Kerap Dilanda Kabut Asap, Ada Apa Dengan Perkeretaapian Bawah Tanah Beijing?

Suasana Beijing South Railway Station pada Jumat (25/5/2018) pagi kemarin sempat terpantau kalang kabut lantaran seluruh ruangan di stasiun tersebut ditutupi oleh asap tebal. Lebih parahnya lagi, kejadian tersebut terjadi ketika peak hours, dimana kebingungan massal melanda semua penumpang yang hendak berkereta dari Beijing South Railway Station.

Baca Juga: Uji Coba Kereta Cepat Otomatis di Cina Akan Mulai Musim Panas 2019

Berdasarkan lansiran KabarPenumpang.com dari laman thebeijinger.com (26/5/2018), dalam foto dan video yang berhasil diabadikan beberapa orang penumpang, tampak layanan kereta bawah tanah Line 4 lah yang tertutup kepulan asap. Nampak pula beberapa orang penumpang berjalan cepat guna menghindari kontak terlalu lama dengan asap yang tidak diketahui asal muasalnya tersebut.

Menurut penuturan salah satu petugas Beijing MTR Corporation (BJMTR) yang bertugas kala itu, ia melihat salah satu mesin pendingin ruangan yang sudah tidak berfungi mengeluarkan kabut asap pada pukul 09.04 waktu setempat. Mesin tersebut terletak di salah satu sudut stasiun, tepatnya di arah barat daya.

Untungnya, tak lama berselang setelah sang petugas menyadari bahwa salah satu pendingin ruangannya tersebut bermasalah, ia langsung berkoordinasi dengan tim lain sehingga semburan asap yang sempat mengganggu layanan di Beijing South Railway Station dapat segera diatasi. Kendati tidak ada data resmi mengenai insiden ini, namun terlihat penumpang tampaknya merasa sangat terganggu dengan hadirnya asap tidak diundang itu.

Baca Juga: Tangani 95,8 Juta Penumpang di 2017, Beijing Bersiap Menjadi Bandara Tersibuk di Dunia

Saking tebalnya, jarak pandang pun menjadi terbatas dan mengganggu fungsi penciuman penumpang. Terlihat dari ratusan penumpang yang menutup rapat mulut dan hidung mereka menggunakan telapak tangan, menyiasatkan mereka tak nyaman dengan kebocoran asap dari mesin pendingin ruangan itu.

Asap di Line 6, Stasiun Hujialou. Sumber: thebeijinger.com

Mundur sedikit ke bulan Februari 2018 silam, kejadian hampir serupa pun pernah menimpa jaringan kereta bawah tanah Beijing. Kala itu, Line 6 di Stasiun Hujialou yang menjadi korban dari gempuran asap tak bertuan ini. Dengan latar waktu yang hampir mirip, yaitu peak hours pagi hari, kejadian tersebut sempat membuat bingung penumpang. Untungnya, tak lama berselang ketebalan asap mulai memudar dan layanan kereta dapat kembali beroperasi dengan normal.

SENVISYS, Sensor di Perlintasan Sebidang dengan Teknologi Pemantau Getaran

Menyeberang rel kereta sebenarnya bukanlah masalah besar, namun terkadang perbedaan tinggi antar permukaan jalan raya dengan rel membuat penyeberang agak sulit, terlebih jika tinggi jalan sama rata. Dengan latar belakang di atas, startup Uni Eropa dengan proyek Railscope melakukan analisis kepada penumpang kereta di Eropa dan melakukan instalasi percontohan teknologi sinyal dengan basis getaran canggih sepanjang jalur kereta di Jerman.

Baca juga: Cegah Kecelakaan di Perlintasan Sebidang, Indian Railways Adopsi Teknologi Satelit

“Tes-tes ini sangat penting karena dapat melihat fungsionalitas dan keandalan teknologi kami. Kami memiliki solusi yang layak yang dapat memberikan perlindungan yang dibutuhkan pada penyeberangan kendaraan,” ujar koordinator proyek Railscope Houssam El Moutaouakil dari SENVISYS.

Dia mengatakan, perlintasan tempat penyeberangan dan persimpangan di dalam jalur kereta api melintas atau jalan setapak berada pada ketinggian yang sama dan diakui bahwa titik keselamatan sangat penting di setiap jaringan kereta api. KabarPenumpang.com merangkum dari laman cordis.europa.eu, bahwa banyak negara Uni Eropa yang masih mengoperasikan penyeberangan dengan ketinggian yang sama tanpa dukungan teknologi khusus.

