Ulah Orang Iseng Dibalik Tanda SOS, TOLONGGG, dan ‘Kami Masih Hidup’ di Pulau Laki

0
Tanda SOS di Pulau Laki. Foto: Twitter

Di setiap perisitiwa pasti akan selalu ada ulah tangan-tangan tak bertanggung jawab; tak terkecuali terkait kecelakaan pesawat Boieng 737-500 Sriwijaya Air PK-CLC dengan nomor penerbangan SJ-182, dimana ada tanda SOS, TOLONGGG dan sebagainya di Google Maps.

Baca juga: Pasir Sinyal ‘SOS’ Selamatkan Tiga Pria Usai Terdampar Tiga Hari di Pulau Terpencil Tak Berpenghuni

Diketahui, pesawat yang mengangkut 62 orang yang terdiri dari 12 kru, 40 penumpang dewasa, tujuh anak-anak, dan tiga bayi ini dipastikan jatuh di antara Pulau Laki dan Pulau Lancang Kepulauan Seribu, DKI Jakarta.

Meskipun misteri jatuhnya pesawat Sriwijaya Air PK-CLC ini masih belum terungkap lantaran salah satu bagian dari black box (Cockpit Voice Recorder) rusak dan memorinya hilang, namun, dari data-data sebelum pesawat hilang kontak, pesawat sempat menukik tajam dengan kecepatan tinggi. Dalam kecepatan tinggi itulah kemudian pesawat menghujam lautan di sekitar Pulau Laki dan Pulau Lancang.

Dengan posisi itu, tak heran bila banyak korban kecelakaan itu sudah tak lagi utuh. Potongan tubuh bahkan ditemukan dimana-mana, baik di sekitar lokasi kejadian bahkan hingga Pantai Muaragembong, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat dan di Pantai Kis, Pakuhaji, Kabupaten Tangerang, Banten. Singkatnya, besar kemungkinan -bila tak ingin dikatakan mustahil- bahwa tak ada korban selamat dalam insiden itu.

Oleh karenanya, aneh bila tanda atau sinyal SOS dan TOLONGGG di Google Maps, yang sempat membuat warga Twitter heboh, muncul sebagai pertanda adanya korban selamat yang meminta pertolongan di Pulau Laki, Kepulauan Seribu.

Bukan hanya itu, berbagai tanda lainnya juga muncul seperti pesan bertuliskan “Kami masih hidup” dan “Tolongin kita” juga viral di Twitter.

Terlepas dari ini hoax atau ulah orang iseng atau bukan, tim SAR sendiri sudah bergerak ke lokasi dan menyisir seluruh area. “Kita nggak menemukan apa-apa,” ujar Direktur Operasi Basarnas Brigjen Rasman MS kepada wartawan.

Penjelasan dari Google sendiri, sebagaimana laporan CNN Indonesia, ada tiga sumber data Google Maps, yaitu Google sendiri, pihak ketiga dan sumber publik, seperti data dari pemerintah dan institusi peta untuk memberikan penamaan jalan, kota, wilayah, dan keterangan geografis lain, serta kontribusi pengguna.

Saat di klik, pengguna bisa menambahkan sendiri nama tempat yang dimaksud, memilih kategori tempat, dan keterangan tambahan lain seperti nomor telepon, waktu buka, foto, hingga alamat web. Setelah informasi dikirim, tag tidak langsung tampil di Google Maps, tapi perlu persetujuan Google terlebih dulu.

Baca juga: Fake GPS, Jurus Pengemudi Online Akali Order Pelanggan

Pilihan kategori tempat, apakah itu taman, tempat belanja, atau hotel, akan memberikan tag khusus. Pada tag SOS di Pulau Laki, ditandai tag dengan simbol taman.

Dari keterangan Google di atas, itu berarti siapapun bisa berkontribusi untuk menambahkan nama tempat, tentu dengan nama yang diinginkan kontributor. Sama halnya ketika salah satu tempat di sekitar rumah Anda atau mungkin rumah Anda sendiri di-tag sebagai rumah ibadah atau mungkin mall oleh kontributor iseng, bisa saja dan bukan tak mungkin akan disetujui oleh Google sekalipun sebagai sebuah kekeliruan sistem.

Leave a Reply