Kereta Lokal Merak-Rangkasbitung, Gantikan Layanan KA Jakarta-Merak

Ada perubahan yang cukup signifikan dalam perjalanan kereta rute Jakarta-Merak, bila dahulu perjalanan bisa dilakukan dengan layanan kereta langsung dari Stasiun Tanah Abang dan Stasiun Angke di Jakarta, maka kini untuk menuju Merak di Banten, calon penumpang tak bisa lagi menikmati KA Kalimaya (Tanah Abang-Merak), Patas Merak/Banten Ekspres (Angke-Merak), KA Lokal Rangkas (Rangkasbitung-Angke) dan KA Rangkas Jaya (Rangkasbitung-Tanah Abang).

Baca juga: Stasiun Merak, Pilihan Integrasi Lintas Moda Penumpang Kapal Ferry

Meski tak lagi beroperasi, pecinta kereta dan penumpang tujuan Merak, masih bisa menggunakan kereta lokal Rangkasbitung-Merak atau sebaliknya. Tanggung? Ya memang, tetapi hal tersebut dikarenakan kini PT KCI sudah membuka jalur kereta Commuterline (KRL) nya hingga ke Rangkasbitung.

Sehingga penumpang dari Jakarta bisa menaiki KRL dari Tanahabang menuju Rangkasbitung dan melanjutkan KA Lokal menuju Merak. Tenang bagi penumpang yang kerja atau punya urusan pagi-pagi di Jakarta, kereta dari Rangkasbitung paling pagi untuk KRL.

Sebenarnya, kereta lokal dari Rangkasbitung menuju Merak juga keberangkatan pertama dan paling pagi yakni 03.50, sehingga penumpang yang memiliki urusan di Merak pagi hari bisa lebih tenang. Sedangkan keberangkatan kereta pertama dari Merak menuju Rangkasbitung yakni pukul 05.00 pagi. Perjalanan dari Rangkasbitung-Merak atau sebaliknya kurang lebih memakan waktu sekitar dua jam.

Setiap perjalanan kereta lokal baik dari Rangkasbitung menuju Merak atau sebaliknya ada enam kereta. Saat ini kereta tersebut hanya kereta lokal yang tak diberi nama dan hanya disebutkan dengan nomor. Dari Rangkasbitung ada KA 462 yang berangkat pukul 03.50, KA 464 berangkat 07.45, KA 466 pukul 09.50, KA 468 berangkat 12.45, KA 470 pukul 15.35 dan KA 472 pukul 20.00.

Baca juga: Jalur Kereta Rangkasbitung-Saketi-Labuan Kembali Direaktivasi

Sedangkan dari Merak menuju Rangkasbitung kereta pertama pukul 05.00 yakni KA 461, 06.30 KA 463, 10.20 KA 465, 11.45 KA 467, 15.35 KA 469 dan 17.20 KA 471. Dengan adanya KA pengganti ini bisa memudahkan penumpang mendapatkan transportasi menuju Merak atau Rangkasbitung dan melanjutkan dengan KRL meski hilangnya kereta langsung Jakarta menuju merak.

Meski ini adalah kereta lokal tetapi KA ekonomi tersebut sudah dilengkapi dengan fasilitas AC. Tarifnya pun cukup murah yakni Rp3 ribu sekali jalan baik dari Rangkasbitung maupun Merak. Jadi meski harus berganti kereta untuk menuju Merak, tapi dengan pola baru ini, maka durasi perjalanan boleh jadi akan lebih cepat dengan lebih banyaknya frekuensi pemberangkatan.

Matinya KA Krakatau, Tak Ada Lagi Jarak Terjauh Perjalanan Kereta di Pulau Jawa

Tak terasa sudah hampir satu tahun kereta api Krakatau yang menghubungkan Merak-Blitar PP tak lagi beroperasi. Terbilang muda karena KA Krakatau Eskpres diresmikan pada 24 Juli 2013 di stasiun Merak saat musim mudik Lebaran dan harus berhenti beroperasi pada 17 Juli 2017 atau empat tahun setelah menemani penumpang.

Baca juga: Wow! Kereta di Indonesia Ini Tempuh Jarak Lebih Dari 900 KM!

Awalnya kereta yang dibuat oleh PT INKA tahun 2012 ini melayani relasi Merak-Madiun. Kemudian pada 1 April 2017 KA Krakatau relasinya diperpanjang yang semula hanya sampai Kediri menjadi ke Blitar. Dengan adanya perubahan ini juga, jadwal menaik turunkan penumpang juga berubah.

Saat masih beroperasi KA Krakatau memiliki jarak paling panjang yakni lebih dari 900 km dengan waktu tempuh hampir sekitar 16 jam dari Merak-Kediri. Nama Krakatau sendiri diambil dari gunung atau pulau yang terletak di selat Sunda yakni Gunung Anak Krakatau dan Pulau Anak Krakatau.