“Di Jerman misalnya ada sekitar delapan ribu penyeberangan tanpa sinyal sama sekali,” ujar El Moutaouakil. Permasalahan lainnya banyak perlintasan penyeberangan ini yang terletak di lingkungan pedesaan yang sepi lalu lintas. Sementara teknologi dari SENVISYS sendiri bertujuan untuk mengatasi masalah dengan menyediakan sistem pendeteksian awal yang aman dan ekonomis melalui sensor lewat deteksi getaran.

Sensor ini mampu mendeteksi kereta dari jarak lima kilometer dan kemudian terus memantau mereka pada kecepatan, arah dan posisi atau jalur mana kereta tersebut melaju. Informasi ini sendiri kemudian dikirimkan ke sinyal persimpangan penyeberangan untuk memastikan keselamatan bagi penumpang kereta api, kendaraan serta pejalan kaki yang melintas.

El Moutaouakil yakin bahwa teknologi ini dapat menguntungkan operator kereta api dalam berbagai cara. Karena membutuhkan sistem dengan kabel yang lebih sedikit yakni hanya satu persen diperlukan dibandingkan dengan solusi saat ini.

Mengikuti keberhasilan tes awal ini, SENVISYS telah memulai proses perolehan sertifikasi jalur kereta api yang diperlukan untuk teknologi tersebut.

Baca juga: Bunyi Lonceng Kereta di Perlintasan Sebidang, Antara Manfaat dan Penebar Polusi Suara

Bidang lain yang menarik adalah penerapan teknologi getaran untuk kereta otonom. Roll-out dari kereta tanpa pengemudi telah terhalang oleh kurangnya sensor untuk merekam penghalang atau kerusakan pada track. Dalam pengertian ini, SENVISYS dapat menjadi salah satu teknologi yang memungkinkan untuk mendukung transportasi kereta api di Eropa sepenuhnya.

Inilah Jurus Perkeretaapian India Hapus Penggunaan Tiket Kertas

Kertas, salah satu bahan baku yang masih sering dipakai dewasa ini dan terbuat dari olahan kayu di hutan. Namun, karena semakin hari semakin berkurang bahan bakunya, membuat perkeretaapian India berupaya mengurangi pemakaian kertas untuk tiket kereta mereka.

Baca juga: Mesin Tiket Otomatis Tak Berfungsi, Penumpang Kereta di Chennai Harus Antre

KabarPenumpang.com melansir dari laman financialexpress.com (25/5/2018), bahwa pihak Indian Railways menawarkan bonus bagi para penumpang dan pelanggan kereta api untuk memesan tiket mereka dengan aplikasi Unreserved Ticketing System on Mobile (UTS). Nantinya bila pengguna membeli tiket dengan UTS maka akan diberikan bonus lima persen ketika mengisi ulang Dompet R mereka.

Hal ini dilakukan oleh divisi South Indian Railways baru-baru ini untuk meminimalisir dan mendorong gaya hidup penumpang kereta India dengan tanpa tiket kertas. Skema pengurangan tiket kereta kertas ini dilaksanakan Indian Railways atas perintah Dewan Kerta Api dan akan dilakukan selama tiga bulan.

Dimana penumpang yang menggunakan aplikasi UTS dan mengisi dompet R mereka akan langsung mendapatkan bonus lima persen tersebut. Contohnya saat penumpang mengisi Rs1000 atau sekitar Rp207 ribu, maka akan ditambahkan Rs50 atau sekitar Rp10 ribu.

Adanya bonus yang diberikan ini, membuat masyarakat India memberikan tanggapan yang luar biasa untuk mengurangi penggunaan tiket kertas. Saat ini, aplikasi UTS sendiri tak hanya hadir di Android, tetapi pengguna iOS juga sudah bisa menggunakannya.

Dengan aplikasi ini, penumpang bisa dengan mudah memesan tiket kereta dengan ponsel mereka dan kemudian tiket digital akan dikirimkan ke email ataupun nomor ponsel pengguna. Untuk melakukan pembayarannya pun melalui dompet R yang bisa diisi ulang.

Baca juga: Lakukan Rekrutmen dan Tes Online, Perusahaan Kereta Api India Selamatkan Hutan

Untuk pengisian ulang dompet R sendiri bisa dilakukan di semua loket tiket kereta India. Tak hanya itu, penumpang juga bisa melakukan pengisian dompet R mereka dengan kartu kredit atau debit mereka atau menggunakan situs web www.utsmobile.indianrail.gov.id.

