Reaktivasi Jalur Kereta Jawa Barat, Pertanda Peningkatan Sektor Pariwisata di Tanah Pasundan?

Terowongan Wilhelmina yang terletak di Jalur Banjar-Pangandaran-Cijulang. Sumber: istimewa

Dengan pernyataan resmi yang dikeluarkan PT KAI beberapa hari yang lalu terkait reaktivasi empat jalur kereta yang tersebar di daerah Jawa Barat (Jabar), bukan tidak mungkin jika ini merupakan pertanda penguatan sektor pariwisata yang berada di sekitaran jalur tersebut. Sebut saja Pangandaran yang terletak di sebelah Tenggara Jabar terkenal akan pantainya – atau Kawah Putih, salah satu destinasi favorit yang terletak di Ciwidey merupakan dua contoh objek yang eksistensinya akan semakin merangkak naik pasca reaktivasi jalur kereta ini.

Baca Juga: Kolaborasi dengan Pemprov, PT KAI Akan Reaktivasi Empat Jalur Kereta di Jawa Barat

Selain dua lokasi di atas, Jatinangor yang mahsyur sebagai daerah pendidikan di Jabar ini juga akan merasakan manfaat dari reaktivasi tersebut. Namun demi mencapai hipotesa target tersebut, PT KAI yang bekerja sama dengan Pemprov Jabar akan menemukan rintangan yang tidaklah mudah. “Itu kan jalur jalur yang sudah mati tapi jalurnya masih ada, cuma memang sudah ditempati sama warga, ada beberapa bangunan, jembatannya juga masih tersisa,” ungkap Humas PT KAI, Agus Komarudin, dikutip KabarPenumpang.com dari laman detik.com (13/9/2018).

Rata-rata, keempat jalur kereta ini sudah tidak beroperasi sejak tahun 1980an – dengan beragam alasan yang melatarbelakanginya. “Stasiun Cibatu-Stasiun Garut-Stasiun Cikajang total panjang lintasan 47,5 km. Tidak beroperasi Cibatu-Garut 19,3km tahun 1983, Garut-Cikajang 28,2 km tahun 1982,” ujar Agus.

Di tahun yang sama (1982), jalur kereta lain yang tidak beroperasi adalah jalur Stasiun Banjar-Pangandaran-Cijulang dengan panjang lintasan 82km.

Sedangkan dua jalur lainnya sudah mengakhiri masa operasinya tahun 1970an. “Jalur dari Stasiun Rancaekek-Jatinangor-Tanjungsari yang memiliki panjang lintasan 11,5 km, resmi tidak operasi mulai tahun 1978,” ujar Agus.

“1975, jalur Stasiun Bandung-Ciwidey sepanjang 37,8 km berhenti beroperasi,” tambahnya.

Tidak hanya Pemprov Jabar saja yang mendukung reaktivasi jalur ini – seperti yang sudah diberitakan pada artikel sebelumnya, pun dengan Pemerintah Kabupaten Pangandaran yang optimis menyambut rencana ini.

“Selain transportasi darat, di Pangandaran juga memiliki jalur penerbangan di bandara Nusawiru, bahkan dalam waktu dekat ini Pangandaran akan memiliki pelabuhan nasional di Bojongsalawe yang bisa meningkatkan di sektor transportasi sebagai daerah pariwisata. Apalagi kalau ditambah dengan transportasi kereta api,” ujar Sekretaris Daerah Kabupaten Pangandaran, Mahmud, dikutip dari sumber terpisah.

Baca Juga: PT KAI Diminta Aktifkan Jalur ‘Mati Suri’ Semarang-Rembang

Adapun objek wisata di Pangandaran yang ‘diramalkan’ akan mengalami peningkatan pasca reaktivasi jalur pada tahun 2030 ini adalah Pantai Barat, Pantai Timur, Cagar Alam Pananjung, Batu Hiu, Batu Karas, Citumang, Santirah, dan Green Canyon – dimana jarak dari semua lokasi tersebut tidaklah terlalu jauh dari jalur kereta api Banjar-Pangandaran-Cijulang.

Pada akhirnya, diperlukan sinergi yang mantap antar pemangku kepentingan supaya keempat jalur kereta penunjang setor pariwisata ini bisa beroperasi kembali – salah satu masalah besar yang menghadang adalah soal relokasi warga yang menempati jalur-jalur mati tersebut. “Kan penertiban dulu, kan sosialisasi, dan sebagainya,” tambahnya.