Hadapi Musim Kemarau, Stasiun di India Gunakan Kondensasi Untuk Pasokan Air

Kekurangan air di musim kemarau sepertinya terjadi setelah adanya perubahan iklim belakangan ini. Adanya pemanasan global sehingga terkadang saat musim hujan berlebih menyebabkan banjir atau musim kemarau yang benar-benar ekstrim hingga kekeringan dimana-mana.

Baca juga: India Lakukan Survei Stasiun Terbersih, Indonesia Kapan?

Di india, tepatnya di kota Rauli, Stasiun Odisha kekurangan air saat musim panas. Air keran mengering dan sulit didapatkan baik di desa maupun perkotaan. Apalagi untuk menemukan dan mempertahankan sumber air yang konstan berkelanjutan cukuplah sulit.

Apalagi di daerah-daerah yang jauh dan memiliki medan yang berat sehingga sulit untuk digali mencari sumber air. Namun meski begitu untuk mengatasi kesulitan air di Rauli, Stasiun Odisha di jalur Koraput-Rayagada pihak East Coast Railways telah menggunakan teknologi ekstraksi dari kelembaban atmosfer.

Seorang wanita mengisi botol setelah uap diubah menjadi air (www.thebetterindia.com)

“Kami akan menyebarkannya di atas kondensor, dimana mengubah uap menjadi air dengan pertukaran panas. Mesin yang akan digunakan untuk proses ini bekerja pada tingkat kelembaban rendah yakni 50 persen,” ujar Chief Public Relations Officer East Coast Railways JP Mishra yang dikutip KabarPenumpang.com dari laman thebetterindia.com (22/5/2018).

Dia menambahkan, suhu mesin tersebut sekitar 32-35 derajat Celcius dan mampu menghasilkan 120 liter air per harinya. Mesin ini sendiri telah dipasang di stasiun Odisha sejak 25 April 2018.

Baca juga: Stasiun Kereta ‘Rasa Bandara Internasional’ Siap Hadir di India

Diketahui cara mendapatkan air dengan mengubah uap panas ini di usulkan oleh General manager ECoR, Umesh Sighn. Dia juga membicarakan tentang ekstraktor kelembaban atmosfer untuk menghasilkan air.

Dengan adanya mesin ini, Mishra optimis tentang metode berkelanjutan tersebut dengan mengumpulkan air dan berharap bisa mengembangkannya di stasiun lain di daerah yang juga kekurangan air. Mesin ini seharga 2 lakh atau sekitar Rp41 juta dan menjadi model pertama di jenisnya yang digunakan oleh kereta api serta di terapkan di seluruh stasiun India yang mengalamai masalah sama.

Stasiun Odisha sebelumnya bergantung pada aliran air tetapi karena tidak ada dan saat ditemukan sumber air, ternyata tidak layak konsumsi. Maka hadirnya mesin ini memecahkan masalah air di stasiun. Mishra juga ingin menawarkan hal ini kepada pemerintah untuk kepentingan nasional yang lebih besar.

Semburan “Water Salute,” Penanda Tibanya Penerbangan Perdana

Selebrasi atau sambutan dengan penyiraman air melalui water canon pada sebuah pesawat akan mirip dengan gerbang sambutan selamat datang di pesta pernikahan atau dibawah pedang pora pada pernikahan militer. Sebab air yang disiramkan ini akan berbentuk lengkungan dan biasa disebut dengan Water Salute.

Baca juga: Bandara Kertajati Buka Lima Rute Penerbangan Mudik dan Lima Kloter Haji 2018

Penyiraman air atau water salute ini sendiri dilakukan pada penerbangan perdana dan rute baru sebuah maskapai yang tiba di apron bandara. Jika di Amerika penyiraman water salute ini menandai pensiunnya seorang pilot senior, pengendalian lalu lintas udara, penerbangan pertama atau terakhir dari sebuah maskapai penerbangan ke bandara serta penerbangan pertama dan terakhir dari jenis pesawat.

