Jelang April 2019, Inilah Beragam Strategi PT MRT Jakarta Agar Kondisi Sekitar Stasiun Kondusif

Demi menyediakan layanan terbaiknya pada bulan April 2019 mendatang, PT MRT Jakarta (PT MRTJ) kini tengah disibukkan dengan memberikan pelatihan kepada sejumlah tenaga kerjanya, bahkan diantara mereka ada yang sampai dikirimkan ke luar negeri demi mendapatkan pengalaman bekerja yang relevan dengan teknologi yang digunakan oleh PT MRTJ sendiri.

Baca Juga: MRT Jakarta Adopsi Teknologi CBTC, MRT di Jepang Justru Belum

Selain itu, perusahaan yang akan menghadirkan sistem Metro pertama di Indonesia ini pun baru saja menandatangani kontrak kerja sama dengan ‘saudara tua’, PT KAI. “Tanggal 11 Mei kemarin, kami telah bekerja sama dengan PT KAI dalam rangka knowledge sharing,” tutur Agung Wicaksono selaku Direktur Operasi dan Pemeliharaan PT MRTJ, ditemui KabarPenumpang.com, Rabu (30/5/2018) dalam acara Forum Jurnalis MRT Jakarta.

Tidak hanya itu, Agung pun menambahkan bahwa PT MRTJ sendiri telah melakukan Ridership Survey via online yang ditujukan agar perusahaan mengetahui seberapa besar minat masyarakat Ibukota akan moda yang menggunakan sistem persinyalan canggih, Communication Based Train Control (CBTC) ini.

“Kami telah melakukan survey secara online, dan hasilnya sangat memuaskan. Sebanyak 65,5 persen dari 10.073 responden bersedia untuk beralih menggunakan MRT,” terang salah satu mantan pejabat di Kementerian ESDM era Sudirman Said ini. Jumlah responden tersebut pun mewakili sejumlah moda transportasi, seperti mobil dan motor pribadi, Bus TransJakarta, Commuter Line Jabodetabek, hingga layanan ride-sharing seperti Gojek dan Grab.

Nah, menyinggung soal layanan ride-sharing tersebut, dewasa ini keberadaannya sudah menjamur dan kerap kali menjadikan stasiun sebagai tempat mereka menjaring penumpang. Alhasil, lingkungan di sekitar stasiun menjadi semakin crowded akibat puluhan hingga ratusan ojek online yang seolah mengindahkan marka jalan dilarang parkir yang terpasang di sekitar stasiun tersebut.

Menanggapi kemungkinan hal yang sama terjadi pada stasiun MRTJ kelak, Direktur Utama PT MRTJ William Sabandar mengatakan pihaknya masih melakukan sejumlah langkah agar kejadian yang sama tidak terjadi pada stasiun MRTJ kelak.

“Kami masih melakukan sejumlah analisis lingkungan, mempertimbangkan konsep pembangunan spot drop off, park and ride, hingga melakukan kerja sama dengan sejumlah operator transportasi,” ujar William pada kesempatan yang sama. “Singkatnya, kami akan memastikan agar ketika MRTJ beroperasi nanti, lingkungan sekitar stasiun tetap kondusif,” tutupnya.

Baca Juga: Anies: Bukan Sekedar Alat Transportasi, MRT Juga Pembentuk “Budaya” Baru di Jakarta

Sebagai informasi tambahan, hingga saat ini adapun progres konstruksi per tanggal 25 Mei 2018 sudah mencapai angka 94,19 persen, dengan rincian Stasiun Lebak Bulus (elevated section) 91,82 persen, dan Stasiun Senayan (underground section) 96,59 persen.

William pun sempat membocorkan rencana uji coba Train set pertama pada bulan Juni mendatang, disusul dengan train set kedua pada bulan Juli. Kedua uji coba ini nantinya akan bertempat di Depo Lebak Bulus. Sedangkan pada Agustus dan November mendatang, PT MRTJ sedianya akan melakukan uji coba kedua train set tersebut di Mainline Fase 1 Lebak Bulus – Bunderan HI.

Buka Rute Yogyakarta-Makassar, Citilink Inginkan Koneksi ke Indonesia Timur

Citilink maskapai berbiaya rendah (LCC) yang juga anak perusahaan Garuda Indonesia semakin melebarkan sayapnya. Kini penduduk Makassar dan Yogyakarta akan terhubung dengan rute baru maskapai ini pada 1 Juni 2018.

Baca juga: Jajal Pasar Penerbangan di Bandara Kertajati, Garuda Indonesia Utus Citilink

“Pembukaan rute penerbangan connecting the dots ini merupakan salah satu upaya Citilink Indonesia untuk melebarkan sayapnya dengan menghadirkan penerbangan dari dan menuju seluruh kota besar di Indonesia,” ujar Vice President Corporate Legal and CSR Citilink Indonesia Ranty Astari Rachman yang dikutip KabarPenumpang.com dari siaran pers, Kamis (31/5/2018).

