Low Cost Carrier Terminal Akan Hadir di Terminal 1 dan 2 Bandara Soetta

Low Cost Carrier Terminal (LCCT) akankah hadir untuk maskapai berbiaya rendah di Indonesia? Belum lama ini, AirAsia Indonesia mendorong pemerintah untuk membuat atau mengadakan terminal khusus bagi maskapai berbiaya rendah agar airport tax atau Passenger Service Charge (PSC) bisa turun dan harga tiket lebih murah.

Baca juga: Bandara Soekarno-Hatta Hadirkan “Hotel Kapsul” di Terminal 3 Domestik

Sebab saat ini diketahui, PSC di Terminal 3 Bandara Internasional Soekarno-Hatta Rp230 ribu. CEO AirAsia Indonesia Dendy Kurniawan mengatakan, bila ada penurunan PSC dari Rp230 ribu menjadi Rp110 ribu biaya tersebut tidak dinikmati oleh maskapai melainkan penumpang.

“Bila dengan acuan di Terminal 3 Bandara Soetta ada satu juta penumpang, jika PSC diturunkan menjadi Rp110 ribu maka kemungkinan akan ada tambahan penumpang sampai tiga juta. Lebih untung mana coba? Tentu itu akan win-win, praktis untuk pemerintah, airline, keuntungan buat pengelola AP II juga jadi lebih tinggi,” tutur Dendy yang dikutip KabarPenumpang.com dari kompas.com.

Tak hanya menguntungkan dari tiket pesawat, bisnis non aeronautikal juga akan mendapatkannya. Dengan adanyaa dorongan dari AirAsia Indonesia, Direktur Utama PT Angkasa Pura II, Muhammad Awaluddin angkat bicara dan memaparkan skema rencana untuk LCCT atau terminal khusus bagi maskapai berbiaya rendah di Bandara Soetta.

Awaluddin mengatakan, LCCT akan berada di Terminal 1 dan 2 Bandara Soetta. “Prosesnya sekarang sudah dimulai, Terminal 1 jadi LCCT domestik, Terminal 2 jadi LCCT domestik dan internasional, lalu Terminal 3 jadi full service carrier domestik dan internasional.”

Awalnya, AP II memang berencana untuk merevitalisasi Terminal 1 dan 2 dalam rangka menambah kapasitas penumpang per tahunnya. Tetapi belakangan melalui pemerintah dengan arahan Presiden Joko Widodo yang ingin meningkatkan industri pariwisata menugaskan AP II membuat LCCT.

LCCT dinilai bisa meningkatkan jumlah wisatawan baik domestik maupun internasional, sebab harga tiket yang ditawarkan maskapai terbilang murah dan kompetitif. Sayangnya untuk mewujudkan itu semua, maskapai LCC membutuhkan terminal atau bandara khusus karena berpengaruh pada perhitungan harga tiket dengan salah satu didalamnya adalah PSC.

“Kami asumsikan, (kapasitas penumpang per tahun) Terminal 1 dan Terminal 2 increase 100 persen jadi total 36 juta,” tutur Awaluddin.

Baca juga: Tak Ada Pembagian Daerah, Angkasa Pura II Kini Kelola Bandara Banyuwangi

Total anggaran yang dikeluarkan untuk membuat Terminal 1 dan 2 menjadi LCCT adalah Rp3,7 triliun, dengan rincian Rp1,9 triliun untuk Terminal 1 dan Rp1,8 triliun untuk Terminal 2. Semua biaya tersebut berasal dari internal AP II atau self financing.

Rencananya, LCCT sudah bisa dioperasikan paling cepat akhir tahun ini dan paling lambat tahun 2019. Setelah membuat LCCT, AP II akan membangun Terminal 4 untuk mengakomodasi pertumbuhan pergerakan penumpang dan pesawat yang pertumbuhannya makin pesat.