Hal ini pun terjadi pada pesawat Kepresidenan Indonesia-1 yang membawa Presiden Joko Widodo beserta rombongan saat mendarat perdana di Bandara Internasional Kertajati di Majalengka, Jawa Barat yang diresmikan pada 24 Mei 2018 kemarin. Saat itu pesawat Boeing Bussines Jet (BBJ) mendarat pukul 09.19 WIB dan tak lama setelah mendarat, pesawat berbadan warna biru dan putih tersebut disiram oleh dua unit mobil penyiraman dari kiri dan kanan sembari melintas perlahan sebelum berhenti sempurna.

Proses penyiraman ini sendiri tak lama sekitar satu menit kurang. KabarPenumpang.com merangkum dari berbagai laman sumber ternyata bagi penumpang yang tak mengerti selebrasi penyiraman air ini sendiri bisa membuat pesawat panik dan mengira terjadi sesuatu pada pesawat seperti terbakar.

Tak hanya pesawat milik kepresidenan saja, masakapai Lion Air juga pernah disiram dengan air melalui water canon. Selain itu pada 2013 lalu, pesawat Garuda jenis CRJ1000NextGen dengan nomor penerbangan PK-GRF yang mendarat perdana di bandara El Tari, Kupang juga disiram dengan air melalui dua water canon.

“Kaget. Karena saat mendarat di Bandara El Tari, langit kan cerah, cuaca juga panas. Tapi kenapa tiba-tiba ketika berjalan ke arah landasan ada guyuran air dari bagian kanan dan kiri pesawat. Airnya dari dua mobil pemadam kebakaran itu. Saya kira pesawat terbakar sehingga disirami air. Tahunya itu air untuk “kasih dingin”, menyambut penerbangan perdana Garuda rute Surabaya-Kupang. Syukurlah,” ujar seorang penumpang wanita.

Baca juga: Mulai 25 Mei 2018, Wings Air Layani Rute Kupang-Lombok Setiap Hari

Dua water canon tersebut memang disiapkan PT Garuda Indonesia cabang Kupang dalam rangka penyambutan pesawat baru tersebut. Setelah disiram, pesawat terus menuju apron untuk parkir dan menurunkan penumpang.

Namun sebelum penumpang turun, pilot dan co-pilot pesawat turun duluan dan disambut General Manger PT Garuda Indonesia cabang Kupang saat itu Micky Irfandi. Saat itu pesawat jet tersebut diawaki oleh warga negara asing, yakni pilot bernama Pedro Gonzalez dan kopilot Sergio Blanells.

Memboncengi Penumpang Awam, Ini Dia Tipsnya Agar Bermotor Aman!

Selain harus menyeimbangkan diri sendiri, ternyata tingkat kesulitan yang hadir ketika kita membonceng seseorang meningkat berkali lipat. Kita harus tetap seimbang walaupun si penumpang di belakang banyak gerak atau bahkan kaku sekalipun. Terlebih jika si penumpang baru pertama kali dibonceng, ini akan jadi tantangan tersendiri bagi Anda selaku si pengemudi. Biasanya, dia akan kaku sejadi-jadinya ketika pertama kali dibonceng.

Baca Juga: Sirocco, Bus Dengan Roda Sejajar Calon Transportasi Masa Depan

Sadar bahwa hal semacam ini berpotensial menimbulkan kecelakaan, berikut KabarPenumpang.com himpun beberapa poin yang patut Anda perhatikan sebelum membonceng seseorang, dikutip dari laman rideapart.com.

Perlengkapan
Berbeda dengan di dalam negeri, setiap pengendara motor di luar negeri amat sangat memperhatikan kelengkapan mereka sebelum berkendara. Mulai dari helm, vest, sarung tangan, hingga sepatu yang menutupi mata kaki. Bagi para pengemudi, wajib hukumnya bagi mereka untuk melengkapi penumpang dengan kelengkapan yang sama. Semisal salah satu diantaranya tidak lengkap, mereka akan lebih memilih untuk naik mobil saja. Sangat berbanding terbalik dengan di Indonesia, ya!

