“Trump Shuttle,” Maskapai Milik Donald Trump yang Hanya Berusia 18 Bulan!

0
Boeing 727 Trump Shuttle (Foto: Airlinegeeks.com)

Siapa yang tak kenal Donald Trump, Presiden Amerika Serikat (AS) yang kehidupan pribadinya nyeleneh, plus kebijakannya yang serba kontroversial,  hampir setiap hari menjadi trending topix bahasan di jagad global. Namun tahukah Anda, bahwa sosok Trump juga dikenal sebagai pengusaha sukses di berbagai bidang. Mulai dari real estate, hotel, lapangan golf, kasino, agensi model, minyak wangi, media, hingga maskapai penerbangan.

Baca juga: Berikan Dukungan Pada Boeing, Donald Trump Usulkan Rebrand 737 MAX

Yang disebut terakhir rupanya sedikit terlupakan, yaitu bisnis penerbangan, tak banyak publik yang mengetahui bisnis yang digeluti mulai tahun 1989 tersebut. hal itu tentu sangat wajar mengingat Trump Shuttle telah lama bubar, tepatnya sejak 1992.

Bisnis penerbangan milik Donald Trump kembali hangat diperbincangkan setelah ia memberikan komentarnya yang membangun guna merespon berbagai insiden yang menimpa Boeing. Lewat twitter-nya, sebagaimana dilansir businessinsider.com, Trump menyebut bahwa dalam menyikapi berbagai insiden yang menimpa Boeing 737 MAX, sudah seharusnya Boeing menambah beberapa fitur hebat tambahan dan membuat pesawat dengan nama baru dan model baru.

Awalnya publik mengira bahwa cuitan tersebut hanya sebatas arahan presiden untuk membantu perusahaan di negaranya agar tetap eksis atau memberi masukan dari kacamata bisnis, mengingat Trump adalah pebisnis ulung. Nyatanya, lebih dari sekedar itu.

Disebutkan, ide awal Trump membeli maskapai didasari oleh asetnya yang semakin menggunung. Kala itu (1988), Surat kabar New York Times menyebutnya sebagai salah satu orang terkaya di dunia, dengan kekayaan bersih diperkirakan US$3 miliar. Setelah membeli Plaza Hotel yang mewah dengan harga US$390 juta, ia pun mulai berpikir untuk menancapkan gurita bisnisnya di bidang lain, selain menyalurkan asetnya yang terus menggunung, yakni dengan membeli maskapai.

Bak gayung bersambut, ide Trump tersebut pun dibarengi dengan keadaan maskapai Eastern Airlines yang tengah dalam kesulitan finansial pada akhir 1980-an. Setelah serangkaian proses yang alot, kesepakatan pun tercapai. Usai bertemu Trump di sebuah pesta, Presiden Eastern Airlines, Frank Lorenzo mengumumkan bahwa telah terjadi kesepakatan dengan Trump senilai US$365 juta. Dengan angka sebesar itu, Trump berhak mendapat banyak hal, seperti 17 armada Boeing 727, fasilitas pendaratan di masing-masing dari tiga kota yang diterbangkan maskapainya, dan hak untuk menempatkan namanya di perusahaan dan pesawatnya.

Usai beroperasi secara resmi pada 8 Juni 1989, Trump langsung tancap gas. Pada akhir Agustus, Trump Shuttle, yang menyediakan jasa penerbangan cepat bagi para pelancong bisnis antara New York, Boston, dan Washington, telah kembali ke pangsa pasar yang kuat dikisaran 40-50 persen di industri penerbangan nasional. Selain itu, Trump Shuttle juga menciptakan lebih dari 1.000 pekerjaan. Banyak di antaranya diisi oleh karyawan Eastern Airlines yang kehilangan pekerjaan karena mogok kerja.

Dalam perjalanannya, Trump tak henti-hentinya berinovasi. Di samping itu, Trump juga mendorong untuk membuat pesawat ulang-alik baru dengan layanan mewah. Pesawat barunya dicat dengan corak putih dan interiornya didekorasi ulang dengan fitur-fitur seperti veneer kayu maple, kait sabuk pengaman krom, dan perlengkapan toilet berwarna emas.

Trump Shuttle juga merupakan pemimpin dalam penerapan teknologi canggih. Terbukti dari gebrakannya dengan memperkenalkan beberapa kios check-in swalayan penumpang pertama, berkoordinasi dengan Kinetics di pangkalan LaGuardia dan bermitra dengan LapStop, sebuah perusahaan pemula yang menyewakan komputer laptop kepada para penumpang. Maskapai ini juga merupakan pengguna awal sistem telepon dalam pesawat GTE Airfone.

Baca juga: Langkahi FAA, Trump Putuskan Temporary Grounded Boeing 737 MAX 8 di Amerika Serikat

Inovasi lainnya juga tak kalah menarik. Dalam setiap penerbangannya, maskapai menawarkan makanan gratis, termasuk ayam dan steak di beberapa penerbangan, serta sampanye, bir, dan anggur gratis. Baik Trump maupun mitra bisnisnya, kala itu, sama-sama menghabiskan jutaan dolar untuk kampanye iklan pada media 1989 untuk menarik minat publik.

Meskipun sempat mengalami sentimen positif di awal kemunculan, pada akhirnya, setelah 18 bulan beroperasi, maskapai mengaku kehilangan lebih dari US$125 juta. Pada tahun 1992, Trump pun memutuskan untuk mengakhiri bisnisnya di dunia penerbangan.

Leave a Reply