Sejarah MRT Singapura, Dibangun di Atas Keterbatasan Lahan

0

Pembangunan Mass Rapid Transit (MRT) di Jakarta memang menimbulkan efek besar, terutama pada jalur-jalur tertentu yang nantinya akan dilewati oleh moda transportasi masa depan ini. Mulai dari polusi yang ditimbulkan, hingga kemacetan yang terjadi setiap saat membuat sebagian warga Jakarta menggerutu akibat lamanya pengerjaan dari proyek ini. Namun, sebagian lainnya tetap bersabar menantikan kehadiran dari sarana transportasi yang diharapkan dapat mengentaskan kemacetan Ibu Kota.

Baca Juga: Sistem Tiket MRT Jakarta Mengacu Ke Singapura, Paling Jauh Ditaksir U$1

Dibalik semua reaksi yang ditimbulkan oleh warganya, proses pengerjaan proyek MRT tetaplah berlanjut sesuai dengan apa yang sudah dijadwalkan sebelumnya. Ternyata berkaca pada negara tetangga yang sudah terlebih dahulu memiliki sistem transportasi serupa, yaitu Singapura yang juga pernah mengalami kejadian serupa dimana pembangunan MRT sempat mengalami gejolak sebelum akhirnya sistem transportasi ini menjadi salah satu andalan dari  negara yang kadang disebut sebagai Kota Singa tersebut.

Pada awalnya, pengadaan MRT dilandasi oleh hasil dari The Comprehensive Traffic Study pada tahun 1981 yang menunjukkan bahwa seluruh sistem bus di Singapura dinilai tidak praktis dan efisien. Hasil dari studi tersebut seolah mendapat dukungan dari Perdana Menteri Singapura pada masa itu, Lee Kuan Yew yang menyimpulkan bahwa sistem transportasi dengan hanya menggunakan bus tidak akan mencukupi kebutuhan warga Singapura karena akan memerlukan jalur jalan yang besar sementara masalah utama dari negara tersebut adalah keterbatasan lahan.

Sumber: techinasia.com

Baca Juga: Metro Malaga, Pembangunan Jalur MRT yang Tak Kunjung Usai

Biaya konstruksi awal MRT sebesar 5 miliar dolar Singapura merupakan gelontoran dana termahal yang pernah dikeluarkan untuk sebuah proyek pada waktu itu. Pembangunan awal  proyek MRT dimulai di Toa Payoh dan Noveda pada 22 Oktober 1983 setelah tahapan ground-breaking yang diadakan di Jalan Shan. Jaringan MRT dibangun secara bertahap dimulai dari Jalur Utara – Selatan karena melewati daerah pusat kota yang dinilai sangat memerlukan transportasi publik. Adalah Singapore Mass Rapid Transit (SMRT) Corp. yang sebelumnya bernama Mass Rapid Transit Corporation (MRTC) yang kemudian mengelola proyek pembangunan MRT ini.

Warga Singapura harus mengapresiasi para pekerja yang bersusah payah membangun salah satu moda transportasi darat ini, mengingat bukanlah perkara mudah untuk “melubangi bumi” pada masa itu. Momen berbahagia terjadi pada 7 November 1987 dimana jalur pertama dari MRT Singapura secara resmi dibuka. Wakil Perdana Menteri Singapura pada masa itu, Ong Teng Cheong bahkan menggambarkannya sebagai prestasi luar biasa setelah 20 tahun mengalami masa-masa sulit dalam tahap perencanaan hingga pembangunan.

Baca Juga: Tiga Tahun Pembangunan, MRT Jakarta Buka Pameran Foto

Publik menyambut moda anyar tersebut dengan sangat antusias, terlihat dari ramainya massa yang datang ke Toa Payoh MRT Station. Kebanyakan dari mereka ingin merasakan pengalaman menaiki moda anyar tersebut. Dalam perjalanan pertamanya, MRT ini membawa 400 tamu VIP dan regular bertolak dari Toa Payoh menuju Yio Chu Kang dalam waktu 15 menit saja. Berselang tiga minggu dari grand opening tersebut, tercatat sudah satu juta orang yang menggunakan jasa MRT ini.

Sebuah apresiasi pun diberikan oleh bos konstruksi tersebut kepada para pegawainya, tiga diantaranya adalah wanita Samsui, dengan memberikan waktu libur kepada mereka dan turut menikmati perjalanan menaiki kereta baru. Ini merupakan sebuah bentuk apresiasi terhadap mereka yang sudah bekerja keras selama empat tahun belakangan untuk membangun salah satu tulang punggung transportasi di Singapura ini.

Dengan lima jalur lintasan utama, saat ini MRT Singapura memiliki 113 stasiun dengan panjang rel mencapai 152,9 kilometer.

Leave a Reply