Imbas Krisis Hong Kong, Makau dan Shenzhen Ikut Terdampak Penurunan Wisatawan

(Lombok Insider)

Kendati sudah terjadi sejak bulan Maret kemarin, namun kerusuhan yang ada di Hong Kong terkait RUU Ekstradisi masih belum juga surut. Bak efek bola salju, semakin lama durasi demonstrasi ini, maka semakin banyak pula pihak yang dirugikan – termasuk dari dunia penerbangan. Pada artikel sebelumnya sudah disebutkan bahwa sejumlah maskapai beken seperti Singapore Airlines, Qantas, Cathay Pacific hingga Garuda Indonesia mengalami kerugian akibat protes berkelanjutan ini, kini satu maskapai lagi yang turut mengalami penurunan kas perusahaan adalah AirAsia.

Baca Juga: Rute ke Hong Kong Lesu, Garuda Indonesia Susutkan Frekuensi Penerbangan Jadi 2 Kali Seminggu!

Ya, maskapai berbiaya rendah asal Negeri Jiran Malaysia ini juga dikabarkan turut terdampak proter RUU Ekstradisi di Hong Kong, setelah pihak maskapai membuka data soal penurunan jumlah penumpang tujuan Makau dan Shenzhen. Sebagaimana yang diwartakan KabarPenumpang.com dari laman straitstimes.com (18/11), CEO dari AirAsia Tony Fernandes mengatakan bahwa penurunan angka penumpang menuju Negeri Tirai Bambu ini merupakan sesuatu yang, “buruk,”

Makau dan Shenzhen diketahui sebagai wilayah yang berdekatan dengan Hong Kong, dimana tak sedikit wisatawan yang mengambil peket tour terusan ke kedua wilayah tersebut.

Merosotnya jumlah penumpang ini semakin diperparah oleh himbauan pihak Malaysia yang melarang warganya untuk tidak melakukan perjalanan yang tidak penting ke bagian-bagian yang terkena dampak dari kerusuhan Hong Kong tersebut.

Menilik imbas bagi Hong Kong sendiri, kini jumlah wisatawan yang datang ke negara tersebut juga telah mengalami penurunan yang cukup signifikan. Selain itu, deru protes tak berujung ini juga sejatinya ‘melukai’ bisnis yang ada di sana – baik dalam partai besar maupun di kelas pengecer.

Baca Juga: Singapore Airlines, Cathay dan Qantas Mengaku Terdampak Kerusuhan di Hong Kong

Seperti yang sudah diketahui bersama, maskapai Singapore Airlines pun merasakan hal yang sama, dimana permintaan penerbangan menuju Hong Kong masih terbilang lesu. Lain cerita dengan Garuda Indonesia yang sampai-sampai memangkas jumlah penerbangan menuju Hong Kong – dimana sebelum kerusuhan terjadi, flag carrier Indonesia ini menjadwalkan 14 penerbangan dalam seminggu, kini dipangkas habis menjadi dua penerbangan saja dalam seminggu (Jakarta-Hong Kong).

Lalu untuk rute penerbangan dari Denpasar menuju Hong Kong, Garuda Indonesia yang tadinya menjadwalkan tujuh penerbangan dalam seminggu juga turut dipapas menjadi dua penerbangan saja.