Makassar sendiri merupakan penghubung utama Citilink untuk melayani koneksi penerbangan ke wilayah timur Indonesia seperti Kendari, Ambon, Manado dan Jayapura. Dibukanya rute ini pun guna memberikan pilihan kepada pelanggan dalam melakukan perjalanan udara dari barat menuju ke timur Indonesia.

“Rute Yogyakarta-Makassar ini merupakan rute connecting the dots kedua Citilink Indonesia setelah sebelumnya juga telah membuka rute Semarang-Surabaya dalam melebarkan sayapnya, dengan target market share sebesar 21,4 persen,” ujar Ranty.

Ranty menambahkan, dengan rute connecting the dots ini, Citilink optimis mendapatkan tingkat isian di atas 83 persen mengingat minat penumpang yang terus berkembang dengan perkiraan sekitar 441.320 penumpang pada akhir tahun 2018. Dalam melayani penerbangan Yogyakarta-Makassar (PP), Citilink akan menggunakan pesawat Airbus A320 dengan kapasitas 180 penumpang.

Penerbangan Makassar-Yogyakarta dengan nomor penerbangan QG 778 dijadwalkan berangkat dari Bandara Sultan Hasanuddin, Ujung Pandang pada pukul 15.05 WITA dan tiba di Bandar Udara Adisutjipto, Yogyakarta pada 16.10 WIB. Sedangkan penerbangan Yogyakarta-Makassar dengan nomor penerbangan QG 779 dijadwalkan berangkat dari Bandara Adisutjipto Yogyakarta pada pukul 16.40 WIB dan tiba di Bandara Sultan Hasanudin pada pukul 19.40 WITA.

Baca juga: Layani Rute Surabaya, 8 Juni 2018 Citilink Terbang Perdana dari Bandara Kertajati

Pemilihan Makassar sebagai penghubung utama untuk melayani connecting flights ke wilayah timur Indonesia karena kota ini memiliki daya tarik wisata alam dan historikal yang indah serta semakin banyak dikunjungi pelancong nusantara maupun mancanegara begitu pun Yogyakarta. Kota gudeg ini merupakan salah satu destinasi favorit wisatawan domestik. Data dari Dinas Pariwisata DIY menyebutkan, sekitar 4,7 juta wisatawan lokal dan 397 ribu wisatawan mancanegara yang berkunjung ke Yogyakarta pada tahun 2017.

Jelang Mudik 2018, Ada Perubahan Sistem Tiket di Pelabuhan Ferry Merak-Bakauheni

Mulai 1 Juni 2018, tepat pukul 00.00 rencananya PT ASDP Indonesia Ferry akan melakukan penggantian sistem tiket di Pelabuhan Merak dan Pelabuhan Bakauheni. Hal tersebut telah disampaikan Direktur Utama PT ASDP Indonesia Ferry Ira Puspadewi, penggantian sistem tiket di kedua pelabuhan utama ini menjadi isu yang mencuat ditengah kesiapan ASDP dalam menggelar layanan mudik Lebaran 2018 yang tak lama lagi akan dijelang.

Baca juga: Mengenal Jenis Tarif di Lintasan Ferry Terpadat, Merak – Bakauheni

Seperti apakah sistem tiket baru yang akan diterapkan ASDP di lintasan tersibuk di Indonesia, pastinya mengundang tanya, lantaran Merak-Bakauheni adalah urat nadi transportasi darat/laut yang menghubungkan Jawa-Sumatera.

Menjawab pertanyaan KabarPenumpang.com dalam acara buka puasa bersama media di Jakarta (30/5/2018) seputar penggantian sistem tiket, Ira Puspadewi menyebut hal itu didasari telah berakhirnya masa kontrak dengan penglola tiket saat ini. Seperti diketahui, pengelolaan tiket di Pelabuhan Merak dan Pelabuhan Bakauheni sejak tiga tahun belakangan dikelola oleh mitra PT Mata Pensil Globalindo (MPG).

Dengan pola KSO (Kerjasama Operasi), lintasan Merak – Bakauheni telah dilengkapi dengan sistem electronic ticketing system, informasi manifes penumpang terpadu dan pengelolaan transaksi keuangan yang transparan. Berkat adopsi e-ticketing, serangkaian ‘kebocoran’ transaksi keuangan yang marak terjadi di dua pelabuhan tersebut dapat ditekan. Dampaknya sangat positif dari sisi pengelola pelabuhan dan pemilik kapal, pun pendapatan ASDP di Pelabuhan Merak dan Pelabuhan Bakauheni meningkat signifikan dalam tiga tahun belakangan.

