Punya Rating Rendah, Penumpang Uber Bisa Kesulitan Dapatkan Kendaraan

Uber sejak April 2018 memang tinggal kenangan di Indonesia, meski begitu, layanan transportasi online asal Amerika Serikat ini masih membekas, tentu ini wajar mengingat Uber kadung dikenal sebagai pendobrak bisnis aplikasi transportasi online. Sentuhan baru dari Uber hingga kini masih tetap diperhitungkan sebagai tolok ukur penyedia layanan sejenis saat ini. Salah satunya adalah model pemberian rating.

Baca juga: Di 2020, Uber dan Volvo Siap Uji Mobil Otonom Generasi Ketiga

Soal pemberian rating kini diadaptasi oleh GoJek dan Grab, yaitu rating dari penumpang kepada pengemudi. Sebaliknya, Uber di luar negeri telah menyediakan fitur pemberian rating dari pengemudi kepada penumpang.

Ya, Uber menghadirkan sistem rating atau peringkat bukan hanya untuk pengemudi tetapi juga untuk penumpangnya. Adanya pemberian rating tersebut agar tidak hanya pengemudi yang dinilai oleh penumpang, tetapi penumpang juga bisa dinilai oleh pengemudi dari berbagai hal.

Dengan adanya sistem rating ini penumpang yang memiliki rating dibawah rata-rata akan sulit mendapatkan akses ke aplikasi apalagi mendapatkan pengemudi. Ini merupakan bagian dari peluncuran pedoman komunitas yang diperbarui perusahaan dan bisa ditaati oleh penumpang yang menggunakan layanan Uber.

Menurut Uber, larangan berperilaku buruk tidak akan mengejutkan penumpang yang tersinggung. Karena sebelumnya penumpang akan dikirimkan pemberitahuan terkait hal tersebut.

Dilansir KabarPenumpang.com dari laman washingtonpost.com, nantinya jika penumpang mendapat rating yang rendah dan dianggap buruk, mereka juga bisa menaikkannya agar tetap dalam performa yang baik. Uber memberikan tips agar penumpang bisa mendapatkan rating yang baik yakni dengan cara bersikap sopan, tidak meninggalkan sampah di dalam kendaraan hingga tidak meminta pengemudi melebihi batas kecepatan.

“Rasa hormat adalah jalan dua arah, dan begitu juga akuntabilitas. Pengemudi telah lama diharapkan untuk memenuhi ambang batas peringkat minimum yang dapat bervariasi dari kota ke kota. Meskipun kami hanya berharap sejumlah kecil pengendara pada akhirnya akan terpengaruh oleh penonaktifan berbasis peringkat, itu adalah hal yang benar untuk dilakukan,” ujar Kate Parker, kepala merek keselamatan dan inisiatif Uber dalam blognya.

Sayangnya ambang batas rating bagi penumpang yang akan dinonaktifkan tidak dijelaskan. Setiap penumpang Uber bisa melihat rating mereka yang muncul dibawah nama dalam aplikasi dengan membuka menu utama. Sama seperti penumpang yang bisa memberi rating pada pengemudi, pengemudi juga bisa memberi rating dengan skala satu sampai lima bintang.

Dari hasil yang didapat, Uber mengatakan, tidak banyak penumpang maupun pengemudi yang memiliki nilai sempurna lima bintang. Bahkan pengemudi dengan rating 4,6 adalah batasnya, bila lebih rendah mereka agak kehilangan akses penumpang.

Tetapi akhirnya diturunkan hingga bintang empat dan ini didefinisikan sebagai ‘Ok, bintang tiga ‘Mengecewakan’, bintang dua ‘Buruk’ dan bintang satu ‘Mengerikan’. Uber mengatakan akan meluncurkan kampanye untuk mendidik pengendara dan pengemudi tentang pedoman komunitas yang diperbarui. Penumpang di Amerika Serikat dan Kanada akan menjadi yang pertama untuk melihat permintaan dalam aplikasi dengan ringkasan pedoman dan akan diminta untuk mengonfirmasi bahwa mereka memahaminya.

“Dengan mendidik pelanggan dan mitra tentang Pedoman Komunitas, meminta mereka untuk mengonfirmasi bahwa mereka memahami, dan meminta pertanggungjawaban semua orang, kami dapat membantu Uber bersikap ramah dan aman untuk semua,” kata Parker.

Baca juga: Anda Ingin Diberi Rating 5 oleh Pengemudi Uber? Ikuti Tips Ini!

Untuk diketahui, sebelum Uber di Asia tepatnya di Indonesia di akuisisi oleh Grab, pemberian peringkat bagi penumpang juga sudah ada. Dimana penumpang dengan peringkat bintang empat hingga lima akan mudah mendapat pengemudi dan sebaliknya bila peringkat lebih kecil akan sulit.