Ingatkan si Penumpang
Sampaikanlah kepada si penumpang apa yang kira-kira harus ia lakukan, mengingat ini barulah kali pertamanya ia berkendara menggunakan sepeda motor. Semisal, “Berpeganganlah dengan erat, ikuti gerakan motor dan jangan kaku,”. Juga jangan lupa untuk memberikan kode kepada si penumpang alih-alih dia ingin memberitahu sesuatu. “Cubit atau pukul saja semisal laju motor terlalu cepat,”

Perintahkan Untuk Duduk Senyaman Mungkin
Karena ini pengalaman pertamanya dibonceng, maka upayakan agar dirinya mendapati ‘spot’ terbaik ketika berkendara. Jangan lupa, kebanyakan penumpang naik dan turun menunggu aba-aba dari kita, apakah sudah boleh turun atau belum. Serta jangan lupakan pijakan kaki penumpang yang selalu diinjak ketika hendak naik atau turun, jadi siakan diri Anda untuk itu.

Baca Juga: Kirim Motor Lewat Kereta, Baca Dulu Tipsnya!

Tata Cara Berpegangan
Arahkan si penumpang untuk memegang erat pada pengemudi. Satu tangan memegang pinggul di pengemudi, sedangkan satunya berpegangan pada tangki. Cara ini dianggap yang paling aman di segala kondisi, baik pada kecepatan rendah atau tinggi sekalipun.

Upayakan Untuk Mengkomunikasikan Semuanya Secara Verbal
Baik hendak turun atau mengkomunikasikan sesuatu, ada baiknya Anda menghimbau kepada si penumpang agar membicarakannya secara verbal. Jangan lupa ingatkan si penumpang untuk turun dengan kaki kiri terlebih dahulu, karena ini berkaitan dengan keseimbangan.

Pasar LCC Meningkat, Bandara Internasional Narita Siap ‘Upgrade’ Kapasitas Terminal 3

Semakin banyaknya maskapai yang menyediakan layanan Low Cost Carriers (LCC) membuat terminal khusus maskapai berbiaya rendah di Bandara Internasional Narita perlu diperluas dalam jangka waktu empat tahun mendatang. Tujuannya, agar mengurangi penumpukkan penumpang yang terjadi di bandara yang terletak di Prefektur Chiba, Jepang ini.

Baca Juga: Lima Maskapai Ini Dianggap Ramah Bagi Penyandang Disabilitas

Diketahui, Terminal 3 yang diperuntukkan khusus maskapai berbiaya rendah ini dibuka pada tahun 2015 silam, dan setiap tahunnya hampir selalu mengalami peningkatan pengguna. Dikutip KabarPenumpang.com dari laman nhk.or.jp, aliran pengguna meningkat kurang lebih sekitar 10 persen setiap tahunnya. Itu semua tidak lepas dari peran operator LCC yang terus memperkenalkan layanan baru dan meningkatkan jumlah penerbangannya.

Ada keunikan lain dari bandara ini. Selain Terminal 3 yang dikhususkan untuk maskapai berbiaya rendah, Terminal 1 dan 2 pun ditujukan bagi kelompok maskapai tertentu, seperti Terminal 1 khusus untuk anggota SkyTeam dan Star Alliance, sedangkan Terminal 2 khusus untuk anggota aliansi maskapai Oneworld. Saking banyaknya layanan yang ‘singgah’ di bandara yang memiliki landas pacu sejajar ini, sampai-sampai Bandara Internasional Narita mendapat gelar sebagai bandara internasional tersibuk di Jepang.

Menurut laman sumber, Terminal 3 Bandara Internasional Narita digunakan oleh lebih dari 7,6 juta orang pada tahun fiskal terakhir yang berakhir pada bulan Maret 2018 kemarin. Dengan adanya peningkatan yang stabil pada sektor penumpang, maka hal tersebut maka berimbas pada kepadatan penumpang ketika check-in dan antrean pada pos pemeriksaan keamanan.

