Perbatasan Singapura-Malaysia Akhirnya Dibuka, Tapi Tak Ada Angktan untuk Warga

0
Pekerja Malaysia di sebuah pabrik di Kallang tiba di Woodlands Train Checkpoint pada 17 Agustus 2020. (straitstimes.com)

Perjalanan lintas batas antara Malaysia dan Singapura yang melintasi Causeway mulai dibuka. Salah seorang warga Malaysia Nurul Hidayah Norezan menjadi salah satu yang berjalan kaki melintasi Causeway. Ia dan warga lainnya harus berjalan sekitar satu kilometer karena tidak ada angkutan umum.

Baca juga: Malaysia Berlakukan “Lockdown,” Ini Enam Ketentuan yang Harus Dipatuhi

Hal ini membuat perjalanan mereka lebih lama satu jam dari biasanya. Nurul sendiri sebelum pandemi dan Malaysia melakukan pembatasan perjalanan untuk memutus penyebaran Covid-19.

“Saya senang bisa kembali bekerja lagi, tetapi pada saat yang sama saya sedih karena akan dipisahkan dari anak saya yang berusia satu tahun,” kata Nurul yang dikutip KabarPenumpang.com dari straitstimes.com (17/8/2020).

Selain itu puluhan warga Malaysia juga meninggalkan Singapura Senin (17/8/2020) pagi untuk kembali ke kota asal mereka. Muhd Shafii Muhd seorang pekerja hotel, mengaku senang melihat keluarganya di Johor Baru setelah lima bulan terpisah. Dia mengatakan, tempatnya bekerja mengizinkan dirinya mengambil cuti tahun ini dengan skema cuti tanpa upah dan akan kembali pada pekerjaannya Januari mendatang.

“Aku sudah lama menunggu ini. Saya sangat merindukan keluarga saya. Hal pertama yang akan saya lakukan adalah menghabiskan waktu bersama keluarga, itu yang terpenting … uang bisa menunggu,” katanya.

Untuk diketahui, dimulainya kembali perjalanan lintas batas antara Singapura dan Malaysia berlangsung dalam dua skema yakni Reciprocal Green Lane (RGL) untuk pelancong dengan kunjungan yang lebih singkat, dan Periodic Commuting Arrangement (PCA). Di mana RGL memfasilitasi perjalanan jangka pendek untuk keperluan bisnis atau resmi antar kedua belah pihak selama 14 hari.

Sedang PCA mengizinkan penduduk Singapura dan Malaysia yang memegang izin imigrasi jangka panjang untuk keperluan bisnis dan kerja di negara lain untuk memasuki Singapuran dan bekerja. Pengaturan tersebut memungkinkan pemberi kerja melakukan perjalanan untuk pertemuan penting dan memberikan kesempatan kepada pekerja untuk lebih sering bertemu dengan keluarga mereka.

Sebelum pandemi Covid-19, lebih dari 300 ribu pelancong menggunakan Causeway setiap hari. Di antara mereka ada sekitar 100 ribu orang Malaysia yang pulang-pergi setiap hari antara Singapura dan Malaysia. Saat ini, ada beberapa orang Malaysia yang memutuskan untuk tetap tinggal, dengan alasan komitmen keluarga dan persyaratan skema PCA yang berat.

Perawat Cindy Ong yang berada di Johor Baru setelah kembali pada Desember tahun lalu untuk melahirkan mengatakan dia belum akan kembali bekerja di Singapura karena tidak bisa membawa bayinya. Suaminya mengikuti, kembali ke Johor Baru tiga bulan kemudian.

“Sampai sekarang, kami bertahan dengan tabungan kami. Suami saya juga membantu bisnis teman. Kami berharap perbatasan akan dibuka kembali untuk memungkinkan perjalanan harian sehingga kami dapat melanjutkan pekerjaan kami di Singapura, ”katanya.

Baca juga: Imbas Lockdown, Singapura Sediakan Kamar Hotel untuk Pengemudi dan Teknisi Bus Asal Malaysia

Manajer pemasaran Steven Tan, yang saat ini berada di Singapura, merasa repot untuk mengajukan skema PCA. Dia mengatakan, proses karantina di malaysia dan Singapura membuatnya jera dan tidak bisa mengambil cuti banyak hari untuk tidak melakukan apa-apa.

Leave a Reply