Lantas seperti apa e-ticketing gaya baru yang akan digelar PT ASDP? “Saat ini kami tengah mempersiapkan implementasi sistem e-ticketing yang dikelola dan dikembangkan sendiri. Sistem e-ticketing yang akan diterapkan ini sepenuhnya berada di bawah kontrol PT ASDP dan desain kartu RFID yang diterapkan dapat disesuaikan dengan golongan pengguna jasa, sehingga validitas golongan dan pembayaran terjaga dengan baik,” ujar Ira.

Berdasarkan pantauan tim KabarPenumpang.com di Pelabuhan Merak pada Rabu (30/5) kemarin, belum terlihat adanya pengerjaan infrastruktur baru di Pelabuhan Merak, pengoperasian tiket masih seperti biasa yang dilakukan bersama PT MPG menggunakan sensor auto golongan dan scan ID pada loket penumpang. Masih terlihat ‘sepi’ nya Pelabuhan Merak ditanggapi La Mane, Direktur Teknik dan Operasional PT ASDP Indonesia Ferry, “Sistem e-ticketing yang kami kembangkan memang belum siap saat ini, terlebih untuk menghadapi musim Mudik Lebaran, intinya masih dalam persiapan,” ujar La Mane kepada KabarPenumpang.com.

Meski tak mau menjelaskan seperti apa sistem e-ticketing yang nantinya diimplementasi, namun La Mane optimis, menyambut musim Mudik ini pihaknya telah siap mengantisipasi dengan penggantian sistem tiket. Sepintas Ia menyebut akan menerapkan pola lama yang ada di Pelabuhan Ketapang – Gilimanuk, tiket tetap dengan RFID, manifes tetap disiapkan dan ada penambahan tiga lapisan keamanan untuk mencegah ‘kebocoran’ transaksi.

Baca juga: PT Mata Pensil Globalindo Raih Hak Cipta Teknologi “Automatic Vehicle Classification”

Nah, seperti apa persisnya sistem tiket baru di lintasan Merak-Bakauheni? Tunggu update dari kami selanjutnya.

Tak Mau Ambil Risiko, Uber Kembangkan Riset dan Tinjau Mekanisme Layanan Taksi Udara

Keseriusan Uber dalam menyediakan layanan taksi udara tak bisa dipandang sebelah mata. Walaupun masih harus menunggu ketukan palu dari pihak regulator tentang keabsahan pengoperasiannya kelak, namun Uber seolah tidak ingin upayanya tersebut berjalan di tempat. Jika ditinjau lebih mendalam, hadirnya layanan semacam taksi udara memang diperkirakan dapat memecah konsentrasi kepadatan kendaraan di darat yang belakangan ini sudah semakin tidak bisa ditolerir.

Baca Juga: Inilah Layanan Antar Kirim Barang (Juga Makanan) via Jalur Udara Versi Uber!

Maka dari itu, perusahaan yang didirikan atas jasa Travis Kalanick dan Garrett Camp ini terus mengembangkan inovasinya yang diberi nama Uber Elevate. Setelah dalam pemberitaan terakhir Uber memutuskan untuk memprakarsai jasa pengiriman menggunakan drone, kini perusahaan yang didirikan pada Maret 2009 ini diketahui tengah mempersiapkan program riset taksi terbangnya tersebut yang berfokus di Perancis.

Diwartakan KabarPenumpang.com dari laman newatlas.com (25/5/2018), ada beberapa poin penting yang harus diperhatikan Uber sebelum merealisasikan salah satu impian perusahaannya ini. Sebut saja penggunaan baterai yang compatible menjadi salah satu fokus perusahaan. Dapat Anda bayangkan jika si taksi udara yang tengah menjalankan tugasnya kelak dan mengalami masalah pada baterai? Terjun bebas dari ketinggian bersama penumpang merupakan gambaran paling nyata yang terpampang.

Di luar daripada konteks baterai, penggunaan mesin pun Uber kudu pilah-pilih. Mereka enggan menerima komplain dari penumpang akibat ada kendala pada bagian mesinnya, atau mengantarkan penumpang dengan kondisi perjalanan yang tidak mulus akibat penggunaan mesin yang kurang andal. Uber sangat mencegah hal tersebut terjadi.

Di Advanced Technologies Center Paris (ATCP), pusat penelitian pertama di luar Amerika Utara, Uber mengatakan fokus pertamanya adalah membangun sistem intelijen buatan dan manajemen lalu lintas udara. Ini akan menjadi kunci, katanya, untuk penerbangan demonstrasi pertama yang direncanakan untuk 2020 mendatang.

