun yang sama persis namanya namun berbeda lokasinya. Ya, perbedaan nama stasiun yang hampir mirip ini sudah tak heran lagi. Seperti halnya stasiun yang akan kabarpenumpang bahas kali ini, yaitu Stasiun Purwosari dan Stasiun Purwoasri. Kedua nama stasiun itu memang jelas berbeda dari segi penulisan maupun lokasinya, tapi hampir mirip jika dalam penyebutan. Selain itu, kedua stasiun ini pun dari segi bangunannya berbeda tapi sama – sama dibangun pada masa era kolonial Belanda. Apalagi wilayah operasional yang dikelola oleh PT Kereta Api Indonesia Persero (KAI) pun berbeda. Nah, kita bahas satu – satu persatu, yuk.
Kereta api commuter line Dhoho memasuki Staisun Purwoasri. (Fotot: Dok. Facebook/Riyan Aditya)
• Stasiun Purwosari (PWS) Stasiun ini berada di wilayah Daerah Operasi (Daop) 6 Yogyakarta. Stasiun ini berada satu petak dengan Stasiun Solo Balapan yang juga merupakan stasiun percabangan menuju Wonogiri menggunakan Kereta Perintis Bathara Kresna. Beberapa Kereta Api Jarak Jauh (KAJJ) pun berhenti di stasiun ini termasuk Kereta Commuter Line Yogyakarta menggunakan Kereta Rel Listrik (KRL). Dari segi sejarah, Stasiun Purwosari pun menyimpan sejarah yang menarik. Stasiun ini didirikan pada 1875 di lahan yang dihadiahkan Mangkunagara IV dan menjadi stasiun tertua kedua di Surakarta, awalnya melayani jalur trem kuda milik Solosche Tramweg Maatschappij (SoTM). Stasiun ini kemudian diakuisisi NISM (Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij) dan menjadi bagian dari jalur kereta api antar kota. Stasiun yang memiliki desain arsitektur bergaya klasik kolonial ini, juga memiliki beberapa renovasi modern untuk memastikan kenyamanan pengguna. Fasilitas yang tersedia mencakup ruang tunggu nyaman, area parkir luas, loket tiket kereta, toilet bersih, serta mushola. Hingga kini, stasiun ini tetap beroperasi menjadi pemberhentian kereta api kelas ekonomi yang melewati jalur selatan setelah Stasiun Solo Jebres dijadikan cagar budaya oleh Pemerintah Surakarta. • Stasiun Purwoasri (PWA) Berada di wilayah Daerah Operasi (Daop) 7 Madiun, Stasiun Purwoasri merupakan jalur kereta api yang menghubungkan dari Stasiun Kertosono menuju Stasiun Malang dan berakhir di percabangan Stasiun Bangil. Berbeda dari Purwosari, stasiun dengan bangunannya yang kecil dan hanya memiliki dua jalur aktif yang tersedia. Meskipun termasuk stasiun kecil, Stasiun Purwoasri yanh berada di Kabupaten Kediri ini tetap memainkan peran penting dalam perjalanan kereta api di lintas selatan Jawa Timur. Sistem persinyalan disini pun masih menggunakan mekanik (manual). Jadi makin terlihat keasliannya, kan sejak digunakan pada masa kolonial Belanda. Sejak dibuka, stasiun ini berfungsi sebagai tempat pemberhentian kereta api lokal maupun jarak jauh yang melayani rute Kediri dan sekitarnya. Bangunan stasiun mempertahankan gaya arsitektur klasik sederhana, dengan peron yang memadai untuk mendukung aktivitas naik-turun penumpang. Beberapa layanan kereta api yang berhenti di Stasiun Purwoasri Kediri meliputi: Commuter Line Dhoho: Menghubungkan Blitar – Kediri – Kertosono – Surabaya, serta Commuter Line Penataran: Melayani rute Blitar – Malang – Surabaya Kota. Jadi meskipun memilki bangunan yang kecil dan sederhana, Stasiun Purwoasri tetap diminati warga yang bepergian dengan kereta api. Nah, itulah perbedaan antara Stasiun Purwosari dengan Stasiun Purwoasri yang berbeda wilayah namun hampir mirip pada penyebutannya. Bagaimana, sudah memahami perbedaannya, kan?
Merasa Jenuh? Yuk Kunjungi Destinasi Wisata Menarik Dekat dengan Stasiun Purwosari

LRT Jabodebek Pecahkan Rekor! Penumpang Tembus 7,7 Juta di Triwulan III 2025, Naik 15,6%