Baca Juga: WheelTug, Dukung Pergerakan Pesawat Lebih Cepat di Area Terminal

Menanggapi hal tersebut, Narita International Airport Corporation selaku operator bandara tersebut melakukan inisiasi untuk meningkatkan kapasitas terminal menjadi 15 juta penumpang. Selain dapat menampung lebih banyak pelancong, peningkatan kapasitas tersebut pun diharapkan dapat menarik lebih banyak nama LCC untuk ‘menyandarkan’ pesawatnya di Narita.

CEO dari Narita International Airport Corporation, Makoto Natsume mengatakan bahwa akan merelokasi bangunan kargo di sisi selatan terminal LCC untuk membebaskan ruang seluas 10.000 meter persegi untuk perluasan. “LCC telah berkembang dan permintaan penerbangan telah melampaui ekspektasi. Kami akan berhati-hati dalam menyediakan fasilitas penunjang bagi para penumpang,” tutur Makoto.

Jelang Musim Mudik, ASDP Siapkan 2.100 Tiket Gratis Penumpang di Tiga Lintasan

Menyambut musim mudik 2018, PT ASDP Indonesia Ferry akan mendukung kampanye Mudik Bareng BUMN, dan untuk tujuan tersebut BUMN transportasi ini telah menyiapkan 2.100 tiket pejalan kaki (penumpang) di tiga lintasan di Kawasan Timur Indonesia.

Pendaftaran bagi peserta mudik bersama ASDP sudah mulai dibuka di Cabang Ambon untuk lintasan Galala-Namlea dan Hunimua-Masohi pada Kamis (24/5) hingga Sabtu (26/5). Diikuti Cabang Ternate dan Cabang Baubau pada akhir bulan ini hingga awal pekan bulan Juni mendatang.

Baca juga: Tiru Kehigienisan Reska, PT ASDP Coba Peruntungan Tawarkan PopSo di Kapal Ferry

“Untuk mendukung program Pemerintah dalam penyelanggaraan angkutan lebaran menggunakan transportasi publik, kami akan mengangkut sekitar 2.100 penumpang pejalan kaki secara gratis di lintasan di wilayah timur Indonesia, yakni lintasan Bastiong-Rum (Ternate), Galala-Namlea dan Hunimua-Masohi (Ambon), serta Torobulu-Tampo (Baubau). Kami harapkan masyarakat dapat berpartisipasi dan menikmati pelayanan di atas kapal ferry PT ASDP,” ujar Ira Puspadewi, direktur utama PT ASDP dalam siaran pers (24/5).

Dijadwalkan arus mudik (berangkat) di masing-masing lintasan akan dilayani pada tanggal 9, 11 dan 13 Juni 2018 dan arus balik akan dilayani pada tanggal 19, 21, dan 23 Juni 2018. Peserta mudik bareng hanya perlu membawa fotocopy KTP dan Kartu Keluarga untuk persyaratan data.

Tahun ini ASDP menyediakan kursi hingga 2.100 orang peserta Mudik Bareng BUMN untuk perjalanan mudik dan arus balik dengan rincian di Ternate, dengan rute Bastiong – Rum akan tersedia 600 tiket mudik. Kedua; di Baubau dengan rute Torobulu – Tampo, tersedia 600 tiket gratis, dan ketiga; di Ambon dengan rute Galala – Namlea dan Hunimua-Masohi tersedia 900 tiket mudik gratis.

Hingga kini, ASDP telah menjalin sinergi dengan empat BUMN dalam mendukung program mudik bareng BUMN. Tercatat, PT Bukit Asam telah memesan tiket untuk 1.000 orang pemudik pada lintasan Merak – Bakauheni. Kemudian PT Jasindo juga memesan tiket bus untuk 300 orang pemudik pada lintasan Merak-Bakauheni. Lalu, PT Antam yang memesan tiket untuk 500 orang pada arus mudik dan 500 tiket arus balik pada lintasan Bastiong – Rum di Ternate, Maluku Utara.