Angkasa Pura I Bangun Base Ops dan Safe House di Lanud I Gusti Ngurah Rai

PT Angkasa Pura I dan TNI AU melaksanakan Penandatanganan Kesepakatan Bersama mengenai Pendayagunaan Aset Tetap Perusahaan untuk Pembangunan Relokasi Base Ops Lanud I Gusti Ngurah Rai serta Penandatanganan Perjanjian mengenai Penggunaan Bersama Pangkalan TNI Angkatan Udara (Lanud) Pattimura Ambon sebagai Bandar Udara.

Baca juga: Dongkrak Perekonomian Wilayah Purbalingga, Bandara JB Soedirman Siap Beroperasi di 2019

Pendatanganan Kesepakatan dan Perjanjian Kerjasama dilaksanakan oleh Direktur Sumber Daya Manusia & Umum PT AP I Adi Nugroho bersama Panglima Komando Operasi Angkatan Udara III Tamsil Gustari Malik di Ruang Rapat Novotel Bali Ngurah Rai Airport, Jumat (10/8) pagi.

“Penandatangan kesepakatan bersama antara Angkasa Pura I dan TNI AU merupakan salah satu bentuk sinergi antar instansi yang dilandasi oleh semangat untuk meningkatkan sarana & prasarana di Bandara I Gusti Ngurah Rai Bali guna mendukung penyelenggaraan World Bank Group Annual Meeting 2018 yang dilaksanakan pada Oktober mendatang,” ujar Direktur SDM & Umum Angkasa Pura I, Adi Nugroho.

Melalui Penandatanganan Kesepakatan Bersama ini Angkasa Pura I akan membangun bangunan Base Ops dan Safe House Lanud I Gusti Ngurah Rai sebagai bangunan pengganti Base Ops dan Safe House Lanud I Gusti Ngurah Rai yang terkena proyek pembangunan peningkatan kapasitas apron, yang terletak di sisi timur apron Bandara I Gusti Ngurah Rai. Adapun masa berlaku kesepakatan bersama ini adalah 2 (dua) tahun sejak ditandatangani.

Operasi di Bandara Ngurah Rai kini telah berlangsung 24 jam, peningkatan kapasitas runway menjadi 33 penerbangan per jam dari yang semula 30 penerbangan, Rapid Exit Taxiway dari 3 menjadi 4.

Selain itu Penandatanganan Perjanjian antara Angkasa Pura I dan TNI AU juga meliputi operasional penggunaan bersama Pangkalan TNI AU Patimura sebagai Bandar Udara dan Pemanfaatan Barang Milik Negara (BMN) pada TNI AU di Pangkalan TNI AU Pattimura.

Mengintip Porsi dan Menu Sarapan di KM Dobonsolo

“Porsi nasinya banyak…,” demikian yang diutarakan Marco Ferrarese, seorang penulis wisata kenamaan asal Malaysia yang mengisahkan perjalanannya berlayar dari Makassar, Sulawesi Selatan menuju Sorong, Papua Barat dengan menumpangi kapal KM Dobonsolo milik PT Pelni.

Baca juga: Pelni Hadirkan WiFi Gratis di 18 Armada Kapalnya

Dalam tulisannya yang berjudul “Four Days, Three Night, 932 Miles and A Lot of Rice,” di roadsandkingdoms.com, Ferrarese dalam pelayaran empat hari tiga malam dengan menumpuh jarak 1.500 km menuju Raja Ampat, punya kesan tersendiri pada komposisi makanan pada saat sarapan, terlebih Ia berada di kelas ekonomi (wisata).

Ferrarese menyebutkan, dalam tiket seharga Rp503.000, para penumpang kelas ekonomi mendapat tiga kali sehari makanan yang diberikan dalam kotak plastik yang sama. Komposisi makan terdiri dari nasi putih, sejumput sayuran berkuah, sepotong tempe, kepala ikan, sepotong biskuit crackers, dan segelas air mineral.

Marco Ferrarese

Yang paling berkesan adalah jumlah takaran nasi yang cukup banyak. Untuk makanan pun, penumpang kapal harus menunjukkan tiket mereka dan petugas akan memeriksa dan mencoretnya serta mengembalikan lagi tiket tersebut dengan kotak makanan.