Jumlah pengguna LRT Jabodebek terus menunjukkan tren peningkatan positif. Sepanjang Triwulan III 2025, tercatat sebanyak 7.729.511 pengguna telah memanfaatkan layanan LRT Jabodebek. Angka ini naik 15,6% dibandingkan Triwulan II 2025 dengan 6.689.120 pengguna, serta meningkat 21,7% dibandingkan Triwulan I 2025 yang mencatat 6.351.283 pengguna. Kenaikan ini menunjukkan semakin tingginya kepercayaan masyarakat terhadap transportasi publik modern yang membantu mobilitas harian dengan lebih efisien, nyaman, dan ramah lingkungan. Peningkatan jumlah pengguna ini sejalan dengan optimalisasi operasional LRT Jabodebek yang dilakukan KAI. Sejak Maret 2025, jumlah trainset yang dioperasikan bertambah dari 20 menjadi 22 trainset, sehingga frekuensi perjalanan naik dari 348 menjadi 366 perjalanan per hari. Optimalisasi berlanjut pada Juli 2025, dengan pengoperasian 24 trainset dan total 396 perjalanan per hari, untuk menyesuaikan kebutuhan masyarakat yang terus meningkat. Pertumbuhan jumlah pengguna terus terlihat konsisten. Pada Juli 2025, rata-rata pengguna harian mencapai 102.353 pengguna di hari kerja dan 47.265 pengguna di akhir pekan. Bahkan pada 1 Juli 2025 KAI mencatat rekor tertinggi sejak beroperasi yaitu 118.114 pengguna dalam satu hari, yang menjadi bukti nyata bahwa layanan ini semakin dipercaya masyarakat. Sementara itu, pada Agustus 2025, rata-rata pengguna harian LRT Jabodebek mencapai 101.538 orang pada hari kerja dan 47.020 orang di akhir pekan. Pada September 2025, tercatat rata-rata 99.060 pengguna di hari kerja dan 41.006 pengguna di akhir pekan. Angka tersebut mencerminkan antusiasme masyarakat yang terus tinggi dalam memanfaatkan layanan LRT Jabodebek sebagai bagian dari aktivitas harian mereka. Executive Vice President LRT Jabodebek Mochamad Purnomosidi menyampaikan apresiasi kepada seluruh pengguna atas kepercayaan dan dukungan yang diberikan. “Peningkatan ini adalah cerminan dari kepercayaan masyarakat terhadap layanan LRT Jabodebek. Kami terus berupaya menghadirkan perjalanan yang aman, nyaman, dan tepat waktu, agar setiap pengguna dapat merasakan manfaat transportasi publik modern yang efisien dan terpercaya,” ujar Purnomosidi. KAI akan terus meningkatkan kualitas layanan LRT Jabodebek, baik dari sisi operasional maupun fasilitas di stasiun dan kereta. Setiap langkah pengembangan yang dilakukan bertujuan agar LRT Jabodebek semakin dekat dengan masyarakat dan menjadi pilihan mobilitas sehari-hari. “Kami ingin LRT Jabodebek tidak hanya menjadi moda transportasi yang andal, tetapi juga bagian dari gaya hidup masyarakat perkotaan yang cerdas dan berkelanjutan,” tutup Purnomosidi. Sebagai bagian dari komitmen menghadirkan layanan transportasi publik yang semakin dekat dengan kebutuhan masyarakat, KAI menargetkan dapat melayani 6,9 juta pengguna LRT Jabodebek pada Triwulan IV 2025. Sepanjang bulan Oktober, KAI telah melayani 739.166 pengguna LRT Jabodebek, dengan rata-rata harian pada hari kerja dan akhir pekan mencapai 105.074 dan 54.362 pengguna. Dengan capaian tersebut, KAI optimistis dapat memenuhi target melayani 27 juta pengguna LRT Jabodebek sepanjang tahun 2025, sekaligus terus memberikan manfaat bagi masyarakat dalam mendukung mobilitas perkotaan yang lebih mudah, cepat, dan berkelanjutan.
Harjamukti yang Ini Terminal di Cirebon, Bukan Stasiun LRT Jabodebek!

