Dukung Asian Games 2018, Garuda Indonesia ‘Upgrade’ Armada Jakarta-Palembang

Flag Carrier Garuda Indonesia mulai ambil ancang-ancang demi mencegah terjadinya lonjakan penumpang selama perhelatan Asian Games 2018 yang rencananya akan dimulai pada 18 Agustus 2018 mendatang. Alih-alih menambah jadwal penerbangan antara Jakarta Palembang – dua kota tempat diadakannya Asian Games 2018, maskapai plat merah ini lebih memilih untuk mengganti jenis pesawat yang digunakan.

Baca Juga: Jelang Asian Games 2018, PT MRT Jakarta Siap ‘Pulihkan’ Kondisi Sudirman-Thamrin

Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber, Senior Manager Public Relation Garuda Indonesia, Ikhsan Rosan mengatakan bahwa pergantian jenis pesawat ini hanya berlaku untuk sementara waktu – tepatnya selama perhelatan Asian Games berlansung. “Kami mengganti pesawat untuk satu flight GA 104 (Jakarta – Palembang) yang pagi. Dari pesawat CRJ-1000 berkapasitas 97 penumpang menjadi Boeing 737-800NG berkapasitas 160 penumpang,” ujar Ikhsan, dikutip dari laman bisnis.com.

Sementara itu Direktur Operasi Garuda Indonesia, Triyanto Moeharsono mengatakan bahwa pergantian jenis pesawat ini berlaku, “Mulai tanggal 7 Agustus hingga 4 September 2018. Total ada 26 penerbangan rute Jakarta – Palembang yang diganti armadanya,”

Semisal dikalkulasikan, berarti pihak Garuda Indonesia menyediakan 4.510 bangku tambahan selama periode tersebut. Tidak hanya sekedar mengganti armadanya saja, Full Service Airlines (FSA) kebanggaan Tanah Air ini juga mengaku siap seandainya jasa mereka dibutuhkan untuk mengangkut beragam peralatan olahraga para atlet yang akan berlaga di Asian Games 2018.

Dilansir dari laman sumber lain, Direktur Utama Garuda Indonesia, Pahala N Mansury mengatakan akan ada beberapa penambahan lainnya, termasuk dari Padang ke Palembang dan dari Palembang ke Bandar Lampung. Tidak hanya Garuda Indonesia, anak perusahaannya – Citilink pun akan menambah sekitar 23 frekuensi penerbangan, termasuk penambahan penerbangan dua kali ke Bandara Halim Perdanakusuma dan dua kali ke Bandara Soekarno Hatta per hari.

Baca Juga: Sekilas Mirip Layanan LCC, Garuda Indonesia Rilis Subclass Eco-Basic

“Itu yang kita tambahan untuk bisa memastikan bahwa tambahan kapasitas kita itu bisa memadai. Jadi itu hal-hal yang memang kita lakukan, termasuk adanya rute-rute baru yang kita kembangkan,” ungkap Pahala.

Sejumlah penambahan penerbangan ini dirasa perlu karena dalam kurun waktu sekitar satu bulan penyelenggaraan Asian Games 2018, diperkirakan akan ada lebih dari 25 ribu tamu dari 60 negara Asia dan non Asia sebagai pemantau.

 

Inggris Berdayakan Drone Untuk Pantau Para Pelanggar dan Inspeksi Jalur Kereta

Menyusul India yang sebelumnya telah menggunakan teknologi drone untuk memantau kondisi trek kereta, kini Inggris pun diketahui telah menerapkan kebijakan serupa – namun untuk tujuan yang berbeda. Tidak bisa dipungkiri, hadirnya Unmanned Aerial Vehicles atau yang biasa disingkat UAV ini membawa dampak yang cukup besar bagi kehidupan manusia. Tidak hanya digunakan untuk mengambil foto atau video dari ketinggian, namun juga bisa digunakan untuk kepentingan lain, seperti mengantar hasil laboratorium (Swiss), dan memantau kondisi trek kereta (India).