Jadwal makan pagi jam 6 pagi, makan siang jam 11, makan malam jam 5 sore. Dahulu, berlayar dengan kapal Pelni antre makan menggunakan piring kaleng ceper persegi panjang macam di penjara. Namun sekarang sudah menggunakan kemasan plastik semacam katering. Umumnya makanan yang diberikan terdiri dari menu ikan goreng, ikan kuah kuning dengan sayur kol atau bihun. Saat sarapan pagi, penumpang mendapatkan susu dan makan malam mendapat jus dalam botol.

Baca juga: Garap Wisata Bahari, Pelni Canangkan Layanan Kapal Pesiar

Di kelas ekonomi, penumpang tidur beramai-ramai dengan satu orang satu kasur dalam satu dek. Di bagian atas kasur ada tempat untuk menyimpan barang dan dua colokan untuk mengisi baterai alat elektronik.

PT MRT Jakarta Mulai Coba System Acceptance Test

Sebagai moda transportasi baru yang akan hadir di Jakarta pada 2019 mendatang PT MRT Jakarta tengah mempersiapkan diri sebaiknya. Tidak hanya meningkatkan mobilitas, tetapi PT MRT Jakarta juga akan memberikan manfaat tambahan bagi ibu kota.

Baca juga: Listrik Telah Tersambung, MRT Jakarta Siap Uji Coba Wahana

Selain menjadi solusi untuk mengatasi kemacetan dimana masyarakat melakukan perubahan gaya hidup dengan meninggalkan kendaraan pribadi dan menggunakan kendaraan umum, juga untuk memperbaiki kualitas udara. Apalagi belakangan kualitas udara ibu kota Jakarta buruk dan masuk dalam posisi lima besar dunia dengan kualitas udara terburuk.

Kemarin, System Acceptance Test (SAT) mulai dicoba oleh PT MRT Jakarta menggunakan rangkaian kereta pertama yang kini sudah ada di Depo Lebak Bulus, Jakarta Selatan. Uji coba pertama tesebut dilakukan untuk melihat sistem persinyalan kereta, telekomunikasi dan Overhead Catenary System (OCS) dengan menjalankan kereta MRT rangkaian pertama.

Perjalanan kereta itu dimulai dari Depot Inspection Shed area, stabling track 1 hingga ke Depot Access Line (DAL). Uji coba ini sendiri juga dilakukan untuk melihat apakah pasokan listrik yang ada bekerja dengan baik. Uji coba yang dilakukan PT MRT Jakarta sendiri saat ini menggunakan mode Automatic Train Protection (ATP) dengan kendali manual oleh masini untuk track di area Depo.

“Sore ini kita melihat kegiatan pengetesan SAT menggunakan rangkaian kereta pertama sekaligus mengecek pasokan listrik dan daya yang bekerja dengan baik. Uji coba ini telah sesuai dengan target MRT Jakarta bahwa 9 Agustus 2018 ini uji coba pertama dilakukan,” ujar Direktur Utama PT MRT Jakarta William Sabandar melalui keterangan pers yang diterima KabarPenumpang.com, Kamis (9/10/2018).

Baca juga: Tidak Hanya dari Tiket, Inilah ‘Ladang-Ladang’ PT MRT Jakarta Raup Keuntungan

Tak hanya itu, PT MRT Jakarta sendiri juga melakukan uji lanjutan lainnya yakni uji coba berkecepatan rendah, kecepatan medium dan kecepatan tinggi. Untuk pengoperasiannya kereta MRT Jakarta akan menggunakan sistem persinyalan Communication-based Train Control (CBTC) langsung dikendalikan dari ruang Operation Control Center (OCC) oleh Traffic Dispatcher. Kelebihan sistem persinyalan ini salah satunya memungkinkan pengaturan rentang waktu antarkereta di jalur utama diatur oleh Pusat Kendali Operasi atau OCC.

Banyak Pilihan Moda Transportasi, Mudahkan Melancong di Taiwan

Setiap mengunjungi suatu negara, kota ataupun pulau yang paling dipermasalahkan adalah transportasinya baik untuk menuju ke sana ataupun selama berada di sana. Namun berbeda dengan Taiwan, yang memiliki banyak pulau dengan ibu kotanya di Taipei.