Tidak Puas Dengan Popso Nasi Goreng Parahyangan, Penumpang Layangkan Petisi ke PT KAI dan PT RMU

Dengan diterapkannya peraturan yang melarang kegiatan masak memasak di kereta api, maka PT Reska Multi Usaha (PT RMU) mau tidak mau harus menanggalkan semua perlengkapan masaknya dan mengganti masterpiece-nya dengan produk Popso. Seperti yang diketahui bersama, Popso merupakan produk makanan olahan dalam bentuk beku, yang dalam penyajiannya perlu dihangatkan dengan microwave.

Baca Juga: Nasi Goreng Parahyangan: Racikan Sederhana yang Digandrungi Penumpang ‘Gopar’

Varian menunya pun bisa dibilang cukup komplit bahkan hampir meliputi semua menu andalan dari setiap rute, ambil contoh Nasi Goreng Parahyangan. Kendati makanan beku ini diupayakan memiliki rasa yang hampir sama dengan makanan aslinya, namun banyak pelanggan yang mengaku kurang puas dengan kualitas rasa yang diberikan. Pasalnya, baik Nasi Goreng Parahyangan, Bistik, dan menu hangatan lainnya memiliki rasa yang terkesan hambar dan jauh dari ekspektasi.

Wajar saja jika sebagian penumpang ngamuk karena harga yang harus mereka bayar untuk Popso lebih mahal ketimbang Nasi Goreng Parahyangan yang digoreng dadakan. Sampai-sampai, beberapa dari mereka mengeluarkan petisi untuk mengembalikan penganan yang sudah menjadi identitas dari Kereta Api Argo Parahyangan (Gopar).

“Tolong Bapak Ibu para petinggi PT KAI dan PT RMU dengarkan keluhan kami. Jangan kau tinggalkan kami dalam kereta dengan makanan seharga 30 ribu tapi rasa tidak menentu.” tulis seorang pelanggan KA Gopar, dikutip KabarPenumpang.com dari laman change.org. “Tidak malu dengan minimarket yang menjual RTE (Ready To Eat) hanya 20 ribu tapi rasa cukup nyaman di lidah? Tolong ini demi kami, demi pelanggan.” tandasnya.

Bahkan, seorang pelanggan yang mewakili aspirasi dari kekecewaan penumpang lainnya ini sampai-sampai menyindir jargon dari PT KAI yang bersinergi dengan PT RMU ini. “Apa kata tulisan ‘Anda adalah prioritas kami’ kalau yang diutamakan adalah keuntungan.” sindirnya pedas. Hal ini pun mau tidak mau menjadi PR bagi PT KAI dan PT RMU untuk membenahi layanannya tersebut secara menyeluruh.

Baca Juga: PT KAI Bocorkan Sejumlah Rencana Strategi Bisnisnya di Tahun 2018!

Bagaimana tidak, dalam postingan si pelanggan tersebut, turut dicantumkan foto Popso Nasi Goreng Parahyangan yang benar-benar jauh dari ekspektasi. Hanya ada nasi goreng yang dibungkus dengan kertas minyak, sepotong ayam goreng, dan acar, lengkap dengan tissue, sendok, garpu, dan tusuk gigi. Sontak si pelanggan geram dan melayangkan petisi kepada PT KAI.

Kendati PT KAI dan PT RMU sudah memperbaiki layanannya tersebut, namun inti dari petisi itu bukanlah terletak pada pelayannya, namun lebih condong kepada cita rasa yang selama ini sudah menjadi ‘legenda’ di layanan KA Gopar.

GoJek Rambah Empat Negara di Asia Tenggara

Sebagai platform besutan anak Indonesia, GoJek kini membentangkan sayap bisnisnya ke tempat baru. Kabar rencana ekspansi ke sejumlah negara di Asia Tenggara dalam waktu dekat akhirnya akan segera terwujud di 2018 ini.

