Pengamat: Beijing Mau Terapkan ADIZ di Laut Cina Selatan, tapi Takut ASEAN ‘Ngamuk’

0
Ilustrasi penerapan ADIZ di Laut Cina Selatan. Foto: Washington Examiner

Sejak 2010 lalu, Beijing memang telah merancang Air Defense Identification Zone (ADIZ) di Laut Cina Timur dan Laut Cina Selatan (LCS). Di Laut Cina Timur, tepatnya di atas pulau yang diperebutkan antara Jepang dan Cina yaitu Senkaku atau Diaoyu, Beijing sudah menerapkan ADIZ sejak 23 November 2013.

Baca juga: Insiden Penembakan Korean Air 007 Ingatkan Dunia pada ADIZ, Apa Itu?

Meskipun terlihat gagah dengan kekuatan militernya, banyak pengamat menilai pengumuman ADIZ di Laut Cina Timur tidak dibarengi dengan kesiapan Tentara Pembebasan Rakyat (PLA). PLA dianggap tak memiliki kemampuan untuk mendeteksi, melacak, menjaga, dan mengintersep armada musuh. Bila wilayah yang tak seluas LCS saja PLA belum sanggup, bagaimana bisa Beijing berani menerapkan ADIZ di LCS?

Dilansir South China Morning Post, Lu Li-Shih, mantan instruktur Akademi Angkatan Laut Taiwan di Kaohsiung, berujar, saat ini, Beijing masih sibuk membangun dan mengembangkan pulau-pulau buatan di Fiery Cross, Subi, dan Mischief reefs. Semua itu dilakukan dalam rangka persiapan penerapan ADIZ.

“Citra satelit baru-baru ini menunjukkan bahwa Tentara Pembebasan Rakyat telah mengerahkan pesawat pencegat KJ-500 dan pesawat patroli anti-kapal selam KQ-200 di Fiery Cross Reef,” katanya, mengacu pada gambar yang diambil oleh ImageSat International Israel dan Asian Maritime Transparency Initiative di Pusat Kajian Strategis dan Internasional (CSIS), sebuah think tank yang berbasis di Washington, AS.

Gambaran wilayah kedaulatan Cina jika ADIZ jadi diterapkan di LCS. Foto: Centre for International Governance Innovation

Menurut sebuah sumber di PLA, Cina, walau bagaimanapun, tetap tidak akan berani melangkah sampai sejauh itu (menerapkan ADIZ). Sebab, tentu saja hal itu akan merusak hubungan diplomatik Beijing dengan ASEAN serta pertimbangan lainnya. “Beijing ragu untuk mendeklarasikan ADIZ di Laut China Selatan karena sejumlah pertimbangan teknis, politik, dan diplomatik,” katanya.

Senada dengan pendapat di atas, seorang peneliti senior terkait kebijakan publik, Drew Thompson, melihat selama ini negara-negara di ASEAN seperti Vietnam, Filipina, Taiwan, Malaysia, dan Brunei bisa dibilang diam saja dengan klaim Cina atas LCS. Terbukti, proyek pembangunan pulau Pratas, Paracel, dan Spratly serta pulau-pulau lainnya tak sampai berhenti dibuatnya.

Namun demikian, bila Cina sampai menerapkan ADIZ di LCS, lanjutnya, diyakini negara-negara itu, termasuk Indonesia, tidak akan tinggal diam. Terlebih, ada sekutu kuat (Amerika Serikat) yang siap membantu melawan Beijing. Lebih dari itu, bukan tak mungkin negara-negara itu akan bersatu melawan demi kedaulatan negara tanpa harus bergantung dengan AS.

“Deklarasi seperti itu (ADIZ) akan sangat merusak hubungan Cina dengan negara-negara Asia Tenggara, yang sampai sekarang sebagian besar menyetujui ketegasan dan provokasi Cina, termasuk pulau reklamasi dan militerisasi di LCS,” katanya.

“Tetapi jika Cina mendeklarasikan ADIZ, mereka akan dipaksa untuk memilih, bukan antara AS dan Cina, tetapi antara hubungan ekonomi mereka dengan Cina dan kedaulatan mereka sendiri,” tambahnya.

Sekilas tentang ADIZ, mungkin ada yang bertanya, apa itu ADIZ? Menurut Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN), ADIZ adalah zona bagi keperluan identifikasi dalam sistem pertahanan udara suatu negara, dimana zona tersebut pada umumnya terbentang mulai dari wilayah teritorial negara yang bersangkutan hingga mencapai ruang udara di atas laut lepas yang berbatasan dengan negara tersebut.

Baca juga: AS Kirim Pesawat Mata-mata Berbendera Sipil, Rudal Intai Penerbangan Komersial di Sekitar LCS

Penerapan ADIZ oleh suatu negara tidak dimaksudkan untuk memperluas kedaulatan negara pemilik ADIZ tersebut, namun lebih pada kepentingan pertahanan udara bagi negara pengadopsi.

Dikutip dari Indomiliter.com, jangkauan zona ADIZ bervariasi, tergantung doktrin pertahanan dan supermasi sipil suatu negara; tepatnya antara puluhan hingga ratusan kilometer terhitung mulai dari batas terluar wilayah kedaulatan – sejauh ini tidak ada standar baku.

Leave a Reply