Divisi South Indian Railways untuk meningkatkan inisiatif penjualan tiket tanpa kertas karena tidak membebankan biaya layanan apapun untuk mengisi ulang dompet R melalui konter UTS.

Mau Bawa atau Beli Makan di Kereta Cina? Simak yang Ini Dulu!

Banyaknya frekuensi penerbangan dari Indonesia ke Cina secara langsung menyiratkan tingginya angka kunjungan warga diantara kedua negara, baik untuk urusan bisnis dan wisata. Nah, bagi Anda yang kebetulan ingin berwisata ke Cina, tak ada salahnya untuk menjajal layakan kereta di Negeri Panda tersebut.

Baca juga: Nasi Goreng Parahyangan: Racikan Sederhana yang Digandrungi Penumpang ‘Gopar’

Jangan salah, perkeretaapian di Cina sudah sangat maju, bahkan PT KAI menjadikan layanan kereta di Cina sebagai salah satu rujukannya, selain negara di Eropa seperti Perancis dan Belanda. Bila Anda berniat menjajal kereta di Cina, maka ada beberapa yang layak diperhatikan, contohnya seperti soal makanan dan minuman selama perjalanan di ular besi.

Dirangkum KabarPenumpang.com dari laman travelchinaguide.com, harga makanan yang dijual di kereta oleh pengelola tidak masuk dalam harga tiket dan di Cina hanya menerima pembayaran dengan Yuan bukan mata uang lain.

Makanan di kereta Cina ini hadir di semua kereta jarak jauhnya dan kereta cepat. Di Cina, restoran ada di gerbong sembilan dan untuk kereta kecepatan tinggi di gerbong empat atau lima.

Makan di restoran kereta atau bawa makanan sendiri ini kenukmatan kereta Cina

Untuk kereta biasa makanan yang dibeli harus dipesan secara manual, sedangkan kereta cepat bisa menggunakan aplikasi China Railway Corporation dan versi bahasa yang digunakan hanya Mandarin. Sehingga bagi pelancong luar dan memiliki teman di Cina bisa meminta bantuan untuk mereservasi satu jam sebelum keberangkatan dan membayar ekstra pengiriman sebesar CNY8 atau Rp17 ribu.

Layanan pengiriman makanan disediakan pada kereta berkecepatan tinggi yang melewati banyak kota termasuk Shanghai, Tianjin, Nanjing, Guangzhou, Xian, Hangzhou, Shenyang, Wuhan, Changsha, dan Chengdu.

Makanan yang hadir dalam perjalanan kereta ini biasanya bergaya Cina dan untuk menikmati masakan Tibet hanya tersedia di kereta yang menuju Tibet. Sarapan di kereta yang disediakan biasanya bubur, acar, telur rebus, mantau dan beberapa makanan Cina lainnya.

Untuk makan siang dan malam akan dihadirkan nasi, sayuran, sup dan mie goreng. Makanan yang dihadirkan di kereta kecepatan tinggi pun ada yang dipanaskan dengan harga sekitar CNY15-45 atau sekitar Rp33ribu-Rp99ribu.

Tak hanya itu di kereta cepat juga ada dapur dan juru masak yang memasak makanan di menu hidangan. Setiap hidangan yang dimasak harga yang ditawarkan CNY25 atau sekitar Rp55 ribu.

Minuman pun dijual beragam seperti air kemasan, bir, soda dan lainnya. Cemilan seperti biji bunga matahari, kacang, kerupuk, keripik kentang dan lainnya juga hadir.

Di kereta Cina gerbong makan hanya memiliki 30-40 kursi, sehingga untuk memudahkan penumpang, makanan ini juga dijual oleh pramugari kereta dengan menggunakan troli. Sehingga pelancong bisa lebih mudah memesan makanan.

Namun, bagi Anda yang menginginkan makanan lain, sebelum berangkat bisa membelinya di restoran stasiun. Biasanya makanan yang dijual adalah masakan lokal yang sederhana ataupun cemilan. Seperti bebek rebus, jagung rebus, telur rebus dan mie beras.

Dengan harga yang cukup terjangkau sehingga pelancong terkadang lebih memilih membeli di stasiun ataupun membawa dari rumah. Adanya alasan ini juga yang membuat penumpang Cina membawa kantong plastik yang berisikan makanan seperti mie instan cup, buah-buahan, air minum dan beberapa makanan ringan.

Baca juga: Tergerus Zaman, Tradisi Bawa Bekal dan Berbagi Makanan di Kereta India Mulai Hilang

Bagi penumpang Cina, makanan di kereta selain mahal juga dirasa tidak enak, sehingga tak heran bila mereka membawa itu semua. Salah satu kenikmatan lainnya adalah air panas disediakan gratis bagi pelancong, sehingga masayrakat Cina seperti menghalalkan membawa makanan dari rumah tanpa harus membelinya di kereta.