Baca juga: MRT Jakarta Gandeng GoJek Kembangkan Bisnis dan Mobile Payment via Aplikasi

Ada beberapa negara yang menjadi tujuan GoJek yakni dengan memiliki populasi penduduk yang cukup besar. KabarPenumpang.com merangkum dari berbagai laman sumber bahwa ternyata ada empat negara yakni Singapura, Vietnam, Filipina dan Thailand.

Total yang digelontorkan GoJek untuk ekspansi internasional ini US$500 juta atau sekitar Rp7,1 triliun. Ekspansi yang dilakukan GoJek ini sendiri sudah dilakukan dengan perencanaan dan riset pasar yang mendalam selama berbulan-bulan.

Hal ini sejalan dengan penggalangan investasi GoJek yang mendapat suntikan dana dari Astra Internasional, Google, Tencent, JD.com, Mituan dan beberapa perusahaan besar lainnya. Rencananya ekspasi ke empat negara ini akan dilaksanakan dalam beberapa bulan kedepan.

“Konsumen paling puas dan senang saat mereka punya lebih banyak pilihan. Saat ini, masyarakat di Vietnam, Thailand, Singapura dan Filipina merasa bahwa mereka tidak memiliki cukup pilihan atas layanan transportasi ride-hailing,” jelas CEO dan Founder GoJek Nadiem Makarim.

Nadiem menambahkan, tujuan berkespansi adalah untuk berkolaborasi dengan negara-negara tersebut dan pemerintahnya untuk memanfaatkan teknologi yang dikembangkan GoJek. Dia mengatakan, ini bisa memberikan dampak luas bagi semua kalangan baik konsumen yang menginginkan layanan cepat dan kompetitif maupun mitra pengemudi yang mencari penghasilan tambahan.

Tak hanya itu, Nadiem juga mengatakan pihaknya akan bermitra dengan perusahaan lokal guna memastikan operasional usaha dapat berjalan dengan baik dan maksimal.

“Kami di GoJek percaya, cara terbaik dalam melakukan ekspansi internasional adalah bermitra dengan tim lokal yang bertalenta, punya visi yang sama dengan kami, serta memahami cara terbaik untuk melayani kebutuhan negara mereka. Peranan GoJek adalah sebagai penasihat, berbagi pengalaman kami dalam hal operasional serta pengembangan bisnis. Sehingga, mereka dapat menciptakan dampak positif yang GoJek ciptakan, dengan cara-cara terbaik dan sesuai dengan karakter dan kebutuhan negara mereka,” jelas Nadiem.

Baca juga: Setelah Rp16 Triliun dari Google, GoJek Kembali Dapat Kucuran Rp2 Triliun dari PT Astra Internasional

Gojek sendiri memiliki banyak layanan fitur dalam aplikasinya, namun yang akan digunakan adalah layanan transportasi atau ride-hailing yang merujuk pada layanan GoRide dan GoCar. Presiden GoJek Indonesia, Andre Soelistyo menambahkan, pihaknya akan menyesuaikan kebutuhan pasar negara-negara tersebut apakah langsung meluncurkan GoRide dan GoCar secara langsung atau tidak. Hal ini dikarenakan pihak GoJek masih melakukan diskusi dengan tim lokal mereka di masing-masing negara.

Mulai Hari Ini, Wings Air Layani Rute Surabaya-Pangkalan Bun

Setelah mengumumkan membuka rute penerbangan Kupang-Lombok, tepat hari ini, 25 Mei 2018, Wings Air juga membuka rute barunya, yakni Surabaya-Pangkalan Bun di Kalimantan Tengah. Seperti pada rute Kupang-Lombok, penerbangan Surabaya-Pangkalan Bun akan dilayani pesawat turbo propeller ATR-72 500/600 yang berkapasitas 72 kursi dengan frekuensi satu kali per hari.

Baca juga: Mulai 25 Mei 2018, Wings Air Layani Rute Kupang-Lombok Setiap Hari

Wings Air dalam mengoperasikan rute baru ini telah mencanangkan jadwal berangkat dari Bandar Udara Internasional Juanda, Surabaya, Jawa Timur (SUB) pukul 14.40 WIB dan tiba di Bandar Udara Iskandar, Pangkalan Bun (PKN) pada 16.20 WIB. Untuk layanan berikutnya di hari yang sama, Wings Air akan mengudara dari Pangkalan Bun pada 16.40 WIB dan mendarat di Surabaya pada 18.20 WIB.