Kereta ini menjadi yang pertama menggunakan nama gunung dan kemudian di susul KA Pangrango yang melayani relasi Bogor-Sukabumi. Sayang, rute ini harus berhenti beroperasi dari Merak-Kediri atau sebaliknya.

Kemudian berganti nama menjadi Singasari yang melayani relasi menjadi Blitar-Pasarsenen PP. Sebelum menjadi KA Singasari, masih sempat digunakan nama Krakatau, namun ada sejumlah kelompok yang menolak perpendekan rute Krakatau dan KA tersebut tak pantas menggunakan Krakatau sehingga berubah menjadi nama yang sekarang.

Sebenarnya, adanya rute KA Blitar-Merak sendiri memudahkan pelancong yang ingin menyeberang ke pulau Sumatera melalui pelabuhan Merak ke Bakauheni lebih mudah. Salah satu masalah penyebab berhentinya rute ini adalah okupansi. VP Humas PT KAI Agus Komaruddin mengatakan, okupansi menjadi salah satu faktor utama perpendekan rute tersebut.

“Banyak penumpang yang naik dari Merak hanya turun di Tanah Abang di banding rute aslinya. Paling jauh hanya ke Pasar Senen,” ujar Agus yang dihubungi KabarPenumpang.com, Kamis (5//4/2018).

Agus menambahkan, bila hanya turun di Tanah Abang atau Pasar Senen, penumpang bisa menggunakan KA Lokal dan KRL. Sebab saat ini KRL sudah menjalar hingga Rangkasbitung dan dilanjutkan KA Lokal dari Rangkasbitung-Merak.

Baca juga: KA Ekonomi Matarmaja, Kondang Berkat Jadi Latar Film “5 Cm”

“Kita perpendek rutenya dari Pasar Senen ke Blitar saja. Nama juga kita ganti karena sudah tidak sampai ke Merak jadi dari Krakatau menjadi Singasari,” jelas Agus.

Dengan adanya pemendekan rute dan penggantian nama ini, tidak ada perubahan jadwal perjalanan maupun nomor pemberangkatan kereta Singasari. Kereta Singasari sendiri diresmikan pada 17 Juli 2017 saat perhentian KA Krakatau. Nama Singasari sendiri diambil dari Kerajaan Singasari yang didirikan Ken Arok pada abad ke 13.

Sedia Payung Sebelum Hujan, Sedia “OneUp” Sebelum Tenggelam!

Sebagai salah satu instrumen keselamatan wajib di pesawat terbang dan kapal laut, pelampung menjelma menjadi barang yang wajib ada di setiap pengoperasiannya. Lalu, apa jadinya jika instrumen keselamatan ini terkontaminasi oleh perkembangan jaman dan kemajuan teknologi? Akankah semakin memudahkan para penggunanya atau malah sebaliknya?

Baca Juga: Tampomas II, Ingatkan Tragedi di Perairan Masalembo

Sebagaimana yang dikutip KabarPenumpang.com dari laman newatlas.com (5/4/2018), adalah OneUp, sebuah pelampung yang menawarkan berbagai kelebihan kepada para penggunanya. Jika selama ini pelampung yang kita lihat di setiap penerbangan berupa rompi yang dilengkapi dengan peluit, maka inovasi yang dihadirkan oleh OneUp ini jauh lebih sederhana dan mudah digunakan.

OneUp sendiri memiliki bentuk layaknya sebuah neck pillow yang dikemas dalam bentuk seperti kaleng minuman bersoda. Kelebihan dari salah satu instrumen keselamatan ini adalah fleksibilitasnya ketika tidak di gunakan. Seperti yang sudah disinggung di atas, ketika tidak digunakan, OneUp hanyalah memiliki berbentuk seperti kaleng minuman bersoda. Dengan panjang 172mm, dan berat 363 gram, maka dapat dipastikan OneUp mudah dibawa kemana-mana.

Sumber: newatlas.com

Selain fleksibilitasnya ketika tidak digunakan, adapun kelebihan lain dari subjek kampanye sebuah situs web crowdfunding internasional yang bermasrkas di California, Indiegogo, adalah kemampuannya untuk mengembang secara otomatis ketika menghentak permukaan air. Ya, ini merupakan nilai jual tinggi dari OneUp. Ketika OneUp yang masih berbentuk seperti kaleng minuman bersoda tersebut dilemparkan ke permukaan air, maka pelampung inovatif ini hanya membutuhkan waktu dua detik untuk mengembang secara otomatis.

Baca Juga: Tuas Rem Darurat, Instrumen Keselamatan di Kereta Yang Bisa Datangkan Masalah Baru. Kok Bisa?