Bagi pelancong dari negara lain ada beberapa tips yang bisa membuat Anda nyaman. Jika tidak menyukai masakan Cina bisa membawa roti, mie instan atau membeli makanan cepat saji sebelum naik kereta.

Bawa botol minum karena tersedia air matang di setiap gerbong kereta. Bila berencana makan di gerbong makan, datang sedini mungkin karena kursi terbatas.

Terkendala Utang, Mahathir Tinjau Berbagai Proyek Kereta di Malaysia

Malaysia kini tengah menghadapi dilema ekonomi, pasalnya utang luar negeri yang membengkak. Utang tersebut meningkat sebesar US$50 miliar setara dengan Rp700 triliun dan banyak proyek infrastruktur besar yang kini dikaji ulang pembangunannya. Saat ini utang pemerintah Malaysia mencapai lebih dari satu triliun ringgit atau sekitar US$251,32 miliar. Uang tersebut setara Rp3,514 triliun atau 80 persen dari Produk Domestik Bruto Malaysia.

Baca juga: 10 Poin Utama Pada Proyek Kuala Lumpur–Singapore High Speed Rail

Karena adanya utang negara, masyarakat Malaysia kini dihimbau melakukan penggalangan dana untuk membantu membayar utang negara. Penggalangan dana ini diprakarsai seorang warga bernama Nik Shazarina Bakti yang mengingatkan tentang perjuangan nenek moyangnya dimana memberikan harta benda dan kemerdekaan untuk menjadi seperti saat ini.

Dia mengatakan, sumbangan tersebut akan disalurkan kepada Pemerintah Malaysia dan dirinya memberikan jaminan serta laporan dengan meperbaharui sumbangan yang diterima dan disalurkan. KabarPenumpang.com merangkum dari berbagai laman sumber, sebelumnya Perdana Menteri Mahathir Mohamad mengumumkan akan memotong gaji menterinya di kabinet sebesar sepuluh persen.

Hal ini dilakukannya sebagai bukti kepedulian kepada negara Malaysia. Demi mengatasi pembengakakan utang Malaysia, Mahathir kemudian melakukan negosiasi ulang terhadap sejumlah proyek kereta api yang sudah disepakati Perdana Menteri Malaysia sebelumnya yang bermitra dengan Pemerintah Cina.

Negosiasi tersebut adalah proyek kereta Link East Coast Rail senilai 55 miliar Ringgit atau setara US$13,82 miliar. Proyek tersebut adalah kesepakatan dengan Cina terkait Belt and Road inisiatif yang dimulai 2017 kemarin.

Proyek kereta api ini direncanakan membentang sepanjang 668 km yang menghubungkan perbatasan timur Laut Cina Selatan sampai ke malaka di barat yang merupakan jalur pelayaran strategis dunia.

“Kami sedang menegosiasikan kembali persyaratannya, karena ini akan sangat merusak,” kata Mahathir.

Proyek yang saat ini sedang dibangun tersebut dikerjakan oleh China Communications Construction Co Ltd, dan sebagian besar dibiayai oleh pinjaman dari China Exim Bank. Mahathir mengaku, pengkajian proyek tersebut perlu dlakukan karena ini dianggap belum perlu bagi Malaysia.

Selain proyek tersebut, Mahathir juga mengakui akan kembali mengkaji sejumlah proyek kereta kecepatan tinggi yang sudah disepakati dengan Singapura. Proyek yang membutuhkan dana sekitar US$17 miliar itu saat ini masih menunggu tender dan dijadwalkan selesai pada 2026.

Proyek kereta kecepatan tinggi yang sangat prestisius tersebut rencananya akan membentang dari ibu kota Kuala Lumpur hingga Singapura.

Baca juga: Stasiun Kereta Cepat di Malaysia Bakal Kaya dengan Arsitektur Islam dan Melayu

“Untuk perjanjian Kereta Kecepatan Tinggi kami putuskan untuk membatalkan proyek karena akan menghabiskan uang,” kata Mahathir. Dengan pembatalan sejumlah proyek tersebut Malaysia perkirakan akan menghemat beban utang sebesar US$50,26 miliar.