Baca Juga: Indian Railways Bakal Gunakan Drone Untuk Tunjang Pelayanan di Berbagai Aspek

Nah, kali ini negara yang dipimpin oleh seorang Ratu ini akan menggunakan drone untuk memantau para pelanggar yang pada akhirnya akan berdampak positif terhadap peningkatan keselamatan. Diwartakan KabarPenumpang.com dari laman railway-technology.com (6/8/2018), drone ini akan ditempatkan di titik-titik yang rawan terjadi pelanggaran. Drone ini sendiri akan dilengkapi dengan kamera 4K berteknologi tinggi.

Kamera tersebut pun memiliki sensitifitas yang cukup tinggi terhadap panas yang mampu mendeteksi perubahan suhu dan mengidentifikasi potensi kerusakan pada infrastruktur. Drone berkamera ini akan merekam semua tindak pelanggaran yang terjadi dan mengirimkannya kepada British Transport Police (BTP) untuk ditindaklanjuti.

Menurut pihak Network Rail, drone ini mampu terbang hingga ketinggian 120m dan menempuh kecepatan hingga 50 mph (80,5 km per jam). “Jarak maksimal antara drone dan pengendalinya bisa sampai 500 meter, tergantung kondisi cuaca,” jelas salah salah satu juru bicara dari Network Rail.

Drone ini sendiri telah terlebih dahulu diuji coba pada harii Jumat (3/8/2018) kemarin, dengan Peter Atkins sebagai pengendali pertamanya. Peter sendiri merupakan seorang petugas dari Network Rail’s Mobile Incident. Kala itu, Peter menerbangkan drone ini di sekitaran Bournemouth, salah satu lokasi yang disinyalir banyak terjadi pelanggaran.

“Saya senang mengoperasikan penerbangan kereta api pertama di wilayah ini. Pelatihannya sangat teliti dan menantang,” ujar Peter. “Tidak hanya untuk memantau para pelanggar, penggunaan drone juga memungkinkan kami untuk menginspeksi jalur via udara, jadi tidak harus menutup jalur,” imbuhnya. Semisal digali lebih dalam, penggunaan drone ini akan mengurangi jumlah petugas yang harus turun ke lapangan untuk melakukan inspeksi.

Baca Juga: Cegah Kecelakaan di Perlintasan Sebidang, Indian Railways Adopsi Teknologi Satelit

Direktur pelaksana South Western Railway, Andy Mellors mengatakan menyambut baik penggunaan drone ini, “Selama itu dapat meningkatkan keselamatan dan kinerja,”

Memang, menerobos area terlarang di sepanjang jalur kereta memang dapat berimbas pada penundaan keberangkatan kereta yang seharusnya tidak perlu. “Saya berharap penggunaan teknologi drone ini bisa meminimalisir pelanggaran tersebut.” tutup Andy.

Sepenggal Cerita dari Loko Coffee Shop Yogyakarta

Di persimpangan langkahku terhenti
Ramai kaki lima
Menjajakan sajian khas berselera
Orang duduk bersila
Musisi jalanan mulai beraksi..”

Begitulah kira-kira penggalan lirik lagu berjudul “Yogyakarta” yang dipopulerkan oleh Kla Project. Ngomong-ngomong soal Yogyakarta, daerah yang dipimpin oleh seorang Sultan ini memang selalu meninggalkan kesan sarat makna yang membuat setiap orang ingin kembali lagi ke sana sesegera mungkin. Tidak hanya kaya akan budaya, namun dunia kulinernya pun menarik untuk ditelusuri.

Baca Juga: Hadirkan “Super Lounge,” Disinilah Lokasi Starbucks Terbesar!

Nah, semisal Anda yang berencana untuk pergi ke Yogyakarta dengan menggunakan kereta api, silakan turun di Stasiun Tugu dan Anda akan menemukan sebuah cafe berkonsep unik yang terletak persis di samping Stasiun Tugu. Ya, Loko Coffee Shop!

Kesan pertama yang mungkin muncul benak Anda ketika pertama kali melihat cafe ini adalah kental akan nuansa perkeretaapiannya. Bagaimana tidak, selain ditunjang oleh lokasi yang sangat strategis (di ujung jalan Malioboro), beberapa ornamen khas kereta api juga dapat Anda temui di sini. Cafe yang mengambil konsep pujasera ini menawarkan dua pilihan tempat duduk – ada yang indoor, ada juga yang outdoor.