Setelah mengembang, pelampung ini bisa menahan seseorang dengan berat hingga 150kg. “Ide ini muncul karena sebuah penelitian menyebutkan bahwa ada hampir 50 orang meninggal setiap jamnya karena tenggelam,” tulis OneUp di laman resminya.

Jika sudah digunakan, pelampung inovatif ini bisa dilipat dan dimasukkan kembali ke dalam tabung untuk pemakaian selanjutnya, keren bukan? Jika Anda tertarik untuk memiliki pelampung inovatif ini, Anda cukup merogoh kocek sebesar US$49 atau yang setara dengan Rp674 ribu saja, harga yang pantas untuk sebuah instrumen keselamatan yang inovatif, bukan?

Sering Naik Kereta Api? Ini Dia Posisi yang Paling Aman Bagi Penumpang

Jika Anda tengah membeli tiket kereta api di sebuah laman online ticketing, coba perhatikan pembagian subclass yang ada. Pada artikel sebelumnya, telah dijabarkan mengenai definisi dan macam-macam subclass yang ada pada si ular besi ini. Nah, kali ini, saatnya Anda untuk mengetahui posisi bangku mana yang kira-kira menyajikan tingkat keamanan paling tinggi selama Anda berkendara menggunakan kereta api.

Baca Juga: Satu Layanan Bisa Beda Tarif, Kenali Sub Class di Kereta Api

Sebagaimana yang dihimpun KabarPenumpang.com dari sejumlah laman sumber, ada beberapa titik yang dianggap paling aman atau dapat meredam tingkat fatalitas ketika kereta mengalami kecelakaan. Secara ilmiah, kecelakaan kereta dapat terjadi dari dua titik saja, yaitu dari depan atau dari belakang. Maka dari itu, gerbong tengah muncul sebagai titik paling aman jika sebuah kereta mengalami kecelakaan.

Usahakan untuk mendapatkan posisi ini jika Anda ingin mendapatkan tingkat keamanan lebih ketika berkendara menggunakan kereta api. Jika gerbong tengah sudah terisi penuh oleh penumpang, maka satu gerbong di belakang gerbong tengah menajdi opsi lain yang bisa Anda pilih.

Seorang peneliti sekaligus asisten profesor teknik industri dan sistem di University of Southern California, Greg Placencia mengatakan bahwa ada alasan sederhana mengapa gerbong tengah dianggap sebagai gerbong paling aman dari satu rangkaian kereta api.

“Sangat sederhana. Banyak kecelakaan (kereta api) datang dari depan, sehingga gerbong pertama dan kedua merupakan gerbong yang terdampak paling parah. Sementara itu beberapa kecelakaan datang dari belakang, tapi hal ini tidak terlalu umum, atau bisa dibilang jarang terjadi,” papar Greg. “Sedangkan untuk gerbong yang ada di tengah rangkaian merupakan gerbong yang paing minim terdampak kerusakan jika terjadi kecelakaan,” imbuhnya.

Lalu bagaimana jika gerbong tengah dan gerbong-gerbong di sekelilingnya sudah penuh? Greg memaparkan bahwa ada satu tips yang ia lakukan ketika tengah berkendara menggunakan si ular besi ini.

“Secara pribadi, saya lebih senang duduk membelakangi laju kereta, karena di kebanyakan kasus, Anda akan terdorong ke depan (jika duduk searah laju kereta) semisal kereta melakukan pengereman darurat,” terangnya. “Hal tersebut tidak lepas dari teori fisika dasar,” ujar Greg.

Baca Juga: Hendak Bepergian Naik Bus? Cek Dulu Bangku Yang Dinilai Paling Aman dan Nyaman!

Merujuk dari sumber lain, ada pula bangku yang menawarkan tingkat keamanan lebih ketika berada di dalam gerbong tengah. Usahakan untuk mendapatkan bangku di bagian tengah dari sebuah gerbong, karena masih berkaitan dengan penjelasan Greg sebelumnya, kemungkinan kecelakaan kereta hanya bersumber dari dua titik, yaitu bagian depan dan belakang.

Penjelasan Greg inilah yang akhirnya mendukung statemen bahwa bagian tengah dari sebuah gerbong menjadi titik paling aman jika sewaktu-waktu kereta mengalami kecelakaan.

10 Fakta Seputar Kereta Cepat di Cina

Dengan jumlah penduduk 1,3 miliar jiwa, Cina jelas membutuhkan infrastruktur transportasi yang besar, salah satunya memang Cina dikenal sebagai negara yang memiliki ‘populasi’ layanan kereta cepat terbesar di dunia, setelah menggeser kedudukan Jepang. Bahkan industri kereta cepat Cina terus melakukan ekspansi, seperti yang tengah berjalan di Indonesia dan negara Skandinavia.