Duduk Dekat Jendela, Opsi Paling Ideal Untuk Naik Kereta Jarak Jauh

Pemudik di Pulau Jawa biasanya lebih banyak memilih kereta api, selain harga tiket yang relatif masih lebih murah, tidak terkena macet seperti bus dan mendapat pemandangan indah meski menempuh perjalanan yang cukup lama dibanding pesawat. Ya, setidaknya sebelum bertemu sanak saudara menikmati hamparan sawah, pohon, gunung dan lainnya saat kereta melintas menjadi satu suguhan menarik.

Baca juga: Mau Membatalkan atau Merubah Jadwal Tiket Kereta Api? Baca Ini Dulu Ya!

Sebagai pengguna kereta, KabarPenumpang.com merangkum beberapa hal yang bisa membuat mudik lebih menyenangkan dan tak ada kata bosan dengan transportasi satu ini. Apa saja sih? Berikut ada beberapa hal yang bisa dilakukan dan dibawa selama perjalanan.

1. Bawa bekal dari rumah
Selagi perjalanan menuju kampung halaman, perjalanan kereta tak lah sebentar bisa lima jam bahkan 16 jam jika sampai ke Jawa Timur. Bila Anda menggunakan kereta pagi, siapkan makanan berbuka dan sebaliknya bila menaiki kereta malam bawa makanan untuk sahur. Selama perjalanan mudik biasanya akan lebih menikmati makanan rumah alias bawa sendiri untuk berbuka atau sahur di perjalanan.

Tetapi bagi yang tidak membawanya bisa memesan makanan dari kereta. Karena restorasi kereta menyediakan beberapa menu pilihan, namun mungkin makanan yang diinginkan seringkali tak ada di menu.

Ilustrasi bekal makanan

2. Duduk dekat jendela
Menikmati perjalanan dengan ular besi, paling nikmat adalah duduk dekat jendela. Dikala perjalanan siang, pemandangan di luar kereta sungguh menyejukkan hati. Hamparan sawah hijau membuat ketenangan dan kedamaian.

Bahkan bisa membuat Anda tidak merasakan sedang dalam perjalanan jauh dengan waktu berjam-jam. Apalagi kini, setiap penumpang yang memesan tiket bisa memilih langsung tempat duduk yang diinginkannya melalui aplikasi milik KAI atau online tavel lainnya.

3. Bawa bantal dan selimut
Di kereta eksekutif, penumpang biasanya akan disediakan bantal dan selimut. Tapi, banyak juga yang memiliki alergi dengan bahan bantal atau selimut.

Sehingga dengan membawa bantal leher dan selimut sendiri selain lebih nyaman, juga menjauhkan dari alergi. Untuk penumpang kelas ekonomi AC dan bisnis sepertinya membawa bantal dan selimut ini wajib, karena kelas kereta yang satu ini tidak menyediakan bantal maupun selimut.

Tanda penanda di barang

4. Bawa keperluan pribadi
Obat-obatan, tisu, hand sanitizer menjadi salah satu yang terpenting untuk dibawa. Sebab, jika tiba-tiba maag kambuh, kepala pusing atau mual setidaknya masih bisa ditahan dengan obat yang dibawa penumpang.

Baca juga: Momen Mudik Lebaran, Saatnya Maksimalkan Kemampuan Fotografi

Tisu dan hand sanitaizer digunakan untuk membersihkan tangan sebelum dan setelah makan. Ini bisa digunakan saat sulit mendapat air untuk cuci tangan dan bisa melapnya dengan tisu yang dibawa. Tidak mau kan mudik malah sakit bukan bertemu keluaga karena kurang menjaga kebersihan diri.

5. Beri tanda di barang bawaan
Biasanya para pemudik membawa barang bawaan yang tidak sedikit dan ini sepertinya wajar. Untuk memudahkan menemukan barang bawaan baiknya gunakan tanda, karena stasiun tidak memberikan fasilitas penanda tersebut.

Tempel stiker, pita atau beri tulisan untuk menegaskan itu barang bawaan Anda. Terkadang pun tak sadar jika barang bawaan tertukar karena kardus pembungkus sama. Dengan tanda ini bisa membedakan barang milik Anda.

Japan Airlines Terjun Ke Segmen Low Cost Carrier

Sebagai Flag Carrier Negeri Matahari Terbit, Japan Airlines (JAL) baru saja mengeluarkan jasa penerbangan berbiaya rendah (Low Cost Carriers/LCC) untuk jarak menengah hingga jauh. Adapun tujuan dari dirilisnya layanan LCC ini adalah untuk memanfaatkan permintaan perjalanan udara berbiaya rendah warga Asia yang sangat tinggi belakangan ini.

