Delapan Bulan Beroperasi, MRT Jakarta Hampir Angkut 20 Juta Penumpang!

0
Tiga Rangkaian Kereta MRT Jakarta di Depo Lebak Bulus

Setelah rampung pengerjaan Fase 1 yang menghubungkan Lebak Bulus dan Bundaran HI, kini tiba saatnya bagi MRT Jakarta untuk merilis hasil pengoperasiannya yang dimulai sejak bulan Maret kemarin. Ramainya stasiun setiap hari menjadi pertanda baik bagi perusahaan, dimana tujuan awal dari hadirnya moda berbasis massal baru ini setidaknya sudah terwujud – mengubah kebiasaan warga Jakarta untuk mulai menggunakan transportasi publik dan meninggalkan kendaraan pribadinya. Kira-kira, apa saja berita baik yang dibawa oleh William Sabandar cs.?

Baca Juga: “Bebas,” Jadi Film Pertama yang Dibuat dengan Latar MRT Jakarta

Berdasarkan siaran pers yang diterima KabarPenumpang.com, pencapaian jumlah penumpang MRT Jakarta tertanggal 24 Maret hingga 26 November kemarin mencapai 19.990.959 penumpang. Pihak MRT Jakarta juga menambahkan bahwa rata-rata penumpang per-bulan berada di level 83.516 penumpang dengan ketepatan waktu (On Time Performance/OTP) 100 persen!

“Rata-rata penumpang per-hari tertinggi berada di angka 93.165,” tulis manajemen MRT Jakarta dalam pesan tertulis.

Beralih ke soal pendapatan, MRT Jakarta membukukan beragam pendapatan yang didapat dari Farebox, Non-Farebox, dan subsidi. Menurut Direktur Utama PT MRT Jakarta, William Sabandar, keuntungan Non-Farebox yang dimaksud di atas diperoleh dari iklan yang menyumbang angka 55 persen, naming rights (penamaan stasiun) dengan presentase 33 persen, jaringan telekomunikasi di angka 2 persen, hingga retail dan UMKM yang menyumbang 1 persen.

Ya, seperti yang sudah diketahui bersama, ada beberapa nama merek yang bertengger di belakang beberapa nama stasiun MRT Jakarta, seperti Lebak Bulus Grab, Blok M  BCA, Istora Mandiri, Setiabudhi Astra, hingga Dukuh Atas BNI.

“Tahun ini kita akan membukukan keuntungan di angka antara Rp60 sampai dengan Rp70 miliar. Yang paling besar (mendongkrak keuntungan) adalah advertising (iklan) dan naming right. Itu kontribusinya kira-kira 70 sampai 80 persen,” ujar William.

“Target tahun 2020 mencapai keuntungan 200 hingga 250 miliar, dengan perkiraan pendapatan farebox mencapai Rp180 miliar” sambungnya.

Baca Juga: MRT Jakarta Libatkan 16 UMKM di Lima Stasiun

Dirinya juga menambahkan bahwa pihak MRT Jakarta selalu optimis untuk meraup keuntungan lebih – mengingat mereka masih memiliki beberapa stasiun yang belum ‘diberi nama’.

“Harus optimistis, kita melihat potensi-potensi pendaanaan karena kita sudah menjual 5 stasiun untuk naming right dan ada potensi untuk menjual tujuh stasiun lagi,” ujar William.

Leave a Reply