Dikutip dari siaran pers (24/5/2018) Wings Air yang diterima KabarPenumpang.com, dibukanya rute baru ini akan Mengangkat kembali kebudayaan Sungai Arut dengan menambah pengalaman tersendiri karena kaya nilai historis, sangat ikonik sejak berabad lalu serta telah berperan penting sebagai urat nadi perekonomian masyarakat lokal. Kegiatan tersebut setelah dikembangkan akhirnya bisa menggugah minat wisatawan dan telah menjadi bagian aktivitas ketika melancong di Kotawaringin Barat (Kobar), yang selama ini hanya mengenal wilayah ini lewat Taman Nasional Tanjung Puting (TNTP).

Selain itu, Kobar juga menyuguhkan beragam wisata di Pangkalan Bun, ibukota Kabupaten Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah sekaligus gerbang utama di kawasan ini.

Menurut data PT Angkasa Pura I, Bandar Udara Internasional Juanda Surabaya pada 2017 telah melayani 20,13 juta pergerakan penumpang. Angka tersebut meningkat 3,29% dibanding 2016 yang mencapai 19,48 juta penumpang. Pada triwulan pertama 2018, trafik penumpang di Juanda mencapai 4,99 juta penumpang yang tumbuh 8,23% dibanding triwulan pertama 2017 yaitu 4,6 juta pergerakan penumpang.

Kandungan Gas dalam Usus Meningkat, Inilah Pangkal Fenomena ‘Kentut’ Selama Penerbangan

Tidak bisa dipungkiri pesawat memang menawarkan kemudahan bagi para penumpangnya yang hendak melakukan mobilitas, terutama jarak jauh. Nah, bagi Anda yang sudah pernah melakukan penerbangan jarak menengah – jauh, tentu kebanyakan dari Anda pernah merasakan mual, kembung, dan perasaan ingin buang angin, bukan? Tenang, fenomena ini wajar terjadi dan bukanlah suatu hal yang baru di dunia aviasi global.

Baca Juga: Berakibat Buruk Saat Penerbangan, 14 Poin Ini Kerap Dianggap Sepele

Dihimpun KabarPenumpang.com dari sejumlah laman sumber, kandungan gas yang ada di dalam usus Anda akan terus mengalami peningkatan higga kurang lebih 30 persen ketika pesawat mulai menyentuh ketinggian yang cukup ekstrem. Adalah Paul Auerbach dan York E. Miller yang pada tahun 1981 silam menemukan istilah High Altitude Flatus Expulsion (HAFE) dengan definisi seperti yang sudah dijabarkan di atas.

Secara garis besar, kandungan gas yang ada di dalam tubuh manusia akan meningkat seiring dengan perbedaan tekanan udara. “Tekanan udara di dalam pesawat berbeda dengan daratan,” tutur seorang dokter dari New York City bernama Dr. Scott Kalish. “Pada sebagian orang, ini (tekanan udara) bisa memengaruhi tubuh mereka untuk menghasilkan lebih banyak gas,” tandasnya.

Contoh sederhana yang dapat membuktikan eksistensi dari teori di atas adalah dengan cara membawa botol minum kemasan plastik ke dalam kabin. Tenggaklah terlebih dahulu minuman di dalamnya hingga kurang lebih setengah, dan bawa ke dalam kabin. Sesampainya di tujuan, coba perhatikan botol tersebut, tentu akan mengempis dan ketika dibuka akan keluar udara.

Gambaran yang bisa dibilang hampir serupa dengan apa yang terjadi dengan tubuh kita. Perbedaan tekanan udarlaah yang akhirnya memaksa tubuh kita untuk menghasilkan gas lebih banyak ketimbang biasanya.