Baca Juga: Long Haul Low Cost Carriers, Solusi Terbang Jarak Jauh Tanpa Harus Kuras Dompet!

Nantinya, layanan LCC milik Japan Airlines ini akan berbasis di Bandara Internasional Narita dan menawarkan penerbangan ke berbagai destinasi, seperti Asia, Eropa, dan Amerika. Kendati belum memiliki nama resmi, pihak Japan Airlines memiliki rencana untuk mengudara pada, “Musim panas 2020,” tulisnya dalam sebuah pernyataan, dikutip KabarPenumpang.com dari laman cnbc.com (14/5/2018).

Untuk mengawali karir dari layanan ini, Japan Airlines rencananya akan menggunakan dua buah Boeing 787-8 yang terkenal sebagai salah satu armada berbodi lebar. Dalam upaya untuk merealisasikan rencana dan menjalankan bisnis ini, pihak Japan Airlines mengaku akan menginvestasikan 10 hingga 20 miliar yen atau yang setara dengan Rp1,3 hingga Rp2,6 triliun. Tiada lain, tujuan dari investasi besar-besaran tersebut adalah untuk mendapat profit dalam tiga tahun terhitung sejak tanggal peluncurannya.

Selain itu, ajang Olimpiade Tokyo 2020 pun menjadi salah satu alasan mengapa maskapai baru ini harus sudah mulai beroperasi pada tahun 2020 kelak. JAL sendiri mengutarakan rencana ini dalam Rencana Pengelolaan Jangka Menengah Grup tahun fiskal 2017-2020.

Tidak hanya Jepang saja berencana untuk merilis layanan penerbangan murah jarak jauh, pun dengan negara penghasil musik Kpop, Korea Selatan yang siap meluncurkan layanan bernama Air Premia pada akhir tahun 2019 mendatang. Untuk armada, Air Premia rencananya akan menggunakan modelan Boeing 787-9 atau Airbus A330neo.

Mantan Presiden dari Jeju Air yang kini memimpin proyek Air Premia, Kim Jeong Cheol membocorkan sedikit rencana perusahaannya. “Kami akan menggunakan pesawat baru untuk melayani penerbangan jarak menengah seperti ke Singapura dan Ho Chi Minh City,” ungkap Kim. “Sedangkan untuk layanan jarak jauhnya bisa mencapai San Francisco dan Munich,” tandasnya.

Baca Juga: Dilema Seat Pitch, Maskapai Tambah Untung Penumpang Merana

Sedikti gambaran, di dunia aviasi global, layanan LCC selalu disangkutpautkan dengan fasilitas yang bisa dibilang cukup tapi tidak terlalu nyaman. Sebut saja jarak antar kursi yang tidak terlalu panjang berimbas pada kaki penumpang yang dipaksa menekuk selama perjalanan. Mungkin untuk penerbangan jarak menengah tidaklah terlalu menjadi masalah, namun bagaimana dengan rute penerbangan jarak jauh? Apakah penyedia layanan akan memberlakukan sistem transit?

Belum lagi layanan semacam ini diprediksi akan mematikan harga pasar maskapai-maskapai yang menyediakan layanan penerbangan jarak jauh. Tidak sedikit orang-orang yang menganut mahzab murah asal selamat ketimbang mengedepankan rentang waktu perjalanan yang lebih singkat. Kita nantikan saja perkembangan dari layanan penerbangan berbiaya murah jarak menengah – jauh ini.

Sepak Terjang PT INKA di Mancanegara yang Harumkan Nama Ibu Pertiwi

Salah satu BUMN ini namanya bisa dibilang tidak hanya gemilang di dalam negeri saja, pun di luar negeri sana. Ya, belakangan ini dapur PT INKA diketahui tengah sibuk dengan orderan dari pihak asing. Ini membuktikan bahwa produk dalam negeri mampu bersaing dengan pabrikan luar yang bias jadi harganya jauh melebihi banderol PT INKA. Berikut KabarPenumpang.com sarikan sejumlah Negara yang pernah memesan rangkaian kereta kepada PT INKA, dikutip dari sejumlah laman sumber.

Baca Juga: PT INKA, Kepercayaan Dunia Dalam Industri Kereta di Dalam Negeri

Bangladesh
Pada 31 Maret 2016 lalu, PT INKA berhasil memenangkan tender pengadaan kereta api sebanyak 250 unit dari Bangladesh, India. Dalam proses ini, PT INKA berhasil mengalahkan produsen kereta asal Tiongkok dan India. Dalam pengerjaan proyek senilai US$73 juta ini, PT INKA turut menggandeng beberapa BUMN lain seperti PT Pindad, PT Krakatau Steel, dan PT Barata.