Baca Juga: Uber Eats, Serasa Tak Percaya Diri Masuk ke Pasar Indonesia

Pihak Uber juga mengungkapkan telah meneken kontrak kerja lima tahun bersama École Polytechnique Fédérale de Lausanne, sebuah lembaga asal Swiss yang memiliki catatan impresif di sektor robotika dan drone. Kemitraan ini akan mengeksplorasi pendekatan baru untuk manajemen lalu lintas udara, termasuk bagaimana mengintegrasikan taksi terbang di langit Eropa. Kucuran dana sebesar US$23 juta atau yang setara dengan Rp322 miliar telah dikeluarkan dari kas Uber guna menjalin kerja sama selama lima tahun ke depan ini.

Saat Kecelakaan Jangan Panik, Ikuti Langkah Berikut Ini!

Kecelakaan mobil dalam berkendara bisa terjadi kapan saja. Tak hanya itu, karena kecelakaan bisa menyebabkan seseorang stres dengan pikiran apa yang harus dilakukan seperti apakah harus memindahkan mobil? menelpon polisi atau klaim asuransi?

Baca juga: Yang Harus Diingat dari Asuransi Penumpang

Pertanyaan ini membuat diri menjadi lebih sakit apalagi jika Anda menjadi korbannya. KabarPenumpang.com merangkum bahwa ada langkah-langkah yang bisa membantu Anda mengambil keputusan saat mengalami kecelakaan. Berikut pertimbangan yang bisa diambil setelah mengalami kecelakaan mobil.

1. Merasakan cedera
Jika saat kecelakaan dan mengalami luka, baiknya hubungi ambulans, polisi atau meminta bantuan orang lain. Jika terluka parah baiknya tidak bergerak dan tunggu petugas medis datang membantu.

2. Lihat kondisi penumpang
Jika pengemudi tidak mengalami luka serius bisa melihat keadaan penumpang lain di mobil. Bila terlihat luka maka hubungi medis dan meminta pertolongan orang lain yang lewat untuk membantu pertolongan pertama.

3. Mengamankan diri
Saat terjadi kecelakaan dan berada di tengah jalan dan masih bisa bergerak, baiknya berpindah perlahan ke sisi jalan atau trotoar. Ini akan menjauhkan Anda dari kecelakaan yang lebih parah.

4. Hubungi polisi (112)
Menghubungi polisi itu penting bagaimanapun kondisi kecelakaannya. Kecelakaan kecil atau besar bisa dibantu secara hukum. Petugas kepolisian yang merespon akan membuat laporan kecelakaan dan mendokumentasikannnya.

5. Tunggu bantuan
Selagi menunggu bantuan dar pihak kepolisian atau ambulans, mesin kendaraan bisa dimatikan dan menyalakan lampu tanda untuk memperingatkan kendaraan lainnya yang akan melintas.

6. Memberikan informasi kepada pemberi bantuan
Dengan memastikan Anda dan penumpang lain tidak terluka bisa memberikan informasi lengkap kepada pengemudi lain jika ada yang melintas dan membantu. Lokasi kejadian juga penting selain informasi lengkap tentang data diri.

Bila Anda tidak terlalu parah lukanya dan masih bisa memberikan dengan jelas informasi, tanyakan ke polisi ketika mereka tiba untuk meminta salinan laporan kecelakaan tersebut. Memfoto semua sudut kendaraan untuk menunjukkan kerusakan mobil. Bila ditabrak kendaraan lain bisa memfoto plat mobil itu. Tulis semua nama yang terlibat termasuk penumpang kendaraan lain. Tak lupa berkomunikasi dengan saksi jika ada yang melihat kejadian tersebut.

Baca juga: SafeDrive, Bantu Anda Hadapi Kondisi Darurat Selama Berkendara

7. Perhatikan petunjuk dan mulai proses klaim
Setelah kecelakaan mungkin Anda menghubungi pihak asuransi dan menanyakan secara jelas apa yang diperlukan untuk proses klaim serta apa yang terjadi selama proses klaim. Kecelakaan sendiri bisa menyebabkan seorang pengemudi berpengalaman merasa lelah, tapi dengan mengikuti langkah ini bisa membantu melindungi dari kekhawatiran yang tidak perlu. Sehingga Anda bisa bekerja sama dengan perusahaan asuransi untuk memperbaiki kendaraan dengan lancar dan secapt mungkin.

Jangan Asal Pilih Ban, Inilah Dua Jenis Ban yang Lumrah Digunakan

Bagi Anda yang memiliki kendaraan bermotor, baik roda dua maupun roda empat, tentu Anda pernah dihadapkan pada situasi dimana Anda harus memilih ban mana yang cocok untuk kendaraan Anda, bukan? Khusus untuk pengguna kendaraan roda empat, patut Anda ketahui bahwa tidaklah semua ban sama. Ada kriteria tertentu yang sedikit banyaknya akan mempengaruhi kinerja pengoperasian dari kendaraan.

