Pernah Ada, Jalur Cirebon ke Kadipaten Hilang dan Hampir Sukar Dilacak

0
Jalur Cirebon ke Kadipaten (wikipedia)

Dulu di masa pemerintahan Kolonial Belanda, ada jalur kereta api dari Cirebon menuju ke Kadipaten di Majalengka. Jalur ini dulunya dibangun sekitar tahun 1901 oleh Semarang-Cheribon Stoomtram Maatschappij (SCS) dan diresmikan pada 29 Desember 1901 dengan panjang lintas 48,6 km.

Baca juga: [Bagian 2] Jalur Kereta Jawa Pra Kemerdekaan – Perjalanan Jadi Lebih Cepat Setelah Perang Dunia I Berakhir

Jalur ini pada masa kejayaannya digunakan untuk mengangkut barang atau logistik dari pabrik gula di Kadipaten. Dulunya ada lima pabrik yang berada di sekitar jalur ini dan dilayani oleh kereta api. Kelima pabrik gula tersebut yakni Surawinangun, Gempol (Cirebon), Parung Jaya, Jatiwangi dan Kadipaten.

Dihimpun KabarPenumpang.com dari wikipedia.com, di masa jayanya bukan hanya mengangkut komoditi gula melainkan juga penumpang dan hewan ternak. Di mana jalur ini beroperasi melayani empat kali perjalanan yakni dua kali keberangkatan dari Kadipaten dan dua kali dari Cirebon.

Kereta api berangkat pagi hari dari Kadipaten dan kembali ke Kadipaten sore harinya. Tak jarang bukan hanya penumpang atau komoditi, para pedagang memanfaatkan layanan kereta api ini dengan membawa hasil hutan berupa daun jati dari kawasan hutan jati yang kala itu banyak terdapat di daerah Kadipaten.

Biasanya daun jati ini digunakan untuk pembungkus nasi jamblang. Bahkan dari trase atau rutenya jalur ini melintasi banyak kawasan budaya Cirebon yakni salah satunya adalah Kampung Batik Trusmi. Pada 1 Juli 1922 di jalur Cirebon menuju Kadipaten juga dibuka percabangan menuju ke Gunung Giwur.

Yang mana lokasi percabangan ini sekarang berdekatan dengan Pasar Palimanan dan mengarah ke selatan sejauh lima kilometer. Dulunya jalur ini digunakan kereta untuk mengangkut batu kricak. Namun percabangan ini hanya bertahan sebelas tahun yakni ditutup pada 1933 silam dengan penyebab yang tidak diketahui sama sekali hingga saat ini.

Lahan eks-jalur cabang ini juga digunakan untuk jalur pipa air bersih yang diperkirakan dibuat hampir bersamaan dengan jalur cabang kereta api menuju Gunung Giwur. Jalur pipa air tersebut mengalirkan air dari mata air Gunung Ciremai di Cikahalang sampai Stasiun Cirebon Kejaksan. Jarak antara mata air Cikalahang dan Stasiun Cirebon Kejaksan itu 22 kilometer dan jalur pipanya masih aktif sampai sekarang.

Sayangnya jalur Cirebon menuju Kadipaten ini menjadi salah satu jalur kereta api nonaktif di Jawa Barat. Sebab jalur ini dinonaktifkan sejak 22 Juli 1978 atau setelah 77 tahun beroperasi. Bahkan pasca dinonaktifkannya, jalur ini kemudian menghilang beserta dengan semua stasiun dan perhentian yang ada.

Baca juga: Jalur Kereta di Sulawesi, Nyaris Tak Terdengar Tapi Ada Bukti Jejak Sejarahnya

Tak hanya itu, jalur ini hampir sukar dilacak, kecuali dengan melihat penanda aset milik PT KAI, karena jalur kereta apinya sejajar dengan jalan raya yang menghubungkan Kota Cirebon dengan Kadipaten. Namun tidak ada kabar apakah jalur ini aka direvitalisasi sama seperti jalur mati lainnya.

Leave a Reply