Filipina
Januari tahun 2018 menjadi awal yang baik bagi PT INKA dalam memulai tahun kuartal pertamanya. Mereka menandatangani kontrak senilai 485 juta peso atau yang setara dengan Rp127,3 miliar dengan pihak Philippine National Railways (PNR). Adapun kereta berjenis Diesel Electric Multiple Unit (DMU) yang dipesan oleh pihak Filipina ini nantinya akan digunakan pada jaringan Metro Manila yang ditargetkan rampung pada kuartal III tahun 2019.

Taiwan
Pada tahun 2017 silam, perusahaan yang kini diketuai oleh Budi Noviantoro ini menandatangani kontrak dengan pihak Taiwan Rolling Stock co. (TRSC) dalam hal pengadaan 400 unit kereta listrik multi-unit berbahan dasar stainless steel (EMUs). “Kami TRSC telah menandatangani nota kesepakatan dengan PT INKA terkait kerja sama dalam proyek tersebut, termasuk soal harga yang dikenakan, semuanya sudah tercantum di dalam nota kesepakatan ini,” ungkap pimpinan besar dari TRSC, Tsai Huang-Liang.

Malaysia
Pada pertengahan 2012 silam, PT INKA mendapat pesanan 16 gerbong kereta dari pihak Malaysia. Nilai kontrak 16 kereta pesanan Malaysia tersebut mencapai sekitar US$4,8 juta atau yang setara dengan Rp45,6 miliar. Adapun komposisi dari pesanan tersebut adalah 14 unit kereta penumpang atau Air Conditioned Second Class (ASC), dua unit kereta pembangkit atau Power Generating Car (PGC) dan dua unit kereta makan atau Air Conditioned Buffet Car (ABC).

Baca Juga: Terima Tawaran dari Taiwan, PT INKA Siap-Siap Kembali “Kebanjiran” Order

Singapura
Di tahun yang sama, PT INKA kembali menerima orderan dari pihak Singapura yang memesan 20 gerbong barang dengan nilai kontrak yang enggan dibongkar. Adapun pesanan dari negeri tetangga ini meliputi wheel wagon dan flat wagon.

Perkeretaapian India Bocorkan Cara Ampuh Tindak Lanjuti Aksi Kriminal

Tindak kriminal yang terjadi di sarana transportasi umum memang kerap terjadi di belahan dunia manapun, tidak terkecuali di India. Pada 9 Februari 2018 lalu, seorang penumpang kereta api terpaksa menderita cidera setelah menjadi korban dari aksi curas (pencurian dan kekerasan). Beruntung, nyawa dari wanita yang bernama Dravita Singh tersebut bisa tertolong dan hanya ponselnya saja yang raib.

Baca Juga: Refund Tiket Kereta di India, Bisa Dilacak Real Time dan Hanya Butuh Proses 5 Hari

Sebulan berselang, tepatnya pada 10 Maret 2018, tindak pencurian ponsel di perkeretaapian India kembali terjadi. Kali ini giliran remaja berusia 18 tahun bernama Miloni Parekh terpaksa menerima hantaman dari seorang pencuri yang berusaha mengambil paksa ponsel miliknya. Dalam kasus ini, nasib Miloni masih lebih baik ketimbang Dravita, karena cidera yang dideranya tidak terlalu parah dan ponselnya bisa kembali.

Dari dua contoh di atas, dapat kita simpulkan bahwa kasus curas masih marak terjadi di India, terutama di pinggiran kota Mumbai. Berdasar atas dua kasus yang hampir merenggut nyawa dua orang penumpang ini juga akhirnya terungkap sebuah jaringan kelompok pencuri yang menamakan dirinya sebagai Fatka. Nama tersebut diambil dari trik yang mereka gunakan ketika beroperasi, yaitu dengan cara mengalihkan perhatian si korban.

Tentunya kejadian seperti ini perlu ditindaklanjuti agar para pelaku tidak semakin meradang. Dilansir KabarPenumpang.com dari laman moneylife.in (24/5/2018), Samir Zaveri selaku salah satu dari pembicara pada seminar Moneylife Foundation mengatakan bahwa ada beberapa protokol yang dapat dilakukan agar kejahatan semacam ini dapat diminimalisir. Paling dini adalah melakukan laporan ke pos keamanan setempat. “Di sini, korban harus melaporkan tindak pencurian, bukan kehilangan,” tutur Samir.