Terminal Mengwi, Gantikan Terminal Ubung Jadi Pusat Perhentian Bus AKAP di Bali

Terminal Mengwi merupakan terminal bus tipe A dan juga merupakan terminal induk terbesar di Provinsi Bali. Terletak di luar perbatasan kota Denpasar dengan Kabupaten Badung, tepatnya di Jalan Mengwi-Mengwitani, Desa Mengwitani, Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung. Terminal Mengwi melayani trayek angkutan antarkota jarak jauh yakni bus antarkota antarprovinsi dan antarpulau ke Nusa Tenggara, Jawa dan Sumatra. Sejak tanggal 23 Oktober 2017, bus antarkota antarprovinsi (AKAP) diwajibkan untuk melakukan pemberangkatan dan pemberhentian terakhir di Terminal Mengwi serta tidak lagi di Terminal Ubung. Bus AKAP sendiri resmi beroperasi di Terminal Mengwi setelah dipindah dari Terminal Ubung, Kota Denpasar. Kementerian Perhubungan pun telah resmi mengelola Terminal Mengwi sebagai terminal pusat di Bali sejak dioperasikan delapan tahun lalu itu. Kewenangan terminal yang memiliki luas 15 hektar ini sekarang di bawah Balai Pengelola Transportasi Darat (BPTD) XII Wilayah Bali dan Nusa Tenggara Barat. Sesuai UU No.23/2014 tentang Pemerintahan Daerah, Terminal Mengwi tidak lagi menjadi hak milik Kabupaten Badung, melainkan di Kementerian Perhubungan Republik Indonesia. Dengan demikian, bus AKAP yang biasanya beroperasi di Terminal Ubung, kini tidak dapat lagi mengangkut atau menurunkan penumpang. Semua operasinya dipusatkan di Terminal Mengwi. Sebagai terminal tipe C, maka fungsi Terminal Ubung hanya untuk angkutan perkotaan (angkot) dan angkutan pedesaan (angdes). Sebagai akibat relokasi penurunan akhir penumpang bertujuan Denpasar di Terminal Mengwi, maka penumpang diharuskan untuk transit angkutan umum untuk menuju pusat kota Denpasar dan sekitarnya melalui terminal ini. Terdapat beberapa jenis angkutan umum yang melayani penumpang menuju kota Denpasar, seperti angkutan kota, AKDP Ubung-Gilimanuk, angkutan pedesaan, juga termasuk bus kota Trans Sarbagita. Pihak BPTD XII bekerja sama dengan Perum DAMRI melayani trayek Terminal Mengwi-Terminal Ubung PP. Harga karcis Trans Sarbagita rute ini dipatok sebesar Rp7 ibu per orang. Frekuensi kedatangan bus sekali dalam 30-60 menit, walaupun keterlambatan masih sering terjadi. Trans Sarbagita beroperasi dari pukul 05.00 WITA hingga pukul 19.00 WITA. Biasanya bus akan berangkat ke Terminal Ubung jika jika kursi penumpang dari Terminal Mengwi penuh, yang mana bisa memakan waktu berjam-jam, tergantung bus AKAP yang datang dari luar Bali.
Kochi Ekimae Kanko Hadirkan Sleeper Bus Paling Aman di Jepang

Wajib Tahu! Ini Kompensasi Penumpang Jika Perjalanan Kereta Api Terlambat

Menggunakan kereta api (KA) tentu penumpang ingin tiba tepat pada waktunya. Apalagi kecepatan KA saat ini hingga 120 km/jam. Ini membuat masyarakat makin setia dengan kereta api sebagai transportasi yang makin nyaman dan praktis untuk bepergian ke berbagai kota di Jawa maupun Sumatera. Selain itu menggunakan kereta api sudah bisa merasakan fasilitas yang relatif bagus bagi penumpangnya. Namun, dari perjalanan yang nyaman dan tepat waktu tersebut tentu ada saja kekurangannya. Salah satunya adalah jika terjadi keterlambatan saat tiba ditujuan. Keterlambatan dalam perjalanan KA tentu ada berbagai macam faktor, seperti adanya rel putus, gangguan kereta/lokomotif, bencana alam dan lain sebagainya. Keterlambatan yang terjadi tentu membuat penumpang merasa jenuh dan kecewa. Nah, jika terjadi keterlambatan tentu PT Kereta Api Indoneaia Persero (KAI) mempersiapkan berupa kompensasi untuk penumpangnya. Diketahui, kompensasi diberikan sesuai Peraturan Menteri Perhubungan Nomor PM 63 Tahun 2019 tentang Standar Pelayanan Minimum. Penumpang yang mengalami keterlambatan lebih dari satu jam bisa membatalkan tiket dan menerima pengembalian penuh.
Penumpang kereta api di Stasiun Pasar Senen. (Foto: Dok. KAI)
Jika tetap melanjutkan perjalanan, penumpang akan diberikan minuman ringan tanpa biaya tambahan. Bila keterlambatan melebihi tiga jam, mereka juga berhak mendapat makanan ringan dan minuman. Namun, jika lebih dari lima jam, penumpang memperoleh makanan berat setelah tiga jam keterlambatan. Makanan dan minuman berat diberikan setelah memasuki jam kelima keterlambatan. Tapi kemudahan tentu tetap diberikan kepada penumpang. Jika penumpang memilih tidak melanjutkan perjalanan, KAI akan mengembalikan bea tiket sebesar 100 persen. Ketentuan ini berlaku juga untuk perjalanan yang dialihkan ke rute memutar. Kemudian penumpang yang tidak jadi berangkat juga akan mendapat pengembalian penuh untuk bea bagasi. Tiket pengganti pada kelas lebih tinggi diberikan tanpa tambahan biaya. Ketentuan lainnya adalah proses pengembalian dapat dilakukan di loket stasiun yang menyediakan layanan pengembalian secara langsung atau melalui transfer, paling lambat 1×24 jam setelah pembatalan. Batas waktu proses pembatalan dan pengembalian adalah hingga 7 (tujuh) hari (7×24 jam) dari tanggal dan jam keberangkatan yang tertera di tiket. Itulah informasi menarik terkait jenis kompensasi penumpang kereta api saat terlambat berangkat. Dengan adanya kompensasi ini, diharapkan dapat mengurangi ketidaknyamanan yang dialami oleh penumpang akibat keterlambatan yang disebabkan oleh insiden tersebut. Untuk informasi lebih lanjut, penumpang bisa menghubungi nomor resmi WhatsApp KAI121: 0811-1211-1121.
Kereta Api di Indonesia Masih Suka Telat, Ini Penyebabnya!