Redam Kebisingan, Jepang Lakukan Riset Aerodinamika Kereta Cepat dengan Terowongan Angin

Kereta Cepat Shinkansen, Jepang. Sumber: wikipedia

Railway Technical Research Institute (RTRI) Jepang dikabarkan tengah mempelajari cara untuk mengurangi efek dari fenomena aerodinamis pada kereta berkecepatan tinggi dan infrastruktur pendukung lainnya. Seperti yang sudah diketahui bersama, Jepang merupakan negara yang bisa dibilang terdepan dalam urusan moda rel. Hal ini ditunjang dengan kehadiran Shinkansen sebagai kereta berkecepatan tinggi paling terkenal di dunia.

Baca Juga: Lima Fakta Unik dari Shinkansen yang Mungkin Anda Belum Tahu!

Mungkin beberapa dari Anda masih ingat bahwa aerodinamis merupakan salah satu faktor penting yang melancarkan pengoperasian dari kereta cepat ini. Jika tidak ditunjang dengan gaya aerodinamis, maka kecil kemungkinan kereta semacam Shinkansen ini bisa ngacir hingga kecepatan lebih dari 200 km per jam. Kendati begitu, namun gaya aerodinamis ini juga menimbulkan efek samping yang bisa mengganggu kenyamanan penumpang – mulai dari suara bising hingga guncangan.

Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman railjournal.com, RTRI tengah melakukan penelitian dan pengembangan guna mengklarifikasi mekanisme yang menghasilkan fenomena gaya aerodinamis ini. Tidak hanya itu, RTRI juga mengevaluasi fenomena aerodinamis ini dengan menggunakan metode simulasi numerik, pengujian laboratorium hingga tes kendaraan. Belakangan,  tersiar kabar bahwa RTRI menggunakan pendekatan eksperimental guna mengusut masalah ini.

Menurut RTRI, fenomena aerodinamis ini mempengaruhi struktur garis dan orang-orang yang berada di sekitaran rel. Semakin kencang kecepatan operasi kereta, maka semakin besar pula efek dari fenomena ini. Maka dari itu, pendekatan eksperimental yang dilakukan oleh RTRI adalah dengan menggunakan terowongan angin (wind tunnel) dan rig kereta model bergerak (moving model train rig).

“Kami mengembangkan metode untuk uji terowongan angin untuk menyelidiki sumber suara dengan menggunakan microphone array,” ujar pihak RTRI.

“Sebagai hasilnya, kami mengklarifikasi bahwa distribusi sumber suara aerodinamis ini berasal dari bogie, dan menemukan bahwa bunyi aerodinamis yang dihasilkan oleh bogie dapat dikontrol dengan mengurangi kecepatan aliran udara di dekat permukaan bagian bawah kereta atau dengan mencegah udara berkecepatan tinggi,” sambungnya.

Menanggapi temuan ini, RTRI mengatakan bahwa pihaknya akan mempelajari lebih lanjut guna menemukan solusi untuk kebisingan ini.

Baca Juga: Hokkaido Shinkansen, Bisa Tetap Kebut Walau di Bawah Laut

“Jika kereta Shinkansen terbaru beroperasi pada kecepatan lebih dari 300 km per jam, maka kontribusi kebisingan aerodinamis akan meningkat secara signifikan,”

“Kami sedang mempelajari cara-cara untuk mengurangi suara yang dihasilkan dari fenomena aerodinamis ini,” tutup RTRI.