Baca juga: Disneyland Resort Line Hong Kong, Kereta Khusus dengan Nuansa Mickey Mouse

KabarPenumpang.com merangkum dari berbagai laman sumber, Taiwan sendiri memiliki banyak moda transportasi yang bisa digunakan. Sehingga para pelancong yang berkunjung ke pulau Formosa ini tidak perlu takut saat menjelajahnya. Ya berikut ini ada beberapa moda transportasi darat yang bisa digunakan pelancong saat melakukan perjalanan di Taiwan selain menggunakan kendaraan sewaan atau taksi.

1. Taiwan High Speed Rail (THSR)
Sistem kereta cepat ini sendiri menghubungkan sepuluh provinsi yang ada di Taiwan yakni dari utara ke selatan. THSR sendri populer dengan sebutan bullet train atau kereta peluru yang melintas di jalur sepanjang 345 km dan terus bertambah. Layanan kereta yang beroperasi pada Januari 2007 ini jalurnya bermula dari Nangnang dan melalui stasiun lainnya yakni Taipei-Banqiao-Taoyuan-Hsinchu-Miaoli-Taichung-Changhua-Yunlin-Chiayi-Tainan dan berhenti di stasiun Zhuoying Kaohsiung. Bila melakukan perjalanan dari Taipen menuju Kaohsiung dengan THSR ini hanya memakan waktu 1 jam 45 menit dari waktu normal 3-4 jam.

2. Mass Rapid Transit (MRT)
Ketika pelancong berada di Taipei atau Kaohsiung, pilihan kereta lokal atau MRT adalah yang tepat. Pelancong bisa mendapatkan informasinya dengan mudah di stasiun, bandara atau toko 7-eleven. Tenang, bagi pelancong yang tidak bisa berbahasa Mandarin, mesin penjualan tiket, rambu dan peta juga tersedia dengan bahasa Inggris. Bila pelancong memilih untuk tinggal di Taipei sementara waktu bisa memiliki EasyCard untuk memudahkan dalam menggunakan angkutan umum yang bisa juga digunakan untuk bus dan taksi.

3.Taiwan Railway Administration (TRA)
TRA sendiri memiliki tiga jakur utama yakni West Line, East Line dan South Link Line. West Line sendiri menghubungkan Pingtung-Kaohsiung-Taichung-Taipei dan Keelung. Eastern Line berangkat dari Shulin via Taipei dan Hualien menuju Taitung. Sementara South-Link Line menghubungkan Kaohsiung dan Taitung. Untuk TRA sendiri ada pilihan tiket yang bisa di beli oleh pelancong. Jika menggunakan keret Tze Chiang maka pilihan otomatis pada kelas eksekutif, kemudian Chua Kuang, kelas yang dipilih adalah bisnis. Sedangkan jika memilih kelas ekonomi adalah menggunakan Local Train.

Baca juga: Bus Tanpa Awak Segera Beroperasi di Taiwan

4. Bus
Selain kereta, di Taiwan pelancong juga bisa menggunakan bus yang siap melayani antar kota dan provinsi serta bus dalam kota. Armada bus yang melayani jarak jauh melewati kota-kota besar seperti Taipei, Taichung dan Kaohsiung. Bepergian dari Taipei ke Taichung bisa menggunakan Dragon Bus, U-Bus atau bus yang lainnya. Sedangkan perjalanan dari Taichung menuju Kaohsiung dapat ditempuh dengan Taichung Bus.

Ada pula pilihan lain pada bus yang akan digunakan pelancong seperti bus wisata yang bisa dipilih namun harus memesan sebelum keberangkatan karena terkait dengan tempat penjemputan, rute serta jadwal yang di sesuaikan. Taipei Double Decker Hop-on Hop-off bus, untuk mendapat layanan bus ini, pelancong harus memesan e-tiket sebelum bepergian menggunakan bus tingkat satu ini. Layanan shuttle transportasi wisata juga memiliki jangkauan rute lebih luas, dengan total sekitar 40 rute. Beberapa rute paling diminati yaitu Yehliu Geopark, Jiufen, Nanzhuang, Sun Moon Lake, Alishan, dan Hengchun. Layanan ini berbasis eco-friendly, selain berwisata Anda pun dapat mendukung perlindungan alam. Jadwal dan tempat keberangkatan shuttle ini berbeda-beda sesuai paket dan rute yang diambil.