Baca Juga: Persiapan Musim Salju, Translink ‘Selimuti’ Ban Pada Armada Bus

Nah, sekarang, coba Anda perhatikan sisi luar dari ban tersebut dan perhatikan alfabet yang tertera. Ya, dihimpun KabarPenumpang.com dari sejumlah laman sumber, secara keseluruhan, ban kendaraan roda empat itu sendiri terbagi ke dalam dua kategori, Passenger Tires (P) dan Light Truck Tires (LT). Sesuai dengan namanya, sudah barang tentu penggunaan kedua jenis ban ini pun dapat dikualifikasikan dari jenis kendaraan itu sendiri. Seperti yang sudah disinggung di atas, kendati kedua jenis ban ini secara kasat mata hampir sama, namun peruntukkan dan total beban yang dapat diangkut oleh kedua jenis ban ini tentulah berbeda.

Sumber: discounttiredirect.com

Untuk Passenger Tires, ban jenis ini dirancang untuk kendaraan-kendaraan dengan ukuran bodi yang kecil, seperti minivan, SUV, CUV, hingga truk kecil dan kendaraan setengah ton.

Sedangkan Light Truck Tires seyogyanya dipasangkan pada kendaraan 3/4 ton, SUV berukuran besar, Van, dan truk besar lainnya.

Sumber: discounttiredirect.com

Passenger Tires dirancang untuk memberikan kenyamanan bagi para penggunanya, seperti minim getaran, mampu beradaptasi dengan medan apapun (jalanan basah maupun kering), dan menyediakan daya dukung beban yang memadai. Sementara itu, ban jenis ini tidak cocok jika dipasangkan pada kendaraan besar yang kerap membawa beban berat seperti truk, van, dan lain-lain.

Karena didesain untuk memberikan kenyamanan bagi para penggunanya, ban jenis ini tidak cocok pula jika digunakan pada medan off-roads dan tidak tahan tusukan batu atau kerikil tajam layaknya Light Truck Tires.

Sementara itu, karena kapasitas beban angkut Light Truck Tires yang jauh lebih besar, maka para produsen ban merancang mereka lebih kasar dan sedikit lebih tahan lama. Ban-ban semacam ini dinilai sempurna untuk kondisi jalan yang tidak rata, berlubang, dan bebatuan.

Tidak hanya itu, bagian sisi ban yang didesain lebih keras ketimbang Passenger Tires akan berdampak pada perjalanan yang lebih ‘keras’ karena ban jenis ini tidak menyerap guncangan dan getaran.

Baca Juga: Pegangan di Belakang Bus, Pria Rollerblades Ini Melaju 20 Detik

Berbanding terbalik dengan Passenger Tires, Light Truck Tires lebih cocok digunakan pada kendaraan-kendaraan yang menempuh medan off-roads atau bebatuan. Dengan dukungan dari kekerasan ban yang memadai, maka tidak heran jika Light Truck Tires lebih memiliki resistensi terhadap batuan tajam.

Sekarang, sudah Anda semua sudah tahu kan perbedaan dari kedua jenis ban di atas? Pastikan kendaraan Anda dilengkapi dengan ban yang sesuai supaya dapat lebih menunjang pengoperasiannya.

Dua Hari Meninggal di Toilet Baru Ditemukan Karena Salah Nomor Kereta

Tragis, seorang penumpang pria ditemukan tak bernyawa dalam toilet kereta api setelah meninggal lebih dari dua hari. Insiden tragis ini terjadi saat penumpang pria tersebut menelepon istrinya dan mengatakan tidak nyaman.

Baca juga: Diterjang Badai Salju, Halte Bus di Cina Ambruk Tewaskan Calon Penumpang

KabarPenumpang.com melansir dari laman newindianexpress.com (29/5/2018), bahwa penumpang pria tak bernyawa tersebut bernama Sanjay Agarwal. Dia diketahui melakukan perjalanan dari Kanpur ke Tundla di kereta Express  dari Patna ke Kota pada 24 Mei 2018 kemarin.

Awalnya tak lama setelah naik kereta, Sanjay sempat bertelepon dengan istrinya. Dia mengatakan, merasa tidak enak dengan tubuhnya dan setelah telepon tersebut, Sanjay tak lagi bisa dihubungi oleh istrinya.

Karena tak lagi bisa menghubungi suaminya, istri Sanjay kemudian menghubungi petugas kereta api dan mulai mencarinya kemana-mana. Diketahui, saat itu, kereta yang membawa Sanjay telah sampai di Kota dan akan memuai perjalanannya kembali ke Patna setelah 40 menit berhenti untuk menunggu penumpang naik.