Ternyata, ini merupakan salah satu bisnis yang digeluti oleh PT Reska Multi Usaha, anak perusahaan dari PT KAI. “Ketertarikan masyarakat terhadap kopi membuat kami tergerak untuk membuka coffee shop ini,” kata Direktur Utama PT Reska Multi Usaha, M. Sahli, dikutip KabarPenumpang.com dari laman wartaekonomi.co.id (24/6/2018).

M. Sahli melanjutkan, untuk menguatkan nuansa perkeretaapian di Loko Coffee Shop, pihaknya sengaja mendesain bangku dan meja yang ada di sana dari kayu bekas bantalan rel. Di sisi lain, Direktur Utama PT KAI, Edi Sukmoro mengatakan bahwa di awal kemunculannya, Loko Coffee Shop in ditujukan bagi para calon penumpang yang hendak mengular dari Stasiun Tugu.

“Semoga tema Medang, Madang, Jagongan atau Minum, Makan, Nongkrong Loko Coffee Shop bisa dinikmati masyarakat, seperti lagu Kla Project, Yogyakarta,” tutur Edi. Sebelumnya, PT Reska Multi Usaha sudah memiliki usaha Loko Cafe yang dibuka di empat stasiun, yaitu Stasiun Tugu, Stasiun Lempuyangan, Stasiun Gubeng Surabaya, dan Stasiun Gambir Jakarta.

Lain cerita dengan apa yang dialami oleh seorang barista di Loko Coffee Shop, Bagas. Ia mengaku bahwa Loko Coffee ini sendiri terdiri dari beberapa barista pilihan yang sebelumnya tergabung di dalam Komunitas Kopi Nusantara (KKN). “Nah Direktur Reska ini salah satu member di komunitas, lalu mereka tawarkan kerja sama dengan KKN untuk pengadaan bean kopi, penyeduh, dll,” ujar sang barista khusus manual brew yang juga pemilik Nyonthong Coffee ketika dihubungi KabarPenumpang.com.

Baca Juga: Kopi dengan Cita Rasa Tinggi Kini Hadir Dalam Penerbangan

“Saya ditunjuk berdasarkan kriteria, skill, komunikatif, dan edukatif,” tandasnya sembari memberitahu beberapa poin yang menjadi penilaian PT Reska Multi Usaha dalam menyaring para barista Kota Gudeg ini.

Jadi, bagi Anda yang kebetulan tengah berada di Yogyakarta, silakan mampir ke Loko Coffee Shop dan nikmati seduhan kopi kualitas bintang lima, dengan harga kaki lima.

“Bikin kopi tuh dari hati. Saat hati happy, maka kopinya akan happy pula. Maka dari itu, buatlah kopi dengan senang, bukan karena besarnya gaji.” Ujar Bagas menutup perbincangan.

 

 

 

Obsesi PT KAI Hadirkan Kereta Bertingkat, Akankah Terealisasi?

Setelah sukses dengan sleeper trainnya, PT Kereta Api Indonesia (KAI) berencana mengoperasikan kereta  tingkat atau double decker. Bahkan tercuat ide kereta bertingkat sendiri karena melihat tren masyarakat yang meningkat untuk bepergian menggunakan kereta api.

Baca juga: Adopsi Gerbong Bertingkat dan Tarif Lebih dari Rp900 Ribu, Inilah Kereta Sleeper PT KAI

KabarPenumpang.com merangkum dari berbagai laman sumber, bahwa PT KAI yang diwakili Agus Komarudin sebagai Kepala Humasnya, mengatakan, pihaknya melihat tren kebutuhan penumpang yang terus meningkat terhadap layanan transportasi kereta api pada kelas-kelas khusus. Hal ini terlihat dimana kelas prioritas pada beberapa rangkaian kereta Agro selalu habis dikarenakan banyaknya peminat.

Dia mengatakan ini menjadi peluang pasar yang baru yang bisa direspon oleh PT KAI. Namun meski begitu, untuk kereta bertingkat saat ini PT KAI tengah melakukan pengkajian infrastruktur seperti rute kereta api dan jalur yang akan dilalui.

“Untuk kereta tingkat saat ini masih rencana, kedepannya sendiri detailnya masih belum bisa disampaikan,” ujar Agus yang dihubungi KabarPenumpang.com, Rabu (8/8/2018)

Ide pembuatan kereta double decker sendiri dicetuskan KAI saat melakukan pertemuan dengan PT Industri Kereta Api (INKA) pada Maret 2018 kemarin. Meski baru pembahasan dan belum ada kontrak yang dilaksanakaan, tetapi PT INKA menyanggupi untuk membuat kereta bertingkat tersebut.

