Pengamat Aviasi di Dunia Sebut Penerbangan Jarak Jauh Sulit Pulih Cepat Tanpa Hal Ini

0
Ilutsrasi penerbangan jarak jauh. Sumber: (unsplash/Jordan Sanchez)

Beberapa pengamat dunia berpendapat bahwa penerbangan jarak jauh tergolong lama untuk pulih kembali. Hal itu disebabkan sulitnya meraih kembali kepercayaan penumpang, baik penumpang tujuan bisnis maupun penumpang liburan (traveller).

Baca juga: Emirates Luncurkan Penerbangan Terpanjang di Dunia Pasca Lockdown

“Perhatian utama tetap pada kepercayaan penumpang dalam melakukan perjalanan,” kata Joanna Lu, analis di Cirium, dalam webinar eGlobal Travel Media pekan lalu, seperti dikutip dari Simple Flying. “Ini adalah masalah bagi semua maskapai, khususnya bagi maskapai penerbangan kenamaan dunia,” tambahnya.

Selain itu, berbagai panelis lain juga berpendapat bahwa kunci untuk mendapatkan kembali kepercayaan penumpang dengan cara menunjukkan hal-hal baik kepada mereka, mulai dari prosedur disinfeksi ketat dibalut teknologi mutakhir, baik sesudah maupun sebelum pesawat beroperasi, membuktikan pesawat bebas Covid-19 berkat filter HEPA, serta berbagai kebijakan lainnya, pra penerbangan, saat on board, maupun pasca penerbangan.

Akan tetapi, di antara beberapa panelis, salah satunya menekankan, berbagai prosedur penerbangan ketat di masa pandemi virus Corona mungkin akan membuat penerbangan jarak pendek atau rute-rute regional lebih muda pulih dibanding penerbangan jarak jauh. Penerbangan tersebut (jarak jauh) baru akan pulih bila mana vaksin sudah tersedia. Tak ada pilihan lain.

Selama periode tersebut (tersedianya vaksin di pasaran) belum datang, praktis, maskapai hanya bisa menerapkan prosedur ketat pra hingga pasca penerbangan. Meski demikian, tak ada satupun orang yang mampu meyakinkan orang lainnya untuk berani terbang sekalipun vaksin sudah tersedia. Selain itu, regulasi baru oleh pemerintah pasca ketersediaan vaksin juga memegang peran penting.

“Satu hal yang saya yakini akan memberi kepercayaan konsumen untuk kembali terbang adalah vaksin. Sekali lagi, itu juga dipertanyakan. Itu tergantung pada berapa banyak orang yang menerima vaksin, dan apakah pemerintah akan mengeluarkan semacam paspor untuk mengatakan, ‘Saya telah divaksinasi, saya dapat bepergian dengan aman’?” jelas Joe Cusmano, salah satu travel blogger kenamaan dunia lewat laman straynomad.com miliknya.

Penerbangan jarak jauh tanpa adanya vaksin disebut hanya akan membuat kebanyakan penumpang khawatir bakal tertular virus Corona. Terlebih, bukti atas itu sudah ada di depan mata.

Belum lama ini, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) Amerika Serikat (AS) menerbitkan hasil studi mencengangkan. Dari analisis data penerbangan rute Hanoi-London pada bulan Maret lalu, ditemukan setidaknya 12 penumpang tertular Covid-19 dari seorang penumpang first class.

Baca juga: Mengenang DC-10: Pelopor Penerbangan Jarak Jauh Modern Sekaligus Berlabel Jebakan Maut

Singkatnya, penerbangan regional hampir dipastikan jauh lebih aman dibanding penerbangan jarak jauh. Sekalipun penerbangan jarak jauh harus ditempuh, umumnya penumpang lebih nyaman dengan penerbangan transit.

Selama ini, penerbangan jarak jauh lebih bergantung pada perjalanan bisnis dibandingkan pelancong. Celakanya, penumpang perjalanan bisnis, kata CEO Air Canada, Calin Rovinescu, saat ini dan ke depan diprediksi akan lebih nyaman dengan the new era atau the new normal, meeting secara daring. Berbagai fakta tersebut pada akhirnya menjadi analisa tak terbantahkan dan masuk akal untuk menyimpulkan lambannya penerbangan jarak jauh untuk pulih kembali.

Leave a Reply