Gunakan Kotoran Kelinci, ANA Siap Gunakan Bahan Bakar Ramah Lingkungan Pada 2021

ANA

Di akhir tahun 2018 kemarin, maskapai penerbangan yang juga merupakan anak perusahaan dari Virgin Group, Virgin Atlantic dikabarkan telah sukses menerbangkan varian Boeing 747 dari Florida menuju London dengan menggunakan campuran bahan bakar ramah lingkungan. Pencampuran bahan bakar ramah lingkungan dengan avtur ini juga tidak main-main, hingga mencapai rasio perbandingan 50 persen.

Baca Juga: Virgin Atlantic Sukses Terbangkan Boeing 747 dengan Bahan Bakar Ramah Lingkungan

Kini dalam upayanya untuk menciptakan pengoperasian pesawat yang lebih ramah lingkungan, sejumlah maskapai penerbangan lain juga mulai menciptakan terobosan untuk dapat mewujudkan hal tersebut – salah satunya datang dari maskapai asal Jepang, All Nippon Airways (ANA). Sebagaimana yang dikutip KabarPenumpang.com dari laman foxnews.com (25/6/2019), maskapai ini berharap dapat menerbangkan armadanya dengan menggunakan bahan bakar yang terbuat dari kotoran kelinci.

Ya, mungkin sebagian dari Anda akan mengernyitkan dahi ketika mendengar bahan baku yang digunakan, namun para peneliti percaya bahwa kandungan yang ada di dalam kotoran binatang yang menggemaskan ini. Lalu, bagaimana proses yang akan terjadi sampai-sampai kotoran kelinci ini bisa dijadikan campuran bahan bakar pesawat?

Para peneliti dari LanzaTech – rekanan ANA dalam mengembangkan inovasi ini, mengatakan bahwa mereka menggunakan emisi daur ulang seperti dari pabrik baja yang kemudian dikonversi menjadi ethanol dengan menggunakan enzim yang terkandung di dalam kotoran kelinci. Hasil konversi inilah yang nantinya akan menjadi campuran bahan bakar pesawat pada penerbangan komersial.

Sama halnya seperti Virgin Atlantic, rasio perbandingan yang akan digunakan oleh ANA dan LanzaTech dalam menggunakan bahan bakar ramah lingkungan ini adalah 50:50. Rencananya, uji coba penerbangan pesawat ANA yang menggunakan bahan bakar campuran ini akan mulai diberlakukan pada musim gugur tahun 2019 ini dan jika tidak ada ral melintang, maka ANA akan mulai bisa menggunakannya pada penerbangan komersial di tahun 2021.

Baca Juga: BEHA_M1H, Pesawat Paling Ramah Lingkungan yang Gunakan Model Sayap Unik!

“Dengan mengadopsi bahan bakar canggih ini, akan memungkinkan kami untuk mengurangi emisi CO2 dan memenuhi tujuan pembangunan berkelanjutan yang ambisius yang telah kami tetapkan untuk maskapai,” ujar vice president dari ANA, Akihiko Miura.

Kendati International Air Transport Association (IATA) mengklaim bahwa perjalanan udara hanya menyumbang 2 persen dari emisi karbon dioksida buatan manusia pada tahun 2017, banyak yang percaya bahwa nilai tersebut harusnya lebih tinggi. Hal ini dikhawatirkan akan semakin parah dengan perkiraan peningkatan jumlah permintaan penerbangan dari penumpang yang akan terjadi pada tahun 2036 mendatang.