Berakhir Sebagai “Rumah Ikan,” Inilah Detik-Detik Dramatis Penenggelaman Kapal Ferry

Sebuah kapal ferry yang dioperasikan oleh Delaware River and Bay Authority (DRBA), Cape May-Lewes baru-baru ini menjadi sorotan publik dunia. Pasalnya kapal yang selama ini beroperasi di Teluk Delaware, Amerika Serikat tertangkap kamera kandas di sekitar Del-Jersey-Land Inshore Artificial Reef. Kapal ini sendiri diketahui karam pada Jumat (15/6/2018) kemarin.

Baca Juga: Angkut 139 Penumpang dan Puluhan Kendaraan, KM Lestari Maju Tenggelam di Perairan Selayar

Namun Anda jangan salah kaprah terlebih dahulu. Ternyata kapal ini memang sengaja ditenggelamkan untuk menciptakan karang buatan (artificial reef) di lokasi tersebut. Dilansir KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber, sejumlah pihak yakin bahwa Cape May-Lewes Ferry akan menyediakan habitat buatan untuk kehidupan mahkluk laut.

Tidak hanya Motor Vessel (MV) seberat 2.100 ton ini saja yang ditenggelamkan di Del-Jersey-Land Inshore Artificial Reef. Sebelumnya, sudah ada dua kapal ferry lain yang juga telah menciptakan habitat buatan – pertama adalah USS Arthur W. Radford pada tahun 2011, yang disusul oleh kapal yang digunakan dalam perang Iwo Jima.

“Diharapkan ini menjadi satu tambahan yang baik untuk kelangsungan ekosistem laut buatan di Del-Jersey-Land Inshore Artificial Reef. Dimana kelak ferry itu akan menambah keindahan yang bisa dilihat oleh para penyelam,” tutur salah satu pihak berwajib di sana.

Seperti yang mungkin selama ini Anda pernah lihat di layar kaca, dimana sebuah kapal yang kandas lama kelamaan akan bertransformasi menjadi tempat tinggal para biota laut, seperti ikan, terumbu karang, dan lain-lain.

Dalam sebuah video yang diunggah ke laman Youtube, tampak ada tiga kapal kecil yang turut ‘mendampingi’ Cape May-Lewes Ferry sebelum dikandaskan. Kuat dugaan, kapal ini ditenggelamkan dengan menggunakan bahan peledak yang akan melubangi lambung kapal. Setelah itu air akan masuk memenuhi dek dan hanya membutuhkan waktu beberapa menit saja sebelum kapal ini tenggelam dengan sendirinya.

Baca Juga: Masalah Manifes, Bukti Carut Marutnya Layanan Pelayaran di Tanah Air

Sebagai informasi tambahan, Cape May-Lewes Ferry sendiri mulai beroperasi pada 1 Juli 1964 dan menggantikan peran dari lima kapal uap yang beroperasi di Chesapeake Bay, yang menghubungkan Cape Charles dan Virginia Beach. Namun rute pengoperasoan dari kapal ferry ini digeser menuju Teluk Delaware seiring dengan pembukaan Chesapeake Bay Bridge-Tunnel.

 

Penumpang MRT Filipina ‘Kehujanan’ di Dalam Gerbong! Lho, Kok Bisa?

Jika kehujanan di ruang terbuka nampaknya sudah sangat biasa ya, namun apa jadinya Anda kehujanan di dalam kereta? Nah, gimana ceritanya? Ternyata pernyataan di atas baru-baru ini terjadi di Filipina, dimana penumpang prioritas layanan Metro Rail Transit Line 3 (MRT-3) terpaksa haurs menggunakan payung di dalam rangkaian kereta tersebut lantaran masalah pada bagian pendingin ruangan.