Direktur Utama PT INKA Budi Noviantoro menargetkan untuk kereta bertingkat ini selesai pada 2020 medatang. Tetapi dirinya mengakui masih ada kendala untuk mengoperasikan kereta yang memiliki tingkat karena berbeda dari kereta pada umumnya.

Baca juga: Siap-Siap! PT KAI Akan Jual Tiket Sleepers Train 10 Juni Mendatang

“Bentuknya seperti bus tingkat. Kalau di luar negeri sudah biasa dan di Eropa juga banyak. Tetapi, rel (di sana) lebih lebar 14,35 sementara kita hanya 10,47,” ujar Budi.

Budi menambahkan, secara teknis PT INKA sanggup memproduksi kereta double decker sesuai pesanan PT KAI. Namun, sebelum pesanan ini diproduksi, prasarana seperti rel, jembatan dan perlintasan harus dipastikan bisa dilewati kereta tersebut. Lain dari itu, yang perhatian adalah keberadaan terowongan kereta, tentu hadirnya kereta bertingkat harus memperhitungkan hal tersebut.

“Kalau dari sarana kami siap. Tapi dari prasarana harus dilihat karena jalur lurus bisa kecepatan 160 kilometer per jam, tetapi tidak bisa di lengkungan,” tutur Budi.

AVE, 26 Tahun Beroperasi, Inilah Jaringan Kereta Cepat Terpanjang di Benua Biru

Dua puluh enam tahun sudah warga Spanyol akrab dengan yang namanya Alta Velocidad Española (AVE). Ya, jaringan kereta cepat tersebut mulai dibangun sejak 1992, dan hingga kini masih terus beroperasi. Dengan panjang trek lebih dari 3.200 km, menjadikan AVE sebagai jaringan kereta cepat terpanjang di seantero Eropa. Kesuksesan AVE dalam meraih predikat tersebut disokong oleh 500 armada kereta cepat yang kemudian berimbas pada angka 36,5 juta penumpang setiap tahunnya.

Baca Juga: Whoosh! Inilah Lima Kereta Tercepat di Dunia, Proyek di Indonesia Ada di Peringkat Berapa Ya?

Dilansir KabarPenumpang.com dari laman railway-technology.com, operator infrastruktur kereta api Spanyol, ADIF telah mendeklarasikan diri sebagai salah satu ahli di bidang kereta berkecepatan tinggi pada tahun 2005 silam. Maka tidak heran jika banyak negara yang ingin bekerja sama dengan sang operator. Tidak hanya ahli, ADIF pun mematok standar tinggi bagi kelancaran operasi kereta. “Kereta yang molor 5 menit dari jadwal itu sudah masuk kategori sangat terlambat. Itu standar kami,” tutur salah satu juru bicara dari ADIF.

Nah, keberlangsungan pengoperasian AVE ini didukung oleh Albacete’s Control and Regulation Centre (CRC), salah satu dari empat ‘pusat saraf’ yang bertugas menjaga jaringan kereta cepat ini tetap berjalan dengan aman. Seperti yang bisa Anda lihat pada gambar di atas, nampak sebuah layar besar yang menampilkan keseluruhan jaringan AVE. Terdapat pula beberapa petugas yang tidak pernah absen memantau pengoperasian dari jaringan kereta cepat ini.

“Kami mengontrol lalu lintas 1.500 kereta per bulan saat mereka melakukan perjalanan sepanjang 607 km di jalur yang menghubungkan Madrid, Valencia dan Alicante. Dan semuanya real-time,” ujar salah satu petugas. Albacete CRC sendiri berfungsi untuk menunjukkan keefektifan sejumlah teknologi mutakhir yang diterapkan pada jalur kereta berkecepatan tinggi. Adapun salah satu teknologi mutakhir tersebut mampu mendeteksi objek di sepanjang trek dan memantau kondisi cuaca di sepanjang jalur.

Terkecuali di jalur Madrid – Seville, European Rail Traffic Management Systems (ERTMS) ditempatkan di sepanjang jaringan AVE, dimana hal tersebut memungkinkan pertukaran data antara kereta api dan infrastruktur melalui balises atau gelombang GSMR.