“Jenazah Sanjay akhirnya ditemukan pada 27 Mei dari kereta nomor S1 di Patna,” ujar seorang pejabat kereta api.

Penemuan lama tersebut diakibatkan istri Sanjay memberikan nomor kereta yang salah. Pejabat kereta mengatakan, istri Sanjay memberikan nomor kereta 13237, namun ternyata Sanjay menaiki kereta bernomor 13239.

“Dia mengatakan, suaminya berada di kereta ber-AC ketika bepergian dengan kereta tidur,” ujar pejabat kereta api.

Tahun 2017 lalu, insiden serupa terjadi pada seorang penumpang kereta api Majapahit jurusan Jakarta-Blitar yang tewas di toilet kereta. Korban bernama Sholeh tersebut diduga meninggal saat memasuki wilayah Ngantru menuju stasiun kota Tulungagung.

Korban meninggal setelah bolak balik toilet karena sakit dan terakhir Sholeh tidak keluar dari toilet. Petugas kemudian saat sampai di Stasiun Ngantru korban dalam keadaan meninggal dan di Stasiun Tulungagung toilet kereta di congkel dan korban dikeluarkan kemudian di bawa ke RS dr. Iskak Tulungagung.

Baca juga: Penumpang Wanita Ditemukan Tewas, Dibawa Keluar Pesawat dengan Diseret

Diketahui, korban meninggal saat dalam perjalanan menuju kampung halaman untuk mengadiri hajatan. Korban pergi sendirian untuk menyusul istrinya yang sudah pulang ke Blitar terlebih dahulu.

Meski mengaku sehat pada istrinya, sebenarnya korban dalam keadaan sakit dan tidak bisa buang air besar. Istri korban sempat menyuruh menunda perjalanan jika masih sakit. Namun, karena terlanjut beli tiket, Sholeh nekat melakukan perjalanan tersebut.

Sekilas Mirip Layanan LCC, Garuda Indonesia Rilis Subclass Eco-Basic

Dengan mengusung jargon #SekarangSemuaBisa, Garuda Indonesia memulai kampanye efisiensi pesawat berbadan kecil. Flag Carrier Ibu Pertiwi tersebut memperkenalkan kategori tiket baru yang diberi nama Garuda Eco-Basic. Lalu, apa hubungannya hashtag #SekarangSemuaBisa dengan tiket Eco-Basic tersebut?

Baca Juga: Di 2018, Garuda Indonesia Canangkan Buka 30 Rute Penerbangan Baru

Berdasarkan pantauan langsung KabarPenumpang.com pada Senin (28/5/2018), Direktur Utama Garuda Indonesia Pahala N Mansury mengatakan, “Kami perkenalkan kelas tiket baru. Di bawah harga ekonomi. Di saat yang sama kami kurangi fasilitasnya. Intinya mengajak penumpang yang belum terbang dengan Garuda Indonesia,” tutur Pahala di hadapan sejumlah awak media.

Pahala sendiri mengaku harga tiket subclass Eco-Basic Garuda Indonesia lebih murah sekitar 15 hingga 20 persen ketimbang kelas ekonomi, dan memiliki keterbatasan di sejumlah layanannya. “Kami hanya menyediakan 12 kursi di setiap penerbangannya,” terang Pahala ketika ditanya kapasitas bangku yang disiapkan untuk subclass Eco-Basic.

Selain itu, penumpang pun dilarang untuk menyimpang hand luggage di bagasi kabin dan hanya diperbolehkan untuk membawa satu barang saja yang dapat diletakkan di bawah bangku penumpang. Kendati begitu, kapasitas bagasi yang diijinkan Garuda tetaplah sama dengan subclass lain. “Bagasi tetap 20 kilogram,” tukas Pahala.

Garuda Miles yang biasa Anda dapatkan ketika membeli tiket reguler Garuda pun tidak akan Anda dapatkan ketika membeli tiket di subclass Eco-Basic, pun dengan layanan special meal yang ditawarkan oleh maskapai plat merah tersebut. “Premium check-in, priority boarding, fast track, dan lounge access tidak diperkenankan (bagi penumpang subclass Eco-Basic),” ujar Mantan Direktur Pelaksana Bidang Keuangan dan Strategi Bank Mandiri tersebut.

Menyoal armada yang digunakan, Pahala menuturkan bahwa layanan subclass baru ini menggunakan ATR 72-600 dan CRJ 1000 Next Gen dari Bombardier. Dengan mengandalkan 22 rute penerbangan, adapun misi utama Garuda Indonesia dalam menghadirkan layanan Eco-Basic adalah, “Meningkatkan utilitas pesawat (ATR dan CRJ) dan Seat Load Factor (SLF),” ungkap Pahala.