Baca juga: Tembus Pegunungan Qinling, Cina Luncurkan Kereta Cepat Lintasi Wilayah Utara dan Selatan

Pesatnya kemajuan industri kereta cepat di Cina menjadi menarik diperhatikan, terlebih seperti apakah karaktrer dan layanannnya. KabarPenumpang.com merangkum dari laman en.people.cn, ternyata ada sepuluh fakta menarik tentang sistem kereta cepat tinggi milik Negeri Bambu ini. Berikut kesepuluh fakta tentang sistem kereta cepat yang dimiliki Cina.

1. Cina ternyata memiliki jarak tempuh terpanjang untuk jalur High Speed Rail (HSR) di dunia yang kemudian diikuti Jepang dan Spanyol. Tahun 2014 lalu, jarak tempuh kereta cepat Cina telah mencapai 16 ribu km.

2. Penumpang kereta Cina ternyata adalah yang tertinggi jumlahnya. Tahun 2014 rata-rata pertahunnya pengguna kereta cepat di Cina mencapai 940 juta dan hariannya sekitar 2,9 juta penumpang. Dari Januari hingga Agustus 2015, tercatat volume pengguna kereta cepat Cina berjumlah 747 juta dengan penumpang harian meningkat menjadi 3,1 juta.

3. Kereta HSR milik cina ini bergerak dari Shaoguan di provinsi Guangdong ke arah barat Leiyang provinsi Hunan dan memiliki jarak sepanjang 248 km dan berjalan dengan kecepatan 316,6 km per jam dan hanya ditempuh dengan waktu 47 menit.

4. Di Cina jalur kereta cepat terpanjang dari Harbin menuju Wuhan sepanjang 2.446 km atau 23 km lebih panjang dai jalur Lanzhou ke Xinjiang. Selain itu jalur ini juga 25 km lebih panjang dari Harbin menuju Shanghai. Dengan kereta cepat dari Harbin menuju ke Wuhan waktu tempuhnya selama 14 jam 38 menit.

5. Kereta cepat Cina juga memiliki jalur terendah di Lanzhou-Xinjiang, dimana melewati cekungan Turpan di Xinjiang dan sebagian berada di bawah 500 meter. Danau Ayding dekat kaki bukit selatan cekungan berada 155 meter di bawah permukaan laut. Ini adalah titik terendah Cina.

6. Ada yang terendah adapula yang tertinggi. Jalur tertinggi berada di jalur yang sama yakni Lanzhou-Xinjiang dengan terowongan tertinggi yang melalui Pengunungan Qilian. Terowongan ini merupakan terpanjang kedua yang menghubungkan Qinghai dan Gansu. Berada di ketinggian 4.345 meter.

7. Cina juga merupakan lintasa kereta cepat dengan suhu terdingin, pasalnya dari Harbin menuju Dalian sepanjang 921 km, dari catatan meteorologi dalam 30 tahun terakhir ada perbedaan suhu di tiga provinsi di wilayah timur laut Cina. Perbedaan suhu tersebut mencapai 80 derajat Celcius dan menjadikan tiga provinsi tersebut menjadi wilayah terdingin yang memiliki jalur kereta cepat.

8. Mungkin harga tiketnya berbeda dengan negara lain dan bisa dikatakan memiliki harga kereta cepat paling murah. Untuk kelas ekonomi dari Changle ke Weifang hanya dikenakan 4,5 Yuan atau sekitar Rp9.800. Kereta ini hanya menempuh jarak 24 km dalam waktu tempuh 12 menit.

Baca juga: Tiga Tahun Lagi Cina Luncurkan Kereta Maglev Berkecepatan 600 Km Per Jam

9. Pada 1 Juli 2014 lalu, setelah kereta berkecepatan tinggi Beijing-Shanghai dioperasikan selama tiga tahun. Ternyata kereta ini memberikan hasil yang menguntungkan. Ini menjadi HSR pertama Cina yang mengasilkan pendapatan. Pada 30 Juni 2015, HSR Beijing-Shanghai mengangkut 330 juta penumpang.

10. Dengan kecepatan 300 kmnper jam, Jalur Hefei-Fuzhou yang melalui Anhui, Jiangzi, Fujian dan delapan tempat lainnya yang dilewati HSR memiliki pemandangan indah serta cukup terkenal di dunia.

Airbus A380 Milik Emirates Mendarat di Beirut, Ada Apa?

Di tengah konflik yang terjadi di Lebanon, ada pemandangan menarik dari Rafik Hariri International Airport, Beirut, dimana sebuah jet penumpang terbesar saat ini, Airbus A380 mendarat di sana. Pesawat berselimutkan livery khas Emirates ini ternyata membawa misi khusus di balik pendaratannya di Ibukota Lebanon ini. Dengan mendaratnya Airbus A380 milik Emirates, maka Rafik Hariri International Airport menjadi satu-satunya bandara di Lebanon yang mampu menampung jet penumpang terbesar di dunia aviasi ini.