Baca Juga: Jeepney, Angkot Khas Filipina Dengan Sejuta Ornamen Pelengkapnya

Dilansir KabarPenumpang.com dari laman philstar.com (9/8/2018), kejadian ini terjadi di khusus wanita, anak-anak, orang tua, dan penyandang disabilitas. Kala itu, kereta tengah berada di antara stasiun MRT Boni di Mandaluyong dan Taft Avenue di Pasay. “Kendati kesal, namun beberapa diantara kami masih sempat mengolok-olok insiden konyol tersebut,” ujar salah satu penumpang di dalam rangkaian itu.

Berita ini dengan cepat tersebar setelah salah seorang penumpang bernama Giselle Visitacion Tolosa yang kebetulan berada di dalam rangkaian tersebut mengabadikannya dalam bentuk video dan diunggah ke laman Facebook. Hingga berita ini diturunkan, video tersebut sudah ditonton lebih dari 654.000 kali dan dibagikan lebih dari 10.000 kali.

Sampai-sampai, salah satu pengguna Facebook bernama Edgar Calbin Go mengatakan, “Inilah alasan kami lebih memilih untuk menggunakan kendaraan pribadi dan bermacet-macet ria ketimbang harus bepergian menggunakan layanan MRT,”

Atas kejadian yang terjadi pada Selasa (7/8/2018) ini, Department of Transportation (DOTr) pun meminta maaf atas ketidaknyamanan yang terjadi. “Kami memohon maaf atas ketidaknyamanan yang terjadi akibat kebocoran pada sistem pendingin udara kami,” tutur Goddes Libiran, Communications Director di DOTr.

Goddes beranggapan, kebocoran tersebut disebabkan oleh kondisi pendingin udara yang sudah termakan usia. “Terakhir, sistem pendingin udara di MRT diganti pada tahun 2008 silam, sebagai bagian dari perbaikan umum,” ujarnya dalam sebuah penyataan resmi.

Baca Juga: Tak Angkut Penumpang, 500 Pengemudi Grab di Filipina Diganjar Sanksi

Guna mencegah hal seperti ini terulang kembali, rangkaian yang disinyalir mengalami masalah pada bagian sistem pendingin udaranya ini lalu dibawa ke Depo MRT di Quezon City untuk diperbaiki. “42 dari 78 sistem pendingin udara yang dipesan oleh DOTr akan tiba pada bulan ini dengan nilai 116,5 juta Peso (Rp31,7 miliar).” tutupnya.

 

Mudahkan Penumpang Penerbangan Internasional, Pemerintah Australia Izinkan Mobile Check In

Mobile check in kini dihadirkan pada penerbangan internasional oleh pemerintah Australia demi memudahkan penumpangnya. Kemudahan ini sendiri selain menghapus check in dan boarding pass fisik, juga untuk mengurangi waktu tunggu penumpang dalam antrian pemeriksaan baik imigrasi maupun gerbang keberangkatan.

Baca juga: Gandeng Qantas Airways, Bandara Internasional Sydney Operasikan Fitur Face Recognition

KabarPenumpang.com melansir dari laman airport-technology.com (7/8/2018), dengan adanya fasilitas mobile check in tersebut, maskapai penerbangan saat ini bisa mengeluarkan tiket boarding elektronik pada penerbangan internasional mereka. Sehingga penumpang saat akan melewati pemeriksaan gerbang dan imigrasi hanya tinggal menunjukkan e-boarding mereka yang ada di ponsel.

Menteri Kewarganegaraan dan Urusan Multikultural Australia, Alan Tudge mengatakan, bahwa langkah tersebut diambil untuk menuju otomatisasi di perbatasan dan menjadi salah satu fokus utama bagi pemerintah.

“Pada penghitungan keuangan akhir tahun lalu, lebih dari 21,4 juta wisatawan diberhentikan melalui perbatasan yang berangkat dari Bandara Internasional Australia. Jumlah ini juga akan terus meningkat. Peningkatan volume ini membuat kami selalu mencari cara untuk memudahkan pelancong secara efisien dan mencari yang menarik bagi penegak hukum,” ujar Tudge.