Baca Juga: Lebaran 2018: Garuda Indonesia Tingkatkan Kapasitas Penerbangan Hingga 8 Persen

Berikut adalah rute penerbangan subclass Eco-Basic yang diperkenalkan Garuda Indonesia sejak 21 Mei 2018 kemarin.

1. Medan (KNO) – Gunung Sitoli/Nias (GNS) PP
2. Medan (KNO) – Sibolga (FLZ) PP
3. Medan (KNO) – Siborong-Borong (DTB)
4. Medan (KNO) – Sabang (SBG)
5. Medan (KNO) – Lhok Semauwe (LSW)
6. Palembang (PLM) – Bengkulu (BKS)
7. Palembang (PLM) – Jambi (DJB) PP
8. Palembang (PLM) – Pangkal Pinang (PGK) PP
9. Palembang (PLM) – Tanjung Pandan (TJQ) PP
10. Pangkal Pinang (PGK) – Tanjung Pandan (TJQ) PP
11. Palembang (PLM) – Bandar Lampung (TKG) PP
12. Pontianak (PNK) – Ketapang (KTG) PP
13. Balikpapan (BPN) – Palangkaraya (PKY) PP
14. Balikpapan (BPN) – Pontianak (PNK) PP
15. Pontianak (PNK) – Palangkaraya (PKY) PP
16. Pontianak (PNK) – Sintang (SQG) PP
17. Pontianak (PNK) – Putussibau (PSU) PP
18. Ujung Pandang/ Makassar (UPG) – Surabaya (SUB) PP
9. Surabaya (SUB) – Semarang (SRG) PP
20. Ujung Pandang/ Makassar (UPG) – Semarang (SRG) PP
21. Surabaya (SUB) – Lombok (LOP) PP
22. Semarang (SRG) – Lombok (LOP) PP

Subclass Eco-Basic Garuda Indonesia menyiratkan aroma layanan LCC (Low Cost Carrier). Meski begitu bukan berarti Garuda Indonesia terjun ke pasar LCC, dan perlu diketahui bahwa rute yang diambil untuk subclass Eco-Basic tidak beririsan dengan rute yang dilayani oleh Citilink.

Bagaimana, #SekarangSemuaBisa naik maskapai Nomor Wahid di Indonesia, bukan?

Di Luar Regulasi, Manipulasi Psikologi Turut Campur Tangan di Perkeretaapian Jepang

Pernahkah Anda melihat sejumlah simbol tanda panah naik dan turun yang terpampang di anak tangga sebuah stasiun? Entah Anda mematuhi peraturan atau terhipnotis simbol tersebut sehingga Anda berjalan di jalur yang tepat. Anda naik di area bertanda panah mengarah ke atas, dan turun di area dengan tanda panah yang mengarah ke bawah. Kendati jalur tersebut tengah sepi, dan tidak ada hukuman yang menimpa Anda ketika melanggarnya, lalu mengapa Anda tetap mematuhi marka tersebut?

Baca Juga: Ini Dia Kreator Jingle Kereta di Negeri Matahari Terbit

Manipulasi seperti ini ternyata tidak hanya diberlakukan di Indonesia saja, Jepang pun ternyata mengimplementasikan hal yang sama. Ada beberapa poin yang menjadi perhatian operator kereta di Jepang dalam menghadirkan manipulasi tersebut, sebut saja tingginya angka bunuh diri dengan cara menjatuhkan diri ke rel jaringan kereta bawah tanah beberapa saat sebelum kereta tersebut melintas. Diketahui, Jepang merupakan negara Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) dengan presentase bunuh diri tertinggi diantara negara anggota OECD lainnya.

Dilansir KabarPenumpang.com dari laman citylab.com, operator kereta Jepang pernah berencana untuk membangun Platform Screen Doors (PSD) di semua stasiunnya yang berguna untuk mempengaruhi alam bawah sadar penumpang yang hendak bunuh diri. Namun rencana tersebut dinilai terlalu mahal dan akhirnya tak kunjung direalisasikan.

Sebagai gantinya, mereka mengganti PSD tersebut dengan sebuah lampu LED berwarna biru muda yang terpasang di bagian atas stasiun. Pakar psikologi percaya bahwa pancaran cahaya tersebut dinilai mampu merubah mood para penumpang yang ingin bunuh diri. Sempat terdengar lucu, namun ini bukanlah lelucon.