Baca Juga: Sambut Pesanan Airbus A380 Ke-100, Emirates Pasang Livery Presiden Pertama Uni Emirat Arab

Sebagaimana yang diwartakan KabarPenumpang.com dari laman washingtonpost.com (29/3/2018), penerbangan dari Dubai ini merupakan pengakuan atas lalu lintas penumpang yang substansial antara Lebanon dan negara-negara Teluk. Emirates sendiri menyatakan bahwa pihaknya telah melakukan penjadwalan penerbangan guna melihat apakah Rafik Hariri International Airport di Beirut siap untuk menangani layanan reguler dari Airbus A380 milik mereka.

Pejabat di Lebanon sendiri mengharapkan hasil yang positif dari pembukaan rute baru ini, dimana mereka berharap datangnya wisatawan mancanegara dapat mendongkrak sektor pariwisata mereka. Para pejabat tersebut pun mengaku bahwa tingkat lonjakan wisatawan terakhir kali terjadi pada tahun 2010 silam. Beberapa waktu berselang, pecahlah pemberontakan negara tetangga, Suriah yang akhirnya turut berimbas pada sektor pariwisata Lebanon. Para wisatawan mengaku khawatir akan tindakan kekerasan karena pemberontakan tersebut.

Sebagai perbandingan, pada tahun 2010 silam, Kementerian Pariwisata Lebanon mencatat ada sekitar 2,16 juta wisatawan yang melancong ke negara tersebut. Sedangkan di tahun 2017, angka tersebut mengalami penyusutan hingga ke level 1,85 juta wisatawan. Perlu diketahui, saat ini ada sembilan penerbangan setiap harinya dari Dubai menuju Beirut, yang disediakan oleh tiga maskapai yang berbeda.

Baca Juga: Pamer Kekuatan di Dubai Airshow 2017, Airbus Dongkrak Saham Yang Anjlok di Bulan Lalu

Menurut World Travel and Tourism Council, sektor pariwisata merupakan salah satu pilar utama perekonomian Lebanon, dimana mereka telah menyumbang 19 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) di negara tersebut. Namun, salah satu poin yang menjadi pusat perhatian otoritas setempat adalah kondisi bandara yang masih kurang memadai.

Bandara yang direnovasi terakhir kali pada periode tahun 90-an ini didesain untuk menampung 6 juta penumpang setiap tahunnya, dan mengalami peningkatan menjadi 8 juta penumpang pada tahun 2017 kemarin. Diketahui, Flag Carrier Lebanon, Middle East Airlines tengah mempertimbangkan dua rencana untuk memperluas dan meningkatkan fasilitas bandara, dimana besaran dana yang dikeluarkan berkisar antara $88 hingga $200 juta, dengan tujuan untuk meningkatkan kapasitas bandara hingga 10 juta penumpang pada tahun 2020 mendatang.

Bagi Penderita Autis, Ternyata Naik Kereta Merupakan ‘Cobaan’ Berat

Selain menawarkan kecepatan, ternyata satu poin penting yang jadi incaran para penumpang kereta adalah keberangkatannya yang terjadwal, baik itu layanan jarak jauh atau hanya sekedar kereta komuter. Maka tidak heran jika moda ini selalu ramai dipenuhi oleh penumpang. Namun, pernyataan tersebut seolah tidak berlaku bagi penderita autis. Alih-alih merasakan kelebihan yang ditawarkan oleh penyedia jasa layanan kereta api, mereka malah merasakan cemas berlebih saat menumpangi kerera.

Baca Juga: Apa Kabar Fasilitas “Khusus” Bagi Penumpang?

Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman scotsman.com (4/4/2018), sebuah survei menunjukkan bahwa sembilan dari 10 penderita autis mengalami perubahan tak terduga dalam diri mereka ketika menggunakan sarana transportasi umum, dimana perubahan tersebut berdampak pada meningkatnya tingkat kecemasan dalam diri mereka. Gangguan selama perjalanan memang dapat membuat frustasi sebagian orang, namun penderita autis akan merasakannya seperti tanda-tanda akhir jaman.

Fiona McGrevey dari The National Autistic Society Scotland mengemukakan bahwa sekitar 52 persen penderita autis mengatakan takut untuk menggunakan jasa transportasi umum seperti bus atau kereta api. Kecemasan berlebih yang melanda mereka akhirnya seolah menjadi bumerang, karena semakin sulit untuk melakukan mobilitas menggunakan sarana transportasi umum. Hal tersebut menjadi konsentrasi bagi sebagian orang, karena mereka khawatir orang-orang ‘berkebutuhan khusus’ ini semakin terisolasi secara sosial.