Baca Juga: TGV, Masih Jadi Lambang Supremasi Kereta Cepat Eropa

Diketahui, ADIF telah menandatangani perjanjian kerjasama dengan pemilik infrastruktur kereta api dari berbagai negara, termasuk AS, Turki, Polandia, Rusia, dan Maroko. “Kami juga tidak segan untuk saling bertukar pengetahuan dengan operator lain, termasuk di bidang perbaikan, manajemen, konstruksi, dan kontrol jalur kecepatan tinggi,” ungkap pihak ADIF dalam sebuah pernyataan.

Ternyata, dibalik hebatnya sistem AVE yang nampak, ada regu hebat yang bekerja keras untuk melancarkan pengoperasiannya!

London North Eastern Railway Nantikan Sistem Sensor Bangku Karya McLaren

Operator kereta api asal Tanah Britania yang mengoperasikan waralaba InterCity East Coast, London North Eastern Railway (LNER) tengah menguji sistem sensor yang diharapkan dapat mengatasi masalah ketersediaan tempat duduk. Teknologi ini nantinya dapat mengetahui apakah bangku di kereta masih kosong atau sudah ditempati penumpang. Hebatnya lagi, sensor yang kelak akan ditempatkan di atas bangku ini juga dapat membedakan antara barang bawaan (koper dan tas) dan manusia.

Baca Juga: Azuma Virgin, Kereta Cepat Ramah Lingkungan di Inggris, Mengular di 2018

Tingginya sensitifitas dari sensor inilah yang akhirnya menjadi daya jual dari McLaren Applied Technologies, sang pengembang. Dikutip KabarPenumpang.com dari laman smartrailworld.com (7/8/2018), pihak McLaren akan terus melakukan uji coba sepanjang bulan Agustus ini, sebelum akhirnya diluncurkan pada musim gugur mendatang. Sementara itu, pihak LNER berharap teknologi ini mampu mengatasi masalah ketersediaan bangku yang sering dikeluhkan penumpang yang datang tanpa melakukan reservasi sebelumnya.

“Mungkin nantinya teknologi ini akan terintegrasi dengan aplikasi di smartphone, jadi penumpang dapat mengecek ketersediaan bangku melalui aplikasi tersebut,” tutur salah satu juru bicara dari LNER. Sebelumnya, teknologi yang hampir serupa sudah diterapkan di kereta api antar kota di Jerman, dimana para penumpang dapat melihat ketersediaan kursi melalui sebuah layar elektronik. Namun sensitifitas dari teknologi yang digunakan oleh Jerman ini tidaklah semutakhir yang kelak akan digunakan oleh LNER.

Menanggapi teknologi yang tengah dikembangkan oleh McLaren ini, seorang juru bicara dari LNER mengatakan bahwa ini merupakan bentuk tanggung jawab perusahaan terhadap penumpang yang diprioritaskan untuk mendapatkan pelayanan maksimal.

“Kami mengetahui betapa menyebalkannya jiika Anda tidak mendapatkan bangku ketika hendak pergi menggunakan kereta, dan karena alasan itulah kami bersemangat untuk menghadirkan teknologi sensor ini,” tukasnya. Sensor ini adalah bagian dari sistem reservasi tempat duduk baru yang akan memungkinkan pelanggan untuk menemukan tempat duduk jauh lebih mudah dan lebih cepat. ” tandasnya.

Baca Juga: Lokomotif Uap Teranyar Inggris Tembus Kecepatan 161 Km Per Jam

Jika dikaitkan dengan kondisi perkeretaapian di Indonesia, khususnya Commuter Line Jabodetabek, nampaknya sistem sensor seperti ini akan sangat berguna bagi penumpang. Tidak perlu sama persis seperti yang diadopsi oleh Inggris, namun cukup dengan memaparkan apakah kondisi di dalam kereta masih memungkinkan penumpang untuk naik atau tidak. Dengan begitu, penumpang yang berada di dalam rangkaian pun akan merasa lebih nyaman karena tidak harus berdesak-desakan – terutama ketika peak hours.