Tidak berhenti sampai di situ, informasi mendetail seperti IMEI dan tipe hp korban pun seyogyanya diinfokan kepada petugas yang berjaga. Setelah mendapatkan informasi yang dianggap penting guna menindaklanjuti masalah, maka Government Railway Police (GRP) akan mulai mengusut kasus tersebut dengan beberapa tahap di dalamnya.

Baca Juga: Kementerian Kereta Api India Janji Sulap Gerbong Lama Jadi Lebih Modern

Semisal korban sulit untuk menemukan GRP terdekat, Indian Railways selaku operator dari layanan kereta di negara penghasil film Bollywood tersebut telah menyediakan aplikasi bernama Rail Suraksha yang di dalamnya memuat beragam informasi tentang pengoperasian kereta di India. Rail Suraksha pun menyediakan fitur pelaporan dan keluhan. Dengan menggunakan aplikasi tersebut, penumpang dapat melaporkan tindak kriminal tersebut dengan mencantumkan sejumlah informasi tambahan, seperti nama stasiun tempat kejadian atau yang terdekat dari lokasi kejadian, nomor kereta, nomor tiket, dan lain-lain.

Selain dua cara di atas, Samir menambahkan, “Membagikan informasi melalui jejaring sosial seperti Twitter merupakan cara yang bijak untuk melakukan pelaporan atau keluhan awal sebelum nantinya insiden tersebut akan ditindaklanjuti,” tuturnya.

Cormorant, Satu-Satunya Unmanned Aerial Vehichle yang Diakui NATO

Ketika sektor transportasi udara mulai dijejali dengan sejumlah rencana pengadaan Unmanned Aerial Vehicle (UAV), sebuah perusahaan asal Israel, Tactical Robotics hadir dengan sentuhan yang berbeda. Cormorant, begitulah nama dari pesawat Vertical Takeoff and Landing (VTOL) ini diketahui mampu terbang dengan dua mode: mandiri dan dikendalikan dari jarak jauh. Tentu saja fitur semacam ini menjadi pusat perhatian tersendiri bagi para peminatnya.

Baca Juga: Tidak Antar Penumpang, Moda Otonom Ini Ditugaskan Untuk Kirim Barang!

Dilansir KabarPenumpang.com dari laman newatlas.com (24/5/2018), pihak Tactical Robotics sesumbar armadanya ini mampu mengirim pasukan penumpang sipil dan kargo menuju tempat yang tidak bisa dijangkau oleh helikopter. Hadirnya bilah rotor internal pada lambung moda ini memungkinkan Cormorant terbang secara vertikal, dan baling-baling yang ada di bagian belakang moda ini mampu memberikan dorongan agar bisa melaju secara horizontal.

Jika dilihat dari keseluruhan, tampaknya Cormorant UAV tidaklah ditujukan untuk sektor transportasi berbasis aplikasi seperti Uber yang tengah bersaing memenangkan ceruk pasar, melainkan untuk dunia militer. Namun bukan tidak mungkin moda nirawak ini diminati oleh para penyedia jasa layanan transportasi.

Pada 7 Mei 2018, Megiddo Airfield yang terletak di Israel sebelah Utara menjadi saksi dari uji coba Cormorant UAV terhadap Israel Defense Forces. Pasukan pertahanan tersebut diketahui sebagai pelanggan utama dari bengkel Tactical Robotics.

Demo itu sendiri dimulai dengan Cormorant UAV yang mengangkut kargo menuju titik pengiriman yang sudah ditentukan sebelumnya. Sesampainya di tujuan, pihak Tactical Robotics pun menurunkan kargo dan menggantinya dengan medical training mannequin yang disimulasikan sebagai korban jiwa. Tujuan dari Cormorant UAV adalah membawa manekin ini kembali ke titik pemberangkatan awal.

Dalam perjalanannya menuju titik pemberangkatan awal, sistem onboard memungkinkan terjalinnya komunikasi dengan menggunakan video secara dua arah antara pihak penanganan darat dan kru yang ada di dalam moda tersebut. Tentu saja hadirnya sistem komunikasi tersebut menjadi nilai plus bagi Cormorant UAV.

Baca Juga: Prototipe Taksi Drone Ehang 184, Sukses Uji Coba Dalam 1000 Kali Terbang

Walaupun segi loading kargo dan korban ke dalam moda masih mengandalkan tenaga manusia, namun pihak perusahaan mengatakan, “Cormorant merupakan satu-satunya UAV yang diakui oleh NATO dimana mereka memenuhi kriteria pengiriman kargo dan skenario CasEvac (Casualty Evacuation).”