Salah seorang penyandang autis bernama Christopher asal Girvan, Ayrshire mengaku mengalami kecemasan setiap harinya ketika ia naik kereta bawah tanah menuju Glasgow Botanic Gardens. Kepada Fiona, Christopher mengaku bisingnya kereta dan guncangan yang ditimbulkan sangat mempengaruhi kondisi kejiwaannya. Untuk mengatasinya, Christopher harus menutup mata dan telinganya. Namun ia hanyalah manusia biasa yang tetap memiliki rasa malu, maka dari itu ia selalu berharap perjalanan tersebut cepat berakhir.

Survei terbaru dari The National Autistic Society Scotland menemukan bahwa 67 persen publik menampilkan reaksi negatif seperti memperhatikan secara tidak wajar, hingga berkomentar ketika penderita autis ini mencoba menenangkan diri mereka dengan bertepuk tangan atau mengayun-ayunkannya.

Baca Juga: Jepang Punya Taksi Khusus Ibu Hamil, Indonesia Punya Taksi Khusus Kaum Difabel!

Beberapa penderita autis mengatakan bahwa bepergian dengan menggunakan sarana transportasi umum akan lebih mudah bagi mereka jika didampingi oleh seseorang yang dapat diajak berbicara selama perjalanan. Tapi patut diingat, tidak semua penderita autis akan merasa nyaman dengan opsi di atas, bahkan ada beberapa di antara mereka yang hanya membutuhkan ruang dan respon positif dari lingkungan sekitarnya.

Perkeretaapian Polandia Gandeng Nokia Dalam Luncurkan Jaringan GSM-R

Sebentar lagi, jaringan kereta api Polandia, PKP Polskie Linie Kolejowe (PKP PLK) akan meluncurkan jaringan GSM-Railway (GSM-R) lengkap bersama backbone-nya (mission-critical backhaul network). Hal tersebut dapat dipastikan setelah pihak PKP PLK menyodorkan kontrak kerja sama berdurasi lima tahun kepada perusahaan telekomunikasi multinasional asal Finlandia, Nokia dan mitranya, Herkules, Pozbud, dan Wasko.

Baca Juga: Seoul Subway Gunakan Jaringan LTE-R dari SK Telecom

Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman railway-technology.com (3/4/2018), penggunaan jaringan baru ini akan memungkinkan PKP PLK untuk memenuhi semua persyaratan baru untuk European Rail Traffic Management System (ERTMS) yang diterapkan oleh European Union (EU). Tidak hanya itu, jaringan GSM-R ini juga ditujukan untuk meningkatkan keamanan dan keandalan kinerja kereta api di seluruh negeri.

Hadirnya GSM-R yang notabene merupakan komponen utama dari ERTMS akan membantu operator kereta api untuk mengelola pengoperasian kereta dalam sebuah kombinasi apik dengan European Train Control System. Patut diketahui, keseluruhan proyek ini akan didanai oleh pihak EU dan Pemerintah Polandia sendiri.

“Kami selaku pihak Nokia tentu sangat bangga dan bersemangat karena telah dipercaya sebagai mitra dalam upaya untuk melancarkan digitalisasi di Polandia, dan membangun jaringan komunikasi kereta api merupakan bagian terpenting di sini,” ungkap salah satu pejabat senior di Nokia Eropa, Matthieu Bourguignon. “Berdasarkan keahlian kami sebagai pemimpin pasar dan pengalaman kami dalam jaringan komunikasi GSM-R, Nokia merupakan pilihan terbaik dalam peluncuran jaringan ambisius ini,” imbuhnya.

Tidak bermaksud menyepelekan proyek ini, namun Nokia sendiri sudah banyak memakan asam garam dalam soal penyebaran jaringan komunikasi skala besar dan beberapa proyek turnkey di Polandia. Berdasarkan pada ketentuan yang tersurat dalam kontrak kerja sama tersebut, Nokia bertanggungjawab untuk melakukan instalasi, commissioning, integrasi, dan pemeliharaan pihak ketiga untuk jaringan GSM-R sepanjang 13.800 km.

Baca Juga: Saat Kereta Terintegrasi Internet of Things

Perusahaan telekomunikasi yang berbasis di Finlandia tersebut juga akan bertanggung jawab atas infrastruktur jaringan backhaul berbasis serat optik dengan IP Multiprotocol Label Switching (IP/MPLS) dan Dense Wavelength Division Multiplexing (DWDM) sepanjang 11.000 km. Pengiriman ini juga mencakup solusi GSM-R lengkap, jaringan inti IP-MPLS, serta teknologi DWDM untuk jaringan serat optik.

Sementara itu, Herkules, Pozbud, dan Wasko akan melaksanakan pekerjaan sipil di bawah proyek raksasa ini.