Hotel Bergaya Klasik Modern dalam Wujud Bus Tingkat Vintage

Bagaimana jadinya jika sebuah hotel ternyata dibuat dari sebuah bus tingkat atau double decker vintage dan di desain klasik modern? Ya, hotel yang terdapat di dalam bus tingkat ini desain didalamnya terinspirasi oleh novel karya Agatha Christie.

Baca juga: Stasiun Dent, Jadi Stasiun Tertinggi di Inggris dan Disewakan untuk Penginapan

KabarPenumpang.com melansir dari laman lonelyplanet.com (7/8/2018), hotel ini terletak di Pedesaan Devon di Inggris Barat Daya. Bus tingkat vintage atau jadul ini sendiri bernama Bertram’s Hotel.

Hotel ini berada di lahan seluas dua hektar dekat desa Hartland yang dirancang dengan sejumlah fitur unik untuk membuat tamu senang dan terkejut karena keunikannya. Bertram’s Hotel ini bisa disewa melalui Sykes Holiday Cottages.

Sebenarnya apa sih yang membuat hotel dalam bus ini menarik? Ternyata setelah ditelusuri selain bagian luar bus yang di pugar, bagian dalamnya memadukan dekorasi modern dengan tema 1950-an. Berhubung bus ini bertingkat, di lantai dasar dilengkapi dengan bar mini yang lengkap.

Adapula dua tempat tidur single, pemutar musik dan para tamu bisa mandi dekat dengan kursi pengemudi, karena posisi kamar mandi berada di sebelahnya. Kemudian di lantai atas, saat tamu menaiki tangga akan terlihat dapur dengan gaya retro, ruang makan dan ruang tamu yang dihiasi televisi vintage serta tempat tidur dengan kasur double.

Dengan dua tingkat yang dilengkapi dua kamar tidur, bus ini bisa memuat lima orang tamu. Selain itu karena tamannya berada di hamparan lahan seluas dua hektar, di halaman bus, tamu bisa melihat hewan-hewan ternak yang sedang merumput seperti kambing, keledai dan beberapa lainnya. Tak lupa ayam dan bebek juga ikut berkeliaran di lahan tersebut.

Meski begitu, para tamu yang menginap dalam bus hotel ini juga bisa menyalurkan hobi memancingnya karena ada dua danau yang dipenuhi ikan mas. Tetapi bagi yang ingin berkeliling bisa menjelajahi desa Hartland yang memiliki berbagai pilihan kerajinan lucu, toko tembikar, kafe dan restoran atau berjalan di sepanjang South West Coast Path.

Baca juga: Setelah Pesawat dan Kereta, Kini Giliran Bus Tingkat yang’ Disulap’ Jadi Hotel

“Pengunjung pasti dapat mengharapkan sesuatu yang sedikit berbeda dari menginap di sini, tetapi itu masih di jantung pedesaan Devonshire dengan pemandangan yang belum terjamah. Pemilik adalah penggemar besar Agatha Christie dan memutuskan untuk tema bus di sekelilingnya dan novel-novelnya. Setelah mereka membelinya, ide untuk nama itu muncul ketika mereka melihat bus merah besar di sampul depan buku ‘At Bertram’s Hotel’. Mereka telah memiliki banyak minat dari penggemar Agatha Christie muda dan tua,” kata perwakilan dari Sykes Cottages.

Dalam durasi menginap di hotel tersebut untuk tujuh malam akan dikenakan harga mulai dari £516 atau setara dengan Rp9,6 juta.

Eksistensi Peak Tram Hong Kong, Dulu dan Sekarang!

Meski ada label ‘tram,’ namun Peak Tram di Hong Kong bukanlah trem melainkan kereta kabel yang pertama di Asia dan beroperasi sejak tahun 1888. Tahun 1869, putra dari Ratu Victoria, yakni Alfred merupakan pengunjung pertama dari Kerajaan Inggris yang mengunjungi The Peak.

Baca juga: Mau Melancong ke Hong Kong? Ada 8 Tips Penting untuk Pemula

KabarPenumpang.com melansir dari laman hongkongfp.com, bahwa dengan kehadiran The Peak, penduduk Hong Kong kemudian terburu-buru untuk tinggal di sana dan jumlahnya meningkat menjadi 173.475 pada tahun 1883. Tak hanya itu, beberapa keluarga dari kalangan elit tinggal di kota tersebut dan menjadi rumah bagi The Peak Hotel.