Dia menambahkan dengan adanya perubahan seperti ini akan memotong atau mengurangi kebutuhan mengunjungi meja check in untuk menunjukkan paspor dan mengambil boarding pass. Sehingga langkah terbaru ini diatur untuk memungkinkan wisatawan bergerak melintasi perbatasan Australia dengan lebih lancar.

Baca juga: Ikuti Tahapan Ini, Proses Check In dan Pemeriksaan Keamanan di Bandara Bakal Mulus

Mobile boarding pass sendiri akan mendukung fasilitas lain, seperti SmartGates, yang menawarkan proses perbatasan yang lebih cepat dan lebih sederhana bagi para pelancong sambil menjaga keamanan perbatasan. Rata-rata, SmartGates menangani lebih dari 73 persen wisatawan yang berangkat dari Australia, sehingga mengurangi waktu pemrosesan dan mempromosikan kemudahan perjalanan.

Baru-baru ini juga dilakukan beberapa uji coba yang sukses dilakukan oleh Departemen Dalam Negeri Australia dimana memungkinkan penumpang menggunakan boarding pass elektronik melalui ponsel mereka. Penumpang keberangkatan internasional pun kini disarankan untuk menghubungi maskapai yang mereka pilih terkait perubahan dan penerapan agar mendapat lebih banyak informasi.

Jelang Asian Games 2018, ASDP Operasikan Dermaga dan Layanan Ferry Eksekutif

Perhelatan olahraga se-Asia ke-18 yang akan berlangsung di Jakarta dan Palembang, membuat pemerintah pusat maupun daerah mempersiapkan yang terbaik seperti salah satunya moda transportasi dan fasilitasnya. Baru-baru ini Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Rini Soemarno melakukan kunjungan ke Lampung dan meninjau dermaga eksekutif di Merak.

Baca juga: Terombang-Ambing Selama Tujuh Jam, Penumpang Kapal Ferry ini Tidak Bisa Gunakan Toilet!

Adanya kunjungan tersebut untuk memastikan layanan laut yang di lakukan PT ASDP Indonesia Ferry berjalan optimal untuk mendukung Asian Games 2018.

“Saya terus memastikan bahwa BUMN pelayanan publik terus memberikan pelayanan optimal sebagai bentuk dukungan bagi penyelenggaraan Asian Games 2018,” ujar Rini yang dikutip KabarPenumpang.com dari liputan6.com, Rabu (8/8/2018).

Direktur Utama PT ASDP Indonesia Ferry, Ira Puspadewi mengatakan, diperkirakan akan ada peningkatan trafik selama pelaksanaan Asian Games 2018 pada lintasan Merak-Bakauheni yang menghubungkan Pulau Jawa dan Sumatera. Dengan adanya perhelatan besar se-Asia tersebut, pihaknya mendukung dengan membangun terminal eksekutif berkonsep modern yang kedepannya diharapkan mampu menunjang sektor pariwisata.

“Di dalam terminal akan ada hotel, restoran, retail, perkantoran dan area komersial dengan desain interior yang megah. Kami juga menghadirkan layanan kapal eksekutif yang ditargetkan nantinya dapat melintasi Merak-Bakauheni dalam waktu satu jam saja,” kata Ira.

Sehingga ASDP sendiri akan mengoptimalkan layanan kapal dan dermaga untuk memberikan layanan prima kepada pengguna jasanya. Ira mengatakan, pihaknya ingin orang-orang melihat wajah pelabuhan penyeberangan berubah dengan mengutamakan fasilitas yang mampu membuat penumpang nyaman.

Baca juga: Sebelum Menyebrang ke Bakauheni, Yuk Main di Destinasi Ini!

Dia mengatakan, hadirnya terminal ini diharapkan dapat lebih memanjakan para penumpang ferry yang akan menyeberang dari Merak ke Bakauheni. Sementara itu, pertengahan Agustus nanti juga akan dilakukan soft launching untuk keberangkatan kapal melalui dermaga eksekutif tersebut.