Keunggulan teknologi GSM-R utama nya adalah koordinasi trafic dan update informasi. Seperti menunjang operasional komunikasi suara antara masinis dan petugas controller di stasiun, antar sesama masinis di suatu area, antar petugas langsir hingga kebutuhan emergensi. Disamping itu GSM-R juga dapat mendukung komunikasi non operasional, seperti antara stasiun dan depot. Tidak hanya itu, lebih penting lagi kebutuhan komunikasi bagi penumpang juga diakomodasi, misalkan informasi perubahan waktu berangkat, keterlambatan hingga kebutuhan koneksi data

Anak Bangsa Harumkan Nama Indonesia di Ajang Worldwide Ferry Safety Design Competition

Anak bangsa kembali mengharumkan nama Indonesia di kancah dunia melalui ajang Worldwide Ferry Safety Design Competition yang diadakan oleh Worldwide Ferry Safety Association di Amerika Serikat. Tim Indonesia yang bernama Basudewa menempati peringkat kedua dan tim ini terdiri dari mahasiswa Departemen Teknik Perkapalan dan Teknik Sistem Perkapalan Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) Surabaya.

Baca juga: University of Liege Sabet Gelar Juara Perhelatan Desain Kapal Ferry di New York

KabarPenumpang.com merangkum dari laman sumber its.ac.id, dengan adanya penghargaan ini seakan menegaskan status Indonesia sebagai negara maritim terbesar di dunia. Penghargaan Worldwide Ferry Safety Design Competition sendiri di serahkan langsung di New York pada Kamis (22/3/2018) waktu setempat.

Para pemuda bangsa yang mengharumkan nama Indonesia dalam kancah internasional tersebut ialah Jangka Ruliyanto, Raja Andhika RR, Rahmat Diko Edfi, Novario Adiguna P, Alvinur, Yudha A dan Riyan Bagus P yang berhasil mengharumkan nama Indonesia di Negeri Paman Sam. Tim Basudewa ini dibimbing oleh Ir Agoes Santoso MPhil dari Departemen Teknik Sistem Perkapalan (Siskal) dan Hasanuddin ST MT dari Departemen Teknik Perkapalan.

Kapal Archimaiden yang didesain Tim Basudewa ITS (www.its.ac.id)

Penilaian pada ajang Worldwide Ferry Safety Design Competition adalah desain kapal pada keamanan, faktor ramah lingkungan, mudah dibangun dan biaya pembangunan yang murah. Tak hanya itu, desain kapal yang dibuat Basudewa berdasarkan studi kasus pada selat antara Singapura, Malaysia dan Batam.

Penilaian untuk kompetisi ini tak sama dengan yang lainnya, dimana dilakukan secara online jarak jauh. Tim Basudewa bisa berada di peringkat kedua karena secara struktur desain kapal ferry rancangan mereka memiliki keunggulan dibagian stabilitas, konstruksi kapal serta disesuaikan dengan karakter dermaga dan laut yang mengacu pada ombak di Selat Singapura sebagai studi kasus.

Sementara sistem keamanan kapal ferry ini dirancang berdasarkan regulasi Safety of Life at Seas (Solas) 3 dan 4, di mana kapal memiliki pemadam api dan rute evakuasi sebagai standar keselamatan. Selain itu, kapal ferry yang didesain tim mahasiswa ITS ini digerakkan menggunakan teknologi twin-screw water jet sebagai tenaga penggerak dengan menggunakan bahan bakar hibrida sebagai sumber energi.

Menurut Jangka, penggunaan bahan bakar hibrida lebih hemat dari segi biaya operasional dibanding kapal ferry di Selat Singapura pada umumnya. “Penghematan biaya bisa mencapai 17,21 persen,” terang Jangka.

Kompetisi ini diikuti oleh 19 negara, termasuk AS, Jerman, Perancis, Belanda dan negara maju lainnya. Kemenangan tim ITS menjadi kebanggan tersendiri karena mampu bersaing dan mengungguli negara-negara maju yang terkenal dengan teknologi terbarunya.

“Kita bersanding dengan Singapura yang berhasil meraih juara satu dan India juara 3 serta Belanda sebagai juara 4. Alhamdulillah Asia meraih tiga besar,” tutur Jangka.

Menurut Agoes Santoso, salah satu pembimbing tim Basudewa, 19 negara yang mengikuti kompetisi ini semua siap dengan kualitas hasil dan mental. “Kita tidak menyangka bisa juara dua. Yang kami tanamkan adalah terus semangat menghasilkan desain kapal yang nyaman, handal, ramah lingkungan dan efisien,” jelas dosen Siskal tersebut.