Dulunya, daerah The Peak sebelum hadirnya Peak Tram diakses menggunakan kuda atau kursi tandu. Kemudian pemilik The Peak Hotel dan Scotsman Alexander Findlay Smith merencanakan membuka daerah tersebut dengan sistem tram baru untuk menghubungkan Victoria Gap ke Murray Barracks.

Kemudian Hong Kong High Level Tramways Company berdiri 30 Mei 1888 yang diresmikan oleh Gubernur Hong Kong dan Lady des Voeux. Jalur tram ini sendiri dibangun dengan pembuatannya perpotongan rel di mana setiap potongan relnya memiliki berat 136 kg yang masing-masing memiliki panjang tujuh meter.

Untungnya saat pembukaan tram tersebut berjalan dengan lancar ke Victoria Gab. Pada generasi pertama gerbong tram terbuat dari kayu yang mampu menampung 30 orang dalam tiga kelas. Dua kursi pertama dalam tram tidak bisa digunakan sebelum dua menit keberangkatannya karena memiliki plakat kuning yang bertuliskan di sediakan untuk Gubernur.

Tahun pertama di beroperasi, tram ini sendiri sudah melayani 150 ribu orang. Tram ini tadinya hanya 18 meter dan menambah tinggi hingga 396 meter diatas permukaan laut. Antara 1904 dan 1930, Peak Reservation Ordinance telah menetapkan The Peak sebagai kawasan perumahan eksklusif yang diperuntukkan bagi orang non Cina.

Pada tahun 1924, jalan pertama ke The Peak dibangun dan banyak yang salah sangka seperti menandakan akhir dari layanan tram. Tram dihentikan selama Perang Dunia II Hong Kong karena menjadi ruang mesin yang rusak terkena serangan.

Baca juga: Ternyata, Tidak Hanya Bus yang Bertingkat, Trem Juga!

Jepang menghantam barak-barak di Puncak selama invasi awal sementara Jack Chubb, insinyur pengawas pada waktu itu, menghabiskan berjam-jam memotong kabel penting untuk membuat sistem itu tidak dapat digunakan oleh penjajah. Sistem dibuka kembali setelah perang pada Hari Natal, 1945.

Pada tahun 1959, sebuah tramcar bermesin dengan 72 kursi diperkenalkan. The Peak sendiri telah berkembang dan lebih dari tujuh juta orang mengunjunginya setiap tahun. Diketahui untuk tiketnya sendiri bila membeli hanya perjalanan tram untuk dewasa HK$99 atau Rp182 ribu dan anak-anak $HK47 atau Rp86 ribu.

Tekan Angka Polusi, Hanoi Larang Sepeda Motor di Tahun 2030

Sebagai Ibu Kota dari Vietnam, pertumbuhan kendaraan roda dua atau sepeda motor di Hanoi cukup signifikan dan membuat pemerintah harus membuat pelarangan tentang hal tersebut. Apalagi sepeda motor menjadi salah satu biang kemacetan di jalanan ibu kota dan membuat udara di Hanoi tercemar polusi.

Baca juga: Soal Kemacetan, Manila Bersiap Ikuti Jejak Jakarta!

Bahkan karena masalah ini akhirnya pemerintah membuat keputusan tegas untuk melarang atau mungkin meniadakan sepeda motor pada tahun 2030 mendatang. Sebenarnya tujuannya baik, selain mengurangi kemacetan dan polusi, pemerintah juga memiliki tujuan mengembangkan transportasi umum untuk melayani 7,6 juta penduduknya dengan lebih baik.

KabarPenumpang.com merangkum dari laman newatlas.com (7/8/2018), sepeda motor yang ada di Hanoi ini sendiri seperti segerombolan lebah yang membuat kekacauan tetapi mampu bersaing di jalanan. Sehingga pelancong yang mengunjungi Hanoi pun saat menyeberang seperti menguji adrenalin mereka dikarenakan padatnya sepeda moto yang melintas dijalanan.

Diketahui jumlah motor di Hanoi sendiri ada lima juta dengan penduduk tujuh juta orang. Di mana rata-rata motor yang dimiliki dengan tipe 110-125cc, ternyata juga berkontribusi terhadap pencemaran lingkungan terburuk di Asia Tenggara dan bagi kesehatan kualitas udara sangat tidak baik.