“Begini, kita mulai tanggal 15 Agustus itu soft launch belum ada selebrasinya, tapi kan bangunan baru penumpang itu udah mulai jalan dan kapal eksekutif jalannya efektifnya per September. Ada empat armada (kapal),” kata Ira.

Ira menambahkan, untuk kapal eksekutif, ASDP sendiri ‘mendandani’ interior sejumlah kapal yang beroperasi di Merak-Bakauheni menjadi kapal yang memiliki nuansa berbeda dengan kapal ferry pada umumnya, baik dari segi fasilitas maupun kenyamanan yang lebih baik. Jenis yang dioperasikan adalah kapal Roro (roll on roll off) dengan ukuran 13 ribu GT dan 15 ribu GT dan kapasitas penumpang 200 ribu orang.

Pelni Hadirkan WiFi Gratis di 18 Armada Kapalnya

Layanan WiFi gratis kini bisa dinikmati para penumpang yang bepergian dengan kapal laut. Pasalnya PT Pelayaran Nasional Indonesia (Pelni) sudah menyediakan WiFi gratis untuk semua penumpang di 18 armada kapalnya. Pelayanan ini sendiri ternyata sudah ada sejak kapal-kapal tersebut mengangkut para pemudik dari 8 Juni hingga 1 Juli 2018 kemarin.

Baca juga: Toyota Meluncur di Air dengan Kapal Balap Bertenaga Hidrogen

Tetapi setelah 1 Juli 2018 WiFi gratis hanya bisa digunakan penumpang hingga 5 MB dan jika ingin menggunakan di luar kapasitas tersebut bisa membeli layanan berbayar berupa kupon atau voucher di dalam kapal. KabarPenumpang.com merangkum dari berbagai laman sumber, bahwa pengadaan internet ini merupakan upaya Pelni untuk meningkatkan layanan pada pelanggan. Dalam membangun komunikasi kapal, sistem informasi di kapal hingga pemasangan WiFi, Pelni bekerja sama dengan PT Len Industri.

Hal ini dikarenakan sistem Komunikasi Kapal perlu ditingatkan agar pelayanan penumpang dan kru kapal semakin mudah dalam berkomunikasi di atas kapal di lokasi yang tidak ada jaringan komunikasinya. Sehigga solusi ini diharapkan mampu memenuhi kebutuhan akan jaringan komunikasi dan internet agar mendukung visi Pelni menjadi Perusahaan Pelayaran yang Tangguh dan Pilihan Utama Pelanggan

Manajer Humas dan CSR dari Pelni Akhmad Sujadi mengatakan pada 11 Mei 2018 lalu, keduanya telah melakukan penandatanganan nota kesepahaman di Bandung sebagai bentuk sinergi antar BUMN.

“Pelaksanaan Memorandum of Understanding antara Pelni dan Len diikuti dengan penandatanganan perjanjian kerjasama antara anak perusahaan, PT Pelita Indonesia Djaya Corporation (PIDC), dan PT Len Industri,” katanya.

PIDC dan mitranya mulai memasang peralatan telekomunikasi pada 18 kapal Pelni yang beroperasi di seluruh nusantara dengan memasang terminal aperture yang sangat kecil atau very small aperture terminal (VSAT). VSAT sendiri adalah stasiun penerima sinyal satelit dengan antena berbentuk piringan dengan diameter kurang dari tiga meter.

Baca juga: Rolls-Royce Rilis Intelligent Awareness, Bantu Pelaut Tingkatkan Kesadaran Situasional

Fungsi utama VSAT adalah mengirim dan menerima data ke satelit, sehingga WiFi diaktifkan. Selain bermanfaat bagi penumpang, manajemen juga dapat memantau operasi kapal di ruang direktur utama, sehingga kegiatan operasional kapal dapat dipantau selama 24 jam.

Pemantauan kapal juga tersedia dari aplikasi seluler, Patrakom Vis. Sebenarnya untuk layanan WiFi ini sendiri akan dipasang pada 26 kapal secara bertahap dengan dimulai dengan 18 kapal pertama kemudian di area anjungan, kantor kapal dan mini market milik Pelni.