Fakta yang terpampang pada Journal of Affective Disorders pada 2013 menyebutkan bahwa jumlah penumpang bunuh diri telah mengalami penurunan drastis dalam periode 10 tahun terakhir. Dalam studi yang dilakukan oleh para peneliti dari University of Tokyo tersebut melaporkan bahwa terdapat penurunan 84 persen jumlah penumpang yang hendak bunuh diri sejak lampu LED berwarna biru tersebut dipasang. Salah satu stasiun yang dipasang lampu LED tersebut adalah Shin-Koiwa Station yang terletak di Tokyo.

Baca Juga: Jingle di Stasiun Kereta Jepang, Bangkitkan Semangat Penumpang

Tidak hanya itu, pemutaran jingle di sejumlah stasiun yang bisa dibilang nyentrik pun merupakan salah satu permainan psikologi yang dilakukan oleh operator kereta. Seperti yang sudah pernah dibahas dalam artikel sebelumnya, hassha merodi merupakan jingle atau melodi yang diputar untuk keberangkatan kereta. Minoru Mukaiya sebagai kreator dari jingle ini mengaku ingin menghibur para penumpang kereta di Jepang yang diketahui selalu dijejali oleh lautan manusia ini.

Jajal Pasar Penerbangan di Bandara Kertajati, Garuda Indonesia Utus Citilink

Digadang-gadang sebagai bandara terbesar kedua di Indonesia, Bandara Internasional Kertajati yang baru saja resmi beroperasi pada 24 Mei 2018 kemarin. Setelah itu pada 8 Juni 2018 mendatang, maskapai anak perusahaan Garuda Indonesia yakni Citilink akan memulai penerbangan perdananya dengan rute Surabaya ke Kertajati.

Baca juga: Layani Rute Surabaya, 8 Juni 2018 Citilink Terbang Perdana dari Bandara Kertajati

Adanya rute ini untuk membantu pada masa mudik lebaran 2018 ini. Direktur Utama PT Garuda Indonesia Pahala Nugraha Mansyuri mengatakan, hadirnya rute perdana Citilink tersebut dikarenakan pasar yang potensial bagi maskapai berbiaya rendah (LCC) tersebut. Dia mengatakan, nantinya akan dilihat seperti apa pasar dari periode Lebaran 2018 ini.

“Citilink dulu di pasar low cost. Garuda Indonesia untuk terbang ke bandara Kertajati belum final keputusannya,” kata Pahala yang ditemui KabarPenumpang.com di hotel Borobudur, Senin (28/5/2018).

Pahala mengatakan, untuk periode Haji 2018 pihaknya bersama Kementerian Agama dan Kementerian Perhubungan masih dalam proses pembahasan dengan penerbangan menggunakan maskapai Garuda Indonesia di bandara Kertajati.

“Proses pembahasan dengan Kemenag sedang berlangsung, rute Haji 2018 dari bandara Kertajati-Cengkareng-Saudi,” jelasnya.

VP Corporate Secretary Garuda Indonesia Hengky Heriandono mengatakan, penerbangan Haji tersebut terbang ke Bandara Internasional Soerkarno-Hatta untuk faktor teknis seperti pengisian bahan bakar. Dia mengatakan akan ada lima kloter Haji yang akan berangkat dari Kertajati dan mengambil slot milik Saudi Airlines.

“Ke Cengkareng dulu untuk teknis, penerbangan sekitar 20-25 menit dari Kertajati ke Cengkareng. Slotnya yang lima itu dari Saudi Airlines,” ujar Hengky kepada KabarPenumpang.com.

Dia menambahkan untuk penerbangan reguler saat ini, pihaknya belum mengajukan slot. Hengky mengatakan, diperkirakan sekitar tahun depan sembari pihaknya menghitung provit bila membuka rute dari Medan, Denpasar dan kota lainnya akan seperti apa.

Tak hanya membicarakan tentang bandara Kertajati, terkait codesharing pun, Garuda Indonesia mengatakan akan memulainya dengan maskapai swasta. Pahala mengatakan, akan memilah rute codeshare bersama maskapai Sriwijaya.

Dia menjelaskan saat ini ada 104 rute yang Sriwijaya miliki dan Garuda tidak terbang di rute tersebut.

Baca juga: Sesama Anggota SkyTeam, Vietnam Airlines dan Garuda Indonesia Sepakati Codeshare dan MRO

“Dari 104 itu akan kita pilah-pilah dulu, codeshare dengan Sriwijaya ini akan dimulai 10-20 rute. Seperti contoh kita punya rute Denpasar-Kupang, tapi Kupang-Alor tidak punya. Nanti kita codesharenya dengan rute seperti itu,” jelas Pahala.

Dia mengatakan, untuk codeshare ini sendiri nantinya juga akan dilihat traffic kedepannya. Sehingga bila peminatnya banyak, dengan satu kode penerbangan ini, penumpang akan dimudahkan.