Baca juga: BC Ferries Operasikan Kapal Ferry Pertama dengan Bahan Bakar Ganda

Sementara itu, Kepala Departemen Teknik Sistem Perkapalan ITS, Dr Eng M Badrus Zaman menambahkan bahwa kompetisi level dunia pada sektor teknologi maritim harus sering diikuti. Hal ini juga dalam rangka menunjukkan pada dunia bahwa Indonesia, dalam hal ini ITS, mampu bersaing pada level dunia.

“Momentum ini juga menunjukkan bahwa Indonesia siap menjadi poros maritim dunia,” tegas doktor lulusan Kobe Un iversity, Jepang ini.

Kendati Futuristik, Tapi Pandangan Ahli Tentang Hyperloop Ternyata Berbeda!

Ramainya pemberitaan tentang moda transportasi futuristik hasil pemikiran Elon Musk, yaitu Hyperloop memang begitu masif. Kendati moda ini masih belum menunjukkan eksistensi operasionalnya, namun ide yang ditelurkan enterpreneur asal Negeri Paman Sam tersebut tidak bisa dipandang sebelah mata.

Baca Juga: Semakin Dekat Realisasi, Virgin Hyperloop One Mulai Pamerkan Pod Futuristiknya

Terbukti, banyaknya negara yang secara terang-terang menunjukkan minatnya untuk menggunakan jasa layanan ini dan beberapa perusahaan pengekor ide Elon menjadi bukti nyata bahwa teknologi Hyperloop dipercaya dapat menyandang status sebagai “moda transportasi kelima”. Sebut saja Amerika, Korea Selatan, India, hingga Indonesia sendiri pun menjadi sederet negara yang telah menunjukkan minatnya akan layanan Hyperloop.

Di lain sisi, Virgin Hyperloop One, salah satu perusahaan yang tengah berupaya untuk merealisasikan ide dari sang enterpreneur tersebut terus melaju dengan serangkaian uji coba yang menandakan kesiapannya dalam membawa Hyperloop ke dalam dunia transportasi di kehidupan nyata, jauh meninggalkan Elon yang menunggangi perusahaan Hyperloop Transportation Technology (HTT).

Hyperloop sendiri merupakan moda transportasi yang mengedepankan gaya levitasi magnetik, dimana sebuah pod yang berisi penumpang akan melaju dalam sebuah lintasan berupa tabung. Moda futuristikini sendiri digalang-galang dapat menempuh kecepatan hingga 1.000 km per jam, hampir setara dengan kecepatan sebuah pesawat Concorde.

Seolah sudah menjadi hukum alam, pro dan kontra mengenai kehadiran Hyperloop ini terus bertebaran. Dilansir KabarPenumpang.com dari laman railwaygazette.com (14/3/2018), adalah Garreth Dennis, seorang Permanent Way Engineer untuk konsultasi desain internasional mengatakan bahwa kelebihan yang ditawarkan oleh calon moda tranportasi kelima ini tidak sebanding dengan kekurangan yang dimilikinya.

Garreth menyebutkan bahwa ada sejumlah kendala teknis yang mengintai, namun permasalahan yang paling mendasar datang dari sektor pemberangkatan penumpang. Hyperloop sendiri menjadikan rencana High Speed 2, kereta berkecepatan tinggi di Inggis, sebagai benchmark mereka dengan estimasi memberangkatkan sekitar 20.000 penumpang setiap jamnya.

Semisal setiap pod Hyperloop memiliki kapasitas angkut 50 penumpang, maka Hyperloop membutuhkan 400 pods dan melakukan pemberangkatan setiap sembilan detik sekali. Sebuah perkiraan waktu yang agak sedikit mustahil untuk ditempuh, kecuali pihak Hyperloop menurunkan kapasitas pemberangkatan penumpang per jamnya.

Di segi lain, Garreth pun menyinggung soal sambungan tabung yang dianggap terlalu memakan biaya. Bagaimana tidak, ruang dalam tabung tersebut haruslah kedap udara agar pengoperasian Hyperloop bisa berjalan mulus. Maka pihak penyedia jasa layanan ini harus sangat memperhitungkan kekuatan dari sambungan yang ada di setiap jalurnya.

Baca Juga: Beda Strategi Dengan Rival, Hyperloop Transportation Technology Utamakan Studi Lapangan

Lalu, bagaimana jika ditengah pengoperasianya, pod Hyperloop mengalami kendala hingga tersendat di tengah tabung? Ada banyak kemungkinan yang menghantui salah satu pemikiran ini, tapi yang paling buruk adalah tabrakan mahadahsyat antar pod.

Masalah Switch menjadi ‘senjata cadangan’ Garreth. Ia menuturkan bahwa selama ini, sistem perkeretaapian dunia pun masih sering kali menemukan masalah terkait dengan sistem perpindahan jalur ini. “Jika Hyperloop berhasil memecahkan masalah ini, maka dunia perkeretaapian dunia akan turut berbahagia,” ujar Garreth.