Baca Juga: Terbang Nonstop Lebih dari 16 Jam, Ini Yang Mungkin Terjadi Pada Anda

Meningat satu-satunya jalan untuk menghilangkan gejala ini adalah dengan cara buang gas, sayangnya hal tersebut berbenturan dengan norma kesopanan. Namun, dikutip dari New Zealand Medical Journal, para ahli berpendapat bahwa semakin tinggi pesawat mengudara, maka semakin penuh pula kandungan gas di lambung Anda. Maka dari itu, lepaskan saja.

Perkara ‘wewangian’ yang ditimbulkan, tentu lain soal. Semisal bangku yang Anda duduki sudah dilengkapi dengan karbon aktif, maka Anda tidak perlu ragu wanginya akan menyebar menghiasi ruang kabin. Yang paling penting adalah kesehatan Anda sendiri.

Stasiun Strasbough-Ville, Padukan Nuansa Jadoel dan Modern Dalam Satu Balutan Apik!

Mungkin peranannya hampir sama seperti Stasiun Gambir dan Stasiun Bandung, yaitu sebagai stasiun utama di tempat mereka beroperasi. Perkenalkan, Stasiun Strasbourg-Ville yang memiliki peranan sebagai stasiun utama di kota Strasbourg, Bas-Rhin, Perancis. Ternyata ada keunikan bersemayam di balik kemegahan stasiun yang dioperasikan oleh SNCF ini. Selain desain bangunannya yang unik, ternyata nama Stasiun Strasbourg-Ville pun masuk ke dalam daftar stasiun termegah di Benua Biru.

Baca Juga: Stasiun Sruweng, Ternyata Punya Musik Berbeda dari Stasiun Lainnya Loh!

Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber, stasiun ini merupakan akhir dari layanan sejauh 493 km yang membentang dari Paris menuju Strasbourg melalui Châlons-en-Champagne dan Nancy. Stasiun kereta api pertama di Strasbourg ini sendiri diresmikan pada 19 September 1841, seiringan dengan pembukaan layanan kereta Strasbourg – Basel.

Sumber: istimewa

Karena letaknya yang jauh dari pusat kota, yaitu di distrik Koenigshoffen, maka pada 11 Juli 1846 stasiun ini dipindahkan ke pusat kota. Sebuah bangunan baru yang diperuntukkan sebagai terminal pun dirancang sedemikian rupa oleh seorang arsitek asal Perancis, Jean-André Weyer. Setelah memakan waktu enam tahun,maka pada 18 Juli 1852, Président Bonaparte pun meresmikan stasiun tersebut.

Alih-alih melakukan renovasi guna mendapatkan kesan modern, pihak pengelola stasiun justru enggan melakukan perombakan dengan dalih mempertahankan dan menjadikan stasiun bergaya periode Wilheminian ini sebagai salah satu spot arsitektur historikal. Bangunan yang hingga kini dapat kita nikmati ini merupakan rancangan dari Johann Eduard Jacobsthal yang dieksekusi pada tahun 1878 hingga 1883.

Dengan adanya sedikit penambahan ornamen dan renovasi kecil-kecilan guna mengikuti perkembangan jaman, maka bangunan stasiun yang berisikan 13 jalur ini tetaplah kokoh hingga saat ini. Bahkan, otoritas berwenang mencatat bahwa pada tahun 2016 silam, jumlah penumpang yang hilir mudik di stasiun ini mencapai angka 18,336,028 penumpang.

Baca Juga: Antre di Stasiun ini Dijamin Bikin Anda Betah Berlama-lama!

Keunikan lain yang terpampang dari stasiun ini adalah bentuk kerangka besi yang seolah melindungi bagian gedung utama stasiun ini. Ya, unsur jadoel yang langsung ‘bertabrakan’ dengan modernisasi menjadi daya tarik wisata tersendiri.

Bagaimana, apakah Anda termasuk pecinta seni sekaligus kereta? Sempatkan diri untuk mampir ke Stasiun Strasbourg-Ville semisal berkunjung ke Perancis, ya!