Sehingga sebelum menjadi ancaman serius di masa depan, maka harus ada pengaturan jumlah secepatnya. Tak hanya itu, 70 persen penyebab kecelakaan di Hanoi juga dikarenakan banyaknya motor yang melintasi jalan.

Nantinya pelarangan sepeda motor tersebut hanya akan diberlakukan pada distrik-distrik besar. Meski ada pro dan kontra terkait masalah ini, tetapi sebagian besar setuju dengan adanya pelarangan sepeda motor tersebut.

Baca juga: Entaskan Kemacetan Lalu Lintas, Bangalore Canangkan Penggunaan Pod Taxi

Meskipun ada pelarangan dan pembatasan, sebenarnya selama 12 tahun kedepan pemerintah akan memulai investasi transportasi umum yang lebih baik di sekitar kota. Ini agar kedepannya banyak masyarakat maupun pelancong menggunakan dan memberdayakan transportasi umum.

Saat ini di Hanoi sendiri hanya ada bus kota dan 12 persen yang menggunakannya, bahkan pemerintah dengan adanya pelarangan ingin menggenjot penggunaan bus kota hingga 50 persen. Kedepannya dalam 12 tahun, Hanoi berencana membangun stasiun kereta dalam kota yang selama ini terus tertunda.

BPTJ Siapkan Bus Gratis Bagi Tamu Asian Games 2018 di Jakarta dan Palembang

Perhelatan olahraga terbesar se-Asia yang diadakan di Indonesia tepatnya akan dilaksanakan di Jakarta dan Palembang tak terasa tinggal menghitung jari. Ya, Asian Games 2018 ke-18 ini untuk kedua kalinya diselenggarakan di Indonesia sejak yang pertama pada tahun 1962 silam.

Baca juga: Dinilai Belum Siap, LRT Jakarta Urung Beroperasi Saat Asian Games 2018

Asian Games 2018 sendiri akan berlangsung dari 18 Agustus hingga 2 September 2018 mendatang. Untuk menunjang transportasi para pendukung negara tetangga yang bertanding, Badan Pengelola Transportasi Jakarta (BPTJ) telah mengalokasikan bus untuk mengangkut para tamu mancanegara ke beberapa tempat wisata baik di Jakarta maupun Palembang, Sumatera Selatan.

Sehingga selama dua minggu tinggal di kota-kota penyelenggara Asian Games 2018 para pendukung dimudahkan dalam bepergian ke tempat wisata atau pertandingan.

“Untuk para pendukung dari negara-negara tetangga, kami akan menyiapkan bus yang akan mengangkut mereka dari hotel ke tempat-tempat wisata serta pusat perbelanjaan. Bus-bus disediakan oleh Kementerian Perhubungan dan benar-benar gratis,” ujar Kepala BPTJ, Bambang Prihartono yang dikutip KabarPenumpang.com dari thejakartapost.com.

Adapun tempat-tempat wisata yang akan dikunjungi yakni Monumen Nasional (Monas) di Jakarta Pusat dan Setu Babakan di Jakarta Selatan yang masih kental dengan pengaruh budaya Betawi. Pada 29 Agustus 2018 mendatang, pengunjung juga akan diajak menikmati pertunjukan wayang Kulit dan pertunjukan budaya tradisional Indonesia.

Baca juga: Warga Jakarta Keluhkan Sistem Buka Tutup Jalan Tol Jelang Asian Games 2018

Selain menyediakan bus sebagai moda transportasi, pihak berwenang lainnya juga melakukan persiapan dengan mengurangi kemacetan di kota menjelang acara dengan menerapkan beberapa kebijakan. Salah satunya yakni kebijakan plat nomor kedaraan roda empat ganjil genal di jalan raya utama kota dan jalur yang dilalui kendaraan peserta Asian Games 2018.

Sebelumnya kebijakan plat nomor ganjil genap sendiri uji cobanya sudah dilaksanakan sejak 2 Juli hingga 31 Juli 2018 kemarin. Sedangkan moda transportasi pendukung lainnya seperti Light Rapid Transit (LRT) Jakarta hingga kini belum jelas apakah akan digunakan atau tidak meski telah melakukan uji coba meluncur di rel.